Tag Archives: horison

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


In Memoriam – Wan Anwar (dari letusan penyair Adhy Rical)

Oleh Hudan Hidayat

Maut sama fatalnya dengan hidup. Fatal, dari tepi yang tak terduga dan membawa akibat yang kadang tak terelakkan – fatal itu. Ada dua bahasa yang menggodaku di catatan penyair Adhy Rical itu: doa yang berbelok ke timur, dan berjalan ke utara. Dua bahasa yang kukira telah menjadi sebaris puisi. Doa yang berbelok ke timur, cukuplah bagiku sebaris puisi ini. Atau berjalan ke utara, cukup juga sebaris puisi ini. Entahlah mengapa rangkai kata tanpa “isi” itu menyerapku, membuat sejenak kita terdiam memikirkan. Doa apa yang berbelok ke utara itu? Doa adalah kata, bahkan gerak hati. Jadi sangat mungkin kata atau gerak hati itu terbawa angin, tak sengaja, atau mungkin diniatkan untuk, seolah kapal memutar haluannya. Kapal yang berputar jelas kelihatan, kita bisa melihat buritan kapal yang mengarahkan kepala kapal, berbelok. Tapi gerak hati, doa yang berbelok ke timur, kita tak bisa melihatnya. Kalau kita ceraikan satu baris itu dan kita hadapi kata perkata, maka tak satu kesan pun yang kita dapatkan dari baris “puisi” adhy ini: doa, yang, berbelok, ke, timur. Buat ia berdiri sendiri:

Doa.

Ya doa apa? Terutama kalau doa itu hanya dipendam dalam hati. Mungkin roman penyair Adhy kita lihat langsung, tapi ia hanya diam dan melantun doa itu dalam hatinya. Doa, katanya, tanpa terdengar oleh kita. Boleh jadi gurat wajah penyair agak sedikit mengurangi gerak lucu, atau gerak gembira yang lain – bukankah dia sedang berdoa? Doa itu. Doa itu kalau kita padankan, boleh juga seolah sebuah entitas – sebuah kata. Dengan kita tarik seseorang = doa. Sebuah doa. Seseorang manusia. Sama sama se – sese-orang, sese-doa. Jadi satuan.

sebuah doa

seorang manusia

Seorang manusia bernama Adhy Rical yang rupanya membawakan kata itu dalam hatinya: doa, jadi dia sedang ber-doa. Kita berhadapan dengan bahasa maka keadaannya yang lagi bersedekap itu, adalah keadaannya menurut bahasa sebagai Adhy Rical yang sedang ber-doa.

Barulah hidup kata doa itu, saat kita kaitkan langsung kepada letak doa itu: dalam hati manusia. Tapi ini gerak imanen yang belum indah. Gerak dalam dirinya sendiri, yang keindahannya harus kita sambung langsung secara imajinatif. Kita bayangkan penyair ini dengan roman mukanya, dengan gerak dari sudut sudut bibirnya. Dalam keadaan ber-doa. Kita masuk ke dalam jiwa penyair melalui wajah dan tubuhnya.

Mungkin indah momen dan nuansa itu – keadaan penyair sedang berdoa. Tapi kita tidak tahu indahnya di mana. Indahnya hanya di hati kita sendiri yang memang indah. Keindahan itu tak objektif dalam dirinya sendiri, tapi berkait langsung kepada sang pemandang keindahan, kata Cassirer dalam bukunya An Essay on Man itu. Saya kira ia menurunkan pendapat seseorang, saya tak sempat men-ceknya lagi. Tapi bahwa di buku Erns itu memang ada kata kata itu. Bahwa keindahan itu tak bisa berdiri sendiri. Ada memang melekat di dalam objeknya, tapi harus ada subjek lain yang menyentuhnya sehingga keindahan dalam objek itu kini bangkit, menarikan dirinya yang indah dan menggetarkan bulu bulu keindahannya.

Tapi kita hanya menghadapi doa dalam hati. Jadi keindahannya menjadi keindahan fakta dari kehadiran tubuh penyair, yang jiwanya kita raba dengan pandangan mata, bahwa penyair Adhy Rical sedang berdoa, dan gerak tubuh yang mewakili gerak jiwa di sana itu indah. Tapi bukan dari kata doa itu sendiri, keindahan itu. Tapi dari gerak tubuh yang indah.

Tapi lalu jelas bagi kita, dalam bahasa itu, doa tadi dikeluarkan bukan disembunyikan oleh Adhy Rical. Ia menjadi, atau doa itu bergerak, ke timur. Dalam suatu gerakan belokan. Ke timur.

Doa yang bergerak ke timur, kata penyair.

Inilah yang membuat saya berpikir ini adalah baris puisi. Tapi di notenya ini adalah judul esai. Sekarang kita bandingkan dengan sejarah baris puisi legendaris kita, yang diayun oleh penyair Sitor Situmorang. Kata pusi sebaris itu:

bulan di atas kuburan.

“Politik Sastra” bisa dimulai di sini. Diuji dengan misal yang membuat baris ini bukan Sitor sang penyair kenamaan. Sitor yang eksil dengan tema tema yang eksil. Orang lalu tahu bahwa sang penyair tak mungkin membuat baris sembarangan. Karena sang penyair sudah diuji sejarah dalam bentuk dan isi puisinya. Tapi bulan di atas kuburan itu dikatakan sebagai puisi, hendak mengatakan apakah? Ada dua imaji di situ: bulan, dan kuburan. Dan ada jarak di situ: langit (bulan) dan bumi (kuburan). Dan ada bahasa yang bekerja sama di sana: di yang dikait oleh atas, sehingga menjadi jangkar bagi kata bulan dan kata kuburan.

Letakkanlah:

bulan

kuburan

Ia akan menjadi seolah kata Adhy Rical di awal:

doa

Tak membawa apa apa.

Tapi dengan di dan atas itu, maka sang imaji bulan bergerak ke arah kuburan, dan sang imaji kuburan bergerak ke arah bulan. Dalam suatu pergerakan seperti inilah puisi bergerak membawa makna dari bahasanya.

Tapi apa bulan di atas kuburan itu? Atau apa: doa yang berbelok ke timur itu?

Dua entitas bahasa yang sebanding, yang sama indah dan sama membuat pembaca menduga duga maknanya. Lalu kita bawa lagi puisi kedua Adhy: berjalan ke utara. Wah alangkah indahnya. Dari ketemu gema telah membawa musik ke dalam jiwa kita. Dari gerakan berjalan dan utara, kenangan kita masa kecil akan jarak jarak yang jauh: utara, selatan, barat dan timur, bahasa di sini memendam suatu tualang. Berjalan ke utara, tualang itu. Mau apa? Hendak apa? Tidak tahu: pokoknya berjalan, bergerak dari hidupku kini, melihat lihat tempat lain – dalam proses menuju utara itu.

Aristoteles berkata orang senang memandang mandang, dan saya tambahkan, untuk memandang mandang maka orang melakukan perjalanan. Jadi berjalan ke utara itu artinya memandang setiap apa yang ada saat ke utara. Tapi sifat pikiran membuat utara bergerak secepat kilat ke selatan, ke barat, ke timur, ke mana saja pikiran itu hendak berjungkir jungkir dalam ingatan sang penyair – yang berjalan ke utara. Jadi berjalan ke utara, oleh sifat pikiran di sini, bisa pula berarti bahwa sang penyair sedang mengatakan: ia sesungguhnya tak ke mana mana, tak ke utara, atau utara itu hanya sebutan yang tak dimaksudkan dalam artinya yang spesifik. Mengapa begitu? Karena sebenarnya penyair ini dalam keadaan sedang berdoa. Dalam keadaan diam di tempatnya. Pun saat ia berkata berbelok ke timur, ia juga sedang di tempatnya. Kenapa begitu? Karena apalah artinya arah arah nama bagi sang yang dialamatkan doa oleh penyair. Kanan dan kiri sama saja. Muka dan belakang sama saja.

Jadi Adhy Rical dengan dua puisinya itu tak kemana mana. Hanya berhenti. Berhenti di mana? Di lambang harapan sekaligus ketiada harapan: bulan dan kuburan, kata Sitor Situmorang.

bulan di atas kuburan

Adalah suatu kata pungkas bagi ada harapan manusia itu seperti bulan, tapi sekaligus harapan itu berhenti seperti gundukan tanah tempat kelak kita mati: kuburan.

Adhy hendak berdoa kepada temannya, penyair dan staf redaksi Horisan – Wan Anwar.

Berjalan ke utara, artinya berjalan ke tempat peristirahatan penyair Wan Anwar. Maka disebutkannya: doa yang berbelok ke timur. Doa yang ditujukannya ke kubur Wan Anwar. Timur dari kata gerakan ke mana saja sama saja bagi sang tuhannya.

Barat tempat matahari tengggelam (kata sitor kuburan), timur tempat matahari terbit atau hidup di mulai (kata sitor bulan). Kata Adhy Rical, doa yang bergerak ke tubuh dan jiwa Wan Anwar.

Selamat jalan ya Wan, aku masih ingat dengan baik, kamu yang suka memandangku dengan sinar sinar nakal seperti mataku juga saat mesra menatap matamu. Lalu kita berdua tersenyum. Masuk ke dalam hati kita sendiri, Wan.

Sedih ya hidup ini.

[]

Dua rujukan esai di atas terdapat pada catatan:

Doa yang Berkelok ke Timur, dan Tuhan Mencintaimu
puisi terkait lainnya:
Lalindu

Hudan Hidayat

Lahir di Jogjakarta.  Mengikuti orang tua, semenjak kecil hingga SMA belajar berpindah-pindah, tapi lebih banyak ditempuhnya di Sumatra.  Akhirnya ia menyelesaikan Fisipol jurusan Hubungan Internasional di Universitas Jayabaya. Hudan menikahi gadis Jawa, Siti Khodijah, dan dikaruniai seorang puteri, Iklima Hudani. Menulis pertama kali berupa cerita pendek di majalah Zaman, 1984, dan setelah itu menghilang selama hampir 12 tahun.  Tahun 1998 ia diundang majalah Horison untuk mengikuti bengkel penulisan cerpen, dan April 1999 diundang majalah yang sama untuk menghadiri Pertemuan Sastra Nusantara di Malaysia bersama beberapa sastrawan Indonesia lainnya. Tahun 1988  tinggal di Tokyo dan Tottory selama satu bulan untuk program pertukaran pemuda. Tahun 1999 bersama sastrawan Indonesia lain diundang menghadiri acara sastra di Thailand. Pada bulan Maret 2000, ia diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan cerpen-cerpennya.


Doa yang Berkelok ke Timur # 2

Oleh Adhy Rical

Siang itu, tanggal 25 Juli 2005, kau jelas sekali mendengar semua amarahku di ruang rias. Sebenarnya bukan padamu amarah itu. Aku hanya marah pada keadaan. Kenapa keteledoran masih ada dalam tim. Bukankah kau tahu, semenit pun tak boleh ada kata terlambat di sini? Kami telah sepakat sejak lama bahwa sebuah keberhasilan -paling tidak melawan dalam diri- adalah tidak terlambat waktu.

Persoalan sepele sebenarnya tapi mug bercorak hijau yang sudah kami siapkan dari Kendari tak sempat terbawa. Pentas dua jam lagi dimulai. Ini yang pertama membawa tim dengan jumlah yang besar dan pertama pentas di Jakarta. Kami merasa makin kecil di sini. Tentu sangat mendebarkan bukan?

“Dhy, kami sudah cari di pasar Minggu. Benda itu tidak ada. Gimana dong?”
Yaa bagaimana lagi. Benda itu wajib. Judulnya aja Mug, kok ga bisa dapat?”

Tak lama Ahid menelpon lagi. “Dhy, ada solusi gak? Mungkin bisa ganti dengan benda lain?”

“Ada. Nanti aku yang cari!”

Sepertinya, emosi siang itu cukup panas.

“Cari gimana maksudnya? Kamu kan sutradara, gimana ada waktu nyarinya?”
“Tenang saja. Selalu ada waktu yang baik jika kita tenang.”

Aku membayangkan masalah besar di sana. Kalian pasti mengoceh atau mengumpat padaku. Situasi memang tak pantas. Benar-benar tak pantas. Begitulah waktu selalu baik ketika tenang. Bukan secara kebetulan kalau saat itu aku lebih mengandalkan Udin, kawan dari Kendari yang baru tiga bulan di Jakarta kumintai untuk mencari mug. Ia berhasil.

Ada peristiwa yang membahagiakan selain pertunjukan itu.

Pertama, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan lomba mengakhiri cerita tingkat remaja. Sesuatu yang tak terbayangkan bagi kami sebab salah satu peserta dari timku berhasil memperoleh juara 1. “Saya suka Eva dalam menjalin kisah seperti itu, Dhy”, kata Ratna Sarumpaet. Ya ya. Terima kasih telah memilih Eva. Ia perempuan yang berbeda dari yang lain, kelakarku sedikit promosi. Hahahay.

Kedua, setelah Mug-Mug tampil, Slamet Gundono meminta kami untuk berkolaborasi. Wayang Suket yang menarik dengan lakon Gatot Kaca. Wuih! Tambah seru. Ini pengalaman berharga bisa bermain bersama “raksasa” dari Solo. Tentu saja TIM saat itu makin ramai dan riuh dengan dialek yang berbeda. Sesekali mas Slamet celetuk ala Kendari Mug dan TAM pun membalasnya ala Solo.

Doa yang Berkelok ke Timur. Ini judul kedua dari catatan yang kutulis. Katakanlah doa yang tak sampai atau belum sampai tapi kutujukan padamu. Beberapa kali pembicaraanku berkelok-kelok tapi belum menemuimu. Aku selalu berdebar menyebut namamu sebab percakapan sederhana kita lalu menginap tiga hari di tempatmu adalah sesuatu yang lain. Kangen? Iya barangkali.

“Kang, boleh tanya?”

Ini pertanyaan awal yang tak pernah aku lupa ketika kau mengajak bermalam di Horison.

“Bukan mug lagi kan? Haha…” Tawa yang ringan. Kukira itulah jawaban paling akrab dan dalam. Kami sebenarnya pernah bertemu di Kendari. Ketika itu ia ke Raha tapi aku tak sampai Raha.

Kok, Kaki Langit, Horison edisi lalu itu memuat lagu Iwan Fals utuh dan diulas sebagai sajak yang bagus sih? Itukan jiplakan!”

“Mungkin editornya penggemar lagu dangdut, Dhy.” Jawaban kelakar itu sudah cukup bagiku. Aku tak perlu bertanya lagi sebab sudah jelas. Tidak semua sajak dan lirik lagu itu dikuasai oleh editor kan?

“Tapi Iwan kan tak sama dengan….”

“Ini yang kedua, Dhy. Kayaknya kita diskusi di rumah saja. Sambil main badminton. Mau?”

Haha… boleh! Sudah lama tak berkeringat dengan badminton.”

***

Horison.

Memasuki ruang tengah, ada banyak foto terpampang. Kukira tak perlu kusebutkan siapa saja foto yang ada di situ. Aku merasakan damai. Ya. Sesuatu yang berbeda. Mungkin karena saat itu tak ada rapat redaksi atau pertemuan lain yang sifatnya urgen maka kesunyian itu menjadi keberuntungan tersendiri buat kami. Hemm… Aku langsung menuju lantai paling atas sebab katamu ruangan di sana paling cocok untuk kami. Pas untuk latihan. Lumayan, ruangnya cukup luas dengan beberapa jemuran di sekitar tembok.

Mulailah kau bercerita lebar tentang kesibukan awak Horison jelang deadline sampai motif cover yang pertama kali kubilang monoton. Tentu saja itu yang pertama kubilang sebab pengalaman kerja sebagai layouter di koran lokal cukuplah alasan untuk menolak. Apakah cover itu sebuah pencitraan atau hal lain? Diskusi malam hingga larut itu menarik sekali. Malam itu pula kali pertama melihatmu memakai sarung setelah beberapa hari sebelumnya, penampilanmu kebapakan dengan motif kemeja abu-abu lengan panjang dan celana kain jatuh abu-abu tua. Bukankah aku mengetahui semua jenis kain karena bekerja lima belas tahun sebagai desainer tekstil orangtuaku?

Mendadak kau mengeluh sakit ketika kita bermain badminton. “Dhy, udah dulu ya!” Cuma itu katamu. Tak ada bicara lagi lalu masuk kamar menyendiri.

Sayang sekali kita harus berpisah. Terlalu banyak hal yang kami dapatkan darimu tapi kami harus berangkat ke Yogyakarta. Tampil di Teater Garasi pada tanggal 28 Juli 2005.

“Hubungi kalau sudah sampai Jogja ya, Dhy. Tentu saja, kabar dari Kendari kutunggu selalu.”

“Siap, Kang!”

Sebuah sms dari Ahid masuk pada tanggal 23 November 2009, “Dhy, Akang berpulang ke rahmatullah.”

Aku hanya diam lalu menulis puisi pendek: Tuhan Mencintaimu. Sajak ini termuat dalam antologi puisi “Berjalan ke Utara”.

[]

Kendari, 2005-2010


Mentari Tanak Di Ujung Sagori

Oleh H. Dawat Hitam

Pulang…

Hmm…sampai hari terakhir keberadaanku di sini aku masih sangsi hendak melakukannya. Terus terang, niat ini bukan hendak surut, tetapi lihatlah aku saat ini…mentari telah membawa terang di permukaan tanah, dan aku…masih meregang-regang tak mau bangun.

Pentoa huu..montoe mo oleo di’e..!

Asitagana…perempuan itu sudah berteriak-teriak lagi. Seingatku, nyaris tiap pagi, selama seminggu ini, pekiknya membangunkan seisi rumah. Ayam jago merah yang delapan hari lalu masih kudengar kokoknya membunuh pagi, ternyata tahu diri. Ayam ini sudah pergi, entah sekarang di pekarangan rumah mana. Ayam ini, rupanya tahu, pekerjaan hariannya membangunkan orang diambilalih bibi Saripah.

Saripah, nama perempuan itu. Saudara ayahku, jadi masih dapat kupanggil Tinaate.

Hari ini, sejatinya adalah jadwalku untuk pulang. Aku sudah nyaris sebulan disini. Paket liburan ini seharusnya akan berakhir tiga hari lagi. Jika hari ini aku pergi, maka aku ada waktu sehari untuk membenahi rumah, dan sehari lagi untuk menyusun rencana kerja. Tapi, lihatlah, aku masih saja di sini.

Ini adalah kehadiranku kedua kalinya di pulau ini. Seharusnya, aku sudah bisa menyebut tempat ini kampungku. Jejak darahku berawal dari sini. Ibu pernah cerita padaku tentang darimana dan siapa mbue-mbue-ku. Baik, kakek dan nenek dari ibu dan kakek-nenek dari ayah, semuanya asli pulau ini.

Di kota yang kutinggali sekarang, ayah bertemu ibu. Itu kota rantau ayah, dan disinilah beliau bertemu ibu saat ibu menyelesaikan kuliahnya. Aku yakin ayah tahu persis darimana ibu berasal, maka itu ayah bersikeras harus mendapatkan ibu. Namun, ibu, setahuku adalah orang yang sekeras kakek, jadi aku bisa mengira, pastilah upaya Ayah mendapatkan ibu, bagai hendak mengangkat gunung Sambapolulo. Ah, ibarat yang kugunakan terlalu berlebihan.

Maka dari itu, kata “pulang” menyesatkan pikiranku. Kata itu telah membuat cabang baru di seutas syaraf dikepalaku. Pulang, kemana? Bukankah pulau ini juga rumahku, kampungku. Sayangnya, walau bau darahku beraroma pulau ini, aku pun tidak lahir di sini, tapi di tempat rantau orangtuaku. Jadi hendak pulang kemana aku?

Lihatlah, aku masih disini. Ada yang menahanku, dan aku tahu itu apa…atau tepatnya siapa…

***

“Maaf…tolong aku. Tas ini berat sekali.”

Suara itu seperti berbisik. Tapi, sungguh, aku mendengarnya dengan jelas. Gadis manis itu terlihat lucu saat berusaha menarik travel bag biru lepas dari bibir kapal. Undakan kayu pada geladak, membuat bibir kapal menjadi sangat curam. Perlu tenaga untuk mengayun barang tertentu melaluinya. Dan, gadis disampingku, rupanya tak punya tenaga sebesar dugaanku, untuk sekadar meloloskan travel bag-nya ke atas dermaga.

Lucu, karena tas itu juga tak seberapa besar. Sekali angkat saja, tas itu sudah pindah tempat ke atas dermaga. “Terima kasih. Sekalian yang itu ya…?” Pintanya tulus, tapi membuatku melotot.

Telunjuk mungilnya menunjuk-nunjuk setumpuk tas lainnya yang tersusun rapi di dekat tangga kapal yang mengakses lantai dua. Gila, kenapa gadis ini bepergian dengan barang bawaan sebanyak ini? Apa dia lari dari rumah?

“Itu bawaan kamu semua?” tanyaku, mengkonfirmasi.

Tapi, dijawab dengan anggukan tegas, dan senyum kecil. Bahunya terangkat sedikit, menambah keyakinanku bahwa konfirmasiku benar. Kuturunkan backpack dari pundakku, kugeser travel bag bawaanku menepi, agar tak disenggol orang. Dengan isyarat telunjuk dan keningku, kusampaikan padanya agar menjaga bawaanku sementara aku menolongnya. “Beres,” katanya singkat.

Beranjak aku membantunya menurunkan, sekitar lima tas besar dan dua doz karton, dari geladak kapal ke dermaga. Sigap pula aku mengaturnya, hingga membentuk susunan rapi di atas papan kayu ulin dermaga Sikeli ini. Tetapi orang terlalu banyak lalu-lalang. Landasan dermaga ini terlalu sempit untuk orang sebanyak ini. Tapi, biarlah. Setelah semua bawaannya kuturunkan, selanjutnya adalah urusan gadis ini.

Slayer hitam kuraih dari saku belakangku. Kuseka semua bulir keringat di dahi dan sekitar leher. Barang bawaan gadis itu tidak seberapa berat memang…tapi banyak. Kutepuk-tepuk telapakku, menerbangkan debu dipermukaannya. Lalu, kurasakan, sesuatu yang lunak mampir dipinggangku. Gadis itu sedang menusuk-nusukkan telunjuk mungilnya di bagian itu.

“Ojek tuh. Cepetan…ntar kehabisan.” Gadis itu memintaku dengan nada kalimat seperti telah lama mengenalku. Aku takjub, bengong. Tapi aku segera mengerti.

Tanpa bicara, aku menepuk keras, mengirim isyarat ke beberapa pemuda penyedia jasa ojek motor. Kukibaskan tanganku, memanggil mereka. Empat orang memburu kearahku. Begitu mereka menghampiri kami, tanpa bicara, kutunjukkan tumpukan rapi sejumlah tas, kemudian telunjuk jariku beralih gadis itu. Para pengojek motor itu segera paham, mereka harus bernegosiasi dengan gadis itu untuk tumpukan barang bawaan yang kuperlihatkan.

Kuraih backpack milikku, berikut travel bag, dan bergegas menuju pelataran pelabuhan. Disana mataku menangkap sosok yang aku kenal, Aldy. Dia sepupuku, anak adik ayahku. Sigap sekali anak itu meraih travel bag bawaanku, menaikkannya ke bagian depan motor, lalu mempersilahkan aku duduk dibelakangnya.

Udara sore pemukul wajahku, segar dan…asin. Udara kering seperti ini cocok buat sakit asma ibuku. Beliau harus di sini untuk menyembuhkan sakit bengek yang dideritanya 4 tahun terakhir.

Selepas gerbang, jalan langsung membelah menjadi tiga. Motor Aldy tidak ke kiri, atau ke kanan, tapi lurus menuju ruas jalan yang sisanya tidak rata. Masih kulihat sisa aspal mencabik di beberapa bagian, seketika aku tahu jika dulunya jalan ini juga beraspal. Aku enggan bertanya pada Aldy. Anak ini sedang “gila” merangsek jalan tak rata itu dengan kecepatan lumayan tinggi. Pernah, kepala anak ini kuketok dari belakang saat dia “lupa” merendahkan gas motornya. Dia hanya tertawa, tahu berhasil mengerjaiku.

Setelah Aldy menghajar sejumlah gundukan dan tikungan yang berbatu, memaksa motor tua itu mendaki tanjakan Po’awu, tidak sampai 25 menit, sampailah kami di depan rumah Aldy. Adik ayahku, bibi Saripah menyambutku dengan senyumnya. Garis bibirnya mirip garis bibir ayah. Begitu juga rambutnya. Perempuan paruh baya itu merangkulku, menangis haru, lalu menciumi kedua pipi dan dahiku. Air matanya menempeli mukaku yang berdebu. Tapi dia tak hirau.

Dia begitu sayang padaku. Terakhir dia melihatku, saat aku kelas 5 sekolah dasar. Itu 14 tahun silam. Kunjungannya ke rumah kami tidak pernah lama, seingatku. Dua tahun setelah terakhir kali aku melihatnya, kudengar kabar dia disunting saudara jauh ayah. Mereka menikah dalam suasana sederhana. Ayahku pergi menikahkan mereka, sebab kakek sudah tiada ketika itu. Aku tidak dapat menyertai ayah dan ibu ke pernikahan bibi Saripah, sebab saat itu sekolah tidak sedang libur.

Ayah begitu menyayangi bibi Saripah. Mungkin dikarenakan bibi Saripah satu-satunya adik ayah yang perempuan, dan yang paling dekat dengannya. Sekitar tiga menit bibi Saripah menumpahkan rindunya, bercampur petatah-petitih dalam bahasa Moronene-Tokotua yang kukenali dengan baik. Dahulu, aku tidak tahu sama sekali bahasa ibu orang Moronene ini. Tapi, karena ayah dan ibu kerap menggunakannya sehari-hari, bahasa itu lalu melekat di kepalaku.

Bibi Saripah meminta Aldy merapikah kamar yang hendak kutempati. Rumah bibi ini besar sekali, ada sekitar lima kamar tidur didalamnya. Ruang tengahnya cukup luas, dan ruang tamunya lumayan apik. Semua bahannya kayu, maklum rumah ini berbentuk panggung. Hari beranjak mahgrib saat Aldy kelar membereskan kamarku. Dia berjanji untuk ngobrol denganku selepas lelah dari tubuhku. Anak itu lalu menghilang kekamarnya. Aku harus mandi.

***

Selesai membereskan tubuhku, rasanya segar betul. Kuakui airnya dingin sekali. Kuhampiri bibi Saripah yang sedang menggoreng pisang, lalu kutanyakan dimana paman Syamsuddin.

“Pamanmu, sudah dua hari ke Kabaena Utara. Dia membantu mengurusi tanah kebun adiknya yang diambil orang tambang. Marah sekali pamanmu, saat tahu masalahnya sudah sejauh itu. Dari awal dia kan tidak setuju orang tambang datang kesana,” cerita bibi Saripah.

Kasihan paman. Ini akan jadi perhatianku. “Lalu, kapan rencana paman kembali kesini?”

Bibi Saripah mendorong sepiring pisang goreng kearahku. Segelas kopi lalu diletakkannya pula. Kusesap kopi panas itu, sedikit. “Bibi belum tahu. Bibi hanya berharap urusan itu segera selesai. Jangan berlarut-larut. Biarlah, besok bibi minta Aldy menjenguk ayahnya.”

Jelas bisa kusimak nada sedih dalam suara bibi. Kasihan pula perempuan ini. Sebenarnya, aku tahu, kehidupan paman Syamsuddin sekeluarga lebih dari cukup. Kakek meninggalkan pada bibi sejumlah lahan perkebunan yang subur. Bahkan, ayah mempercayakan pengelolaan lahan kebun miliknya pada mereka. Karenanya mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi yang bermutu baik. Anak paman dan bibi hanya dua orang. Selain Aldy, yang kini kuliah jurusan perikanan, ada Diana yang juga berkuliah. Mereka berdua kuliah di perguruan tinggi yang sama di Makassar, namun beda jurusan, dan tentunya beda angkatan.

Perhatianku teralih pada suara Aldy dari ruang tengah. Tawa anak itu keras sekali. Sesuatu yang lucu di televisi membuatnya seperti itu. Ku angkat piring dan kopi milikku, bergabung dengan Aldy. Bibi meneruskan memasak. Aku masih harus duduk bicara lagi dengannya, mungkin besok, atau lusa. Dia ingin mendengar aku bercerita tentang kabar ayah dan ibuku.

Beberapa waktu duduk menemani Aldy nonton televisi aku dihampiri bosan. Anak itu begitu menikmati tontonannya, hingga tak hirau pisang gorengnya kuhabiskan. Rumah ini menghadap jalan, tetapi sisi rumah juga memotong sebuah jalan setapak yang menuju mesjid. Dari tempatku duduk, di sisi jendela, dengan jelas kusaksikan mesjid masih ramai orang usai sholat isya. Beberapa anak berlarian sambil tertawa-tawa. Pada bagian kanan mesjid yang bertanah sedikit curam, terlihat jalan menurun disisinya. Sederet rumah berdiri rapi di sisi kanan dan kiri jalan. Jalan-jalan di kampung ini sudah dikerasi, cukup baik dilalui pada musim kemarau, namun cukup merepotkan pada musim hujan.

Perhatianku teralih oleh sebuah seruan yang tipis. Agak keras, namun lirih. Kutelengkan kepala ke sumber suara, ah… gadis di dermaga sore tadi. Kenapa dia ada disini?

“Hei…kenapa pergi begitu saja. Kau tidak sudi menerima terima kasihku,” katanya ketus.

Wah, gadis ini sedang marah rupanya. Aku pura-pura tidak dapat mendengarnya. Telapak tanganku kubuat serupa corong di telingaku, pertanda aku tidak dapat mendengar kata-katanya. Dia mendekat, lalu mengulangi kalimatnya.

“Oh, ya… Maaf, tadi sudah menjelang sore, jadi aku segera kemari,” kataku, berusaha mengelak dari kemarahannya.

“Huh…kenapa bisa sih, membiarkanku berurusan dengan para pengojek itu. Tahu tidak? Susah payah aku berdebat dengan mereka soal upah jasa ojek. Walau kami sama-sama tak puas, mereka tetap mengantarkan aku kemari…huh. Ini semua gara-gara kau!”

Lho, kok… Ini lucu. “Kenapa aku yang salah?”

“Lha iyalah… Jika saja kau membantuku bicara soal upah jasa ojek, tentu tak ada yang harus merasa tidak enak, bukan?” Gadis ini tetap galak.

“Tunggu..tunggu..tunggu dulu..” Aku kini membalik tubuh lalu menopang tanganku di bibir jendela, kepalaku keluar sedikit. “Aku harus jelas dulu… Tapi kan kamu sudah disini. Lalu apanya yang salah?”

“Tetap saja kamu yang salah!” Keras hati benar gadis manis ini. Usai berkata demikian, dia lalu pergi begitu saja. Wah..tidak bisa begini. Enak betul, tiba-tiba datang menghardikku, lalu pergi begitu saja, batinku.

“Hei..tunggu.” Aku bergegas ke pintu, dan siap-siap menuruni tangga. Tapi, ternyata aku hanya berdiri diambang pintu saja. Gadis itu hanya menoleh sedikit, melipat bibir bawahnya, lalu berjalan pergi sambil menghentak kaki ke tanah. Lucu, aku melihatnya begitu. “Tunggu…kataku!”

Gadis itu sesaat berhenti, membalik badan.

“Di.. ma..na.. ru..mah…mu?” tanyaku dengan teriak tertahan, sambil membantu pertanyaanku dengan gerakan tangan.

Yang dijawab oleh gadis itu dengan ancungan tinju mungilnya ke arahku. Lalu pergi. Kulihat punggungnya sampai menghilang. Aduh…sialan, namanya…aku lupa tanya namanya.

Maka, sejak malam itulah, di hari-hari awal keberadaanku di kampung ini, aku berusaha mencari tahu siapa gadis itu. Siapa dia? Dimana rumahnya? Hanya lewat atau memang dia tinggal disini juga? Kenapa dia marah seperti itu…?

Wow…ini akan menarik nantinya, batinku, sambil tersenyum.

***

Hari ketujuh keberadaanku di sini.

Beberapa hari sebelumnya, tak banyak yang menarik untuk dikisahkan. Tapi, aku mulai tertarik dengan rutinitas…ke kebun. Menarik, mungkin itu kata yang lebih tepat, barangkali. Sesuatu yang bahkan tidak pernah kualami dalam 25 tahun perjalanan hidupku. Ke kebun…ohoi..sebutlah aku jenis anak yang dibesarkan dalam tradisi perkotaan..hahahaha.

Walau begitu, mataku tetap awas. Mengamati tiap jengkal kampung, tiap sudutnya, tiap rumahnya, setiap anak gadis yang melintas…kalau-kalau mataku dapat menemukan sosok yang kucari. Gadis itu.

Hari ini, bibi Saripah, berencana menyiangi gulma di sela-sela tanaman sayur. Aku dan Aldy punya rencana lain, membersihkan tumpukan daun kering di sela-sela pohon jambu mete, menumpuknya di satu tempat, lalu membakarnya, memunguti buah metenya. Aldy berencana menimbang hasilnya sepulang kami dari kebun.

Berkebun mete adalah salah satu aktifitas masyarakat disini. Ratusan ton bisa dihasilkan dari kebun-kebun masyarakat setiap pekannya. Para pengumpul jambu benar-benar menguasai jalur distribusi hasil pertanian satu ini, hingga kadang masyarakat pekebun tak bisa memilih dan menerima saja harga yang tiba pada mereka. Ini rentan, menurutku. Seperti biasanya praktek ijon, petani produsenlah yang berada di posisi terbawah dalam rantai distribusi. Marjinal, ya… itu tepatnya.

Satu mata produksi lagi yang juga dikuasai rantai ijon, yakni gula merah. Setahuku, tidak ada gula merah yang segurih gula merah dari pulau ini. Di beberapa wilayah lain di Indonesia, aku tahu, juga memproduksi gula merah, tapi yang memproduksinya dari nira aren, hanya Ternate dan pulau Kabaena. Pandai benar petani di pulau ini meramu nira enau menjadi gula merah. Kendati gurih dan cukup lezat, karena rantai distribusinya juga dikuasai ijon, jadilah harganya rendah sekali.

Aldy tak pandai meramu enau, juga paman Syamsuddin. Maka jadilah, aku tidak tahu bagaimana memproduksi nira enau menjadi bongkahan gula merah. Tapi ini bukan soal, sebab aku bisa mengetahuinya dari para kerabat lain di kampung ini yang mengusahakannya.

Aldy dan aku berhasil mengumpulkan mete dalam dua zak kantong tepung. Aku perkirakan beratnya mendekati 35 kilogram. Sekarang bukan soal berapa hasilnya jika dijual, yang aku pikirkan, bagaimana membawanya ke kampung dari lokasi kebun yang cukup jauh ini. Tentulah bebannya akan sangat berat. Punggungku tak biasa menahan beban yang bergerak. Jika bebannya statis, seberat satu zak kantong tepung, bukan soal yang sukar bagiku. Dahulu aku biasa menggendong carrier, sejenis backpack berukuran besar untuk para pendaki. Yah, aku mantan “gunung-hutan” di kelompok pecinta alam kampus. Jangan tanya sudah berapa ekspedisi yang aku lakukan bersama teman-teman. Tapi, tetap saja, soal berkebun aku tak pandai.

Hampir jam 11 siang, kami sudah selesai. Dengan susah payah, aku dan Aldy akhirnya mencapai kampung dengan punggung diberati zak berisi jambu. Bibi Saripah sudah lebih dulu pulang, dan sekarang dia sedang memasak.

Aldy mengajakku langsung menuju pengumpul. Sementara dia menimbang hasil pungutan jambu tadi, aku menadah angin di beranda rumah si pengumpul. Dengan peluh yang membasahi wajahku, angin yang mampir terasa sejuk, menyegarkan. Slayer kusekakan ke muka dan leher. Peluh seperti ini terakhir membasahiku delapan tahun silam, saat aku dan teman-teman berhasil mencapai pos empat, puncak Cartens di Papua.

Lamat-lamat kudengar Aldy menyebut angka 36 kilogram lebih sedikit. Itu hasil timbangan jambu kami. Jika dikalikan harga per kilonya, 7.000 rupiah, maka Aldy akan mengantongi 252.000 rupiah. Jumlah yang lumayan untuk hari ini. Kulihat Aldy begitu gembira menerima uang itu.

Saat itulah, sudut mataku, menangkap sosok yang kucari-cari enam hari belakangan ini. Gadis itu.

Gadis itu sedang menggandeng ranggi besar dipinggangnya. Berat sekali tampaknya. Beberapa potong ujung sayur menyembul dari wadah itu.

“Hei…kamu!” sergahku. Dia kaget dikejutkan seperti itu. Wajahnya memerah. Wah..dia marah lagi. Aku tersenyum.

“Ada apa?!” Timpalnya galak. Dia berhenti, dan memandangiku tak senang.

“Aku belum tahu namamu.” Kataku.

“Buat apa? Tidak penting.” Masih galak kudengar.

“Tak baik kita sudah bercakap, tapi tak tahu nama. Boleh dong aku tahu namamu.”

“Ah…tak perlu.”

“Hei…aku sudah membantumu. Paling tidak aku harus tahu namamu kan?” Kataku tersenyum, menggodanya.

“Wah…ada pamrih rupanya. Mau kubayar pakai apa, hah?”

“Cukuplah dengan memberitahukan namamu.” Kataku datar saja.

Sebenarnya, untuk sekadar tahu namanya, gampang saja buatku. Tinggal kutanyakan pada Aldy, dan dia pasti memberitahukanku. Itu tak akan kulakukan, biar penasaran saja. Lagi pula nanti Aldy tahu aku menaruh perhatian pada gadis di kampung ini.

“Baiklah kalau itu bisa melunaskan pamrihmu. Aku Aisyah. Puas kau sekarang?” Kini suaranya sudah sedikit rendah, tapi masih galak menurutku.

“Kau tinggal dimana?” Jawabannya kugubris dengan pertanyaan lain.

Gadis itu menjulurkan lidahnya, mengolokku. Sejenak dia angkat dagunya, dengan langkah sedikit disentak, dia hendak berlalu. Aku melompat turun dari undakan tengah tangga. Begitu kujejaki tanah, aku lalu berlari menghampirinya, mensejajarkan langkahku dengan langkahnya.

Gadis itu bergeming sedikit, agak menjauh. Hah, ini bukan saatnya menyerah, bukan?

“Jangan marah ya? Aku kan cuma bertanya. Lagi pula kan baik sekali kamu telah memberitahukannya, bukan begitu Aisyah?” Kataku sambil senyum ramah. “Aku Taufiq.”

“Memangnya aku perlu tahu?” Ketus suaranya.

“Tidak juga. Tapi tak sopan aku tak memperkenalkan diri,” kataku. Lalu aku coba menawarkan bantuan.

Kutarik wadah sayur digandengannnya, lalu kunaikkan ke atas kepalaku. Aisyah sigap sekali hendak protes. Tapi tiap kali tangannya hendak menjangkau wadah itu, sigap pula kuangkat tinggi-tinggi. Beberapa kali berusaha, capek dia. Tak payah berusaha, sebuah cubitan mendarat telak di daging rusukku, memilinnya sedikit. Tentu saja sakitnya bukan main, aku mengaduh, tapi keranjang tetap kuangkat tinggi-tinggi. Tangannya lalu ditarik, dan Aisyah berjalan tenang disisiku, menolak bicara. Mukanya saja yang masih masam.

“Kuantar sampai rumahmu ya?” Pintaku. “Ini karena aku telah membuatmu marah. Aku minta maaf sekali lagi.” Pungkasku.

Gadis itu membuang mukanya, tapi masih sempat kutangkap segaris senyum menarik sudut bibirnya. Dia menyembunyikan senyumnya dariku.

Selebihnya, aku yang lebih banyak “mengoceh”. Aku menemaninya menyusuri jalanan kampung, walau matahari begitu teriknya. Sesekali ocehanku membuatnya tersenyum, sembunyi-sembunyi. Kepalanya lebih banyak tertunduk, menatapi langkah kakinya sendiri. Sesekali kutangkap dehem kecil darinya, menyetujui beberapa topik ocehanku.

Agak lama kemudian, kami sampai disebuah rumah yang apik. Kayu rumahnya tak dicat dibeberapa bagian, sengaja dibiarkan seperti itu. Aku mengikutinya memutar kesamping rumah panggung itu. Ada beranda kecil yang dihubungkan dengan tangga. Aisyah lalu naik, dijenjang ketiga anak tangga dia berhenti, memutar sedikit tubuhnya, lalu menyorongkan tangannya. Dia meminta keranjang yang kubawakan untuknya. Aku memberikannya. Semuanya tanpa bicara sama sekali. Hanya senyum dan deheman. Ini lucu sekali, pikirku.

“Aku pamit dulu ya?” Kataku memecah kebisuan. Sengaja langkahku kupelankan, menunggu reaksi dari kalimatku barusan.

Aku tahu Aisyah berdiri diambang pintu belakang, tak masuk. Dia memperhatikanku, menanti sampai aku meninggalkan pekarangan rumahnya. Aku berjalan mundur, pelan. Sesekali tanganku kulambaikan padanya. Tingkah yang kikuk itu mengundang senyumnya. Dia ingin tertawa. Hemm…manis sekali dia.

“Boleh aku datang lagi?” Kataku sebelum menutup pintu pagar pekarangannya. Spekulatif saja, mudah-mudahan diizinkan.

“Pergilah…” Katanya. Tapi…hei, suaranya kini datar, tidak ketus dan hambar seperti tadi.

Aku lalu menyergahnya, “…tapi aku boleh kesini lagi kan?”

Dia tersenyum, lalu dianggukkan kepalanya keras-keras, tegas. Mukanya memerah, lalu dia masuk. Cepat sekali.

Uhui…! Aku nyaris melompat tinggi karena senang. Begitu girang aku dalam hati. Aku pikir ini baik sekali. Aku bisa lebih mengenal gadis ini beberapa hari ke depan. Pertemuan yang tidak disengaja, membawa aku dalam suasana yang berbeda.

Bukankah, sudah aku katakan, bahwa aku mungkin akan lama di kampung ini?

***

Rembulan bulat penuh, memerah, seperti baru tanak oleh api.

Purnama ini pertanda pertengahan bulan. Itu sama artinya telah sepuluh hari aku di kampung ini. Sehari sebelumnya, seperti yang kami perjanjikan, aku dan Aisyah bertemu, dalam suasana lain, untuk yang pertama kali. Pertemuan yang membangun kesadaran diantara kami berdua, bahwa ada sesuatu yang memang harus diungkapkan, disatukan. Sesungguhnya, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan bercakap pelan dan mencoba menyimpul sulur-sulur yang mulai menjalar-jalar. Berlomba mencari tautan yang pantas. Dipenghabisan waktu, kami berdua, mungkin, telah menyadari bahwa beberapa sulur telah bertaut, tetapi sulur lainnya masih menjalar-jalar liar, mencari-cari.

Kami masih hati-hati. Masih berjaga-jaga, untuk tidak teriris sembilu yang menyambar-nyambar. Ini permulaan. Biasanya, sembilu akan lebih siaga, siap menyambar perasaan, siap menyambar kalbu, jika siapapun tidak hati-hati.

Tentu saja, aku tak mau gadis ini terluka karena ucapanku. Lihatlah dia beberapa hari lalu. Ganasnya tidak alang kepalang, hanya karena aku buru-buru pulang. Aku dihardiknya, aku diberinya tinju ke udara. Tapi kini, aku tahu bahwa dia baru saja menyimpul bunga-bunga yang bermekaran dari atma terdalam, dalam sebuah ikatan yang keras.

Sungguh, tak ada dari kami yang menduga akan terkisah seperti ini. Kedewasaan memberi faham yang begitu berarti yang begitu mudah ditangkap dari tingkah dan kata-kata. Siapapun dalam masa ini, dalam usia ini, harus menangguk romantisme yang terang, membuncah. Jika cinta dapat  kau fahami seperti semudah melihat bunga rumput bermekaran di pagi hari, maka keindahan dapat kau yakini disepanjang hari itu, dan keteduhan dapat kau rangkum di senja hari sisanya. Malam bagimu hanya akan menjelmakan halimun yang memayungi wajah-wajah yang riang dan teduh. Semudah itu. Cukup begitu saja.

Malam ini, kami duduk berdua, bersampingan berdua-dua, di talud pantai Sikeli. Sebelumnya pantai ini, bagiku hanya garis panjang yang curam, tidak landai dan tidak berpasir, yang akan asyik dipakai buat berjalan diatasnya menenangkan urat kaki. Tapi tak apa-apa, karena aku tahu di beberapa tempat lain di pulau ini, ada beberapa pantai lain yang jauh lebih indah.

Tapi jika malam seperti ini, bau angin laut, begitu tajam mencucuk hidung. Angin laut ini membawa dingin yang cukup membuat urat lututku kaku. Tapi, Aisyah disisiku saat ini. Bersama membagi bahagia di bawah rembulan yang makin tanak.

“Ini aneh…” Katanya tiba-tiba, hening yang berangin ini pecah oleh suaranya yang lembut.

“Apanya?” Sambutku. Ini agar aku tenang saja. Kata-katanya barusan, seperti tombak yang mengancam.

“Kejadian ini. Aku bukan gadis yang romantis, kak. Aku tak pandai membangun kepercayaan. Hubunganku sebelumnya hancur karena aku tak bisa berdiri pada keyakinan kami. Aku takut…” Kalimatnya putus. Mendadak aku resah.

“Tapi kisah ini milik kita.” Kataku.

“Aku cuma risau, khawatir…”

Aku bergeser sedikit. Kini tubuhku menyisi sudut tubuhnya. Kupegang pundak gadis itu.

“Tapi aku tidak, Aisyah… Aku tidak khawatir, walau kisahmu akan membayangi kita. Aku justru tidak memikirkan itu. Kepercayaan yang aku bangun bersamamu, bukanlah lukisan di atas pasir. Aku sudah menduga akan mendengar ini, tetapi aku juga yakin kamu akan memberi aku alasan, bahwa batasan yang kita hendak bangun dalam kepercayaan itu akan sekeras baja. Kita inginkan banyak hal, yang aku harap akan jadi warna cerah dalam kisah kita. Aku percaya pada arti sebuah pendirian yang kemudian berubah seiring berjalannya waktu. Tapi kepercayaanku tidak akan kuletakkan di atas dasar labil seperti itu, aku tak mau itu berubah. Karenanya, aku ingin, waktu hanya jadi penonton. Biar dia kecewa, karena kita tidak memberinya peluang, tidak memberinya ruang…” Kugantung kalimatku sejenak, lalu kulanjutkan, “…Aisyah, aku faham…sangat faham. Aku hanya berharap kamu bisa erat menggenggam kepercayaan begitu aku memberikannya.”

“Itulah soalnya, kak… Aku tak pernah becus menjaganya.”

Aku menghela nafas. Kukembalikan posisi tubuhku menghadap ke laut. Bayangan bulan tampak jelas di riak air yang ringan. “Seharusnya kamu akan yakin, begitu aku menyakininya, Aisyah. Aku tidak berusaha memberimu pandangan baru tentang perasaan. Aku juga pernah menarik nurani yang jauh hanya sekadar agar aku punya pandangan yang lain. Tapi tidak berhasil. Aroma cinta itu begitu kuat, uapnya bisa membutakanku, maka aku memilih. Hanya memilih jalan satu-satunya. Cinta itu memberi banyak bayangan semu yang bertebaran di sekeliling bentuk aslinya. Aku menolak memilih bayangannya, Aisyah.”

Gadis itu terdiam. Diamnya itu, aku artikan bahwa dia mulai faham apa yang aku maksudkan. Tidak ada niat sedikitpun untuk mendesakkan keinginanku terhadap perasaannya. Aku benar-benar memberinya ruang yang leluasa untuknya bergerak. Aku tidak hendak egois.

Bagiku, kepercayaan akan memupuk cinta, kejujuran akan menyuburkan cinta, tanggungjawab akan mengikat cinta, penghargaan dan penghormatan akan memperindah cinta. Tetapi, penghianatan akan meracuni cinta, dan kebencian akan membunuh cinta. Cukup itu.

Gadis itu tersenyum diam-diam. Dia menoleh padaku, memandangi wajahku, seperti mencari-cari sesuatu di sana. Merasa telah menemukan yang dicarinya, wajahnya ditundukkannya lagi, tetapi wajahnya masih berhias senyum yang tadi. Senyum keyakinan kah?

Dimiringkannya tubuhnya, lalu pundakku disenggolnya dengan pundaknya. Aku menoleh, dia pun demikian. Pandangan kami bertemu, senyum kami beradu. Mata masing-masing dari kami kini seolah terbersit cahaya kepercayaan yang terang benderang.

Karena Aisyah tidak berkata-kata lagi, aku pun menarik keyakinan atas bahasa tubuhnya. Aku tidak ingin mengecewakan diriku dengan berfikir yang tidak-tidak terhadap prilakunya. Aku senang bahwa dia mengerti.

Jauh berkerlip di laut sana, bagang nelayan. Seperti cahaya kunang-kunang yang mendarat di air. Suasana indah ini karena langit begitu jernih.

Aku mengantarnya pulang. Perjalanan pulang  yang begitu berkesan. Gadis itu merapatkan tubuhnya dibelakangku, dan mengeratkan pelukan tangannya di pinggangku, saat motor yang kami tumpangi aku geber kuat-kuat. Angin yang menyisir di kiri-kanan kami begitu berat.

Sebelum Aisyah naik ke rumahnya, dibawah bayangan pohon, kukecup keningnya. Dibalasnya dengan memelukku sebentar. Bulan begitu terang malam itu, dan aku tidak ingin mengambil resiko, terlihat ayah gadis itu, saat anaknya kukecup.

Malam ini adalah malam awal dari hari-hari berikutnya yang penuh kisah indah, romantis dan berjiwa. Belum pernah aku melalui waktu yang dipenuhi aroma wewangian yang merebak dari sela-sela perasaan kami. Tiada canda yang terlewat, tiada tawa yang terbuai, tiada rasa yang terbius, dan tiada kisah yang tak diceritakan. Semuanya…semuanya menyatu dalam ritme yang teratur.

***

Itulah alasan, mengapa aku enggan bangun pagi ini, dan di pagi-pagi sebelumnya. Aku enggan untuk pulang, walau masa liburanku hampir pungkas. Aku lebih memilih bertahan mendengar gerutuan dan teriakan bibi Saripah di pagi hari, dari pada hendak meninggalkan kampung ini, pulau ini, selekas yang seharusnya.

Aku jadi mengundi banyak hal. Aku makin pias akan pengertian kata ‘pulang’. Kata ini, hilang makna karena terbungkus perasaan yang mengharu-biru. Bodoh tampaknya, jika membuang logika dengan memperturutkan suasana ini.

Tapi tunggu dulu. Ada alasan mengapa aku tidak harus bergegas pulang hari ini. Aku masih ada masa dua hari lagi, dan sungguh…sungguh aku akan gunakan sebaik-baiknya. Kami telah berjanji akan mengulang kisah yang semalam.

Berjanji akan mengarungi bahagia itu bersama. Waktuku sangat pendek, dan aku pasti masih akan menunggu lebih lama untuk kembali melihat wajahnya, tawanya yang renyah, caranya menyembunyikan senyum.

Kami akan ke Sagori hari ini, kami akan menunggu sore di ujung pulau itu. Dan, kami sungguh-sungguh melakukannya.

Saat ini, aku dan Aisyah sedang menanti mentari mundur perlahan-lahan dari tahtanya sedari siang. Perlahan-lahan, mentari turun, membenam di ufuk. Merah sekali. Mentari benar-benar tanak di garis horison.

Kami duduk berdua. Kepala Aisyah menumpangi bahu kananku. Lengan kirinya melingkari tangan kananku. Kami sudah berjanji. Kami menepatinya, bersama, disini, menanak Mentari di ujung Sagori. []

——————————-

Glosarium

Tinaate: bahasa moronene berarti bibi, tante

Mbue: bahasa moronene berarti nenek, eyang

Gunung Sambapolulo: nama sebuah gunung di pulau Kabaena

Travel Bag: semacam tas berbentuk kotak, koper dengan beragam ukuran

Backpack: semacam tas bertali lengan yang kerap disandang dibelakang tubuh

Doz: dozen, ukuran 40 buah, biasanya dari kertas tebal

Slayer: sejenis sapu tangan besar segi tiga/segi empat yang biasanya untuk membebat leher

Bengong: takjub

Bengek: nama penyakit sejenis asma

Po’awu: nama sebuah tanjakan dengan kemiringan ektrim di sekitar kaki gunung Batu Sangia, akses menuju tiga buah kampung

Moronene-Tokotua: nama suku tertua di Sulawesi Tenggara

Zak: kantong berukuran besar; biasanya terbuat dari serat goni, plastik, atau kertas

Carrier: semacam tas besar dalam ukuran liter, biasa digunakan para pendaki gunung

Ranggi: wadah besar berlubang; biasanya terbuat dari bambu, rotan, atau plastik

Tanak: masak

Bagang: rumah bambu atau kayu yang menjulang di tengah laut, tempat nelayan memerangkap ikan

Geber: laju, pacu

Sagori: nama sebuah pulau kecil di mulut selat Spellman, tepat di depan pulau Kabaena; pulau indah berpasir putih

Horison: ufuk, kaki langit, semacam batas antara bumi dan langit


%d blogger menyukai ini: