Tag Archives: dosa

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Nyanyian Airmata

Oleh Dwi Klik Santosa

 

 

aku : darimana datangnya dosa
angin : dari bohong yang rajin kau tiup dan hembuskan
api : dari marah yang selalu kau nyala dan kobarkan
air : dari culas yang terus kau alir dan hanyutkan
tanah : dari angkuh yang senantiasa kau tanam dan suburkan

 

aku : benarkah begitu
batu : tanyalah pada waktu

 

aku : benarkah begitu
waktu : tanyalah pada bulan

 

aku : benarkah begitu
bulan : tanyalah pada matahari

 

aku : benarkah begitu
matahari : tanyalah pada bumi

 

aku : benarkah begitu
bumi : tanyalah pada dirimu sendiri

 

[]
dwi klik santosa
pondokaren
14 april 2009 : 01.o7


Rindu Terlarang

Oleh Syaiful Alim

 

Berdosakah jika aku merindu

rindu laut atas sungainya, cintaku

dalam salah alur-alur lumpur

kubiarkan rerumput liar di detak jejak

hatiku yang malam

bunga putik yang padam.

 

Bumbu rindu yang pernah kutaruh di dapur rupamu menguap

masih kucium harum tubuhmu.

Bambu yang kutanam di kiblat utuhmu mengaburkan harap

sebab rerimbun daun dan rias ruas itu.

Cumbu yang pernah kau ukir di bibirku menumbuh pohon

batangnya kuat, daunnya lebat, rantingnya sehat

cabang-cabangnya erat dan buahnya teramat lezat

dan sering kulihat anak-anak memanjat.

tidakkah kau mau berteduh di rindangnya

seraya menyantap buah dan melahap kicau burung yang nyaring di reranting?

 

Masih berdosakah jika aku merindumu?

pedih dan perih luka telah kupapah hingga kulelah

aku ingin memecah langit resahku

aku ingin membelah bukit desahku

juga dendam demam malam-malamku.

 

Kukenang hawa yang berenang di genang airmata

mencari-cari adam yang hilang, mungkin tuhan lupa

bahwa kita sepasang rusuk, atau aku alpa karena tertusuk busuk luka di dada.

Wajahmu tinggal bayang-bayang di remang mimpi dan terang matahari

aku mencoba menangkap bayangmu dengan cermin

namun kau meratap, jangan, aku silau dengan cahaya itu, katamu

aku marah, lalu kulempar cermin itu, pecah seribu.

 

Aku merindumu, sayang

walau kau milik orang

Akan kuculik kau menjelang petang

lalu kupaksa kau menyetubuhi nafasku seperti kunthi pada batara surya

seusai badai birahiku reda, tak apa kau pulang atau menghilang.

Kujaga benih yang kau selipkan di bilik rahim, kuberdoa kepada tuhan maha rahim penyayang

semoga lahir kata, mengalir makna, menzikirkan kita.

 

Sore warna gading

denting alunan gending di rumah-rumah perkampungan itu

menghanyutkanku, kupungut remah-remah kenangan di jejak-jejak waktu

aku hening, menanti senja tanpa sejuta puisimu, bagai senjata serdadu

aku kering mengenangmu, kau kecup keningku lembut,

menyambut kemilau sinar senja, menyumbat lukaku

lalu kau petik gitar, mengetik getar di buku tubuhku:

 

“You were my strength when I was weak

You were my voice when I couldn’t speak

You were my eyes when I couldn’t see”

 

“You gave me wings and made me fly

You touched my hand I could touch the sky

I lost my faith, you gave it back to me”

 

Sejak itu aku suka lukisan, musik dan sajak

ketiga rupa itu membikin dinding sepiku retak

wangi mawar melati menyerbak.

 

Masihkah aku berdosa merindumu?

dosa dan neraka telah membuat manusia salah tingkah dan serba salah

sebenarnya apa kemauan tuhan mencipta keduanya?

aku ingin membunuh malaikat yang singgah di tubuhku

supaya tidak mencatat dosa-dosaku, tapi masih ada tuhan

apakah aku juga membunuhnya?

ha ha. maaf, tuhan, aku bercanda

aku bukan nitszche atau karl marx

walau aku mau membunuhmu, supaya kekal padaku.

 

Aku hendak membakar surga dan neraka, seperti rabiah al-adawiyah dalam doa

atau kubawa neraka ke mana-mana, bagai al-hallaj dalam fana.

 

Surga telah menyihir manusia

neraka telah menyindir pendosa

aku tidak butuh surga dan neraka, kita butuh sentosa

lelah aku hidup di penjara

mari menari bersama mentari, “aku bebas, maka aku ada”

 

Aku merindumu, sayang

kemarilah kutimang-timang

lalu kutusuk pisau dan tumbang.

 

[]

Mekah, 23 10 10


Negeri Kami Begitu Ngeri dan Nyeri

Oleh Syaiful Alim

I

Negeri kami kaya raya

tapi kami banyak yang tidur di pinggir jalan raya.

Negeri kami subur

tapi kami makan beras impor

dan ikan dari singapura dan kuala lumpur.

Negeri kami makmur

tapi jutaan rakyatnya menjemur

basah luka di panas matahari

sudah lama dilindas dilibas reroda kuasa

yang berlumur dosa.

Luka kami jadi jamur

tumbuh di sekejur tubuh

yang membuat mata kami lamur

menanti mati dikubur umur.

Ke mana sumur-sumur kami

tempat mandi, mencuci, dan membasahi

kemarau yang kian birahi.

Ke mana sungai-sungai kami

tempat hanyutkan derit derita

dan jerit sakit berabad lama.

Hutan-hutan mulai gundul

kebun sawah ladang sudah susah dicangkul

anak-anak kami kian sulit digamit dan dirangkul

karena dapur berhari-hari tak mengepul.

II

Lihatlah kaum beragama negeri kami

pandai berakrobat ayat suci

sebagai siasat mengembat kursi.

Lihatlah artis aktor negeri kami

tidak hanya pintar aksi di televisi

tapi juga mencalonkan diri jadi bupati

walikota, dan gubernur cuma bermodal pesona berahi.

Lihatlah rakyat negeri kami

dibiarkan sekarat sampai berkarat keringat.

Beribu-ribu mengungsi

ke negeri orang mencari sekerat roti

meski dicaci maki, disetrika, diperkosa

dan dijual di tempat-tempat prostitusi.

Lihatlah anggota dewan kami

enak naik sedan produk luar negeri

rakyat bersedu sedan, berjejal-jejal pantat

berdiri bergelantungan bagai monyet

di tiang besi bis kota tua terkutuk

bau apek bau keringat busuk

menusuk-nusuk indra cium

belum lagi jemari-jemari

yang mengendap-ngendap dompet

hendak mencopet.

Lihatlah pejabat-pejabat kami

mereka sudah berubah jadi tikus-tikus berdasi

sementara kami makan nasi basi.

Aduhai serdadu yang lihai melesatkan peluru

sesatkan arah tuju ke kepala koruptor-koruptor itu

jangan kau bidik rakyat cilik

mereka sudah lama berdarah tercabik.

Negeri kami kotor

oleh ulah teror penjarahan upah buruh

dan kami pasti kalah oleh leleh peluru yang luruh

dari mulut-mulut pejabat yang tiba-tiba jadi tikus sawah

mencuri keringat, air mata, dan mata air yang sepuh

tertanam di tubuh melepuh.

III

Kami ingin menangis

tapi air mata habis.

Kami ingin tertawa

tapi duka senantiasa terbawa.

Kami ingin teriak mengoyak langit

tapi kami kehilangan suara jerit.

Kami ingin bersaksi di hadapan matahari

tapi matahari sudah mereka beli.

OH NEGERI KAMI BEGITU NGERI DAN NYERI

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Anak-Anak Tanpa Dosa Menanti Ajal

Oleh Mappajarungi Manan

My name is Taneka, I am 10 years old,” kata-kata itu meluncur dengan lugunya dari mulut Taneka, penghuni panti Mashambanzou, Waterfall, Harare, Zimbabwe, ketika ditanya. Kendati pun umurnya 10 tahun, tapi postur tubuhnya layaknya anak yang masih berusia 5 tahun.  Ia sibuk bercanda dengan rekan-rekannya.

Taneka, salah satu anak dari delapan anak-anak penghuni panti Mashambanzou lainnya. Usia mereka tak terlalu jauh terpaut. Penghuni panti itu adalah anak-anak yang positif pengidap HIV/AIDS.  Selain menampung anak-anak, juga menampung pengidap HIV/AIDS dari orang dewasa yang jumlahnya 20 orang.

Kendatipun mengidap virus mematikan itu, tapi Taneka masih berusaha untuk tampak ceria. Ia tak mengetahui kalau ia telah terinfeksi dari kedua orang tuanya yang telah meninggal  dua tahun lalu. Taneka dititipkan oleh kakek-neneknya di panti itu. Saban hari, ia bermain yang dipandu oleh suster-suster yang merawat mereka.

Di Panti itu, dalam ruangan tempat mereka tidur terdapat 9 kasur yang berjajar, banyak tersedia mainan. Usai makan siang, mereka tidur-tiduran sambil menonton tipi.  Di halaman panti, tersedia mainan layaknya taman mainan kanak-kanak yang dicat berwarna warni.

Mereka adalah anak-anak dari ribuan anak-anak Zimbabwe yang terinfeksi virus yang kini belum ditemukan obat penyembuhnya. Mereka belum mengerti apa-apa, mereka hanya bermain-main saban hari dan juga diajari tulis menulis dari suster yang merawat mereka. Mereka tak tahu kapan ajal akan menjemput.

Mereka adalah ODA (Orang Dengan AIDS), sementara OHIDA (Orang Hidup Dengan AIDS), sangat menyayangi mereka. Ruwa, misalnya, salah satu suster yang menjaga, dengan penuh kasih sayang membimbing untuk tetap ceria.

Dua minggu lalu (akhir Juni 2008) salah satu rekan Taneka, Leonard (11 thn) telah meninggal dunia. Taneka, ketika ditanya kemana Leonard, kawannya, dengan santai Taneka menjawab, “dia sudah meninggal dan pergi ke surga bermain.”

Pihak Mashambanzou, menerima para anak-anak pengidap HIV/AIDS dari daerah Harare  dan sekitarnya. Di Harare, ada beberapa panti penitipan anak-anak yang mengidap virus itu. Tidak hanya menampung anak-anak, tetapi juga yang telah dewasa dan yang berstatus suami-istri yang sudah pada tingkat AIDS. Artinya kesehatannya sudah sangat menurun. Karena digerogoti berbagai macam penyakit yang tak sembuh.

Biasanya, kondisi panti-panti di Zimbabwe lima tahun lalu, sedikit bergairah. Artinya, mereka mendapat berbagai bantuan dari organisasi dunia seperti WHO, WFP, MSF dan lembaga-lembaga donor lainnya. Mereka juga mendapat jatah obat seperti ARV, untuk menahan laju pergerakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh mereka.

Tapi kini, dengan kondisi Zimbabwe yang mengalami inflasi lebih dari 2 (dua) juta persen, suplay bahan makanan dan obat-obatan terhenti. Pemerintah setempat seakan tak peduli dengan kondisi mereka. Pejabat sibuk mempertahankan posisi jabatan mereka secara mati-matian dengan melawan seruan dunia.

Masyarakat Zimbabwe kesulitan mendapatkan bahan makanan. Bagi yang punya relasi di South Africa atau negara tetangga, mereka mudah mendapatkan suplai makanan. Harga kebutuhan pokok setiap jam naik. Memprihatinkan memang.

Penduduk Zimbabwe yang berjumlah 13 juta jiwa, pada survey tahun 2000 lalu terdapat 20 persen pengidap HIV/AIDS. Kini, jumlah penduduk Zimbabwe tidak lebih dari 7 juta jiwa, sebab banyaknya penduduk yang hengkang dari Zimbabwe menuju South Afrika, Botswana, Zambia, UK dan berbagai negara lainnya.

“Kami harus tinggalkan negeri kami ini, kami ingin hidup dengan jalan apapun. Karena bertahan di sini, sama halnya kami bunuh diri,” kata Kudawakse, penduduk Masvinggo yang akan menyeberang ke South Africa.

Bagi Kudawakse, berjuang untuk hidup adalah wajar, tapi bagaimana dengan penghuni panti Mashambanzou dan panti-panti lainnya? Mereka hanya mampu pasrah dari berbagai penyakit yang menjangkiti tubuh mereka. Karena virus yang menyerang sistem pertahanan tubuh tak bisa dihentikan.

Kini, dengan memakan seadanya, hanya mempertahankan kondisi tubuhnya yang lemah lunglai. Harapan untuk hidup lebih lama hingga mencapai usia uzur sesuatu yang sulit dan tak mungkin.

Anak-anak tanpa dosa serta orang dewasa yang terinfeksi, menanti hari-hari datangnya ajal menjemput satu-persatu dari mereka. Bagi Taneka, hari-harinya hanya diisi dengan bermain sambil menanti untuk “mengikuti” rekannya, Leonard. Entah kapan, esok atau lusa. Mereka di panti, hanya menanti ajal menjemput. []

July 08, 200

3:41 AM


Khuldi Tumbuh di Tubuh

Oleh Syaiful Alim

“Eva, khuldi tak hanya tumbuh di dadamu, tapi seluruh tubuh
aku mau unduh untuk remukkan kecamuk aduh”

“Adam, kau nyidam dendam atau demam?
bukankah ini terlarang, Sayang?”

“Ah! Bukan urusan. Aku harap tubuhmu jadi sepohon khuldi rindang
teduh, gaduh ular berkelakar, juga iblis yang nangis dan tertawa riang”

“Apa? Inilah kelak kau atau aku tertuduh
kita tak kuasa mengelak, air mata terseduh”

“Eva, aku bosan hidup dibonsai Surga
aku juga khawatir dosa yang berdansa bersama ular berbisa”

“Ayolah kalau begitu, naik dan petik khuldi di sekujur tubuhku
jangan panik, Cintaku, raihlah pernak-pernik unik walau perih ngilu”

“Duh! Berkati berahi kami yang tak berakhir ini
Oh, mantra ranjang goyang yang beku tersimpan di
saku campur darah luka siku, sikut rasa takutku
jangan sekadar angan, tangan angin berpilin ingin”

“Adam! Jangan berdoa, kita tak berdosa.”

[]

Khartoum, Sudan, 7 Juli 2010.


%d blogger menyukai ini: