Category Archives: Pendidikan

Mengomentari Bacaan yang Aku Baca

Oleh Ade Anita

Ah. Ini cuma masalah selera.

Sudah beberapa hari ini, eh, bukan. Tepatnya, sudah beberapa bulan ini, aku vakum menulis. Bukan berarti berhenti sama sekali dari menulis. Tidak. Masih terus menulis, karena menulis itu sudah menjadi candu untukku. Jadi, jika tidak menulis sama sekali dalam satu pekan itu, rasanya hidup jadi terasa hampa dan terasa ada yang hilang dari diriku. Mungkin karena menulis itu adalah hobbi yang amat sangat aku manjakan. Jadi, jika dia datang memanggil aku segera akan datang memenuhinya.

Terkait dengan kegiatan penyaluran hobbi menulis tersebut, ada Soul Mate dari  hobbi menulis yang juga harus dilakukan. Artinya, jika keberadaan pasangan menulis ini tidak dilakukan, maka seorang penulis tidak akan pernah bisa menulis karena mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Soul Mate dari menulis adalah kegiatan membaca dan mengamati. (Hm… memang rada poligami nih si menulis). Tiga serangkai ini harus senantiasa berjalan beriringan. Jika salah satu tidak dikerjakan, maka yang terjadi adalah ketimpangan yang akan membawa bencana bagi penulis itu sendiri.

Saya selalu punya cara unik untuk mengamati segala sesuatu di sekitar saya. Rajin ngobrol kiri kanan, suka mancing-mancing lebih dalam sebuah rahasia orang lain, terlibat lebih dalam dengan masalah dalam negeri orang lain, dan juga menjalin relasi komunikasi dengan banyak orang dan banyak komunitas. Segala sesuatunya sering saya tulis di dalam notes handphone saya. Itu sebabnya, meski gaptek total, saya tetap memerlukan diri untuk memakai handphone yang sedikit canggih hanya karena mereka memiliki fasilitas untuk menulis cepat, menyimpan data mentah tersebut dan mentransfernya dengan mudah ke PC di rumah untuk diolah kemudian. Jika suatu hari handphone tertinggal atau habis batterenya, maka saya sudah menyiapkan rencana B untuk menulis moment menarik yang ingin saya abadikan. Di dalam dompet saya, selalu tersedia sebuah pulpen mini (amat mini karena bisa disimpan di dalam dompet koin) dan saya juga tidak pernah membuang kertas struk pembayaran. Hehehehe…. yang terakhir ini lebih karena proyek idealis.

Coba deh perhatikan struk pembayaran yang anda terima dari kasir. Di bagian belakangnya selalu tersedia lembar kosong kan? Nah.. padahal, untuk menghasilkan kertas yang sepertinya tidak berguna ini, sudah berapa batang pohon di hutan kita yang ditebang? Itu sebabnya kertas struk ini selalu saya simpan karena sering saya gunakan kembali untuk menulis macam-macam. Menulis daftar belanjaan, menulis nomor telepon atau alamat rumah jika bertemu dengan seorang teman dan ingin tuker-tukeran alamat, dll. Nah… Kertas ini juga yang saya gunakan untuk menulis sebuah moment yang berpotensi untuk menjadi tulisan karena di pandangan saya sarat dengan sebuah hikmah.

Sedangkan untuk kegiatan membaca, saya memerlukan diri untuk menyediakan dana spesial, khusus untuk membeli buku. Dahulu sebenarnya saya berlangganan beberapa majalah wanita (karena suami juga berlangganan beberapa majalah yang dia sukai dan itu bukan majalah wanita). Tapi, dalam perkembangannya, saya mengamati sesuatu telah terjadi pada penyajian tulisan di majalah wanita tersebut. Apa yang terjadi? Yaitu, ternyata banyak penulis artikel di majalah wanita tersebut yang terkena penyakit malas menghasilkan tulisan yang berkualitas. Kebanyakan dari mereka banyak yang menulis Copy Paste sesuatu yang tersebar di internet, lalu membumbuinya dengan kalimat-kalimat pengantar atau penghubung. Menghiasinya dengan tata letak dan gambar dan WOALA… jadilah sebuah artikel. Fuih. Menyebalkan. Mending saya browsing internet saja sekalian, unlimited ini.

Akhirnya, saya berhenti berlangganan majalah wanita. Melirik tabloid, huff, hanya wartawan gosip yang rajin memperbaharui tulisan mereka dengan gosip baru. Apa bedanya dengan infotainment di televisi yang jam tayangnya dari pagi hingga tengah malam berganti-ganti di beberapa channel itu?

Pada akhirnya, buku adalah pilihan yang paling menjanjikan untuk bisa membuka cakrawala dan merefresh pengetahuan.

Dalam perkembangannya saat ini, ternyata saya bertemu dengan cara membeli buku baru dengan mudah. Yaitu dengan cara barter buku dengan sesama penulis. Jadi, saya punya koleksi buku ini ini ini, dan mereka punya koleksi buku itu itu itu. Saya memilih buku yang saya inginkan, dan dia pun demikian. Lalu kami barter. Insya Allah sama-sama happy karena kami hanya mengeluarkan ongkos kirim saja.

Akhirnya koleksi buku saya bertambah tanpa terasa dan diseling dengan berbagai kegiatan dan ketahanan fisik, saya mulai melahap membacanya satu persatu. Dan inilah komentar saya (yup, sekali lagi, ini hanya masalah selera):

Yang pertama. Jujur. Saya ternyata tidak begitu menyukai buku yang memasukkan banyak sekali syair lagu di dalam tulisannya. Menurut saya ini sebuah manipulasi tingkat yang paling rendah sekali. Bayangkan jika dalam satu bab yang terdiri dari dari 6 halaman, dua lembarnya terdiri dari syair lagu yang ditulis layaknya sebuah syair yang harus dinyanyikan oleh kelompok paduan suara. Huff… kenapa nggak sekalian saja menuliskan partiturnya jadi bisa dimainkan oleh pembacanya?  Dengan begitu kan tulisan tersebut akan menjadi 10 halaman? Mentang-mentang sekarang dituntut harus menulis novel atau buku minimal 150 halaman, masa lagunya 50 halaman sendiri? (Itu sebabnya setiap kali ingin membeli buku, saya usahakan untuk mengintip dahulu di dalamnya, ada banyak sisipan lagu nggak ya? Karena, saya memang ingin mengeluarkan uang untuk membeli buku yang memuaskan mata, bukan ingin membeli buku lagu).

Yang kedua, saya juga tidak menyukai ternyata, buku yang banyak memasukkan kutipan orang lain kelewat banyak. Aduh!! Tolong deh, ini kan sedang membaca novel bukan sedang membaca makalah?

Misalnya begini (ini hanya rekaan saya saja ya, untuk ngasi gambaran betapa nggak enaknya baca novel yang mirip makalah):

Aku termangu menatap buku yang terpampang di hadapanku. Kipas angin yang mengantarkan segelontor angin langsung menyibak halaman yang terpentang hingga mataku bisa leluasa membacanya. Buku itu seperti godam yang memukul-mukul kepalaku. Mengingatkanku pada peristiwa tempo hari yang seperti menari-nari di depan mata. Perih itu kembali terasa. Di buku itu tertulis:

Butir-butir pancasila sila pertama adalah:

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa

(1)   Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(2)   Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

(3)   Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(4)   Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(5)   Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yangmenyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

(6)   Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

(7)   Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

hehehehehhe…. ini contohnya. Tuh, kesel kan berasa jadi baca makalah.

Dari dua hal di atas, ada satu kesalahan fatal dari banyak penulis adalah, mereka sering lupa untuk menulis sumber dari mana mereka mengutip. Seperti lagu misalnya, kok saya tidak melihat catatan kaki siapa penyanyi aslinya, judul lagunya dan tahun berapa lagu itu dikeluarkan dan lewat label apa ya? Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik, senantiasa tertib menuliskan kutipan puisi atau lagu yang dia kutip loh. Hebat kan beliau. Sedangkan untuk sebuah makalah, wajib menuliskan narasumber kutipan (tapi ini niatnya nulis novel kan, bukan nulis makalah?)

Yang ketiga (dan karena saya menulisnya sudah terlalu banyak jadi menjadi yang terakhir), saya tidak suka dengan kumpulan puisi yang puisinya garing. Aduh…Arrrggghhh… mau marah rasanya membacanya. Jujur, saya tidak bisa menulis puisi. Mungkin karena saya punya kecenderungan untuk menulis banyak (makanya kalau disuruh nulis flash Fiction nyerah), saya selalu memandang kagum pada para penyair atau penulis yang mampu menulis puisi yang indah-indah.

Membuat puisi itu susah. Kita harus merangkum sebuah rasa yang berjuta cukup dengan beberapa penggal kata saja. Lalu menaruh ruh di dalam beberapa penggal kata itu. Ini yang sulit. Itu sebabnya, meski hanya beberapa kalimat pendek, tapi kesan yang ditimbulkan dari sebuah puisi sering terasa membekas amat dalam bagi pembacanya. Dan saya termasuk seorang penikmat puisi. Setiap kali membuka facebook, ada beberapa notes dari beberapa sahabat yang selalu saya buka. Bahkan, jika sedang merasakan kejumudan untuk menulis karena tuntutan deadline yang mendesak sementara mood belum juga tertangkap, maka saya selalu mampir ke notes beberapa sahabat tersebut. Selalu ada padang rumpun hijau yang saya temui ketika mampir ke notes mereka, ada air terjun jernih, ada kicau burung dan langit biru.. semuanya menyegarkan pikiran dan menenangkan hati hingga inspirasi bisa kembali muncul dan kejumudan bisa ditanggulangi. Itu sebabnya dalam list teman, saya membuat list khusus dengan nama “teman penyair”.  Syaiful Alim, Cepi Sabre, Arther Panther Olie, Faradina Izdhihary, Fajar Alayubi, dan sebagainya adalah deretan teman yang masuk list Teman Penyair saya.

Lalu, apa yang terjadi ketika menerima sebuah buku kumpulan puisi dan ketika membacanya saya banyak membaca puisi yang garing? Aduh… dari sebuah tempat yang damai, tentram dan penuh inspirasi, saya seperti terlempar ke tempat yang tandus dan gersang. Bahkan saya pernah membanting sebuah buku yang sudah terlanjur saya beli, dengan harga yang lumayan,  karena memuat puisi yang amat buruk. Kesal.

Itu sebabnya, secara jujur saya selalu merekomendasikan beberapa buku untuk dibaca kepada teman-teman dan sekaligus kadang merekomendasikan juga beberapa buku yang sebaiknya tidak usah dibeli atau tidak usah dibaca kepada teman-teman. Sekali lagi.. ini masalah selera.

Yup, ini cuma masalah selera. Selera dari seorang Ade Anita yang sok tahu dan sering sok idealis (masih inget kan kasus kertas struk? hehe… jika kalian kenal saya lebih dalam, kalian bisa tahu seberapa sok idealisnya saya, mungkin sebelas duabelas dengan freak). Maafkan jika ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun. Sungguh. ***


Si Anak Bongsor

Oleh Ade Anita

Ini ceritaku tentang kejadian kemarin siang. Senin, 4 oktober 2011.Ketika matahari bersinar terik dan awan mendung cepat sekali berlalu terbawa angin yang berhembus. Kejadiannya di sebuah tempat di wilayah Jakarta selatan.

Aku menunggu bersama anak bungsuku dengan rapi di sudut bangku tunggu bagi para pengantar. Rata-rata ibu-ibu yang menunggu anaknya ikut kursus di tempat itu adalah ibu-ibu yang keren-keren. Tas yang bermerek, sepatu yang keren, dan dandanan yang keren abis.

Beberapa di antara mereka menggenggam BB dan Android Tablet sekalligus. Benar-benar menunjukkan kelas bahwa mereka bukanlah ibu-ibu dari kalangan yang sembarangan. Seorang ibu menatapku sambil tersenyum. Ragu-ragu, aku masih mempertimbangkan harus membalas senyumnya apa tidak ya? BUkan apa-apa, tapi dia mengenakan kacamata hitam lebar dari merek terkenal. Karena hitam, aku tidak bisa menebak dia sedang menatap ke arahku atau ke arah lain. Ini sama saja seperti menebak orang yang memiliki mata juling. Tapi ibu keren mentereng ini sudah pasti tidak bermata juling. Akhirnya aku membalas senyumnya. Tapi rasanya terlambat, karena si ibu ini sudah langsung melengos ke arah lain.

Ya sudahlah. Mungkin dia memang menatap ke arah lain, bukan ke arahku. Salah sendiri, kenapa tidak dilepas kacamatanya? Aku membela diri dalam hati.

Sementara anak bungsuku bergelayut manja di ujung lenganku sambil menatap anak-anak yang berseragam sama, kaos dengan lambang tempat kursus.

Akhirnya, yang ditunggu datang. Seorang ibu guru yang masih muda. Usianya belum 25 tahun sepertinya. Dia langsung menyapa kami dengan ramah. Lalu, sambil mengucapkan kalimat manja dan ramah yang biasa dipakai jika ingin menyapa anak kecil, dia menyapa putri bungsuku.

“Hayoo… jadi siapa nih sekarang yang mau belajar? Sudah siap belum? Yukk.. yang sudah siap belajar, angkat tangannya?”

Aku tersenyum, melirik ke arah putriku dan lalu mengangkat sebelah tanganku. Si ibu guru langsung salah tingkah.

“Eh,.. yang mau kursus siapa?”

“Saya mbak.”

“Oh, ibu ya? bukan anaknya?”

“Iya, saya. Anak saya mengantar, karena saya memang tidak ada pembantu di rumah, jadi kemana saya pergi dia ikut.”

“Oh… eh… aduh, tapi ibu nggak apa-apa kan kalau teman-teman sekelasnya nanti anak kecil semua?”

Ibu guru itu menunjuk anak-anak kecil yang sedang asyik bermain berlari-larian.

“Nggak apa-apa. Memang kemampuan saya masih sama dengan mereka kok mbak, jadi saya nggak keberatan.”

Akhirnya, kelas dimullai. Aku duduk di salah satu bangku yang… hmm.. amat mungil dan amat kecil untuk ukuran tubuhku yang hmm.. amat besar dan tidak bisa dibilang kecil dibanding teman-teman sekelasku. Ketika lututku ditekuk, lututku menyentuh ujung meja. Tapi syukurlah bangkunya terbuat dari besi yang kuat, bukan dari plastik. Jika tidak, pasti teman-teman sekelasku mentertawakan aku jika aku sampai jatuh terjengkang dari bangku yang patah kududuki.

Lalu, pelajaran dimulai.

Astaga. Ini asli seperti adegan film Kinder Garten Cop dimana Arnold menjadi guru taman kanak-kanak. Bedanya, aku bukan menjadi guru taman kanak-kanak, tapi menjadi salah satu murid di taman kanak-kanak itu.

Bedanya lagi, teman-temanku tidak ada yang jahil… heheheh…(*jika saja ada, mungkin seru juga kali ya?).

Akhirnya… traraa…. aku berhasil menyelesaikan misi pertama, menggambar wajah aneka macam binatang tampak dari depan. Aku pandangi hasil gambarku dengan hati yang amat puas dan penuh rasa bangga.

Aduh.. ini hasil gambarku sendiri! Hasil belajar dua jam pertamaku!

Lalu dengan penuh rasa bangga dan dada membusung serta kepala mendongak, aku melihat ke kiri dan ke kanan. Dengan maksud untuk memamerkan hasil gambarku pada teman-teman sekelasku…

tapi….

Astaga!

Gambar-gambar teman-temanku ternyata jauhhhhhhhhhhhhh lebih canggih. Sementara aku selama dua jam pertama berhasil menggambar wajah enam ekor binatang yang berbeda tampak dari depan, mereka semua dalam dua jam sudah berhasil menggambar sebuah ilustrasi cerita…. ada binatang yang sedang menyetir mobil di tengah lalu lintas yang padat… ada binatang yang sedang bergelayut di antara dahan pohon di hutan belantara… bahkan ada aneka binatang yang sedang merayakan pesta ulang tahun!! Lengkap dengan gradasi warna yang mentakjubkan!

IH!… mau jadi apa anak jaman sekarang kok pada pandai-pandai ya??

Akhirnya, aku batalkan rencanaku memamerkan hasil karya pertamaku. Malu sendiri karena cuma gambar sederhana dibanding gambar mereka. Padahal, aku murid yang bertubuh paling bongsor di dalam kelas… hahahaha… Diam-diam, buku gambar aku masukkan ke dalam tas besarku. Tapi… ternyata guru menggambarku melihat dan berkata: “Sudah selesai? COba lihat hasilnya?”

Aduh! DEG! Malu, aku sodorkan buku gambarku. Guruku menerimanya dan memperhatikan hasil gambarku dengan seksama.. sementara teman-teman sekelasku melihat hasi gambarku dari arah belakang punggung guruku sambil….. cekikikan!

HAH!

Yang bisa aku lakukan menghadapi mereka hanya tersenyum, sambil mengangkat dua buah jari, telunjuk dan jari tengah, lalu berkata, “peace”… qiqiqiqiqiq…. teman-teman kecilku langsung tertawa…. akhirnya… kami jadi akrab.

—ceritapun selesai… mungkin bersambung pekan depan atau lain kali—

Catatan penulis:

– Sampai di rumah, jiwa narsisku terus menggelegak. Jadi, aku menunggu suamiku muncul di depan pintu sambil menyembunyikan hasil gambar pertamaku. Begitu dia muncul, TRA RA!.. aku langsung memamerkan hasil gambarku padanya. Dia tersenyum, lalu memuji gambarku. Dia bilang  bagus sambil tersenyum bangga.

Uhh…. Rasanya senangggg sekali.. asli seperti melambung. Terus jadi semangat deh buat berlatih biar jadi lebih bagus…. jadi, sekarang aku tahu, kenapa para orang tua diharuskan mengapresiasi hasil karya anak-anaknya dengan baik… SUMPAH deh, itu bikiin senang dan semangat!


Konser Kebahagiaan

Oleh : Ade Anita

Ada banyak sekali hadiah yang aku terima di sepanjang hidupku. Tapi ada satu hadiah yang amat istimewa untukku.

Bukan. Itu bukan berasal dari sesuatu yang mahal.

Jangan juga berpikir bahwa itu sesuatu yang langka. Bahkan, itu juga bukan berupa sesuatu yang sudah lama aku impikan untuk bisa aku dapatkan. Hadiah itu adalah sebuah teh kotak biasa dan sebatang coklat murahan yang aku terima beberapa tahun yang lalu tepat di hari ulang tahunku. Anak sulungku yang memberikannya. Kala itu dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Teh kotak dan sebatang coklat. Lalu seraut wajah malu-malu dari pemberinya.

“Ibu, selamat ulang tahun ya. Sorry ya, Cuma bisa ngasi ini.”

Lalu anak laki-lakiku itu berjalan cepat-cepat menjauhiku, menutupi sikap canggungnya sementara aku sibuk menahan rasa haru setelah menerima pemberiannya. Uang sakunya tidak banyak kala itu. Tentu dia berusaha menyisihkan sedikit uang sakunya, mengenyahkan rasa hausnya di bawah terik matahari sepulang sekolah, berjuang mengusir keinginan untuk jajannya agar bisa membeli hadiah-hadiah tersebut. Itu sebabnya hadiah yang dia berikan itu terasa begitu istimewa bagiku.

“Bam, terima kasih ya untuk hadiahnya.”

“Ah, Cuma segitu aja kok. Ngapain terima kasih.” Tapi tetap saja rasa haru terus menderas.

Lalu kemarin, tanggal 30 Juni 2011, anak lelakiku yang kini sudah beranjak dewasa kembali memberiku sebuah hadiah.

“Gimana, bam? Sudah keluar pengumumannya?”

Wajah yang dahulu mungil dan kini sudah mulai dibayangi kumis tipis yang terpapas pisau cukur itu tersenyum.

“Iya, aku diterima di Fasilkom UI.”

“Alhamdulillah.”

Hanya sebaris kalimat itu yang keluar dari mulutku dengan tenang. Padahal jika saja isi kepalaku transparant, kalian akan melihat aku sedang menari-nari mencoba untuk terbang dan menggapai semua bintang yang bertaburan di langit luas. Kalian akan melihat aku sedang berputar-putar menebarkan aneka warna dan bentuk bunga-bunga ke seluruh penjuru di sekitarku.

Aku ingin memulas seluruh permukaan di sekitarku dengan warna-warna ceria. Aku ingin membangunkan semua burung-burung agar mereka semua berkicau dan bernyanyi bersamaku. Aku amat bahagia. Bahagia tiada tara.

Hingga ketika malam sudah larut dan semua orang sudah bersiap untuk tidur, aku pun menyempatkan diri menyelinap masuk ke kamar anak lelakiku itu. Ah. Dahulu sekali bahkan dia pernah tidak berani tidur sendirian di kamarnya dan sekarang, dia sudah menjadi raja di kamarnya sendiri. Dahulu sekali, dia pernah aku timang-timang dengan rasa gemas dan sayang yang selalu menyeruak di dalam dada dan kini dia tampak sudah duduk di muka notebooknya dan asyik bercengkerama dengan teman-teman tweeter dan facebooknya. Aku langsung berbaring di tempat tidur yang ada di sebelah meja tulisnya dan menatap wajahnya dengan rasa sayang yang ternyata masih tetap menyeruak dan penuh di dalam dadaku.

“Kenapa sih bu?”

Mata anak lelakiku ini melirikku di sela-sela keasyikannya mendengarkan headphone yang entah membunyikan apa di telinganya. Matanya masih asyik menatap layar monitor di hadapannya.

“Bam.”

Cuek dia melirik aku dan menaikkan alisnya sebagai isyarat pengganti kalimat, “Ada apa?”. Aku hanya tersenyum dan mengelus kepalanya. Rambutnya tebal dan sedikit kasar. Dahulu, aku pernah khawatir melihat kepalanya yang sedikit penyok karena tindakan dokter memvakum dirinya yang akan lahir tapi serangan asmaku kambuh di saat dia sudah berada di jalan lahir. Dahulu, aku pernah sibuk mengolesi kepala ini dengan kemiri yang dibakar dan ditumbuk halus lalu dioleskan perlahan secara rata agar rambutnya yang amat sangat tipis bisa tumbuh dengan tebal seperti yang disarankan oleh banyak orang.

“Bam.”

Aku kembali memanggilnya dan kali ini anak lelakiku melepas earphone di telinganya.

“Kenapa bu?”

“Terima kasih ya.”

“Untuk apa?”

“Karena sudah berhasil lulus SNMPTN dan dapat UI.”

Anak lelakiku tersenyum tipis dan kembali mengenakan earphone di telinganya.

“Ah, ibu. Dikirain apaan. Begitu saja pakai terima kasih.”

Aku melepas sebelah earphone-nya.

“Ibu terima kasih bukan karena kamu dapat UI. Ibu terima kasih karena kamu sudah berusaha maksimal. Ibu terima kasih karena kamu sudah berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. Yang lainnya bonus, jadi ibu satuin saja jadi paket terima kasih yang sama.”

Anak lelakiku itu lalu merebut kembali sebelah earphone-nya yang ada di tanganku dan memakainya lagi di telinganya sambil tersenyum.

“Iya, sama-sama.”

Aih. Lalu rasa yang selalu menetap di dalam dadaku kembali terasa berderap.

TRAM. TRAM. TRAM.

Ternyata, rasa sayang dan rasa menyeruak di dalam dadaku yang muncul ketika melihat anak lelakiku ini hadir pertama kali enam belas tahun yang lalu, belum pernah berubah sedikitpun. Aku mencoba untuk bersikap biasa saja pada semua orang. Seakan tidak ada yang istimewa yang terjadi dalam hari-hariku. Tapi, andai saja kalian bisa melihat isi hatiku. Ada sebuah konser yang sedang diputar disana. Konser itu bernama konser kebahagiaan.

Allahumma, terima kasih untuk semua karunia dan hadiah yang Engkau berikan padaku sejak dahulu hingga kini dan yang akan datang.

Allahumma, jagalah diriku dan diri keluargaku agar tidak pernah terlena lalu lupa hanya karena semua nikmat yang Engkau berikan. Ammiin. []

 Catatan penulis: kenang-kenangan ketika selesai pengumuman SNMPTN 30 JUni 2011. Untuk Ibam: jika suatu hari tidak sampai umur ibu melihat keberhasilanmu selanjutnya di masa yang akan datang, tetap terus berusaha maksimal ya nak untuk mendapatkan yang terbaik dan jangan lupa untuk tetap tawakkal pada Allah. Ibu sayang ibam.


Kesempatan untuk Menjadi yang Terbaik

Oleh : Ade Anita

 

Bayi besar nan cantik di hadapanku tampak tertidur lelap. Pipinya ranum, matanya mungil, bibirnya berwarna pink kemerahan. Dia tampak begitu kuat dan  tak terkalahkan. Beratnya kini sudah mencapai 8 (enam) Kilogram meski usianya baru dua bulan. Belum bisa tengkurap, masih senang tidur lama-lama. Jika saja orang yang tidak mengenalnya melihat bayi ini tertidur, pasti mereka menyangka usianya sudah lima bulan. Aku mengelus pipi tembem yang ranum itu perlahan.

Bayi cantik bertubuh besar ini adalah anak keduaku. Dia lahir dengan bobot besar, 4780 gram dengan tinggi 58 cm. Itu sebabnya meski usianya saat itu baru berusia 2 (dua) bulan, tapi penampilannya sudah seperti bayi berusia lima atau enam bulan. Baju-bajunya sudah banyak yang tidak muat. Ah. Sebenarnya, terlalu cepat baju-baju yang kami persiapkan untuknya tidak muat lagi di tubuhnya. Membeli pakaian baru terus menerus tentu sudah tidak mungkin lagi meski rasa ingin membelikan dan memberikan yang terbaik senantiasa menggebu-gebu di dalam hati. Keperluan sehari-hari kami masih banyak, terlebih hidup di daerah rantau sebagai keluarga mahasiswa beasiswa, di Sydney Australia. Akhirnya, kemarin aku ambil kain gendongan yang aku bawa dari Indonesia untuk aku potong-potong dan dijahit menjadi pakaian bagi bayi cantik kami ini.

“Bayi kita terlalu besar untuk digendong dengan kain ini. Dialih fungsikan saja ya, jadi pakaian. Lihat, warna dan pola kainnya manis-manis sekali.”

Lalu bayi cantik besar itu pun mengenakan pakaian yang berasal dari kain gendongan batik. Warna merahnya menambah kecantikan dan kelucuannya. Dia selalu tersenyum dan tidak pernah menuntut banyak. Dalam hati, aku senantiasa berdoa agar Arna, nama putri kami ini, bisa tumbuh menjadi seorang muslimah yang senantiasa ikhlas dan menjadi sosok sholehah yang terbaik.

Beberapa tahun yang lalu, sebuah luka sempat menghampiri anakku ini. Yaitu ketika dirinya tidak terpilih untuk menjadi salah satu anggota sebuah kegiatan hanya karena dia mengenakan jilbab. Tapi keceriaan dan keikhlasan tidak pernah luntur dari hatinya. Bahkan aku belajar bagaimana penerapan sebuah ikhlas itu dari dirinya. Yaitu ketika posisi istimewa dia di sisi ayahnya, diberikan kepadanya adik bungsunya.

“Ayah, Hawna mau di sebelah ayah. Hawna! Sini dik, nih, tidur di sebelah ayah saja, enak. Hangat.”

Padahal biasanya dialah yang selalu menempati posisi di sebelah ayahnya. Ayah yang amat dia sayangi. Ayah yang selalu membuatnya sakit demam jika tidak bertemu lebih dari dua hari. Demam karena menahan rindu. Dirinya dan ayahnya memang sulit untuk terpisahkan. Rasa sayangnya pada ayahnya sudah sedemikian besar. Tapi ketika dilihatnya adik bungsunya murung karena tidak dapat tempat, dia dengan ikhlas memberikan tempat istimewanya pada adik bungsunya.

Ya. Rasa sayang itu memang sesuatu yang misterius. Karena rasa sayang, seseorang bisa menjadi sedemikian egois. Tapi karena rasa sayang pula seseorang bisa melakukan sesuatu yang tidak masuk akal dan logika, yaitu melepas kesenangan kesenangan pribadinya. Padahal dulu, Arna tidak pernah bisa tidur jika tidak berada di sisi ayahnya. Jadi, menjadi sesuatu yang mentakjubkan ketika aku melihatnya memberikan tempat istimewanya kepada orang lain dengan amat ikhlas. Subhanallah, aku belajar banyak darinya.

“Arna, sepertinya posisimu di SMP 41 rawan deh.”

“Hah? Yaaa….”

Seraut wajah kecewa aku temui ketika kami asyik menatap hasil seleksi masuk SMP Negeri Reguler Jakarta di  tanggal 27 Juni 2011 lalu. Berdua kami menatap perubahan cepat yang terjadi di layar monitor notebook.

Di sekolahnya, Arna berhasil menduduki nilai tertinggi. Tapi, ternyata ada banyak anak di Jakarta yang juga mendapat nilai yang lebih tinggi dari dirinya. Itu sebabnya perubahan posisi peringkat seorang anak di seleksi masuk SMP Negeri Reguler menjadi amat cepat. Persaingan amat tajam. Mereka yang memiliki nilai tinggi, menendang keluar mereka yang memiliki nilai terendah. Memaksa mereka yang tersingkir untuk mau menerima pilihan alternative selain dari pilihan utama mereka. Atau malah memaksa mereka yang memiliki modal nilai pas-pasan untuk tidak mendapat tempat dimanapun. Aku berdebar. Khawatir Arnaku akan tersingkir, lalu kecewa.

“Ibuuuuuuuuu…. Aku sudah keluar dari SMP 41!”

Sebuah suara terkejut terdengar berteriak lantang. Membawaku berlari meninggalkan pekerjaan rumah tanggaku. Di layar monitor, nama anakku sudah hilang dari daftar SMP utama yang ingin dia pilih. Namanya kini terpampang di alternative pilihan kedua, SMP 73. Lalu dalam sekejap, proses turun peringkat terus terjadi. Debaran di jantungku kian bertalu-talu. Satu persatu, teman sekolah Arna pun menyingkir dari daftar.

“Na, kalau ternyata nggak dapat juga, nggak apa-apa ya?”

Ragu aku bertanya padanya. Tapi meleset dari perkiraanku yang menduga akan mendapatkan raut wajah kecewa, aku mendapatkan sebuah senyum yang ikhlas dari wajah putriku.

“Iya, nggak apa-apa. Nanti kita pilih saja lagi yang lain. Kan masih ada kesempatan kedua?”

Aku tersenyum. Untuk kesekian kalinya gadis kecil ini mengajariku bagaimana menerapkan sikap ikhlas dan tawakkal dalam kehidupan ini.

Beberapa pekan yang lalu, aku mengajari dua putri cara meronce manik-manik untuk menjadi perhiasan. Awalnya mereka kesulitan tapi akhirnya mereka gembira melakukannya. Bahkan aku dibuatkan oleh mereka sebuah bros yang cantik.

“Wah, hebat deh. Jadi orang itu memang harus memiliki banyak keterampilan nak. Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Tapi apapun yang terjadi, kalau kalian sudah punya keterampilan, kalian akan siap dengan apapun kemungkinannya. Kesempatan untuk menjadi yang terbaik itu bukan cuma tersedia di satu tempat saja.”

Akhirnya, hari-hari yang penuh dengan debaran jantung itu pun berakhir. Tanggal 1 Juli 2011, sudah keluar pengumuman resmi bahwa anakku diterima di SMP 73. Dan pagi ini, sebuah kecupan aku daratkan di pipi yang tidak lagi tembem dan ranum. Sebuah rasa haru tumbuh dengan cepat di dalam dadaku.

“Arna, terima kasih ya untuk usaha belajarnya selama ini.”

Putriku hanya tersenyum tipis. Padahal rasa sayangku membeludak sedemikian tebal di dalam dadaku untuknya. Selalu. []

Catatan penulis: kenang-kenangan seleksi penerimaan siswa di SMPN Reguler Jakarta, 1 Juli 2011. Buat Arna: Terima kasih ya sayang, untuk semua usaha maksimalnya hingga bisa mendapatkan yang terbaik. Ibu sayang Arna.

 

Oh ya, aku mengikut sertakan kisah proses kelahiran Arna yang memiliki bobot besar, mulai dari awal kontraksi hingga proses kelahirannya, dalam buku kumpulan kisah para bunda yang melahirkan anak-anak mereka. Sudah bisa diperoleh di semua toko buku dengan judul: Berjuanglah, Bunda Tidak Sendiri terbitan Elex Media Komputindo, seharga Rp 44.800.


Ayo Bergerak Bersama Selamatkan PDS HB. Jassin

Penggalangan Dana (Donasi) #KoinSastra

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, yang didirikan pada 1979, kini terancam ditutup. Hal ini disebabkan terancamnya PDS tak bisa beroperasi lagi menyusul keluarnya Surat Keputusan Gubernur DKI yang memotong anggaran PDS sehingga menjadi Rp50 juta.

Sebelum keluarnya SK Gubernur DKI tersebut, pada tahun-tahun sebelumnya, PDS HB Jassin sempat memperoleh Rp 500 juta tiap tahun. Kemudian, dana itu terpotong menjadi Rp 300 juta. Tahun lalu, pengelola gudangnya ilmu para seniman, sastrawan, dan peneliti dalam dan luar negeri ini sudah ngos-ngosan menerima dana yang disunat menjadi Rp 164 juta. Dan, kini PDS tak bisa berkutik sama sekali…anggaran PDS dipotong menjadi Rp 50 juta

SK (Surat Keputusan) Gubernur DKI Jakarta No. SK IV 215 tertanggal 16 Februari 2011, yang ditandatangani langsung oleh Fauzi Bowo menyatakan jelas-jelas bahwa PDS HB Jassin hanya memperoleh anggaran Rp 50 juta setahun. Dengan anggaran sekecil itu jelas sekali tak akan mencukupi untuk membayar pegawai dan perawatan secara memadai.

Sejak Paus Sastra Indonesia, HB. Jassin mengumpulkan semua dokumentasi sastra secara teliti pada 1932, sampai saat ini terdapat sekitar 18.000-an buku fiksi, 12.000-an buku non-fiksi, 507 buku referensi, 812 buku naskah drama, 875 biografi pengarang, 16.774 kliping, 517 makalah, skripsi dan disertasi sebanyak 630 judul,  732 kaset rekaman suara, 15 video kaset rekaman, juga 740 foto pengarang. Data ini masih berubah dari hari ke hari dan semakin besar jumlah jenis koleksinya.

Kelengkapan koleksi sastra langka yang dimiliki PDS HB. Jassin bahkan dianggap setara dengan kelengkapan perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

PDS HB. Jassin

Salah satu ruang koleksi di PDS. HB. Jassin

Untuk menyelamatkan PDS HB. Jassin sejumlah pecinta sastra membangun sebuah gerakan moral untuk membantu meringankan beban pengelola menjaga semua koleksi berharga tersebut. Gerakan ini bernama #KoinSastra.

Sangat diharapkan bantuan kawan-kawan pecinta sastra dan pecinta literasi untuk bisa membantu. Besar atau kecil bantuan donasi kawan-kawan sangatlah penting untuk menjaga kelangsungan PDS HB. Jassin.

Keterangan lebih lanjut untuk membentuk kantong donasi #KoinSastra dapat menghubungi Tim Penggagas Gerakan, saudara Khrisna Pabichara di nomor [0813.9895.8598] atau langsung ke nomor rekening: 131-00-0971505-5 Bank Mandiri, a.n. Zeventina Octaviani.

AYO, SELAMATKAN PDS HB. JASSIN. SELAMATKAN LITERASI BERHARGA MILIK INDONESIA



Ayo Kita Protes!!!

Oleh Ade Anita

Pernah nggak sih merasa haknya diinjak-injak oleh orang lain? Atau merasa sesuatu yang semestinya didapat tapi dihalangi berubah menjadi gumpalan yang menyesakkan dada? Ah. Saya pernah merasakannya. Dan rasanya amat sangat menyebalkan!!

Tidak ada cara lain yang harus dilakukan untuk situasi seperti itu adalah melakukan protes. Tapi…Bagaimana jika yang menahan hak kita itu adalah orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kita? Bagaimana jika yang menghalangi kita berjumpa dengan hak kita tersebut ternyata seseorang yang kita segani?

Jawabannya ternyata tetep saja sama, kita harus mengajukan protes.

Protes adalah cermin bahwa kita ingin keberadaan kita diakui oleh orang lain dan dihargai. Bahkan para nabi dan Rasul pun pernah mengajukan protes keberatan ketika mendengar perintah dari Tuhan, dari Allah SWT. Jadi, amat wajar jika kita sebagai manusia biasa mengajukan protes.

Yang tidak boleh itu adalah protes yang anarkie, atau menghasilkan kerusuhan, atau menggelindingkan bola salju yang digelontorkan dengan cara menghembuskan fitnah yang sesat dan menyesatkan.

“Jadi, kalau nggak suka, ya sudah, kalian harus protes.”

“Protes itu apa?”

“Protes itu, kasi tahu ke orang yang kita nggak suka karena sesuatu, supaya orang itu mau berubah.”

“Caranya?”

“Bisa ngomong langsung, bisa juga marah tapi cuma negur, bisa juga ngirim surat.”

“Bisa juga demo.” Sebuah suara celetukan keluar ikut urun rembug.

“Iya, demo juga boleh. Asal jangan merusak lingkungan.”

“Seperti di tipi-tipi itu ya?”

“Iya, sayang.”

Lalu aku mengelus pipi halus putri bungsuku yang sedari tadi terus bertanya-tanya. Ada apa gerangan sih? Dia memang baru saja datang mengadu padaku karena diganggu kakak-kakaknya. Biasanya, aku memang tinggal mengeluarkan kata-kata saktiku, “Hei, sudah dong. Jangan ganggu adiknya terus.”

Lalu suasana damai kembali menyambangi rumahku. Tapi, kali ini , aku ingin memberi nasehat baru pada putri bungsuku yang baru berusia hampir lima tahun (26 januari 2011 nanti dia tepat berusia lima tahun). Yaitu, pentingnya untuk protes mempertahankan haknya jika ada yang mengganggu. Dia harus belajar untuk marah, belajar untuk mempertahankan miliknya, belajar untuk merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Bukankah umur manusia tidak dapat diduga? Kemana dia akan mengadu jika nanti aku sudah tiada?

Lalu, beberapa hari kemudian setelah aku mengajarkan dia pentingnya protes jika ada yang mengganggunya, terjadi kembali sebuah keributan di rumahku. Kali ini gara-garanya adalah, kakaknya merebut boneka Pooh yang sedang dia mainkan. Hmm.. sebenarnya, bukan merebut, tapi ingin bermain bersama tapi porsi pembagian pemilikannya tidak seimbang (hehehehe, ini bahasa pejabat nih, yang suka memperhalus sebuah situasi. Ada bakat jadi pejabat ya aku sepertinya? ^_^ )

JEDAR!

JEDUR!

Pintu dibanting mendadak setelah baru saja mereka saling sahut-sahutan. Lalu tiba-tiba senyap. Begitu senyap sampai aku sendiri bingung, “Hei, indahnya perdamaian. Cepat sekali mereka akur kembali. Alhamdulillah.” Lalu, sambil masih memegang centong (karena memang aku sedang memasak), aku mengintip keduanya.

Olala…ternyata, sang kakak sudah asyik dengan televisi. Sedangkan sang adik, sedang asyik membuat sesuatu. Cepat aku ambil kamera dan diam-diam mengabadikan gambarnya. Sambil tidak lupa wawancara tanpa setahu objek yang aku abadikan gambarnya.

Gambar satu dan dua di bawah ini ; Hawna sedang bekerja.

“Sedang apa?”

”Aku lagi nulis buat mbak Arna.”

“Nulis apa?” (Hawna belum bisa menulis dan membaca).

“Nulis, Mbak Arna nggak boleh masuk kamar kalau boneka Pooh madunya nggak dikembaliin ke aku. Kalau mau masuk kamar, boneka Pooh madunya harus dikembaliin dulu ke aku. Pokoknya aku marah sama mbak Arna dan aku mau bonekaku kembali.”

“Wahh…begitu panjang protesnya.”

“Iya, panjang, biar mbak Arna denger yang mau aku omongin.” (pasti maksudnya tahu, bukan dengar…hehehe, namanya juga anak kecil)

“Tapi, kenapa kertas protesnya ada dua?”

“Iya, yang satunya lagi, tulisannya awas hati-hati nanti boneka Pooh-nya kotor karena Pooh-nya suka makan madu dan madunya itu kalau tumpah lengket jadi bisa datengin semut.”

“Puanjang buanget sih nak isi protesnya. Coba ibu baca…boleh kan?”

“Boleh…tapi aku mau mbak Arna sih yang baca.”

Lalu, tok..tok..tok…pintu dipukul-pukulnya dengan kepalan tangan mungilnya agar lem di kertas itu menempel dengan kuat di daun pintu. Setelah selesai, di depan pintu terlihat dua buah kertas. Ini isinya (tulisan pesannya sudah dibaca kan di atas?).

Perhatikan perbedaan kedua gambarnya. Gambar yang hanya ada satu sosok itu, adalah peringatan untuk boneka Pooh agar madunya tidak kecret kemana-mana. Sedangkan gambar yang ada dua sosok itu adalah protes untuk mbak Arna.

[]

Catatan kaki penulis:

Maaf ya notesnya nggak penting, cuma pingin berbagi cerita saja kok. ^_^


Sehari Bersama Anak-Anak Penderita Autis

Oleh Very Barus

 

(wujud mereka sulit berinteraksi)

 

PAGI tadi (18/11), gue dan teman mendatangi sebuah sekolah  atau bisa juga disebut sebagai Pusat Rehabilitas Medis Terapi kelainan perkembangan anak. Lokasinya di  Bandung. Tujuan utama  kami datang ke sekolah tersebut karena ada proyek foto untuk Company profile dan juga untuk buat situs tentang anak-anak penderita Autis.

Kalo boleh jujur, baru kali pertama ini gue bertemu dan bertatap muka dengan puluhan anak-anak penderita Autis. Ada rasa prihatin, haru, lucu, riang. Yang jelas saat berada ditengah-tengah mereka, perasaan gue menjadi campur aduk.

Selama ini gue hanya mendengar kisah sahabat gue  (Mbak R) yang memiliki cucu penderita autis tingkat ADHD ato Attantion Deficit Hyperactivty Disorders. Mendengar kisah mbak R yang begitu setia dan sayang terhadap cucunya membuat gue bisa merasakan how deep her love to B. bahkan mbak R sering mengeluh juga tentang minimnya jasa pengajar untuk anak-anak penderita Autis.

Pagi tadi….

Gue mendapat tugas memotret anak-anak autis tersebut saat mereka sedang melakukan aktivitas. Mulai bermain, belajar, bernyanyi, makan hingga Therapi. Kalo boleh jujur, gue bener-bener speechless berhadapan dengan mereka. Ternyata susaaaahhhhhhh….. banget!!! Karena mereka tidak bisa atau susah banget berinteraksi dengan orang lain. Mau kita teriak menyuruh mereka mengikuti apa yang kita suruh  juga nggak bakalan di gubris. Kecuali guru-guru tim pengajar yang memerintahkan baru deh mereka sedikit menurut. Karena mereka punya kode-kode tersendiri.

Sejujurnya gue sangat suka sama anak kecil. Tapi melihat anak-anak Autis kok gue jadi sedih banget. Mereka hanya bisa memainkan jari-jari tangan mereka. Menangis, memberontak (berteraik-teriak) dan kalau pun ada yang sudah mahir bernyanyi, maka mereka akan bernyanyi. Dan satu lagi, diantara mereka ada juga yang sangat hiper aktif. Ada yang jago melukis juga. Dan lukisan mereka cukup mencengangkan mat ague. CUKUP BAGUS!

 

SALUT SAMA GURU



(salah satu pengajar yang sangat sabar dan telaten)


Dibalik semua rasa yang ada dibenak ini, gue sangat mengacungin JEMPOL sama tim pengajar. Gimana tidak? Mereka sangat sabar mendidik, mengajarkan dan merawat anak-anak autis tadi dari pagi hingga sore menjemput. Tidak ada keluhan yang terlontar dari bibir mereka. Yang ada wajah-wajah tulus dan sabar merawat dan mengajarkan mereka tentang apa saja agar mereka bisa tumbuh menjadi anak autis yang lebih baik lagi.

“Kalo memikirkan materi, kita sudah lama tidak mengajar disini mas. Ini semua semata-mata karena ketulusan hati kami untuk menjaga dan mendidik mereka. Kalo soal gaji, sangat kecil yang kita dapat,” ucap salah seorang tim pengajar yang sudah mengabdi selama enam tahun di sekolah tersebut.

Ada beberapa kelas yang dipakai untuk mengajar anak-anak penderita Autis.(Perkembangan, Advance, Speed Yunior, Speed) dan ada juga ruangan khusus untuk therapy dan olahraga (memanjat, melompat dan juga naik tangga). Masing-masing kelas punya guru yang khusus menangani mereka. Lagi-lagi gue hanya terpaku melihat kesabaran guru-guru tersebut mendidik mereka.

 

ANAK-ANAK BORJU



(Hasil karya mereka…)


Kalo dilihat latar belakang anak-anak autis tersebut, banyak diantara mereka yang terlahir dari orangtua yang berpendidikan, terkenal dan juga orang kaya. Bahkan beberapa dari anak-anak autis tersebut memiliki orangtua yang sangat terkenal. Mulai dari rector, doctor, dokter spesialis, artis, designer dan pejabat. Mungkin kalo disebutkan namanya, kita pasti bilang,” ooo, itu toh bapaknya…!!”

Tapi sayang, setelah dikorek-korek keterangan dari tim pengajar, banyak dari orangtua anak-anak autis tadi tidak ingin indentitas mereka diketahui. Jadi cukup hanya guru-gurunya saja yang tau siapa orangtua anak-anak autis tadi. Orang lain tidak perlu tau…

“Mungkin mereka malu punya anak penderita autis mas,” ucap seorang tim pengajar.

Ya, bisa jadi itu benar bagi mereka. Karena jika publik tau mereka memiliki anak autis, mereka malu dan takut jadi bahan olok-olokan. Tapi alangkah piciknya orangtua seperti itu…. Tidak mengakui anaknya yang menderita autis. Biar bagaimana pun anak-anak autis juga butuh perhatian, kasih sayang dan juga pengakuan dari orangtuanya..bukan hanya dititipkan ke sekolah atau pusat rehabilitasi…dan urusan perawatan hanya dilimpahkan ke tim pengajar anak-anak autis…

Damn..!!!!

Tega banget bukan..???

Bahkan yang paling menyedihkan, ada penderita autis yang usianya sudah mencapai 43 tahun. Dan tingkah lakunya juga sangat ke kanak-kanakan…dan dia adalah anak seorang rektor di salah satu universitas terkemuka di kota Bandung.

 

(pendekatan gue terhadap mereka…)


Hingga sore menjelang, gue masih bertahan di sekolah tersebut. Masih bermain2 dengan anak-anak autis yang lambat laun mulai mengenal wajahku dan juga mulai berani mendekat untuk diajak bermain…

Hmm… alangkah bahagianya jika kita juga peduli sama mereka… karena jangan hanya tim guru-guru pengajar saja yang dilimpahkan tanggung jawab untuk mendidik mereka… kita-kita juga HARUS memiliki hati nurani untuk merawat mereka…..

Banyak hikmah yang gue petik dari pertemuan dengan anak-anak penderita autis. Dan satu hal… DIMATA TUHAN KITA ADALAH SAMA….tidak ada pengecualian…

 

 

[]


Apa Kabar Tanaman Cintaku?

Oleh Ade Anita

 

“Gagal lagi ya?”

Kepala itu mengangguk lemah. Aroma kesal begitu kentara. Bau kecewa sudah merebak kemana-mana. Terbawa angin senja. Melayang lalu berputar-putar enggan berlalu.

“Yang sabar ya. Memang begitu itu dia. Menghadapinya harus sabar.”

“Tapi hancur terus, sepertinya suram deh, nggak ada harapan.”

“Hadapi dengan hati-hati. Jangan terlalu agresif emang. Tapi juga jangan terlalu cuek. Harus dengan penuh kelembutan. Juga pelan-pelan. Ya sabar deh kuncinya.”

Kata orang, demikianlah tanaman cinta dipelihara.

Ketika kita berusaha menggenggam cinta dengan amat kuat, maka kelopak bunganya akan rontok satu persatu. Karena cinta butuh kebebasan untuk tumbuh berkembang tanpa kekangan apapun.

Tapi ketika kita memutuskan untuk membebaskannya tanpa sentuhan apapun, tanaman cinta pun akan layu karena merana. Lalu mati merangas. Siapa yang bisa bertahan dari derita kesepian?

“Kesal, sepertinya calon gagal lagi deh.”

“Belum tentu.”

“Kalau gagal gimana?”

“Kita nggak pernah tahu berhasil atau tidak kalau tidak mencoba kan? Ayo, go for, jangan ragu. Kalau sudah nyoba dan ternyata gagal setidaknya kita bisa bilang ke orang lain bahwa kita sudah pernah mencobanya, cuma belum berhasil. Kamu nggak bakalan bisa bilang ke orang lain bagaimana situasi itu bisa dilewati kalau tidak pernah berusaha mencoba sama sekali.”

Dan demikianlah misteri semua sisi kehidupan kita terjadi.

Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik ketika akan menarik napas, kita akan dihadapkan pada sebuah situasi harus memilih.

Ingin berusaha dengan mengerahkan segenap kemampuan yang kita miliki guna mengerjakan sesuatu yang masih baru atau menyerah pada arus situasi yang sudah ada terlebih dahulu?

Ingin melakukan perubahan atau memilih untuk berdiam diri dan terus mengusap-usap kejayaan yang sudah terbangun sebelumnya?

Jangan pernah berbangga diri jika memilih untuk berdiam diri tidak melakukan perubahan yang lebih baik dibanding hari kemarin.

Gagal itu hanya sebagian saja dari konsekuensi yang akan kita terima jika kita berusaha. Tapi, kesuksesan adalah sebagian lain yang juga dapat kita peroleh setelah kita belajar dari kegagalan yang pertama.

“Jadi, begini ini nak caranya agar berhasil. Setelah kamu bentuk bulat perkedelmu, masukkan ke dalam wajan, lalu biarkan saja hingga bagian bawahnya berwarna kecoklatan. Jangan tergesa-gesa ingin cepat-cepat membaliknya sebelum matang. Perkedel itu jenis gorengan yang sensitive memang. Kalau terburu-buru dibalik sebelum matang, dia akan hancur. Jika terlalu lama direndam di telur, dia juga bisa cepat hancur. Tapi kalau tidak dilapisi telur, dia juga bisa hancur. Dan tebak apa yang terjadi kalau kamu membulatkannya tidak dengan kesabaran?”

“Dia akan hancur?”

“Iya. Dia juga bisa hancur. Lalu, kalau dibiarkan saja tidak diapa-apakan di atas penggorengan, dia akan gosong.”

“Repot ya bu. Banyak maunya nih gorengan. Sensi nggak karuan, bikin repot banyak orang.”

“Sama saja nak. Sama seperti karakter orang ya. Kalau terlalu sensi, malah jadi menyebalkan. Sekarang kamu mengerti kan, kenapa ibu sering mengingatkan dirimu agar tidak terlalu manja dan gede ambek. Nanti kamu jadi seperti perkedel. Bikin repot banyak orang.”

“Ahh…. Ibu nih.”

“Tuh.. kan. Baru juga diomongin, sudah manyun lagi bibirnya.” Dan lalu wajah cemberut itu mencoba untuk tersenyum. Mengusir awan mendung yang ingin selalu mampir agar segera pergi, hingga cahaya matahari bisa terus bersinar ceria. Menerangi bumi, menerangi hati.

[]

 

Catatan kaki Ade Anita :

Akhirnya, Arna bisa membuat perkedel loh. Ditaruh di piring tertata dalam dua bagian yang bersebelahan. Jika malas mengunyah, bisa ambil bagian yang sebelah kiri. Bentuknya hancur memang, tapi rasanya enak dan tidak perlu lelah memotong karena sudah berbentuk orak arik yang lezat. Tapi jika ingin makan dengan cita rasa restorant yang mewah, ambil perkedel yang ada di sebelah kanan. Bentuk bulatnya amat menawan, dan rasanya…mungkin ini merupakan perkedel terlezat yang ada di muka bumi ini. Itulah perkedel buatan anakku (hehehe).

Notes ini aku buat ketika tiba-tiba lututku sakit, nyeri, dan tanganku kemasukan buluh yang sulit diambil. Akhirnya, minta tolong Arna untuk bantuin masak untuk makan malam. Lalu, tiba-tiba aku ingat kematian. Lalu, tiba-tiba aku ingat, betapa belum banyak bekal yang bisa aku berikan pada anak-anakku. Jadi, notes ini aku tulis untuk kenang-kenangan dan nasehat untuk diriku dan anak-anakku (untuk berjaga-jaga, siapa tahu aku tidak bisa ada di sisi mereka suatu hari kelak karena harus pergi menghadap Sang Khalik).

ini gambar gurita, arna yang menggambarnya sendiri di notebook.


Sketsa: Hebatnya Akademi Khan, Keblingernya Kemenkominfo

Oleh Iwan Piliang

Bukalah: www.khanacademy.org, Anda akan menyimak di pojok kiri sebuah logo sosok sebelah jari tangan abu-abu dan 21 helai daun hijau mengitari. Di sampingnya tulisan Khan Academy. Inilah situs internet diprakarsai Salman Khan, memuat semua materi pelajaran berbentuk visual, memanfaatkan youtube.com. Setiap hari kini  setidaknya  50  ribu  murid sejagad belajar materi ajar “mahaguru”  online, termasuk anak-anak SD negeri Cina. Ini semua dilakukan  gratis sosok muda  Salman Khan. Bandingkan dengan laku Kemenkominfo  ingin menenderkan pinjaman lunak  JICA  senilai Rp 38 miliar untuk membuat materi ajar online khusus untuk daerah Jogjakarta tok? Komunitas open source di  Bandung seperti Crayonpedia.org,  sudah lebih dulu memulai.  Gratis pula. Uang  Rp 38  miliar pinjaman lunak JICA bisa dialihkan  mendukung pengembangan  konten dan aplikasi Indonesia go global, jika cerdas, tentu!.

JAKARTA masih bersuasana lebaran. Rabu pagi , 15 September 2010, saya hendak menyalakan komputer desktop  tua. Seorang kenalan bergerak di dunia programing menyapa.

“Apakah Anda sudah pernah membuka Khan Academy?”

Saya jawab belum.

Melalui komputer i-pad-nya, saya diperlihatkan khanacademy.org.

Amboiii! Betapa telatnya saya baru tahu hal luar biasa telah  dilakukan sosok Salman Khan.

Ya, namanya  Salman Khan!

Ia  mendirikan Akademi Khan bertujuan menggunakan teknologi informasi bagi mendidik dunia.

Peraih gelar MBA dari Harvard Business School, meraih Master di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, gelar BS (Bachelor of Science) di bidang teknik listrik dan ilmu komputer, dan gelar BS dalam matematika dari Institut Teknologi Massachusetts Intitute of Technology (MIT), Amerika Serikat (AS), itu  seharusnya gamblang saja mendapatkan kerja di perusahaan papan atas AS.

Tetapi ia  lebih memilih memanfaatkan www.youtube.com untuk menayangkan materi pelajaran. Kini jumlah video pelajaran telah digarapnya  tak kepalang tanggung. Sudah lebih 18 ribu video. Saktinya, semua dikerjakannya sendiri, mulai dari menyusun  materi, memvideokan, menjadi guru sekaligus. 

Kini dalam sehari tak kurang dari 50  ribu muridnya mengkases khanacademy.org, termasuk anak-anak SD dari negeri tirai bambu, Cina,mengikuti pelajarannya secara online.

Sosok bocah dari Korea menuliskan komentarnya:

“I’m from Korea, a small country and I’m eleven. Your lecture is so famous so we could know your skill! I’m loving this alot~ :), “  him204@naver.com, yang diposting lima hari lalu, di mata pelajaran video aljabar.

Dalam tutorial online-nya, Khan menyajikan berbagai materi pelajaran memudahkan pelajar memahami. Di antara pelajaran itu; matematika, kimia, biologi, sejarah, probabilitas, trigonometri, permainan asah otak, aljabar, ekonomi, perbankan dan uang, keuangan, geometri, statistik, kalkulus, fisika, persamaan diferensial. Tentu masih banyak lainnya.

Ada pula komentar orang tua murid, ”Saya tidak tahu siapa Anda. Tapi dalam pikiran saya, Anda adalah penyelamat. Anak-anak saya benar-benar bersemangat dengan matematikanya. Terima kasih.”

Pria kelahiran New Orleans, Louisiana, AS,  dengan orang tua  imigran India dan Bangladesh, ini  hanyalah mengawali Khan Academy untuk membantu keponakannya belajar matematika dengan menggunakan Yahoo! notepad pada tahun 2004.  Lalu berkembang hingga seperti hari ini. Kini di bagian kanan situs internetnya, Salman Khan sudah berani menarok ikon donasi, dapat diklik bagi pengunjung yang mau menyumbang bagi upaya mulia  itu.

Ketika orang lain melamar pekerjaan  menjadi guru, Khan memilih menjadi guru praktis mendistribusikan tutorial di YouTube.

Hingga kini Salman Khan telah menerima 2009 Tech Award untuk Pendidikan. Tech Award merupakan program penghargaan internasional menghormati inovator dari seluruh dunia menerapkan teknologi bagi  manfaat kemanusiaan.

Pada Desember 2009, Khan YouTube-host tutorial dilihat oleh 35.000 orang per hari. Setiap video Khan rata-rata berdurasi sepuluh menit. Hingga kini, versi offline video-video Khan telah didistribusikan secara gratis ke daerah-daerah pedesaan Asia, Amerika Latin, dan Afrika

SosokKhan, pernah tampil di jaringan teve CNN. Pada event Aspen Ideas 2010, sosok Bill Gates pendiri Microsoft, sengaja memaparkan keberhasilan prestasi Akademi Khan pada pada forum bergengi ajang bergengsi yang berlangusng pada Juli 2010 lalu di Kolorado, AS. Upaya Salama Khan menjadi perbincangan hangat di forum itu.

Untuk skala nasional, khuisusnya lingkup komunitas open source di Bandung, pembuatan materi ajar baik sekadar dibaca, lengkap dengan audio visual itu sudah dimulai oleh www.crayonpedia.org. Melalui basis mesin wikipedia, para guru di seluruh tanah air dapat mengisi berkolaborasi materi ajar terbaik. Para murid di seluruh Indonesia dapat mengakses gratis.

Untuk upaya ini diperlukan energi melibatkan guru-guru berkenan mengisi konten.

Maka ketika di Kementerian Informasi dan Komunikasi saya dapatkan data ada rencana pengadaan materi ajar, hanya untuyk lingkup satu propinsi Jogjakarta. Saya lalu bertanya, mengapa bisa anggaran linjaman lunak dari JICA, harus mencapai Rp 38 miliar. Tak sampai separuh dana itu itu, seharusnay sudah mampu untuk melangkapi seluruh materi ajar tampil di crayonpedia. Misalnya.

ADALAH seorang kawan lainnya mengirim email kepada saya. Ia mengabarkan ada dugaan pemborosan anggaran negara berpeluang mengarah KKN terkait Pengadaan Materi Ajar (Paket 4) Yang Diselenggarakan Direktorat e-Government, Dirjen Aptel, Kemkominfo.

Ia memaparkan berdasarkan analisa  Dokumen Pelelangan Umum, Pengadaan Jasa lainnya Untuk Pengadaan Materi Ajar (Paket 4) Yang Diselenggarakan Direktorat e-Government, Dirjen Aptel, Kemkominfo.

Judul Pelelangan : Pengadaan Materi Ajar Nama Proyek: Proyek Pemanfaatan TIK Untuk Peningkatan dan Pemerataan Mutu Pendidikan di DI Yogyakarta JICA Loan No. IP-542  Nilai Proyek : Rp 38 Milyar  Dokumen Diterbitkan pada :  26 Agustus 2010, No : 01/PAN/PAKET-4/EGOV/8/2010

Perincian Sebenarnya Pelelangan:

  1. Pengadaan Authoring Tools Sebanyak 130 Paket (110 Paket di Sekolah + 20 di IDC) di Yogyakarta dan 480 Paket di Kemkomifo, sehingga total menjadi 610 Paket.
  2. Pengadaan Mater Ajar Digital 9 Paket (Matematika Kelas 4, 5, 6, dan Matematika & IPA Kelas 7, 8, 9).
  3. Pengadaan Materi Uji Digital 9 Paket (meliputi Materi Uji : Harian, Semesteran, Setara Ujian Nasional, Berstandar Internasional).
  4. Implementasi ( Integrasi Materi Ajar & Uji ke dalam Sistem e-Learning (LMS/LCMS), Instalasi Authoring Tools di 110 Sekolah dan di IDC, Replikasi Sistem e-Learning (LMS/LCMS) ) di 110 Sekolah.
  5. Training Untuk 3 Kelas (1 Kelas 30 Orang) yi kelas : SD, SMP Matematika dan SMP IPA.
  6. Dokumentasi Dalam Bentuk Hard & Soft Copy (Buku Panduan, Dok Pengembangan, dan Source Code).
  7. Layanan Purna Jual (Hingga 31 Desember 2012)

Alasan pemborosan menurut kawan saya itu:

  1. Diknas Sudah Membeli Hak Cipta 400 Buku Materi Ajar 400 (Informasi Terakhir Telah Mencapai 800 Buku Matei Ajar) Yang Pengadaanya Menelan Anggaran Rp 40 Milyar melalui Program/Proyek BSE (Buku Sekolahy Elektronik).
  2. Apabila dibutuhkan Rp 40 Milyar untuk sekitar 400 Buku Materi Ajar, maka harga rata-rata pengadaan buku materi ajar adalah Rp 100 Juta per buku materi ajar. Sehingga biaya untuk pembuatan materi ajar seperti dalam proyek kominfo, untuk 9 materi ajar, seharusnya sekitar Rp 900 Juta. Bila diasumsikan biaya pembuatan materi uji adalah setara dengan biaya materi ajar, maka total biaya pengadaan materi ajar dan materi uji hanyalah sekitar Rp 1,8 Milyar).
  3. Biaya Pelatihan dengan Asumsi Rp 5 Juta per orang untuk satu minggu pelatihan hanya dibutuhkan biaya Rp 450 Juta dan Paling Mahalnya Rp 900 Juta (untuk 2 minggu pelatihan).
  4. Dokumentasi Hardcopy rasanya sudah bukan eranya dan cukup Softcopy yang biayanya maksimum Rp 900 Juta.
  5. Implementasi (termasuk instalasi dan Integrasi) dan Support Untuk di Yogyakarta, untuk 110 sekolah dibutuhkan cukup 20 Orang. Untuk masa support selama satu setengah tahun dibutuhkan biaya biaya maksimum Rp 3,6 Milyar.
  6. Perhitungan hingga point 5) untuk sementara hanya dibutuhkan pendanaan sebesar Rp 7,2 Milyar. Lalu Apa yang Membuat Mahal ?
  7. Karena LMS/LCMS (seperti Moodle) bisa didapat/download secara gratis, maka yang berpeluang menjadi mahal adalah Aplikasi AUTHORING TOOLS yang sudah dikunci spesifikasinya ?
  8. Pantaskah Proyek Senilai Rp 7,2 Milyar, nilainya dibesarkan hanya untuk AUTHORING TOOLS sehingga menjadi senilai Rp 38 Milyar ?

Bagaimana jika  melirik Crayonpedia?

  1. Sempurnakan fitur Crayonpedia saat ini yang fokus hanya penyusunan Materi Ajar secara kolaborasi, sehingga Crayonpedia memiliki fitur penyusunan MATERI AJAR & MATERI UJI SECARA KOLABORASI Plus pengembangan fasilitas Sinkronisasi Program & Database antara Server  Sekolah dengan Server di IDC, agar akses Materi Ajar & Materi Uji dari Sekolah tidak memerlukan koneksi internet yang besar, sehingga siswa cukup akses server lokal dari sekolah masing-masing, untuk pengembangan ini maksimum perlu anggaran Rp 1 Milyar
  2. Belikan Laptop untuk 1.100 guru (satu sekolah 10 guru, dan untuk 110 sekolah pilot project) + pelatihannya (untuk menyusun materi ajar dan materi uji selama satu minggu dan gunakan materi ajar yang sudah ada BSE (dari diknas) sebagai referensi) untuk guru-guru di 110 sekolah dalam pilot project, bila harga laptop Rp 5 juta dan pelatihan Rp 5 juta … maka dibutuhkan anggaran Rp 11 Milyar. Wajibkan guru-guru tersebut (dengan insentif laptop (Rp 5 juta)) untuk menyusun materi uji minimal materi uji harian dan cukup per guru satu atau 2 materi uji harian (karena materi ajarnya sudah ada dari BSE). Untuk Materi Uji Semesteran dan Unas cukup diambil dari Materi Uji Sekolah/Unas yang pernah ada.
  3. Support selama 1 tahun di IDC dan di Yogyakarta Maksimum Rp 3 Milyar

Hanya dengan Maksimum Rp 15 Milyiar, bisa mendapatkan sesuatu yang dapat membawa dampak besar bagi seluruh Sekolah dan Pelajar di Indonesia, karena materi ajar dan materi uji disiapkan bisa dimanfaatkan oleh Seluruh Guru, Siswa, dan Sekolah di Indonesia dan yang paling penting adalah :

Materi ajar dan materi uji dapat disempurnakan secara berkesinambungan oleh guru-guru se Indonesia. Ingat ada 2,5 juta guru, dosen, dan dapat diakses bebas dan gratis oleh semua siswa—lebih dari 50 juta siswa dan mahasiswa.

Tulis kawan itu pula: imajinasikan kelanjutannya, yaitu: dampak Kolaborasi & Interaksi Antara 2,5 Juta Guru dan 50 Juta Siswa !

Kesimpulan kawan saya itu:

Pelelangan yang ada adalah solusi pendidikan tidak cerdas dan berpeluang pemborosan anggaran negara—hutang dari Jepang, meskipun berbunga murah tetap harus dibayar oleh rakyat.

Proyek tersebut berpeluang merupakan indikasi  modus KKN canggih—terutama untuk produk AUTHORING TOOLS—dan atau kita dibodohin  Jepang, bila spesifikasi teknologi Authoring Tools hanya dimiliki oleh Software Provider dari Jepang .

Sidang Pembaca Sketsa yang  Budiman,

Begitulah Sketsa kali ini. Anda tentu dapat menyimak bagaimana Salman Khan, juga upaya anak negeri di Crayonpedia, dan langgam sebuah departemen terindikasi mengedepankan proyek, yang  bukan mencerdaskan. ***

Iwan Piliang, literary citizen reporeter, blog-presstalk.com


Teroris itu Bernama Mahasiswa

Oleh Adhy Rical

Ini terjadi di tahun 2000.

Mendadak wilayah kampus baru Unhalu geger ketika beberapa manusia bertopeng ala ninja menyerang sebuah asrama. Salah satu korban saat itu, dosen FKIP. Merunut kembali ke belakang, ada lagi dosen Fisip yang kena pajak dan diberi bunga berupa tangan dan kayu. Tak lama setelah itu, dosen program Bahasa Inggris FKIP dikabarkan pula dipukul sampai babak belur. Pelakunya masih mahasiswa.

Terjadi lagi, kira-kira dalam dua bulan terakhir.

Empat orang mahasiswa dipaksa masuk ke salah satu asrama di Kampus Baru kemudian “dipermak”. Ada yang dicukur rambutnya, dipukul lalu diberi sedikit air ludah. Tak lupa memberikan ole-ole secukupnya agar tiba di UGD dengan selamat. Selain itu, yang memprihatinkan, seorang perempuan hampir saja diperkosa di dalam WC. MasyaAllah. Tidak seorang pun yang menolong perempuan itu ketika dianiaya menjelang Azhar.

Celakanya, masih di bulan yang sama di tahun ini, seorang mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dikeroyok enam orang pemuda. Otak dari pengeroyok itu, oknum polisi plus kuliah juga di Unhalu. Persoalan sepele: perempuan. Belakangan terjadi lagi, sopir angkot dipukul lantaran tidak diberi duit. Solidaritas sopir saat itu, tidak masuk wilayah kampus dalam sehari. Pelakunya, mahasiswa lagi.

Kenapa kekerasan selalunya menjadi ciri khas peristiwa di Kampus Baru yang bernama Unhalu? Mahasiswa sekarang ibarat setetes minyak tanah jatuh ke penanakan nasi. Meskipun hanya sedikit yang kena, nasi tetap berbau minyak tanah.

Tidak salah jika tindakan semacam itu disebut teror, sebab usaha menciptakan ketakutan, kengerian, kekejaman oleh seseorang atau golongan adalah defenisi teror.

Jadi agak berlebihan jika teroris itu seperti Osama bin Laden (versi Amerika dan anteknya). Kita-kita pun ada gejala ke arah itu. Bukankah pemajakan di wilayah kampus itu termasuk menciptakan kekejaman atau ketakutan, misalnya.

Konon sebuah cerita mengalir, jika ingin selamat di Kampus Baru, pelajarilah peninggalan “orangtua” berupa ilmu kebal atau sederet ilmu kanuragan lainnya. Karena di wilayah itu pula sarangnya preman.

Memasuki wilayah Kampus Baru, seperti memasuki sungai yang tenang. Kadang benar-benar diam, kadang pula diam tapi mencekam. Yang jelas, semua indra harus difungsikan.

Apa sih kerja kita sebagai mahasiswa? Mendiskusikan walikotakah, gubernur yang tegas pendirian ataukah beretorika di daerah pedalaman yang katanya kurang pintar mengolah tanah? Atau membuat agenda kerja untuk mendapat duit universitas lewat proposal, barangkali?

Orang bilang, terjadi kekerasan di Kampus, pasti mahasiswa. Wah, urus tarif angkot saja tidak beres. Menangkap preman kampus (juga teman sendiri) seperti menilang oknum polisi yang tidak berhelm. Susah memang.

Apakah ada hubungan korelatif antara tindak kekerasan sebagai fakta keterancaman atau dengan kebutuhan untuk menguasai sesuatu lahan kehidupan tertentu? Apakah premanisme kampus adalah sebuah lahan kebutuhan juga? Misalnya, ingin mabuk cukup memungut retribusi sesuai selera kepada sopir. Sekadar catatan, kalau anda penjual botol bekas, ada baiknya mencari di lokasi kampus. Di dalam ruang kuliah juga ada. Datanglah di kamar WC-nya atau pada gedung-gedung yang tidak terpakai. Di situ sangat jelas, anda tak perlu sungkan untuk menerimanya secara gratis.

Mungkin kampus kita terjadi kelangkaan lingkungan (enviroment scarcity(). Hal inilah yang membuat manusia cenderung untuk bertindak agresif dengan ekspresi kekerasan menjadi amat nyata.

Beberapa pekan ini, kekerasan di Kampus Baru, kembali ke keadaan semula. Rasa dengki, amarah, dan curiga serta intimidasi, sepertinya menemukan habitatnya lagi dan semakin menampakkan sosoknya di tengah euforia mahasiswa. Kita terlalu jauh berkaca pada Osama atau pada anggota dewan yang adu otot itu. Sementara kita dengan label akademik yang katanya ‘kontrol sosial’ berharap juga jadi anggota dewan. Ada baiknya, sarjana yang berniat jadi pejabat perlu diperiksa ‘catatan’ kependekarannya di dunia persilatan. Siapa tahu, dengan berkedok reformis justru mempertahankan status quo retribusi kampus. []

dok.ar

Catatan Tambahan

Artikel ini pernah dimuat di Kendari Ekspres, 13 November 2001 pada kolom Interupsi.

Tulisan lama ini mungkin bisa menegaskan peristiwa berdarah di Unhalu sudah sering terjadi. Bukankah pada tahun 1995 ada delapan orang yang dibantai secara sadis? Mereka tewas di lapangan basket (tak satu pun media yang menulis tentang itu). Lalu tahun 1996 masih ada seorang informan yang tewas mengenaskan, lehernya ditusuk keris dan ditancapkan di pohon mangga. Masih di tahun yang sama, peristiwa perang itu terjadi lagi ketika dua kubu mencalonkan jagonya menjadi ketua senat. Mahasiswa yang jago pegang parang.

Tahun ini memang belum berubah. Cara pandang dan gaya brutal mereka yang berbeda. Yang jelas, jika ingin menghancurkan kekerasan di sana, hanya dengan jalan kekerasan. Mau daftar jadi petrus? Haha. []


%d blogger menyukai ini: