Tag Archives: suara

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Adilah Perwira Secantik Malam Itu, Kak Rangga

Oleh Afrilia Utami

 

[Untuk Rangga Umara]

Aku mengenalmu seperti mengenal pada malam

Di sebuah bukit hijau berambut ikal.

Pada malam itu mulanya aku dingin dan heran.

Tapi ada tubuhku menjadi satu dihangat malammu

Banyak suara asing yang buatku pusing

Dari gua-gua tertawa. Juga kelelawar yang lupa cara

Membangunkanku pada malam adamu.

 

Kak Rangga, melihatmu mengingatkanku pada seorang perwira pasukan pramuka tadi malam. Saat itu aku tertinggal rombongan. Ada seorang pemuda gagah menghampiriku. Pada malam masih menimang sebuah ketertinggalan ramai. Lalu dibuatkannya Api Unggun dengan reranting kering yang bergugur daun. Api unggun indah itu telah menyala, sangat unggun yang anggun. Perlahan kau berkata pelan, tepat memandang dua mataku seraya ingin mengajak keduanya berbicara “Jangan takut, Dik. Malam ini harimau dan beruang sudah pulas tertidur disebuah ladang nirwana. Dan aku akan menjagamu.”  Sampai sekarang aku terus membawanya pada jam-jam malam. Dimanapun aku berada, bukan pada hutan sekali itu saja. Atau hanya pada malam rimba ditengah tatapan gerhana.

 

Jadilah perwira itu sekali lagi, Kak Rangga. Aku ingin melihat malam berbeda dengan gulita. Yang setiap heningnya kaumelagu tanpa henti. “Prok…Prok…Prok” tepukan tangan dengan semangat kau jadikan kunci nada untuk mengiring nyanyian karena kaulupa membawa gitar tuamu. Lalu kaulahirkan unggun-unggun baru yang lebih anggun.  Tiba-tiba pula ada bau gosong, ranselku terbakar atau sengaja dijadikan bahan bakar. Kaumalah menjawabnya seolah memang tertakdir. “Itulah yang membuatnya lebih anggun.. “

 

[]

03 November 2010


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [19]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Tiga Indera Kau Salah Kata (Lupa) ?

Oleh Afrilia Utami

/1/

Ada yang retak di kakimu

Di ujung kuku-kuku melulu malu

Termutasi. Ilusi mat(i) mengepala sakau

Di ekor bayang mu?

/2/

Dengarlah bisu di dua mataku. Tidak

Mempunyai sanak sejak kanak-kanak

Kau lupa beranak. Aku Lupa menanak

Kudus batu. Musaf pelepah perak tinta rangka

Tengkorak.

Jahiliah mu?

/3/

Hilang suara telinganya. Jangan tanya

Tiga wat terawat. Pengomposan UCAP, pembibitan

Tepat KATA. Hijau kaumata kacamata.

Semakin biang dinding gugur bunga rupa. (katanya)

Murah yang murahan, sayang…

Engkau Tangis dan ringis yang terus?

[]

12 September 2010


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [17]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Balada Laki-Laki Jantan

Oleh Dwi Klik Santosa

Nafasku laki-laki jantan. Perkasa karena serba liat urat dan ototku. Gahar dan keras suaraku, takkah niscaya ini kharisma manusia agung. Hohoho… Inikah takdirku ksatria. Megah disebabkan terlahir dari darah seorang raja. Pedang dan perang inilah serba mainanku. Siapa meragukan aku. Sedangkan kata-kataku… hohoho… Serasa-rasa gagah dan garda depan. Jangan heran. Jangan kaget… itulah nuansa serba indah karena terjalin dari caraku menaklukkan. Siapa itu lawan. Apa itu aral bagi mau dan hasratku. Hai, hai, hai.. Siapa kamu? Siapa kalian?

Akulah jejaka brilian. Kupahamkan dengan baik; adaku karena mutuku. Siapa tak kenal aku. Siapa tak gandrung padaku… Hohoho… Dan begitulah, seribu satu perempuan kukenali dengan baik. Dari keringat, geliat dan nafasnya. Dari cara jalan, macak dan nggombalnya. Senampak-nampak mahal, sebau-bau wangi, tapi… ah, palsu… palsu belaka. Putih, merah dan hitamnya adalah sapuan cakrawala yang luntur dari aslinya. Aduuuhhhh biyuuungg, Yundaku… Yunda Sembadra… Akulah laki-laki angin. Melayang-layang, mengawang-awang asaku terbang kini tanpa tali ikatan. Kemana terbangku, kemana rebahku. Aku mabuk, yundaku… Terjatuh kini dan kapan lagi bangunku.

[]

Pondokaren

22 Agustus 2010

: 05.2o

[]

Burisrawa namaku. Dilahirkan sebagai pangeran tampan, benih kemasyuran dari Prabu Salya ayahku dan permaisuri Setyawati ibuku. Ketiga kakakku adalah perempuan cantik-cantik. Dan kesemuanya diperisteri oleh tiga laki-laki bergelar raja besar. Takkah kalian percaya. Takkah kalian maklum apa arti bengalku… hohoho…



Malam Tidak Sedang Menangis, Dik…

Oleh Afrilia Utami

Adikku…

bayang gulita masih meredup tak menyisakan

menanti hari-hari diburu mati dinisankan sepi

laku elegi bluri yang hilang lagu

kini hanya kaku membisu bak hilang suara merdu

Lihatlah, sayang…

Purnama itu hilang setengah layang

Langit sana terlalu hitam menajam dan legam

Hanya selimut malam yang kian surut

Dingin dalam raut yang semakin larut…

Dengan bekas-bekas nikotin berkata pelan

Jangan menangis, manis

airmatamu tak mengenal tandus menghumus

kedua matamu masih menghijau dan memukau

sejumlah mendung, tak terbendung

yang mungkin tutupi, setengah serak

jingga dan biru pada gordin kelabu

kau jadikan irama berbisik terbang bahkan menyelam

di meja malammalam yang bermalam pada malam

maka,

cepatlah tertidur…

terpejamlah…

sebelum malam berikutnya menceritakan malam-malam lainnya.

20 Agustus 2010

[]


Surat Origami Untuk Sahabat Terindahku…

Oleh Afrilia Utami

: Rachel Qisthi Amelia

Hai Rachel, sahabat terbaikku. Apa kabar? Hmm…apa perlukah aku bertanya tentang kabarmu, sedang kutahu kabarmu selalu baik di sana, bukan? Ya, kau selalu baik, pastinya. Rachel, masih ingatkah kau denganku, aku sahabat kecilmu. Sahabat yang selalu temani sepimu, lengkapi waktu yang membosankan dan kita mulai belajar saling mencintai kebosanan. Kau tahu Rachel? Sudah hampir 13 tahun semenjak kepergianmu, tapi selalu saja ada bayangmu atau perihal kenangan kita dulu setia menari-nari terpatri dipikiran jiwa, bahkan celoteh senyummu, lambaian suaramu, atau ketika marahmu yang sulit terkendalikan menyulitkanku tuk mengenal siapa sahabat terbaikku ini. Tepat Hari ini, masih ingatkah, Rachel? Hari di mana kita pertama tersesat di sebuah hutan. Saat perkemahan gabungan umum, saat itu. Haha, ya, mengingat dulu selalu saja membawa tawa kecilku. Namun ada hilang yang mengambang hingga menjadikan hambar tawaku, saat ini.

Rachel…

Aku sangat ingin bertemu denganmu, meski lekas hanya sekilas, izinkanlah… sedikitnya tepiskan dulu tentang kangenku ini. Mengapa kerap kau alpa dalam setiap malam-malamku? Bukankah, dulu pernah ada ucap janji. Kita akan selalu bersama, lengkapi kekosongan dalam isi, dan isi dalam kekosongan. Bahkan kueja selalu namamu dalam gumamku selepas sepi yang mencaci, bahkan duka yang terbuka, atau senang yang melayang. Jangan kau tanyakan arti airmata ini. Setiap berkunjung di beranda rumah terindahmu, tempat sekujur jasadmu terkubur, batu nisan yang lengkap menuliskan namamu, tanggal masehi tempat lahirnya kau ke lubang bumi, hingga purba kembali pada liang bumi. Rachel… apakah belum cukup kejam kau menghukumku? Mengurai sepi sendiri, bahkan diamnya mematung di dekat dinginnya tungku yang membakar baranya api unggun. Banyak sekali, sobat. Apa yang sebelum tak pernah terpikirkan sama sekali, kini harus kujalani. Hampir perihal perbandingan dulu dan sekarang cukup besar skala perubahan, tapi kau takkan pernah berubah dalam riwayat hidupku, tetaplah menjadi sahabat terindah yang pernah kumiliki, bahkan memasuki jendela kedua ruang hati, dan diri ini belum berubah. Masih membenci akar-akar bilangan-bilangan, lelah beregoisasi omongan, dan belum mengenal apa itu dendam, mungkin hanya kadang ada dekap amarah yang merajam, namun tetap saja memaku dan kaku. Tak bisa kuangkat sebelah sepatu, meluncurkan kerasnya kepalan tangan, berbicara dengan noktah tinggi, marahku hanya diam, dan mencari ketenangan dalam heningnya sepi. Sambil berulangkali intropeksi diri. Tapi aku bisa melukai diri sendiri.

Sahabat…

Masihkah harus kumenunggu setiap celah waktu yang lupa terbukukan waktu, bahkan terlantar tak dijadikan kamus-kamus penjelasan panjang lebar. Aku tak mungkin menyalahkan seorang majikan yang duduk tenang di belakang Seorang Supir ceroboh itu, hingga harus membuat kita tak bersama dalam satu dimensi. Tapi nyatanya, prasasti tentang kita, belumlah berkarat, takkan lapuk termakan rayaprayap usia. Aku masih mengejanya dalam setiap detak nadi yang kian menghentak. Masih kumengumpulkan senyum-senyum layu yang belum mekar mengharum bayu. “separuh langkahmu, adalah langkahku. Maka di hela nafasmu adalah nafasku” ya, masih jelas akan ucap itu. Saat pengakuan disaksikan oleh separuh purnama, bahkan berjuta bintang, dan hanya dua kejora yang berbicara, kau dan aku. Kita.

Sahabatku Rachel…, jangan tanyakan arti airmata ini…

Hanya saja, seorang yang bernama Afrilia sangatlah merindukan seorang kawan terindahnya.

Merindukan, separuh langkah dan hela nafas jiwanya.

Maaf jika surat ini, terlanjur basah kuyup dengan air asin, berharap tinta-tinta ini tak samar tersalin.

[]

Sebuah Ruang Putih, 18 Agustus 2010

Dari sahabat separuh langkahmu.



Kekasih Kata-Kata

Oleh Dwi Klik Santosa

sepasang mata indah di kejauhan. hanya bisa kuraba lewat perasaan. sayup-sayup suaranya seperti menembang kidung. dan lalu, sosok-sosok itu beterbangan. halus lembut menyebulkan huruf-huruf yang berserakan. rajin kutangkapi. sibuk kuwadahi. lalu kususun menjadi kata dan kutalikan kemudikan sebagai kalimat. aha! sewujud karangan kuselesaikan. inilah syukurku, malam ini purnamamu tulus menembus harapku.

[]

pondokaren
21 januari 2010
23.1o


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [12]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


%d blogger menyukai ini: