Tag Archives: marah

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

[Cerpen] Kehendakmu-lah yang Jadi, Bukan Kehendakku

Oleh : Alex Putra Siosar

Paint: Mothers Love by Kolongi

SIANG itu, ibu menghampiriku di teras. Lalu, ibu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Saya membuka amplop itu. Isinya sebuah foto usus ibu. Hasil foto  dari Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan. Saya terkejut. Mengapa tidak. Rumah sakit itu menvonis ibu terkena penyakit kanker. Kanker usus. Dan dalam amplop itu ada sepucuk surat rujukan kepada Rumah Sakit Umum Cipto Jakarta. Menerima isi amplop itu, betapa hancurnya hati kami. Saya menatap wajah ibu. Ia terlihat pucat. Bibirnya terkatup rapat. Dan ibu terlihat takut.

Sepulang dari Rumah Sakit Cipto Jakarta, resmilah ibu menjadi penghuni Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Ada selang waktu ibu berganti rumah sakit. Kadang opname di Rumah Sakit Umum Adam Malik dan pindah lagi ke Pirngadi Medan. Hal ini, karena kelengkapan medis rumah sakit tersebut. Di kamar VIP Rumah Sakit Umum Pirngadi, ibu menjalani hari-harinya dengan berbaring. Infus, menggari tangannya. Terapi kemo, membuatnya gemetar. Dan obat-obatan membuat lidahnya semakin pahit. Belum lagi, dengan selang kantongan yang menembus ususnya untuk pembuangan air besar. Selang kantongan itu membuat jantung ibu terdengar bagaikan gendang bertabuh bertalu-talu. Genderang perang. Perang melawan kanker. Begitu juga dengan air mata ibu yang selalu membasahi bantal tempat kepalanya terkulai.

Di kamar itu, tak ada orang sakit selain ibu. Bapak memilih kamar VIP ini, karena ia tak mau mengganggu orang sakit yang lain. Kanker stadium IV yang diderita ibu, tak jarang membuatnya meronta-ronta menahan sakit. Bila ditilik dari biaya, sangat mahal. Biaya dokter, obat-obatan dan kamar, setiap harinya seputaran enam ratus ribu rupiah. Jumlah ini bagi kami sangatlah besar. Tapi, bapak tidak pernah menyerah. Kami rela bapak menjual perlahan-lahan tanahnya. Dan bapak tidak pernah mengemis kepada kedua abangku yang tinggal di Amerika maupun Palembang.

Saya sering merasa pilu melihat ibu. Keluhnya, tangisnya dan jeritannya yang meronta-ronta menembus dinding serta langit-langit kamar itu. Obat bius tak ampuh lagi bagi ibu. Dokterpun hampir mati akal meredam pemberontakan ibu terhadap penyakitnya. Apalagi perawat, sering menahan perasaan melihat amukan ibu. Mengapa tidak. Ibu selalu marah-marah pada perawat-perawat itu dan menyuruh mereka, supaya membuang saja semua obatnya. Ibu berpeluh, obat-obat itu hanya membuat perutnya mual dan gembung.

“Sudahlah. Saya tak kuat lagi. Akhiri saja hidupku ini,” kata ibu.

Delapan bulan berjalan, ibuku menginap di rumah sakit. Selama ini saya dan adikku tak pernah jenuh menemani ibu. Kami tak merasa sungkan lagi, ketika ibu meminta pispot, mengganti baju dan sarungnya. Memang perawat di rumah sakit ini baik-baik dan sangat cekatan. Tapi, kami merasa lebih cepat dari mereka. Seperti kecepatan ibu, ketika merawat kami semasa kecil.

Ibu opname di rumah sakit, membuatku harus cuti kuliah. Saya tak bisa konsentrasi di kampus. Pikiranku selalu bercabang. Mengingat ibu selalu menahan sakitnya, membayangkan bapak yang sudah 65 tahun dan anakku yang masih berumur 6 bulan. Saya juga harus mencari nafkah untuk keluarga. Sementara, istriku belum kuat dan harus merawat anak kami yang masih mungil. Dengan keadaan ini, sering membuatku depresi. Dada ini terasa sesak. Dan kecemasan tak jarang menghantuiku. Oleh karena ini, istriku, Ribka, sering membujukku untuk berdoa dan ke gereja.

***

Hari Jumat, sekitar Pukul 13.00 Wib, saya pamit pada ibu. Ribka, istriku, menggantikan saya menjaga ibu. Dimana tadi, ia menitipkan anak kami, Angelia, pada Bu Aminah. Ibu ini adalah tetangga kami yang sangat baik. Ketika Tahun Baru, ibu selalu menghantarkan aneka roti, rendang lembu, sayuran dan nasi pada Ibu Aminah. Begitu juga pada saat Hari Raya Idul Fitri, Bu Aminah menghantarkan aneka masakan pada kami.  Ibuku dan Bu Aminah sudah bersahabat sejak gadis. Mereka sama-sama sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Medan.

“Ibu, saya pamit dulu, ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. Ibu seolah ingin berbicara. Tapi, lidahnya tak kuat bergerak. Hanya matanya menatapku. Dan sesekali berkedip lemah.

“Nanti saya bawakan jeruk untuk ibu,” kataku lagi sambil mencium keningnya.

Dengan berat hati, kutinggalkan ibu dan Ribka di kamar itu. Sudah seminggu ini, kondisi ibu terlihat semakin buruk. Jeritannya menahan sakit tak terdengar lagi. Hanya gerakan bola matanya menunjukkan rasa sakitnya. Dan denyutan urat di lehernya yang begitu kencang, seolah menunjukkan pemberontakannya terhadap kanker.

“Hati-hati di jalan ya, Bang. Sepertinya hari mau hujan. Langit gelap sekali,” kata istriku.

“Iya. Jaga ibu kita, ya…” sahutku.

Hari ini, saya ada janji dengan Pak Thomas. Ia adalah seorang pendeta di gereja protestan. Pak Thomas saya kenal, ketika saya membeli obat di apotik. Dan ia juga membeli obat untuk istrinya yang sedang bersalin. Pendeta muda ini tampaknya sangat bersahabat. Gaul. Enak sekali berbicara dengannya. Tak diduga, ia mengundangku untuk datang ke rumahnya. Sebenarnya saya ragu memenuhi undangan Pak Thomas. Karena saya merasa tak layak berkunjung ke rumah seorang pendeta. Apalagi, rumahnya di samping gereja. Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk memenuhi undangannya. Mungkin, karena kami cepat akrab.

Niatku bertemu dengan pendeta itu, terhalang. Hujan turun dengan deras. Awan yang sudah beberapa waktu lalu bergerombol hitam bersama kilat, mencekam Kota Medan. Dan suara petir terdengar meledak-ledak. Di jalan depan rumahku, sudah mulai terlihat air meluap. Sayapun jadi terkurung di dalam rumah bersama bapak.

Saya masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, saya mengambil alkitab di meja. Ada tiga puluh menit saya membacanya. Setelah itu, saya ingin berdoa. Ada kerinduan untuk berdoa kepada Tuhan. Seiring dengan itu, sayapun jadi teringat dengan doa ibu, ketika adikku, Antonius, sakit. Antonius sakit demam tinggi, sampai empat puluh satu derajat celcius. Seminggu ia terkapar di rumah sakit. Sampai matanya mendelik-delik. Bola matanya terus naik ke atas. Dan doa ibuku saat itu, doa penyerahan diri.

“Tuhan…. Jadilah kehendakMU dan bukan kehendakku.” Akhir doa ibu saat itu. Dan sampai saat ini, Antonius tumbuh dewasa. Ia selamat dari maut.

Saya kagum mendengar doa ibu. Rupanya Tuhan itu tidak jauh. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini, yaitu DIA di atas langit. Pikirku, Tuhan hanya sejauh doa. Mengapa saya tidak berdoa ?

Akhirnya, keinginanku tadi hanya sekedar berdoa menjadi sebuah tekad. Saya duduk di tepi tempat tidur. Saya melipat tangan. Kepala tertunduk. Dan kututup kedua mataku. Lalu, saya berdoa.

“Terimakasih Tuhan,

Engkaulah yang membawaku dalam doa ini.

Dengan kerendahan hati,

Saya datang ke hadapanMU.

Dan, ampunilah kesalahan serta dosa-dosaku

ya, Bapa.

Tuhan, ibuku sakit

Ia sangat menderita.

KehendakMUlah yang jadi, bukan kehendakku.

Dalam nama Bapa di Sorga, Yesus Kristus, saya telah berdoa

Amin.”

 

Selesai berdoa, saya kembali meraih Alkitab. Mungkin keinginan ini, karena rinduku masa kecil. Ketika ibu membawaku ke gereja untuk mengikuti kebaktian anak-anak dan remaja (KA/KR).  Di sana ramai sekali anak-anak dan remaja. Kami bernyanyi, berdoa, membaca firman Tuhan dan mendengarkan cerita rohani dari guru KA/KR. Indah dan damai sekali. Namun, sejalan dengan pertumbuhanku, sejak duduk di bangku SMA saya jarang sekali mengikuti kebaktian rohani. Ibu sering menegurku. Tapi, saya tak mengubrisnya.

Di ruang tamu, telepon berdering. Saya segera menghampirinya. Tapi, kalah cepat dengan bapak. Rupanya bapak dari tadi sudah duduk di kursi tamu.

“Hallo….,” sahut bapak. Hanya satu menit bapak mengangkat telepon itu. Dan dengan lunglai ia meletakkan gagang telepon itu.

“Ibu sudah meninggal,” kata bapak.

Mendengar itu, tiba-tiba saja hentakan yang begitu keras dan cepat seperti kilat menghantam jantungku. Rasanya, baru saja suara petir mengoyak gendang telingaku. Hujan yang deras, seolah menghanyutkan harapanku. Tidak. Tidak ! Saya tidak menerima ini, batinku memberontak.

Segera kuraih telepon. Seakan tak tak percaya, saya menelopon Ribka, istriku.

“Keadaan ibu bagaimana ?” kataku. Ku dengar hanya isak tangisnya.

“Ibu bagaimana ?” kataku lagi.

“Ibu sudah meninggal, bang…” sahut istriku dengan terbata-bata dan isaknya.

Mendengar jawaban itu, saya terdiam. Bisu. Rasanya sepi sekali. Seakan saya berada dalam lorong yang gelap dan hanya suara kalelawar-kalelawar berdesit. Sarang laba-laba mengurung langkahku.

Dan saya kembali memencet nomor-nomor di telepon.

“Hallo…,” Kudengar suara menyahut dari seberang sana.

“Pak pendeta, ibu sudah meninggal,” kataku.

Ia tak menjawab.

“Pak. Pak pendeta, baru saja saya berdoa. Saya katakan pada Tuhan, kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku.”

Lalu, dari telepon itu menjawab.

“Kehidupan dan kematian ialah rahasia Tuhan. Penyerahan diri ialah muzizat.” kata pendeta itu yang membuatku tak mengerti.

“Andre, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu. Jangan larut dalam kekecewaan dan kesedihan, ya. Saya adalah sahabatmu,” kata pak pendeta.

Saya ingat lagi doa ibu, ketika adikku sakit. Dalam doaku dengan ibu sama, yaitu kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku. Tapi, mengapa dengan doaku ? Mengapa Tuhan mengambil nyawa ibuku ? Apakah salah doaku ? Pikiranku terus berkecambuk, antara perasaan dan logika.

“Andre…,” kata bapak memecah keterpakuan.

“Hati bapak begitu hancur dengan kepergian ibu. Ibumu adalah istri yang sangat baik bagi bapak. Rasanya bapak tidak menerima keputusan ini yang diberikan Tuhan pada keluarga kita. Dan bapak tahu, kamu sangat kecewa. Kamupun tidak menerima semuanya ini,” kata bapakku.

Saya diam. Saya duduk dengan lemah di kursi.

“Mungkin Tuhan punya rencana untuk keluarga kita dengan kepergian ibu,” kata bapak sambil memelukku.

“Bapak rela, anakku,” kata bapak lagi.

“Tidak, Pak…Saya ingin ibu melihatku diwisuda.”

“Ibu sudah terlampau menderita dengan sakit kankernya. Bapak melihat dan merasakan, jiwa kita sudah mulai rapuh menghadapi penderitaan ibu. Sudahlah, nak. Mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik untuk ibu dan keluarga kita,” kata bapakku lagi.

“Tuhan, mengapa KAU tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan kuliah, agar ibu melihat saya di wisuda ? Dan apakah kelak, anakku juga doanya sama dengan doaku saat ini ? Tuhan, saya takut. Takut, saya juga akan mengalami penderitaan yang sama dengan ibu.” Riak batinku sambil menatap tajam pada salib dan patung Yesus yang tergantung di dinding ruang tamu.

Tiba-tiba, mataku terasa gelap. Saya terkulai di kursi. Dan sekejap, saya merasakan sunyi sekali. Lalu, tak merasakan apa-apa lagi. Entah berapa lama, saya merasakan ini. Sampai saya terbangun dan tergeletak di tempat tidur. Dan saya melihat anakku Angelia tertidur pulas di sampingku.

Rumah bapakpun tidak sesepi tadi. Kini, saya mendengar suara tangis orang-orang di ruang tamu. Saya segera ke sana. Dan saya melihat ibu tertidur di kasur beralaskan tikar.

“Ibu….! Ibu…..!” tangisku sambil memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.

Air mataku, tak diusapnya. ***

Medan, 2 Juli 2011

 

Catatan :

Cerpen ini tergerak dari cuplikan Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Sebenarnya saya tidak ingin menulis dan mempublikasikannya, tapi saya prihatin dengan kanker. Penyakit yang perlahan-lahan mematikan. Membuat orang-orang yang mengalaminya sangat menderita. Apalagi, kanker bisa menurunkannya pada gen si penderita. Nama dan tokoh dalam cerpen ini adalah fiktif.

Alex Putra Siosar


Serial Sobarudin: SMU Antariksa

Oleh Fakhrie Sadah

 

PAGI ini Sobarudin datang lebih awal. Sambil mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, sobar menyenderkan punggungnya pada gerbang sekolah yang telah terbuka setengah. Siapa lagi kalau bukan Adun si penjaga sekolah yang buka. Sobar menyapu pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Di kejauhan terlihat Adun sedang membuka pintu kelas satu-persatu. Melihat sekolah yang telah menjadi lahan abdinya selama sepuluh tahun terakhir ini, sobar jadi senyum-senyum sendiri..

SMU Antariksa mempunyai relief bangunan berbentuk persegi panjang. Mengelilingi lapangan volli dan Basket, juga digunakan untuk upacara bendera setiap seninnya. Dari gerbang sekolah, di sebelah kanan terlihat laboratorium serbaguna hingga ke sudut persegi. Disebut laboratoriun serbaguna kerena segala aktifitas yang berbau praktek seperti praktek biologi, fisika, kimia, bahasa hingga komputer dilakukan disini. Jangan ditanya sarana prakteknya, apalagi metode praktek yang diterapkan.

Di Labor ini hanya terdapat seonggok tengkorak tua yang sudah hilang beberapa rusuknya, sebuah CPU rusak untuk obok-obok TIK dan tipe butut untuk listening bahasa. Di dinding bagian dalam labor terlihat bermacam-macam poster mulai dari isi perut hewan, internet masuk desa hingga peringatan ancaman global warming. Toh, pada perjalanannya labor ini lebih serinmg digunakan sebagai tempat musyawarah antar sekolah terdekat, dengan masyarakat maupuin walimurid.

Di samping labor terdapat ruang kepsek, keduanya membentul letter eL. lalu ruang dewan guru, gudang, kelas tidak terpakai dan ruang kelas satu hingga kelas tiga yang di pisahkan oleh Musholla, toilet , dan perpustakaan.

Yang paling bisa membuat Sobar betah berlama-lama di sekolah itu adalah barisan pohon kenanga yang tumbuh teratur di titik-titik strategis setiap bangunan yang ada. Keseluruhan jumlahnya ada 25 pohon. Bunganya hijhau kekuningan , bergelung seperti bintang laut dan menyebarkan aroma wangi yang menghanyutkan. Pohon yang masih famili annonaceae ini tergolong rajin berbunga. Dan entah siapa yang memulai, sayup-sayup terdengar “SMU Kenanga” adalah nama lain dari SMU Antariksa (Selengkapnya di bab ‘KENANGA’).

Gudang dan sebuah kelas yang tidak terpakai terletak di sisi kanan ruang dewan guru. Tidak ada yang istimewa dari gudang sekolah. Hanya berfungsi untuk menyimpan potongan-potongan kursi atau meja patah. Yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar memasak daging saat acara-acara besar di sekolah seperti Maulid Nabi atau hari meugang menjelang Ramadhan (Selengkapnya di bab ‘maulid’).

Lebih menarik membayangkan Kelas tidak terpakai yang menyatu dengan gudang. Kelas ini dinamakan ‘Kelas Sunti’. Kelas Sunti tidak pernah digunakan sejak awal berdiri SMU Antariksa pada tahun 1968, berhantu katanya. Wejang Mak sunti, tokoh spiritual yang terpandang di desa Antariksa memang sangat dirunut warga. Maklum, masyarakat desa Antariksa yang mayoritas berprofesi nelayan itu memang lekat dengan hal-hal berbau mistis, keramat dan pantangan. Termasuk pantangan menggunakan kelas ini. Menurut Mak Sunti, jin penguasa pantai Antariksa pernah menemuinya dan meminta kelas itu sebagai tempat anak-anak jin belajar. Bahkan setelah Mak Sunti wafat pada tahun 1972, wejangannya tetap dijalankan. Dan kelas inipun dinamakan kelas sunti’.

Seiring masa yang terus beranjak dewasa, banyak yang memicing sinis terhadap sikap komite sekolah yang tetap mempertahankan wejangan Mak Sunti. Hingga pada tahun 2008 teguran keras pernah datang dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten. Karena tidak ada tanggapan dari komite sekolah. Dinas Pendidikan kabupaten menurunkan staftnya untuk turun lapangan dan membuka paksa segel mistis tersebut. Akhirnya komite sekolah terpaksa mengangguk ketika ultimatum dikeluarkan.

“Kelas sunti harus digunakan, atau komite dan perangkat sekolah akan diganti!!”. Bisa saja komite sekolah berkeras hati. Toh seluruh warga Desa Antariksa siap membela mereka. Namun ternyata, dalam lubuk hati mereka terselip rasa penasaran atas keganjilan ini. “Bagaimana bila wejang Mak sunti dilanggar?” (Selengkapnya di bab ‘Sunti’).

Entahlah, Sobar tidak sepenuhnya percaya dengan mistis. ia juga tidak sepenuhnya mengingkari. Alam ghaib pada kenyataannya memang ada. Dan kawasan pesisir termasuk territorial favorit paraa jin penghuni alam ghaib.

Di depan gudang dan kelas sunti, tumbuh beberapa pohon jambu bol yang rimbun. Memberikan kesejukan sekaligus menghalangi hujan dan sinar matahari langsung menerpa deretan sepeda dan motor yang terparkir disana. Ya, halaman kosong di depan gudang dan kelas sunti digunakan sebagai tempat parkir roda dua.

Sebagaimana sekolah pedesaan yang umumnya asri, SMU Antariksa juga terasa teduh dengan pepohonan. Selain puluhan pohon kenanga yang semerbak, tiga pohon jambu bol yang rimbun, taman mungil di depan kantor kepsek dan taman border di sepanjang pagar depan sekolah. Di depan Musolla dan perpustakaan Terdapat pula dua pohon pala yang menjulang tinggi hingga puluhan meter.

Konon katanya pohon ini sudah berumur ratusan tahun. Beberapa LSM yang datang ke sekolah acap menyarankan agar pohon pala itu ditebang saja. Alasan mereka pohon pala ini terlalu tua. Selain tidak produktif atau tidak akan berbuah lagi, dikhawatirkan pohon itu suatu saat bisa tumbang dan mencelakakan para siswa. Apalagi di Aceh sering gempa akhir-akhir ini. Sobar setuju, beberapa guru lain juga setuju. Tapi, lagi-lagi para tokoh masyarakat dan sesepuh desa yang sudah merasa menyatu dengan SMU Antariksa menentang rencana penebangan itu habis-habisan, bisa kualat katanya.
Meski subur dengan pepohonan dan aroma mistis, SMU Antariksa jauh dari kesan Angker.

Justru yang terasa adalah nuansa klasik yang menentramkan jiwa. Apalagi saat musim hujan. Menjelang hujan turun, gerombolan burung kecil terbang rendah memenuhi area sekolah. Para bintang menyebutnya burung hujan. Sesekali salah satu diantara mereka nyelonong ke dalam kelas, dan langsung diteriaki para bintang, “Tangkap.., tangkap..!!”. Saat hujan deras menghantam bumi, beberapa bintang terlihat lari-lari kecil mengitari lapangan olah raga. Hehe, itu pasti ulah Pak Bruno. Semua guru dan bintang sudah hafal tabiat guru fisika yang hobi menghukum ini (Selengkapnya di bab ‘Hukuman’).

Pak Bruno bukan tidak tahu bahaya hujan yang menerpa tubuh secara langsung. Tapi, untuk anak-anak pantai ini hujan hanya mengelitik daya tahan tubuh mereka. Makum, mereka sudah akrab dengan badai laut sekalipun (Selengkapnya di bab ‘Melaot’). Dan di penghujung hujan, kenanga itu makin semerbak menebar aroma.

Selain itu, SMU Antariksa juga menyimpan sejuta cerita tentang fenomena dan intrik dalam dunia pendidikan (Selengkapnya di bab ‘Diam’, ‘Akrab’, ‘Marah’). Belum lagi sekelumit masalah eksternal dan internal yang mempengaruhi citra sekolah (Selengkapnya di bab ‘Pasar’, ‘UN’). Ada juga cerita tentang pribadi-pribadi para guru dan bintang yang istimewa (Selengkapnya di bab ‘Sobarudin’, ‘Faiz’, ‘Sano’, ‘cinta’)

“Selamat pagi Pak..!!” Teriak beberapa bintang membuyarkan lamunan sob ar
“Pagi anak-anak..!” Jawab Sobar yang langsung menguasai diri
“Tin-tin”, Klaksson mobil Pak Teguh sang kepala sekolah kembali mengejutkannya.

Bergegas sobar membuka gerbang lebar-lebar. Mobil Pak Teguh memasuki pekarangan sekolah diikuti para bintang dan beberapa guru. Sobar kembali tersenyum lebar, “Selamat datang hati-hati yang bersih, selamat datang para pencari cahaya Tuhan..” gumannya, lalu menarik nafas dalam dan melepasnya perlahan-lahan.

 

[]

Biography :
Nama : Fakhrie Sadah
Lahir : Aceh, 28 April 1984
Aktifitas: Kuliah di KIFAL (Khartoum Institut For Arabic Language) Sudan


Di Bawah Pohon Pete

Oleh Dwi Klik Santosa

bulan pucat dalam jepretanku. foto : dwi ks, 6 agustus 2009; 23.09

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Entah karena apa

Mungkin disebabkan aku merasa tidak akan pernah lagi

Mendengarkan pengetahuan-pengetahuan indahnya

nada marahnya, cerita lucunya

bahkan isak tangisnya

Sungguh mati, aku merasa kehilangan

Dan sangat gusar kapan lagi akan menemukan

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Ketika banyak orang berebutan paling depan

hendak melepasnya menuju

Hanya bersender aku dibawah pohon itu

Sunyi dan sepoi ditemani angin bukit

Tersibak-sibak rambutku

Menggerak-gerakkan mata untuk luruh

dan mengucap doa yang tak seberapa fasih

“Tuhanku, hamba berbicara kini

Sebagai manusia rapuh

Makhluk yang suka sekali mengeluh

Banyak menuntut dan rajin membohong pada diri

Hamba ingin bersyukur kepadaMu, Tuhan

Hamba ingin curhat kepadaMu

Yang Kaupanggil hari ini, semogalah tunai kembali kepadaMu

Sedang makhlukMu yang sebatang dan berdebu ini

lapangkan jalannya untuk tegar menelusuri jejak-jejak itu”

[]

Cipayung Jaya, 5 Agustus 2010 : 22.4o


Begini Saja

Oleh Adhy Rical

bukankah kau akan menyayangi sungguh?
seperti kau gandeng tanganku riuh
di rumah panggung, perahu tanpa sauh
tentang nisan tetua, pusaka, dan petuah
yang lepas abad dan adab
juga surau tak berjejak kaki
dan pohon tumbang, makian aparat biadab
katamu, mereka hanya daki

bukankah kau akan mengirim surat?
tanpa cap jari dan syarat
janji-janji karat
di tanah lapang, panas memberat
entah, gemerlap bantuan dalam berita
tentang rumah panggung yang tenggelam
buatku tegap antri: latah bercerita
bahwa kami tak punya dendam

aku begini saja
buat perahu dalam rumah, pepucuk sawit yang mengair
tak sekolah: satu pensil jadi sepuluh
tak bisa marah. kami hanya mencatat syair
“hidup harus ditempuh”

Kendari, 2010


%d blogger menyukai ini: