Tag Archives: hujan

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

[Puisi] Aku Meninggalkan Jalan Itu

Oleh Koez (Kusnadi Arraihan)

 

Aku menepi dari jalanjalan yang telah aku tandai dengan harum semerbak

jenjang lehermu

lalu membiarkan waktu mengubur bayang gelombang rambutmu

dalam gelapnya keresahan, di rerimbun dedaunan cemara

kerna deru hujan itu tak sepenuhnya mampu lagi menyejukkan tubuhnya

dari debu dan menjelma jadi kenangan murung membisu

 

aku akan menjauh dari riak gemuruh tawamu

seperti batang-batang jelagah kesunyian

menyimpan keriuhan helai daunnya, memanggil burungburung senja enggan

singgah

sedemikian itu aku menyimpan sederetan rasa dan rahasia

agar gerimis pun melupakan tanahtanah kering dan tanda tanya cuaca

 

aku melangkah meninggalkan mata anginmu, melewati bebukitan

dan hamparan sawah gersang

agar seluruh rekam senyummu terkubur, pada liang sepi yang belum sempat

kuberi nama

tak satu hal pun kini dapat kutandai dengan puisi untuk menapaktilasi jejak

nafasmu

kerna gelombang sungai pada tubuhmu, telah menelan semua deru jiwaku

tanpa tersisa

2011

 

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com


Aku Suka Hujan

Oleh Ade Anita

1. Satu

“Aku selalu menyukai hujan.” Itu yang aku katakan pada banyak orang.

“Kenapa?” Dan itu yang banyak orang tanyakan padaku.

“Karena hujan punya punya ritme tersendiri yang romantis. Dimulai dengan suasana teduh, lalu mendung, lalu hujan pun turun. Dan ketika hujan mereda, ada matahari yang malu-malu mengintip, hingga pelangi harus menurunkan tirainya agar malu matahari tidak tersingkap dengan cepat.”

 

2. Dua

“Tapi sekarang cuaca sering ekstrim tidak terduga. Siangnya panas terik bukan main, tapi sesaat kemudian hujan turun dengan deras. Apakah kamu masih menyukainya?” Itu yang kamu tanyakan padaku.

Membuatku terdiam lalu menengadah ke atas.

Mencoba membaca awan, membaca warna langit.

Aku suka warna biru.

Aku suka warna putih.

dan Aku juga suka warna kelabu yang itu.

“Ya, aku tetep suka hujan. Karena hujan bisa menghilangkan debu di atas batu. Aku selalu berdoa, agar begitulah Allah menghapus dosa-dosaku yang panjang tercecer di sepanjang jalan berbatu yang telah aku lewati.”

 

3. Tiga

“Bagaimana jika pelangi tidak pernah muncul setelah hujan berhenti?”

Aku kembali menengadahkan kepala ke atas dan menatap langit yang luas,… amat sangat luas.

“Tidak mengapa. Keindahan kan tidak selalu muncul di akhir sebuah pertunjukan.”

Ada awan yang berarak datang berbentuk perahu di hamparan langit yang kutatap

Di belakangnya ada juga awan kelinci, ikan, hati, bulatan, serta… awan yang berbentuk senyuman.

“Tapi ada sesuatu dalam kalimatmu yang salah.” Aku berhenti menatap kemegahan langit yang luas…. amat sangat luas.

“Jangan pernah menggunakan kata tidak pernah. Pelangi selalu muncul  selama matahari tidak terlambat datang menjenguk.

 

4. Empat.

“Ayo, kita pulang.”

“Tapi masih hujan. Kepalaku sering pusing jika kena hujan.”

“Katamu suka hujan.”

“Iya, aku tetep suka hujan. Tapi kan bukan berarti bisa langsung melebur jadi satu karena rasa suka itu.”

“Kalau suka, cinta, seharusnya tidak merasa berat jika ingin bersamanya.”

“Tidak. Aku tidak mau kehilangan diriku sendiri hanya karena rasa cintaku yang egois. Jika bersamanya akan membawa derita dan nestapa yang panjang, kenapa harus dipertahankan? Cinta kan tidak harus membawa derita. Cinta seharusnya membawa bahagia.”

“Sudah, ayolah. Hujan mulai mereda. Kita bisa pakai payung berdua.”

“Ya… aku suka berjalan berdua di bawah payung bersama dirimu.”

“Jadi, kamu suka hujan atau suka diriku?”

(sst… tidak usah kujawab, kamu selalu membuatku ingin tersenyum kegirangan)

“Lihat, ada pelangi di atas kita.”

“Mana? Ini kan malam hari.”

Lalu aku menengadah ke atas, menatap langit malam yang luas terhampar… amat sangat luas

Dimana terdapat bulan purnama yang bercahaya penuh dengan amat cantik

Awan hitam pun tidak percaya diri untuk menyambanginya

Rintik hujan yang masih tersisa berubah menjadi butir berlian yang menjadi gaun malamnya

“Lihat.. ada pelangi di seputar bulan.”

“Oh iya… aduh. cantiknya. Subhanallah. Aku ingin terbang kesana… aku ingin memilikinya.”

“Jangan, nanti aku tidak bisa dekat dengan dirimu lagi.”

(duh, kenapa kamu selalu bisa membuatku tersenyum kegirangan)

 

5. Lima

“Ini… untukmu.”

“Apa?”

Lalu aku melihat gambar bulan yang dikelilingi pelangi malam di kamera handphonemu.

“Waaa.a….. subhanallah… cantik banget. Kapan ngambil fotonya?”

(duh, kenapa kamu selalu bisa membuatku tersenyum kegirangan… tapi kali ini sudah bercampur amat bahagia… bahagia yang amat sangat luas.)

[]

 

Catatan Kaki Penulis :

From my own status: Ade “malam ini, bulan purnamanya indah banget..ada pelangi yang mengitarinya….amazing. please take a look. (Fri, 22 Oct 2010 15:11:01 GMT)”

gambar bulan di bawah ini aku ambil dari web orang lain.



Perempuan dalam Hujan

Oleh Syaiful Alim

Aku memandang hujan dari jendela kamar rumah flatku. Hujan ini membawaku padamu, perempuanku. Bukankah kau suka hujan? Masa kanak-kanakmu datang lagi jika hujan mengguyur bumi yang belukar. Kau keluar kamar. Bermain basah dengan air. Rambutmu yang panjang tergerai itu kaubiarkan dicumbu bibir hujan. Bibir hujan bersujud di rambut lembutmu. Aku, lelakimu, cuma bisa memandang tubuhmu dan mendengar teriak kanakmu. Karena aku tahu seusai ini kau akan berkata, “Cinta, peluk aku.” Begitulah kau menjaga kehangatan cinta. Kaujadikan hujan sebagai jalan untuk menggodaku dan memasak sesakku. Mungkinkah kelahiranmu disertai dengan turunnya hujan? sePertanyaan ini masih kusimpan. Aku belum berani bertanya padamu. Dan mungkin kau sudah tahu bahwa aku jatuh cinta padamu juga karena hujan. Hujan sore itu. Hujan yang melahirkan pelangi.

Kilau warna-warni pelangi itu sembunyi di teduh matamu dan lesung pipitmu. Jika pelangi itu tak muncul lagi di langit ini, aku masih bisa menatapnya, menatap dan mendekap mata teduh dan lesung pipitmu. Akhir-akhir ini pelangi sulit melahirkan warna-warni cahaya. Peperangan yang tak henti-henti, pertikaan dan pembunuhan selalu tumbuh di bumimu dan bumiku. Burung-burung lupa jalan pulang. Sarang-sarang mereka yang bertengger di reranting, rerimbun daun dan ketiak pohon kurma telah hangus terbakar. Asap-asap menyesak dada. Mungkinkah umat manusia kini lebih tertarik pada logika perang dan pedang? Seolah peperangan adalah jalan menuju perdamaian. Betapa deras airmata dukaku jika ayat-ayat Tuhan diperalat untuk menumpuk mayat. Berapa kali kita akan melayat bersama lalat. Mungkinkah dunia sudah terhipnotis mantra-mantra berikut ini:

“Setiap aliansi yang tidak dimaksudkan perang, sama sekali tidak ada gunanya.” (Adolf Hitler)

“Setiap orang yang tidak ikut perang, harus bekerja untuk kaisar, tanpa upah, untuk suatu masa tertentu.” (Jenghis Khan)

“Semua perang menghendaki perdamaian.” (St. Agustinus)

“Hiduplah dalam keadaan perang.” (Friedrick Wilhelm Nietzsche)

Kau perempuan dalam hujan. Aku sengaja menjebakmu dengan hujan. Hujan yang turun dari langit sajak-sajakku. Seperti biasanya kau keluar kamar menyambut hujanku dengan kerongkongan kemarau. Dan aku mengamati tubuhmu yang utuh dan basah dari simpang jalan. Sambil membawa pencil dan kertas, aku catat setiap gerak dan teriak serak merdumu. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu. Kau jatuh cinta pada sajak-sajakku dan aku jatuh cinta pada gerak dan teriak serak merdumu. Gerak tubuhmu yang lincah dan deras hujan sudah beberapa kali menetaskan sajak-sajak dari jemariku. Suara teriak serakmu mengoyak sepiku. Sepi yang pisau. Menusuk-nusuk daging adamku. Mengalir darah sederas hujan itu.

“Cinta, peluk aku!”

Kauulangi lagi pintamu. Aku tidak memelukmu. Aku lebih baik memberimu handuk. Aku yakin kau masih ingin menikmati basah hujan yang melekat di tubuh dan rambutmu. Usaplah tubuh dan rambutmu, sayangku, bujukku. Dan sudah kuduga apa yang terjadi: kau menolak dan melempar handuk ke lantai, lalu menubruk tubuhku, tubuh karang.

“Aku suka tubuh karangmu.”

Kau selalu mengulang kata-kata itu di depanku. Sungguh aku belum pernah menjumpai perempuan yang begitu jujur seperti kau. Kau selalu jujur dengan nafsumu. Kau selalu jujur dengan pujianmu. Aku suka tubuh karangmu. Rayumu itu membuat nafasku memeluk nafasmu. Dan aku tak berhenti memelukmu sebelum kau meraung dan mengerang.

“Tubuhku memang karang, Sayang, namun di gelombang lautmu aku sering tumbang.”

Hujan dan perempuan. Bukankah kedua jenis mahkluk ini bisa menghidupkan dan mematikan? Aku selalu memandangmu sebagai hujan yang turun membasahi tanah-tanah retak dan sawah-sawah kering. Menumbuhkan tunas pohon yang meranggas. Menumbuhkan benih-benih kehidupan. Membangkitkan akar-akar pepohonan dari trauma panjang. Aku pun sadar, sewaktu-waktu kau menjelma hujan bandang yang memporak-porandakan rumah sembahyang, gedung-gedung, dan ladang-ladang.

Kau hujan santunku, Sayangku. Hadirmu kaupersembahkan kepada akar-akar pepohonan yang terkapar, kembang yang hilang tembang, rerumput yang surut denyut, kerongkongan padi-padian dan umbi-umbian yang kerontang, suami-istri yang berbagi punggung, dan aku yang murung.

Daun-daun pohon kurma berisik diusik angin cerdik. Tubuh hujan yang terpelanting di atap genting menjadi bebunyian denting, namun aku merasa hening. Butir-butir air itu mengalir mencari lubang dan kubang. Wahai hujan, di sini, di negeri ini, kau tak kan menjumpai yang kau mau. Cuma pasir dan debu muaramu berakhir. Seperti aku. Iya, seperti aku yang mencari dermaga bagi badai resahku malam ini. Cinta dan rinduku ditentukan oleh kawat yang merambat di udara dan kabel bandel yang suka membuat sebel. Dolar di sakuku selalu terkapar ketika aku merindu suaramu. Suara serak merdu itu. Ah, cinta memang hanya serindang pohon, sisanya air mata yang memohon. Ah, cinta memang hanya semanis buah manggis, sisanya air mata yang menitis. Ah, cinta memang hanya sesuap nasi, sisanya lumbung padi yang belum terisi. Ah, cinta memang sehelai puisi, sisanya pisau yang sepi. Ah, cinta memang sedesah berahi, sisanya resah yang berujung pada mati.

“Apa yang akan kita lakukan jika bertemu?

Diam batu? Atau meredam nafsu?

Bermain gitar? Atau menusukkan puisi pisau di daging sepiku?”

Ha ha…. Tanyamu yang bertubi-tubi itu membuatku tertawa. Sungguh aku belum tahu apa yang akan kuperbuat. Akankah aku menjelma seekor singa lapar? Akankah aku menjelma pengungsi yang seminggu belum mencium bau beras setakar? Atau lebih baik aku merawat getar dan debar agar mekar mawar? Kelak kita nikmati wangi, meski diri ditikam-tikam duri.

Perempuanku, aku berandai, jika hujan malam ini adalah kau….

*BISA DIBACA VERSI UTUH DALAM NOVEL KIDUNG CINTA POHON KURMA. SUDAH BEREDAR DI TOKO BUKU ATAU PESAN VIA INBOX FACEBOOK SAYA.



Abu Disegelas Gerimis

Oleh Afrilia Utami

 

Gerimis.

ketika suara-suara

Saling berkicau lara. Menjelang

Dinding-dinding jelagad langit runtuh.

Kemanakah harus kuselamatkan pecahan waktu?

 

Sementara aku terkaca dikesunyian

Mendzikirkan, mengapa aku lupa berdo’a

Menteorikan caraku hidup, menafkahi keinginan,

Tapi aku lupa berkabar tentang nanti. Bagaimana cara

Menghidupi matiku.

 

Ada yang ingin kucari dibawah gerimis ini

Mengapa langkahku terlalu tua menjejak dikotamu

Disamping lampu lalu lintas ada bocah sambil gerah

Menjajani lapar kebodohan dengan segumpal iba.

diperut derita yang kutegur dengan sekoin harta

 

“Maaf kami memang pengumpul harta recehan, Nona. Tapi

Sampaikanlah pada orang yang berada di gedung-gedung angkuh itu.

Bahwa kami pun sama ingin berteduh”

 

Seperti meneguk abu digelas gerimis.

Gelap begitu lekas berwajah nisan.

 

[]

23 Oktober 2010


Cafetar(i)a

Oleh Afrilia Utami

 

: penyair Husni Hamisi

 

Dari berkas cahaya

Yang mungkin ada

Hingga menjadi-jadi antara

Maya dan nirwana

Akankah kilau itu padamu?

Tak padam tak legam

Digulung gulita yang bermalam

 

Di cafe saat dzikir mengucap degup

Rambutmu hitam terlepas

dan sisir biru di sakumu itu

kaupasangkan untuk kacamataku.

Lalu, kubaca huruf itu

“Bacalah hari ini, mungkin nyata?”

 

Sore itu mulai gerimis

Lalu hujan meritmis ditengok jendela

Kakilangit segaris

Menculik cubitan manis

“Lupa jemuran belum kuangkat pulang.”

Katamu saat itu, gerah palingkan pandang

Ya, gelisah…

 

Di cafe, empat kursi masih menunggu geser

Yang mencinta harap bersembunyi

Kau malah asik di podium itu bernyanyi

Dansa ke sana dan kembali duduk di sini

“Mari ikutlah…hari ini, kita bernyanyi

Sebelum usai kita dinyanyikan sebuah nyanyian…”

Ah, kau membujuk. Bicara matamu sungguh kutemu

 

Kita telah lama menunggu, bukan?

Sebuah desain hari ini…

 

[]

07 Oktober 2010

 

(Maaf ya Bang Husni, hanya ini yang Af bisa tulis sederharna tukmu. sudah biasa, terlambat pula. tetapi teriring doa terbaik untukmu selalu. Saudaraku..)


Enam Benam Dalam Benak

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Pohon Randu

Bunga randu memeluk tangkai

angin meliuk lihai.

Rindu lapuk sehelai demi sehelai.

 

(2) Kafe Kopi

Pekat tandas ke dasar gelas.

Bibir rekat rakaat deras

bubar debar, disambar selebar ruas.

 

(3) Buku

Buka buku kemarau.

Dedaun kaku, rasa risau

berayun kangen Ibuku.

 

(4) Kursi

Sabar diukur kursi.

Debar akur, detak jam melandai.

Dada dilanda lindu puisi.

 

(5) Daun Talas

Lamat-lamat bibir hujan lumat tubuh perempuan.

Beri aku daun talas, Tuan.

Amat ikhlas ulas elus Jumat Tuhan.

 

(6) Apel

Ulat menggeliat di liat kulit.

Kau rindu, lahap sedikit.

Tersedu dan sakit.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Setangkai Hujan II

Oleh Afrilia Utami

 

Kolaborasi : Reski Handani & Afrilia Utami


Image From “diannafirefly.blogspot.com”

 

Sedari tadi hujan terus menuai dingin yang semai. Kemanakah petualang kali ini hendak berpetualang? Ke sayu lembut matamu atau ke debar degup jantungmu, mungkin.

Hujan kali ini umpama pandang mata di derai langkah, mengiring gigil jatuh menumpuk serupa tugu. Di mana aku menitip tunggu sepanjang jalan. Menuai cemas di sekujur badan.

Dingin…benar gigil deburan angin. Nafasku mengeja titikmu kah? Ataukah deras gemuruh yang mengasbak di dua lapis bisumu? Langkah ini membayangi basah. Menelanjangi lompatan bocah-bocah yang redup di jiarah sejarah. Menyimpulkan senyum dan murungku di bibir merah jambumu.

Kemudian jelma tempias diam-diam menerobos jendela, potret wajahmu kuncup di mataku. Entah harus bagaimana aku berlari, di tiap lompatan kaki kau umpama jejak yang pulang dan pergi.

Lalu kuikuti perlahan namun pasti. Jejakmu semakin jelas mengarahkan kiblatku. Ku temukan aspal membentang jauh dari timur menuju selatan. Ingin kugapai lembut ragamu yang pias serupa mayat, dan perlahan kubisikan hangat,  mengangkatmu dari sejauh ku dan terpisah kau, menjadi dekat, erat dan semakin nafasmu lekat menguat.

Maka dekapmu rumah bagiku, dadamu halaman bunga yang kupetik sejak pagi hingga senja. Di situ sandar adalah gelak tawa di mana duka nestapa cuman dongeng lama, sejenak kemudian kucuri tubuhmu, matamu, dengarmu, retak garis bibirmu, akan kutatasimpan di kalbuku.

 

[]

September 2010

 

( Free Download klik this link for Setangkai Hujan.mp4)


Keraguan Itu Bernama Cinta

Oleh Hera Naimahh

hatiku adalah sebongkah rapuh

ketika harus berbagi napas dan udara seketika

tapi bagaimanapun pada sebongkah rapuh itu pula

kuncup cinta ini pernah bermula dan menggoreskan

kisah tentang garis pantai yang

setia menanti senja tiba

tahukah kau

kalau setelah itu diam-diam waktu

berhenti

menahan hujan,

menaklukkan gelombang,

dan memadamkan gemuruh api

yang kemudian membatu dan teguh

menenggelamkan semua benda

tak bernama

masih adakah di sana

pucuk-pucuk cemara yang pernah

bersaksi ketika pertama kali kusampaikan:

“aku cinta padamu”

bagaimana mungkin

kau lupa cara membacaku

padahal katamu

masih kau simpan jejakku

di relung-relung rahasiamu

[]

hera – september 2010


Cinta Bercabang

Oleh Syaiful Alim

Kaudatang membawa sampan

lalu kita mengarungi lautan

dengan tangan sebagai dayung

kaukenalkan aku ikan duyung

juga kerang yang mengerang

oleh gores bebatu karang.

Kita berpeluk ketika ombak mengamuk

“Cinta tak kan remuk walau sampan lapuk.

cinta tak kan rebah meski badai menjarah.”

Kauberkata seraya menatap mataku

dan aku makin lahap mendekapmu.

“Simpanlah sampanku di hatimu”

Kaudatang menawari hujan

ketika sawah ladangku diterjang desah gersang

tanah hatiku retak oleh koyak kuku matahari yang jalang.

Hujanmulah yang membasahi tanah, menumbuhkan kembang

sehingga aku bisa lagi melihat kembang dirayu kumbang.

“Cinta itu menghidupkan” kauberkata sambil merangkul leherku

dan aku mengambil senyum mungil dari pipimu.

“Hujanku selalu ada di dekatmu, kemarau tak mampu menjeratmu”

Kaudatang menghidangkan terang rembulan

ketika mataku dihadang gelap gulita.

Rembulanmulah yang menemaniku menata kata jadi puisi dan cerita

“Cinta itu cahaya” kauberkata seraya membelai rambutku dengan lembut

dan aku membalut tubuhmu dengan hangat yang tersulut.

“Percayalah, rembulanku selalu menggantung di malammu”

Kalian hadir membawa butir-butir waktu

bagi hidupku yang sering tergelincir licin lereng tebing kehidupan.

Aku katakan sekali lagi, bahwa aku cuma debu

yang terombang-ombing angin.

Mauku pada satu

muara jiwaku cuma bisa menerima satu resah

datang dan singgahlah di gubuk sajakku

lalu beranjak meninggalkan seribu tujah.

Maafkanlah aku,

biarkan aku terkapar ditampar gamang dan ragu.

Aku tak tahu kepada siapa menuju

pintu rumahku telah kuborgol

dan kuberlari menggapai sebotol sepi

di puncak rindu yang mengapi.

Khartoum, Sudan, 2010.

[]


%d blogger menyukai ini: