Tag Archives: bapak

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Teristimewa #4

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #3 ]

Oleh Ade Anita

Dari Celah Hingga Jalan Raya

I. Celah

Sebuah lubang yang terjadi tanpa sengaja.

Sebuah lubang tempat kesempatan bisa didapat.

Sebuah kesempatan yang terjadi hanya satu kali.

“Ibu menikah dahulu dengan bapak usia berapa?”

Aku bertanya pada perempuan yang terlihat putus asa di hadapanku ini. Mungkin ini pertanyaan yang tidak penting. Bukankah tak berguna bertanya pada daun kering yang tergeletak di atas lumpur, siapa yang menjatuhkannya dari ranting pohon? Tapi sebuah kenangan cinta yang terekam baik selalu menerbitkan seulas senyum. Dan aku melihat setitik warna merah jambu di pipi yang tirus.

“17 tahun.”

Wah… Sweet seventen dong. Siapa naksir siapa nih?”

Sebuah senyum merekah di wajah tirus yang sumringah.

II. Pelangi

Tujuh warna fantastis yang menghiasi langit yang basah.

Merah yang membara oleh gairah.

Hijau yang khusyuk.

Jingga yang genit.

Kuning yang lembut.

Biru yang mengemban rindu.

Nila yang tegas.

Ungu yang tegar.

Semua air mata bidadari yang jatuh bersama hujan, tersapu oleh indahnya pelangi.

Lengkungannya selalu mampu membuang lara.

“Kami dahulu menikah sirri. Bawah tangan. Sudah kadung cinta mati sama bapak. Jadi nggak peduli lagi meski orang tua nggak setuju. Jadi meski hidup susah tetap saja rasanya tentrem. Tapi sama orang tua akhirnya direstui sih, jadi nikah ulang biar dapat buku nikah.”

Lalu mata yang cekung itu mulai melirik ke arah dinding yang penuh dengan bercak-bercak jamur. Hitam. Licin. Bau. Dan disanalah terdapat sebuah bingkai sederhana yang berisi sebuah potret. Seorang pemuda tampak tersenyum bahagia mendekap seorang gadis remaja yang tertawa lebar. Rona bahagia menebar. Menghalau bau tengik jamur yang menempel di dinding yang tampak lusuh. Bagai pelangi yang menghalau gerimis yang miris.

III. Atap

Sinar mentari yang perkasa tak dapat menembus atap.

Padanya kita memperoleh kenyamanan untuk berteduh dari terik.

Tapi sebuah lubang kecil tak dapat menghalau tembusan cahaya.

Pada sebuah titik terang yang tertahta di lantai semen, mataku tertuju.

Lalu menelusuri sulur cahaya yang terbentang antara noktah cahaya dan lubang di atap.

“Setelah menikah, langsung menetap di sini atau masih tinggal dengan orang tua?”

“Masih tinggal dengan orang tua saya dulu. Suami belum bekerja. Dulu orang tua suami hidup dari kontrakan. Terus bapak mertua kasi modal untuk jualan cendol, dibeliin gerobak, stoples. Ya sudah suami kerja, baru saya ngontrak di petakan. Pas orang tua suami meninggal, saya tempati rumah ini. Ini semua petak-petak punya sendiri, nggak ada yang ngontrak. Dulunya kontrakan, tapi dibagi-bagi warisan jadi dah ditempati ama anak-anaknya.”

“Berarti semua ini satu deret masih pada saudara suami semua dong?”

“Ya gitu deh. Tapi percuma sodara juga, pada nggak mau nulung.”

Angin datang berhembus. Angin musim kemarau yang membawa hawa panas. Terdengar suara berderit dari arah samping rumah. Entah berapa lama kayu-kayu galar itu bisa menopang doyongan rumah yang makin miring ini. Rumah reyot ini bisa rubuh kapan saja.

“Saya bingung mbak. Anak saya mau sekolah, yang kecil mau masuk SD, yang besar mau naik kelas dua SMP. Mereka belum beli seragam. Yang SMP bahkan belum bayaran tiga bulan padahal minggu depan sudah harus lunas biar bisa ikut evaluasi. Habis, suami saya sakit sejak tiga bulan yang lalu. Jadi nggak ada yang keliling jualan. Hutang kami dimana-mana. Semua barang sudah kami jual untuk biaya berobat bapak kemarin. Saya takut lihat para tukang pukul itu datang.”

Aku tercenung. Menatap sekeliling isi rumah yang lengang. Semua barang di rumah ini adalah barang yang dipungut dari pinggir jalan. Atau barang yang tertinggal bertahan karena memang tak ada yang sudi membelinya. Meja makan yang kakinya patah satu hingga harus diganjal dengan batu. Atau kasur springbed yang bagian tengahnya sudah melesak ke dalam. Yang tampak hangat mencerahkan hanyalah foto sederhana tentang seorang pemuda yang sedang merangkul seorang gadis muda yang tertawa penuh bahagia.

Aku termenung. Lalu kembali menatap noktah cahaya yang tertahta di atas lantai.

Menelusuri jembatan cahaya yang mengantarkan mataku pada sebuah lubang di atas atap.

III. Cendol.

Minuman dingin yang terdiri dari adonan tepung beras yang disaring dengan saringan khusus hingga membentuk pilinan mungil. Disajikan dengan pemanis gula merah dan parutan es.

Aku suka cendol. Murah meriah menyegarkan.

“Cendolnya dulu bapak bikin sendiri?”

“Iya.”

“Ibu sendiri bisa bikin cendol?”

“Bisa.”

“Berarti, setelah bapak meninggal ini, ibu masih bisa nerusin usaha bapak dong, untuk jualan cendol?”

Perempuan di depanku menggeleng. Penuh putus asa dia menatap kedua anaknya yang setelah makan nasi bungkus, kini tampak tertidur kelelahan di atas lantai.

“Saya bisa bikin cendol, tapi saya belum pernah berjualan cendol. Kaki saya reumatik, apa bisa keliling kampung menjajakan cendol?”

“Iya sih, berat memang. Biasanya, kalau reumatiknya kambuh diobati apa bu?”

“Minum sari daun bayam liar.”

“Bayam liar? Maksudnya? Beda ya dengan bayam biasa di pasar?”

“Beda. Itu loh mbak, di trotoar, di pinggir selokan, di bawah tiang listrik, biasanya suka tumbuh tanaman yang daunnya mirip bayam. Nah, itu dipetik, ambil daun pucuknya saja dan batang mudanya, cuci bersih, rebus terus diperas airnya. Airnya itu bisa untuk menghilangkan sakit reumatik.”

“Oh ya?”

Kadang, kita sering tidak menyadari bahwa nikmat dan kemudahan yang diberikan Allah sungguh amat sangat tidak terbatas jumlahnya. Tak mampu rasanya untuk dihitung satu persatu. Bahkan untuk si miskin yang tidak mampu membeli apa-apapun disediakan juga obat-obatan gratis di sepanjang jalanan yang terbentang.

“Wah, setiap hari saya selalu jalan kaki mengantar anak saya sekolah. Nanti deh saya bantu juga mengumpulkan daunnya itu agar ibu bisa segera bekerja. Jalanan yang saya tempuh cukup panjang. Setiap hari, saya bisa ganti variasi rute jalanan agar setok daunnya tidak pernah kekurangan. Ibu harus bangkit, bekerja. Berat pasti, tapi sekarang sudah tidak ada pilihan lagi. Karena segala sesuatunya memerlukan biaya. Anak sekolah, makan, bayar listrik, bayar hutang, semua memerlukan uang.”

“Tapi saya takut tidak bisa. Aduh, saya tidak bisa. Bagaimana jika saya tidak bisa membayar semua itu?”

“Pelan-pelan. Semuanya dijalani secara bertahap saja. Sementara saya hanya bisa membantu mengumpulkan daun dulu mungkin. Yang penting, ibu yakin dulu ibu bisa dan Allah pasti akan memberi bantuan. Tuhan tidak pernah menelantarkan hambaNya begitu saja. Coba saja lihat, bayam-bayam liar Allah tumbuhkan dengan cepat dimana saja. Sama seperti Mengkudu yang bisa ada dimana saja.”

“Bagaimana jika saya tidak bisa?

“Tapi mereka berdua yakin ibu bisa. Ibu amat berarti bagi mereka berdua.” Aku menunjuk dua kepala mungil yang sedang tertidur pulas.

IV. Jalan Raya

Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan. Panjang tak terputus.

Sejauh kaki melangkah.

Berderap dengan gagah atau meniti dengan tertatih. Masih ingatkah kita semua kapan pertama kali kedua kaki kita menjamah jalanan?

Tidak. Tidak ada yang ingat bagaimana rasanya ketika pertama kali kaki kita menjamah jalanan. Tapi seorang ibu akan selalu ingat kapan anaknya pertama kali menjejakkan kaki. Karena segala sesuatu ada tahapannya. Dimulai dari hal yang paling mudah dahulu. Bukankah pertama kali kita tidak pernah langsung berjalan dengan dua kaki? Ada kedua tangan yang membantu menopang untuk merangkak.

Terjerembab beberapa kali.

Menangis sakit karena dahi yang terbentur.

Atau lutut yang lecet karena tergores jalanan.

Barulah setelah itu bisa berdiri sambil tersenyum bangga.

Semua ibu akan tertawa lebar ketika melihat anaknya akhirnya bisa berdiri sendiri. Makin bangga ketika anaknya bisa berjalan. Berlari kencang. Lalu tiba-tiba memanggil penuh nada khawatir ketika laju lari anaknya menjauh dari pandangan.

“Hei, jangan jauh-jauh perginya nak, nanti kamu tersesat atau hilang.”

Hmm…. Aku rindu almarhumah ibuku.

Rindu dengan tegurannya yang dulu sering kuabaikan karena aku merasa sudah lebih pandai.

[]

Catatan penulis :

  1. Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada anggota keluarga atau tetangga yang kekurangan tidak dapat melanjutkan sekolah karena mendadak menjadi yatim.
    1. Minta surat pengantar keterangan tidak mampu ke RT atau rw.
    2. Pergi ke sekolah untuk mengajukan keringanan dengan membawa: surat pengantar keterangan kematian orang tua, surat keterangan tidak mampu dari rt/rw, akte kelahiran.
    3. Jika surat-surat itu belum ada, beri keterangan secara verbal pada pihak sekolah tentang kondisi yang terjadi dan ajukan keringanan. Bukti administrasi menyusul.
    4. Ajukan diri anak untuk masuk dalam daftar mereka yang menjadi tanggungan sekolah. Semua sekolah negeri (sd, smp, sma, dan beberapa Perguruan Tinggi Negeri) akan membebaskan anak yatim dari keluarga miskin dari pungutan sekolah dan memasukkan mereka dalam daftar beasiswa dari hasil subsidi silang yang ada di komite sekolah. Tentu ada prosedur khusus yang akan dilalui seperti pengecekan langsung kondisi rumah, pekerjaan orang tua, jumlah penghasilan dan pengeluaran perbulannya, jumlah anggota keluarga. Semua semata agar pemberian bantuan tidak salah alamat atau disalah gunakan oleh mereka yang tidak berhak. Sedangkan untuk sekolah swasta, kebijaksanaan yang diterapkan umumnya bervariasi tergantung kondisi sekolah yang bersangkutan.
  1. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“.
  2. (al Quran:Al Baqarah: 155-157)

Teristimewa #3

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #2 ]

Oleh Ade Anita

APA yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Mungkin hanya bayang-bayang sepanjang badan. Atau guratan kuning di kaki langit. Tapi bisa juga sebongkah senyum di wajah yang tidak lagi nestapa.

Hati manusia memang tidak dapat disangka. Tak cukup hanya menilai seseorang dari seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Dan jangan pernah tertipu oleh seraut wajah manis nan menawan. Terlebih jika wajah itu dimiliki oleh seorang penipu.

Bertemu dengan penipu adalah hal yang paling menyesakkan. Rusak binasa bangunan rasa percaya. Kacau balau hubungan timbal balik yang telah terbina. Lalu siapa yang harus dipercaya jika rasa percaya sudah dikhianati? Dan siang itu, tujuh tahun yang lalu, aku tertipu oleh pandangan mataku sendiri.

“Jadi, usia bapak berapa?”

“32 tahun.”

“Ah, masih muda. Lalu, ibu sendiri, berapa usianya?”

“29 tahun.”

Perempuan dengan tubuh gemetar itu, ternyata memiliki usia yang jauh lebih muda dariku. Aku nyaris salah sangka, menyandangkan cap sebagai perempuan tua di pundaknya.

“Anak menyangka saya sudah tua ya?”

Aku terkejut, amat khawatir bila isi kepalaku terbaca. “Tidak.”

“Berapa usia anak sendiri?”

Aku menggeleng, enggan menjawab.

“Anak-anaknya sudah besar, pasti sudah lumayan berumur?”

“Sudah lapor rt setempat, bu…untuk memberitahu kematian bapak?”

“Apakah anak eh…mbak sudah mencapai kepala tiga seperti saya?”

“Ah, mungkin lebih baik saya minta tolong seseorang untuk memberitahu pengurus masjid terdekat perihal kematian bapak.”

“Ataukah jangan-jangan sudah mencapai kepala empat?”

Lalu tiba-tiba tangan kurus yang terlihat lemah itu mencengkeram lenganku.

“Berapa usiamu nak?”

“Nggak penting bu berapa usia saya.”

“Tapi ibu ingin tahu nak. Berapa usiamu?”

Cengkeraman itu kian kuat. Dagingku mulai terasa dibenami sesuatu yang menyakitkan. Aku gelisah, bagaimana ini?

“Bu, itu tidak penting. Bapak harus dikuburkan, itu fokus kita hari ini bukan?”

“Bapak sudah mati. Apa lagi pentingnya hal itu? Masa muda saya sudah terlewati olehnya. Kecantikan saya tersedot oleh kesengsaraan yang terlalui bersamanya. Jika dia mati, apa lagi yang bisa saya lakukan? Hidup saya sudah tidak berarti lagi. Masa depan saya sudah terenggut oleh kematian suami saya. Saya tidak punya harapan. Jadi, saya ingin tahu usia mbak sebelum hidup saya berakhir?”

Aku tergugu. Gelisah menggantang galau.

Gamang.

Kehidupan sering terkotak-kotak dalam berbagai perbedaan yang menggelisahkan. Muda dan tua. Cantik dan jelek. Pintar dan bodoh. Kaya dan miskin. Sholeh dan kafir. Terpuji dan terhina. Gendut dan kurus.

“Berapa usiamu?”

Senang dan sedih. Terpilih dan tersingkir. Kalah dan menang. Kecil dan besar. Muda dan dewasa. Laki-laki dan perempuan. Tinggi dan pendek. Modern dan kuno. Baik dan buruk.

“Saya, …ngg…33 tahun.”

Lalu aura di wajah itu pun berubah layu. Perempuan gemetar di depanku mulai menjambak rambutnya sendiri. Tak lama kemudian dia menunduk lalu menangis tersedu. Meraung.

“Tuhan amat sangat tidak adil pada saya. Semua keburukan ditimpakannya pada saya. Lalu lihat apa yang dia berikan pada mbak. Saya hanya menerima sisa. Saya benar-benar sampah, saya benar-benar sampah.”

Aku kian galau. Merasa bersalah dengan kejujuran yang baru saja aku ucapkan.

“Sstt… Jangan bergerak bu. Ada nyamuk di wajah ibu.”

Tangan gemetar itu mengusir dengan sekali kibas. “Bahkan nyamuk pun menginginkan kematian saya lebih cepat.”

PLOK!

Nyamuk mati terpukul. Darahnya muncrat di pipi. Aku tersenyum.

“Bukan bu, nyamuk itu utusan Tuhan yang teristimewa untuk ibu.”

“Kenapa?”

“Berarti ibu amat berarti, hingga darahnya dicari-cari. Sudah, jangan terus-menerus menyalahkan Tuhan. Jika tidak ada nyamuk, mungkin tidak akan berguna semua pemikiran manusia untuk mengusir nyamuk, dan pil kina tidak ada artinya sama sekali.”

Perempuan gemetar itu menatapku lamat-lamat. Tatapannya  terasa mencoba untuk menembus ke dalam kepalaku. Perlahan, aku mendaratkan tanganku di atas telapak tangannya dan mencoba untuk menepuknya secara perlahan. Berharap rasa hangat yang kumiliki bisa sedikit memberinya ketenangan.

Jadi…apa yang disisakan oleh sinar Mentari di sore hari? Rasa sedih karena kehilangan hari yang ceria. Berlalunya waktu dalam kesia-siaan sepanjang hari. Rasa pilu menyambut gelap malam dalam gaun hitam yang muram.

Tidak. Itu bukan gambaran senja yang aku suka.

Baik, sekarang, tanya aku sekali lagi. Apa yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Keindahan senja yang jingga. Semburat lembayung yang syahdu. Serta keteduhan angin yang berbisik lembut di telinga.

Aku menyukai senja. Apakah kau juga menyukainya?

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada tetangga terdekat atau anggota keluarga kita meninggal dunia.

  1. Lapor Rukun Tetangga setempat. Petugas RT akan memberikan pada kita surat pengantar keterangan kematian resmi hingga tingkat kecamatan. Adapun biaya yang mungkin dikeluarkan di kelurahan dan kecamatan berkisar antara Rp100.000 s.d. Rp500.000 (tiap-tiap lokasi berbeda-beda kisarannya, dan biasanya tidak diberikan kuitansi).
  2. Lapor pengurus masjid terdekat untuk yang beragama Islam. Tiap-tiap masjid setempat, memiliki dana khusus untuk yang tertimpa kematian. Dana ini dipakai untuk membantu; honorarium sekedarnya bagi petugas memandikan jenazah, memberikan kain kaffan gratis bagi keluarga miskin (tentu saja harus ada surat keterangan kematian resmi dari RT setempat dan surat keterangan tidak mampu, juga dari RT setempat), dan menyediakan peminjaman gratis tenda sederhana sebesar 2 x 3 meter bagi pelayat di rumah duka dan meminjamkan kursi sebanyak 10 buah kursi lipat bagi pelayat. Juga penyediaan satu kotak minuman gelas kemasan, dan membantu memberitahu perihal kematian lewat pengeras suara. Termasuk disini peminjaman keranda mayat gratis.

Mengapa dua hal ini harus dilakukan (terutama jika yang tertimpa musibah adalah keluarga miskin)? Karena siar pemberitahuan lewat pengeras suara tersebut bisa menghimpn dana tambahan dari masyarakat guna keringankan beban yang harus ditanggung oleh yang tertimpa musibah.

Untuk menguburkan mayat, di DKI Jakarta, ada sewa kuburan untuk tiga tahun yang dibayar di muka dengan kisaran sebesar Rp150.000 s.d. Rp300.000 (untuk tanah pemakaman umum di DKI Jakarta, memang diberlakukan sewa lahan kavling, tidak ada hak pemilikan kavling, dimana sewa tersebut berlaku untuk tiga tahun. Setiap tiga tahun sekali, harus dilakukan pembayaran sewa lahan jika tidak maka kavling dianggap terlantar dan berhak untuk dialihkan kepada pihak lain tanpa pemberitahuan sebelumnya).

Biaya membuka kavling kuburan berkisar antara Rp300.000 s.d .Rp2.000.000 (tergantung apakah itu kavling pavorit atau tidak dan tergantung apakah itu termasuk tanah kuburan pavorit atau tidak. Yang dimaksud dengan kavling pavorit yaitu letaknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, letaknya yang eksklusif seperti di hook atau tempat yang mudah diingat lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan tanah kuburan pavorit, yaitu tanah kuburan yang menjadi incaran banyak orang karena letaknya yang terkenal dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Misalnya, areal pemakaman Karet Bivak, Menteng Pulo, dan sebagainya.

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #4 ]


Teristimewa #2

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #1 ]

Oleh Ade Anita

TUJUH tahun itu bermula di hari ini.

Hari dimana matahari bersinar amat terik. Laksana pedang yang menghunus hingga menembus ke dalam kulit. Tulang-tulang pun terasa bergemeretak terpanggang kering. Kulit terasa sakit bagai tercubit-cubit.

Semua orang merasa gerah. Semua orang  juga merasa cemas. Sebilah pisau terhunus tampak sudah bersiap-siap di depan nadi lengan kurus yang gemetar.

Aku mau mati…lebih baik aku mati saja.”

Jangan bu, jangan lakukan itu, ingat Tuhan…Ingat Tuhan.”

Pisau itu pun tertahan karena ada kata Tuhan disebut. Lalu mata cekung itu menatap si pencetus kalimat dengan tatapan nanar.

Siapa Tuhan? Di mana Dia saat ini? Suami saya mati meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja. Ada orang yang siap menghabisi nyawa kami karena kami punya hutang dimana-mana? Di mana Tuhan saat ini? Mengapa Tuhan membiarkan semua kesengsaraan ini terjadi pada kami? Mengapa? MENGAPA???”

Lalu kaki gemetar yang menopang tubuh kurus itu pun lunglai kehilangan daya topang. Bagai daun yang kering terjatuh dari ranting . Tak berdaya. Juga kehilangan segala. Diam pasrah pada desakan angin yang perkasa.

Cepat. Ambil pisaunya sebelum nadi terlanjur diputus.”

[]

Tujuh tahun itu bermula di hari ini.

Di siang yang panas terik. Hingga tenggorokan terasa kerontang. Perempuan itu kini sudah ada di hadapanku. Duduk bersimpuh di atas bangku yang busanya sudah menyembul keluar dimana-mana. Mungkin tergerogoti oleh cakar yang kelaparan dan ingin menyulap busa agar berubah menjadi makanan pengganjal perut.

Sayangnya, telah tertebar bolong dan keropos di banyak tempat di atas bangku. Makanan tidak juga terwujud begitu saja. Yang ada sekarang adalah wajah tirus dengan air mata yang sudah mengering.

Alhamdulillah, akhirnya mayat suaminya yang terkapar di depan rumah bisa juga dikuburkan . Dan mungkin kini sudah telentang berhimpit dengan tanah dan sebilah papan.

Jadi, apa yang akan ibu lakukan sekarang?”

Perempuan itu pun menatapku dengan tatapan yang nanar. Kedua bola matanya berwarna abu-abu. Pertanda air mata sudah mulai mengering di dalam danau yang dulu pernah ada di kedua bola mata tersebut. Tak ada sepatah katapun yang terucap . Yang aku temui hanya dua buah bibir kering yang gemetar.

Tangan yang gemetar. Bibir yang gemetar. Kaki yang gemetar. Mata yang nanar. Air mata yang kering.

Bu, ibu sudah makan belum?”

Tak ada jawaban. Hanya ada sebuah kepala yang menunduk kian dalam.

Bu, kapan terakhir ibu makan?”

Kepala tertunduk itu menoleh ke arah dua kepala mungil yang bersimpuh di mulut pintu. Astaga!

Cerita ini bukan cerita tentang perempuan kurus yang memiliki sepasang kaki yang gemetar. Karena di samping perempuan ini ada dua buah kepala yang masih menjadi satu rangkaian tak terpisahkan.

Dik, kalian sudah makan belum?”

Wajah-wajah polos itu saling menatap satu sama lain. Lalu kompak menunduk menekuri lantai. “Dik, kapan terakhir kalian makan?”

Salah seorang anak akhirnya mengangkat dua buah jarinya dengan rasa ragu. Kedua jari yang gemetar. Dari dua buah tangan kecil nan kurus yang juga gemetar.

Dua hari yang lalu, sebelum bapak meninggal.”

Lalu tiba-tiba seekor cicak menjatuhkan serpihan cat yang mengelupas dari langit-langit yang sudah amat rapuh…PLUK.

Tujuh Tahun  itu bermula di hari ini.

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Ini bukan cerita fiksi, juga bukan juga cerita rekayasa. Ini cerita fakta. Atas permintaan banyak teman, mereka minta versi lengkap jalan ceritanya, jadi aku nulis lagi deh bagian berikutnya. Semua cerita benar terjadi, cuma nama tokohnya saja yang diganti masih bersambung terus ya…

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #3 ]


Teristimewa #1

Oleh Ade Anita

Tujuh tahun lalu aku pertama kali bertemu dengannya. Seorang perempuan biasa.

Rumahnya biasa, rumah sederhana dengan satu buah pintu dan empat buah jendela yang terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Beberapa atap rumahnya tampak sudah lenyap. Hingga memberi celah bagi mentari untuk menggantikan bohlam lampu di malam hari. Sebuah bohlam lampu yang ada di tengah ruang tamu adalah satu-satunya bohlam lampu yang ada di rumah tersebut. Jangan pernah pergi ke samping rumah. Karena rumah ini adalah rumah yang istimewa. Empat buah tonggak bambu telah menopang salah satu dindingnya, agar rumah ini bisa tetap berdiri kokoh meski doyong ke samping.

Kedua anaknya juga anak biasa. Punya kulit setengah terbakar karena terlalu banyak terbakar sinar matahari karena kegiatan mereka yang memang banyak dilakukan di luar rumah. Membantu bapaknya keluar masuk kampung berdagang cendol. Atau membantu ibu mengambil daun pisang untuk dijual ke pasar tradisional.

Yang teristimewa justru peristiwa ketika aku pertama kali bertemu dengan perempuan biasa ini.

Ketika itu, dia menatapku dengan  bola mata yang nanar. Bola mata yang cekung. Rupanya seluruh danau air mata yang pernah ada di sana telah habis terkuras hingga kini hanya meninggalkan sebuah cekungan yang amat dalam. Sedalam jurang yang terjal. Bahkan kita bisa melihat isi perut bumi di dalamnya.

Kedua kakinya tampak gemetar. Tak kuat menahan beban tubuhnya yang hanya tersisa sekelingking saja. Lalu bibirnya yang kering kerontang gemetar menyampaikan keinginan kuatnya padaku, “Aku ingin mati saja.”

Dan tiba-tiba dia pun luruh di hadapanku. Berusaha untuk menangis tapi tak dapat mengeluarkan air mata lagi. Bahkan kemudian jemarinya mengais-ngais tanah, berharap tanah akan terbuka dan menguburkan dirinya hidup-hidup. Sebuah pisau sudah siap memutuskan urat nadi di tangannya.

Dia tidak main-main, dia memang ingin bunuh diri sejak tadi.”

Beberapa orang yang berkerumun mengelilingi perempuan itu mulai berbisik padaku.

Ya. Tujuh tahun yang lalu, suami perempuan ini meninggal karena penyakit yang cukup parah. Meninggalkan dua orang anak yang masih kecil, istri yang kurus kerontang, dan hutang yang bertumpuk-tumpuk amat gemuk. Semua orang memburunya agar segera melunasi hutang yang terus berbunga setiap harinya, lalu berbuah dan bertunas dengan amat suburnya. Tiap-tiap putik sarinya memiliki taring yang menancap kian dalam di daging tubuh lalu ganas menghisap darah. Sementara semua saudara menutup pintu mencoba membersihkan diri dari silsilah keluarga.

Sedangkan suaminya…terkapar di atas lantai dalam keadaan sudah menjadi mayat. Tidak ada uang, bahkan untuk mengurus jenazah dan menguburkannya secara layak. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang biasa.

Berapa memangnya biaya yang dibutuhkan untuk mengurus dan menguburkan jenazah?”

“Rp500.000.

Beberapa mulut mulai bergumam dengan kepala bergeleng tanda menyesali sesuatu, “Ah, sudah tahu miskin, kenapa harus mati? Sakit saja dilarang, apalagi mati? Kalau begini, mau dikubur dimana coba?”

Ingin rasanya aku memeluk tubuh ringkih itu erat-erat. Agar kehangatan bisa aku kirim secepatnya, dan gemetar pilu itu pun pergi terhalau. Tapi yang bisa kuberikan ternyata hanya dua buah gumpalan kapas.

Sumbat telingamu, bayangkan saja dari gumpalan kapas itu sedang diputar irama merdu dari gemericik air sungai nan bening di surga.

Dunia ini mungkin memang hanya milik mereka yang luar biasa, tapi Tuhan tahu, dimana orang biasa bisa memperoleh penghiburan.

Lalu kemarin, aku bertemu lagi dengan perempuan biasa ini. Dan kembali dia meluruhkan dirinya di hadapanku. Sesenggukkan menahan tangis yang berkepanjangan.

Saya amat bahagia sekarang. Bahagia sekali. Anak saya yang besar sudah bekerja jadi OB di supermarket. Yang kecil masih terus bersekolah. Rumah saya juga tidak lagi mau rubuh. Ternyata benar, di balik kesulitan ada kemudahan. Setelah rasa pahit habis, saya bisa menemukan rasa  manis yang sangat manis.”

Tanpa terasa aku langsung meraih tubuh kurusnya yang mulai menua dalam pelukanku. Sejak dulu aku memang  ingin sekali memeluknya erat-erat. Tapi dulu aku takut tulangnya yang rapuh akan patah berderak. Dengan rasa yang meluap terbawa arus bahagia yang digantangnya, aku mencoba mencari bola matanya. Bola mata yang tidak lagi cekung. Bahkan rona merah jambu telah mengalir di pipinya yang tidak lagi tirus.

Dunia ini mungkin hanya milik mereka yang luar biasa, Tapi Tuhan selalu tahu siapa yang istimewa. Ibu adalah salah satu yang teristimewa, kebangkitan ibu melawan keterpurukan itu amat sangat luar biasa. Bahkan melebihi orang yang luar biasa. Terima kasih ya bu, karena sudah mengajarkan pada saya, apa arti bangkit berdiri.”

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Dalam keterpanaan karena untuk kesekian kalinya melihat campur tangan Allah pada mereka yang terpilih. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar !!!

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #2 ]


Tidak Ada Hari Lebaran Bagi Si Bapak…

Oleh Very Barus

(Bapak tukang becak sedang tertidur)

GUE punya tetangga…

Sejujurnya, tepatnya bukan tetangga sih… Karena dia hadir di saat rumah tetangga gue (sebuah bengkel AC mobil) sudah tertutup  rapat. Lalu, dia hadir dengan becak dayungnya dan mulai berteduh di teras rumah tetangga tersebut. Mungkin karena di depan rumah gue tidak ada terasnya kali ya…??

Semula gue tidak care dengan kehadiran sosok si bapak tua dengan becaknya yang rajin nangkring di depan rumah tetangga. Kala itu gue mikir, si bapak hanya neduh karena cuaca lagi hujan atau berteduh karena menunggu penumpang…

Tapi…

Dari malam ke malam, seonggok becak dan sosok si bapak tua selalu hadir. Kalau sedang berpapasan di pagi hari, sebelum bengkel AC buka, si bapak hanya tersenyum simpul  kemudian berkemas-kemas meninggalkan tempat itu sambil buru-buru mendayung becaknya…(setiap hari begitu!).

Hingga pada suatu malam, gue menyempatkan diri menegur sapa si bapak. Awalnya dia takut. Mungkin dia takut diusir. Tapi gue langsung pasang wajah senyum ‘termanisku’ agar si bapak tau kalo tujuanku tidak macem-macem atau sadis! Tujuanku mulia kok….

Kubawa sebotol air putih dingin dan kukasih ke bapak itu. Hingga akhirnya terjadilah interaksi… Komunikasi dan sharing…sambil si bapak curhat tentang sebab musabab kenapa dia sampai rela memilih tidur di depan teras rumah orang. Karena dia memang tidak punya tempat tinggal… Dia diusir oleh keluarga istrinya..(istrinya sudah meninggal) dua anaknya juga dilarang bertemu si bapak tua ini…gue tidak tau pasti sebabnya. Hanya saja, si bapak dituduh tidak bisa mengurus anak dan istri sampai si istri meninggal gara-gara TBC. Hingga akhirnya si bapak merasa hidupnya benar-benar hampa! Bahkan  sempat mau bunuh diri… Tapi dicegah orang yang saat itu melihat gelagat si bapak yang membaringkan tubuhnya di atas rel kereta…

Sebenarnya si bapak sudah tidak sanggup hidup tanpa anak-anaknya…baginya, setelah istri meninggal, anak-anak adalah segala-segalanya… Tapi apadaya, anaknya direbut keluarga istrinya… Dia diusir dan tidak ada tempat tinggal…

Tapi Tuhan masih punya cara untuk membuat si bapak survive… Orang yang menolong si bapak mengasih pekerjaan menarik becak…

Tapi, setiap malam tiba, si bapak  selalu resah karena tidak punya tempat tinggal…

Sempat nyari-nyari tempat untuk tidur…

Di masjid pernah… Tapi diusir…

Sempat kos..tapi tidak sanggup membayar sewa kos…

Akhirnya si bapak memilih tidur dimana saja, asal bisa merebahkan tubuhnya yang letih…

Gue menyadari kalo hidup si bapak ternyata jauh lebih berat dari hidup gue yang masih memiliki kemudahan…

HmmmSo so sad life story

Sampai kemaren…lebaran tiba…

Gue mikir, kalo si bapak pasti akan pulang ke kampungnya. Atau ke sanak saudaranya atau kemana lah… Maklum, hari itu kan hari kemenangan… Hari yang harus dirayakan berkumpul bersama sanak saudara…

Gue yang tidak merayakan IDUL FITRI, terpaksa jaga gawang di rumah saja. Tapi alangkah kagetnya aku di pagi hari, gue melihat si bapak masih tertidur pulas di atas becaknya. Tidur dengan posisi yang sangat tidak mengenakkan menurut aku…(tidur dengan posisi tanda tanya (? ).

Hmm… Lagi-lagi gue hanya bisa menatap nanar ke arah si bapak… Sedih banget sih hidupmu pak..?? Seandainya aku bisa membantu lebih, aku pengen menolong kamu pak…

Akhirnya, gue membuka  pintu rumah, dan kulihat si bapak hendak berkemas-kemas…kusempatkan memberi ucapan selamat lebaran pada si bapak. Sambil tersenyum dia membalas salamku… Ku berikan dia sekaleng kue nastar kesukaanku. Dan juga segelas kopi sesuai permintaannya… Tak lupa kuselipkan selembar uang sebagai uang lebaran…

SEMOGA ENGKAU BAHAGIA YA PAK…

[]


Ternyata Togel Itu Masih Ada Toh..?

Baca juga kisah sebelumnya : Tentang Pernikahan Itu

Oleh Very Barus

Malam tadi, aku, kakak dan abangku sedang asyik ngobrol ngalur ngidul di teras rumah. Adegan ‘chit-chat’ seperti ini sudah tidak pernah kami lakukan lagi. Maklum, gue sudah tidak menetap di kampung halamanku, melainkan di kota Bandung. Jadi acara ‘reuni’ kecil antar saudara bener-bener sangat mahal harganya. Kesempatan ngumpul itu kami manfaatkan untuk chit-chat. Ngobrol apa saja…

Usai makan durian yang bener-bener bikin gue mabok durian. Gimana nggak mabok, hampir tiap malam makan durian. Wujud perut gue sudah semakin membusung lapar. Tapi nggak apa-apa deh. Mumpung mudik, makanan apa saja yang disuguhin sikatttt..!!! Ato istilah dikampungku RIBAKKKKKK…!!!!

Tuntas makan durian, baru deh kami ngobrol-ngobrol di teras rumah. Jujur saja, efek makan durian membuat badan jadi kegerahan. Maklum aja, durian panas…udara panas jadi deh badan gerah! Rasanya pengen mandi atau berendam saja sekalian biar sejuk…!

OBROLAN KAMI…

Awalnya obrolan kami sangat simple. Membahas masalah keluarga, masalah kehidupan masing-masing hingga masalah apa saja yang timbul menjadi ‘TRENDING TOPIC’ malam itu. Yang jelas obrolan menggelinding ke masalah TOGEL alias Toto Gelap atau apalah istilahnya, yang jelas TOGEL yang sempat senyap di masa ke pemimpinan Sutanto di jajaran tertinggi kepolisian, dia dengan tegas memberantas segala bentuk perjudian. Sehingga semua judi-judian redupppp dan tiarap…

Tapi, setelah Sutanto Lengser dari tahtah kepemimpinanya di kepolisian RI, eh yang namanya TOGEL dan bentuk perjudian lainnya menjadi tumbuh bak jamur di musim hujan…

Dikampungku saja, kota yang sangat kecil itu, yang namanya Togel sangat-sangat berjaya. Sebagian masyarakatnya sudah terbius dengan pengaruh togel. Nggak pandang bulu, bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda hingga anak kecil sekali pun, sering terlibat dalam perjudian tebak-tebak angka itu.

Jujur gue sempat terkaget-kaget soal TOGEL yang ternyata masih HIDUP. Bak reinkarnasi rasanya. Soalnya, masa-masa gue masih duduk di bangku SMP hingga di bangku Kuliah, nama TOGEL berbentuk SDSB DKK, atau apalah singkatan-singkatan berbau judi, kala itu sangat marak sekali…. tapi, kok masa-masa itu sudah berlalu sekian lama, eh malah nongol lagi…

Parahnya lagi, yang sering menjadi korban TOGEL ini adalah ibu-ibu dan bapak-bapak…mereka menyediakan waktu khusus untuk membahas nomer-nomer jitu yang ‘katanya’ bisa memenangkan undian tersebut…sangat tergiur dengan segala sesuatu berbau instant akan membutakan akal sehat. Ya…waktu habis untuk membahas angka-angka… sampai anak mimpi sekali pun ditanya, “…mimpi apa kamu nak..? Kali aja angka jitu..!”

Damn..!!! It’s not funny  for me..!!!

Dan menurut cerita abang gue, bahkan ada yang main TOGEL sampai memanggil roh halus untuk membahas nomer yang akan keluar. GILA…!!!! Sampai begitu parahkan kecanduan mereka dengan TOGEL sampai akal sehat mereka dibutakan…?

Hallloooo…pliss…stop it!!!!

Masih banyak yang lebih penting dikerjakan ketimbang harus membahas angka-angka yang menyesatkan itu!

Open ur mindkalo judi apa pun bentuknya sangat menyesatkan. Berhentilah sekarang juga! []

Kisah selanjutnya di : Tentang Anjing


RBM Bagi Saya

Oleh Dwi Klik Santosa

Rachmat Budi Muliawan : sohib, kakak dan bapak.

Sejujurnya, saya kurang ngeh kenapa dengan RBM DAY?

Tapi karena teman-teman banyak mengirimkan tulisan-tulisan yang mengharukan tentang RBM, iya deh. Meski saya belum paham juga apa yang sedang terjadi. Saya nulis juga deh tentang RBM.

Saya putuskan juga akhirnya saya pun harus mengganti gambar saya sewaktu mblangkon. Supaya agak terlihat mirip dengan kerabat atau nyanak atau setidaknya sedikit lebih nge-RBM <menurut ala saya>.

Saya lupa, kapan pertama kali kenal RBM. Entah juga siapa yang tadinya memulai kenalan. Tapi seingat saya, begitu beliau masuk ke daftar teman saya di layar pesbuk ini, sosoknya seperti menjadi rupa-rupa sosok wayang yang saya kenal. Seperti Gunawan Wibisono. Kadang menyerupai Sadewa. Dan kadang-kadang, bisa muncul sebagaimana Puntadewa.

RBM selama masuk dalam kancah pertemanan saya, adalah pendengar yang baik … hahaha … ya, begitulah. Ketiga wayang yang saya sebutkan tadi itu karakternya pendengar yang baik. Tapi soal kearifan … wuaaahhh …  Sayalah yang terlalu cerewet selama ini. Atau tepatnya, agak sok pinter, gitulah kira-kira. Maklum, saya ini mewakili orang muda yang sedang bergelora menulis. Jadi apa saja saya tulis. Dan ketika RBM saya tag, komentarnya selalu mbombong ati saya. Tidak sedikit pun ada komentar berbau sinis, skeptis apalagi pesimis. Selalu membesarkan hati saya.

Dan begitupun, ketika sesekali beliau menge-tag tulisan ke saya. Malah kadang-kadang saya komentari yang aneh-aneh. Seolah-olah saya ini lebih pandai dari beliau … waduuuhh … saya sadar, kalau mungkin itu bukan pada tempatnya. Tapi ya, yang namanya RBM .. waduuuh … selalu menanggapi komentar-komentar saya dengan kalimat-kalimat yang positif. Dan selalu saja: MEMBESARKAN HATI SAYA.

Begitupun, saat saya meluncurkan buku saya : Abimanyu Anak Rembulan, di Bentara Budaya Jakarta, 24 Juli lalu itu. Saya selalu mendapat dukungan yang hangat. Meski beliau tidak hadir, tapi saya sempat terdiam untuk beberapa saat ketika membaca SMS beliau. “Maafkan, saya tidak bisa hadir, Mas Dwi. Tapi dari Jogja, saya ingin mengucap salam saya, semoga acaranya lancar dan sukses.”

Bagi saya, berteman dengan beliau adalah peristiwa yang langka. Dimana kami sebenarnya belum saling tatap muka. Tapi seperti sudah sedekat itu. Saya pernah membuat riset tentang apa hakekat MAYA itu. Dan pernah saya hipotesakan. Bahwa 99, 999999% yang berkait dengan maya itu bohong belaka. Sedangkan, … dan mungkin masih ada 0,000001% kebenaran itu.

Tapi saya rasa, kajian terhadap kebenaran hipotesa itu bisa jadi salah. Ternyata banyak teman-teman yang sejatinya lucu, memang lucu beneran. Lugu memang lugu beneran. Baik dan memang baik beneran. SAYA CINTA HIDUP YANG RUKUN. Jadi sejujurnya saya mencintai RBM. Saya menyayangi teman-teman semuanya yang juga mencintai RBM.

Selamat Hari RBM. Hore Kerukunan Indonesia.

Bravo!

[]

zentha

27 Agustus 2010

: 13.5o


Saka Indonesia Merah Putih (merdeka sudah membisukah?)

Oleh Afrilia Utami

“Berkibarlah benderaku.. lambang suci gagah perwira.”

Merdeka…

Merdek

Merde

Merd

Mer

Me

M

.

Satu harga, tiga kuasa

Merah di atas, putih di bawah

Kuasa mengeras, rakyat cemas

Mewah serba wah, miskin tinggal raskin

Tak raskin, punguti kukus kerikil pengantin

Duh, anak …

Masih kah berhak kita mengenal bocah-bocah riang melangkah

Duh, bapak …

Sudah sia-siakah pengorbananmu merebut jajah disepuntung merah

Duh, ibu …

Seberapa deras darahmu terkuras untuk melahirkan gagah perwiranya putih

Hai, kau … ia kau!

Kita merdeka? Itu dulu …

Apa dulu masih berlangsung?

Entahlah, (jawab sorak sang pemuda)

Saat ini, (cerita bangsa)

Susu ibu tandus terpasung

Kumis ayah habis terkancing amis

Wilayah tenggelam dilindungi pengemis

Terpintal lucuti taktik musnahkan teroris

Ah, bayi terlahir tuk rasakan nafas sadis

Anak mengeja nadi kata tuk nikmati permainan tipukata

Remaja mengenal denyut rasa tuk semakin histerismakna

Muda tua tinggal nikmati sisa merdeka

Hai, kau … ia kau!

Kita merdeka? …………

Mengapa lama tak jawab, merdeka sudah membisukah?

[]

16 Agustus 2010



Gerobak Butut

Oleh Very Barus

Tadi pagi, bangun tidur gue dikagetkan dengan ada seonggok gerobak barang butut (barang2 bekas) “nangkring manis” di depan rumah gue.
What…????

Siapa nyuruh gerobak butut parkir di depan rumah gue…?? Nggak tau apa ada tulisan “Dilarang Parkir”.
Trus gue nyari2 siapa pemilik gerobak tersebut. Nggak berapa lama si empunya gerobak datang. Seorang bapak tua sambil menenteng bungkusan sampah. Ternyata dia lagi ngider ke tetangga2 gue, sambil nanyain apakah mereka punya barang2 butut yang udah nggak kepake lagi, lalu dijual ke dia.

Melihat sosok gue berdiri tegak bak super hero yang baru bangun tidur. Nafas aja masih bau naga. Tapi dengan senyum manisnya si bapak nyapa gue. Suaranya pelan banget. Nyaris tidak terdengar.

”Punya barang2 butut gak…?”

HA…??? BUTUT…???

Nggak ada tuh…” jawab gue seadanya. Di otak gue dia nanya SOP BUNTUT—maklum, efek baru bangun tidur. Jadi nggak connecting people.

“Koran2 bekas juga nggak apa2 deh…” tanya si bapak lagi.

Otak gue langsung “Cliiinggg….!!!!!”. Gue tersadar kalo dia nanya barang butut. Dan dengan tangkas otak gue mulai aktif. Mengingat di lantai atas (gudang) banyak tumpukan koran yang cukup mengganggu pemandangan dan kebersihan. Secara tiap hari gue langganan 3 koran (Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia).

Wah, mungkin si bapak ini UTUSAN TUHAN untuk menyerahkan koran2 bekas yang udah lama banget mau dimusnahkan dari muka bumi ini. Langsung dong terjadi transaksi…

Emang berapa sekilo…?”
“1000…”
Ha..? 1000?” (murah amat bisik gue)
“Iya seribu perak…”
“Ya udah…Pak… Tolong diangkutin aja tuh koran2 bekas di atas….”(ketimbang semakin menjulang tinggi koran bekas di gudang, mending dijual aja deh. Emang gue tukang butut ngumpulin koran2 bekas??)

Dengan semangat 45-46-47-48-nya si bapak naek ke atas dan membawa tumpukan koran yang mungkin tingginya melebihin tinggi si bapak. Gue lihat si bapak senyum2 manis… Mungkin rezeki nomplok kali ya... Sementara gue juga senyum2 lebih manis… Karena koran butut gue bermanfaat juga, bisa menghasilkan uang (hahahaha…)

Hasil jual koran butut tadi ternyata total yang gue dapat 60 ribu gitu deh… ya, lumayan deh bisa beli AQUA 3 GALON untuk stok seminggu…

Wah, kalo begini caranya, gue kumpulin lagi deh koran butut mulai dari sekarang. Biar bisa dijual lagi ke si bapak tua… (iya kalo dia masih melintasi rumah gue. Kalo tidak..?????)

[]


%d blogger menyukai ini: