Category Archives: Sajak & Puisi

[Puisi] Kelebat Rautmu Hinggap di Tiangtiang Nadiku

Oleh RBE Pramono

kelebat rautmu hinggap di tiangtiang nadiku
memberi geriap pada bulirbulir darah
berkejaran di rimba rasa
alun biola membawa segenap fikirku
pada masa kita berbaku asmara di tepi awan
kau kepakkan sayapmu dan tertebar kilau perca
runtuh bertabur
di tiapnya tlah kau ukir katakata rindu
karena penantian yang tak mengenal waktu

di tiapnya ingin pula kugambar rindu
karna rentang yang tak juga mengenal waktu
tapi jemariku gemetar oleh denging harpa
mematuki tiaptiap pori kulitku dan membangunkan
tiaptiap bulu tubuh yang tak pernah mengenal pagi

denting piano mengajakku kelana pada tiap gurat
rautmu, menyelip di antara relungnya dan melenakan
butirbutir perih seperti sajak senja
menimang anakanak burung di sarangnya

kekasih, alunkan kembali simfoni jiwa yang merindu
agar tertuntun langkahku menuju tempat berlabuh

Kaki Merapi, 4 Nopember 2011.

 


[Prosa] Lewat Kesunyian

Oleh Afrilia Utami

 

Hujan bagai sang harimau jantan

yang mencari di mana betina berada

Pakaian-pakaianmu selalu terlihat basah, dari jam dinding yang mengantarkanmu pulang ke ruang ini. Aku hanya ingin pergi, begitu yang dikatakan. Tapi mengapa tidak saja kau mengajakku pergi, mungkin bersamamu? Sementara berkali-kali kita lupa mengatakan ingin dan pergi. Yang bersentuhan dengan pengantar jauh.

Dinding-dinding yang berlumut. Karena menjauhkan sentuhan. Mungkin langit telah kusam. Itulah yang mengepulkan awan-awan gelap itu jatuh-jatuh di ruang kepala ini. Tiba-tiba petir menangkap gerutuan sang pemangkul waktu. Sampai kapan kita akan menyusuri jurang dan juram? Liriklah para rumput liar di halaman itu, menari-nari di bawah sinar bulan, yang belum tentu esok akan ada.

Cinta itu berlari-lari di ujung aliran airmata, dari tangan yang mendadak membuka telapaknya. Melimpahkan apa yang ingin dibicarakan, kepada pemangkul hujan. Tidak mengapa, sepanjang ini. Kita larungkan tentang tubuh kesunyian.

Kadang dari pikiran. Aku menyaksikan badai itu, memporak-porandakan bayangan. Kau mengunci hal-hal yang ingin kutidurkan di sampingmu. Tidak ada seorang pun yang tahu, dari balik kaca aku mengeluarkan kedua bola mataku. Untuk menelusuri apa itu senja, saat hujan kembali menggenggamkan seonggok nyanyian desa, di sebuah bukit hijau dengan sedikit manusia. Hanya ada sepasang harimau yang lapar.

Tiba-tiba aku teringat senyummu. Menjajahkan, belenggu yang telah larut, dan berulang kali mengkristalkan diri. Mungkin, ia memilih untuk hidup kembali. Tapi tali langit tak pernah putus, dan kita tak dapat membisikkan hal yang sama bahwa kita dapat melihat tali-tali itu.

“Aku hanya ingin pergi. Dan kau harus di sini. Menjaga ini, kisah kita. Agar kelak kita tahu. Mengapa aku, mengapa kamu. Lebih sering menikmati cinta dengan kesiap sunyi. Aku bukanlah awan gelap itu, dan jangan tanya mengapa, pakaianku selalu basah.” Kau pun mulai melangkah, di malam yang tua itu. Hingga senja kembali merapihkan hujan-hujan baru, meski membakar. Aku tetap mengantarkanmu.

karena,

kita selalu resah

mengapa hujan

tak kunjung reda

di hati kita.


[Puisi] Renjana Sunyi

Oleh RBE Pramono

senja menyapa, hadirkan angin pada rambutmu
sentakkan buncah pada kolam hasrat yang tibatiba
bergolak oleh lompat anakanak bermain air
aroma tubuhmu bangunkan beribu letup
di simpulsimpul syaraf
seakan adonan bubur pada titik didihnya
tanpa suara

aku terenjana

sejenak aku mabuk pada kilat kerling
merencah kepala; membawaku pada kemarau
dengan sungaisungai menadahkan tangan
dan tanahtanah rekah tengadah
berkata kepada langit, “cucurkan hujan pembasuh luka”

hening

kerontang sudah ilalang di ladang
tempat kita dulu bersua pandang
jejakmu dan jejakku tak lagi nampak bersilangan
karna debu dan layu dedaunan

lewat masa berganti
belati ini tak pernah mau berhenti
menusukkan sunyi

Kaki Merapi, 20 Oktober 2011


[Puisi] Yang Ke Tiga Puluh Satu Kalinya

Oleh Fahmi Faqih

– ultah ella

untuk ke tiga puluh satu kalinya
ia datang lagi padamu
ia pewarta yang baik
dan aku – juga kawan-kawan kita
selalu suka padanya

tapi ini kunjungannya yang ke tiga puluh satu
dengan kabar paling buruk
di antara sekian kabar
yang pernah dibawanya
meski aku – juga kawan-kawan kita
tetap setia mencintainya

kunjungan ke tiga puluh satu
adalah cerita tentang pagi
yang tidak perawan lagi
cerita tentang pagi
yang diperkosa berkali-kali
oleh jam weker keparat
atas perintah seorang majikan
bernama kolam renang
yang airnya berwarna biru palsu
juga seperangkat alat fitnes
yang dengan sinis
mengejek timbunan lemak
di lengan dipinggulmu
yang tak lagi ramping dipeluk itu

kunjungan ke tiga puluh satu
adalah cerita tentang burung kecil
yang tak lagi kecil lagi
burung kecil yang gigi ginsulnya berdarah
setelah sikat gigi tergesa-gesa
menyikat mulutnya
di pagi yang tak perawan itu

kunjungan ke tiga puluh satu akhirnya
adalah cerita tentang hari-hari
yang tak lagi memberi kesempatan
pada hangat pertemua
hingga kau jadi kesepian

*) Fahmi Faqih, dilahirkan di Banjarmasin pada 26 November. Otodidak. Menulis esei dan catatan reportase di berbagai media cetak dan online. Puisi-puisinya terhimpun dalam Antologi Malam Sastra Surabaya (MALSASA 2005, 2007, dan 2009), Pasar yang Terjadi Pada Malam Hari (Antologi Penyair Muda Jawa Timur 2008), dll. Saat ini membagi waktu antara Surabaya-Bandung sebagai penulis lepas.


[Puisi] Tuhan

Oleh Andika

 

Ia berjalan menyusuri jalanan panjang
Aku dibawa bersama dengannya
Digendong tepatnya
Sambil dielus-elus
Jalannya cepat, gelisah
Setiap bertemu orang, ia berhenti
Lalu bertanya, “Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku uangku,” jawab si lelaki necis. “Ia berikan aku kenikmatan dan kebahagiaan.”
“Tuhanmu siapa?” tanyanya lagi. Sekarang pada gadis pesakitan.
“Tuhanku obatku. Ia yang membuatku tidak lagi sakit kepala.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku atasanku. Ia yang menggajihku.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku pengetahuan. Ia memberikan alasan-alasan rasional.”
“Tuhanmu siapa?”
“Tuhanku aku. Aku yang menentukan jalan hidupku, tidak bergantung pada siapapun.”
Terus ia tanyakan itu sampai tak ada satu pun yang ia temui.
Langkahnya pun terhenti. Tangannya juga tidak lagi mengelus-ngelus tubuhku.
“Lalu Tuhanku? Ke mana harus aku cari Tuhanku?” ia bertanya lemah.
“Ah!” ia memekik. “Aku baca saja Al-Quran. Kalau baca itu, katanya aku bisa merasakan Tuhan, bisa menemukan Tuhan. Aku baca itu saja. Mungkin aku bisa merasakan Tuhan, menemukan Tuhan. Ya push?”
“Miauuuu…”

Bandung, Kamis, 13:46 wib


[Puisi] Persembahan Cinta

Oleh Sang Majhul

Cosmic Sufi (foto: flickr)

Rindu mengantar padanganku di sore ini.
Saat jejak-jejak waktu terurai bersama gerimis putih.
Syairku terkubur pada sebuah ungkapan, lalu mati berkafan bingkai zaman.
Pilu bertasbih, duka berdzikir.
Kalbu berpetuah, untuk sebuah persembahan cinta kala kembang purnama merekah indah.
Haramkah…rasa ini di hati ini, yang begitu lebat mengguyur hati.
Menumbuhkan cinta dan kerinduan pada sang Rabbul ‘Izzati.
Haramkah…rasaku, jika merindukan surga-NYA bersamamu.
Cintaku berada diantara lantunan rindu yang tak bermata. Sepi mengguyur, sesal menerpa. Nalarku meronta, akalku luruh tersentuh air mata kemudian basah. Bumi dan langit terisak menahan duka kemudian pecah berantakan memaknai sebongkah persembahan cinta.


[Puisi] Dalam Dekapan Lembayung di Penghujung Oktober

Oleh Aiman Bagea

Lembayung (foto: flickr)

Lembayung

Dalam dekapan lembayung di
penghujung Oktober ;
Aku kaku, beku dalam cumbuan
subuh yang bergetar
Dada menderu-deru
Wajah di belai sepoi angin, mengalir
dalam kotak-kotak sepi

Aku hanya rindu masa lalu …..
Saat kudekap dan kecup aromamu
Saat bersama menatap kening
bebukitan
Yang tertoreh merah sang bayu

Aku hanya ingin di cumbu rindu …..
Di hari-hari yang terus berloncatan
Ingin dapat menangkap halai kata dan
kisah dengannya
Untuk kemudian menyelipkan di butir
senyumku
Agar dedaunan tahu, bebutiran
embun tahu
Aku disini, di mulut jendela
Menantimu turun dari bulat rembulan.


[Buku Baru] Kitab Radja-Ratoe Alit ~ Antologi Puisi 50 Penyair Indonesia

TERBIT 17 AGUSTUS 2011

 

Kado Untuk Republik:

Kitab Radja-Ratoe Alit ~ Antologi Puisi Alit 50 Penyair Indonesia

Tim Editor: Adri Darmadji Woko, Dharmadi,  Kurniawan Junaedhie & Rahadi Zakaria

Pemrakarsa: Prof. Dr. Prijono Tjiptoherijanto

Perancang Sampul: Hapsoro Ardianto

Tebal  550 halaman. Hard Cover.

Puisi alit adalah puisi pendek yang hemat kata, dan bebas dari berbagai aturan  seperti, misalnya,  haiku yang mengharuskan menggunakan kaidah-kaidah tertentu. Kitab Radja – Ratoe Alit menghimpun 750 puisi alit dari 50 penyair  dari berbagai generasi di Indonesia.  Para penyair yang termaktub dalam antologi ini datang dari berbagai kalangan.  Ada birokrat, wakil rakyat, guru, dosen, pegawai negeri sipil, pengusaha, ibu rumah tangga, profesor, doktor, dokter, pelukis, wartawan, aktivis, penyair beneran, sampai  pengangguran.

50 penyair yang karyanya  dimuat dalam kitab ini adalah: Aant S. Kawisar, Acep Zamzam Noor, Adri Darmadji Woko, Ana Mustamin, Anisa Afzal, Ariana Pegg, Arieyoko, Bambang Set, Beni Setia, Boedi Ismanto S.A., B. Priyono Soediono, Dharmadi, Dharnoto, Diah Setyowati, Dimas Arika Mihardja, Eka Budianta, Enthieh Mudakir, F. Rahardi,  Gunoto Saparie, Handrawan Nadesul, Haryono Soekiran, Hendro Siswanggono, Hendry Ch. Bangun, Imelda Hasibuan, Irfan Firnanda, Isbedy Stiawan Z.S., Kurniawan Junaedhie, Linda Djalil, L.K. Ara, Kardy Syaid, Medy Lukito, Mustofa W. Hasyim, Nia Samsihono, Nurochman Sudibyo Y.S., Oei Sien Tjwan, Prijono Tjiptoherijanto, Pringadi Abdi Surya, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Rita Sujono, Shinta Miranda, Slamet Riyadi Sabrawi, Soesi Sastro, Susy Ayu, Sutirman Eka Ardhana, Soni Farid Maulana, Wahyu Wibowo, Weni Suryandari, Wilu Ningrat & Yvonne de Fretes. Plus tiga penyair tamu: Taufiq Effendi, Sri-Edi Swasono Nitidiningrat dan Sundari.

KOMENTAR KRITISI:

Melani Budianta, Guru Besar Ilmu Susastra FIB-UI: “Kitab Radja-Ratoe Alit mengingatkan kita pada esensi puisi sebagai seni olah kata untuk menghadirkan berbagai nuansa indera, emosi, dan pikiran seefektif mungkin.  Dalam buku ini dirayakan pengalaman keseharian orang kebanyakan, dari yang sakral sampai yang banal, dari sindiran politik, renungan kematian sampai plesetan dan guyonan. Kitab Radja-Ratoe Alit menyenangkan untuk dibaca justru karena keseriusannya untuk bermain-main dengan kata.”

Seno Gumira Adjidarma, Sastrawan, Fotografer dan Kritikus Film: “Puisi-puisi pendek penting untuk masa kita, karena meskipun sangat pendek, berpeluang mencerahkan kita di celah pergulatan hidup yang meletihkan jiwa.”

 

Cunong Nunuk Suraja, Pengajar FKIP ~ Universitas Ibn Khaldun Bogor: Kitab Radja Ratoe Alit akan melanjutkan pencatatan jejak kreativitas penyair Indonesia di masa datang.”

Khusus Fesbuker (pembeli melalui Facebook), harga Rp.105.000,- (harga sudah diskon 30%  dari harga jual Rp.150.000,- di TB Gramedia & belum termasuk ongkos kirim). Pembayaran ke No.Rek kami: BCA Cikokol 868-054-5635, a/n. Kurniawan Junaedhie. Pesan sekarang dengan mencantumkan nama dan alamat di inbox Kosakatakita Penerbit


[Puisi] Aku Meninggalkan Jalan Itu

Oleh Koez (Kusnadi Arraihan)

 

Aku menepi dari jalanjalan yang telah aku tandai dengan harum semerbak

jenjang lehermu

lalu membiarkan waktu mengubur bayang gelombang rambutmu

dalam gelapnya keresahan, di rerimbun dedaunan cemara

kerna deru hujan itu tak sepenuhnya mampu lagi menyejukkan tubuhnya

dari debu dan menjelma jadi kenangan murung membisu

 

aku akan menjauh dari riak gemuruh tawamu

seperti batang-batang jelagah kesunyian

menyimpan keriuhan helai daunnya, memanggil burungburung senja enggan

singgah

sedemikian itu aku menyimpan sederetan rasa dan rahasia

agar gerimis pun melupakan tanahtanah kering dan tanda tanya cuaca

 

aku melangkah meninggalkan mata anginmu, melewati bebukitan

dan hamparan sawah gersang

agar seluruh rekam senyummu terkubur, pada liang sepi yang belum sempat

kuberi nama

tak satu hal pun kini dapat kutandai dengan puisi untuk menapaktilasi jejak

nafasmu

kerna gelombang sungai pada tubuhmu, telah menelan semua deru jiwaku

tanpa tersisa

2011

 

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com


Satu Hari Ku Hidup Untukmu

Oleh : Julia Napitupulu

Setelah 5 hari ‘mati suri’, belum pernah tekadku begitu kuat untuk hidup dengan sikap seolah-olah besok aku mati…jadi, hari ini sangat berharga.

Kupegang lengannya lembut: “Mau makan apa..?”

“Terserah…yang kau suka…” jawabmu termangu.

“Ya jangan dong…kan aku yang mau traktir…pengen apa?” desakku (duh, besok aku tak hidup lagi…katakan, mau makan apa?? Apa pun…aku siap..maksudku, perutku siap, dompet lumayan siap..)

“Yah..ga usah yang mahal-mahal lah, kasian duitmu abis nanti…”

Aduh, aku terharu banget…Rasanya ada magma yang siap meledak dari pusat jantungku. Melebur dengan mata air yang sudah menggantung sejak tadi di pelupuk mataku. Kok masih sempet-sempetnya kau mikirin aku…kan aku udah kerja, udah bisa lah kalau traktir-traktir makan aja.

Sebenarnya acara makan-makan ini juga sesuatu yang ‘ditularkan’ dari mu. Kuingat dirimu dulu…selalu menutup hari yang ‘berat’ dengan makanan terbaik, meski tidak harus dari restoran terbaik. Kau memperlakukan acara makan bersama layaknya seorang Ibu yang menjamu putranya yang kembali dari medan perang. Sehabis berselisih, makan bersama. Kelar kerja bakti seharian, makan bersama. Sehabis bertangis-tangisan, makan bersama. Untuk mu makan bersama, seperti berpelukan di momentum terpenting, di mana setiap orang akan mengenang masing-masing seperti saat mereka sedang berpelukan damai.

“Dulu kan suka gado-gado? Atau gudeg? Inget gudeg yang di Benhil…manis kan? Aku juga ga suka…kalau yang ini kayak yang di pramuka…gurih, asin, selera kita banget deh…” desakku penuh harap, sambil kucari gairah berpelisir makanan itu di matanya.

Tapi entah kapan sudah menguap rupanya excitement itu. Matanya bertemu dengan mataku…mengerti bahwa aku ingin membahagiakannya, seolah-olah besok aku beneran bakal mati. Tuturku dalam hati, ”aku menyesal, saat kau masih doyan banget makan di luar, aku jarang traktir makan…malah suka kelayapan.”

Kau mampu ‘membaca’ tutur hatiku, hanya lewat tatapan sesal mataku. Lalu senyummu hadir, dikembangkan semata-mata untuk membesarkan hatiku…“Saya pengen (pizza) aja…” Tuturmu dengan lafal yang udah agak kacau karena darah keparat itu membuat ‘sumbatan’ kecil lagi untuk yang kesekian kalinya di otakmu.

Aku tak mampu menangkap kata ‘pizza’ yang kau sebutkan, karena pengucapanmu yang sudah tak jelas. Setengah mati aku berpikir keras, agar tak perlu menyinggung harga dirimu. Mataku jelalatan memelototi deretan restoran yang kau maksud. Apa sih katanya…bihaaa??? Bisaa…??

“Ooooo PIZZAAAAA ya…?” kejarku nyaris teriak. Ujung matamu yang turun seperti ujung mataku yang turun mengedip gembira. Kegembiraan yang sedikit direkayasa, yang ku tahu hanya untuk membesarkan hatiku. Tapi aku ga peduli, karena aku sudah ambil sikap seolah-olah ini hari terakhirku. Jangankan Pizza, Menara Pisa sekali pun kalau perlu kuboyong ke hadapanmu sekarang.

Lalu kita menaiki tangga itu, dan betapa bangganya aku…tubuhmu yang memang tak terbilang tinggi namun selalu terasa menjulang itu, sudah agak membungkuk, bahkan kakimu mengkerut. Tapi otot-otot dilenganmu selalu berdenyut gagah. Tanganmu bersih tapi besar jari-jarinya, layaknya tangan lelaki. Selalu membuatku aman.

Interupsi datang dari empat orang pria yang dengan gaya melecehkan seolah-olah aku ini bukan manusia, terang-terangan melirik kakiku yang telanjang penuh gairah. Yang satu wajahnya ganteng banget, satu kayak kurang umur, dua lagi ancur jijay(ihh…masi inget lhoh gw!!). Menangkap basah ‘teman sejati’nya dilecehkan, rahangmu yang maskulin langsung mengeras…dan balas menatap mereka dengan garang. “APAA LIAT-LiAT?”

Whuih…power seorang marinir sejati. Sesaat, tiba-tiba dampak stroke-mu seperti tak punya kuasa. Adduhhhhhh, dalam hatiku, sudahlah, mubazir sekali kalau tekanan darahmu sampai bergolak lagi hanya karena empat mahkluk ga penting yang nepsong karena ngeliat betis perempuan. Tapi meskipun peristiwa heorik ini sudah ga ke-itung berkali-kali kualami, mau ga mau dadaku tetap tergetar juga…

Wouwww…moment of truth…I’m saved again by my Hero.

Tiba-tiba…tubuhmu seperti tegak dan menaungi tubuhku yang jauh lebih sehat. Pemuda-pemuda malang itu pun mengkerut, kayak cacing tanah disiram air mendidih. Tadinya aku mau berkata padamu, “sudahlah…ga perlu ribut karena hal-hal sepele…ga worth it”, tapi berhubung besok aku mati, aku memutuskan untuk mengakuimu sebagai pahlawanku, the only one hero.

“Makasi ya…keparat-keparat pengecut itu mengkeret semua cuman karena digituin aja…” Kau cuma menanggapi dengan mengangkat dagumu dengan anggun bak bangsawan…dadaku sesak, dan membatin—aduhh, siapa lagi yang bakal membelaku nanti..?? 

 

In my childhood, I cant think of any other need as strong as the need for your protection…

Lalu kita pun duduk, muka bertemu muka, masing-masing tahu, bukan acara makan bersama ini yang menjadi agenda utama. Aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan menatap langsung ke matanya…sedetik, dua detik. Fenomena ‘flashback’ itu terjadi lagi. Kita memang seperti cermin ya…

Semua orang bilang begitu. Masing-masing kita pun meyakini begitu, dari dulu. Bedanya, dulu dua cermin ini kerap saling menyilaukan dan memantulkan sinar mematikan ke sesamanya. Sekarang tidak, kini dua cermin ini bekerja dengan seharusnya. Menjawab sebelum yang satunya bertanya, menangis sebelum yang satunya mengadu. Mengangguk paham sebelum yang satunya berujar.

Gemetar tanganmu mengambil kertas dan pulpen. Keringatmu menetes untuk memerintahkan jemari-jemarimu agar patuh kepada instruksi dari otak. (dasar stroke keparat!!! kalau kamu manusia, sudah habis kau kuinjak-injak!!)

Tulisanmu untukku sungguh-sungguh menjadi pondasi untuk ku melanjutkan perjalanan hidupku selanjutnya…dan entah mengapa, detik itu aku tahu, bahwa secarik kertas itu adalah pemberianmu yang terakhir. Mungkin ini yang namanya bisikan jiwa. “Sayangku…saya tidak tahu apa yang mau kita bicarakan…(isakku dalam hati saat membaca kalimat pertamamu…bahkan kau pun tahu ya, kita ke sini emang bukan mau makan).

Lalu mataku menelusuri tulisan indah yang kentara ditulis oleh tangan yang gemetar. Tangan maskulin tercinta yang sudah ga nyambung antara mata dan tangan, kubaca hampir tanpa bernapas; but I do love you…You sphere the air of our home…like a sun in my heart, shining all the time…be shining wherever U are…i love you so much, my Sunshine…”dan bait-bait berikutnya mengabur karena tetes di pelupukku.

Sempurna

Bila benar ku mati besok, kematianku akan sempurna. Karena di hari terakhirku, aku mendengar pernyataan yang paling jujur dari jiwa…betapa indah maknaku bagimu.

Jadi aku mataharimu ya? Karena itukah kau betah berjam-jam bicara denganku, meski hari sudah gelap? Karena itukah kau betah berdansa bernyanyi lama-lama denganku, meski pesta sudah lama usai? Karena bersama ‘matahari’, hari selalu saja terasa seperti baru dimulai.

Tak tahan dengan keterharuan yang sangat, setengah melompat aku membenamkan kepalaku di dadamu yang aman, dan merasakan tanganmu membelai rambutku, tapi kali itu bukan Kau Pa, yang bicara seperti biasa. Mungkin bibirmu terlalu letih, aku tersedu meratap…“aku sayang Papa…cinta sekali…sayaaannngggg sekaliii. Trima kasih sudah memaknaiku sebagai Mataharimu. Aku tak kan mati suri lagi…doakan ku untuk menemukan Matahariku…dan juga memanggilnya SunShine ku ya Pa…”

Kurekam semua detil di hari itu, Pa. Setiap tarikan nafas, setiap tatapan mata, setiap sentuhan, setiap kata, yang terucap…dan yang tak sanggup terucap. Kurekam dan kuabadikan di jiwa…seperti Papa mengabadikan aku di jiwa mu…

Satu hari…dimana ku sungguh benar-benar hidup, hanya untukmu…

Jakarta, Sabtu, 25 Juni 2010, 02.20 Wib

Penuh bangga, haru & cinta, mengenang Dia, 8 tahun yang silam..

[]

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.


%d blogger menyukai ini: