Tag Archives: lelaki

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


[Puisi] Tuhan

Oleh Andika

 

Ia berjalan menyusuri jalanan panjang
Aku dibawa bersama dengannya
Digendong tepatnya
Sambil dielus-elus
Jalannya cepat, gelisah
Setiap bertemu orang, ia berhenti
Lalu bertanya, “Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku uangku,” jawab si lelaki necis. “Ia berikan aku kenikmatan dan kebahagiaan.”
“Tuhanmu siapa?” tanyanya lagi. Sekarang pada gadis pesakitan.
“Tuhanku obatku. Ia yang membuatku tidak lagi sakit kepala.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku atasanku. Ia yang menggajihku.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku pengetahuan. Ia memberikan alasan-alasan rasional.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku aku. Aku yang menentukan jalan hidupku, tidak bergantung pada siapapun.”
Terus ia tanyakan itu sampai tak ada satu pun yang ia temui.
Langkahnya pun terhenti. Tangannya juga tidak lagi mengelus-ngelus tubuhku.
“Lalu Tuhanku? Ke mana harus aku cari Tuhanku?” ia bertanya lemah.
“Ah!” ia memekik. “Aku baca saja Al-Quran. Kalau baca itu, katanya aku bisa merasakan Tuhan, bisa menemukan Tuhan. Aku baca itu saja. Mungkin aku bisa merasakan Tuhan, menemukan Tuhan. Ya push?”
“Miauuuu…”

Bandung, Kamis, 13:46 wib


Tentang Hebat Menurut Versi saya (1): Lelaki Hebat

Oleh Ade Anita

 

 

SAYA suka nulis. Jadi kalau ada sesuatu yang bersemayam dalam kepala saya lebih dari satu kali dua puluh empat jam, sudah pasti sesuatu itu akan saya tuang dalam sebuah tulisan. Ah, jangankan sehari semalam seperti itu, kadang sesuatu yang berkelebat di benak sayapun sering saya tulis. Mungkin ini yang disebut inspirasi ya. Nah, karena seringnya ingin menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan, maka lembar untuk menulis dan alat tulis adalah sebuah keharusan yang harus tersedia di dekat-dekat saya. Saya pernah menulis di atas tissue dengan lipstik sebagai alat tulisnya saking kebelet pingin nulis banget karena melihat sesuatu.

Suatu hari, kejadiannya di rumah. Tiba-tiba pingin nulis banget dan komputer lagi dipakai oleh anak saya. Langsung saja saya ambil selembar kertas dan mulai menulis. Lalu atmosfir keasyikan mulai merasuki dan selembar kertas hvs itu ternyata tidak cukup menampung gagasan yang membeludak dari kepala saya. Jadi, saya ambil lagi lembar berikutnya hingga tidak terasa telah memakai tiga lembar. Setelah terpuaskan, lalu saya pamerkan pada seseorang tulisan tersebut. Belum jadi sih tulisannya, tapi setidaknya draft jalan cerita ide tulisan sudah terlihat rapi.

“Bagus nggak?”
“Hmm, sebentar. Ini pake kertas yang mana?” Kening saya langsung berkerut. Kok, nanya kertasnya sih?
“Yang itu.” Ragu saya menunjuk tumpukan kertas di atas meja tulis.

“Bagus nggak tulisanku?” kembali saya bertanya sambil senyum malu-malu mengharapkan pujian, muncul di wajah saya.
“Kenapa pake kertas itu de?” Loh? Hallooo….lagi ada yang minta dikomentari nih. Sumpah.
“Emang kenapa?” Meski sudah mulai kesal, tetap saja saya bertanya, nggak mungkin jujur bilang minta dipuji kan?
“Jangan pake kertas itu. Itu bukan milik kita.” hah!!! Kesal. Apa pentingnya sih kertas, kenapa sih nggak lihat isi tulisannya ketimbang kertasnya?

“Cuma tiga lembar kok.”

“TETEP. Jangan meremehkan hal sepele yang bikin kamu menyesal nanti. Biar cuma secuil, jika bukan milik kita kalau bisa jangan diambil De. Korupsi itu terjadi karena merasa nyaman ngambil yang kecil lalu mulai memperbesar porsi yang diambil sedikit demi sedikit. Kita harus mengembalikan kertas itu segera.” Kali ini saya benar-benar sudah kesal. Huh. Ini kan masalah sepele. Beli saja di warung, habis perkara. Kalau perlu beli satu rim sekalian. Itu draft tulisan saya gimana nasibnya? Baguskah? Jelekkah? Akhirnya alih-alih minta tanggapan saya memilih untuk ngambek. Sebel banget. Kesal. Lalu kemana-mana sepanjang sore itu saya menggotong bibir manyun di atas pangkuan.

Malamnya, dengan penuh kelembutan barulah saya dijelaskan pelan-pelan tentang inti teguran sore tadi. Dalam suasana tenang, kemarahan yang sudah reda, saya bisa mencerna nasehat dengan penuh kesadaran. Ya. Sering kita meremehkan hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Padahal, dari hal-hal kecil inilah sebuah masalah besar akhirnya membelit erat dan kadang meremukkan seluruh tulang dan memecahkan urat nadi. Bertoleransi pada sebuah kekhilafan kecil akan memupuk rasa tidak melakukan kesalahan lalu tanpa terasa membangun menara kesombongan bahwa diri telah menjadi super. Lupa bahwa kaki sedang menginjak orang susah. Tak merasa bahwa ada pihak yang terpaksa harus berkorban demi kejayaan yang kita raih. Apa pentingnya sebuah kemenangan jika diraih dengan cara yang tidak jujur dan tidak adil? Apakah masih terasa nikmat kejayaan yang disertai sumpah serapah pihak yang teraniaya?

“By the way, tulisan kamu bagus.” Akhirnya komentar yang ditunggu keluar juga. Tapi hati ini sudah terlanjur malu. Malu pada kelakuan saya yang terlalu manja dan hampir menjerumuskan orang lain, keluarga saya, ke dalam arus perilaku koruptor. Malu pada dua malaikat pencatat kelakuan baik dan buruk yang mengintip dari belakang pundak.

“Maafin ade ya.” Ternyata, tidak selalu sebuah pujian membuat hati merekah dengan bunga-bunga.
“Udah.” Sudah? oh, seharusnya saya sudah menduganya.

Mmmmm…..ngg…. Saya jadi bingung mau ngapain lagi. Salah tingkah mulai merasuk.

“Kenapa lagi?” Akhirnya saya ditanya. Laki-laki ini memang selalu tahu jika ada sesuatu yang menggayut dalam kepala saya.
“Boleh minta sesuatu?” Akhirnya malu-malu saya bertanya padanya.
“Apa?”
“Besok-besok, biarpun aku merengek minta sesuatu yang bikin kamu harus usaha keras memenuhinya, jangan sampai hal itu bikin kamu bertoleransi untuk terjerumus jadi koruptor ya. Persis seperti kamu ngingetin aku dengan tiga lembar kertas tadi sore. Aku perempuan manja yang banyak maunya. Jadi, tetaplah jadi lelaki berpendirian.” Lalu lelaki di depan saya mengangguk setelah mengucapkan kata insya Allah. Dialah lelaki hebatku. Dialah, suamiku.

[]

Maaf, gambar ayam yang sering saya jadikan ilustrasi tulisan notes saya, bukan karena saya suka ayam.. hanya saja, pelajaran menggambar saya baru sampai binatang ayam. Masih belum sempurna, tapi setidaknya karya sendiri.


Lelaki Rindu Menunggu Di Pohon Randu Dengan Tersedu

Oleh Syaiful Alim

Lelaki itu menunggu di pohon randu dengan tersedu rindu terasa seperti lindu mengguncang seisi bumi semua manusia berlarian kencang menahan ketakutan yang mencincang kebun kacang sebidang ladang gersang diserang kemarau dan hama meranjau tanpa ada pegawai dinas pertanian meninjau lebih senang memegang uang panas sementara rakyat sekarat dikerat harga sembako toko-toko cuma cari untung segunung menenung siapa yang buntung bunting luka membanting tulang tualang ke negeri seberang mengais gerimis tangis dan selembar dinar dolar Amerika yang jadi singa dunia menerkam sekejam-kejamnya darah bersimbah di mana-mana busuk menusuk khusyuk sembahyang yang sering terguling oleh paha menyala di kamar dan mawar di luar pagar lebih segar membuat bugar yang gegar cagar rindu runtuh oleh cinta tak utuh sentuh lahir bukan batin yang cinta getir dan anyir rupa-rupa derit derita yang menggurita menjerit tanpa kata kita merakit bambu menghanyutkan kepedihan dan kesedihan di sungai laut tempat tepat membagi penat berlipat melompat secepat-cepatnya dari duri mawar dalam diri iri sinar matahari hari-hari menari riang bersama gelombang yang menghidangkan bimbang dan kembang tembang timbang kubang air mata merindumu seperti serdadu sewindu tak ketemu anak istri menanti meniti sepi demi sepi disesapi mimpi yang ranum bagai pipi sekuntum perawan desa mencuci pakaian di pinggir kali telanjang dada ada beberapa lelaki mengintip dari celah-celah rerimbun daun menimbun hasrat birahi kelahi iman dan aman berteman setaman gambar cabul majalah menyembul di lorong-lorong kota tak tertata wali kota suka disuap pengusaha membangun pusat belanja dan lapangan golf yang tak terjangkau rakyat kecil mencicil kerikil menegakkan gubuk kecil terkucil dari riuh dari kota penuh peluh luluh menggenangi jalan berlubang-lubang penguasa dan pengusaha korupsi pasir batu aspal dijual jadi uang ditabung di lambung dan bank-bank kerap bangkrut kredit macet tergencet aset seret menyeret-nyeret lecet luka tanpa kain pembalut kian kalut disambut kabut sebut siapa tersangka merangkai rangka-rangka angka berserakan di meja yang sulit dieja walau lampu mampu menerangi ruang lapang pajang sekretaris-sekretaris laris manis menangis minta naik jabatan dengan menawarkan tubuh mawar wangi angin mengabarkan selingkuh keluarga runtuh mengaduh seduh sesal asal kebal muka murka amuk massa masa tiba iba bakar api sudah mendidih di kepala pedih perih berabad lama kebun sawah ladang diserang gersang kerontang menantang serantang gusar tangan kasar burung nasar mengincar bangkai-bangkai lunglai lalai mengbingkai remah retak tanpa kemah tak tik tuk cuaca gemerutuk mengutuk kemarau kemarahan panjang membentang dari barat sampai timur menjemur luka-luka menjamur rindu pulang padang ilalang bergoyang bayang-bayang wajah yang dipalang kata terlarang mengerang di punggung karang mengapung dikepung capung warna-warni bagai hasil lahan petani meski tak pernah rasakan gurih keringat yang ngucur dari sekujur tubuh mengukur kurang lebih perih tak berlabuh subuh rubuh aduh seduh air mata…

Khartaoum, Sudan, 2010.

[]


20 Sajak Untuk Fordisastra

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Buka Kain Tubuhku dengan Cinta

Buka kain tubuhku dengan cinta
jemari bergetar
mawar di luar kamar
cemburu, memburu cahaya.

Kain kian landai
lantai iri, mari ke sini
biar lancar kau gapai
wangi pandan petani.

Lepas
tubuhku selembut kapas
juga sekeras cadas.

Kupaslah, ah kau terpukau
jangan lekas, ah aku pulau
simpan madu kata yang kau rindu.

Awas, pisau mengintai
ia sembunyi di daging sunyi
ia hanya kenal satu nama:
darah kental atau cair serupa air gangga.

Dakilah utuhku, dengan tangga atau tanpa
dagingku kuning mangga
kunyahlah, renyah tak kau duga.
Hisaplah, puasi dahaga
puisiku bening telaga.

Ah, basah.

Hening, kecup keningku
dan aku ucap cinta kau.

[]

Sajak Kedua: Perawan

Aku perawan Kata.
Aku tetap perawan walau seribu Penyair menggilirku
lahir bayi-bayi makna di ranjangmu.

Aku perawan Kata.
Menjebak Penyair dengan lirik mata
dan cantik payudara
kau menebak letak pada retak udara.

Seorang penyair memendam berahi
mendekatiku, bertanya seraya menggenggam jemari:

“Aku boleh menorehkan darah di tubuhmu?”

Boleh, asal asah dulu Pisau itu di resah batu
dan jangan ada sesal jika tak kau temui darah kental
juga kesal pada tubuhku yang tak lagi sintal.

Karena aku tahu, kau pemuja rupa lahir
dari pada batinku yang mencintai lahar getir.

Karena aku tahu, kau pengeja alpa
daripada mensyukuri segala.

Aku perawan Kata.
Kau bisa memasuki melalui pintu dan jendela
tapi aku bukan Pelacur
bisa kau paksa kala sepi menghambur.

Ingat! Aku perawan Kata!
hangat memelukmu
sangat sengat menusukmu.

[]

Sajak Ketiga: Kerinduan Pisau

Kerinduanku padamu
bagai sebilah pisau
yang baru selesai diasah
haus segar darah.

Sudah berapa basah darah
yang melumuri tubuh pisau itu?
Setiap lidahnya menjulur tergiur
darahku mengucur.
Setiap hidungnya mendengus
urat nadiku memutus.

Jangan kau basuh. Aku masih harap ratap aduh.

Darah ngalir-wajahmu hadir.

Diam-diam aku mengagumi bisikan amis pisau itu, sebelum mengiris,
“Manis, jangan menangis, aku bukan iblis”

Diam-diam aku menikmati kejam tajam tikaman pisau itu di daging rinduku,
yang membikinku tak kunjung padam.

Diam-diam aku ketagihan raung eranganku sendiri, di ruang terang atau remang.
Pintaku, lagikan tikamanmu, wahai pisau.

Diam-diam aku menikmati ketidakberdayaanku,
menggelepar-gelepar di kekar rengkuh pisau itu.

Dan diam-diam aku mulai jatuh hati pada kukuh birahi pisau itu.
Terkadang jatuh hati bermula dari benci. Benci yang menanti tuju.

Aku begitu cemburu ketika mata pisau bermain lirik mata
dengan apel merah di sebuah meja makan, meja kita, kangen kata.

Hatiku terik. Kutarik pisau itu. Kucabik-cabikkan di hatiku.
Darah netes. Lapar belum beres. Kugores-gores wajahku.
Wajahku wajahmu sejenak ketemu: lalu pisah di persimpangan waktu.

Lupakanku, kulupakanmu, bujukmu.

Kelak, jika berjumpa lagi di gubuk sajak, akan kutujahkan pisau ini di detak jantungmu.

[]

Sajak Keempat: Seorang Anak Mencuri Ibunya : Mitologi Sangkuriang dan Dayang Sumbi

Dosa terlalu indah untuk tidak dijamah.
Cinta begitu gula untuk tidak digila.

: Aku pecinta buta!

Hatiku bagai daun rapuh
luruh diteluh angin teduh.

Cintaku mendarah, ditujah lidah kekasih, “kau putraku!”
Rinduku mengapi, dikelabui sepi birahi, “aku ibumu!”

Langit terasa sempit.
bumi bergerak, menghimpit.
Seregu burung pipit bercericit,
tapi hatiku murung, dibelit dendam menjangkit.

: Aku mencurimu, ibu.

Gua yang hampa, bercahaya mata sangkuriang; terang yang pedang.
Dayang sumbi yang kilau bagai bintang, meradang.

“Kenapa kau mencuriku, wahai sangkuriang?”

Pertama: kau perempuan pemalas. Kau tak mau mengambil gulungan benang jatuh
dekat kakimu yang utuh.

Kedua: kau perempuan jahat. Kau tersenyum manis melihat para raja bergulat dan bergelut memperebutkanmu dengan tetesan tangis dan senjata bengis.

Ketiga: kau perempuan tamak. Kau bertapa dan minum obat awet molek.
Apakah kecantikanmu belum cukup membuat lelaki merengek?

Keempat: kau perempuan licik. Kenapa kau tidak bilang bahwa si tumang suamimu, bapakku?

Kelima: kau perempuan jahat. Kau menetak kepalaku hingga retak.

Keenam: kau perempuan tanpa hati. Telah kupahat kayu jadi perahu
dan telah kubendung sungai jadi telaga, namun kau menganggapnya tiada.

“Ah, apa peduliku dengan sebab lembab itu: aku tetap mencintaimu!”

“Cinta kita terlarang, sayang!”

Akan kugapai kau sampai dewa pun tumbang!

[]

Sajak Kelima: Malam Pertama

“Eva, surga apa yang harus kutuang di liang telanjangmu
supaya ikan-ikan di sungai berahiku berenang, senang melumat lumut di mulutmu?”

“Adam, aku juga tak tahu apa yang harus kuperbuat
tuhan dan malaikat juga tak menurunkan maklumat”

“Ha ha kenapa kita jadi lucu
sedangkan ular sanca di pohon khuldi itu begitu cemburu”

“Sudahlah, sayang, memulai sesuatu memang sulit
lihatlah, dingin menggigit tulang, di angin itu bukit terbelit”

Lalu luka
lalu suka
tak sempat diberi nama
entah sempit ruang jerit itu atau raung jerat dari mana
semua semu berlalu begitu saja
begitu saja!

“Eva, kenapa kata-kata yang kusimpan di bibir bubar ketika akan kuucap cinta?”

“Adam, mungkin tak semua butuh kata, cukup kecup di kuncup mata”

“Ah, alangkah hidup, alangkah sirup, alangkah sayap purnama”

[]

Sajak Keenam: Bulan Madu di Madu Bulan

“Eva, surga sudah tak layak lagi jadi ranjang malam-malam pengantin.
cinta ini makin membesar, membentuk balon raksasa.”

“Adam, lalu ke mana dan di mana kita menghabiskan manis bulan madu
mungkin ada surga lain yang lebih licin dan lilin?”

“Bagaimana jika kita menuju madu bulan
muda ruang, riang raung, gaung lebah agung?”

“Sayang, lalu bagaimana dengan surga, pohon khuldi, ular, iblis,
malaikat, dan tuhan? apakah kita biarkan mereka menangis?”

“Sayang, mari kita terbang dari sini,
kita sebentar lagi juga dibuang ke bumi”

[]

Sajak Ketujuh: Rindu dan Kulkas

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
supaya tetap awet dan bernafas.

Sehabis mengiris alis manismu
aku didera derita insomnia
dililit derit jerit memanggil-manggil namamu
dalam gigil yang menggila.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
agar tetap segar dan membekas.

Selepas mengupas kulit hijaumu
aku dihempas ampas-ampas senyummu
yang menancap di pipi dan tubuhku
dan kini tumbuh luka baru yang biru.

Rindu ini, cintaku, kusimpan dalam kulkas
supaya kau tak lepas dari diriku yang ganas.

Seusai meneguk danau mungil di liang telanjangmu
aku dicumbu kerikil-kerikil perjalanan menuju rumahmu.
Jejakmu tak terlacak, bercak darahmu membeku
aku retak ditetak sajak-sajak baku.

Cintaku, kulkas itu tak kuat menampung gelombang rinduku.
Entah bagaimana caranya aku bisa menumbangkanmu
supaya darahmu menggenang di jantungku.

[]

Sajak Kedelapan: Perempuan Bermata Puisi

: Fidyatul Mila Siregar

Terang rembulan dan matahari bersarang di matamu
satu tatap meratap seribu pengap
seribu ratap merangkap sejuta harap
sejuta harap menangkap ngilu derap.

Mungkinkah matamu dicipta jemari pujangga
ketika cahaya melayari tirai jendela.

Di matamu tali temali kata merupa jaring laba-laba
menjerat siapa yang memuja.

“Aku mau meminjam matamu” pintaku

Kau diam, kau batu.

“Supaya aku mampu mengurai misterimu
puisi-puisi berloncatan bagai ikan dari bola matamu”

Kau menunduk, aku takluk.

“Agar sinar kata-kataku tetap binar
meski jemariku kelak pendar”

Kau mengerling, hatiku terguling.

“Hidup itu cuma sehirup sirup
puisi mengisi ruang redup”

Aduhai kau mengucap, suaramu desau angin
yang mengabarkan hujan.

Akulah kemarau, merindu hujanmu
berwindu-windu kucari setetes basah
sampai menetas darah, menggetas pasrah.

Perempuan bermata puisi
mari kugamit tanganmu
berjalan-jalan di pinggir pantai
panti asuhan ikan-ikan berenang
mengukir namamu di karang.

Perkenankan aku mengalirkan butir rindu di matamu.

[]

Sajak Kesembilan: Cinta Bercabang

Kau datang membawa sampan
lalu kita mengarungi lautan
dengan tangan sebagai dayung.
Kau kenalkan aku pada ikan duyung
juga kerang mengerang
oleh gores bebatu karang.
Kita berpeluk ketika ombak mengamuk
“Cinta tak kan remuk walau sampan lapuk.
Cinta tak kan rebah meski badai menjarah.”
Kau berkata seraya menatap mataku
dan aku makin lahap mendekapmu.

“Simpanlah sampanku di hatimu”

Kau datang menawari hujan
ketika sawah ladangku diterjang desah gersang
tanah hatiku retak oleh koyak kuku matahari jalang.
Hujanmulah yang membasahi tanah, tumbuhkan kembang
sehingga aku kuasa kembali melihat kembang dirayu kumbang.
“Cinta itu menghidupkan” kau berkata sambil merangkul leherku
dan aku mengambil senyum mungil dari pipimu.

“Hujanku selalu ada di dekatmu, kemarau tak mampu menjeratmu”

Kau datang menghidangkan terang rembulan
ketika mataku dihadang gelap gulita.
Rembulanmulah yang menemaniku menata kata jadi puisi dan cerita
“Cinta itu cahaya” kau berkata seraya membelai rambutku dengan lembut
dan aku membalut tubuhmu dengan hangat yang tersulut.

“Percayalah, rembulanku selalu menggantung di malammu”

Kalian hadir membawa butir-butir waktu
bagi hidupku yang sering tergelincir licin lereng tebing kehidupan.
Aku katakan sekali lagi, bahwa aku cuma debu
yang terombang-ombing angin.

Mauku pada satu
muara jiwaku cuma bisa menerima satu resah
datang dan singgahlah di gubuk sajakku
lalu beranjak meninggalkan seribu tujah.

Maafkanlah aku,
biarkan aku terkapar ditampar ragu.
Aku tak tahu kepada siapa menuju
pintu rumahku telah kuborgol
dan kuberlari gapai sebotol sepi
di puncak rindu yang api.

[]

Sajak Kesepuluh: Sajak – Sajak Kecil

1

Selingkuh

Bulan mencumbu batu

2

Tahun Baru

Tuhan mati
di tepi waktu

3

Perjalanan

Langkah seribu menuju dermaga
resah ibu merekah abu jelaga

4

Rindu

Mencari bayangmu di terang cermin
aku remang dicuri cahaya lilin

5

Ibu

Iba tiba
dibasuh air susu

6

Nasehat Ayah Kepada Anak Lelakinya

Jadilah ibu di kemarau danau
jadilah ayah di hijau sawah

7

Kenangan

Seonggok jejak di pojok kamar
tengok sajak di pokok mawar

8

Kepada Matamu

Pinjamkan aku kacamatamu
supaya aku tak berkaca-kaca bertemu mata kacamu.

9

Sajak Patah Hati

Akan aku rekatkan dengan pekat sunyi
lalu kupanggil burung-burung kecil terbang bersama
seusai kembali aku telah bersayap dua.

10

Ketika Kita, Ketika Kata

Ketika kita jatuh cinta
kata tiba menawari mawar
duri sembunyi mengintai jemari.

Ketika kata jatuh cinta
kita tiba mengakar lapar
diri memaki puisi tak kunjung jerami.

11

Kerudung Seksi

“Kerudungmu tampak seksi. Coba aku lihat lagi” kataku.
“Hai laki-laki, jangan macam-macam!” bentak perempuan berkurudung itu.
“Aku Cuma minta satu macam. Memandang kerudungmu sekali lagi” godaku.
Wajahnya tiba-tiba mendung. Kerudungnya mengepakkan sayap.
Mengajakku bermain kejar-kejaran di atas awan. Lenyap.

12

Elegi Natal

Bom itu meledak di gerejamu
aku punguti puing-puing air mata dari kering matamu.

Kelak, kutegakkan gereja di masjid sajakku.

[]

Sajak Kesebelas: Zaitun

: Palestina

Ketika kuncup-kuncup embun belum memekar
penduduk Zaitun itu tertunduk gegar.
Sisa-sisa kantuk tertumbuk pucuk-pucuk peluru.
Subuh lapuk, sembahyang berpeluk mesiu.

Embun pun pecah
ranting-ranting zaitun patah
Baitul Maqdis menangis
kering sudah senyum manggis bocah-bocah manis.

Di mana lagi tadarus dedaun
“Demi buah Tin, demi buah Zaitun
demi gunung Sinai
demi negeri damai ini”

Siapakah yang menyuruh butir-butir peluru itu
membunuh kuncup-kuncup zaitunku
siapakah yang mengayuh kupu-kupu bersayap besi itu
luruhkan darah dan meleleh nanah di dadaku.

Di mana kujumpa lagi negeri Zaitun berbuah embun
beningnya mengheningkan doa.
Di mana kujumpa lagi negeri Zaitun berkerudung bulan
terangnya mengeringkan duka.

Aku di sini memunguti jerit kata-kata
merakitnya jadi puisi
seraya sakit melantunkan doa-doa
jauh dari mati.

[]

Sajak Keduabelas: Perempuan Perdamaian

Jilbab hitam membalut rambut
serta dada gadis palestin itu begitu berlumut
lembab oleh darah dan dendam tersulut
namun keelokan wajahnya tak nampak surut.

Ia mencungkili kerikil di sisa rumah runtuh
untuk mencicil membangun gubuk kedamaian penuh
di kecamuk perang, perang yang selalu tumbuh.

Ia mendengar gemuruh pilu
jilbab disingsingkan, berlari menuju bising peluru
menemui anak-anak di kemah-kemah pengungsi
mengajak mereka membaca sajak dan bernyanyi.

Larik-larik sajak yang tergeletak di pecahan peluru.
Lirik-lirik lagu yang dicetak dari derap sepatu serdadu.

Dalam hujaman tembak mereka bersajak.
Dalam kejam amunisi mereka bernyanyi.

Aduhai, siapalah yang terkoyak dengan lembut sajak.
Aduhai, siapalah yang terkulai dengan merdu lagu.

Dengarlah. Dengarlah. Sajak itu makin mengombak.
Dengarlah. Dengarlah. Nyanyi itu makin nyeri.

“Kami sabar menanti kuncup perdamaian mekar
Seperti kami sabar menggauli lapar.”

“Kami kumpulkan kuntum-kuntum zaitun selagi bisa
Kami pikul harum harapan yang masih sisa.”

“Kami menangis tanpa air mata
Kami mengemis mata air di langit tak bernama.”

“Kami merdeka dari segala penjajah
Kami hidup dan mati di bumi sejarah.”

“Kembalikan Ayah-Ibu kami
Kembalikan darah-rindu kami”

Lihat. Lihatlah. Langit koyak oleh nyaring nyayi itu.
Lihat. Lihatlah. Bumi retak oleh runcing sajak itu.

Tapi tetap saja pedang berdenting
perang berdesing
beribu kuncup zaitun jatuh pecah berkeping
berjuta tubuh terbaring kering.

Beri kami roti gandum
sudah lama kami mati oleh leleh dentum.
Beri kami zaitun sekuntum
sudah lama kami tak mencium harum.

Tapi siapa yang memberi, jika tangan-tangan putus berserakan di lantai rumah ibadah
jika kapal-kapal sembako terjungkal di lautan darah
jika toko-toko hancur roboh berterbangan tak tentu arah.

Siapa? Siapa? Siapa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Sesungguhnya apa yang kita ributkan?
Apa yang kita perebutkan?

Apa? Apa? Apa?

Jawab! Jawab! Jawab!

Perempuan perdamaian terus bersajak dan bernyanyi
sepi makin rinai
api amunisi makin ramai.

[]

Sajak Ketigabelas: Burung

Aku burung
murung terkurung sangkarmu
kicauku kau anggap pengacau tidurmu.

Sangkarmu gelap pengap
cahayaku kau bekap kain lap
tak ada dedahan atau reranting untuk hinggap.

Aku burung
namun kau duga aku barang yang membuat berang
ada embun di terang pagiku, jauhkan pedang dan kata perang.

Aku mau membawamu terbang ke langit biru
namun kau patahkan sayapku
ketika hidupmu senyap, kau labuhkan pisau di tubuhku.

Aku mati
lalu kau mencariku di celana dalammu.

[]

Sajak Keempatbelas: Imigrasi Ikan-Ikan

Sungai tinggal gumpal-gumpal lumpur
denyut laut tanggal oleh gempal dada kemarau yang lacur
tiang-tiang kapal bau basin
air hilang asin.

Entah siapa mengirim kain kafan
mungkin angin taufan
batu nisan dikulum bagai es krim di jembatan
mungkin tangisan mengharu manisan.

“Dulu aku sering mendengar bangkai radio dan televisi
menyiarkan kecipak ikan-ikan yang menggetarkan seisi
bumi, tapi kini, ah tak terdengar kecipak ikan lagi, cuma kepak elang basi”

“Aku tahu, sudah lama ikan-ikan jadi imigran
migrain imigrasi ke kolam-kolam orang kota,
akuarium, botol-botol minuman,
juga kalam-kalam penyair penyulam kata.”

“Sungguh?”

“Aduh!”

[]

Sajak Kelimabelas: Sajak Nasib Babu

Babu itu membolak-balik tubuhnya
di dipan tanpa kasur.
Ia tak kuasa tidur
padahal seharian dihajar kerjaan dapur.

Tuannya masuk tanpa ketuk
sempoyongan mabuk alkohol dan berahi.
Menyingkap selimut pembalut tubuh berisi
memeluk dan mematuki tengkuk.

Sekujur tubuh babu gemetar. Juga gentar.
Seperti ada ular menjalari darahnya.
Mungkin kekuatan ghaib merasuk di kedua tangannya.
Ia menolak tubuh tuannya yang kekar.

“Salah kamar, tuan!”

Tak usah banyak petunjuk
ayo letakkan bra.

“Tuan Tuhan, bukan?”

Tak usah banyak pertanyaan
ayo buka celana.

“Tuan, saya datang bulan!”

Tak usah banyak alasan
ayo lebarkan paha.

Tubuh babu masuk di perut tuannya.
Sang babu menjerit takut
tapi tak ada yang menyahut.
Malaikat langit sibuk bergelut
dengan pulpen dan raport baik buruk
mencatat siapa detik ini yang sujud yang rukuk.

Bagai nabi Yunus yang ditelan ikan paus
babu itu lalu didamparkan di pinggir laut
dengan kerongkongan haus
ia mengadu kepada pemilik denyut.

“Tuhan, saya diperkosa!”

Jangan mengadu
itu sudah nasibmu.

Seperti tertindih
ia melangkah letih
darah di selangkangan
meleleh jadi genangan.

“Tuan dan Tuhan sama saja, ternyata

Pemerkosa!”

[]

Sajak Keenambelas: Pelacur Kitab Suci

Tiada pelacur paling neraka kecuali pelacur kitab suci!

Daging-daging Tuhan dikurung dalam karung
dierami dalam sarung
ditawarkan ke warung-warung.

Kau pelacur kitab suci
aku pelacur puisi.

Kau giling daging-daging Tuhan
jadi berkeping-keping Surga
lalu kau tukarkan dengan dinar, dolar, dan sepiring kuasa.

Aku suling air mata
jadi sebening mata
lalu kuberikan kepada jiwa buta.

Kau kutuk pelacur-pelacur busuk di gubuk-gubuk lapuk
kau tusuk para pendosa dengan ayat-ayat neraka
kau tumpuk mayat-mayat atas nama malaikat.

: Kau juga mabuk peluk bidadari
yang kau rindu dalam khusuk rukuk.

Tiada pelacur paling keji kecuali pelacur kitab suci!

[]

Sajak Ketujuhbelas: Perahu Berlayar, Rindu Tak Kunjung Buyar

Aku akan menujumu
dengan perahu.
Angan lalu, ingin lalui
badai landai melanda dada ini.

Tengah malam, lengah mata memejam
aku berlayar, memutar detak geram jam.
Enyah segala goyah, menakar diam
menukar setikar gentar dengan getar asin garam.

Wahai angin dari segala penjuru
jadilah juru gerakku.
Wahai bintang-bintang bernyala biru
jadilah guru sajak bagi hari haru dan huru hara jejakku.

Kutantang kau, Ombak
telah kusiapkan tombak.
Lelah hidup punya wangi semerbak
kalah dan menang adalah takdir yang susah ditebak.

Gelombang O gelombang
ajariku membaca lambang
maut yang berpaut di ambang bimbang
denyut dan kalut dimuat tembang.

Perahu berlayar mengejar pijar
diburu cemburu, dirundung mendung menjalar.
Aku melagu lapar, berabad terdampar
di buih-buih berbuah perih, menggelepar.

Tangan badai melambai-lambai
ingin membelai pantai.
Hai badai, bela aku kalau lalai
tak lihai-lihai membingkai lunglai.

Biar! Biar kubelajar sabar merawat luka sungai
atau aku karam di laut paling dalam paling dasar.
Biar! Biar kusabar belajar mengurai derai dera derita musim masai
atau aku disambar nasar, membayar rindu tak kunjung buyar.

Rinduku adalah rengekan anak-anak sungai
ingin menyusu di dada laut.
Kau adalah dendam dan damai
yang saling bertaut.

Wahai, Laut
Datangkan riak ombak gelombang badai
di sekujur tubuh perahu
akan kuukur risau dengan tabuhan kasidah dedahan bakau
yang meragu jatuh dan tumbuh di utuh kambuh luka-luka kemarau
tersadai andai hujan mengguyur bumi
tumbuhkan butir-butir zikir rumi.

Wahai!
Adakah pelayaran yang tak sampai cium muara dan dermaga
jika lapar dan dahaga jadi niaga
juga tidur dan jaga terbentur langit berjelaga?

Wahai!
Mari berlaga seolah bermain catur sambil minum anggur
di musim gugur.

Wahai!
Masam masa silam, padam asa salam
terpendam dalam kubur umur, makam sembunyi di sunyi sekam.

Telah kusiapkan ranjang
dari kulit kerang dan batu karang
mengeranglah
aku tak kan kalah.

Perahu berlayar
rindu tak kunjung buyar
sebelum cium dan kulum
beranjak terinjak khianat kalam.

Wahai! Kau kekasih!

[]

Sajak Kedelapanbelas: Tahajud Mawar

Tubuhku wangi, tabah hati didesah duri
ini malam meredam dendam, menabuh peluh berdentam
bulan memancar, tenggelam di kolam kalam, lampu rindu bergetar
mengais tangis, menepis tipis pada kelam, melukis gerimis gumam.

O, malam-malam geram terlantar
ke mana kau mengumbar rerumput liar.
O, sekam-sekam makam terhampar
di mana kau simpan sampan menjemput debar.

Akulah mawar, bunga penawar ngaga luka
sujud di mekarmu, tahajud, membalut duka.

Akulah mawar, kembang pengusir bimbang
sembahyang, menembang zikir, menimbang fakir.

Bagaimana lebur dalam ranum wujudmu
jika kikir hilir mudik di kuntum-kuntum harumku
dada cabik, ada rindu tertampik, tak kuasa melirik sajak selarik.

O, gembur tanah, guyur debur tak sudah
adakah silsilah silat lidah yang tak mengucur nanah.
O, lumpur resah, menyembur di sembarang arah
aku pelacur, menukar setakar ayat dengan sebentang sajadah.

Runduk hamba, menimba rukuk dalam tindak tunduk
biarlah kubujuk bidak-bidak busuk sejarah
agar jadi budakmu, teriakkan retak-retak istirah.

Ah, berapa depa lagi jarak kulangkah
hingga kuncup bibirmu kukecup darah.
Ah, berapa waktu lagi kujejak
sampai semampai tubuhmu jadi utuh sajak.

Alangkah hidup mengemas cemas
Alangkah kuyup mengucap gemas.

Marilah bergegas menjemput tunas
sebelum segala meranggas.
Marilah lekas menjumput deras seutas
sebelum segara segera bekas.

O, Inilah simpuh paling rapuh
hendak berlayar, mengail secuil sinar
O, lumpuh aku dalam gigil peluh
kelak mengakar, mencungkil ingkar.

Tahajud mawar
tersungkur memar.

Tahajud mawar
menari kepak sayap burung-burung attar.

[]

Sajak Kesembilanbelas: Sujud Laut

Aku sadar cuaca suka bercadar
hingga tak kuasa aku bedakan
sinar yang jadi radar
dan jelaga penghalang jalan.

Sudah ribuan nelayan kugulung dengan ombak
anak istri mereka teriak karena tungku dapur retak
dari riak-riak air mata tegakkan tambak
menabur kecipak-kecipak ikan dengan mata kampak.

: mereka takut melaut, Tuan

Tapi kubiarkan kapal-kapal dagang berlayar
sesak barang selundupan dan orang-orang yang diperdagangkan
dijual di negeri-negeri minyak, dolar, dan dinar.

O gelombang yang berderap tegap
apakah kau telah kalah oleh suap
tuan-tuan berperut hiu
bermulut mesiu?

O gelombang
kenapa kau karamkan perahu-perahu nelayan
yang berangkat sejak petang
mengikat nasib di sela-sela jala kehidupan?

O aku alpa dan lupa mengejar cahaya terang
yang berpijar memayungi langit para petualang
getar-getar rindu mulai lunglai gersang
lalai melumat lelumut di sekujur karang.

O hidup tergadai badai
santai mengintai pantai
redup dirantai risau
merantau di degup bakau.

Sebelum kau jemput jumput alum waktuku
perkenankan kubersujud di wujud denyutmu
melabuhkan cium peluk
dalam aum amuk rukuk bikin tubuh dingin remuk.

Sujud adalah menggoyang perahu, berlayar raih rindu putih
sujud adalah memberi ikan para nelayan
sujud adalah menyiapkan asin garam pada santap malam
sujud adalah melenyapkan bajak laut dengan ombak yang sulut.

Maafkan, sujudku pasang surut.

[]

Sajak Keduapuluh: Menyambut Laut, Menyumbat Maut

Aku yakin padamu
sejak kau sajakkan kepak sayap burung dan kelopak kembang
di dadaku. Aku selalu mencintaimu
walau kapak nasib menyalibku tanpa upacara dan tembang.

Laut. laut yang kau sebut di denyut jantungku
berdetak ombak, mengoyak pundakku, surut terkatung-katung
menggapai gunung, murung terjebak gelombang pasang sampai ujung.

Nuh, datanglah, aku anakmu.

Menyambut laut, menyumbat maut.

Akulah perahu tak kunjung mencium bibir dermaga
bergoyang aku, tersandung gelembung-gelembung getir takdir.
Akulah pasir berdesir merampungkan bebutir zikir mega
berguncang aku, tersanjung kidung getar takbir.

Aku menyambutmu, laut, menyumbat maut
dengan mukim musim berkabut, angin yang tak hendak berpaut di latar layar
siapa menyulut api dan terbakar. Bolehkah aku menawar sejumput kalut
dan menakar debar.

Wahai nyiur yang melambai pantai petang
kabarkan elang yang tergiur ikan-ikan
burung-burung kenyang pulang ke sarang.
Dermaga. Dermaga tempatku menambatkan penat berlipat
tali-tali kapal merangkul tiang, jemari-jemari mengepal menunjuk gumpal awan
aku sudah pulang, sayang, lihat dadaku penuh sayat
muak amuk kerinduan, kecamuk peluk tak tertawan.

Dermaga. Dermaga pertemuan dan perpisahan bersahutan
ada air mata menetes, ada mata air merembes
dinding-dinding hening tergores, kepadamu denting darah kularutkan.

Aduhai bakau yang memangku segala baka kacau risau
kau atau aku yang mencabut pisau
berebut menikam kelam, pukauku dalam genggam
menari, menanti seraut wajah pada langgam.

Laut, laut, laut,
laut, laut,
laut!
l
a
u
t
Hanyut aku menyebut
menjemput denyut
menyumbat maut.

[] Khartoum, Sudan, 2010
—————————–

Novel Kidung Cinta Pohon Kurma adalah buku pertamanya. Akan segera disusul dengan novel kedua Bidadari Pencari Matahari dan kumpulan sajak Bulan Madu di Madu Bulan serta buku kumpulan cerita pendek Perempuan Pengunyah Rembulan.



Ular Liar dalam Dada

Oleh Syaiful Alim

“Adam, ada ular liar dalam dada
berbisik, hai Eva, kenapa kau
masih di sisi Adam, cari cara curi
rusuk kanannya. Lalu ajukan surat cuti
lari dari diri menari bersama matahari”

“Eva, juga pada dadaku. Seolah ditusuki paku
berbisik, hai Adam, kenapa tak kau
ambil lagi rusuk kirimu. Supaya kau
kian lelaki.”

Semua bermula dari bisik
lalu luka karma serupa sisik
laku ular menebar kobar berisik.

Ah! Alangkah asyik!
Ah! Alangkah cabik!

[]

Khartoum, Sudan, 2010.



Lelaki dengan Lika Liku Luka

Oleh Syaiful Alim

Aku lelaki dengan lika liku luka.
Aku suka jika air mataku kauseka.

Tubuhku penuh jejak peluh
sungai yang mengeluh.
Kemarau meranjau hijau
burung-burung urung berkicau.

Maukah kau jadi Kekasih
basuh basah resah, sisihkan rusuh perih?

Darah lutut netes tanpa kain pembalut
angin hilang arah, angan terbuang di surut laut.
Ingin tangan raih putih cahaya
tapi aku cuma sahaya.

Masihkah ada dada
bisa terima trauma
yang berputar bagai reroda?

Jujur, nasibku kurang mujur.
Pernah berlayar, mencintai pantai
tapi perahu porak poranda oleh leleh ombak
kesal sesal ngucur dari sekujur usia
yang sia-sia habis menangisi tangis.

Oh! Aku lelaki dengan lika liku luka
Betapa hidup sulit diterka!

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Sajak – Sajak Kecil

Oleh Syaiful Alim

1

Selingkuh

Bulan mencumbu batu

2

Tahun Baru

Tuhan mati
di tepi waktu

3

Perjalanan

Langkah seribu menuju dermaga
resah ibu merekah abu jelaga

4

Rindu

Mencari bayangmu di terang cermin
aku remang dicuri cahaya lilin

5

Ibu

Iba tiba
dibasuh air susu

6

Nasehat Ayah Kepada Anak Lelakinya

Jadilah ibu di kemarau danau
jadilah ayah di hijau sawah

7

Kenangan

Seonggok jejak di pojok kamar
tengok sajak di pokok mawar

8

Kepada Matamu

Pinjamkan aku kacamatamu
supaya aku tak berkaca-kaca bertemu mata kacamu

9

Sajak Patah Hati

Akan aku rekatkan dengan pekat sunyi
lalu kupanggil burung-burung kecil terbang bersama
seusai kembali aku telah bersayap dua

10

Ketika Kita, Ketika Kata

Ketika kita jatuh cinta
kata tiba menawari mawar
duri sembunyi mengintai jemari

Ketika kata jatuh cinta
kita tiba mengakar lapar
diri memaki puisi tak kunjung jerami

11

Kerudung Seksi

“Kerudungmu tampak seksi. Coba aku lihat lagi” kataku.
“Hai laki-laki, jangan macam-macam!” bentak perempuan berkurudung itu.
“Aku cuma minta satu macam. Memandang kerudungmu sekali lagi” godaku.
Wajahnya tiba-tiba mendung. Kerudungnya mengepakkan sayap.
Mengajakku bermain kejar-kejaran di atas awan. Lenyap.

12

Elegi Natal

Bom itu meledak di gerejamu
aku punguti puing-puing air mata dari kering matamu

Kelak, kutegakkan gereja di masjid sajakku

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

Ibu Menyapih


Belajar Membatu

Oleh Adhy Rical

kita, batu yang patuh menolak sengketa. pusara, kata-kata riang dan rapuh mengubin diang. bukan perempuan bakul atau lelaki cangkul sesorean. tapi bocah pedati berbaju peniti yang merapatkan kelingking kaki menemuimu.

tengoklah luka dan keringat. doa bukanlah kisah purba yang melompat dari tebing dada. sebab mencintaimu melebihi sore yang merah.

untuk kedua kali, matilah denganku!

[]

Kendari, 2010

Dipasung [] foto: adhy rical


Pengantin Tanpa Kelamin

Oleh Syaiful Alim

“Eva, ini bahaya laten jika khuldi terlarang
sementara ular sanca bagai tentara
menebar peluru bisik memburu telinga”

“Jangan berisik, Adam, diam-diam aku cemburu
kau terpukau khuldi itu. adakah yang lebih khuldi
dari dadaku yang ditumbuhi bebunga dan bulan menganga?”

“Eva, kita bagai pengantin tanpa kelamin
jika tak kuasa melahap khuldi.
Sia-sia lilin-lilin nyala genangi kamar
malam dilamar sisa cahaya kunang-kunang
usia lekas usai, Sayang.”

“Lelaki memang lihai membagi bagai
dan jarang lalai menembang sayang
sampai tubuh perempuan meremang”

“Terserah kau bilang
yang penting khuldi lebih genting
untuk dipikir sebelum Surga alum
berakhir dan kita diasingkan.”

“Adam!”

[]

Khartoum, Sudan, 16 Juni 2010.

adam-and-eva-grafis-beal-oil


%d blogger menyukai ini: