Tag Archives: ibu

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


[Cerpen] Kehendakmu-lah yang Jadi, Bukan Kehendakku

Oleh : Alex Putra Siosar

Paint: Mothers Love by Kolongi

SIANG itu, ibu menghampiriku di teras. Lalu, ibu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Saya membuka amplop itu. Isinya sebuah foto usus ibu. Hasil foto  dari Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan. Saya terkejut. Mengapa tidak. Rumah sakit itu menvonis ibu terkena penyakit kanker. Kanker usus. Dan dalam amplop itu ada sepucuk surat rujukan kepada Rumah Sakit Umum Cipto Jakarta. Menerima isi amplop itu, betapa hancurnya hati kami. Saya menatap wajah ibu. Ia terlihat pucat. Bibirnya terkatup rapat. Dan ibu terlihat takut.

Sepulang dari Rumah Sakit Cipto Jakarta, resmilah ibu menjadi penghuni Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Ada selang waktu ibu berganti rumah sakit. Kadang opname di Rumah Sakit Umum Adam Malik dan pindah lagi ke Pirngadi Medan. Hal ini, karena kelengkapan medis rumah sakit tersebut. Di kamar VIP Rumah Sakit Umum Pirngadi, ibu menjalani hari-harinya dengan berbaring. Infus, menggari tangannya. Terapi kemo, membuatnya gemetar. Dan obat-obatan membuat lidahnya semakin pahit. Belum lagi, dengan selang kantongan yang menembus ususnya untuk pembuangan air besar. Selang kantongan itu membuat jantung ibu terdengar bagaikan gendang bertabuh bertalu-talu. Genderang perang. Perang melawan kanker. Begitu juga dengan air mata ibu yang selalu membasahi bantal tempat kepalanya terkulai.

Di kamar itu, tak ada orang sakit selain ibu. Bapak memilih kamar VIP ini, karena ia tak mau mengganggu orang sakit yang lain. Kanker stadium IV yang diderita ibu, tak jarang membuatnya meronta-ronta menahan sakit. Bila ditilik dari biaya, sangat mahal. Biaya dokter, obat-obatan dan kamar, setiap harinya seputaran enam ratus ribu rupiah. Jumlah ini bagi kami sangatlah besar. Tapi, bapak tidak pernah menyerah. Kami rela bapak menjual perlahan-lahan tanahnya. Dan bapak tidak pernah mengemis kepada kedua abangku yang tinggal di Amerika maupun Palembang.

Saya sering merasa pilu melihat ibu. Keluhnya, tangisnya dan jeritannya yang meronta-ronta menembus dinding serta langit-langit kamar itu. Obat bius tak ampuh lagi bagi ibu. Dokterpun hampir mati akal meredam pemberontakan ibu terhadap penyakitnya. Apalagi perawat, sering menahan perasaan melihat amukan ibu. Mengapa tidak. Ibu selalu marah-marah pada perawat-perawat itu dan menyuruh mereka, supaya membuang saja semua obatnya. Ibu berpeluh, obat-obat itu hanya membuat perutnya mual dan gembung.

“Sudahlah. Saya tak kuat lagi. Akhiri saja hidupku ini,” kata ibu.

Delapan bulan berjalan, ibuku menginap di rumah sakit. Selama ini saya dan adikku tak pernah jenuh menemani ibu. Kami tak merasa sungkan lagi, ketika ibu meminta pispot, mengganti baju dan sarungnya. Memang perawat di rumah sakit ini baik-baik dan sangat cekatan. Tapi, kami merasa lebih cepat dari mereka. Seperti kecepatan ibu, ketika merawat kami semasa kecil.

Ibu opname di rumah sakit, membuatku harus cuti kuliah. Saya tak bisa konsentrasi di kampus. Pikiranku selalu bercabang. Mengingat ibu selalu menahan sakitnya, membayangkan bapak yang sudah 65 tahun dan anakku yang masih berumur 6 bulan. Saya juga harus mencari nafkah untuk keluarga. Sementara, istriku belum kuat dan harus merawat anak kami yang masih mungil. Dengan keadaan ini, sering membuatku depresi. Dada ini terasa sesak. Dan kecemasan tak jarang menghantuiku. Oleh karena ini, istriku, Ribka, sering membujukku untuk berdoa dan ke gereja.

***

Hari Jumat, sekitar Pukul 13.00 Wib, saya pamit pada ibu. Ribka, istriku, menggantikan saya menjaga ibu. Dimana tadi, ia menitipkan anak kami, Angelia, pada Bu Aminah. Ibu ini adalah tetangga kami yang sangat baik. Ketika Tahun Baru, ibu selalu menghantarkan aneka roti, rendang lembu, sayuran dan nasi pada Ibu Aminah. Begitu juga pada saat Hari Raya Idul Fitri, Bu Aminah menghantarkan aneka masakan pada kami.  Ibuku dan Bu Aminah sudah bersahabat sejak gadis. Mereka sama-sama sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Medan.

“Ibu, saya pamit dulu, ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. Ibu seolah ingin berbicara. Tapi, lidahnya tak kuat bergerak. Hanya matanya menatapku. Dan sesekali berkedip lemah.

“Nanti saya bawakan jeruk untuk ibu,” kataku lagi sambil mencium keningnya.

Dengan berat hati, kutinggalkan ibu dan Ribka di kamar itu. Sudah seminggu ini, kondisi ibu terlihat semakin buruk. Jeritannya menahan sakit tak terdengar lagi. Hanya gerakan bola matanya menunjukkan rasa sakitnya. Dan denyutan urat di lehernya yang begitu kencang, seolah menunjukkan pemberontakannya terhadap kanker.

“Hati-hati di jalan ya, Bang. Sepertinya hari mau hujan. Langit gelap sekali,” kata istriku.

“Iya. Jaga ibu kita, ya…” sahutku.

Hari ini, saya ada janji dengan Pak Thomas. Ia adalah seorang pendeta di gereja protestan. Pak Thomas saya kenal, ketika saya membeli obat di apotik. Dan ia juga membeli obat untuk istrinya yang sedang bersalin. Pendeta muda ini tampaknya sangat bersahabat. Gaul. Enak sekali berbicara dengannya. Tak diduga, ia mengundangku untuk datang ke rumahnya. Sebenarnya saya ragu memenuhi undangan Pak Thomas. Karena saya merasa tak layak berkunjung ke rumah seorang pendeta. Apalagi, rumahnya di samping gereja. Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk memenuhi undangannya. Mungkin, karena kami cepat akrab.

Niatku bertemu dengan pendeta itu, terhalang. Hujan turun dengan deras. Awan yang sudah beberapa waktu lalu bergerombol hitam bersama kilat, mencekam Kota Medan. Dan suara petir terdengar meledak-ledak. Di jalan depan rumahku, sudah mulai terlihat air meluap. Sayapun jadi terkurung di dalam rumah bersama bapak.

Saya masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, saya mengambil alkitab di meja. Ada tiga puluh menit saya membacanya. Setelah itu, saya ingin berdoa. Ada kerinduan untuk berdoa kepada Tuhan. Seiring dengan itu, sayapun jadi teringat dengan doa ibu, ketika adikku, Antonius, sakit. Antonius sakit demam tinggi, sampai empat puluh satu derajat celcius. Seminggu ia terkapar di rumah sakit. Sampai matanya mendelik-delik. Bola matanya terus naik ke atas. Dan doa ibuku saat itu, doa penyerahan diri.

“Tuhan…. Jadilah kehendakMU dan bukan kehendakku.” Akhir doa ibu saat itu. Dan sampai saat ini, Antonius tumbuh dewasa. Ia selamat dari maut.

Saya kagum mendengar doa ibu. Rupanya Tuhan itu tidak jauh. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini, yaitu DIA di atas langit. Pikirku, Tuhan hanya sejauh doa. Mengapa saya tidak berdoa ?

Akhirnya, keinginanku tadi hanya sekedar berdoa menjadi sebuah tekad. Saya duduk di tepi tempat tidur. Saya melipat tangan. Kepala tertunduk. Dan kututup kedua mataku. Lalu, saya berdoa.

“Terimakasih Tuhan,

Engkaulah yang membawaku dalam doa ini.

Dengan kerendahan hati,

Saya datang ke hadapanMU.

Dan, ampunilah kesalahan serta dosa-dosaku

ya, Bapa.

Tuhan, ibuku sakit

Ia sangat menderita.

KehendakMUlah yang jadi, bukan kehendakku.

Dalam nama Bapa di Sorga, Yesus Kristus, saya telah berdoa

Amin.”

 

Selesai berdoa, saya kembali meraih Alkitab. Mungkin keinginan ini, karena rinduku masa kecil. Ketika ibu membawaku ke gereja untuk mengikuti kebaktian anak-anak dan remaja (KA/KR).  Di sana ramai sekali anak-anak dan remaja. Kami bernyanyi, berdoa, membaca firman Tuhan dan mendengarkan cerita rohani dari guru KA/KR. Indah dan damai sekali. Namun, sejalan dengan pertumbuhanku, sejak duduk di bangku SMA saya jarang sekali mengikuti kebaktian rohani. Ibu sering menegurku. Tapi, saya tak mengubrisnya.

Di ruang tamu, telepon berdering. Saya segera menghampirinya. Tapi, kalah cepat dengan bapak. Rupanya bapak dari tadi sudah duduk di kursi tamu.

“Hallo….,” sahut bapak. Hanya satu menit bapak mengangkat telepon itu. Dan dengan lunglai ia meletakkan gagang telepon itu.

“Ibu sudah meninggal,” kata bapak.

Mendengar itu, tiba-tiba saja hentakan yang begitu keras dan cepat seperti kilat menghantam jantungku. Rasanya, baru saja suara petir mengoyak gendang telingaku. Hujan yang deras, seolah menghanyutkan harapanku. Tidak. Tidak ! Saya tidak menerima ini, batinku memberontak.

Segera kuraih telepon. Seakan tak tak percaya, saya menelopon Ribka, istriku.

“Keadaan ibu bagaimana ?” kataku. Ku dengar hanya isak tangisnya.

“Ibu bagaimana ?” kataku lagi.

“Ibu sudah meninggal, bang…” sahut istriku dengan terbata-bata dan isaknya.

Mendengar jawaban itu, saya terdiam. Bisu. Rasanya sepi sekali. Seakan saya berada dalam lorong yang gelap dan hanya suara kalelawar-kalelawar berdesit. Sarang laba-laba mengurung langkahku.

Dan saya kembali memencet nomor-nomor di telepon.

“Hallo…,” Kudengar suara menyahut dari seberang sana.

“Pak pendeta, ibu sudah meninggal,” kataku.

Ia tak menjawab.

“Pak. Pak pendeta, baru saja saya berdoa. Saya katakan pada Tuhan, kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku.”

Lalu, dari telepon itu menjawab.

“Kehidupan dan kematian ialah rahasia Tuhan. Penyerahan diri ialah muzizat.” kata pendeta itu yang membuatku tak mengerti.

“Andre, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu. Jangan larut dalam kekecewaan dan kesedihan, ya. Saya adalah sahabatmu,” kata pak pendeta.

Saya ingat lagi doa ibu, ketika adikku sakit. Dalam doaku dengan ibu sama, yaitu kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku. Tapi, mengapa dengan doaku ? Mengapa Tuhan mengambil nyawa ibuku ? Apakah salah doaku ? Pikiranku terus berkecambuk, antara perasaan dan logika.

“Andre…,” kata bapak memecah keterpakuan.

“Hati bapak begitu hancur dengan kepergian ibu. Ibumu adalah istri yang sangat baik bagi bapak. Rasanya bapak tidak menerima keputusan ini yang diberikan Tuhan pada keluarga kita. Dan bapak tahu, kamu sangat kecewa. Kamupun tidak menerima semuanya ini,” kata bapakku.

Saya diam. Saya duduk dengan lemah di kursi.

“Mungkin Tuhan punya rencana untuk keluarga kita dengan kepergian ibu,” kata bapak sambil memelukku.

“Bapak rela, anakku,” kata bapak lagi.

“Tidak, Pak…Saya ingin ibu melihatku diwisuda.”

“Ibu sudah terlampau menderita dengan sakit kankernya. Bapak melihat dan merasakan, jiwa kita sudah mulai rapuh menghadapi penderitaan ibu. Sudahlah, nak. Mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik untuk ibu dan keluarga kita,” kata bapakku lagi.

“Tuhan, mengapa KAU tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan kuliah, agar ibu melihat saya di wisuda ? Dan apakah kelak, anakku juga doanya sama dengan doaku saat ini ? Tuhan, saya takut. Takut, saya juga akan mengalami penderitaan yang sama dengan ibu.” Riak batinku sambil menatap tajam pada salib dan patung Yesus yang tergantung di dinding ruang tamu.

Tiba-tiba, mataku terasa gelap. Saya terkulai di kursi. Dan sekejap, saya merasakan sunyi sekali. Lalu, tak merasakan apa-apa lagi. Entah berapa lama, saya merasakan ini. Sampai saya terbangun dan tergeletak di tempat tidur. Dan saya melihat anakku Angelia tertidur pulas di sampingku.

Rumah bapakpun tidak sesepi tadi. Kini, saya mendengar suara tangis orang-orang di ruang tamu. Saya segera ke sana. Dan saya melihat ibu tertidur di kasur beralaskan tikar.

“Ibu….! Ibu…..!” tangisku sambil memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.

Air mataku, tak diusapnya. ***

Medan, 2 Juli 2011

 

Catatan :

Cerpen ini tergerak dari cuplikan Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Sebenarnya saya tidak ingin menulis dan mempublikasikannya, tapi saya prihatin dengan kanker. Penyakit yang perlahan-lahan mematikan. Membuat orang-orang yang mengalaminya sangat menderita. Apalagi, kanker bisa menurunkannya pada gen si penderita. Nama dan tokoh dalam cerpen ini adalah fiktif.

Alex Putra Siosar


Merekam Kedamaian

(untuk Sebuah Rumah Angan)

Oleh Julia Napitupulu

 

Rupanya begini rasanya dipeluk oleh alam, aku membatin: “Mungkin ayahku belajar memeluk dari sang alam”

Bukan pelukan yang menghanyutkan, apalagi memabukkan…bukan…sama sekali bukan pelukan yang mengambil sebagian kesadaranmu, karena rasa nyeri itu terasa nyata, di sekujurku…

Pelukan alam membalurku dengan ‘makna perlindungan’,  mengingatkanku saat pertama kali berada aman di pelukan ayahku dulu…

Hanya alam yang mampu membujuk sang waktu untuk sejenak beristirahat,

mengerti ku untuk memberi cukup waktu..untuk merekam ‘kepulanganku’

Hanya alam yang bisa melembutkan hatiku, untuk membuka pori-poriku..pasrah membiarkan simfoninya menembus luka-lukaku yang basah,  dengan kuat sekaligus lembut..dan melebur luka ini menjadi luka kami bersama..

Hanya alam yang ini…

Inilah alam yang membingkai rumah buatan angan..yang sudah mengenali kami, bahkan sebelum saat pertama mata bertemu mata..

Inilah alam yang melekat satu dengan rumah hati kami..yang sedari dulu sudah membaui kami, bahkan sebelum kami saling membaui sejuta kesamaan yang terasa mustahil.

Baru aku paham betapa bisikan jiwa mampu menembus ruang dan waktu…

Ataukah mungkin…alam ini yang selalu menyambungkan jiwa yang terbelah?  Dengan merentangkan dirinya bak tali yang menembus batas ruang waktu? Dan menambatkan kedua ujungnya di kaitan jiwa ini?

Cuma alam yang ini, yang tak pernah luput mengikuti geliat dua pasang kaki,  dalam satu jiwa yang selalu bergerak resah sepi..dan bergemuruh dalam hening..

Selain Ibuku, hanya alam yang  mampu menunjukkan kasihnya saat ia sedang murka..

Ia juga sewajah dengan Ayahku, membuatku terlindungi saat ia sedang marah..

Karena aku kenal dengan murkanya.. akrab dengan marahnya..dan bisa meresapi kasih sejati di baliknya..

Baru aku paham makna dari kalimat “Alam yang jadi Saksi..dan sekaligus menjadi Bingkai perjalanan kasih..”, saat kasih itu merebak dalam damai…“a perfect picture painting of loving in peace”

Hanya alam yang ini, alam rumah kami..yang mampu meluruhkan dendam kami pada sang waktu..bukan hanya karena ia mampu menembus perbedaan ruang dan waktu..tapi juga karena ia memilih waktu-waktu terindah untuk berbicara kepada kami..

Dan kini, kami tak hanya memiliki alam ini, kami juga memiliki waktu-waktu kami, meski tidak semua waktu…hanya waktu-waktu terindah,  dimana kedamaian terekam abadi.. di jiwa..

 

Jakarta, 1 September 2010, 01.45 Wib

[]

From the memoir of “back to home journey”,

-di alam ini, semua mengalir dengan indah & sempurna-

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.


Karena Kamulah yang Tersayang

Oleh Ade Anita

Ruangan yang besar dan megah tampak di hadapanku. Belum ada kursi atau apapun di dalam ruangan yang besar dan megah itu. Tidak heran jika suara paduan suara yang masih belum bisa dikatakan rapi terdengar bergema ke seluruh pelosok ruangan. Tapi ketika kepalaku menjulur menyeruak masuk melalui pintu utama ruang pertemuan tersebut, sebuah suara isak tangis terdengar secara tiba-tiba.

“Nah, ini loh Jeng, ruangan tempat perpisahan sekolah besok. Besar banget kan?”

Suara ketua komite sekolah terdengar ikut bergema, seiring dengan detak suara sepatu dan ditimpali oleh gema suara paduan suara yang belum bisa dibilang rapi.Tapi telingaku sudah tidak lagi memperhatikan suara-suara yang berseliwetan tersebut. Perhatianku langsung tertuju pada suara isak tangis yang begitu lirih yang menyembul di antara gema suara-suara yang berseliweran.

Suara lirih isak tangis itu berasal dari salah satu barisan anak-anak paduan suara. Suara lirih isak tangis itu berasal dari anak bungsuku, Hawna.

“Weleh, anaknya malah nangis pas ngeliat dirimu Jeng.”

Sebuah suara meledek terdengar. Tapi tidak aku pedulikan, karena di sana, di atas panggung, anakku tampak terisak menangis. Ya. Ledekan itu benar. Isak itu muncul justru karena melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Lalu, perlahan sebuah rasa sedih tumbuh.

Aduh, sayangku. Kenapa kamu menangis melihat ibu datang menjenguk?

Akhirnya, ketika kelompok paduan suara itu selesai latihan, tubuh mungil yang masih menyisakan aliran air mata di pipinya itu aku raih. Aku dekap, aku gendong dan aku peluk. Perlahan aku bertanya padanya, “eh, tadi kenapa tiba-tiba nangis pas ibu datang?”

Gadis mungilku hanya menunduk. Tidak menjawab, tapi kedua tangan mungilnya terulur untuk melingkari leherku lalu menyembunyikan wajahnya di antara leherku.

“Kamu malu ya ibu menontonmu?” Sebuah gelengan aku rasakan.

“Lalu?” Tidak ada jawaban. Tapi aku tidak menuntut jawaban. Aku amat mencintai tubuh mungil dalam pelukanku ini.

Tapi, seberapa besarpun rasa cinta yang kita miliki pada seseorang, tetap tidak dapat membuat kita berkuasa untuk menentukan bahwa dia akan senantiasa memberikan rasa cinta yang sama pada kita. Perih memang kenyataan ini.

Dulu, ketika gadis mungilku ini lahir di muka bumi ini lima setengah tahun yang lalu, dengan perih dan sedih  aku harus merelakan membuang semua susu yang kuperah dari dadaku karena gadis mungilku dahulu lahir dalam kondisi bayi yang sedang keracunan air ketubannya sendiri. Kondisi yang membuatnya harus berpuasa meski tubuh mungilnya (yang amat sangat mungil)  baru saja lahir ke muka bumi. Padahal, semua ibu tentu mendambakan bisa menyusui sendiri bayi yang amat mereka sayangi.

“Nggak ibu. Aku bukannya nggak mau ibu nonton.”

Akhirnya sebuah suara lirih terdengar tepat di samping telingaku. Sudah tidak ada isak meski rengkuhan tangan mungilnya masih terasa kencang di leherku.

“Oh… lalu, kenapa tadi kamu menangis pas ibu masuk dan melihat kamu menyanyi?”

Kepala mungil gadis mungilku terasa kembali tersemat di leherku. Aku mengelus kepala mungilnya.

“Aku nggak hapal lagunya bu. Aku malu karena aku nggak bisa.”

Lalu pelukanku mengerat merengkuh tubuh mungilnya.

“Ya Allah, nggak apa-apa nak. Ibu nggak apa-apa kok kalau Hawna emang nggak hapal atau nggak bisa. Hawna nggak bisa apa-apa pun Ibu tetap sayang banget sama Hawna. Ayah juga gitu. Yang penting Hawna terus berusaha. Hawna sudah usaha kan?”

Kepala yang tersemat di leherku itu terasa terangkat dan kini tampak memandangku.

Wajah mungil yang memandangku ini tampak begitu polos. Wajah ini adalah wajah yang selalu aku rindukan ketika aku sedang berada jauh darinya. Satu pekan sebelumnya, dia berhasil diterima di sekolah dasar swasta yang kami incar untuk dapat dia masuki sebagai jenjang pendidikan lanjutannya. Ada rangkaian test yang harus dia ikuti untuk dapat masuk ke sekolah dasar tersebut. Dan itu sudah cukup membuatku sedikit berdebar meski aku berusaha untuk tampil biasa-biasa saja di hadapan semua orang.

“Deg-degan ya bu?” Seorang temanku tampak melemparkan seulas senyum padaku. Kami berdua sedang menunggu anak-anak kami masing-masing yang sedang mengikuti rangkaian test masuk sekolah dasar. Ada test membaca, menulis, menggambar, berhitung dan hapalan doa atau surat pendek yang harus anak-anak kami ikuti.

“Iya, deg-degan.” Jujur aku menjawab sapaan temanku.

“Tenang bu, yang tidak diterima itu adalah anak-anak yang belum mandiri. Semua rangkaian test itu sepertinya cuma formalitas saja deh.”

“Oh ya?” Tapi tetap rasa penasaran di dalam hatiku membuat dadaku tidak berhenti berdebar-debar. Di salah satu jendela dalam ruang kelas yang tertutup, aku melihat ada sebuah celah untuk mengintip. Perlahan, aku mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan tempat test sedang dilakukan. Di sana, ternyata Hawna sedang menghibur seorang temannya yang sedang menangis. Aku tersenyum melihatnya.

Waktu pertama kali sekolah TK dahulu, Hawna juga suka menangis di kelasnya. Usianya memang masih muda, dan selama ini dia juga jarang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Mungkin rasa canggung berada di tempat baru telah membuatnya gampang menangis. Tapi, beberapa orang temannya yang sudah lebih lama di sekolah barunya, datang menghiburnya. Mengiriminya kalimat-kalimat yang menenangkan hingga membuatnya merasa nyaman dan tidak lagi canggung. Pemandangan inilah yang aku lihat di ruang test saat ini. Hanya saja, kini Hawnalah yang berada di posisi sebagai seorang teman yang menghibur temannya yang sedang merasa canggung dan ragu.

Ah. Aku senang melihatnya kesigapannya membantu teman yang sedang kesulitan dan itu membuat rasa berdebarku menanti hasil test hilang dalam sekejap. Aku sudah tidak lagi peduli pada hasil test tersebut. Aku yakin dengan kemampuan Hawna. Tapi melihatnya perhatian pada orang lain yang kesulitan, membuatku merasa bangga dengan apapun yang dia peroleh dari test itu kelak.

“Jadi, gimana?”

Kita kembali pada suasana ketika kepala mungil yang baru selesai menangis sedang menatap wajahku.

“Apa ibu dan ayah masih  boleh menonton kamu menari dan menyanyi besok sayang?”

Kepala mungil di hadapanku itu mengangguk.

“Tapi aku nggak bisa, nggak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apa. Pokoknya, selama Hawna senang dan ceria dan sudah berusaha, ibu sama ayah tetap sayang banget sama Hawna. Rasa sayangnya nggak akan berubah.”

Sebuah senyum menghiasi wajah yang ragu tersebut. Dan di hari wisuda Taman Kanak-Kanak Anak Bangsa kemarin, Hawna pun tampil penuh percaya diri. Entah bagaimana pendapat orang tua yang lain, tapi bagiku, Hawna sudah memberikan penampilan terbaiknya. Dan tanggal 25 Juni lalu, dia juga sudah dinyatakan lulus dalam test penerimaan murid kelas satu sekolah dasar. Tentu dengan hasil yang tidak mengecewakan. Membuatku ingin selalu menghujaninya dengan ciuman penuh rasa sayang. []

Catatan penulis: kenang-kenangan test masuk sekolah dasar Hawna, Juni 2011. Buat Hawna: I love You.


Assalamu’alaikum Ibu

Oleh Ade Anita

1.

Setiap kali melintas di jalan Casablanca, ada sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan di dalam kendaraan. Yaitu menengok sejenak ke arah pekuburan dan mengirimkan sebuah salam untuk ibuku. Ya. Itu rumah ibuku sekarang sejak tahun 2003, tepatnya 18 April 2003. Beliau meninggal dengan tenang setelah terkena serangan jantung.

“Assalamu’alaikum Ya Ahli Kubur, Assalamu’alaikum Ibu. Semoga ibu selalu mendapat rahmat dari Allah yang memang tiada pernah habis dimana pun kita berada.”

2.

Ibuku seorang perempuan yang unik. Teman-temanku banyak yang menyukai beliau karena beliau senang bergurau, senang memasak dan menjamu orang, serta selalu punya seribu satu cerita. Entah itu cerita tentang masa lalunya yang seru atau cerita tentang teman-temannya yang bermacam-macam karakternya. (Hmm…mungkin aku belajar dari beliau dan semua cerita-ceritanya dan mencoba untuk mengumpulkannya satu persatu dalam tulisan). Tidak heran hal pertama yang sering ditanyakan oleh teman-temanku jika bertemu denganku adalah, “Gimana kabar nyokap lo?”

3.

Almarhumah ibuku memang selalu ceria dan senang bercanda. Tapi bukan berarti dia tidak pernah menangis atau bersedih. Bersedih, tentu saja ibuku pernah bersedih (atau mungkin sering hanya saja aku tidak tahu? Entahlah). Air mata sering aku lihat meluncur di keduabelah pipinya. Tapi, khusus untuk kasus air mata ini, tidak bisa dikatakan bahwa air mata ini meluncur karena beliau sedang bersedih. Karena, jika sedang terlalu bergembira pun, ibuku sering meneteskan air mata. Termasuk ketika sedang terharu.

Setidaknya ada tiga peristiwa dimana ibu meneteskan air matanya, khusus untukku (ya, air mata ini spesial hanya untukku, tidak untuk yang lain).

Peristiwa itu adalah, ketika aku sedang tertidur di kamar pembantuku. Tiba-tiba saja, ada setetes air yang menetes tepat menimpa wajahku. Bukan hanya setetes atau dua tetes, tapi banyak. Mengganggu tidur siangku, dan membuatku terjaga bangun, tapi lalu mengerang.

Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika ibu pergi dengan teman-temannya untuk ikut kegiatan PKK di Kecamatan. Ibu memang seorang aktifis pemberdayaan keluarga dan masyarakat di Kelurahan tempatku tinggal. Dia sering bepergian untuk membantu keluarga tidak mampu, anak-anak dhuafa dengan teman-teman PKK-nya yang bekerja sama dengan Kementrian Sosial kala itu (era tahun 70-an). Siang ketika ibu sedang ikut kegiatan sosial tersebut, aku dan adikku bermain pimpong di halaman garasi rumah kami. Aku dan adikku tidak bisa main pimpong tapi seperti halnya kanak-kanak yang lain, kami tetap memainkan permainan pimpong tersebut dengan cara kami sendiri. Kebetulan, aku berkali-kali menang dan tentu saja kebalikannya, adikku berkali-kali kalah. Kondisi yang menyebalkan dan menyesakkan itu adalah kondisi kalah. Dan setelah mengalami kekalahan berkali-kali, kemarahan adikku pun mulai muncul. Terlebih mungkin setelah melihat kepongahanku karena kembali meraih kemenangan. Akhirnya, karena kesal, adikku melempar raket pimpongnya ke arahku. Mungkin dia tidak sengaja karena sudah terlalu kesal, dan melemparnya dengan main-main. Tapi, takdir rupanya berbicara lain. Raket itu terlempar begitu saja dan langsung ujung kayu bulatnya menimpuk kepalaku.

ZING…

Aku langsung menghentikan tawa kemenanganku dan langsung memelototi adikku. “Kenapa sih? Sakit tahu.” Sementara adikku hanya menatapku dengan bengong dan terkejut. Tidak berkedip.

“Kenapa?”

Adikku masih terdiam menatapku dengan terpana. Spontan aku meraba ujung pelipisku. Ujung jemariku terasa basah. Lalu aku bawa ujung jemari itu ke depan wajahku hingga aku bisa melihat ternyata ujung jemariku sudah dipenuhi oleh lumuran darah. Panik, aku melihat ke arah jendela kaca dan langsung melihat bahwa saat itu, ternyata wajahku sudah dilumuri oleh darah. Barulah aku menangis kencang hingga semua orang datang dengan panik dan memberi pertolongan. Setelah lukaku kering, aku yang masih marah pada adikku, menolak untuk bertemu dengannya dan lebih memilih untuk tidur di kamar pembantu. Ketika sedang terlelap dalam tidurku itulah ibuku datang dan langsung mengelus pelipisku yang terluka bocor tersebut sambil meneteskan air matanya. “Maafin ibu ya nak, ibu sedang pergi ketika kepalamu bocor.” Sejak itu, ibu mengurangi semua kegiatan sosialnya dan lebih banyak berdiam di rumah saja.

Peristiwa kedua ibu meneteskan air matanya khusus untukku adalah, ketika suatu pagi ibu dan ayah memanggil-manggil namaku dengan suara yang penuh gegap gempita. “Adeeeeeeeeeee…adeeeeeeeeeee.”

Aku sedang tertidur. Pagi-pagi kedua orang tua kalian memanggil kalian, apa yang langsung terlintas di kepala kalian? Ya. Benar. Aku langsung merasa bahwa mereka memanggilku untuk menyuruhku melakukan sebuah pekerjaan. Padahal, aku sedang bergelung dengan selimutku menikmati sisa pagi yang dingin. Selimut aku tinggikan, menutupi seluruh tubuh dan kepala, berharap tidak terdengar lagi panggilan itu.

“ADEEEE…”

Duh. Apa sih nih? Nggak bisa melihat orang senang sebentar. Ini kan hari minggu!

Akhirnya dengan merenggut kesal, aku melempar selimutku dan turun ke bawah (rumahku memang bertingkat). Di lantai bawah, kulihat ayah dan ibu sedang duduk berdampingan sambil tersenyum-senyum ke arahku. Koran bergelimpangan di depan mereka, lembar per lembar.

“Ade, kamu diterima di UI.”

Kantukku langsung menguap hilang tanpa bekas.

Lalu dimulailah hari pendaftaran dimulai. Setelah selesai mendaftar, ayah dan ibu mengajakku berkeliling kampus. Jika saja mungkin, pasti mereka ingin naik ke atas kap mobil dan berteriak pada semua orang “Hei, lihat, anak saya akan bersekolah disini.”… aku tahu itu akan terjadi jika saja kami naik mobil dengan sun roof di atasnya. Untungnya mobil kami adalah mobil kijang biasa.

Setelah puas berkeliling kampus, kami makan di tempat jajan mahasiswa. “Wah, berarti nanti kamu bakalan makan di sini ya De?” Aku mesem-mesem salah tingkah. Di sekelilingku ada banyak mahasiswa dan mereka menatap kami sambil tersenyum (karena kami datang dengan anggota keluarga yang lengkap!!!).

Lalu, ketika aku izin ke kamar mandi seorang diri, ibu tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut menemani. Di kamar mandi itulah, ibu tiba-tiba memelukku erat dan air matanya aku rasa menempel di leherku. Basah.

“Ade, terima kasih ya karena kamu sudah berusaha keras untuk bisa masuk di UI. Ibu bangga banget sama kamu. Ibu tahu pasti, kamu usaha keras banget untuk prestasi ini. Pasti berat apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Ibu inget, guru-guru SD kamu dulu, yang pernah bilang bahwa kamu adalah anak yang bodoh dan tidak sepantasnya bersekolah tinggi-tinggi. Tapi, ternyata kamu hebat. Kamu bisa menepis semua cemooh orang itu. Terima kasih ya nak.”

Aku langsung ikut menangis juga.

Aku memang punya kelainan sejak kecil. Yaitu, orientasi kiri kananku kacau balau (juga ditambah dengan sakit asma yang parah, hingga setiap tahun pasti ada waktu dua sampai tiga kali harus opname). Tapi terutama orientasi kiri kananku itu yang terasa mengganggu. Karena, itu menyebabkan aku mengalami kesulitan untuk membaca, menulis dan otomatis juga mengenal angka. Aku tidak bisa membedakan huruf b – d, p – g, h – 4, s – z, a – e, bahkan juga u – n. Lebih parah lagi, aku sering sulit terbalik-balik menulis akhiran ng, ny (selalu ditulis gn, yn). Kepandaianku hanyalah berhitung sampai dengan 10. Lebih dari sepuluh, selalu terbalik-balik dan itu berakibat parah. Mau nulis 12 malah menulis 21…dan seterusnya.

Raportku terbakar. Seluruh nilainya merah yang parah. Yang tersisa biru hanya ada dua pelajaran, yaitu pelajaran kesenian (karena memang tidak ada teori, yang ada hanyalah menyanyi dan menggambar saja), serta pelajaran agama Islam. Tapi inipun setelah guru agamamu memanggil ibuku secara khusus hanya untuk memberi nasehat, “Bu, anak ibu parah banget. Sepertinya dia bukan duduk di sekolah ini dan bercampur dengan anak-anak yang lain. Seharusnya, nilai agamanya merah, tapi, peraturan pemerintah tidak membolehkan seorang anak mendapat merah di pelajaran agamanya kecuali kalau keluarga ibu memang seorang keluarga komunis.”

Sejak itu, ibu langsung memanggil seorang guru les khusus. Guru les inilah yang mengajari aku membaca, menulis dan berhitung. Cara mengajarnya amat kreatif. Namanya Tante Pop, seorang guru dari suku Ambon yang punya anjing besar bernama Leksi (hehehe, jujur, aku sebenarnya takut anjing, tapi karena tidak ada pilihan, terpaksa aku les di rumahnya dengan kedua kaki terlipat di atas kursi belajar).

“Ingat ya Ade. Huruf ‘b’ itu, perutnya sedang hamil; sedangkah huruf ‘d’ adalah huruf dengan pantat yang besarrrrrrrrr.” Hahahah…kreatif kan? Tante Pop ini juga yang memberi saran padaku untuk meletakkan sesuatu di tangan kananku agar aku tahu, bahwa inilah tangan kananku dan inilah sebelah kanan. Itulah sebabnya, hingga sekarang, aku selalu mengenakan jam tangan di sebelah kanan dan selalu ada sebuah cincin yang melingkar di jemari tangan kananku. Cincin ini tidak pernah lepas. Ketika cincin ini kekecilan, suamiku membelikanku cincin baru yang muat. Cincin di jemari tangan kananku itu sebuah keharusan untukku.

Itu sebabnya ibu langsung memeluk dan menangis penuh haru di kamar mandi FISIP UI. Dan aku, juga ikut menangis karenanya.

Lalu, yang terakhir, ibu menangis ketika aku akhirnya wisuda sarjana. Hanya ada satu perkataannnya yang aku ingat seumur hidupku, “Terima kasih ya De. Kamu sudah berhasil jadi sarjana. Setidaknya, ibu tidak terlalu malu pada keluarga kesar kita, karena ternyata meski anak ibu kebanyakan perempuan semua, tapi bukan berarti tidak bisa bercahaya seperti keluarga yang lain.”

(Oh, bunda. Aku tahu betapa berat tekanan dari sebuah keluarga dengan patron Patrilineal yang kental yang melingkupimu. Memiliki anak laki-laki itu adalah sebuah keharusan. Kalau perlu, seorang suami boleh menikah lagi demi mendapatkan seorang anak laki-laki. Alhamdulilah, anak ke empat ibuku seorang laki-laki dan hanya dialah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku).

4.

Hidup memang keras dan tidak bisa diprediksi kemauannya. Tapi, ibuku selalu mengajarkannya untuk mensiasati hidup dengan cara yang cerdik. Hidup sering kejam dan kadang terasa tiada ampun. Tapi, ibuku selalu mengajarkan sebuah semangat untuk senantiasa bangkit ketika aku terjatuh. Hidup itu tidak selamanya buruk, ada bagian yang indahnya. Dan ibuku mengajarkan aku untuk selalu gembira dan ceria menghadapinya dengan canda dan tawa.

“Ibu…sedang apa ibu di sini?”

Akhirnya, setelah tiga tahun ibuku meninggal, aku dapat bertemu dengan ibuku kembali. Tapi, itu hanya dalam mimpi. Dalam mimpi tersebut, aku sedang mengenakan ihram dan sedang mengerjakan ibadah haji. Ibu aku temui di samping Ka’bah, juga sedang mengenakan pakaian ihram. Duduk bersimpuh sambil menyenderkan punggungnya yang gemuk di dinding Ka’bah.

“Ibu menunggumu, nak.”

Perempuan itu langsung aku peluk erat. Rindu ini sudah memuncak.

“Ade kangen sama ibu. Ade lupa bilang terima kasih dulu.” Sebuah rombongan orang-orang berpakaian ihram datang berbondong-bondong. Mengacaukan pelukanku dan lalu menyeret ibuku pergi. Aku terpisah. Tapi aku masih sempat melihat ibuku tersenyum dengan langkah tenangnya yang mengeililingi Ka’bah. Dan aku pun terbangun.

5.

Ya Allah, aku rindu kedua orang tuaku. Titip salamku untuk mereka ya. Jaga mereka, sayangi mereka, seperti mereka menjaga dan menyayangi aku ketika uku masih kecil.”

Itu doaku kini karena kedua orang tuaku memang telah tiada.

Itu sebabnya, setiap kali melewati pekuburan Menteng Pulo, aku selalu menoleh ke pekuburan dan menatap sebuah titik nisan di sana, sekedar untuk mengucapkan, “Assalamu’alaikum Ibu.”

[]

Catatan kaki penulis:

Dalam kerinduan dan harapan semoga ibu dan ayahku selalu disayang Allah. Selamat hari ibu untuk semua ibu di seluruh dunia.


Sang Guru

Oleh Ade Anita

 

APA arti sebuah benda kesayangan bagi kalian? Hm, sebentar. Saya harus menanyakan satu hal dulu pada kalian sebelum melontarkan pertanyaan ini.
Apakah kalian pernah memiliki sesuatu yang amat kalian sayangi? Entah itu boneka, CD, buku diary, bantal, guling, atau bahkan seseorang? Ah, terlalu berat ya jika menaruh seseorang dalam koleksi “sesuatu” yang kalian sayangi. Kita bicara tentang “benda” saja, jangan “seseorang”. Lalu bagaimana? Apakah kalian memiliki sesuatu yang amat kalian sayangi? Anak saya punya.

Anak bungsu saya, 26 Januari lalu usianya genap empat (4) tahun. Karena bungsu, maka benda-benda yang dia miliki kebanyakan adalah benda warisan dari kakak-kakaknya yang masih layak pakai (= baca: terlalu pelit untuk membuangnya). Mulai dari pakaian, buku-buku cerita, juga mainan. Salah satu mainan kesayangannya bahkan bukan hanya warisan dari kakak-kakaknya, tapi warisan dari saya juga. Salah satunya adalah boneka yang punya nama Ceri.

Boneka ini mungil sekali. Besarnya hanya sekepalan tangan saja. Isi badannya dari butir-butir kacang kedelai yang sudah diawetkan. Dengan begitu ketika kita meremasnya, maka akan terasa butiran-butiran kedelai itu mengalir berpindah tempat di antara jemari kita. Boneka ini, saya yang membelinya dahulu. Warnanya putih dengan bulatan coklat yang memenuhi punggungnya. Saya berpikir, ini seperti boneka anak anjing yang lucu. Wajahnya menggemaskan sekali. Nama Ceri saya berikan karena jika sedang kesal, saya sering meremas boneka ini lalu menatap wajahnya yang lucu yang selalu terasa sepertinya dia mengatakan satu hal kepada saya, “Ayo Ade, Cerialah…. Ceria.” Dan memang saya jadi kembali ceria setelah melihat wajahnya. Akhirnya ketika Hawna lahir, saya sering memberinya boneka Ceri agar dia tidak menangis. Hawna senang sekali juga dengan Ceri. Bisa dikatakan, dia tumbuh besar bersama dengan Ceri. Jadi, sayangnya pada Ceri, mungkin sedikit lebih banyak ketimbang sayangnya pada boneka-boneka yang hadir belakangan sesuai dengan pertambahan usianya. Ceri dibawanya dalam kantung celananya atau bahkan di dalam tas kecilnya jika sedang bepergian. Digenggam, ditimang-timang kadang dicium-cium. Kadang, Hawna menyelipkan Ceri di bawah bantalnya jika ingin tidur, kadang di sisinya dan ikut diselimutinya dengan selimut yang terbuat dari saputangan handuk. Lalu mereka tidur bersama.

Dengan demikian, Ceri usianya lebih tua dari Hawna. Karena sudah mulai tua, maka kulit-kulitnya menjadi cepat sekali lusuh. Terpaksa saya rajin mencucinya. Ketika mencucinya itulah saya baru sadar satu hal. Ternyata, Ceri bukanlah boneka anak anjing yang lucu, tapi, dia boneka anak kucing yang lucu. Hal ini baru saya sadari ketika suatu pagi, ada seekor anak kucing yang nyelonong masuk ke dalam rumah saya (selama ini pintu rumah saya selalu tertutup agar tidak ada kucing yang bisa masuk. Saya memang takut kucing). Astagfirullah… wajah anak kucing itu mirip sekali dengan wajah Ceri. Apalagi jika Ceri sedang dicuci hingga tubuhnya basah semua dan harus meringkuk di atas tali jemuran.

Mereka seperti kembar.

Akhirnya saya menjadi gusar sendiri. Tidak mau lagi saya menyentuh boneka Ceri. Saya juga tidak mau lagi mencuci boneka itu. Akhirnya, Hawna harus bermain boneka Ceri seorang diri. Tubuh Ceripun menjadi dekil dan tidak ada yang mau memandikannya.

“Hawna, ibu takut. Main sama mbak Arna saja ya sayang ya?” Itu jawab saya setiap kali Hawna datang dengan Cerinya. Wajahnya amat memelas, matanya yang polos dan senyumnya yang tulus hampir saja membuat saya ingin memeluk dan membawanya ke pelukan tapi boneka anak kucing di tangannya itu membuat saya bergidik.

“Ibu, sudah dibilang berkali-kali, ini boneka anak anjing, bukan boneka anak kucing.” Arna beberapa kali mencoba untuk mengajak saya berkompromi sedikit. Tapi saya sulit sekali melakukannya.

Akhirnya suatu hari, tepatnya dua hari yang lalu (10 Februari 2010), ketika saya hanya berdua saja dengan Hawna di rumah, tiba-tiba Hawna datang kepada saya dengan wajahnya yang penuh senyuman. Matanya yang selalu penuh dengan ketulusan dan senyumnya yang polos membuat saya segera meraih tubuh mungilnya untuk dipeluk.

“Kenapa nih anak ibu kok senyum-senyum sendiri?” Senyum Hawna kian lebar lalu tiba-tiba dia mendaratkan sebuah kecupan di pipi saya. Bukan cuma sekali, tapi empat kali di pipi kiri dan pipi kanan.

“Ibu, boneka Ceri sudah aku buang.” Ujarnya setelah selesai mencium. Saya bingung dengan apa yang dia katakan.

“Buang apa nak?”

“Buang boneka. Boneka Ceri sudah aku buang.” Saya langsung tertegun lalu berlari ke belakang, ke tempat sampah. Ternyata benar, di sana, di dalam tempat sampah, boneka Ceri teronggok tanpa daya, bersatu dengan sampah-sampah rumah tangga. Subhanallah. Tiba-tiba saya ingin menangis. Segera saya cari lagi Hawna yang sedang berdiri terpekur menatap saya yang sedang meneteskan air mata.

“Hawna, kenapa bonekanya dibuang sayang?”

“Iya, biar ibu nggak takut lagi.” Saya langsung terduduk lemas. Bingung harus berkata apa lagi. Hawna mendekat dan mengulurkan tangannya yang mungil untuk menghapus air mata saya.

“Sudah ibu, bonekanya sudah aku buang kok, Jadi, ibu nggak usah takut lagi.” Saya langsung meraih tubuh mungil Hawna lalu memeluknya erat-erat penuh rasa haru.

Hawna anak saya. Usianya belum lagi lima tahun. Bulan Januari lalu dia baru saja genap empat tahun. Tapi hari ini dia sungguh sudah menjadi guru saya. Guru yang mengajarkan sebuah pengorbanan demi sebuah cinta yang ingin dipertahankan dan cara menjalankan sebuah keikhlasan penuh ketulusan. Dialah sang guru sejati saya. Subhanallah wal Alhamdulillah. Terima kasih Allah, terima kasih guru.

[]

Notes: Ini foto Hawna, anak saya, guru saya.


Ibu Pertiwi, Seper(ti) Inilah Aku Menangis…

Oleh Afrilia Utami

 

“Ku lihat ibu pertiwi..

sedang bersusah hati. airmatanya berlinang

Mas intannya terkenang..

hutan, gunung, sawah, lautan

simpanan kekayaan..

kini ibu sedang lara, berintih dan berdo’a”

 

Seperti inilah aku menangis.

Lebam dua mata, hidungku merah. Nafas semakin sesak, makin, sulit. Uh, Sesak!

Tujuh bungkus tissue sudah habis, namun tetap tak mengeringkan amisnya gerimis ini.

Tumpah ruah mewajah diraga, lalu karam didebar tsunami hati.

Ya, Tuhan.. aku lelah menangis, aku lelah melihat saudaraku meng-evakuasikan sisa airmatanya.

Aku lelah mencari di mana muara airmata ini akan surut lalu terganti dengan mata air baru-Mu.

Aku lelah..! Tuhan..

Akan lebih lelah, menyaksikan para saudaraku, umatMu yang masih dirundung mendung panas. Wedhus Gembel.

Beratus ribu korban melayang, diterbangkan muntahan abu yang debu. Merapi Mentawai.

Gempar, retak sudah tanah berpetak.wasior. Tanah yang kami cintai, yang dulunya kami nikmati tanpa gelisah, resah sampai bencana meluluh lantakkan, ah!

Seperti inilah aku menangis…

Ya, Tuhan. Aku melihat

Ibu itu menjerit mencari anak-anaknya yang lupa terbawa.

Masih tertinggal diselimuti gusarnya ombak, waktu tadi.

Ya, Robbi. Aku menyaksikan

Ayah itu tak malu deraskan airmata, berteriak

memanggil jiwa anak-istri yang lupa dibangunkan

saat tombak tergeletak terbawa arus..                          .gugur kumis sudah.

Ya, Ilahi. Aku menemani

Bocah-bocah itu menangis…

menangis!… menjerit… mencari… sambil gerah

di mana  ayah dan ibunya yang baru saja

temani memancing kata, menjaring arti hidup.

Di ladang tempurung waktuMu.

Lihatlah Tuhan,

Sungguh, Aku malu untuk menangis

Tapi apa itu malu untuk kubawa

Dalam musim yang amis ini.

Lihatlah Tuhan,

Tangisku ini semakin hujan

menanggapi luapnya nisan dan kuburan

Lemah hatiku tertekuk, sujud di- Mu.

Airmata ini pahit, sungguh sakit.

Lihatlah Tuhan,

Aku semakin roboh, Sungguh!

Melihat sejenisku sedang menata

Kokoh jiwa-jiwa yang masih berada.

Tersisa.

 

Jangan melihat Tuhan,

Aku ikut dalam hilang itu …


[]

28 Oktober 2010


Aku Masih Ingin Lebih Lama Dipangkuanmu, Ibu

Oleh Afrilia Utami

 

 

Hari ini seorang anak bertemu

Dengan riwayat sebuah kerinduan

Pada jendela pertemuan

 

Akan hangat tembang suara lantunnya

Akan cantik faras pesona raga jiwanya

Akan pertama aku. Seorang anak,

mengenal sesosok pahlawan abadi.

Yang tak jemu memperkenalkan

Apa itu nafas..

Apa itu hidup..

Apa itu cinta..

Dan, apa itu Tuhan.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di tiapnya

Abu usiaku.

 

 

Hari ini, aku. Anakmu, Ibu… yang dulunya singgahi rahimmu selama Tujuh bulan lamanya, tanpa tahu seberapa banyak susahmu membesarkan semua lelah dan deritamu yang kausebut itu bahagia, itu anugrah terindah yang pernah kaumiliki di dunia ini. Semakin harinya, senyummu semakin mekar  umpama embun kasturi ucap ayah, setiap aku bergerak dalam kandunganmu, tiapnya kaki nakalku menendang-nendang perutmu.  Kemudian, mendengar kabar akan kehadiranku sebentar lagi, kaubersemangat memilah baju ditoko-toko, keranjang tempat nanti lumpuh mungilku tertidur manja didalamnya, beragam mainan dengan warna cantik, dan tak lelah dua matamu kaupaksa membaca buku-buku tebal tentang bagaimana cara terbaik membesarkanku, aku. Anakmu. Meski aku terlahir prematur.

 

“Sayang, kelak kau akan tahu, seberapa besar cinta Ibu padamu.. meski tak setiap waktu ibu menjagamu.“

 

Ibu, bukan kelak dan nanti kuakan tahu. Tetapi sebelum celotehku pertama kali terlontar, Cintamu sudah jelas memupuk rindang diputihku.

 

Masih ingatkah Ibu? kala itu, Hujan cukup besar. Aku masih takut dengan deras suara rintik airnya, dilanjutkan dengan wajah-wajah cahaya yang bergemuruh. Tapi kau ibu, kau terus saja menimangku, mengelus ubun-ubunku dengan lembut, penuh dengan tulusnya kasihmu. Senyummu saat itu kuperhatikan, kusimak dengan dalam, semakin dalam semakin tenang jiwa ini. Mungkin semua ketenangan ini terlahir karenamu, ibu.. Meski masa kanakku tak selalu setia ada bersamamu.

 

“Kau tak perlu menjadi siapa-siapa, karena kau satu dirimu sendiri, Anakku. Janganlah ingin menjadi, tapi jadilah apa yang kauinginkan.”

 

Apa yang sebenarnya kuinginkan ibu? Apa aku tak mempunyai cita-cita pada saat kautanya apa yang kucita-citakan. Sebaris iklan mini hanya bertuliskan “aku ingin membahagiakan, ibuku.”. apa yang kau inginkan dariku ibu? Aku terlahir di sini untukmu.. untuk setia merajut tiap senyummu menjadi busana yang akan kaukenakan bersamaku. Lalu kuberi nama busana itui “bahagia”.

 

Namun pada nyatanya, kini aku jauh darimu, ibu. Aku jauh dari peluk teduhnya kata lisanmu, dari hangatnya senyummu. Dari tiap kilau yang kutemukan di dua matamu, yang tergurai bebas di hitam rambutmu. Dan disegaris manisnya kaumembangunkanku dengan apa itu cinta yang tak kenal dengan dendam dan nafsu jiwa. Maafku ibu, kini jarang sekali waktu mempertemukan kita. Mungkin lama airmatamu menitik meruah di laut yang urung hadirkan ombak.

 

Sekarang aku di sini ibu. Anakmu, yang dulu buat bekas jahitan diperutmu. Pada tiap malamnya, mengetuk-ngetuk mimpi malammu. Di paginya, yang hadirkan kejengkelan berepisode panjang tak kunjung usai.

 

Ya, dekaplah lagi aku ibu. Meski aku bukan anakmu yang pada saat itu berumur 5th, atau pada tiap keluh kesal di usia 17th, yang semakin bertanya perihal di kediaman kepala empatmu. Anakmu ini, sudah tua, ibu. Sudah siap untuk kaumandikan untuk terakhir kalinya. Izinkanlah ibu, untuk aku mencium syurga kakimu,kembali. Aku tidak malu menangis dihadapmu, tapi aku takkan biarkan melihatmu semakin melinangkan mataair di kudus jiwa ibumu.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di setiapnya

Abu usiaku.

 

Aku masih ingin lebih lama dipangkuanmu, Ibu ..

 

“Happy birthday, Mom ..and today I’m here again find love.”

 

 

[ Love you, Mom… ]

 


Enam Benam Dalam Benak

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Pohon Randu

Bunga randu memeluk tangkai

angin meliuk lihai.

Rindu lapuk sehelai demi sehelai.

 

(2) Kafe Kopi

Pekat tandas ke dasar gelas.

Bibir rekat rakaat deras

bubar debar, disambar selebar ruas.

 

(3) Buku

Buka buku kemarau.

Dedaun kaku, rasa risau

berayun kangen Ibuku.

 

(4) Kursi

Sabar diukur kursi.

Debar akur, detak jam melandai.

Dada dilanda lindu puisi.

 

(5) Daun Talas

Lamat-lamat bibir hujan lumat tubuh perempuan.

Beri aku daun talas, Tuan.

Amat ikhlas ulas elus Jumat Tuhan.

 

(6) Apel

Ulat menggeliat di liat kulit.

Kau rindu, lahap sedikit.

Tersedu dan sakit.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Teristimewa #4

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #3 ]

Oleh Ade Anita

Dari Celah Hingga Jalan Raya

I. Celah

Sebuah lubang yang terjadi tanpa sengaja.

Sebuah lubang tempat kesempatan bisa didapat.

Sebuah kesempatan yang terjadi hanya satu kali.

“Ibu menikah dahulu dengan bapak usia berapa?”

Aku bertanya pada perempuan yang terlihat putus asa di hadapanku ini. Mungkin ini pertanyaan yang tidak penting. Bukankah tak berguna bertanya pada daun kering yang tergeletak di atas lumpur, siapa yang menjatuhkannya dari ranting pohon? Tapi sebuah kenangan cinta yang terekam baik selalu menerbitkan seulas senyum. Dan aku melihat setitik warna merah jambu di pipi yang tirus.

“17 tahun.”

Wah… Sweet seventen dong. Siapa naksir siapa nih?”

Sebuah senyum merekah di wajah tirus yang sumringah.

II. Pelangi

Tujuh warna fantastis yang menghiasi langit yang basah.

Merah yang membara oleh gairah.

Hijau yang khusyuk.

Jingga yang genit.

Kuning yang lembut.

Biru yang mengemban rindu.

Nila yang tegas.

Ungu yang tegar.

Semua air mata bidadari yang jatuh bersama hujan, tersapu oleh indahnya pelangi.

Lengkungannya selalu mampu membuang lara.

“Kami dahulu menikah sirri. Bawah tangan. Sudah kadung cinta mati sama bapak. Jadi nggak peduli lagi meski orang tua nggak setuju. Jadi meski hidup susah tetap saja rasanya tentrem. Tapi sama orang tua akhirnya direstui sih, jadi nikah ulang biar dapat buku nikah.”

Lalu mata yang cekung itu mulai melirik ke arah dinding yang penuh dengan bercak-bercak jamur. Hitam. Licin. Bau. Dan disanalah terdapat sebuah bingkai sederhana yang berisi sebuah potret. Seorang pemuda tampak tersenyum bahagia mendekap seorang gadis remaja yang tertawa lebar. Rona bahagia menebar. Menghalau bau tengik jamur yang menempel di dinding yang tampak lusuh. Bagai pelangi yang menghalau gerimis yang miris.

III. Atap

Sinar mentari yang perkasa tak dapat menembus atap.

Padanya kita memperoleh kenyamanan untuk berteduh dari terik.

Tapi sebuah lubang kecil tak dapat menghalau tembusan cahaya.

Pada sebuah titik terang yang tertahta di lantai semen, mataku tertuju.

Lalu menelusuri sulur cahaya yang terbentang antara noktah cahaya dan lubang di atap.

“Setelah menikah, langsung menetap di sini atau masih tinggal dengan orang tua?”

“Masih tinggal dengan orang tua saya dulu. Suami belum bekerja. Dulu orang tua suami hidup dari kontrakan. Terus bapak mertua kasi modal untuk jualan cendol, dibeliin gerobak, stoples. Ya sudah suami kerja, baru saya ngontrak di petakan. Pas orang tua suami meninggal, saya tempati rumah ini. Ini semua petak-petak punya sendiri, nggak ada yang ngontrak. Dulunya kontrakan, tapi dibagi-bagi warisan jadi dah ditempati ama anak-anaknya.”

“Berarti semua ini satu deret masih pada saudara suami semua dong?”

“Ya gitu deh. Tapi percuma sodara juga, pada nggak mau nulung.”

Angin datang berhembus. Angin musim kemarau yang membawa hawa panas. Terdengar suara berderit dari arah samping rumah. Entah berapa lama kayu-kayu galar itu bisa menopang doyongan rumah yang makin miring ini. Rumah reyot ini bisa rubuh kapan saja.

“Saya bingung mbak. Anak saya mau sekolah, yang kecil mau masuk SD, yang besar mau naik kelas dua SMP. Mereka belum beli seragam. Yang SMP bahkan belum bayaran tiga bulan padahal minggu depan sudah harus lunas biar bisa ikut evaluasi. Habis, suami saya sakit sejak tiga bulan yang lalu. Jadi nggak ada yang keliling jualan. Hutang kami dimana-mana. Semua barang sudah kami jual untuk biaya berobat bapak kemarin. Saya takut lihat para tukang pukul itu datang.”

Aku tercenung. Menatap sekeliling isi rumah yang lengang. Semua barang di rumah ini adalah barang yang dipungut dari pinggir jalan. Atau barang yang tertinggal bertahan karena memang tak ada yang sudi membelinya. Meja makan yang kakinya patah satu hingga harus diganjal dengan batu. Atau kasur springbed yang bagian tengahnya sudah melesak ke dalam. Yang tampak hangat mencerahkan hanyalah foto sederhana tentang seorang pemuda yang sedang merangkul seorang gadis muda yang tertawa penuh bahagia.

Aku termenung. Lalu kembali menatap noktah cahaya yang tertahta di atas lantai.

Menelusuri jembatan cahaya yang mengantarkan mataku pada sebuah lubang di atas atap.

III. Cendol.

Minuman dingin yang terdiri dari adonan tepung beras yang disaring dengan saringan khusus hingga membentuk pilinan mungil. Disajikan dengan pemanis gula merah dan parutan es.

Aku suka cendol. Murah meriah menyegarkan.

“Cendolnya dulu bapak bikin sendiri?”

“Iya.”

“Ibu sendiri bisa bikin cendol?”

“Bisa.”

“Berarti, setelah bapak meninggal ini, ibu masih bisa nerusin usaha bapak dong, untuk jualan cendol?”

Perempuan di depanku menggeleng. Penuh putus asa dia menatap kedua anaknya yang setelah makan nasi bungkus, kini tampak tertidur kelelahan di atas lantai.

“Saya bisa bikin cendol, tapi saya belum pernah berjualan cendol. Kaki saya reumatik, apa bisa keliling kampung menjajakan cendol?”

“Iya sih, berat memang. Biasanya, kalau reumatiknya kambuh diobati apa bu?”

“Minum sari daun bayam liar.”

“Bayam liar? Maksudnya? Beda ya dengan bayam biasa di pasar?”

“Beda. Itu loh mbak, di trotoar, di pinggir selokan, di bawah tiang listrik, biasanya suka tumbuh tanaman yang daunnya mirip bayam. Nah, itu dipetik, ambil daun pucuknya saja dan batang mudanya, cuci bersih, rebus terus diperas airnya. Airnya itu bisa untuk menghilangkan sakit reumatik.”

“Oh ya?”

Kadang, kita sering tidak menyadari bahwa nikmat dan kemudahan yang diberikan Allah sungguh amat sangat tidak terbatas jumlahnya. Tak mampu rasanya untuk dihitung satu persatu. Bahkan untuk si miskin yang tidak mampu membeli apa-apapun disediakan juga obat-obatan gratis di sepanjang jalanan yang terbentang.

“Wah, setiap hari saya selalu jalan kaki mengantar anak saya sekolah. Nanti deh saya bantu juga mengumpulkan daunnya itu agar ibu bisa segera bekerja. Jalanan yang saya tempuh cukup panjang. Setiap hari, saya bisa ganti variasi rute jalanan agar setok daunnya tidak pernah kekurangan. Ibu harus bangkit, bekerja. Berat pasti, tapi sekarang sudah tidak ada pilihan lagi. Karena segala sesuatunya memerlukan biaya. Anak sekolah, makan, bayar listrik, bayar hutang, semua memerlukan uang.”

“Tapi saya takut tidak bisa. Aduh, saya tidak bisa. Bagaimana jika saya tidak bisa membayar semua itu?”

“Pelan-pelan. Semuanya dijalani secara bertahap saja. Sementara saya hanya bisa membantu mengumpulkan daun dulu mungkin. Yang penting, ibu yakin dulu ibu bisa dan Allah pasti akan memberi bantuan. Tuhan tidak pernah menelantarkan hambaNya begitu saja. Coba saja lihat, bayam-bayam liar Allah tumbuhkan dengan cepat dimana saja. Sama seperti Mengkudu yang bisa ada dimana saja.”

“Bagaimana jika saya tidak bisa?

“Tapi mereka berdua yakin ibu bisa. Ibu amat berarti bagi mereka berdua.” Aku menunjuk dua kepala mungil yang sedang tertidur pulas.

IV. Jalan Raya

Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan. Panjang tak terputus.

Sejauh kaki melangkah.

Berderap dengan gagah atau meniti dengan tertatih. Masih ingatkah kita semua kapan pertama kali kedua kaki kita menjamah jalanan?

Tidak. Tidak ada yang ingat bagaimana rasanya ketika pertama kali kaki kita menjamah jalanan. Tapi seorang ibu akan selalu ingat kapan anaknya pertama kali menjejakkan kaki. Karena segala sesuatu ada tahapannya. Dimulai dari hal yang paling mudah dahulu. Bukankah pertama kali kita tidak pernah langsung berjalan dengan dua kaki? Ada kedua tangan yang membantu menopang untuk merangkak.

Terjerembab beberapa kali.

Menangis sakit karena dahi yang terbentur.

Atau lutut yang lecet karena tergores jalanan.

Barulah setelah itu bisa berdiri sambil tersenyum bangga.

Semua ibu akan tertawa lebar ketika melihat anaknya akhirnya bisa berdiri sendiri. Makin bangga ketika anaknya bisa berjalan. Berlari kencang. Lalu tiba-tiba memanggil penuh nada khawatir ketika laju lari anaknya menjauh dari pandangan.

“Hei, jangan jauh-jauh perginya nak, nanti kamu tersesat atau hilang.”

Hmm…. Aku rindu almarhumah ibuku.

Rindu dengan tegurannya yang dulu sering kuabaikan karena aku merasa sudah lebih pandai.

[]

Catatan penulis :

  1. Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada anggota keluarga atau tetangga yang kekurangan tidak dapat melanjutkan sekolah karena mendadak menjadi yatim.
    1. Minta surat pengantar keterangan tidak mampu ke RT atau rw.
    2. Pergi ke sekolah untuk mengajukan keringanan dengan membawa: surat pengantar keterangan kematian orang tua, surat keterangan tidak mampu dari rt/rw, akte kelahiran.
    3. Jika surat-surat itu belum ada, beri keterangan secara verbal pada pihak sekolah tentang kondisi yang terjadi dan ajukan keringanan. Bukti administrasi menyusul.
    4. Ajukan diri anak untuk masuk dalam daftar mereka yang menjadi tanggungan sekolah. Semua sekolah negeri (sd, smp, sma, dan beberapa Perguruan Tinggi Negeri) akan membebaskan anak yatim dari keluarga miskin dari pungutan sekolah dan memasukkan mereka dalam daftar beasiswa dari hasil subsidi silang yang ada di komite sekolah. Tentu ada prosedur khusus yang akan dilalui seperti pengecekan langsung kondisi rumah, pekerjaan orang tua, jumlah penghasilan dan pengeluaran perbulannya, jumlah anggota keluarga. Semua semata agar pemberian bantuan tidak salah alamat atau disalah gunakan oleh mereka yang tidak berhak. Sedangkan untuk sekolah swasta, kebijaksanaan yang diterapkan umumnya bervariasi tergantung kondisi sekolah yang bersangkutan.
  1. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“.
  2. (al Quran:Al Baqarah: 155-157)

%d blogger menyukai ini: