[Resensi Film] Sang Penari (2011)

Oleh Endah Sulwesi

 

***

Sutradara: Ifa Isfansyah

Skenario: Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn

Pemain: Oka Antara, Prisia Nasution, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, dll.

Produksi: Salto Films

Durasi: 111 menit

***

Semalam (10/11/2011) saya nonton Sang Penari. Empat jempol untuk penyutradaraan dan akting Oka Antara sebagai Rasus dan Prisia Nasution sebagai Srintil yang sungguh terpuji. Rasanya mereka pantas dicalonkan untuk mendapat Citra di FFI. Jangan lagi Landung Smatupang dan Slamet Rahardjo, nggak heran deh kalau mereka bermain bagus. Yang tak kalah keren adalah Dewi Irawan sebagai Nyai Kertareja. Meski lama tak muncul, aktingnya masih oke. Suasana Dukuh Paruk berhasil dihadirkan bukan saja secara visual tetapi juga diperkuat oleh dialog-dialog dalam bahasa Banyumasan yang medok oleh para pemainnya. Kalau kamu sudah baca novelnya yang dahsyat itu, kamu akan tahu bahwa Ifa sukses menerjemahkan naskah tersebut ke dalam gambar. Tentu, ini bukan pekerjaan mudah jika mengingat novel RDP yang sudah dikenal masyarakat. Selalu ada risiko menuai kritik dari para pembaca setianya.

Sekarang saya mengerti mengapa Pak Ahmad Tohari sebagai penulis novel trilogi itu menangis terharu saat menyaksikan film ini. Sangat berbeda ketika novel yang sama difilmkan oleh Yazman Yazid menjadi Darah dan Mahkota Ronggeng (1983) yang hanya mengekspos masalah seksnya dengan Enny Beatrice sebagai  Srintil. Saat itu, Enny Beatrice terkenal sebagai artis yang kerap bermain dalam film-film hot. Saking kecewanya, Ahmad Tohari tidak pernah sudi meyaksikan film tersebut. Sampai sekarang pun. Namun, Ifa telah membayar semua kekcewaan Pak Toh lewat Sang Penari.

Jika hendak bersetia dengan novelnya, awal mula Srintil menjadi ronggeng seharusnya pada usia dua belas, ketika ia menadapat haid pertama kali. Tetapi, dengan pertimbangan moral, Ifa memutuskan sedikit mengubah bagian itu dengan Srintil yang sudah berusia 17. Keputusan yang bijak, saya rasa.

Ya, ini kisah yang sarat tradisi lokal, tentang seorang ronggeng di Dukuh Paruk. Ronggeng itu bernama Srintil. Di Dukuh Paruk yang miskin, keberadaan ronggeng adalah sebuah keharusan sekaligus anugerah turun temurun. Ronggeng terakhir tewas beserta beberapa warga dukuh yang lain akibat keracunan tempe bongkrek bikinan ayah Srintil  Srintil waktu itu masih bocah ingusan. Ayah ibu Srintil akhirnya juga ikut mati oleh tempe buatan mereka sendiri. Untunglah, Srintil selamat. Kemudian dia diasuh oleh kakeknya (Landung Simatupang).

Srintil memiliki sahabat, Rasus namanya. Mereka tumbuh bersama dan tanpa sadar benih-benih cinta telah turut bersemi seiring beranjaknya usia mereka. Jika Rasus mengisi waktunya dengan bekerja sebagai buruh tani di kebun singkong, Srintil diam-diam memendam hasrat untuk menjadi ronggeng yang telah lama tiada di dukuh mereka. Meski Rasus tak setuju dengan cita-cita Srintil, tetapi takdir lebih berkuasa menjadikan Srintil sebagai penari. Maka, pada waktu yang telah ditentukan, digelarlah upacara penobatan Srintil sebagai ronggeng. Selain harus menari, dalam upacara itu dia juga harus melewati ritual “bukak klambu”.  Dalam ritual ini keperawanan Srintil dilelang dan akan diserahkan kepada penawar tertinggi.

Rasus yang cemburu tak sanggup membayangkan gadis yang dicintainya itu melakukan ritual bukak klambu. Dia lalu menemui Srintil yang menyambutnya dengan gairah yang sama. Di dalam kegelapan kandang kambing, Srintil dan Rasus menyatukan tubuh dan cinta mereka.

Dan selanjutnya, Srintil menjelma ronggeng yang dicintai Dukuh Paruk. Rasus yang tetap tak sepakat, memilih meninggalkan kampungnya dan kemudian menjadi tentara.

Seiring perkembangan politik tanah air masa itu, Dukuh Paruk tak luput dari jangkauan partai komunis. Kemiskinan dan kebodohan orang-orang di desa itu adalah sasaran empuk bagi propaganda partai yang berpaham kerakyatan itu. Bakar berhasil mendapatkan pengikut melalui jargon “semua untuk rakyat”, termasuk kesenian. Termasuk ronggeng.

Srintil yang lugu dan hanya tahu menari pada akhirnya harus menanggung akibatnya. Ketika pecah kaos pada 1965, bersama orang-orang Paruk, Srintil ditangkap dan ditahan. Ironisnya, petugas/tentara yang melakukan penangkapan itu salah satunya adalah Rasus.

Percintaan Rasus dan Srintil yang menjadi sentral cerita tergarap dengan baik, tidak terjerumus menjadi adegan-adegan seks yang murahan atau meratap-ratap. Begitu pun untuk bagian huru-hara politik 1965. Ifa menampilkan kehadiran PKI di Dukuh Paruk lewat sosok Bakar (Lukman Sardi), seorang anggota PKI, dan warna merah pada beberapa properti (caping, selendang, ikat kepala, spanduk). Seingat saya tidak satu kali pun kata “PKI” terucap, bahkan oleh para tentara yang melakukan “pembersihan” di Dukuh Paruk itu.

Detailnya juga cukup rapi. Setting tahun 1950-1960-an hadir tanpa canggung melalui kostum para pemain, mobil-mobil, truk tentara, angkutan umum, sepeda, motor, rumah, jalan, dan pasar.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Ifa Isfansyah, Oka Antara, Prisia Nasution, Salman Aristo (penulis skenario), dan seluruh kru film Sang Penari yang telah bekerja dengan baik menciptakan karya sinema bermutu ini. Film Ifa selanjutnya yang akan tayang akhir Desember ini adalah Ambilkan Bulan (Mizan Productions) ***


One response to “[Resensi Film] Sang Penari (2011)

  • samrang sandyakala

    Sy belum pernah melihat film’nya. Mudah-mudahan saja bagus seperti yg diresensikan. Saya pernah membaca ceritanya lewat harian Kompas ‘Ronggeng Dukuh Paruk’. Memang bagus. Sampai saat ini klipingnya masih saya simpan. Yg paling mendalam dari cerita ini adalah ketika sang ronggeng atau sang penari harus mematikan indung telurnya. Benar-benar menggugah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: