Tag Archives: sayap

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


[Puisi] Kelebat Rautmu Hinggap di Tiangtiang Nadiku

Oleh RBE Pramono

kelebat rautmu hinggap di tiangtiang nadiku
memberi geriap pada bulirbulir darah
berkejaran di rimba rasa
alun biola membawa segenap fikirku
pada masa kita berbaku asmara di tepi awan
kau kepakkan sayapmu dan tertebar kilau perca
runtuh bertabur
di tiapnya tlah kau ukir katakata rindu
karena penantian yang tak mengenal waktu

di tiapnya ingin pula kugambar rindu
karna rentang yang tak juga mengenal waktu
tapi jemariku gemetar oleh denging harpa
mematuki tiaptiap pori kulitku dan membangunkan
tiaptiap bulu tubuh yang tak pernah mengenal pagi

denting piano mengajakku kelana pada tiap gurat
rautmu, menyelip di antara relungnya dan melenakan
butirbutir perih seperti sajak senja
menimang anakanak burung di sarangnya

kekasih, alunkan kembali simfoni jiwa yang merindu
agar tertuntun langkahku menuju tempat berlabuh

Kaki Merapi, 4 Nopember 2011.

 


Kita (Akan Dan Selalu) Sahabat…

Oleh Afrilia Utami

Pejamkan sejenak  dua mata

Rabalah apa yang ada dalam kibaran menyala

Tujuh lapis langit menyelimuti tata surya

Laksana kanvas kosong dihias coretan kuas sang maha

Terang redup membias di atas cermin lautan cahaya

Kita masih berdiri di antara senja waktu itu… Sesudah siang kita coba terbangkan layang-layang usia hingga gagah dan indah terbentang di bidang dada julang angkasa. Layang-layang kita masih melayang tinggi melangit, kesana-kemari di tiup pemilik angin yang sedikit genit. Dua layang kita tak saling olok mengolok, bukan? Meski tahuku kau lebih pandai menerbangkan sayap-sayap lincahnya. Layang-layang itu menembus awan-awan impian, lalu melintasi pelangi harapan, melukis matahari di atas perwira matahari. Kau layangkan dengan riang yang gemintang.kau kibar.kau nyalakan. Ya, siang tadi adalah siang yang paling terawang…

Kita mulai duduk di pangkuan senja waktu itu… Kauaku duduk sambil menghadap danau, tempat ikan-ikan di matamu berkeciplak beranak pinak kedamaian. Di sampingnya ada sebuah pohon besar. Batangnya kuat, rantingnya erat, daunnya lebat, akarnya luas merambat. Ya, sepertimu .. sahabat yang selalu memberi teduh di kala terik menggulung nyala di pori-pori. Lihatlah…ada dua angsa sedang asik berenang di tengah cerah.  Seperti benang cahaya yang kau ulurkan pada redup tanganku, tak jadi aku tenggelam bahkan sekalipun tersesat sampai sekarat karena ada kau selalu mendamping ponggah kesendirian ini. Sesampainya Matahari mulai tertidur, kita sempatkan tuk iringi nyanyian penutup hari ini. Kita tembangkan lantunan benih do’a-do’a di rahim keyakinan. Untuk esok eratlah jari-jemari kebahagiaan, di harumi zaitun yang jauh kubawa hampir terluntang setahun. Lalu kubisikan di kasturimu ada ku di kau yang selalu ingin dekap bersama setiba waktu di genap usia. Yang kutahu kau adalah sahabat yang takkan hilang di eja ingatanku…

Kasih dan harapan yang di racik dengan rindu-rindu

Sampai setibanya kepulanganku, tuk hilang dari senjamu ..

[]

20 September 2010



Laron

Oleh Adhy Rical

ada laron beterbangan dalam matamu
satu sayapnya membakar rindu
lalu berdiang dengan penat
rambat!

ada seekor lagi dalam cangkir, sayang
matanya nyala tapi genang
bara yang gaduh
aduh!

sayang,
dalam dada ada yang terbang
mungkin dua ekor sebab satu sayap telah putus
bergolak sendiri dan berulang menyebut namamu pupus

Kendari, 2010

[]

behind the scene “anak botol”


%d blogger menyukai ini: