Tag Archives: kertas

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Tentang Hebat Menurut Versi saya (1): Lelaki Hebat

Oleh Ade Anita

 

 

SAYA suka nulis. Jadi kalau ada sesuatu yang bersemayam dalam kepala saya lebih dari satu kali dua puluh empat jam, sudah pasti sesuatu itu akan saya tuang dalam sebuah tulisan. Ah, jangankan sehari semalam seperti itu, kadang sesuatu yang berkelebat di benak sayapun sering saya tulis. Mungkin ini yang disebut inspirasi ya. Nah, karena seringnya ingin menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan, maka lembar untuk menulis dan alat tulis adalah sebuah keharusan yang harus tersedia di dekat-dekat saya. Saya pernah menulis di atas tissue dengan lipstik sebagai alat tulisnya saking kebelet pingin nulis banget karena melihat sesuatu.

Suatu hari, kejadiannya di rumah. Tiba-tiba pingin nulis banget dan komputer lagi dipakai oleh anak saya. Langsung saja saya ambil selembar kertas dan mulai menulis. Lalu atmosfir keasyikan mulai merasuki dan selembar kertas hvs itu ternyata tidak cukup menampung gagasan yang membeludak dari kepala saya. Jadi, saya ambil lagi lembar berikutnya hingga tidak terasa telah memakai tiga lembar. Setelah terpuaskan, lalu saya pamerkan pada seseorang tulisan tersebut. Belum jadi sih tulisannya, tapi setidaknya draft jalan cerita ide tulisan sudah terlihat rapi.

“Bagus nggak?”
“Hmm, sebentar. Ini pake kertas yang mana?” Kening saya langsung berkerut. Kok, nanya kertasnya sih?
“Yang itu.” Ragu saya menunjuk tumpukan kertas di atas meja tulis.

“Bagus nggak tulisanku?” kembali saya bertanya sambil senyum malu-malu mengharapkan pujian, muncul di wajah saya.
“Kenapa pake kertas itu de?” Loh? Hallooo….lagi ada yang minta dikomentari nih. Sumpah.
“Emang kenapa?” Meski sudah mulai kesal, tetap saja saya bertanya, nggak mungkin jujur bilang minta dipuji kan?
“Jangan pake kertas itu. Itu bukan milik kita.” hah!!! Kesal. Apa pentingnya sih kertas, kenapa sih nggak lihat isi tulisannya ketimbang kertasnya?

“Cuma tiga lembar kok.”

“TETEP. Jangan meremehkan hal sepele yang bikin kamu menyesal nanti. Biar cuma secuil, jika bukan milik kita kalau bisa jangan diambil De. Korupsi itu terjadi karena merasa nyaman ngambil yang kecil lalu mulai memperbesar porsi yang diambil sedikit demi sedikit. Kita harus mengembalikan kertas itu segera.” Kali ini saya benar-benar sudah kesal. Huh. Ini kan masalah sepele. Beli saja di warung, habis perkara. Kalau perlu beli satu rim sekalian. Itu draft tulisan saya gimana nasibnya? Baguskah? Jelekkah? Akhirnya alih-alih minta tanggapan saya memilih untuk ngambek. Sebel banget. Kesal. Lalu kemana-mana sepanjang sore itu saya menggotong bibir manyun di atas pangkuan.

Malamnya, dengan penuh kelembutan barulah saya dijelaskan pelan-pelan tentang inti teguran sore tadi. Dalam suasana tenang, kemarahan yang sudah reda, saya bisa mencerna nasehat dengan penuh kesadaran. Ya. Sering kita meremehkan hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Padahal, dari hal-hal kecil inilah sebuah masalah besar akhirnya membelit erat dan kadang meremukkan seluruh tulang dan memecahkan urat nadi. Bertoleransi pada sebuah kekhilafan kecil akan memupuk rasa tidak melakukan kesalahan lalu tanpa terasa membangun menara kesombongan bahwa diri telah menjadi super. Lupa bahwa kaki sedang menginjak orang susah. Tak merasa bahwa ada pihak yang terpaksa harus berkorban demi kejayaan yang kita raih. Apa pentingnya sebuah kemenangan jika diraih dengan cara yang tidak jujur dan tidak adil? Apakah masih terasa nikmat kejayaan yang disertai sumpah serapah pihak yang teraniaya?

“By the way, tulisan kamu bagus.” Akhirnya komentar yang ditunggu keluar juga. Tapi hati ini sudah terlanjur malu. Malu pada kelakuan saya yang terlalu manja dan hampir menjerumuskan orang lain, keluarga saya, ke dalam arus perilaku koruptor. Malu pada dua malaikat pencatat kelakuan baik dan buruk yang mengintip dari belakang pundak.

“Maafin ade ya.” Ternyata, tidak selalu sebuah pujian membuat hati merekah dengan bunga-bunga.
“Udah.” Sudah? oh, seharusnya saya sudah menduganya.

Mmmmm…..ngg…. Saya jadi bingung mau ngapain lagi. Salah tingkah mulai merasuk.

“Kenapa lagi?” Akhirnya saya ditanya. Laki-laki ini memang selalu tahu jika ada sesuatu yang menggayut dalam kepala saya.
“Boleh minta sesuatu?” Akhirnya malu-malu saya bertanya padanya.
“Apa?”
“Besok-besok, biarpun aku merengek minta sesuatu yang bikin kamu harus usaha keras memenuhinya, jangan sampai hal itu bikin kamu bertoleransi untuk terjerumus jadi koruptor ya. Persis seperti kamu ngingetin aku dengan tiga lembar kertas tadi sore. Aku perempuan manja yang banyak maunya. Jadi, tetaplah jadi lelaki berpendirian.” Lalu lelaki di depan saya mengangguk setelah mengucapkan kata insya Allah. Dialah lelaki hebatku. Dialah, suamiku.

[]

Maaf, gambar ayam yang sering saya jadikan ilustrasi tulisan notes saya, bukan karena saya suka ayam.. hanya saja, pelajaran menggambar saya baru sampai binatang ayam. Masih belum sempurna, tapi setidaknya karya sendiri.


Berapa Nomormu, Hubungi Aku, Ya Adhy Rical

Catatan Sulaiman Sitanggang tentang Sajak “Berapa Nomormu?”.

***

Berapa Nomormu?

kesepian butuh naluri riang
dan jejaknya melangkah sendiri
seperti alis yang jatuh
jadi pembatas halaman buku

kesepian bukan kertas tagihan
yang dihitung berurutan
seperti tarif kartu kredit
mewaktu di luar derit

kesepian itu sejumlah angka
yang dihitung dari bilangan akhir
agar mudah berkurang
tapi tak boleh terbagi

berapa nomormu?
hubungi aku!

Kendari, 2010
[] Adhy Rical

Bagaimana aku menyahut pada mu saudaraku AR. Lihatlah biasa sekali kita yang sekarang ini menggunakan judulmu itu. “Berapa nomormu?“, sambil melirik kepada gadis manis atau pria tampan yang baru saja berkenalan dan berbagi senyum hangat. Atau kepada relasi bisnis yang membutuhkan modal sosial, jejaring pertemanan itu dengan tampang meyakinkan. Jarang sekali ya, kita mengejar nomor kepunyaannya para riserser atau peneliti kehidupan ini. Nomor wanita cantik lebih menggiurkan daripada nomor wanita budayawan, misalnya.

Konon, sukses pun didefinisikan dengan sebanyak apa teman yang dipunyai. Aku masih ingat, rektor di kampusku dulu berkata demikian. Seorang lulusan kampus ini, bila mempunyai teman lebih dari 1000 saja, maka sukses ada di tangannya. Tepuk riuh menyambut pidato sang rektor menyambut hari pertama kami yang seperti kambing congek digiring para senior untuk selanjutnya diselesaikan di lapangan lapangan OSPEK. Sang rektor yang mengamati betapa gejala autisme kerap menghinggapi dunia mahasiswa. Autis yang kata lain dari mengisolasi diri itu. Menutup diri dari dunia luar. Membentuk dunianya sendiri.

Begitulah, betapa nomormu menjadi familiar untuk telinga sembari menekan tuts pada alat canggih berteknologi pengetahuan bertenaga pasar itu. Dan negeri kita tentu saja pasar yang ‘baik’, untuk teknologi semacam komunikasi interaktif. Bukankah kegemaran bangsa kita berbicara? Bergosip? Hingga urusan ranjang orang lain pun menjadi soalan nasion? Namun sedikit saja berkarya. Ada benarnya pepatah itu, sedikit bicara, banyak berkarya. Banyak bicara sedikit berkarya.

Untuk judulmu yang pendek saja, terselip kompleks hidup di sana. Dari familiaritasnya. Kompleks yang memuncak pada satu baris judul saja, Berapa Nomormu?

Dan larik pembuka menghantam dengan kata ‘kesepian‘. Sepi yang akrab bagi mereka yang menggeluti dunia imajinasi bermedium bahasa mewujud kata. Cerita dunia yang lain itu. Dunia yang itu itu juga, dunia ini juga. Imajinasi yang tipis saja jaraknya dari ilusi ataupun halusinasi. Sepi yang dikejar imajinator juga terasa sayatnya menggenggam tangan orang kebanyakan. Lihatlah desa desa kita kini yang sepi. Sudut sudut kota kita yang sepi. Gejala sepi yang terlihat saja dimana mana ini. Sepi dan terasing.

Hei kau, makhluk kesepian sahut seorang kawan kepada kawannya. Tersenyum saja ia dengan pelabelan itu. Boleh saja, asal jangan sampai kepada pemberhalaan. Sepi dan berhala. Kelak ya, masing masing kan bertemu dengan sepi itu. Setelah kesendirian itu menganga. Menggariskan jarak antara hidup yang lahir dan mati, dalam kesendirian itu. Dan ia yang duduk merenung dalam penantian, menggenggam sepi. Sedih di tatapnya waktu yang kian berlalu. Bertemu juga ia dengan naluri yang ada padanya. Bawaan alam itu. Diantara sedih, terselip riang juga. Dan kesepian yang penuh naluri riang. Betapa eloknya. Seperti semangat kemudaan itu. Tak ditepisnya sepi yang sedih itu, malah digenggamnya hingga ditemukannya sepi yang riang. Menjejakkan langkahnya beralaskan sikap sikap yang menjadi pilihannya. Melangkah bersama sikap. Seperti alis yang jatuh, menjadi pembatas buku.

Bukankah ini sebagai penanda yang hendak dilukiskan penyair? Penanda bahwa alis kepunyaan diri itu menjadi bukti nyata, pembatas pada kisah buku hidup yang tak terbatas. Barangkali setiap kutu buku pasti pernah mengalami pengalaman serupa ini pula. Ketika mata berbinar binar melahap huruf huruf yang menari nari di halaman, alisnya terjatuh sehelai. Sejauh mana kisah membawa terbang imajinasi pembaca, alis jatuh juga yang mengingatkannya. Sama seperti seruan kawan tempo hari di tengah asiknya tarian tuts tuts komputer saya ini. Kutinggalkan juga dunia maya ini. Demi melihat alis sahabat melengkung seperti sebuah senyuman disertai tawa riang menari dalam percakapan hangat.

Yang itu bukan tagihan. Dikotomi utang piutang pun lebur. Aku bukan rentenir yang menghisap bunga tagihan. Dan aku bukan rakyat jelata yang tertindas ketakberdayaan. Aku adalah … Sepi itu berbicara. Sama seperti ia yang menuntaskan dikotomi kalah menang. Kita tak sedang berkompetisi, katanya. O puisi, mengapa aku dan kau melihatnya sebagai ajang kompetisi? O hidup yang bagaimanakah yang tanpa kompetisi itu sahabat? Sementara demi sesuap nasi, seorang mesti menginjak menyikut bahkan melenyapkan yang lain. Terlalu biasa kita mengejar keberhasilan diatas penderitaan orang lain.

Dan kita mulai berhitung. Mesti ada perhitungan yang jelas. Mengadakan perhitungan dengan segala apa dalam angka. Berdasar angka. Dan kesepian itu sejumlah angka, kata Adhy Rical. Sekejap larik puisinya memutar angka yang ada dalam benak ini dan benak itu. Angka?

Selain huruf, angka juga yang membangun bangunan hidup kita. Ide dan pikiran kita. Benda benda yang dapat kita sentuh. Alat alat yang kita gunakan. Seperti ponsel itu. Lahir dari temuan angka dalam algoritma mesin itu. Satu dan nol. 101010, 010101. Bilangan fuzzy, kata saintis sosial dalam memetakan persoalan hidup bersosialisasi. Mencoba menemukan solusi atasnya. Bilangan fibonachi, kata matematikawan yang menemukan derajat kemiripan pada setiap elemen hidup. Hidup yang tak lain tak bukan adalah spiral itu. 11235 dst. Terpaksa kita mengutip bahasa asing. Dari temuan pengetahuan tetangga kita dari negeri asing itu. Menggunakan angka dari mereka pula. Basis sepuluh ini. Sementara kita punya pengetahuan, entah di mana rimba hidupnya. Di mana halaman sejarahnya. Tak juga negeri ketika duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam derajat pengetahuannya bersama bangsa lain.

Mengapa sembilan saja jumlah angka, selidikku kepada kawan. Aneh saja kau, katanya. Sebab, ada sembilan lubang pada tubuh manusia, balasku. Dari lubang mata, mulut, hidung, telinga, puting, pusar, pori, kelamin sampai lubang anus itu. Lubang yang penuh dinamika hidup. Beberapa menemukan katarsis melalui sembilan lubang itu. Sebuah kenikmatan. Bukankah aneh, lubang lubang itulah yang membentuk kehidupan kita? Interaksi kita? Freudian mengandalkan lubang kelamin dalam menstrukturkan psikologi kehidupan. Barangkali ia lupa ada lubang pusar juga. Terlalu ia memerhatikan lubang kelamin itu. Ada lubang pusar yang menjadi ikatan darah itu. Yang menjadi dasar pembentukan kekeluargaan. Iya, bangsa kita penganut filosofi lubang pusar. Pusar ini berasal dari pusar yang terdahulu. Begitu kira kira hingga budaya silsilah dan kekerabatan ada dan ketat pada suku bangsa kita.

Sembilan angka itu tak terasa sempurnanya. Seolah masih saja ada yang kurang. Selain sembilan angka, angka kosong itu dihadirkan sebagai pemenuhan. Kosong yang mengisi kekosongan. Kalau kita berbicara berdasar basis sepuluh. Sementara saat kita memandang purnama dan matahari, bukankah basis duabelas yang menjadi kenyataan? Fokus kepada sang diri, menghamparlah basis sepuluh. Fokus kepada alam raya nyatalah basis duabelas. Tinggal pilih saja. Seperti klik, dan aha basis mana nih. Basis manusia atau basis alam? Langsung sret saja di tengah kemualan ulu hati menyaksikan keartifisialan yang melanda keterasingan jaman kita.

Lubang lubang yang menjelma tanda dan selanjutnya menjadi angka semata itu. Saat angka berbicara, maka bisakah kukatakan itulah saat lubang berbicara juga?

Ini saatnya, angka mu dan angka ku berbicara.
Ini saatnya, lubang ku dan lubang mu berbicara.
Sini duduk bareng.

Bertemulah kelamin itu terjadilah komunikasi intim pasangan. Bertemulah kedip dan tatap mata itu, terjadilah kesan pertama menerobos hati. Bertemulah mulut ke mulut berhias senyum dan tangis itu, berbincang segala hal tentang kehidupan, dua sahabat duduk bercengkrama menikmati senja. Demikian selanjutnya hingga kosong mu berbicara dengan kosong ku. Asik sekali ya.

Yang perlu kita lakukan adalah menyamakan frekuensi tuning. Seperti temuan Alan Turing itu. Menyamakan frekuensi secara teknologi antara bahasa mesin dan bahasa kenyataan. Seperti radio, carilah salurannya. Atau carilah angkanya, atau carilah lubangnya yang ada pada diri itu sendiri.

Tak heran, Adhy Rical selanjutnya berkata
Berapa nomormu?
Hubungi aku
.

Sudahkah kau dengar nyanyian nomorku, dentingan angkaku, sahutan lubangku pada lubangmu sahabat?

Salam

Sstoba

[]

dok. garasi, ar, 2007

Sulaiman Sitanggang

Sulaiman Sitanggang dikenal sebagai essaies yang handal. Sejumlah tulisan dan kajiannya dapat dibaca di sejumlah media. Enginering lulusan ITB ini juga aktif bersyair.

Lihat profil Sulaiman Sitanggang di Facebook. Lihat info lain perihal Sulaiman Sitanggang (foto, galeri, etc.)

Kajian Sulaiman Sitanggang lainnya di IFW :

Untuk Adhy Rical : Aku Padamu!

Bahasa Lain


Tiga Puisi Kecil # 2

Oleh Adhy Rical

Menulis Tubuh

dengan canda kita di sini
menulis tubuh yang tak selesai
lima detik bibirmu lenguh
pecahkan gelas yang kita pakai
minum bersama dalam selimut

Kendari, 2010

[]

Penyetia

hanya malam gigil memanggil
dan dinding gua berbasahan
kaukah yang bertenang itu, penyetia?

Konawe, 2009

[]

Wasiat

jemput aku di pulau ini
dengan kertas dan pena
tujuh senapan membidik tubuhku
besok

Kendari, 2008

[]


Sebelum Mereka Menangis

Oleh Adhy Rical

: sinm

jika ada pohon dekat rumah
buatlah ayunan untuk anakmu
lalu biarkan ia menulis tentang akar
yang menjelma buku di bawah bantalnya
: aku akan terbang sebelum mimpimu sampai

jika ada buku berserakan
buatlah kapal kertas untuk istrimu
lalu biarkan ia berdoa tentang gelombang
yang menjelma ikan dalam matanya
: aku akan berenang sebelum kau terjaga

jika mereka tak bisa menjelma apa-apa
peluklah dengan doa setelahnya
sebab pepohon dekat kolam jadi rimbun
dan ikan-ikan bertelur di akarnya
sebelum mereka menangis

Kendari, 2010



Laga

Oleh Adhy Rical
“bolehkah kau berhenti mencintaiku?
agar kutahu rasanya kehilangan”
(Kemarin jam 22:59)

Kertas buram di meja itu tak menyerap kisah. Gambar-gambar wajahmu, sebagian kugaris silang seperti menjawab ketakutan malam ini: kau akan pergi. Di bingkai, kaca-kaca tegak mengajak jantungku usai, tapi bukan kematian. Mereka berkumpul sepanjang sisa kopi kemarin. Mirip mimpi remaja: berbasahan. Tak ada lagu, desah, atau doa. Pesan pendekmu: semalam, kubunuh sepi, dan kau akan mati tak terbunuh. Aku pergi sebelum kehilangan berhenti. Aku (akan) berhenti sebelum lonceng berbunyi. []

Kendari, 2010


Berapa Nomormu?

Oleh Adhy Rical


kesepian butuh naluri riang
dan jejaknya melangkah sendiri
seperti alis yang jatuh
jadi pembatas halaman buku

kesepian bukan kertas tagihan
yang dihitung berurutan
seperti tarif kartu kredit
mewaktu di luar derit

kesepian itu sejumlah angka
yang dihitung dari bilangan akhir
agar mudah berkurang
tapi tak boleh terbagi

berapa nomormu?
hubungi aku!

Kendari, 2010

dok: ar, garasi, 2007

garasi, ar, 2007



Barangkali

Oleh Adhy Rical

barangkali kita tak perlu menata rencana yang
kesekian. sebab kertas kerja telah
menjadi barang kali
di tepi rumpun bambu lalu
hujan melukis wajahmu pada
tanah separuh basah

barangkali kau mengejek keluguanku yang
kesekian. sebab sofa ibumu telah
menjadi altar nyali
dekat televisi siaran biru lalu
kau menulis tubuhku dengan
akar bunga: biar lebih batang, katamu

kemudian,
cerita rumput teki dan sepasang kijang
menyembul satusatu dari ranjang
hingga kau tertawa
: aku masih perjaka

Kendari, 2010


%d blogger menyukai ini: