Tag Archives: anak

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

[Cerpen] Mencuri Perahu

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“Ama (bapak), benarkah aku anak ikan?”

“Siapa yang mengatai kau macam itu!” Meradang Ama Bandi mendengar pertanyaan Ripah, anak perempuan lima belas tahun itu. Buku-buku jemarinya mengeras. Sepertinya, hendak lekas saja dia meninju seseorang.

“Orang-orang di pasar membiarkan anak mereka mengejekku,” jelas Ripah. Mukanya pucat melihat Amanya dipenuhi amarah.

Bandi melompat dari kursi, sigap melepas sarung, dan menurunkan sebilah Taa (parang pendek) dari gantungannya.

“Tak usahlah Ama melayani mereka. Aku tak apa-apa.” Sergah Ripah pada tingkah ayahnya.

Suara datar Ripah membuat Bandi menghentikan gerakannya. Mukanya heran, amarahnya tiba-tiba surut. “Mengapa Ripah…?”

Bandi berjongkok, meletakkan bilah Taa itu di lantai, lalu menatap anak perempuannya itu, “Ama akan membelamu jika ada orang yang mengejekmu serupa itu.”

“Tak perlu. Tindakan Ama hanya akan membuat mereka kian menjadi-jadi. Makin malu aku dibuatnya nanti,” ujar Ripah sambil mengusap air matanya.

Bandi terunduk. Dihelanya napas perlahan.

“Ripah… kau tak perlu mendengar bualan mereka. Mana ada anak ikan itu. Manusia tentu beranak manusia.”

Ama Bandi mencoba mengajak anak perempuannya bicara baik-baik.

Ripah langsung berdiri. Mendelik pada ayahnya, lalu berjalan masuk dapur. Bandi bangkit dari jongkoknya, menggantung kembali Taa pada sangkutannya dan berjalan ke bibir jendela. Matanya menyapu pinggiran pantai Talaga Besar yang sedang dihadang angin barat.

Sudah sepekan dia tak melaut. Pun sama dengan kebanyakan nelayan lainnya. Banyak di antara mereka tak ada yang berani turun melaut jika musim angin barat. Tetapi, untuk alasan tertentu, sesekali ada juga yang memberanikan diri menyabung nyawa di lautan.

Tapi, Bandi tak mau ambil risiko seperti itu. Anaknya hanya Ripah dan belum menikah pula. Istrinya sudah lama wafat ketika melahirkan Ripah.

***

 

Ketika Ripah masih bayi, imannya nyaris tak kuat jika mendengar gunjing orang banyak perihal istrinya. Entah setan apa yang merasuk ke hati dan pikiran Salamah, istrinya itu, hingga dia berbuat nekat begitu.

Setelah persalinan, bahkan ari-ari bayi belum sempat diputuskan, Salamah tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan melompat keluar rumah, berlari menuju pantai. Gerak cepat Salamah, tak disangka Bandi. Tak dapat dikejar istrinya itu sehingga terlambat baginya menghalau Salamah menceburkan diri ke laut. Tubuh salamah langsung hilang ditelan ombak besar. Kejadiannya juga persis saat musim angin barat.

Bandi menduga, istrinya itu jadi gila memikirkan ekonomi keluarga mereka. Musim angin barat yang panjang membuat kedua orang suami-istri itu resah. Bandi harus punya uang untuk persalinan Salamah, tapi istrinya itu justru mencegahnya melaut.

Maju tak mungkin, apalagi mundur. Mereka berdua benar-benar terjepit keadaan. Maka, itulah sebabnya barangkali Salamah berpikiran pendek. Bunuh diri dengan cara gila macam itu.

Semalaman semua lelaki di kampung nelayan itu mencari tubuh Salamah, termasuk Bandi. Si bayi dititipkan pada bidan desa yang membantu Salamah melahirkan. Hingga pagi menjelang, mereka tak menemukan tubuh Salamah. Bukan jasad perempuan itu yang mereka dapati di sekitar pantai, justru seekor ikan duyung (pesut) yang bertingkah aneh.

Ikan duyung itu berenang ke sana-kemari mengitari pantai. Sesekali menyembulkan separuh tubuhnya ke permukaan air, lalu berbunyi sesekali. Orang-orang yang sedang sibuk mencari jasad Salamah mencoba mengusirnya, tapi ikan duyung itu tak juga mau pergi. Entah dari mana datangnya ikan itu.

Bandi tidak mempersoalkan kehadiran ikan itu. Bukan hal itu yang membuat dia risau, melainkan gunjingan orang setelah tiga hari kemudian. Semua penduduk lelaki memang tak berhenti mencari selama sepekan, tapi mulut perempuan-perempuan kampung pun tak juga berhenti bergunjing.

Mereka mulai menanggapi kehadiran ikan duyung itu sebagai jelmaan Salamah. Lama kelamaan pergunjingan itu bertambah liar dan nama Bandi mulai pula disangkutpautkan.

“Pantas saja hidupnya susah, si Bandi itu mengawini ikan duyung rupanya.” Demikian gunjing seorang perempuan.

“Eh, ikan duyung kan bawa sial pada nelayan. Ikan itu harus diusir jika mendekati kapal. Si Bandi itu malah mengawininya ya?” sambar perempuan lainnya. Lalu, ramai di antara mereka membincangkan satu masalah itu saja.

Mereka bahkan mulai menyebut-nyebut bayi Salamah yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka mulai melarang siapa saja datang menjenguk bayi Salamah. Takut kena sial, kata mereka. Jika bertemu Bandi sedang menggendong bayinya di depan rumah, mereka buru-buru berlalu tanpa menyapa. Bahkan, menoleh pun tidak.

Keadaan inilah yang selalu dikhawatirkan Bandi. Sejak duhulu, dia sudah menduga akan datang saat-saat seperti ini. Ripah akhirnya harus menghadapi situasi dan sikap kolot masyarakat di sekitar mereka. Dahulu Bandi pun masih suka percaya takhayul macam itu, tapi semenjak dia bisa membaca lewat program paket B, perlahan-lahan banyak takhayul yang tak masuk akal harus dia buangnya.

Tetapi, Ripah, apalah daya gadis remaja seusia dia menghadapi cemooh dan gunjingan orang sekampung. Kejadian di pasar barusan itu membuat Bandi makin khawatir.

***

 

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi, Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai sambil meneriakkan nama Ripah berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan petromaks. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut, dayung digantungkan di tempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun dan air mencapainya, air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, tak ada sangkaan lain jika Ripahlah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut di saat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu-membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu, satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Lima belas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberi tahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan, melainkan lusinan karang di bagian utara pulau dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, Nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak Bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu di mana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Inaku adalah ikan duyung dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan, dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Amamu saja. Amamu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela napas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah dan satu per satu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat di belakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah ikut melompat ke air. Namun, gelombang yang datang dari belakang perahu menabrak tubuhnya, menggulingkannya, hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi, tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi berteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakri menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

 

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

(Republika, 1 Mei 2011)

 


Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita

Oleh : Julia Napitupulu

 

 

Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas ya). Peristiwa tadi sebetulnya ga perlu terjadi, kalau saja kamu bisa pegang beberapa nasihatku…ini mengenai bagaimana memahami (atau istilahmu: menangani) Putri kita:

Yang Pertama, jangan pernah lupa bahwa anak perempuan kita seorang Wanita, seperti Aku. Mungkin ukuran dada kami berbeda tapi dia tetap W A N I T A, terima dan pahamilah fakta ini.

Kedua, mengenai koleksi bonekanya. Tak usah kamu coba untuk bernalar berapa banyak boneka yang harus ia miliki, dan mengapa pula semuanya harus dalam warna pink), karena aku juga ga bisa menjelaskan kepada buku kas belanjaku, kenapa aku harus beli lipstik lagi, padahal yang tiga terakhir, setahun juga ga bakal abis.

Ketiga, mengenai frekuensi nonton Barbie. Meskipun dia sudah nonton film 129 kali, so what kalo dia masih pengen? Temenin aja kenapa sih? Ga usah terlalu takut dia bakal ke-Barbie-berbie-an. Aku tadinya juga anti Barbie kok, sampai aku pelajari kalau Barbie jaman modern udah beda. Kenapa memang kalau Putri kita Cantik, sekaligus Seksi, sekaligus Pintar, plus Berbakat, plus Berani dan Berhati Mulia?? Sudah tak berlaku lagi tuh filosofi konyol: “Daripada Cantik tapi Bodoh, mending Jelek tapi Pintar”.

Sehubungan dengan masalah Barbie, nanti kamu tinggal ajari dia bagaimana memilih Pria Terbaik dari sepeleton Pria Keren yang tersandung jatuh karena cinta pandangan pertama sama dia. Pesonanya emang udah begitu, udah bawaan orok.

Aku merasa kamu agak enggan untuk main rumah-rumahan sama dia. Padahal dunia sudah membuktikan bahwa Pria Straight juga bisa menjadi ratu di dunia persalonan, perkulineran, musik, dan dunia otak kanan lainnya? Jadi ga usah merasa jadi wadam kalau kamu menemani anakmu main rumah-rumahan, sisir-sisiran, dan juga ga usah repot mikir mengenai aturan main, siapa menang, siapa kalah. Itu hanya cara untuk meng-enjoy sebuah hubungan. Just be natural & go flowing with her…(jangan lupa ajak anak laki-laki kita juga).

Keenam, bisa ga kalau dia lagi main masak-masakan dan kamarnya seperti kapal pecah, kamu turut merasa happy dengan excitement-nya? Dan bukannya komplain dengan kamarnya yang berantakan? Suasana kapal pecah itu salah satu cara dia mencintai kehidupan, sama seperti dapurku yang kayak abis perang padahal cuman masak teri sambel pakek pete.

Yang ketujuh ini penting-ting banget..(p.s.: aku sampai gemeter terharu tau ga sih nulis ini). Lain kali, saat dia mendatangimu dengan berurai air mata, dan mulut tertarik ke bawah, apa pun yang sedang kamu lakukan, listen to me: a p a p u n, letakkan itu dan simak dia baik-baik. Itu moment of trust yang bisa kamu bangun atau kamu hancurkan, saat itu juga.

Kedelapan. Ini juga maha penting: jangan langsung percaya kalau dia berkata: ‘aku happy, Papa’. Kami, para wanita, punya 5 lapisan rasa…simak yang tersirat di belakang kata.

Kesembilan. Ini sebenarnya nyambung dengan yang pertama. Hanya karena Kamu Papanya dan dia putrimu, bukan berarti kamu bukan Pria dan dia bukan wanita. Oleh karena itu sadarilah bahwa ada masanya kamu memang tak berdaya luluh lantak kalah hanya oleh sorot matanya, tetap bukan alasan kamu harus menguras kantongmu untuk memborong seluruh isi mall untuknya. Belajar mengendalikan dia dari aku. Ijazah-ku udah delapan dalam hal begitu-begitu.

Terakhir nih. Suamiku. Aku tau kamu lelah utk menafkahi kita, dan menata kerajaan ini agar aman lohjinawi sepeninggalmu kelak…tapi pernah-kah kamu berpikir, bisa saja aku yang meninggal duluan kan?? Karena aku merasa dia sudah cukup belajar mendengar, menari, beres-beres, bergaul dan melatih kepekaannya. Tapi kurasa dia masih perlu belajar untuk menerobos waktu 10 tahun ke depan, berkuda di jalur terdepan, bangkit untuk yang ke-100 kali setelah 99 kali jatuh, juga menantang derita fisik demi kebenaran dan kejujuran. Itu TUGAS MU, Suamikuga semuanya bisa ku-handle meski aku nyaris superwoman. Karena itu, jangan terlalu serius untuk mengamankan kerajaan dari badai dan topan, tapi hiruplah juga sarinya. Puaskan lah matamu saat melihat putrimu sedang kasak kusuk cekakak cekikik dengan ibunya, itu momen terindah, yang membuat tubuh lelahmu bisa segar lhoh, dengan seketika…Betapa waktu seperti Pencuri, Sayang…

Aku udah nangis setengah jam…ketahuilah, tulisan cakar ayam ini puncak kelelahanku dan juga bukti sayangku. Semoga terbaca oleh mata hatimu ya…

Tertanda,

Lady of the House & Penguasa dapur kerajaanmu

[]

 

(p.s.: yang masi tetep keren meski udah brojol beberapa kali…)

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.

 


Mereka Juga Layak Punya Cita-Cita (Anak-Anak Kurang Mampu)

Oleh Very Barus

(mereka ada diantara kita)

SABTU pagi, sekitar pukul 08:00 WIB, bertempatan ‘warung kopi’  berskala dunia Starbuck BNI 46 Bilangan Sudirman (sebelah hotel Shangri La),  gue janjian dengan sahabat-sahabat gue (Deddy Irman dan Sari juga bebebrapa sahabat dari karyawan Starbuck).  Pagi itu rencanannya kami akan bertemu langsung, bertawa-canda, berbagi kasih dan kisah, juga berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang mampu yang berasal dari kawasan Semper ato kawasan Tanjung Priok sono deh.

Jauh sebelum acara  ‘berbagi kasih dengan anak kurang mampu’ di gelar, gue sudah di bbm sama sobat gue. Apakah gue tertarik untuk bergabung? Dengan semangat 45 gue mengiyakan ajakan tersebut. Bukan sok hero sih kalo gue mengiyakan dan ikut berpartisipan untuk acara-acara berbau social. Apalagi berhubungan langsung dengan anak-anak yang kurang mampu. Anak2 Autis atau keterbelakangan mental. Gue suka berhadapan dengan mereka….

Sekitar jam 8.30 pagi…

Setelah gue dan teman2  dari Starbuck ngumpul, Rombongan anak-anak berseragam merah-putih turun dari bus yang khusus mengantar mereka ke warung kopi itu. Wajah mereka penuh keceriaan. Meski baju yang mereka pakai sebenarnya sudah tidak layak untuk dipakai (warna putih menjadi warna keabu2an atau coklat muda gitu deh). Celana atau rok yang mereka pakai pun banyak yang sudah kena tambal sulam. Sepatu dan kaos kaki juga banyak bolongnya.

Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan membuat gue sangat miris. Suka membayangkan seandainya gue berada pada posisi mereka, apakah gue masih sanggup menerima kenyataan hidup?

Tapi itu lah realita…..

Dibimbing dua orang wali kelas, dengan rasa sungkan sekitar 40 murid sekolah dasar itu masuk ke gerai Starbuck dan disambut dengan sangat ramah oleh karyawan Starbuck. Mereka pun menyalami kami satu persatu.

I love this part..!!

(gue bersama mereka)

Sambil memilih tempat duduk sesuai selera mereka, gue mulai melakukan pendekatan dengan anak-anak tersebut. Mereka pun berkisah tentang siapa orangtua mereka, apa pekerjaan orangtuanya dan apa cita-cita mereka. Rata-rata mereka memiliki orangtua yang bekerja sebagai SUPIR bus, truk dan pekerja buruh yang sering keluar kota.

“Bapak sekarang berada di Riau-PakanBaru..nyupir bus, om..” ucap seorang murid laki-laki dengan malu-malu.

Sementara temannya yang lain juga  ‘curhat’ tentang orangtuanya yang sebagai buruh kasar. Pokoknya berbagai pekerjaan berat menjadi profesi orangtua mereka.  Diposisi lain, teman gue sibuk mengajarkan bahasa Inggris pada anak-anak perempuan. Ada juga yang mengajarkan matematika hingga mata pelajaran yang mereka sukai yaitu BERNYANYI….

Sementara teman-teman dari Starbuck sibuk menyuguhkan susu coklat dingin di dalam wadahnya lalu dibagi-bagikan pada anak-anak tersebut. Tidak ketinggalan roti donat khas Starbuck menjadi suguhan pendamping susu coklat tadi. Hmmm…. Wajah mereka langsung berubah cukup ceria menikmati suguhan tersebut.

“Kami jarang makan enak om…apalagi minum susu coklat seperti ini..”ujar seorang murid dengan polosnya langsung meneguk habis satu tubler sus coklat dingin. Gue hanya tersenyum haru.

Kemudian, kami pun kembali sibuk dengan acara temu canda-curhat-sharing dan apalah itu namanya. Yang jelas, murid-murid SD tersebut sudah tidak sungkan-sungkan untuk curhat pada gue. Bahkan ketika gue menanyakan cita-cita mereka, sambil mengacungin telunjuk mereka berebut menjawab..

“Saya pengen jadi Tentara…saya jadi dokter…saya jadi penyanyi…saya jadi pilot..saya pengen jadi guru dan saya pengen jadi polwan..”

Hmm… cita-cita yang wajar bukan? Dan meski pun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, mereka juga LAYAK PUNYA CITA-CITA. Jangan pupuskan cita-cita mereka…

Bahkan yang mengagumkan dari murid-murid SD tadi, banyak diantara mereka yang berada di rangkin paling atas di kelasnya. Juara kelas dengan prestasi yang tidak kalah ‘agung’ dari murid-murid SD yang punya label ‘SD internasional’.

(sari mengajarkan bahasa Inggris)

Ada curhatan yang nggak kalah seru ketika seorang dari mereka membisikkan ke telinga gue seperti ini, ”Om, si anu (nama temannya), waktu kelas 2 SD ketahuan merokok, om.”

Dengan lagak sok jadi guru, gue langsung bertanya pada murid-murid laki-laki yang sedang duduk-duduk bersama gue, ”Siapa diantara kalian yang pernah merokok, ayo tunjuk tangan..?”

Sambil malu-malu, dua orang dari mereka angkat tangan dan mengakui kalo mereka pernah merokok. Itu juga dikarenakan ikut-ikutan sama kakak kelas mereka. “Tapi sekarang saya tidak merokok lagi om…” jawabnya polos. Kemudian, gue pun memberikan penyuluhan pada mereka kalau MEROKOK ITU TIDAK ADA GUNANYA…(kebetulan gue tidak merokok)

Kejadian yang nggak kalah seru adalah ketika ada beberapa murid yang berdarah BATAK mulai melantunkan lagu-lagu Batak. Dengan PD selangit mereka menyanyikan beberapa lagu Batak.

“Kamu tau nggak arti lagu yang kamu nyanyikan..?”

“Tidak om…”

“Kenapa kamu nyanyikan..?”

“Soalnya dirumah bapak sering memutar lagu Batak. Jadi saya jadi hafal om. Tapi nggak tau artinya..” (gue hanya tersenyum saja)

Hari terus berlanjut, acara semakin seru. Mereka semakin akrab sama gue dan teman-teman. Beberapa cemilan pun disuguhkan lagi. Mereka juga bebas mau menambah minuman susu coklat tadi. Mereka juga curhat kalau mereka mengidolakan JUSTIN BIEBER dan Charlie ST12. Dan satu lagi…. Ada yang curhat kalau dia sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya  si juara kelas…

Oalahhhhhhh…… serunya berada ditengah-tengah mereka… dan gue berharap semoga mereka bisa menggapai apa yang mereka cita-citakan…

(mereka layak mencicipi kebahagaian)

[]


Sehari Bersama Anak-Anak Penderita Autis

Oleh Very Barus

 

(wujud mereka sulit berinteraksi)

 

PAGI tadi (18/11), gue dan teman mendatangi sebuah sekolah  atau bisa juga disebut sebagai Pusat Rehabilitas Medis Terapi kelainan perkembangan anak. Lokasinya di  Bandung. Tujuan utama  kami datang ke sekolah tersebut karena ada proyek foto untuk Company profile dan juga untuk buat situs tentang anak-anak penderita Autis.

Kalo boleh jujur, baru kali pertama ini gue bertemu dan bertatap muka dengan puluhan anak-anak penderita Autis. Ada rasa prihatin, haru, lucu, riang. Yang jelas saat berada ditengah-tengah mereka, perasaan gue menjadi campur aduk.

Selama ini gue hanya mendengar kisah sahabat gue  (Mbak R) yang memiliki cucu penderita autis tingkat ADHD ato Attantion Deficit Hyperactivty Disorders. Mendengar kisah mbak R yang begitu setia dan sayang terhadap cucunya membuat gue bisa merasakan how deep her love to B. bahkan mbak R sering mengeluh juga tentang minimnya jasa pengajar untuk anak-anak penderita Autis.

Pagi tadi….

Gue mendapat tugas memotret anak-anak autis tersebut saat mereka sedang melakukan aktivitas. Mulai bermain, belajar, bernyanyi, makan hingga Therapi. Kalo boleh jujur, gue bener-bener speechless berhadapan dengan mereka. Ternyata susaaaahhhhhhh….. banget!!! Karena mereka tidak bisa atau susah banget berinteraksi dengan orang lain. Mau kita teriak menyuruh mereka mengikuti apa yang kita suruh  juga nggak bakalan di gubris. Kecuali guru-guru tim pengajar yang memerintahkan baru deh mereka sedikit menurut. Karena mereka punya kode-kode tersendiri.

Sejujurnya gue sangat suka sama anak kecil. Tapi melihat anak-anak Autis kok gue jadi sedih banget. Mereka hanya bisa memainkan jari-jari tangan mereka. Menangis, memberontak (berteraik-teriak) dan kalau pun ada yang sudah mahir bernyanyi, maka mereka akan bernyanyi. Dan satu lagi, diantara mereka ada juga yang sangat hiper aktif. Ada yang jago melukis juga. Dan lukisan mereka cukup mencengangkan mat ague. CUKUP BAGUS!

 

SALUT SAMA GURU



(salah satu pengajar yang sangat sabar dan telaten)


Dibalik semua rasa yang ada dibenak ini, gue sangat mengacungin JEMPOL sama tim pengajar. Gimana tidak? Mereka sangat sabar mendidik, mengajarkan dan merawat anak-anak autis tadi dari pagi hingga sore menjemput. Tidak ada keluhan yang terlontar dari bibir mereka. Yang ada wajah-wajah tulus dan sabar merawat dan mengajarkan mereka tentang apa saja agar mereka bisa tumbuh menjadi anak autis yang lebih baik lagi.

“Kalo memikirkan materi, kita sudah lama tidak mengajar disini mas. Ini semua semata-mata karena ketulusan hati kami untuk menjaga dan mendidik mereka. Kalo soal gaji, sangat kecil yang kita dapat,” ucap salah seorang tim pengajar yang sudah mengabdi selama enam tahun di sekolah tersebut.

Ada beberapa kelas yang dipakai untuk mengajar anak-anak penderita Autis.(Perkembangan, Advance, Speed Yunior, Speed) dan ada juga ruangan khusus untuk therapy dan olahraga (memanjat, melompat dan juga naik tangga). Masing-masing kelas punya guru yang khusus menangani mereka. Lagi-lagi gue hanya terpaku melihat kesabaran guru-guru tersebut mendidik mereka.

 

ANAK-ANAK BORJU



(Hasil karya mereka…)


Kalo dilihat latar belakang anak-anak autis tersebut, banyak diantara mereka yang terlahir dari orangtua yang berpendidikan, terkenal dan juga orang kaya. Bahkan beberapa dari anak-anak autis tersebut memiliki orangtua yang sangat terkenal. Mulai dari rector, doctor, dokter spesialis, artis, designer dan pejabat. Mungkin kalo disebutkan namanya, kita pasti bilang,” ooo, itu toh bapaknya…!!”

Tapi sayang, setelah dikorek-korek keterangan dari tim pengajar, banyak dari orangtua anak-anak autis tadi tidak ingin indentitas mereka diketahui. Jadi cukup hanya guru-gurunya saja yang tau siapa orangtua anak-anak autis tadi. Orang lain tidak perlu tau…

“Mungkin mereka malu punya anak penderita autis mas,” ucap seorang tim pengajar.

Ya, bisa jadi itu benar bagi mereka. Karena jika publik tau mereka memiliki anak autis, mereka malu dan takut jadi bahan olok-olokan. Tapi alangkah piciknya orangtua seperti itu…. Tidak mengakui anaknya yang menderita autis. Biar bagaimana pun anak-anak autis juga butuh perhatian, kasih sayang dan juga pengakuan dari orangtuanya..bukan hanya dititipkan ke sekolah atau pusat rehabilitasi…dan urusan perawatan hanya dilimpahkan ke tim pengajar anak-anak autis…

Damn..!!!!

Tega banget bukan..???

Bahkan yang paling menyedihkan, ada penderita autis yang usianya sudah mencapai 43 tahun. Dan tingkah lakunya juga sangat ke kanak-kanakan…dan dia adalah anak seorang rektor di salah satu universitas terkemuka di kota Bandung.

 

(pendekatan gue terhadap mereka…)


Hingga sore menjelang, gue masih bertahan di sekolah tersebut. Masih bermain2 dengan anak-anak autis yang lambat laun mulai mengenal wajahku dan juga mulai berani mendekat untuk diajak bermain…

Hmm… alangkah bahagianya jika kita juga peduli sama mereka… karena jangan hanya tim guru-guru pengajar saja yang dilimpahkan tanggung jawab untuk mendidik mereka… kita-kita juga HARUS memiliki hati nurani untuk merawat mereka…..

Banyak hikmah yang gue petik dari pertemuan dengan anak-anak penderita autis. Dan satu hal… DIMATA TUHAN KITA ADALAH SAMA….tidak ada pengecualian…

 

 

[]


Hari ini Kulepaskan Kau Dari Hatiku: Ikhlas

Oleh Ade Anita

Hari ini kulepaskan kau dari hatiku

Perih

Sakit

Itu pasti dan kamu tidak pernah tahu bagaimana sengsaranya rasa itu bagi hatiku

Seandainya kamu tahu, sayang

Semua akan aku lakukan untuk dirimu, hanya untuk dirimu

Bahkan seluruh cita-cita terbesarku adalah untuk melihatmu bahagia

Bahkan seluruh peluh akan aku peras untuk mewujudkan semua mimpimu agar bisa jadi kenyataan

Bahkan seluruh darah dalam nadiku, akan aku pompa agar kau bisa senantiasa ceria

Ya Tuhan, betapa besar keinginanku untuk dapat memilikimu,

memelukmu agar senantiasa dekat dengan hatiku

merasakan denyut jantungmu

Lalu bersama kita akan melalui hari bersama-sama

Menerjang badai galau yang sering menghadang

Menebas duka yang sering melintas

Lalu meraih tawa dan merajut bahagia bersama

Aku tidak akan pernah lupa untuk memancing di telaga ceriamu

Agar suara tawamu bisa senantiasa mewarnai hari-hariku

Lalu memanah matahari, agar senantiasa bisa mencerahkan rumah kita

Setiap malam, aku tidak akan pernah lupa memetik bintang agar bisa menghiasi dinding malammu yang gelap

Tapi siapa yang bisa melawan takdir yang telah digoreskan?

Hari ini kulepas kau dari hatiku

Berat…tapi insya Allah aku sudah ikhlas

Semata karena aku cinta padamu

dan yakin, Dia lebih mencintaimu

Selamat jalan cinta

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Notes ini ditulis dalam rangka ikut lomba menulis puisi dengan tema “Hari ini kulepaskan kau dari hatiku”.

Behind the story; sebenarnya enggan ikut lomba ini, karena temanya bisa menimbulkan perang dunia ketiga…(hehehehe), tapi, tiba-tiba aku pingin nulis ketika sedang menyusun sesuatu dan tiba-tiba ingat kenangan ketika keguguran dahulu. Jadi, tulisan ini didedikasikan untuk calon anakku yang tidak jadi lahir. Bukan untuk siapapun. Jika ada kesamaan nama atau kejadian, itu hanya kebetulan.


Wajah Seorang Penipu

Oleh Ade Anita

 

“BU.. . itu ada tamu.” Aku segera membenahi pakaianku. Siapa orangnya yang ingin bertemu tanpa ada janji terlebih dahulu di waktu menjelang maghrib seperti ini. Sepuluh menit lagi azan akan berkumandang. Artinya, waktu buka akan segera tiba. Di bulan Ramadhan tahun 2009 ini, anggota keluarga yang ikut berpuasa hampir semuanya Alhamdulillah.

Ternyata perempuan itu. Wajahnya yang dekil terlihat sumringah begitu melihat hadirku. Tapi hanya sesaat karena sedetik kemudian, wajah itu kembali terlihat sendu. Aku mendengus membuang muakku di dalam keranjang sampah di dalam hatiku. Mau apa dia?

“Bu. Saya senang melihat ibu sehat-sehat saja. Saya selalu berdoa kepada Allah agar ibu baik-baik saja. Ibu beruntung banget dibanding saya yang terus menerus menderita.” Aku terdiam mendengar ceracaunya tanpa reaksi.

Tahun lalu, perempuan ini pernah datang ke rumah. Waktu itu suamiku sedang berada di luar kota. Perempuan ini datang sambil membawa tiga buah gelas belimbing, serta dua buah mangkuk dengan gambar ayam jago. Mangkuk yang biasa dipakai oleh para penjual bakso. Tapi bukan apa yang dibawanya itu yang membuatku dengan segera membuka pintu dan mempersilakannya duduk. Yang membuatku segera mempersilakannya duduk adalah air mata yang mengalir deras di pipinya yang kotor. Sedu sedannya begitu menyayat hati.

“Tolong saya bu. Saya nggak tahu mesti minta tolong sama siapa lagi. Tetangga sudah bosan memberi bantuan pada saya. Tapi memang bukan kehendak saya yang terus menerus tertimpa kemalangan.” Aku mengangsurkan sehelai tissue untuknya menghapus sungai yang mengalir deras di pipinya tersebut. Coreng kelabu di wajahnya mulai terhapus oleh air mata itu. Tapi itu malah membuat wajahnya terlihat semakin memelas. Menggelitik rasa iba yang semula tertidur pulas. Perempuan itu bercerita bahwa suaminya sakit keras. Tidak dapat berdiri dan hanya dapat tertidur saja di atas tempat tidur. Struk datang tanpa permisi. Sudah lama penyakit darah tinggi dan diabetes menggerogoti suaminya. Tapi ketidak adaan biaya membuat perempuan itu tidak dapat membawa suaminya pergi ke dokter. Sementara anak-anaknya, yang berjumlah tiga orang, hari itu tidak mau pergi sekolah karena malu sudah dua bulan terlambat bayar SPP.

Dunia memang terkadang amat kejam pada beberapa orang, tapi amat sangat manis dan empuk bagi beberapa orang yang lain. Kebetulan, perempuan di depanku ini merasakan sisi yang serba tidak enak.

“Ibu, belilah gelas dan mangkuk saya ini. Berapa saja ibu menebusnya saya akan terima. Saya benar-benar butuh uang untuk beli obat suami saya dan bayar SPP anak-anak saya. Kasihan suami saya bu. Dia tidak bisa makan apa-apa jika belum menebus obatnya, karena obat itu bisa membantunya menetralkan penyakitnya. Kasihani suami saya bu.” Perempuan itu lalu bersimpuh di kakiku. Membuatku risih dan memintanya untuk kembali duduk di bangku. Aku punya uang. Masih ada sisa uang belanja yang semula aku sisihkan untuk membeli baju renang bagi putriku. Baju renang muslimah agar aurat putriku tertutup jika dia ingin bermain-main di dalam air sekalipun.

“Ibu tinggal dimana?” Mulutku mencoba untuk mengulur waktu. Sementara otakku terus menyusun prioritas mana yang lebih utama, membantunya atau memenuhi kebutuhan putriku. Perempuan itu lalu menyebutkan sebuah alamat. Ternyata alamat yang disebutnya tidak jauh dari tempatku tinggal. Aku tanya lagi, siapa nama suaminya. Perempuan itu lalu menyebut nama suaminya, lengkap dengan nama tetangga rumahnya di kiri dan di kanan. Aku tahu mereka semua. Aku sering bertemu mereka di pengajian kampung. Lalu dengan Bismillah uang seratus ribupun lolos ke tangannya dan menolak semua gelas dan mangkuk yang dia tawarkan.

“Pakai saja. Di sini masih banyak gelas dan mangkuk. Ibu lebih membutuhkannya.” Bibir perempuan itu langsung gemetar mendengar penolakanku. Sekali lagi dia langsung duduk bersimpuh ingin mencium kakiku. Aku menolaknya dengan risih. Hatiku masih menangis membayangkan penderitaan yang harus dia pikul. Seorang istri yang tiba-tiba harus merawat suaminya yang tidak bisa apa-apa, dan rengekan anak-anaknya yang merongrong. Tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dia masih berusaha untuk bertahan di atas bumi yang keras seperti cadas.

Lalu perempuan itu pergi pulang.

Lalu aku menyelesaikan masakanku. Selesai masak, aku jadi terpikir untuk mengirim masakanku sebagian ke rumahnya. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berbuat baik pada tetangga? Maka dengan berjalan kaki dan membawa masakan serta beberapa keperluan sembako, aku berjalan kaki mencari alamat.

Sayangnya, hingga satu jam aku berputar-putar tidak ada seorang pun yang tahu perempuan dan suaminya. Bahkan hingga Pak RT datang dan mendengar penuturanku, tetap perempuan itu tidak diketahui keberadaannya. Aku mulai merasa tidak enak. Rasa sesak mulai menyerang. Sesak karena marah yang tiba-tiba naik ke atas kepala. Aku telah ditipu di siang bolong. Kurang ajar!

Keesokannya Pak RW menemuiku dan menanyakan perihal kabar yang beredar. Terpaksa dengan hati yang masih marah aku ceritakan pada beliau. Akhirnya terungkap. Benar saja, ada beberapa orang yang juga mengadukan hal yang sama. Perempuan itu ternyata bukan siluman yang bisa begitu saja menghilang. Dia memang pernah menjadi warga di daerah kami tapi akhirnya diusir karena sering menipu kiri kanan. Masih gadis tapi mengaku sudah bersuami. Belum pernah punya anak tapi mengaku anak-anaknya banyak dan merongrong. Yang lebih parah lagi, semua uang yang diperolehnya itu dipakainya untuk main judi. ARFGHHH…

Lalu bulan Ramadhan di tahun 2009 ini, perempuan itu datang lagi di depan pintuku. Masih dengan wajah memelas dan dandanan bedak debu yang cukup tebal.

“Ibu, terima kasih atas bantuannya waktu itu. Di bulan ramadhan ini bu, saya jadi terpikir, mungkin enak kali ya kalau dagang kolak. Kalau nggak habis, ada anak-anak yang bisa ngabisinnya.” Aku tidak tersenyum juga tidak menyapa. Tapi aku melihat kesumringahan di wajahnya.

“Bu… ingat tahun lalu ibu datang ke rumah saya dan bilang suami ibu sakit parah?”

“Iya… iya, ingat. Sekarang dia sudah baikan bu. Sudah bisa tertawa lagi, tapi tetap nggak bisa bangun dari tempat tidur. Ya Cuma itu saja kebiasaannya, tertawa saja. Terima kasih banyak bu atas bantuannya. Cuma yang namanya hidup, saya tetap harus cari uang. Makanya, bantuin saya dong bu buat dagang kolak.” Aku mendengus tapi mencoba untuk bersabar. Sebentar lagi buka, sebentar lagi buka.

“Bu, tahun lalu, setelah ibu pulang, saya menyusul ke rumah ibu. Ternyata ibu penipu. Ibu belum menikah dan belum pernah punya anak. Saya nggak tahu gelas dan mangkuk siapa yang ibu bawa. Tapi ibu sudah menipu saya.” Luka lama itu terbuka lagi. Kali ini aku amat sangat ingin menangis, bukan karena perih tapi karena berusaha keras untuk menahan sabar karena sedang berpuasa. Dadaku sesak menahan bendungan tangis yang saya tahan. Bayangan detik detik azan maghrib yang sebentar lagi mengalun menguatkan pertahanan dinding beton yang terus saya pertebal, pertebal. Ah, kenapa harus bermain-main dengan emosi seorang perempuan. Tidak tahukah bahwa jumlah air yang mengalir di tubuh seorang perempuan sepenuhnya adalah air mata yang akan langsung bergejolak jika emosinya sudah dipermainkan? Aku terus menyabar-nyabarkan diri. Tidak boleh setitikpun air mata ini tumpah. Aku adalah wanita yang amat sangat ingin terlihat kuat dan tangguh. Meski sebenarnya amat sangat rapuh.

Perempuan itu terperangah menatap saya. “Kok, rajin banget sih pake nyamperin segala? Kayak nggak ada kerjaan.” lalu dengan seringai yang tidak jelas dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan santai menuju pagar rumahku. Pergi begitu saja. Tanpa permisi, tanpa keluar kata maaf satu potong pun. Sementara aku terus menerus harus mengaduk campuran semen dan batu-batu kali, agar beton-beton kesabaranku tidak runtuh. Agar dinding-dinding bangunan bendunganku tidak kalah oleh volume tangis yang benar-benar sudah membludak memenuhi rongga dada.

Dan itulah ujian kesabaran yang paling berat yang harus saya hadapi di bulan ramadhan 1430 H ini (Agustus 2009).

[]
Notes: ini termasuk kumpulan serpihan yang tercecer di ujung tahun 2009.

Gambar di bawah ini adalah gambar bunga anthurium. Amat booming di kalangan menengah ke atas, sehingga memiliki tanaman ini dalam salah satu koleksi tanaman yang menghiasi halaman rumah dipercaya bisa menaikkan derajat mereka sebagai bagian dari kalangan socialita. Sesungguhnya, idibalik kecantikan dan nilai gengsinya yang tinggi, ni adalah bunga paling beracun di urutan teratas bunga paling beracun di dunia. JIka tanpa sengaja memakan bunganya, maka akan muncul rasa terbakar disertai melepuh dan bengkak. Tangan juga bisa gatal-gatal. Tidak disarankan untuk meletakkan tanaman ini di samping hewan kesayangan atau tempat yang mudah dijangkau oleh anak kecil.


Terima Kasih

Oleh Ade Anita

 

 

Terima kasih kompor, karena selama bulan Ramadhan nggak pernah rewel, kehabisan gas di waktu yang tidak tepat dan semua kegiatan masak memasak lancarrrr…serta nggak bikin panik, bahkan setelah acara besar lebaran hari pertama (masak besar untuk bantu halal bihalal keluarga).

 

Ehem…dispenser…contoh kompor gas. Ramadhan tahun ini kamu sempat bikin ulah ya. Masa habis tepat jam setengah empat pagi…kasihan tuh anak-anakku cuman minum dua gelas pas sahur. Kamu tahu sendiri kan, semua warung nggak mau bukain pintu untuk ngejual air minum botolannya, apalagi jual air minum galon yang mesti diantar ke rumah. Pokoknya, tahun depan jangan sampai terulang lagi ya.

 

Terima kasih Alarm yang selalu bangunin tiap malam tanpa kenal lelah. Maaf di awal bulan Ramadhan kemarin sempat meragukan suara teriakanmu yanga terdengar kurang menyebalkan alias terdengar terlalu kemayu dan lembut untuk sosok alarm pembangun sahur. Tapi…ternyata suaramu perkasa juga ya. Good job alarm. Teruskan usahamu.

 

Terima kasih Air Tanah, karena tidak kering mendadak. Terus mengalir lancar. Jadi semua ibadah jadi lancar dan semua kegiatan sehari-hari tidak ada yang terganggu.

 

Terima kasih Tukang Sayur, karena tidak memaksa untuk membeli sayur seperti biasanya. Cukup dengan kode alis terangkat, sudah mengerti bahwa aku sedang tidak ingin belanja.

 

Terima kasih Matahari, karena tidak bersinar terlalu terik dan bikin cepat haus dan lelah.

 

Terima kasih Hujan, karena rajin turun berselang-seling dengan panas. Dengan begitu persediaan air tanah terus tersedia, udara jadi sejuk jadi kami bisa menjalankan puasa dengan  tenang dan sejuk…mau tidur, tinggal merem, nggak usah ngipas-ngipas dulu.

 

Terima kasih Tanaman, karena bisa mandiri nyari makan dan minum sendiri lewat matahari dan hujan. Jadi, aku nggak usah cape-cape nyiram tiap hari.

 

Terima kasih Tetangga-tetanggaku karena pengertian nggak ngajakin ngerumpi yang nggak-nggak.

 

Dan special terima kasih untuk Anak-anakku. Yang tidak menyusahkan dan senantiasa manis dan baik hati selama Ramadhan ini. Terima kasih karena langsung membantu begitu dengar suruhan suara pertama (jadi ibu bisa hemat tenaga nggak usah berkali-kali nyuruhnya). Terima kasih karena nggak bikin emosi selama ramadhan ini (dengan begitu ibu bisa khatam Al Quran dengan lancar).

 

Lalu amat special untuk Suamiku. Terima kasih untuk semuanya. Untuk pengertiannya kalau tiba-tiba nasi habis di saat mau sahur karena aku lupa masak nasi (sibuk nyiapin lauk tapi lupa ngintip nasi masih ada apa nggak). Terima kasih karena mau disuruh lari ke warung tegal terdekat buat beli nasi. Terima kasih juga karena mau bantu berbagai macam pekerjaan, demi agar aku bisa meng-khatamkan Al Quran-ku (“kamu benar mas, khatam Al Quran itu kelezatannya tiada tara dan bikiin kecanduan”).

 

Dan terima kasih terbesar…terima kasih Allah. Karena sudah memberikan kesempatan melalui Ramadhan kali ini dengan semua kemudahan yang Engkau hamparkan padaku (semoga ini bukan ujian kenikmatan darimu. Karena sungguh aku tidak ingin lalai atau gagal dalam berbagai ujian dari-Mu).

 

Alhamdulillahirrabbil’Alamin.

Subhanallah Wa alhamdulillah walailahailallah Allahu Akbar.

 

Allah, sampaikanlah umurku dan seluruh keluargaku agar dapat melalui Ramadhan tahun depan. Amin.

 

[]

 


Teristimewa #4

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #3 ]

Oleh Ade Anita

Dari Celah Hingga Jalan Raya

I. Celah

Sebuah lubang yang terjadi tanpa sengaja.

Sebuah lubang tempat kesempatan bisa didapat.

Sebuah kesempatan yang terjadi hanya satu kali.

“Ibu menikah dahulu dengan bapak usia berapa?”

Aku bertanya pada perempuan yang terlihat putus asa di hadapanku ini. Mungkin ini pertanyaan yang tidak penting. Bukankah tak berguna bertanya pada daun kering yang tergeletak di atas lumpur, siapa yang menjatuhkannya dari ranting pohon? Tapi sebuah kenangan cinta yang terekam baik selalu menerbitkan seulas senyum. Dan aku melihat setitik warna merah jambu di pipi yang tirus.

“17 tahun.”

Wah… Sweet seventen dong. Siapa naksir siapa nih?”

Sebuah senyum merekah di wajah tirus yang sumringah.

II. Pelangi

Tujuh warna fantastis yang menghiasi langit yang basah.

Merah yang membara oleh gairah.

Hijau yang khusyuk.

Jingga yang genit.

Kuning yang lembut.

Biru yang mengemban rindu.

Nila yang tegas.

Ungu yang tegar.

Semua air mata bidadari yang jatuh bersama hujan, tersapu oleh indahnya pelangi.

Lengkungannya selalu mampu membuang lara.

“Kami dahulu menikah sirri. Bawah tangan. Sudah kadung cinta mati sama bapak. Jadi nggak peduli lagi meski orang tua nggak setuju. Jadi meski hidup susah tetap saja rasanya tentrem. Tapi sama orang tua akhirnya direstui sih, jadi nikah ulang biar dapat buku nikah.”

Lalu mata yang cekung itu mulai melirik ke arah dinding yang penuh dengan bercak-bercak jamur. Hitam. Licin. Bau. Dan disanalah terdapat sebuah bingkai sederhana yang berisi sebuah potret. Seorang pemuda tampak tersenyum bahagia mendekap seorang gadis remaja yang tertawa lebar. Rona bahagia menebar. Menghalau bau tengik jamur yang menempel di dinding yang tampak lusuh. Bagai pelangi yang menghalau gerimis yang miris.

III. Atap

Sinar mentari yang perkasa tak dapat menembus atap.

Padanya kita memperoleh kenyamanan untuk berteduh dari terik.

Tapi sebuah lubang kecil tak dapat menghalau tembusan cahaya.

Pada sebuah titik terang yang tertahta di lantai semen, mataku tertuju.

Lalu menelusuri sulur cahaya yang terbentang antara noktah cahaya dan lubang di atap.

“Setelah menikah, langsung menetap di sini atau masih tinggal dengan orang tua?”

“Masih tinggal dengan orang tua saya dulu. Suami belum bekerja. Dulu orang tua suami hidup dari kontrakan. Terus bapak mertua kasi modal untuk jualan cendol, dibeliin gerobak, stoples. Ya sudah suami kerja, baru saya ngontrak di petakan. Pas orang tua suami meninggal, saya tempati rumah ini. Ini semua petak-petak punya sendiri, nggak ada yang ngontrak. Dulunya kontrakan, tapi dibagi-bagi warisan jadi dah ditempati ama anak-anaknya.”

“Berarti semua ini satu deret masih pada saudara suami semua dong?”

“Ya gitu deh. Tapi percuma sodara juga, pada nggak mau nulung.”

Angin datang berhembus. Angin musim kemarau yang membawa hawa panas. Terdengar suara berderit dari arah samping rumah. Entah berapa lama kayu-kayu galar itu bisa menopang doyongan rumah yang makin miring ini. Rumah reyot ini bisa rubuh kapan saja.

“Saya bingung mbak. Anak saya mau sekolah, yang kecil mau masuk SD, yang besar mau naik kelas dua SMP. Mereka belum beli seragam. Yang SMP bahkan belum bayaran tiga bulan padahal minggu depan sudah harus lunas biar bisa ikut evaluasi. Habis, suami saya sakit sejak tiga bulan yang lalu. Jadi nggak ada yang keliling jualan. Hutang kami dimana-mana. Semua barang sudah kami jual untuk biaya berobat bapak kemarin. Saya takut lihat para tukang pukul itu datang.”

Aku tercenung. Menatap sekeliling isi rumah yang lengang. Semua barang di rumah ini adalah barang yang dipungut dari pinggir jalan. Atau barang yang tertinggal bertahan karena memang tak ada yang sudi membelinya. Meja makan yang kakinya patah satu hingga harus diganjal dengan batu. Atau kasur springbed yang bagian tengahnya sudah melesak ke dalam. Yang tampak hangat mencerahkan hanyalah foto sederhana tentang seorang pemuda yang sedang merangkul seorang gadis muda yang tertawa penuh bahagia.

Aku termenung. Lalu kembali menatap noktah cahaya yang tertahta di atas lantai.

Menelusuri jembatan cahaya yang mengantarkan mataku pada sebuah lubang di atas atap.

III. Cendol.

Minuman dingin yang terdiri dari adonan tepung beras yang disaring dengan saringan khusus hingga membentuk pilinan mungil. Disajikan dengan pemanis gula merah dan parutan es.

Aku suka cendol. Murah meriah menyegarkan.

“Cendolnya dulu bapak bikin sendiri?”

“Iya.”

“Ibu sendiri bisa bikin cendol?”

“Bisa.”

“Berarti, setelah bapak meninggal ini, ibu masih bisa nerusin usaha bapak dong, untuk jualan cendol?”

Perempuan di depanku menggeleng. Penuh putus asa dia menatap kedua anaknya yang setelah makan nasi bungkus, kini tampak tertidur kelelahan di atas lantai.

“Saya bisa bikin cendol, tapi saya belum pernah berjualan cendol. Kaki saya reumatik, apa bisa keliling kampung menjajakan cendol?”

“Iya sih, berat memang. Biasanya, kalau reumatiknya kambuh diobati apa bu?”

“Minum sari daun bayam liar.”

“Bayam liar? Maksudnya? Beda ya dengan bayam biasa di pasar?”

“Beda. Itu loh mbak, di trotoar, di pinggir selokan, di bawah tiang listrik, biasanya suka tumbuh tanaman yang daunnya mirip bayam. Nah, itu dipetik, ambil daun pucuknya saja dan batang mudanya, cuci bersih, rebus terus diperas airnya. Airnya itu bisa untuk menghilangkan sakit reumatik.”

“Oh ya?”

Kadang, kita sering tidak menyadari bahwa nikmat dan kemudahan yang diberikan Allah sungguh amat sangat tidak terbatas jumlahnya. Tak mampu rasanya untuk dihitung satu persatu. Bahkan untuk si miskin yang tidak mampu membeli apa-apapun disediakan juga obat-obatan gratis di sepanjang jalanan yang terbentang.

“Wah, setiap hari saya selalu jalan kaki mengantar anak saya sekolah. Nanti deh saya bantu juga mengumpulkan daunnya itu agar ibu bisa segera bekerja. Jalanan yang saya tempuh cukup panjang. Setiap hari, saya bisa ganti variasi rute jalanan agar setok daunnya tidak pernah kekurangan. Ibu harus bangkit, bekerja. Berat pasti, tapi sekarang sudah tidak ada pilihan lagi. Karena segala sesuatunya memerlukan biaya. Anak sekolah, makan, bayar listrik, bayar hutang, semua memerlukan uang.”

“Tapi saya takut tidak bisa. Aduh, saya tidak bisa. Bagaimana jika saya tidak bisa membayar semua itu?”

“Pelan-pelan. Semuanya dijalani secara bertahap saja. Sementara saya hanya bisa membantu mengumpulkan daun dulu mungkin. Yang penting, ibu yakin dulu ibu bisa dan Allah pasti akan memberi bantuan. Tuhan tidak pernah menelantarkan hambaNya begitu saja. Coba saja lihat, bayam-bayam liar Allah tumbuhkan dengan cepat dimana saja. Sama seperti Mengkudu yang bisa ada dimana saja.”

“Bagaimana jika saya tidak bisa?

“Tapi mereka berdua yakin ibu bisa. Ibu amat berarti bagi mereka berdua.” Aku menunjuk dua kepala mungil yang sedang tertidur pulas.

IV. Jalan Raya

Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan. Panjang tak terputus.

Sejauh kaki melangkah.

Berderap dengan gagah atau meniti dengan tertatih. Masih ingatkah kita semua kapan pertama kali kedua kaki kita menjamah jalanan?

Tidak. Tidak ada yang ingat bagaimana rasanya ketika pertama kali kaki kita menjamah jalanan. Tapi seorang ibu akan selalu ingat kapan anaknya pertama kali menjejakkan kaki. Karena segala sesuatu ada tahapannya. Dimulai dari hal yang paling mudah dahulu. Bukankah pertama kali kita tidak pernah langsung berjalan dengan dua kaki? Ada kedua tangan yang membantu menopang untuk merangkak.

Terjerembab beberapa kali.

Menangis sakit karena dahi yang terbentur.

Atau lutut yang lecet karena tergores jalanan.

Barulah setelah itu bisa berdiri sambil tersenyum bangga.

Semua ibu akan tertawa lebar ketika melihat anaknya akhirnya bisa berdiri sendiri. Makin bangga ketika anaknya bisa berjalan. Berlari kencang. Lalu tiba-tiba memanggil penuh nada khawatir ketika laju lari anaknya menjauh dari pandangan.

“Hei, jangan jauh-jauh perginya nak, nanti kamu tersesat atau hilang.”

Hmm…. Aku rindu almarhumah ibuku.

Rindu dengan tegurannya yang dulu sering kuabaikan karena aku merasa sudah lebih pandai.

[]

Catatan penulis :

  1. Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada anggota keluarga atau tetangga yang kekurangan tidak dapat melanjutkan sekolah karena mendadak menjadi yatim.
    1. Minta surat pengantar keterangan tidak mampu ke RT atau rw.
    2. Pergi ke sekolah untuk mengajukan keringanan dengan membawa: surat pengantar keterangan kematian orang tua, surat keterangan tidak mampu dari rt/rw, akte kelahiran.
    3. Jika surat-surat itu belum ada, beri keterangan secara verbal pada pihak sekolah tentang kondisi yang terjadi dan ajukan keringanan. Bukti administrasi menyusul.
    4. Ajukan diri anak untuk masuk dalam daftar mereka yang menjadi tanggungan sekolah. Semua sekolah negeri (sd, smp, sma, dan beberapa Perguruan Tinggi Negeri) akan membebaskan anak yatim dari keluarga miskin dari pungutan sekolah dan memasukkan mereka dalam daftar beasiswa dari hasil subsidi silang yang ada di komite sekolah. Tentu ada prosedur khusus yang akan dilalui seperti pengecekan langsung kondisi rumah, pekerjaan orang tua, jumlah penghasilan dan pengeluaran perbulannya, jumlah anggota keluarga. Semua semata agar pemberian bantuan tidak salah alamat atau disalah gunakan oleh mereka yang tidak berhak. Sedangkan untuk sekolah swasta, kebijaksanaan yang diterapkan umumnya bervariasi tergantung kondisi sekolah yang bersangkutan.
  1. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“.
  2. (al Quran:Al Baqarah: 155-157)

Teristimewa #3

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #2 ]

Oleh Ade Anita

APA yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Mungkin hanya bayang-bayang sepanjang badan. Atau guratan kuning di kaki langit. Tapi bisa juga sebongkah senyum di wajah yang tidak lagi nestapa.

Hati manusia memang tidak dapat disangka. Tak cukup hanya menilai seseorang dari seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Dan jangan pernah tertipu oleh seraut wajah manis nan menawan. Terlebih jika wajah itu dimiliki oleh seorang penipu.

Bertemu dengan penipu adalah hal yang paling menyesakkan. Rusak binasa bangunan rasa percaya. Kacau balau hubungan timbal balik yang telah terbina. Lalu siapa yang harus dipercaya jika rasa percaya sudah dikhianati? Dan siang itu, tujuh tahun yang lalu, aku tertipu oleh pandangan mataku sendiri.

“Jadi, usia bapak berapa?”

“32 tahun.”

“Ah, masih muda. Lalu, ibu sendiri, berapa usianya?”

“29 tahun.”

Perempuan dengan tubuh gemetar itu, ternyata memiliki usia yang jauh lebih muda dariku. Aku nyaris salah sangka, menyandangkan cap sebagai perempuan tua di pundaknya.

“Anak menyangka saya sudah tua ya?”

Aku terkejut, amat khawatir bila isi kepalaku terbaca. “Tidak.”

“Berapa usia anak sendiri?”

Aku menggeleng, enggan menjawab.

“Anak-anaknya sudah besar, pasti sudah lumayan berumur?”

“Sudah lapor rt setempat, bu…untuk memberitahu kematian bapak?”

“Apakah anak eh…mbak sudah mencapai kepala tiga seperti saya?”

“Ah, mungkin lebih baik saya minta tolong seseorang untuk memberitahu pengurus masjid terdekat perihal kematian bapak.”

“Ataukah jangan-jangan sudah mencapai kepala empat?”

Lalu tiba-tiba tangan kurus yang terlihat lemah itu mencengkeram lenganku.

“Berapa usiamu nak?”

“Nggak penting bu berapa usia saya.”

“Tapi ibu ingin tahu nak. Berapa usiamu?”

Cengkeraman itu kian kuat. Dagingku mulai terasa dibenami sesuatu yang menyakitkan. Aku gelisah, bagaimana ini?

“Bu, itu tidak penting. Bapak harus dikuburkan, itu fokus kita hari ini bukan?”

“Bapak sudah mati. Apa lagi pentingnya hal itu? Masa muda saya sudah terlewati olehnya. Kecantikan saya tersedot oleh kesengsaraan yang terlalui bersamanya. Jika dia mati, apa lagi yang bisa saya lakukan? Hidup saya sudah tidak berarti lagi. Masa depan saya sudah terenggut oleh kematian suami saya. Saya tidak punya harapan. Jadi, saya ingin tahu usia mbak sebelum hidup saya berakhir?”

Aku tergugu. Gelisah menggantang galau.

Gamang.

Kehidupan sering terkotak-kotak dalam berbagai perbedaan yang menggelisahkan. Muda dan tua. Cantik dan jelek. Pintar dan bodoh. Kaya dan miskin. Sholeh dan kafir. Terpuji dan terhina. Gendut dan kurus.

“Berapa usiamu?”

Senang dan sedih. Terpilih dan tersingkir. Kalah dan menang. Kecil dan besar. Muda dan dewasa. Laki-laki dan perempuan. Tinggi dan pendek. Modern dan kuno. Baik dan buruk.

“Saya, …ngg…33 tahun.”

Lalu aura di wajah itu pun berubah layu. Perempuan gemetar di depanku mulai menjambak rambutnya sendiri. Tak lama kemudian dia menunduk lalu menangis tersedu. Meraung.

“Tuhan amat sangat tidak adil pada saya. Semua keburukan ditimpakannya pada saya. Lalu lihat apa yang dia berikan pada mbak. Saya hanya menerima sisa. Saya benar-benar sampah, saya benar-benar sampah.”

Aku kian galau. Merasa bersalah dengan kejujuran yang baru saja aku ucapkan.

“Sstt… Jangan bergerak bu. Ada nyamuk di wajah ibu.”

Tangan gemetar itu mengusir dengan sekali kibas. “Bahkan nyamuk pun menginginkan kematian saya lebih cepat.”

PLOK!

Nyamuk mati terpukul. Darahnya muncrat di pipi. Aku tersenyum.

“Bukan bu, nyamuk itu utusan Tuhan yang teristimewa untuk ibu.”

“Kenapa?”

“Berarti ibu amat berarti, hingga darahnya dicari-cari. Sudah, jangan terus-menerus menyalahkan Tuhan. Jika tidak ada nyamuk, mungkin tidak akan berguna semua pemikiran manusia untuk mengusir nyamuk, dan pil kina tidak ada artinya sama sekali.”

Perempuan gemetar itu menatapku lamat-lamat. Tatapannya  terasa mencoba untuk menembus ke dalam kepalaku. Perlahan, aku mendaratkan tanganku di atas telapak tangannya dan mencoba untuk menepuknya secara perlahan. Berharap rasa hangat yang kumiliki bisa sedikit memberinya ketenangan.

Jadi…apa yang disisakan oleh sinar Mentari di sore hari? Rasa sedih karena kehilangan hari yang ceria. Berlalunya waktu dalam kesia-siaan sepanjang hari. Rasa pilu menyambut gelap malam dalam gaun hitam yang muram.

Tidak. Itu bukan gambaran senja yang aku suka.

Baik, sekarang, tanya aku sekali lagi. Apa yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Keindahan senja yang jingga. Semburat lembayung yang syahdu. Serta keteduhan angin yang berbisik lembut di telinga.

Aku menyukai senja. Apakah kau juga menyukainya?

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada tetangga terdekat atau anggota keluarga kita meninggal dunia.

  1. Lapor Rukun Tetangga setempat. Petugas RT akan memberikan pada kita surat pengantar keterangan kematian resmi hingga tingkat kecamatan. Adapun biaya yang mungkin dikeluarkan di kelurahan dan kecamatan berkisar antara Rp100.000 s.d. Rp500.000 (tiap-tiap lokasi berbeda-beda kisarannya, dan biasanya tidak diberikan kuitansi).
  2. Lapor pengurus masjid terdekat untuk yang beragama Islam. Tiap-tiap masjid setempat, memiliki dana khusus untuk yang tertimpa kematian. Dana ini dipakai untuk membantu; honorarium sekedarnya bagi petugas memandikan jenazah, memberikan kain kaffan gratis bagi keluarga miskin (tentu saja harus ada surat keterangan kematian resmi dari RT setempat dan surat keterangan tidak mampu, juga dari RT setempat), dan menyediakan peminjaman gratis tenda sederhana sebesar 2 x 3 meter bagi pelayat di rumah duka dan meminjamkan kursi sebanyak 10 buah kursi lipat bagi pelayat. Juga penyediaan satu kotak minuman gelas kemasan, dan membantu memberitahu perihal kematian lewat pengeras suara. Termasuk disini peminjaman keranda mayat gratis.

Mengapa dua hal ini harus dilakukan (terutama jika yang tertimpa musibah adalah keluarga miskin)? Karena siar pemberitahuan lewat pengeras suara tersebut bisa menghimpn dana tambahan dari masyarakat guna keringankan beban yang harus ditanggung oleh yang tertimpa musibah.

Untuk menguburkan mayat, di DKI Jakarta, ada sewa kuburan untuk tiga tahun yang dibayar di muka dengan kisaran sebesar Rp150.000 s.d. Rp300.000 (untuk tanah pemakaman umum di DKI Jakarta, memang diberlakukan sewa lahan kavling, tidak ada hak pemilikan kavling, dimana sewa tersebut berlaku untuk tiga tahun. Setiap tiga tahun sekali, harus dilakukan pembayaran sewa lahan jika tidak maka kavling dianggap terlantar dan berhak untuk dialihkan kepada pihak lain tanpa pemberitahuan sebelumnya).

Biaya membuka kavling kuburan berkisar antara Rp300.000 s.d .Rp2.000.000 (tergantung apakah itu kavling pavorit atau tidak dan tergantung apakah itu termasuk tanah kuburan pavorit atau tidak. Yang dimaksud dengan kavling pavorit yaitu letaknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, letaknya yang eksklusif seperti di hook atau tempat yang mudah diingat lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan tanah kuburan pavorit, yaitu tanah kuburan yang menjadi incaran banyak orang karena letaknya yang terkenal dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Misalnya, areal pemakaman Karet Bivak, Menteng Pulo, dan sebagainya.

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #4 ]


%d blogger menyukai ini: