Tag Archives: kota

Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story


Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

Seorang wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Juni, 2011


Glosarium :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda.

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam.

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro.

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari, Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna.



Cerpen di atas adalah salah satu cerpen dalam kumpulan cerita pendek “MEMBUNUH GIBRAN” yang akan segera terbit.

 

 


Lembar Buram Diari Perjalanan

Oleh Dwi Klik Santosa

 

 

Di kota ini aku suka menangis.

Di kota ini aku suka tertawa.

Tidak, tidak … di kota itu dulu aku lebih sering, lebih sering …

Dan di kota lain, di kota lain

… jangan, jangan lagi …

Haruskah setebal diari kuulang-ulang menuliskan duka?

[]

Pondokaren

25 September 2010

: 15.2o


Sirna

Oleh Nona G Muchtar

aku mencintaimu seperti kabar yang tak pernah sampai

seperti rindu yang tak bermuara,

samudera kesedihan yang mengalir di jantung kota kota yang pernah kusinggahi

aku mencintaimu seperti surat dan telegram yang tak tiba tepat waktu

teronggok diam di meja meja tua tanpa stempel : terkirim

lalu menguning dan retak seperti pecahan matahari

tercerai berai dan tersimpan di guci guci tua

seperti ingatan liat yang lapuk mendekam dengan pilunya

aku mencintaimu seperti burung burung yang kehilangan sarang

sayap sayapnya mengepak kesepian

lalu hilang menjelang senja,

rebah tanpa nama pada rumah yang entah

aku mencintaimu, sayang

maka berbaliklah sejenak

sebelum sebuah musim tergesa gesa membuat kita terasing

terusir dari sebuah cinta yang begitu bulat purnama.

bbp, 19/09/2010

[]

Nona G. Mochtar

Penulis dan juga penyair ini sangat produktif menulis puisi. Sejumlah karya dapat dibaca di blog pribadinya dan di akun jejaring sosial. Perempuan penyair ini sangat sederhana menggambarkan dirinya, bahwa dia adalah…“Perempuan yang ingin jadi dirinya sendiri, tak ingin mengekang siapa siapa dan tak ingin dikekang siapa siapa kecuali oleh Tuhannya.” Nona kini bermukim di Jakarta Selatan.


Negeri Kami Begitu Ngeri dan Nyeri

Oleh Syaiful Alim

I

Negeri kami kaya raya

tapi kami banyak yang tidur di pinggir jalan raya.

Negeri kami subur

tapi kami makan beras impor

dan ikan dari singapura dan kuala lumpur.

Negeri kami makmur

tapi jutaan rakyatnya menjemur

basah luka di panas matahari

sudah lama dilindas dilibas reroda kuasa

yang berlumur dosa.

Luka kami jadi jamur

tumbuh di sekejur tubuh

yang membuat mata kami lamur

menanti mati dikubur umur.

Ke mana sumur-sumur kami

tempat mandi, mencuci, dan membasahi

kemarau yang kian birahi.

Ke mana sungai-sungai kami

tempat hanyutkan derit derita

dan jerit sakit berabad lama.

Hutan-hutan mulai gundul

kebun sawah ladang sudah susah dicangkul

anak-anak kami kian sulit digamit dan dirangkul

karena dapur berhari-hari tak mengepul.

II

Lihatlah kaum beragama negeri kami

pandai berakrobat ayat suci

sebagai siasat mengembat kursi.

Lihatlah artis aktor negeri kami

tidak hanya pintar aksi di televisi

tapi juga mencalonkan diri jadi bupati

walikota, dan gubernur cuma bermodal pesona berahi.

Lihatlah rakyat negeri kami

dibiarkan sekarat sampai berkarat keringat.

Beribu-ribu mengungsi

ke negeri orang mencari sekerat roti

meski dicaci maki, disetrika, diperkosa

dan dijual di tempat-tempat prostitusi.

Lihatlah anggota dewan kami

enak naik sedan produk luar negeri

rakyat bersedu sedan, berjejal-jejal pantat

berdiri bergelantungan bagai monyet

di tiang besi bis kota tua terkutuk

bau apek bau keringat busuk

menusuk-nusuk indra cium

belum lagi jemari-jemari

yang mengendap-ngendap dompet

hendak mencopet.

Lihatlah pejabat-pejabat kami

mereka sudah berubah jadi tikus-tikus berdasi

sementara kami makan nasi basi.

Aduhai serdadu yang lihai melesatkan peluru

sesatkan arah tuju ke kepala koruptor-koruptor itu

jangan kau bidik rakyat cilik

mereka sudah lama berdarah tercabik.

Negeri kami kotor

oleh ulah teror penjarahan upah buruh

dan kami pasti kalah oleh leleh peluru yang luruh

dari mulut-mulut pejabat yang tiba-tiba jadi tikus sawah

mencuri keringat, air mata, dan mata air yang sepuh

tertanam di tubuh melepuh.

III

Kami ingin menangis

tapi air mata habis.

Kami ingin tertawa

tapi duka senantiasa terbawa.

Kami ingin teriak mengoyak langit

tapi kami kehilangan suara jerit.

Kami ingin bersaksi di hadapan matahari

tapi matahari sudah mereka beli.

OH NEGERI KAMI BEGITU NGERI DAN NYERI

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Sketsa : Awal Ramadan Berlimpah Meteor Semoga Banyak Berkah

Oleh Iwan Piliang

Awal Ramadan ini penghuni bumi akan menikmati hujan meteor. Agaknya dapat dinikmati mata telanjang. Rabu Malam, 11 Agustus menjadi puncak langit berkilau membiru-biru. Semoga pertanda alam yang terjadi 133 tahun sekali ini membawa berkah. Amin. Di bumi, di selatan Jakarta, kususnya, di Sabtu petang hujan membuncah-uyah. Benak saya tak habis pikir mengapa ruas jalan Karet Belakang, Karet Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, sejak 1970, belum juga memiliki got mengalir airnya? Di samping jalan, gedung tinggi berdiri berendeng-rendeng. Parit patah tertutup tanah. Tentulah berjibun ruas jalan lain tak berparit. Ihwal got dan air tidak mengalir bermuara ke peradaban tak kunjung baik mutunya. Sudah 2010?

KETIKA SMA dulu, kami memiliki kegiatan ekskul di Lembaga Ilmu pengatahun Indonesia (LIPI). Salah satu yang kami minati menyimak langit, menikmati wejangan tentang dunia astronomi. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Dr. Karlina, wanita ahli astronomi Indonesia pertama memberi kami segala info.

Pekan ini, tepatnya pada 11 Agustus malam, mereka gemar mengeker langit akan dimanjakan rentenan fenonema alam; Venus, Mars, dan Saturnus lebih berkilau menghiasi langit mulai sejam setelah Matahari terbenam sampai akhir malam.

Ketiga planet itu membentuk segitiga dengan Venus, bersinar paling terang di titik bawah. Mars mengiringinya di kiri atas dan Saturnus di sisi kanan. “Ketiganya bergerombol di area yang relatif kecil dan membentuk formasi memikat,” ujar Joe Rao, astronom yang menulis untuk situs Space.com, Sabtu 7 Agustus.

Venus mudah terlihat dengan mata telanjang hanya dengan memandang ke arah barat dan barat laut. “Mars dan Saturnus sulit, karena sinarnya cuma 1/150 dari Venus,” kata Rao. Dia menganjurkan penggunaan teropong untuk bisa melihat formasi segitiga planet itu.

Venus, Mars dan Saturnus bakal mengakhiri penampilan bareng mereka, yang dimulai awal bulan lalu, tepatnya 12 Agustus mendatang. Badan Antariksa Amerika Serikat NASA mengatakan planet itu menghilang di kegelapan langit sekitar pukul 10 malam.

Saat itulah fenomena langit berikutnya menyusul: hujan meteor Perseid. Fenomena ini sebenarnya telah berlangsung sejak 17 Juli, puncaknya pada 12 Agustus, bertepatan dengan awal Ramadan.

Hujan meteor Perseid muncul akibat serpihan ekor Komet Swift-Tuttle, melintasi Galaksi Bima Sakti, 133 tahun sekali. “Bumi melewati garis orbitnya. Ketika memasuki lapisan atmosfir, serpihan ekor komet menguap, dan menciptakan meteor,” kata Rao.

Jika cuaca mendukung, masyarakat bisa melihat hujan bintang jatuh di semua tempat.

“Paling bagus lihat di langit yang gelap, jauh dari cahaya kota,” ujarnya. Menurutnya, waktu terbaik untuk menyaksikan show spektakuler ini ada dua malam: Rabu 11 Agustus menjelang tengah malam sampai menjelang subuh Jumat 13 Agustus. “Pengamat langit yang sabar, didukung cuaca bagus, bisa melihat sampai 60 bintang jatuh per jam,” kata Rao.

FENOMENA alam menjadi acuan makhluk hidup khususnya bagi manusia pemilik mandat akal di bumi. Mereka terbiasa menatap langit, macam memahami ilmu Geomensi berkembang di Cina kuna; kapan sedianya menyemai bibit, kapan menanam, kapan pula tempo menyerang di tenggat peperangan sekarat: arah angin, aliran air, aroma tanah, suara semak, jejaring robek tarantula, semuanya pertanda.

Satu keutamaan Geomensi saya pahami, air mestilah mengalir.

Konon di surga juga di mana air mengalir.

Maka ketika menelepon seorang kawan di Sabtu, 7 Agustus, yang baru pulang berlibur ke Beijing dan Shanghai, Cina, saya tanya bagaimana dengan got dan saluran air di sana?

“Kalau di Orchad Road, Singapura gorong-gorong utama berdiameter tujuh meter, di Shanghai bisa dua kali lipat,” ujar Masnun, sebut saja kawan itu demikian.

Lama saya tak jumpa dengan Masnun. Sejak medio 1980-an ia berkecimpung di urusan properti. Ia pernah bekerja di kelompok usaha besar. Kelompok usahatempatnya bekerja, kini saya kritisi terindikasi menggelapkan pajak. Kini ia mengurusi investasi Korea di sebuah kawasan resor hotel di Bali. Sehingga ihwal sanitasi, lingkungan, pastilah menjadi perhatian seriusnya.

”Orchad dengan saluran air besar dalam setahun terakhir, sudah tiga kali dilibas banjir, walaupun dalam hitungan tak sampai enam jam, banjir kering mengalir.”

Bandingkan dengan Jakarta dominan ruas jalannya banyak tak berparit. Sabtu petang kemacetan hebat terjadi. Informasi dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya menyebutkan bahwa genangan air mengakibatkan arus lalulintas terputus di Cireundeu arah Kampung Gunung.

Genangan air mencapai 30 cm, di depan SPBU Shell, Mampang, Pasar Cipete, Duren Tiga, Kemang Timur, depan Hotel Grand Kemang, Fatmawati Raya Selatan, Haji Nawi, membuat kemacetan parah hingga ke Arteri Pondok Indah.

Jalan Veteran menuju Tanah Kusir tak bergerak. Hal sama terjadi ke arah pinggiran Jakarta, Pasar Rebo-Jalan Raya Jati Asih, hingga pintu tol Jati Asih, Kota Bekasi, semua kendaraan tak bergerak.

Bila dalam keadaan demikian, duduk di dalam sebuah Mercedes Benz S 350 terbarupun Anda, tidak lagi berasa nyaman. Otak buntu. Dengkul kaku. Punggung ngilu.

Begitulah bila air tidak mengalir.

Tentulah banyak ruas jalan lain stagnan. Jika Anda menyigi tatap sekejap, maka tampaklah bahwa banyak jalanan di Jakarta itu tak berparit, kalau pun ada got cuma sedikit.

Dari parit nan seketek itu dominan mampat. Lebih sadis, got ditimbun tanah, dibiarkan padat menahun, macam di lingkungan Karet Belakang daerah pertama saya injak ketika pertama ke Jakarta pada 1979. Dan hari ini tak beda. Parit di kiri kanan jalan belum tuntas mengalir – – jika enggan menyebut tersbumbat dan tak pernah digali.

MINGGU, 8 Agustus pagi, saya memperhatikan batang-batang pisang pernah ditanam almarhumah ibu saya di kiri jalan persis di trotoar, hanya di ruas belasan senti meter antara aspal dan tubir got. Batang pisang itu macam memagari Masjid Babussalam, Jalan Karet Belakang itu.

Satu dua tandan pisang kepok masih bersemangat berbuah. Batang nangka, berdaging buah tebal berwarna kuning emas, sengaja dibawa dari kampung dulu bibitnya, kini masih berputik bergelayutan, kandati kini sulit menungu buah hingga matang, karena belumlah menua sudah disikat entah oleh siapa.

Di kiri di dalam parit di bawah pohon pisang itu, air seakan menumpuk tak mengalir. Dari air mampat itu dulu, ibu suka menyiduk dengan bekas kaleng biskuit diberi tangkai kayu pengait. Air comberan itulah menjadi pupuk tanaman di pinggir jalan. Itulah satu-satunya muara aliran air menghijaukan sebuah titik Jakarta. Di sebelah ruas dari Masjid Babusalam itu, got tertutup tanah, begitu pula di belahan kanannya.

Menahun tidak berubah.

Jika Anda pembaca rutin Sketsa saya, tentulah masih ingat bagaimana saya pernah menuliskan, bahwa sebuah kendaran berpelat CD berbendera Jerman, sengaja menghentikan mobilnya. Ruas jalan ini, memang acap menjadi lalu-lintas alternatif menembus Jalan Sudirman, Karet Depan ke Rasuna Said, Kuningan. Penumpang mobil berdasi berjas rapi menghampiri ibu almarhumah yang sedang menyiram pohon pisang.

”Banana?”

”Yes…” kata ibu saya.

Lalu terjadilah percakapan ala Tarzan, antara mereka berdua. Ibu tak bisa berbahasa Inggris selain yes no.

Momen itu jika saya ingat, membuat geli kali. Dua orang berbeda bangsa berdialog dengan lema masing-masing, namun saling tertawa.

Sosok pejabat kedutaan asing lalu geleng-geleng kepala tak habis pikir, di antara aspal, bibir jalan, kok, bisa tumbuh pohon pisang?

Dan di Minggu pagi kemarin, saya pun geleng-geleng tak berhenti membayangkan Jakarta banyak jalanan tak berparit, dan berani saya menduga lebih tujuh puluh persen parit di DKI Jakarta ini tidak mengalir airnya.

Itu artinya, Jakarta memang bukan surga.

Bisa jadi satu kalimat di atas sebuah ungkapan bodoh. Orang Betawi akan bilang, empok elo bilang Jakarta surga?

”Betul, betul, betul, ” mengutip sosok animasi Ipin, di serial Upin-Ipin.

Toh sebagaimana sudah saya tuliskan di atas, konon surga di mana air mengalir.

Terkadang terpikir di benak ini, bila berkesempatan menjadi Gubernur DKI, dengan satu program saja: Mengalirkan air ke segenap parit, got, gorong-gorong, kali bersih mengalir ke laut.

Namun apa daya, bercita-cita jadi pejabat kini tanpa fulus plus agaknya akal bulus, ibarat bermimpi di siang bolong. Apalagi belum tampak program gubernur sekarang signifikan memperbaiki kota. Sosoknya sudah pula pindah partai. Ia kini menjadi pengurus sebuah partai politik lain, terindikasi demi menyiapkan diri untuk jabatan kedua.

Begitulah. Selamat memasuki Ramadan, bulan yang membersihkan jelaga hati. Semoga. []

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com



Dan Kunyanyikan Laguku

Oleh Dwi Klik Santosa

Aku ini si pengelana. Suka sekali jalan-jalan. Tidak pagi, siang, sore atau malam. Entah kemana tujuan. Tidak selalu tempat yang bersih dan senampak megah atau indah-indah. Tidak melulu taman-taman yang asri dan mengesankan. Tapi sungai-sungai yang kotor, hutan yang gundul, kota yang sumpeg, dan senampak cakrawala yang kusut karena bumi bergoncang atau deru lautan yang murka. Banyak jalan kulalui. Banyak tempat kusinggahi. Sepanjang jalan, selebar langkah, semakin benak ini dipenuhi tanya dan kata-kata.

Tak jua airmata, setiap ruas kujejaki, kuamati. Sungguh tak ada. Alam tempat kita hidup sungguhlah cermin diri yang sabar. Tak patut sekiranya untuk ditangisi atau dikasihani. Tapi rajin menyaksikan perilaku-perilaku. Entah binatang, entah manusia. Mulut yang biasanya pendiam ini jadi mudah saja melepas tawa, mudah pula memboros airmata. Ah, inikah peradaban? Inikah simbiosis mutualisma? Dipahami untuk saling dimengerti. Dihayati untuk saling membutuhkan. Tapi melulu random. Berlebihan belaka; saling laknat, saling binasa.

Dan di atas kasur cadas datar pinggir sungai ini, sebatang kara aku ditemani malam. Gemericik bisik air mengalir itu mengusik-usik. Sedari tadi pun teriak jengkerik berderik tak jera-jera. Senyala redup temaram lampu langit di atas itu, kian syahdu menghanyutkan perenungan. Banyak topik. Banyak hal. Kata-kata kukumpulkan segenap asa. Bak debu-debu yang lupa kubersihkan menempeli kulit tubuhku, berserakan ia mengepul dari busana belel yang setia membungkus raga ini. Sebatang rumpun kupangkas, kuserut, kutiup-tiup. Kusebulkan bahasa kalbu. Kedalaman perasaan muntahan benak-benak yang terpendam. Aku cinta hidup yang damai, ya alam. Kunyanyikan laguku kini.

“Kesana kucari arahku. Kemari kurenungi jatiku. Aku ini petualang yang hobi mengembara. Kedua kaki ini rodaku. Getar gairah ini mesinku. Wahai, akulah si musafir gembira. Air sawah minumku. Atap langit rumahku. Sunyi dan sepi karibku. Ya, bapa, ya bunda, terima bakti anakmu.”

Surabaya
11 November 2009
: 22.3o


Sepertiga Laju Kereta

Oleh Afrilia Utami

Sepanjang jalan kumendengar lagu yang sama
Sepanjang jalan kupandangi jendela kereta ini
Bukit dan lahan yang laku bergetar
Kota asing terseret kemasa lampau
Dan semakin asing ketika aku memperlihatkannya

Kita tidak sedang bercinta lagi

Kereta mulai berjalan
Dan aku melihatmu menangis
Melambaikan tangan yang rapuh

Kita akan terbiasa dengan kesunyian
Kita akan begitu bahagia merenungkan semua yang terjadi ini
Berdiri dibawah hujan yang menyatukan airmata dan airlangit
Seperti katamu…

Kita akan bernyanyi tengah malam
Sejenak selepas kita mulai tertidur
Kita akan begitu bahagia merenungkan semua ini

Baru saja kita tiba disebuah kota
Dimana kita akan meninggalkannya
O, baru saja kita terlahir dalam tangisan bayi
Kita akan pergi kedalam gelapnya senyum dimasa tua
Hanya beberapa orang mengerti kita bahagia
Hanya beberapa saja apa yang membuat kita menangis
Maka tenanglah menjalani segala yang akan usai ini

Kereta terus berjalan
Dan tak henti kupandangi jendela yang bergetar itu

Kau tahu saat lambai jemarimu meraba tatapku
Melambaikan sebuah kesepian
Sebuah puisi yang hanya aku melihatnya
Dan dengarkanlah…
Hanya aku yang menyimpannya…

[]


Pada Celana Dalamku

Oleh Fitrah Anugerah

Aku telah mendarat pada dermaga yang menyimpan celana dalammu. Aku melihat pada celana dalam itu sekumpulan ikan kecil tersangkut di ruas benangnya. Kupungut satu persatu. Kumasukkan pada tas kerja. Menjemur pada jalanan kota.

Aku pergi melaut setelah matahari menelannya. Inilah awalku merindukan bulan. Sebab bulan meminta sejumlah ikan kecil yang ditelan matahari. Aku akan memakai celana dalam dari mu di hadapan bulan. Lalu kugoyang-goyangkan perahu dengan tarian ombak.

Aku menjerit pada ganas tarian ombak. Aku menjebur. Tenggelam. Mengapung kaku menuju dermaga kembali. Pagi ini. Kau akan melihat di kaku tubuhku. Pada celana dalamku terkumpul ikan-ikan kecilmu kembali.

Bekasi, 02122009

[]

Fitrah Anugerah

Fitrah Anugerah

Lahir di Surabaya, 28 Oktober 1974. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, FIB, Universitas Airlangga Surabaya. Pernah berkesenian di Teater Gapus Unair, dan Bengkel Muda Surabaya. Puisinya dimuat di harian Surabaya Post, Sinar Harapan, Bekasi News, dan aktif menulis di Apresiasi Sastra serta Blog. Sekarang bekerja di Bekasi, pada sebuah perusahaan ekspedisi.


Semekar Bunga Pada Suatu Kenangan

Oleh Dwi Klik Santosa

Pernah ingin kupetik bunga itu
“Jangan dulu, tunggu saatnya nanti tiba”
Angin seperti membisik memberitahuku
Setiap pagi tiba, menjelang sore, kadang di tengah malam
Selalu kuawasi makhluk mungil di pot itu
“Andai saja kau nanti menerimanya”

Hari-hari yang panas
Ibukotaku riuh diderak revolusi
Dimana keramaian adalah jerit tangis kehilangan
Dan gelak tawa adalah wajah-wajah yang hilang
Debu-debu mengepul menjelma sejarah kelam

Seonggok kangen kubawa
Dari rantau membara ke kota kasur tua
Bunga itu jadi kupetik setangkai dengan asaku
“Persetan dengan suksesi”
Perih, remuk, rinduku yang malang
Bungaku layu sebelum sampai padamu
“Naomiku, malaikat yang terlalu cepat
atau aku yang selalu terlambat”

pondokaren
5 juli 2010
: oo.27


%d blogger menyukai ini: