Category Archives: Kesenian

Pentas Teater Mastodon dan Burung Kondor: Stamina yang Melorot!

Oleh Dwi Klik Santosa

 

Pementasan Mastodon dan Burung Kondor (foto: ari saputra/detik foto)

PEMENTASAN Teater Mastodon dan Burung Kondor oleh Ken Zuraida Project di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, pada hari pertama tadi malam, Kamis, 11 Agustus 2011 dimulai jam 20.30 terasa lambat. Ya, begitulah, menurut pengamatan dan perhitungan saya. Tempo adegan turun dari derajat yang semestinya. Sehingga terkesan agak sedikit kosong dan menjemukan.

Mencoba detil mengamati apa yang terjadi pada alur proses pementasan ini, kurang lebih adalah faktor stamina. Sangat dimaklumi. Bukan notabene menjadikan puasa sebagai alasan, namun memang kenyataannya puasa adalah rentang ruang yang menguras stamina. Namun, saya rasa, ini terlalu berlebihan. Bagaimana pun puasa adalah hal yang biasa bagi para pencari apalagi pejuang. Jika masih harus menjadikan itu alasan bagi turunnya stamina…waduuuhh gaswaat!

Secara logis, terkurasnya stamina itu, mungkin, dikarenakan energi yang ditumpahkan agak berlebihan sewaktu Gladi Resik. Faktor pementasan secara utuh pada waktu yang pertama kali, saya amati seringkali menjadi debaran tersendiri bagi para aktor untuk unjuk diri. Karena tampil agak ngotot, begitulah akibatnya, di hari berikutnya stamina agak kedodoran.

Hal ini nampak terlihat dari Awan Sanwani, aktor kawak Bengkel Teater Rendra, yang sangat-sangat bagus sewaktu GR memainkan perannya sebagai sang tiran, Kolonel Max Carlos. Ide-ide gerak teatrikal selama latihan di Padepokan Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, belum muncul saya perhatikan. Begitu ia bersentuhan dengan panggung yang sesungguhnya dan menghadapi publik, maka begitulah, kekenesan itu tergali oleh akting yang brilian, supaya sepenuhnya ia mampu meraih perhatian penonton.

Apalagi malam itu ada 50an wartawan menontonnya. Juga para seniman; sutradara teater, sineas dan sebagainya. Namun, bagaimana pun, Awan Sanwani adalah singa panggung, meski malam tadi suaranya yang serak-serak berat itu pada awalnya menggelegar memukau, lambat laun serak-serak habis …. Dan, banyak akal ia lakukan.

Menyadari suaranya tak mampu mengangkat perhatian atau malah cenderung mendatangkan gelisah penonton, ia pun improvisasi dengan memberdayakan bahasa badannya untuk mencuri hati penonton. Saya rasa, semangat berakting dari beliau ini luar biasa. Pemakluman yang indah. Karena tak surut atau tak menjadikan ia kilaf atau teledor untuk terus maju menjalankan misinya.

Totenk Mahdasi Tatang sebagai Jose Karosta sang penyair, seperti biasanya, gahar dan lugas dalam menyampaikan ungkapan-ungkapan puitisnya. Menjadi pembuka, penengah sekaligus penutup dalam rentetan adegan, adalah tugas yang sangat berat baginya untuk menghidupkan segala suasana. Secara individual, aktingnya lumayan dan cukup kuat. Namun, misteri panggung secara utuh, yang tidak hanya membutuhkan kekuatan akting per individu para aktornya, terasa sekali kedodoran.

Tak dapat dipungkiri, Jose Karosta dalam lakon ini adalah kunci bagi mengalirnya harmonisasi ritme itu. Ketika dari awal, atau pada saat di tengah dan atau ketika mendekati klimaks sedikit saja ia lengah, begitulah…tempo pementasan jadi merosot pelan, mempengaruhi yang lain dan sedikit menganggu dramatisasi sebagai target puncak katarsis atau orgasme gejolak perasaan penonton.

Namun, meski begitu, menurut saya mencoba mengkritisi drama tadi malam, berjalan tidak seperti apa menjadi keinginan dan pengharapan saya. 75% saja kira-kira sebagaimana target dalam kalkulasi saya tercapai. Para pemain seperti Angin Kamajaya, yang aktor dari UIN Syarif Hidayatullah itu, sangat kuat sebagai Juan Frederico, sosok pemimpin dewan revolusioner. Bahkan, menurut saya, ia yang paling konsisten selama alur berjalan dalam unjuk gelegar bahasa verbal maupun eksperimen gerak-gerak hidup…Konsistensi yang hebat itu kiranya mampu memantik atau mengangkat spirit yang lain untuk terpancing pula mengimbangi kegagahan itu dalam unjuk akting.

Adalah seorang Joobert Mogot yang suka dipanggil Ube. Ia berperan sebagai Hernandes, seorang aktivis demonstran yang fanatik. Meski suaranya tidak senyaring dan seprovokatif Frederico, namun ia pandai memainkan tempo. Baik gerak tubuh maupun olahan kalimat-kalimat … terasa efektif sekali dari apa yang ia hayati dan rasuki sebagai seorang demonstran yang fanatik. Bravo!

Satu lagi cukup memukau perhatian saya. Peran seorang Maryam Supraba yang suka dipanggil Meimei. Agak mengejutkan bagi saya, atas apa yang disajikan oleh putri bungsu sang sutradara ini. Cukup jauh beda itu ketika saya bandingkan dalam kiprahnya kali ini dengan ketika sewaktu ia berakting membawakan sosok Mongkleng, simbol dewi kegelapan pada pementasan Sobrat tahun 2005 yang lampau. Sebagai penyanyi satire dalam iringan adegan-adegan melankoli, suaranya yang keluar bukan dari nada dalam yang sesungguhnya khas darinya itu alias yang dibuat-buat demi untuk memenuhi kebutuhan ruang … sangat-sangat indah. Sampai-sampai seorang Pratiwi Setyaningrum, salah seorang penonton yang aktivis sastra populer saat kini, dalam dua kali pertemuan saya dengannya dalam dua hari yang beda dua hari kemarin, terus menanyakan perihalnya …“itu suaranya purba sekali. Kapan ya, bisa menyaksikan lagi ia nyanyi begitu di konser tunggal…”

Pun, sebagai Fabiola Andrez, aktivis mahasiswa fanatik dari salah satu provinsi yang ia katakan sebagai produsen ratu kecantikan dan pemasok bibit-bibit unggul pemilik aduhai pinggul dan dada, serta umpan revolusi bagi sang penyair yang suka hiburan berbentuk dewi kesenian yang semampai itu, lumayan bagus. Cukup mumpuni ia membawakan perannya. Vokalnya jelas, tempo juga bisa ia mainkan cukup kuat menarik atensi penonton dan pula tubuhnya yang sintal itu memang unik dalam karakter dandan yang menor ala Amerika Latino…

Dalam adegan rapat-rapat dewan revolusi sangat bagus menurut saya. Begitupun derak perang atau adu strategi perang antara kaum revolusioner dan Kolonel Max Carlos cukup menjadikan urat-urat penonton menegang dan serius menyimak. “Rendra memang jenius!” Begitu satu celutukan dari penonton malam itu tertangkap oleh telinga saya. Dan ketika saya teliti si penimbul suara…ia salah seorang aktivis tahun 1980-an. Begitulah… drama ini memang konstekstual pada era 1973an itu yang pernah menggegerkan dalam sejarah pergerakan, yang konon katanya menjadi inspirasi bagi meledaknya peristiwa 15 Januari 1974, atau MALARI.

Dan tanpa mengabaikan peran-peran yang lainya. Saya rasa, para aktor secara keseluruhan bermain cukup apik. Alam sadar mereka untuk meruang sebagai aktor panggung, pembawa amanah naskah dan beban sutradara, cukup terjaga. Begitupun peran musik yang dikomando Lawe Samagaha cukup mengalir mengilustrasi suasana Ngamerika Latin, meski sesekali ada senggakan pentatonik Jawa yang cukup terasa tertangkap telinga. Begitupun dengan tata lampu dan artistik panggung…meski agak janggal sedikit, karen pilar beton yang semestinya kokoh itu, nampak goyang-goyang… Dan juga ada noise pada tata suara di beberapa adegan…kiranya cukup mengganggu.

400an penonton. Ada tokoh-tokoh pergerakan hadir disitu. Rizal Ramli, Hariman Siregar, Anis Baswedan, Hamid Basyaib dan juga aktivis-aktivis mahasiswa era Soeharto tahun 1990an… Cukup setia! Dari awal hingga akhir selama 2,5 jam tak beranjak dari tempatnya duduk.

Semoga pada pementasan malam nanti dan 2 hari ke depan, semua awak mampu mengoreksi kekurangan dan kelemahannya. Sehingga, persembahan mereka yang sebagus-bagusnya dan sehebat-hebatnya akan memenuhi harapan keterwakilan hadirin, yang konon pada hari ini, dari up date kemarin, tiket sudah ludas terjual 75 %. Dan khusus di hari Sabtu, sudah mendekati 80%, dan Minggunya, 75% pula.

Sekian. BRAVO KESENIAN INDONESIA!

Zentha
12 Agutus 2011
: 08.oo

(foto: ari saputra/detik foto)

Iklan

Pementasan Teater: MASTADON DAN BURUNG KONDOR

JADILAH SAKSI PADA PEMENTASAN MONUMENTAL

KARYA

WS. RENDRA

MASTADON DAN BURUNG KONDOR

Naskah: WS. Rendra

Sutradara: Ken Zuraida

Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat

11 – 14 Agustus 2011

Pukul 21.00 WIB

 


Panggung Mencintai Nusantara dan Peduli Bencana

Oleh Dwi Klik Santosa

 

PARA PEMENTAS

“MENCINTAI NUSANTARA & PEDULI BENCANA”

MUSEUM NASIONAL (Museum Gajah)
SABTU, 6 NOVEMBER 2010, JAM 09.oo – 13.oo
WAYANG URBAN – MAS DALANG NANANG HAPEFormat pentas wayang kontemporer. Menggelitik, lucu, segar dan mampu beradaptasi masuk ke dalam dimensi yang aktual. Olah perpaduan alat musik tradisional dan modern yang bisa menuansakan aneka rupa cakrawala. Mas Dalang Nanang Hape, Lahir di Ponorogo, 15 Agustus 1975. Lulus dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta tahun 2001. Bukan nama baru di blantika kreatifitas nusantara. Karakter tradisi begitu kuat menyatu sebagai sosoknya. Meski begitu, ranah bentuk yang baru selalu menarik perhatiannya. 

KHRISNA PABICHARA

Lahir di Makassar, 10 November 1975. Adalah novelis dan motivator. Sering menerima panggilan untuk mengisi acara seminar, workshop atau training interaktif pengembangan kecakapan diri, terutama brain management. Puisi, cerpen dan tulisan kebudayaan digauli tak sebatas hobi. Basis Makassarnya tak pudar meski hidup di belantara ibukota. “Karya adalah jejak tradisi.” Nah, begitulah, yang akan disampaikan nanti dalam penampilannya di kesempatan ini.

DIMAS AMBORO

Lahir 22 Desember 1985. Sejak SMP senang memainkan lagu-lagu Balada. Pernah diasah oleh personil kelompok musik legendaris “Kampungan”. Edi Haryono dan Bram Makahekum, guru yang secara tandas memberi dasar kuat nada dan gaya yang “beda” pada petikan gitar dan lagu-lagu yang dinyanyikannya. “Memainkan laguku sendiri, betapa asyik.”

JOSEPHINE MARIA

Lahir di Surabaya 15 Mei 1975. Adalah seorang trainer dan konsultan Spa kecantikan kulit di beberapa hotel ternama. Tahun-tahun ini mulai aktif lagi menyelami dunia kepenulisan dan aktifitas Seni dan Budaya. Tulisan-tulisannya muncul di beberapa media dan sudah dibukukan. “Dengan cinta, saya ingin hanyut menghayati.” Mudah-mudahan di panggung nanti, ada penyegaran dari cara Mbak Jos mengaklamasi curahan perasaannya lewat Musikalisasi Puisi. Tentang keyakinan, kepedulian dan apa itu cinta.

YAYOK ASMARA POETRA FAJAR DINI

Lahir di kota Malang, Jawa Timur. Seorang pencari yang otodidak pada setiap apa yang ingin dilakukan. Banyak bahan dari dimensi seni : Teater, Desain, Seni Rupa dan Kepenulisan dipahami dan digelutinya. “Sesuatu yang Teatrikal itu mudah menyentuh.” Maka, dimana pun tempat adalah panggung hidup yang aktual. Museum Nasional dan Bencana, kiranya akan merasukkan pendalaman yang layak kita simak.

PRATIWI SETYANINGRUM

Lahir sebagai puteri Solo. Sarjana hukum yang hobi nulis, nggaul dan aktif nyastra. Ada panggung yang ingin dihayati. “Aku ingin ramai di tengah sepi.” Seperti burung-burung di pagi harikah?

“BELA 2010”
KIBAR – GANDES – EGI – WAHYU

Generasi meninggalkan fase remaja. Sebagai anak-anak yang matang dan bosan barangkali semasa bocahnya mentas dari panggung ke panggung dalam format Drama Musikal “Bela Studio”. Musik mereka usung tidak dari latihan doremifasol. Tapi dari ketukan dan birama yang dicari sendiri lewat perkusi, gitar dan nada mulut.
[]
DIMAS AMBORO : mengawali bermusik dengan lagu balada agak ngeblues. Yeahhh …

KIBAR MOHAMAD PEMBELA : ber-Keyboard dan sesekali koor

REGINA GANDES MUTIARI : masih lagu-lagu lama …. dan syair keseharian yang tak pernah usang.
IRA GINDA : bersyair sambil momong anak …. sesuatu yang menghidupkan keseharian. tak benar penyair harus terpisah dari kehidupan.
YAYOK APFD : berekspresi total. nada yang muncul meresapkan renung.
PANGGUNG ADALAH BEJANA EKSPRESI : melepaskan diri dari “AKU” merasukkan pemahaman ke dalam makna.
PUISI YANG MENGGERAKKAN ORGAN-ORGAN : jiwa seperti berlari menjangkau pendengaran batin audience (khalayak).
PRATIWI SETYANINGRUM : ada suara-suara yang keluar dari dalam. keluar bening, menggemai luasnya ruang museum.
INTERAKTIF : aku bertanya. dan dia menjawab. begitupun seluruh hadirin menyimak.
DIMAS : bermusik seperti mandi atau makan atau bangun tidur. dimana gaya dan tetek bengek, tak selalu penting.
BERKOLABORASI : mempertemukan keanekaan nuansa untuk meluncurkan cakrawala. ada warna yang kaya.
KIRANA KEJORA : bulan bintang. pastilah tidak senada lambang partai.
PASSION : aku hadir. aku ada!
BELA 2010 : persahabatan, bermusik, berpentas, dijalani sejak bocah. seni mengalir dari keseharian.
TIGA UNTUK SEMUA : ada aku yang seperti itu. ada Bu Dedah Rufaedah (kepala humas) Museum Nasional dan Mas Nanang Hape.
PENONTON YANG BERGERAK : sejak jam 09.oo kursi itu seperti bergerak. begitulah karakter penonton di ruang pementasan “Mencintai Nusantara dan Peduli Bencana”.
DIMAS & KIBAR : setelah dipisahkan 5 tahun, berkolaborasi lagi menyanyikan lagu yang sama. “benderaku ditiup angin … dari nafas anak-anak yang terengah-engah”.
EKSPRESI DALAM GERAK : organ yang digerakkan ritmis penjiwaan adalah kelancaran untuk mengaktualkan simbol-simbol.
EKSPRESI DALAM GERAK : organ yang digerakkan ritmis penjiwaan adalah kelancaran untuk mengaktualkan simbol-simbol.
EKSPRESI DALAM GERAK : organ yang digerakkan ritmis penjiwaan adalah kelancaran untuk mengaktualkan simbol-simbol.
KELUWESAN ADALAH KELUASAN : jika simbol atau metafora atau personifikasi dalam gerak ataupun semiotik dalam kata dan kalimat bisa dijelaskan secara terbuka .. semoga begitulah, seni itu untuk mencerdaskan.
NARSIS ITU INDAH : selalu begitu .. hahaha
MAS DALANG NANANG HAPE : bukan kadal dan walang. tapi bisa jadi ngudal pawulang.
WAYANG URBAN MAS DALANG NANANG HAPE : totalitas mengalir laksana air. membadaikan pemahaman. mengobarkan gairah. membumikan amanah.
SINERGI 4 ALAM : alam panggung, alam pementas, alam penonton, alam ruang.
KAMI ADALAH KELUARGA : betapa manisnya kami. kehadiran mencatatkan ada.
MENGEDARKAN KOTAK SUMBANGAN : wahai, saudara-saudaraku di Mentawai, Merapi dan Wasior … kami datang, semoga meringankan.
UNGU DI ANTARA HITAM : ya, begitulah … sisi lain perjumpaan .. ada kamera, jadilah …
[]

Belajar Dari Pasar Seni ITB 2010

Oleh Very Barus

pengunjung Pasar Seni ITB yang tumpah ruah…

KEMAREN siang, tepatnya Minggu (10-10-10), di kampus ITB Bandung digelar acara akbar (digelar hanya 4 tahun sekali) yang  dijulukin PASAR SENI Institut Tehnologi Bandung (ITB) 2010. Acara 4 taonan tersebut digelar di areal kampus yang luasnya bikin kaki elo gempor (8 hektar bo!)

Sebenarnya sejak pagi gue dan teman2 sudah semangat 45 pengen langsung acara tersebut. Tapi molor-molor molor… tepat jam 12 siang kami berangkat ke perhelatan tersebut…..

Di dalam mobil, gue sempat juga baca laporan twitter yang mengumandangkan kalo sepanjang jalan Dago, Tamansari dan sekitarnya macet total. Banyak kendaraan STUCK di jalan. Jadi jangan harap mobil ato motor elo bisa melenggang kanggung dengan gemulainya melintasi jalan Ganesha (areal ITB). Karena puncak kepadatan ada disitu dan pengunjung sudah ampun-ampunan ramenya.

Akhirnya, kami pun mencari jalan pintas yang dengan sok yakin nggak terjebak macet. Eh ternyata macet ada dimana-mana…(bukan Tuhan saja yang ada dimana-mana …macet juga ada dimana-mana..)

patung dewi yang dirobohkan ormas FPI…emang nggak ada jiwa seni tuh ormas sok suci…

DENGAN berat hati terpaksa mobil kami parker  di jalan…(aduh gue lupa nih nama jalannya… yang jelas deket resto NASI BEGANA). Kemudian kami jalan kaki menuju jalan Ganesha…(sumpah capek juga cuy!!!)

Sepanjang jalan kaki, kami sudah melihat deretan mobil terjebak macet yang bertahan dengan kebodohannya. Alias maksa pengen menerobos jalan Dago…ya, alamat dua hari dua malam lo bakal nyampe tujuan…dan acaranya keburu tuntas!

Akhirnya kami pun tiba di jalan GAnesha yang tumpah ruah pengunung yang ingin menyaksikan acara SAKRAL tersebut. Kenapa gue bilang sakral, karena acara yang digelar 4 taon sekali bertepatan jatuh pada tanggal 10-10-10 (angka cantik bagi pecinta togel!).

Tidak hanya itu saja, ternyata acara Pasar Seni ITB ini merupakan acara yang ke 10 x nya digelar di kampus itu. Dan konon katanya acara tersebut digelar selama 10 jam… wah…momentum angka 10 bener2 dimanfaatin banget deh..!!!

kumpulan pecinta musik jazz..hmm… i love it

DI GERBANG pertama gue sudah disuguhin dagangan2an yang menurut gue bukan salah satu peserta PAsar Seni. Mereka hanya memanfaatin moment tersebut. Mulai dari jual2 boneka, balon, gelang, topi, kacamata, minuman ringan, hotdog, kerak telor, gorengan, jus,buah2an dan macem2 jajanan pasar lainnya… gue sempat mikir, ini pasar kaget ato pasar seni ya…???

Tapi, masuk lebih dalam lagi, mata gue mulai dimanjakan dengan beberapa aktraksi yang ada sentuhan anak ITB-nya. lukis melukis, ada deretan tabung gas 3 kilo digantung, ada lantunan irama music keroncong, rock, jazz bahkan sampe aliran music yang masih asing ditelinga. Maklum alunan music tersebut terdengar indah melali racikan tangan para sang creator. melalui kumpulan batu-batuan terciptalah alunan music yang sangat klasik…. Hmm…so awesome! Sangat kreatif. Trus, ada juga aktraksi para SKATER yang menunjukkan kebolehan mereka bernain papan beroda itu.

mengkampanyekan diet menggunakan kantong plastik…good..!!!

ADA yang nekad mencorat-coret wajah mereka sehingga terlihat lucu dan unik! Ada yang nekad membungkus tubuhnya dengan plastic kresek sambil mengkampanyekan DIET KANTONG PLASTIK, juga pameran foto diri dengan berbagai macam ekspresi…

Dan satu momen yang menarik menurut gue adalah, ketika monument 3 dewi yang sebelumnya berdiri kokoh di salah satu perumahan di Bekasi, yang akhirnya dirobohkan oleh ormas FPI yang merasa sok suci itu. Gue juga melihat detik-detik ketika monument tersebut dipaksa untuk diruntuhkan oleh ormas paling kampungan sejagat raya itu. Ormas yang tidak punya seni dalam hidupnya selain seni menghancurkan dan membuat kericuhan. Tidak pernah menghargai jerih payah orang yang membuat patung tersebut. Tidak pernah melihat keindahan dari sudut kacamata seni bukan sok suci-nya!!!

deretan tabung gas 3 kilo yang banyak memakan korban…wujud protes …..

MESKI berdesak-desakan, panas-panasan, tapi sedikitnya gue merasa puas dan senang bisa berada ditengah2 kerumunan PASAR SENI ITB. Dan sempat mikir, orang2 yang dating ke Pasar Seni tersebut tentu berasa dari suku, agama, selera, keinginan serta hasrat yang berbeda-beda. Tapi semuanya bisa bersatu padu datang berbondong-bondong dengan tertib dan menikmati kesenangan masing-masing. Ada kemajemukan disitu, ada kebersamaan disitu, ada kecintaan disitu dan ada kepuasan disitu….

Tapi, kenapa kita yang hidup di negeri Indonesia yang tercinta ini, yang juga memiliki beraneka ragam perbedaan sulit menciptakan kedamaian??? Toh sama-sama majemuk kok..sama2 punya perbedaan kok…juga sama2 memiliki selera yang berbeda2 juga kok..

So, mari kita menciptakan perbedaan dan keberagaman itu menjadi sesuatu yang indah.. setuju!!!

[]


Kuliah Pada Rendra

Oleh Dwi Klik Santosa

TERAMAT MAHAL arti Rendra bagi khazanah intelektual di negeri ini, bahkan dunia, begitu menurut hitunganku, setelah membantu Mas Edi Haryono menyelesaikan penyusunan buku bertajuk Menonton Bengkel Teater Rendra setebal 2.000 halaman dan Ketika Rendra Baca Sajak setebal 300-an halaman itu. Menghadirkan Rendra sebagai dosen, kehormatan bagi institusi mana pun. Konon katanya, dulu, UI dan UGM, bahkan beberapa universitas luar negeri, sebut saja Australia dan Malaysia, pernah beberapa kali melobinya agar bersedia mengajar di kampusnya masing-masing, menjabarkan ilmu budaya. Melulu Rendra enggan mengomentari tawaran-tawaran itu dan selalu menolaknya. Seminar-seminar dan diskusi yang diadakan dengan menghadirkan Rendra pun jadi teramat mahal bagi orang sepertiku. Rendra sangat eksklusif. Memang, begitulah kenyataannya, pujangga, budayawan, seniman dan penyandang berbagai gelar sosial di masyarakat itu bukanlah omong kosong belaka. Oleh sebuah perjodohan, rupanya, kesempatan demi kesempatan dapat kutembus untuk akhirnya diberi kemudahan-kemudahan dapat belajar dan kuliah pada Rendra. Tanpa membayar SPP, uang gedung dan sebagainya. Betapa beruntungnya aku.

Menuju kampus Rendra di rumahnya, di bilangan Cipayung Jaya, bukanlah hal yang mudah ditempuh dari tempat asalku berolah hidup (bersama Mas Edi Haryono di BelaStudio), di Rawamangun. Jadwal kuliah yang dimulai pukul 08.oo menjadi syarat yang harus kujalani dengan usaha keras untuk tepat waktu menjangkaunya. Berangkat dari rumah, setidaknya, lebih pagi dari jam 05.oo. Berjibaku dengan berdesakan di antara ketiak penumpang di dalam kereta, begitulah nuansa pengalamanku berkuliah pada Rendra yang autentik ini. Berganti kendaraan tiga kali dengan beda kendaraan pula. Rawamangun – Stasiun Cikini kutempuh dengan bus Metromini jalur 46, memakan waktu setengah jam. Stasiun Cikini – Stasiun Citayam, hampir satu jam setengah kuhabiskan dengan peluh keringat dan berdesakan dengan berjubelnya penumpang. Setelah sampai di Stasiun Citayam, nyambung lagi dengan ojeg. Baru sepuluh menit kemudian, nyampai di areal pekarangan Rendra yang luas.

Kuliah dimulai pukul 08.oo tepat. Selesai pukul 16.oo. Istirahat hanya untuk makan siang dan Shalat Dhuhur atau Shalat Jum’at. Kuliah reli panjang yang sangat asyik, bukan saja karena kharisma Rendra, Pak Dosen, tapi karena hal-hal yang jauh dari formalitas dalam tata cara belajar-mengajar di ruang makan itu. Ruang makan. Ya, kuliah diadakan di ruang makan. Kuliah ini hanya diadakan pada setiap hari Selasa dan Jum’at.

Duduk di sembarang tempat, para siswa dapat mengikuti kuliah se-enjoy mungkin. Yang penting enak dan leluasa menyimak, tak terhalang hambatan selama mengikuti kuliah. Berdiri dimuka, Rendra berpidato memberi kuliah. Sedang berdiri di papan board besar, Mbak Ida, istri Rendra, dan kadang digantikan Mas Dudy Anggawi, senior BTR, sebagai asisten, yang membantu menuliskan skema-skema dan bagan alur kuliah serta beberapa kata-kata dan sebuah nama yang sulit dihafal ejaannya.

Suasana kuliah yang dinamis. Dialog interaktif yang komunikatif. Bila ada hal-hal yang tidak jelas dan menyebabkan pikiran terganjal, peserta kuliah berhak menuntut kejelasan dari Pak Dosen. Tak jarang terlibat debat seru pula, antara para siswa dengan Pak Dosen, jika terdapat perbedaan pencernaan menyangkut sebuah alur risalah. Memang begitulah, sikon ini seperti disengaja Pak Dosen, didramatisir sedemikian rupa agar supaya ruang kuliah ini mengalir dan tidak monoton. Jika kami semua sudah puas berpendapat dan berargumen dengan seru serta antusiasnya, lalu mendongenglah Pak Dosen. Dongengan yang lantun dan cermat itu pun seperti menjilma sihir saja. Manthuk-manthuk saja kami mengunyah mencernanya. Data dari Rendra seperti saja palu godam, hendak memukul balik kegoblokan dan kedunguan kami karena sok pintar punya pendapat dan argumen yang seolah-olah hebat. Sialan!

Dan bila, udara Cipayung Jaya yang dingin menyebabkan keletihan dan kantuk, diperbolehkan pula setiap orang yang ada di ruang kuliah menyeduh kopi, teh dan melalap ketela rebus dan kacang. Sambil makan dan minum, kuliah jalan terus.Terus mengajar Pak Dosen dengan gaya kelakarnya yang hangat, yang kadang sering menjebak pemikiran kami semua. Edan, sungguh mati! Sampai tak terasa, pukul16.oo tiba, tak terasa berjam-jam berinteraktif dengan Rendra serasa tak menunjukkan waktu yang lama. Benak kami jadi kusut. Dahi pun jadi berkilat-kilat berminyak berkerutan. Sedang rambut kami yang kebanyakan gondrong makin keriting dan kusut saja. Wuaaaaa …

Dari session ke session. Waktu ke waktu. Mengalirlah pengetahuan yang sangat berharga dan berarti, memercik dari kantung pengetahuan Pak dosen Rendra. Bedah Filsafat Seni. Hakekat dan cabang pengetahuan yang spesifik tapi berjendela luas. Bahkan mampu mengisi ruang batinku untuk memahami siapa sebenarnya manusia. Bagaimana pertaliannya dalam pergumulan meniti waktu, sehingga menandakan keunggulan adab, budi dan daya. Dari behavior dan manner. Menjabarlah, unsur-unsur hakekat menjilmanya seni. Menjalar dari astronomi, astrologi, biologi, metafisika, materi, logika dan dialektika. Lalu meluncurlah teori-teori penulusuran keunikan manusia. Teori psikoanalis, Sigmund Freud, dengan pemahaman manusia dari sudut id, ego dan super ego. Ivan Pavlov dengan psiko eksperimentasi; brainwashing dan brainstorming. Ivan Illich dengan teori-teori pembebasan manusia; hakekat sekolahan yang candu, dogmatis dan artifisial. Lalu, serial eksistensil asal-usul manusia dan pencariannya dari Engel, Kahn, Hegel, Marx hingga Descartes, dan lain sebagainya. Khazanah ilmu yang sangat adiluhung dan membukakan mata. Membakar semangat dan menggairahkan gelegak intelektual.

Dan tak kalah muak dan sebal, tatkala berkemuka termin-termin risalah perusak mental manusia. Adalah Niccolo Machiaveli, pujangganya bangsa Italia yang jenius tapi fasis. “Negara akan kuat jika penguasanya kuat,” inilah prinsip dari buah pikir The Prince, karya besarnya. Mimpi yang banyak ditiru oleh para chauvunistik; Napoleon Bonaparte, Mussolini, Hitler dan Stalin. Mau yang hendak menyatukan sebuah bangsa tapi malah terpecah oleh intrik-intrik kekuasaan elite politik. Dan lalu, hal senada ditiru, menjadi bagian hitam sejarah kita, yakni Amangkurat II, hegemon Jawa di bawah panji kekuasaan gelap Mataram, pada tahun-tahun 1748 – . Kekuasaan adalah segala-galanya. Negara adalah aku. Maka rakyat haruslah mematuhi lidahku. Begitulah, petatah petitih ini diwarisi para penguasa negeri kita dimasa-masa sesudahnya. Inilah kotak kardus negeri kita, … warisan dari mimpi pemimpin picisan. Bah!

Sejak berkuliah pada Rendra pada rentang 1996 – 1997 itulah, aku jadi gandrung filsafat. Tak terasa buku-buku tebal koleksiku kini adalah buku-buku filsafat rentetan serial dari tokoh-tokoh yang pernah tersebut oleh Pak Dosen Rendra. Makin hari kupahami banyak teori dan pengetahuan sejarah yang melatar-belakanginya. Bahkan bermula dari kegemaran mengejar seri kuliah filsafat itu. Pengetahuan yang lain pun kucari dan kejar pula untuk sekedar mencari jawab atas kebuntuan-kebuntuan pertanyaan yang membingungkan di seputar persoalan eksistensi manusia dalam pertaliannya dengan kodrat semesta. Maka, tak ayal, trilogi Socrates, Plato dan Aristoteles jadi sering saya cari dan beli bahan-bahannya. Oleh karenanya, aku jadi sedikit tahu juga perihal Sophocles, Aristophanes dan Euripides. Sebab para sastrawan ini hidup pada zamannya Aristoteles. Yang artinya juga, akhirnya aku jadi bersangkutan dan sering menghayalkan sosok Alexander Agung, maniak perang, sang penakluk dari Yunani, murid Aristoteles yang dahsyat, karena di usia 27 tahun telah menaklukkan sepertiga jazirah dunia ini, dan sangat terkenal karena eksperimen budaya penyatuan Negeri Persia yang barbar dengan peradaban Yunani yang dianggap berbudaya berlabel Budaya Graeco-Persia itu.

Arus deras perguliran ini  kuantusiasi betul-betul hingga bentangan alirnya terus merembes, hingga membentuk penelusuran hakekat adiluhung Indonesia, yang pada akhirnya terus bersentuhan dengan siapa itu Ranggawarsita, Sanjaya, Kajao Ladido, Hamengkubuwono IX, Tan Malaka, Sutan Syahrir, Mohamad Hatta, Chairil Anwar, Natsir dsb dsb. Dan lalu sangat pahamlah aku akhirnya, kenapa tiba-tiba sosok Soekarno yang dulu mercusuar dan menara gading dalam pemahamanku, rontok seketika, saat membedah sosok-sosok brilian nusantara itu. Ya, tapi barangkali ini rasionalisasi tentatif, karena Soekarno pun betapa hebat mempengaruhi jalan pemikiran itu. Justru, mengenangkan Soekarno adalah juga paradoks dan antitesa untuk mengenali kekayaan keragaman, dan memang cenderung menunjukkan betapa kecil sebetulnya Soekarno itu, dan tapi, yang lantas kesemuanya itu jadi komplit dan holistik menggenapi sejarah manusia brilian yang pernah terlahir di bumi nusantara. Setidaknya ini menurut perhitunganku.

Wah, membedah Seni, betul-betul jendela wawasan yang tidak main-main. Aku jadi bingung dan suka tak habis pikir, begitu luas daya jelajahnya. Dan kata-kata Pak Dosen, Rendra, pada suatu ketika, “aku muak melihat seniman-seniman muda yang tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman, “begitu menohok telak ke ulu hati.

Semenjak mendengar kata-kata itu meluncur dengan ketus dari lontaran Pak Dosen, siapa yang tak syok dan tercabik. Kata-kata itu bagai palu godam, senantiasa betah mengiang-ngiang. Dari semua dosen yang pernah kujumpai selama ini aku pernah mengecap kuliah dan belajar, kata-kata itulah paling telak dan masuk di pikirku hingga saat ini. Ya, kata-kata hidup yang tak pernah kusangsikan kedalaman empiriknya. Betapa tidak, mendengar dan membaca biografi Pak Dosen, ketika ia berusia muda, begitu fantastis dan serasa musykil saja kebenarannya. Usia 10 tahun, sudah membaca Socrates, Plato, dan Aristoteles. Umur 17 tahun, sudah berani pidato di mimbar radio tanpa teks menjabarkan siapa itu Steinbeck, Boris Paternak, Stanilavsky, Ranggawarsita, dsb. Akibatnya, setelahnya, dengan sebat melayani debat dengan tokoh-tokoh sekaliber Iwan Simatupang, Sitor Situmorang dan Sudjatmoko. Dan lalu, umur-umur 20-an dengan lugas dan cermat, pikiran-pikirannya mengalir menjadi esai-esai, cerpen, puisi dan naskah drama yang menggetarkan, bahkan menggegerkan khalayak seni pada masa itu.

Kuliah dan menjadi murid Rendra, betapa, dalam kesempatan yang langka ini begitu menantang dan menggairahkan. Tidak ada nilai-nilai A, B,C, D dan E. Tidak ada drop out dan wisuda. Kebanggaan dan bersombong atas proses ini, kadang-kadang justru menjadi friksi diri yang galau dan menakutkan. Begitu tak mudah memahami nilai-nilai dan makna tersembunyi di balik pengetahuan dan pelajaran yang pernah diajarkan Rendra. Ilmu kuwi kelakone kanthi laku (ilmu itu terjadinya karena dijalani), barangkali ini menjadi bahasa ibu bagi siapa pun para penuntut ilmu yang arif. Barangkali itu pula sesuatu syarat yang harus dipahami dan dilakukan agar kita betul-betu mengerti dan paham, apa yang pernah dan akan terus diajarkan Pak Dosen Rendra kepada kita.

Salemba, 23 Februari 2006

DALAM PELUKAN PAK DOSEN : wisuda tanpa gelar, momen yang terindah dalam hidupku

[]


Josephine Maria “Membaca” Adhy Rical

Style pose Josephine Maria saat membacakan Kutang Pancara karya Adhy Rical

KUTANG PANCARA
Oleh Adhy Rical

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

[]

Laosu, 2010

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

###


[Puisi sahabatku, Adhy Rical aku baca pada Reboan Wapres, Bulungan, 30 Juni 2010]. Thx u Adhy..

Josephine Maria

http://josephinemaria.wordpress.com/Josephine Maria Johanita Ina Buan, ini kerap dipanggil ‘Joes’ mewarisi darah Flores-Adonara, Nusa Tenggara Timur, dari kedua orangtuanya. Lahir dan dibesarkan di kota Surabaya, Jawa Timur. Kini dia menetap di Jakarta. Hobi menulis sejak sekolah menengah pertama (SMP) dan berbakat menggambar sejak masih sekolah, yang terapresiasi dengan sangat baik pada berbagai perlombaan menggambar. Cintanya pada seni memang mengakar sejak dini. Peraih Diploma Analis Kesehatan Kulit ini, selain berkesenian, bekerja sebagai Trainner & Consultant SPA, dan Beauty Consultant Klinik Skin Care. Buku pertamanya; Antalogi 10 Penyair Tarian Ilalang, yang diterbitkan bersama 10 sahabatnya di jejaring Facebook. Situs webnya http://ranahaksara.wordpress.com/ dan akun Facebook : Josephine Maria. Karyanya yang lain dapat disimak di Puisi-puisi Josephine Maria di Oase KOMPAS.


Foto Bugil, Seni atawa Porno?

Oleh Mappajarungi Manan

Foto-foto: Marwan Jr

“Ah, aku bingung. Mana karya seni dan mana porno”  ujarku kepada rekan, usai menyeruput secangkir kopi hangat di ruang loby Hotel Nikko, Jakarta. Jumat, siang(26/8)  sekitar pukul 15.00 WIB. Rupanya,  era kebebasan, semua diidentikkan dalam segala hal. Misalnya, bebas mengobok-obok agama, bebas memaki-maki. Kini aku baru usai menyaksikan kebebasan memajang foto-foto porno. Mungkin aku dibilangin kuno ya, karya seni dibilangin porno?…hehehehe.

Cafe Oak, Hotel Nikko,  yang biasa dipakai menikmati suasana santai dengan alunan musik, berubah jadi pameran foto karya fotografer, seperti Darwis Triadi, Davi Linggar, Jay Subyakto, Kay Moreno, Marsio dan Oetomo. Tidak ketinggalan pula beberapa fotografer dari Majalah FHM Indonesia. Tampilan karya para juru foto professional itu berlangsung dari tgl 23-28 Agustus 2005.

Suasana yang sejuk di Oak room itu, menimbulkan pikiran beragam. “Duh bagusnya foto ini ya, artistic sekali, jadi pingin punya foto seperti ini” ujar seorang wanita yang melihat-lihat karya fotografer Marsio. Disetiap figura, wanita yang menyaksikan pajangan itu tak berkedip. Ketika berada di depan karya Darwis Triadi,  seakan merasakan sendiri sebagai model. Tampak karya Darwis, seorang perempuan bugil berdiri menghadap pohon, dengan hamparan sawah. Sayang karya itu hitam putih. Wanita itu begitu mengagumi tanpa kedip. Harga sebuah karya foto darwis tertulis Rp 5 juta.

Darahku mendesir.. ah kaco nih. Kendati tidak sevulgar karya Darwis, namun terlihat soft. Karya Kay Moreno dengan model Lena Maya, membuat aku sedikit tertegun ia penuh berbalut bunga dengan percikan air. Sayang NOT FOR SALE. Namun ketika melihat karya Marsio lainnya dengan model  Karenina, norak,namun harganya diatas karya Darwis yakni Rp 10 juta.

Suguhan dari karya fotografer itu, kendatipun telah memiliki nama besar, tapi ternyata tidak semuanya menampilkan karya bagus. Pose-pose Karenina yang dijepret oleh Marsio banyak yang norak. Misalnya Darwis yang memotret model Kinaryosih tidak menimbulkan greget demikian pula karya Oetomo  dengan model Davina. Karya Hitam Putih Darwis lebih bercerita.

Akhirnya aku sulit mengambil kesimpulan mengenai definisi pornografi yang sudah jelas dan tegas dalam pandangan agama. Tetapi batasan pornografi  yang telah baku itu, kini masih terus diperdebatkan dan diarahkan untuk dikaburkan. Inilah penampilan erotisme yang direkam dalam foto oleh mereka.

pornoaksi dalam konteks terminologi Islam. Dalam Islam, aurat  tersebut memiliki definisi yang sudah jelas, yaitu sesuatu  yang tak patut dilakukan, tidak patut diperlihatkan atau tak  patut diucapkan. kaitan ini ada aurat rohani dan jasmani. Mengutip    firman Allah SWT yang artinya, “Tutuplah dadamu dengan  kerudungmu”. “Itu sudah jelas. Buat wanita suara dan rambut saja menyangkut aurat.

Kalau rambut dan suara mungkin dianggap wajar, namun haram yang besar menunjukkan pusar dan buah dada. Namun melihat  kenyataan itu masyarakat akan terdiam, bagi pengumbar nafsu itu adalah karya seni, untuk menutupi “kekurangannya” itu.

Tampilan karya foto itu, merupakan suatu gambar yang bisa menimbulkan rangsangan seks. Tapi masyarakat Indonesia tidak tunggal. Yang pasti, kelihatan “putting beliung” adalah bahaya. Dapat menimbulkan petaka, ya gak?..  Jadi ingat foto Sophia Latjuba hehehehe.. tapi foto Sophia dan Asarah Azhari, angin “Putting beliungnya” gak nampak hehehe bener gak nih? …Jadi.. sulitkan menilai, mana seni dan porno? []

Aug 26, ’05 9:26 AM

foto: Marwan Jr

foto: Marwan Jr

foto: Marwan Jr


Mari Bermain

Oleh Adhy Rical
Bermain apa dulu? Teater apa aja. Nikmati aja dulu. Poin pentingnya di sini. Sebab agaknya sulit jika menyinggung hal-hal besar tentang teater seperti produksi, artistik, dan lainnya tetapi kita lupa hal yang paling sederhana: bermain. Wajar atau tidak teknik bermainnya, ada aturannya tersendiri. Paling tidak mata penonton lebih cerdas dari yang kita duga sebelumnya.

Jika aturan itu mungkin membuat orang malas dalami, ya biar saja. Tiap orang punya metode berbeda. Setidaknya, saya tidak berupaya mendedahkan persoalan dengan sesuatu yang rumit. Kadang-kadang bermain itu justru aturannya dibuat sendiri oleh yang bersangkutan. Setelah ramai dan menarik, barulah aturan pasti disepakati.

Begini, tanggal 9 Juli 2007 lalu, seorang sutradara dari kelompok Store House Jepang, mengadakan workshop di Kedai Kebun Forum. Workshop yang sederhana tapi mengasyikkan: bermain tali. Ingatan kita kembali ke permainan-permainan masa kecil. Namun di balik itu, Singo mengharapkan kerjasama kolektif sederhana yang tentu saja teater tidak menafikan itu. Bukankah dalam permainan itu ada pertukaran budaya yang pelan-pelan terasa juga pertukaran pengalaman batin? Lebih dari itu, hubungan emosional dan bentuk kerjasama yang tidak banyak membuat alis menyatu rapat. Tiap peserta punya referensi sendiri, keberagaman, dan pengalaman yang berbeda. Justru inilah uniknya. Masing-masing kepala punya problem yang mesti dia dedahkan sendiri dalam pencapaian karya kreatif berikutnya.

Patut dicatat, bahwa saya tidak berbicara soal hal baru dalam karya kreatif teater yang dihasilkannya (mungkin secara estetik) tetapi proses dan karya yang berguna itu sendiri kelak. Juga bukan soal menokohkan apalagi mengidolakan karya terdahulu atau memilah penonton secara estetis dan ekonomis tapi apa yang sudah kita hasilkan selanjutnya memotret diri untuk terus berkarya dan berkembang, tentu saja lewat pengalaman bersama diri, orang lain, dan alam. Sesederhana itu. Yap. Terus bagaimana dengan teater yang harus bertapa dulu di tempat tertentu untuk mendapatkan ilham? Berdiam diri dalam kamar dengan setumpuk referensi? Atau berkelana ke tempat mana saja untuk berbagi cerita? Apapun kecenderungannya, verbalitas atau semiotik. Jelasnya, ia masih dalam ranah bermain.

Saya hanya ingin bermain (juga?) dalam teater yang cenderung bermula. Remaja! Waow. Teater pink. Teater timbul-tenggelam. Prosesnya lebih pendek daripada teater mahasiswa. Dan memang ia lebih banyak jumlahnya (?), karena keadaan bukan karena matakuliah, mungkin juga karena trend. Apa sajalah, tak perlu didebatkan. Basis kekuatannya dahsyat benar. Seperti remaja yang kali pertama dapat ciuman, rasanya sulit dipikir karena nggak nyambung. Tapi daya magisnya, wuihh… (jangan dilanjutkan, kalau pun “ya”, teruskan sesuai selera).

Sayangnya tidak banyak naskah lakon untuk segmen ini. Akhirnya, banyak naskah yang dimainkan tergolong berat (belum lagi tafsirnya mungkin gelap hehe, pinjam istilah seorang teman). Beberapa festival teater remaja di tanah air bisa buktikan kecenderungan itu.

Bermain dengan Ijma

Nah ini dia. Mari bermain berdasarkan kesepakatan bersama dulu. Istilah ijma kupinjam sajalah. Soalnya sampai sekarang kan belum ada ijma-nya teater. Ijma yang kumaksud sederhana juga seperti penemuan Teater Garasi yang sangat kecil tapi berguna. Apaan? Latar hitam dalam panggung. Dasarnya: referensi, alasannya: teater Indonesia miskin. Ini belum termasuk penemuan lain mereka yang mesti saya angkat gelas untuk bersulang: terima kasih.

Garasi mungkin saja agak berbeda dengan komunitas teater lainnya. Mereka tidak mau persulit keadaan tapi mencari sesuatu yang sulit untuk kemudian dibuat mudah. Metode yang mungkin banyak orang lalui tapi tidak menyadari begitu pentingnya. Belajar bersama, memberi dan menerima menjadi satu hal yang tidak terpisahkan. Banyak ijma yang berlaku demi pencapaian bersama. Komunitas yang belajar bersama, tentu memperoleh sesuatu yang sangat berguna untuk dikembangkan lagi sehingga kecenderungan latah dan tidak berkonsep dapat dihindari.

Saya teringat dengan salah satu infotainment tivi tentang strategi orang yang ingin cintanya diterima oleh pujaan hati. Banyak cara yang dilakukan, dari yang paling goblok sampai hal yang paling ekstrim. Penonton sudah punya jawaban di kepala: diterima atau ditolak. Yang bikin menarik hati bukan jawaban dari pilihan itu tapi bagaimana prosesnya ia berupaya lakukan perjuangannya. Bermain teater dengan ijma, apalagi dengan remaja, dibutuhkan sekali itu. Setelah Garasi, siapa lagi?

Kapan Bermain?

Jangan tanya dan tunggu tapi tentukan. Apalagi mencari perbedaan atau kelemahan komunitas tertentu untuk kemudian saling menjatuhkan. Kalau pun ada biar saja. Anggap saja dinamika. Dengan begitu, keberagaman ada maka daya hidup untuk bermain kian besar. Sehingga yang berproses dalam karya dan pentas nantinya bukan yang itu-itu terus.

Saya pikir, remaja adalah salah satu modal penting untuk keberagaman teater ke depan. Modal itu telah dikerjakan Garasi dengan program Actor Studio-nya meskipun remaja belum bisa masuk dalam program tersebut. Paling tidak, program itu banyak membantu dalam pencapaian tertentu, minimal di atas 17 tahun.

Tidak menutup kemungkinan program Actor Studio akan merambah pelajar. Jika salah satu item program itu adalah “membuka jalan” keaktoran maka pelajar dengan idiom pink itu pasti lebih menarik. Wilayah permainan akan semakin hidup dengan gaya pubertas yang berbeda. Lebih jauh, teater tidak lagi menjadi sesuatu yang ekslusif dan magis saja, tetapi nantinya benar-benar menjadi milik publik. Bukan sekadar bermain untuk ditonton oleh penggemar komunitas tertentu.

Setuju atau tidak saya khawatir jangan sampai teater kita juga begitu, tertindas oleh sesuatu yang tidak diketahui sendiri: tertindas gelap. Ah, jangan sampai kita lupa bermain indah tetapi lebih mementingkan tepuk tangan yang riuh. Tak apalah jika begitu. Setidaknya, masih ada yang bisa ditertawai sebuah adegan tak lucu karena dimainkan kawan sendiri. Ah, biar saja begitu. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Toh, kentara juga siapa yang lampunya redup sebelum menyala.◘

Yogyakarta, 2007



%d blogger menyukai ini: