Category Archives: Perempuan

[Kajian] Membaca Tarian Jiwa Julia Napitupulu

(Sebuah telaah sederhana tentang kehadiran seorang Julia Napitupulu dalam Buku : JEJAK-JEJAK CINTA TUJUH PEREMPUAN)

 

Oleh Kusnadi Arraihan *)

Tulisan, apapun bentuknya adalah sebuah cermin gerak dinamis dari jiwa penulisnya.  Tulisan adalah wahana yang paling jujur, tentang kedirian seseorang. Banyak hal yang tersimpan dalam gerak tulisan itu. Kehidupan ini bagi seorang penulis adalah bukan hanya ketika dia berbicara soal bakat, tetapi juga merupakan alat seperti katub pengaman untuk melepaskan sebahagian dari beban kehidupan. Itu sebab mengapa menulis tak sepenuhnya hanya mengandalkan panca indera, tetapi juga melewati proses perenungan, aktualisasi imajinasi dan ini tugas dari dinamika kejiwaan penulisnya.

Inilah cermin kesan yang paling terlihat, ketika saya pertama sekali mengenal seorang perempuan pemilik nama Julia Napitupulu, saya hanya mengenalnya dari ruang Facebook, yang notebene diperlukan sebuah kemampuan daya jelajah analisa kita terhadap apa yang ditulis oleh seseorang, karena bisa jadi, tak sepenuhnya kita yang berkerabat di halaman jejaring sosial tersebut pernah saling bertemu muka. Maka pengenalan kita tentang sahabat tersebut biasanya hanya tertumpu pada tulisan yang disajikannya. Dan hal inilah yang coba saya lakukan juga terhadap seorang Julia Napitupulu.

Dalam buku “Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan” yang diterbitkan Penerbit Langit Kata tahun 2011, tebal 168 halaman, memuat tulisan dari tujuh penulis dalam bentuk cerita pendek dan puisi.

Ketujuh penulis tersebut, yaitu : Tina K – Ami Wahyu – Ami Verita – Lely Aprilia – Ayudya Prameswari – Tita Tjindarbumi – Julia Napitupulu. Penyunting oleh Ami Wahyu, foto sampul Thony Tjokro, pewajah sampul dan pewajah isi disajikan oleh Donoem.

Dalam kaitan ini, saya mengkhususkan untuk sedikit menyajikan hasil “penglihatan” saya pada tulisan Julia Napitupulu. Penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi ini memiliki multi talenta, karena di sela-sela menulis, Julia Napitupulu adalah seorang trainer bidang soft competence, seorang pembawa acara, bahkan juga piawai memainkan alat musik piano sekaligus menekuni bakatnya sebagai penyanyi. Benar-benar sebuah jiwa yang tak pernah berhenti menari.

Dalam buku ini, Julia Napitupulu ada menyajikan tiga tulisan, yang sekejap seusai membacanya, ada yang terus bergerak dalam benak, jejak kesan yang ditinggalkan tulisan dari hasil imajinasi penulis ini tak hanya mencari ruang, tetapi juga terus mengelana dalam pikiran. Mengapa demikian? Karena seorang Julia (demikian ia biasa disapa para sahabatnya – atau juga dengan nama Jula, sebuah sapaan penuh historis dari masa kecilnya) menulis dengan sepenuh jiwa yang bergerak, karena hati nurani penulis ini mampu menitipkan “ruh” pada setiap kalimat yang dituliskannya. Dapat kita rasakan nuansa yang demikian jernih ketika membaca salah satu sajiannya pada buku ini, yang ia beri judul “Melodi yang Tercipta Begitu Saja”. 

Dari judulnya saja, sungguh Julia telah berani keluar dari patron penulisan judul karya sastra yang pada umumnya menjauhi makna harfiah, lebih kental dengan penggunaan perumpamaan. Dalam tulisannya ini, Julia menggambarkan betapa sesuatu yang disebutnya dengan “melodi” itu bukan disiapkannya lebih dahulu baru kemudian melodi itu melahirkan banyak senandung. Tetapi justru, dengan kebersahajaan rasa dan jiwanya, Julia mencoba untuk menikmati jalinan kehidupan yang tersambung sebagai tali temali ini, dengan kadar kualitas dan cara-cara yang hebat, sehingga justru kisah kehidupan yang mungkin hal wajar bagi kehidupan orang lain, justru menjadi rahim yang melahirkan banyak melodi bagi kehidupan seorang Julia. Hidup telah dengan baik di-improvisasi olehnya.

Struktur tulisan yang lahir dari seorang Julia Napitupulu sebenarnya tak sepenuhnya kental dengan sastra, hal ini wajar, karena mungkin pengalaman dan latar belakang pendidikannya telah memasukkan unsur psikologi dalam setiap ia menuliskan sesuatu. Tetapi yang terasakan saat menikmati tulisan-tulisannya justru kita berada dalam ruang keindahan yang runut dan seperti memenuhi semua keelokan sastra. Mari kita perhatikan lirik dari tulisannya ini, saya petikkan :

di siang yang bagai hening malam

aku dan lekakiku terbaring dalam pesona

terlontar dari bintang-bintang yang meledakkan kami

dalam warna-warna pelangi

 

wajahnya,

raut lelaki yang tuntas

merekam sensasi

yang masih menjalari pori-pori

aku mengeja damai

diteratur hembus nafasnya

 

Diksi yang disajikannya sederhana, tapi proses pengendapan makna dalam benak setelah memahami dua bait lirik di atas, justru menjadi tidak sederhana. Larik “di siang yang bagai hening malam” adalah sebuah kontradiksi yang indah, Julia lihai sekali memilih bait ini. Pada bait kedua kita perhatikan: “wajahnya, raut lelaki yang tuntas”. O, duhai indahnya. Sebagai lelaki tulen, saya bahkan belum bisa mencerna dengan baik, makna hebat di balik larik itu.

Menikmati secara keseluruhan “Melodi yang Tercipta Begitu Saja” terasa kita memasuki sebuah ruang yang luas, dan di setiap sudut ruang itu ada keindahan yang bersahaja. Pada bagian tengah ruang itu, ada penataan bunga-bunga yang penuh warna. Ruang itu adalah kehidupan itu sendiri. Julia sangat suka menggunakan metafora alam untuk mempersonifikasikan tentang realitas hidup. Dan dalam tulisan ini Julia dengan sangat piawai menggambarkan sosok lelaki, sulit bagi pembaca untuk menyembunyikan kekaguman untuk cara-cara dia menuangkan ke dalam bentuk bahasa.

Kita lihat saja caranya menuangkan sketsa imajinasi tentang lelaki itu. Lelaki yang memiliki wajah sebagai raut yang tuntas, tulang rahang yang kukuh like a wave to the sea, tulang lehernya a bird to the sky, tulang belikatnya sekuat kayu, seliat tanah. Dan banyak hal lain yang digambarkan Julia dengan sangat anggun. Seluruh yang dimiliki lelaki itu pada akhirnya melahirkan sebuah melodi. Sungguh sebuah tulisan yang menjadikan nafas selalu harum, seperti sebuah telaga bening yang eksotis.

Pada tulisan kedua yang disumbangkan Julia dalam buku tersebut diberi judul “Sekarang Aku Tahu untuk Apa Aku Bernyanyi. Sebuah judul yang biasa saja. Tapi sungguh berbeda dengan isinya. Tulisan ini juga terkesan skema prolog, digambarkan seperti dialog, dan dengan menggunakan bahasa yang menghanyutkan rasa.

Kekuatan tulisan-tulisan Julia yang saya kenal memang bercorak seperti itu. Ini yang saya katakana di awal tadi sebagai pengaruh ilmu psikologi yang digelutinya. Artinya, semua puisi dan tulisan Julia selalu menghentak di kedalaman rasa yang terdalam. Sehingga sulit bagi pembaca untuk mengabaikan sebarispun dari larik-larik yang ditulisnya.

Pada tulisan ketiga yang disajikan dalam buku ini, Julia menggunakan bahasa Inggris yang indah, untuk menuliskan keindahan puisinya tersebut. Judulnya pun cukup menggugah “You’re My Every Phrase”. Ah!

Tulisan ini juga tetap menggambarkan tentang dua anak manusia, juga masih menggunakan alam sebagai bagian dari perumpamaan yang hendak diungkap. Dalam suatu pembicaraan, Julia pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia suka menggunakan unsur alam sebagai bagian dari tulisannya, karena hakikatnya alam itu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, dalam perspektif Julia, alam itu adalah realitas hidup untuk mewakili banyak rasa, banyak keadaan, dan itu telah dilakukannya dengan menggunakan idiom-idiom yang memukau.

Secara keseluruhan, dengan tidak mengabaikan kehebatan tulisan dari enam penulis lainnya,  ketiga tulisan Julia yang dalam buku ini diletakkan pada bagian penutup, tetapi justru di sini kelihaian penyuntingnya untuk menjadikan ketiga tulisan Julia ini bukan sebagai “grendel”, tetapi justru menjadi “perekat” imaji pembaca terhadap buku ini. Karena ketika kita menyelesaikan keseluruhan isi buku ini, maka ketiga tulisan Julia ini menjadi bagian penting dari “penahan kesan menarik” terhadap keseluruhan isi buku.

Sebuah tulisan memiliki banyak tanggung jawab untuk mewakili suatu keadaan di tengah khalayak, tulisan tentang cinta, tentang anak-anak, tentang remaja, dan tentang orang tua, bahkan tentang keseluruhan hidup manusia, adalah warna yang membuat kita faham tatanan masyarakat berserta pola pikir yang bergerak membentuk peradaban. Dan seorang Julia Napitupulu tengah berusaha menggeluti semua kemampuan bakat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Dalam setiap tulisannya, perempuan Batak ini benar-benar memproses sebuah tulisan seperti menjaga sebuah proses kelahiran seorang anak, sedemikian rupa dia menjaga seluruh kualitas, dan ini juga yang membuat dirinya, dalam segi kuantitas tulisan agak tertinggal dibandingkan dengan bakat menulisnya yang sebenarnya sangat baik itu. Ini masalah sikap dan komitmen, dan seorang Julia menjaganya menurut perspektif yang dimilikinya.

Ada rasa kagum yang terselip, di tengah gelombang aktivitasnya yang demikian padat, belum lagi urusan perannya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, seorang Julia Napitupulu masih sempat menulis. Bisa jadi mungkin bukanlah tulisan yang fenomenal, tapi di ruang rasa jiwa saya, tulisan Julia selalu memberikan nuansa keanggunan yang memukau.  Karena membaca tulisannya seperti menyaksikan jiwanya menari-nari, mengisi semua ruang sambil terus bergerak dinamis, dengan ritme dan tempo yang indah. Julia Napitupulu adalah sebuah jiwa yang terus menari. ***

16 Mei 2011

*) Kusnadi Arraihan – Penikmat Sastra. Menetap di Medan.

The Dancing Soul (illustrasi oleh Ardi Nugroho, Surabaya)

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com

Iklan

Karena Kamulah yang Tersayang

Oleh Ade Anita

Ruangan yang besar dan megah tampak di hadapanku. Belum ada kursi atau apapun di dalam ruangan yang besar dan megah itu. Tidak heran jika suara paduan suara yang masih belum bisa dikatakan rapi terdengar bergema ke seluruh pelosok ruangan. Tapi ketika kepalaku menjulur menyeruak masuk melalui pintu utama ruang pertemuan tersebut, sebuah suara isak tangis terdengar secara tiba-tiba.

“Nah, ini loh Jeng, ruangan tempat perpisahan sekolah besok. Besar banget kan?”

Suara ketua komite sekolah terdengar ikut bergema, seiring dengan detak suara sepatu dan ditimpali oleh gema suara paduan suara yang belum bisa dibilang rapi.Tapi telingaku sudah tidak lagi memperhatikan suara-suara yang berseliwetan tersebut. Perhatianku langsung tertuju pada suara isak tangis yang begitu lirih yang menyembul di antara gema suara-suara yang berseliweran.

Suara lirih isak tangis itu berasal dari salah satu barisan anak-anak paduan suara. Suara lirih isak tangis itu berasal dari anak bungsuku, Hawna.

“Weleh, anaknya malah nangis pas ngeliat dirimu Jeng.”

Sebuah suara meledek terdengar. Tapi tidak aku pedulikan, karena di sana, di atas panggung, anakku tampak terisak menangis. Ya. Ledekan itu benar. Isak itu muncul justru karena melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Lalu, perlahan sebuah rasa sedih tumbuh.

Aduh, sayangku. Kenapa kamu menangis melihat ibu datang menjenguk?

Akhirnya, ketika kelompok paduan suara itu selesai latihan, tubuh mungil yang masih menyisakan aliran air mata di pipinya itu aku raih. Aku dekap, aku gendong dan aku peluk. Perlahan aku bertanya padanya, “eh, tadi kenapa tiba-tiba nangis pas ibu datang?”

Gadis mungilku hanya menunduk. Tidak menjawab, tapi kedua tangan mungilnya terulur untuk melingkari leherku lalu menyembunyikan wajahnya di antara leherku.

“Kamu malu ya ibu menontonmu?” Sebuah gelengan aku rasakan.

“Lalu?” Tidak ada jawaban. Tapi aku tidak menuntut jawaban. Aku amat mencintai tubuh mungil dalam pelukanku ini.

Tapi, seberapa besarpun rasa cinta yang kita miliki pada seseorang, tetap tidak dapat membuat kita berkuasa untuk menentukan bahwa dia akan senantiasa memberikan rasa cinta yang sama pada kita. Perih memang kenyataan ini.

Dulu, ketika gadis mungilku ini lahir di muka bumi ini lima setengah tahun yang lalu, dengan perih dan sedih  aku harus merelakan membuang semua susu yang kuperah dari dadaku karena gadis mungilku dahulu lahir dalam kondisi bayi yang sedang keracunan air ketubannya sendiri. Kondisi yang membuatnya harus berpuasa meski tubuh mungilnya (yang amat sangat mungil)  baru saja lahir ke muka bumi. Padahal, semua ibu tentu mendambakan bisa menyusui sendiri bayi yang amat mereka sayangi.

“Nggak ibu. Aku bukannya nggak mau ibu nonton.”

Akhirnya sebuah suara lirih terdengar tepat di samping telingaku. Sudah tidak ada isak meski rengkuhan tangan mungilnya masih terasa kencang di leherku.

“Oh… lalu, kenapa tadi kamu menangis pas ibu masuk dan melihat kamu menyanyi?”

Kepala mungil gadis mungilku terasa kembali tersemat di leherku. Aku mengelus kepala mungilnya.

“Aku nggak hapal lagunya bu. Aku malu karena aku nggak bisa.”

Lalu pelukanku mengerat merengkuh tubuh mungilnya.

“Ya Allah, nggak apa-apa nak. Ibu nggak apa-apa kok kalau Hawna emang nggak hapal atau nggak bisa. Hawna nggak bisa apa-apa pun Ibu tetap sayang banget sama Hawna. Ayah juga gitu. Yang penting Hawna terus berusaha. Hawna sudah usaha kan?”

Kepala yang tersemat di leherku itu terasa terangkat dan kini tampak memandangku.

Wajah mungil yang memandangku ini tampak begitu polos. Wajah ini adalah wajah yang selalu aku rindukan ketika aku sedang berada jauh darinya. Satu pekan sebelumnya, dia berhasil diterima di sekolah dasar swasta yang kami incar untuk dapat dia masuki sebagai jenjang pendidikan lanjutannya. Ada rangkaian test yang harus dia ikuti untuk dapat masuk ke sekolah dasar tersebut. Dan itu sudah cukup membuatku sedikit berdebar meski aku berusaha untuk tampil biasa-biasa saja di hadapan semua orang.

“Deg-degan ya bu?” Seorang temanku tampak melemparkan seulas senyum padaku. Kami berdua sedang menunggu anak-anak kami masing-masing yang sedang mengikuti rangkaian test masuk sekolah dasar. Ada test membaca, menulis, menggambar, berhitung dan hapalan doa atau surat pendek yang harus anak-anak kami ikuti.

“Iya, deg-degan.” Jujur aku menjawab sapaan temanku.

“Tenang bu, yang tidak diterima itu adalah anak-anak yang belum mandiri. Semua rangkaian test itu sepertinya cuma formalitas saja deh.”

“Oh ya?” Tapi tetap rasa penasaran di dalam hatiku membuat dadaku tidak berhenti berdebar-debar. Di salah satu jendela dalam ruang kelas yang tertutup, aku melihat ada sebuah celah untuk mengintip. Perlahan, aku mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan tempat test sedang dilakukan. Di sana, ternyata Hawna sedang menghibur seorang temannya yang sedang menangis. Aku tersenyum melihatnya.

Waktu pertama kali sekolah TK dahulu, Hawna juga suka menangis di kelasnya. Usianya memang masih muda, dan selama ini dia juga jarang sekali bermain dengan teman-teman sebayanya di sekitar rumah. Mungkin rasa canggung berada di tempat baru telah membuatnya gampang menangis. Tapi, beberapa orang temannya yang sudah lebih lama di sekolah barunya, datang menghiburnya. Mengiriminya kalimat-kalimat yang menenangkan hingga membuatnya merasa nyaman dan tidak lagi canggung. Pemandangan inilah yang aku lihat di ruang test saat ini. Hanya saja, kini Hawnalah yang berada di posisi sebagai seorang teman yang menghibur temannya yang sedang merasa canggung dan ragu.

Ah. Aku senang melihatnya kesigapannya membantu teman yang sedang kesulitan dan itu membuat rasa berdebarku menanti hasil test hilang dalam sekejap. Aku sudah tidak lagi peduli pada hasil test tersebut. Aku yakin dengan kemampuan Hawna. Tapi melihatnya perhatian pada orang lain yang kesulitan, membuatku merasa bangga dengan apapun yang dia peroleh dari test itu kelak.

“Jadi, gimana?”

Kita kembali pada suasana ketika kepala mungil yang baru selesai menangis sedang menatap wajahku.

“Apa ibu dan ayah masih  boleh menonton kamu menari dan menyanyi besok sayang?”

Kepala mungil di hadapanku itu mengangguk.

“Tapi aku nggak bisa, nggak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apa. Pokoknya, selama Hawna senang dan ceria dan sudah berusaha, ibu sama ayah tetap sayang banget sama Hawna. Rasa sayangnya nggak akan berubah.”

Sebuah senyum menghiasi wajah yang ragu tersebut. Dan di hari wisuda Taman Kanak-Kanak Anak Bangsa kemarin, Hawna pun tampil penuh percaya diri. Entah bagaimana pendapat orang tua yang lain, tapi bagiku, Hawna sudah memberikan penampilan terbaiknya. Dan tanggal 25 Juni lalu, dia juga sudah dinyatakan lulus dalam test penerimaan murid kelas satu sekolah dasar. Tentu dengan hasil yang tidak mengecewakan. Membuatku ingin selalu menghujaninya dengan ciuman penuh rasa sayang. []

Catatan penulis: kenang-kenangan test masuk sekolah dasar Hawna, Juni 2011. Buat Hawna: I love You.


Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Oleh: Adian Husaini

Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-269

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat.

Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mulamula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th.

van Deventer.

Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?”

Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan. [] Depok, 20 April 2009

Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan

Sumber: www.hidayatullah.com


Islam Dan Subhat Paham Gender

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Paham Gender telah berkali-kali diulas kaum feminis. Beberapa saat yang lalu, Emmy Astuti, Sekretaris Wilayah-Sulawesi Tenggara Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi juga menulis masalah ini. Seringkali, paham Gender diseret kaum feminis dengan perspektif ke-Islam-an, untuk mencoba menembus pemahaman keperempuanan Muslim, tetapi telah keliru menempatkan nash-nash Al-Quran yang suci, terhadap ide dan gagasannya tentang Paham Gender dan feminisme.

Tetapi, mari kita berdiskusi tentang hal ini. Bahwa, sesungguhnya dua kutub pemikiran ini tidaklah salah pada tempatnya masing-masing, namun sangat keliru jika kedua aliran pemikiran ini coba diselaraskan, hingga menimbulkan perdebatan yang jelas sekali tidak akan berakhir. Saya akan buka diskusi kritis ini dengan Surat Iqra:1-5;

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa-apa yang belum diketahuinya.” [QS (96): 1-5].

Seperti judul tulisan ini, konsep Gender tidak dikenal dalam Islam. Tetapi, bahwa posisi dan kedudukan perempuan dalam Islam dan hubungannya dengan laki-laki, telah ada sejak awal Islam, disiarkan oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW adalah sosok yang santun, pemurah, dan menyayangi semua orang. Ini tak terbantah. Sebagai pemimpin agama besar, Rasulullah SAW memiliki tanggung jawab yang berat dalam membina hubungan setiap manusia, setiap Muslim, khususnya dalam interaksi positif antara perempuan dan laki-laki.

Tidak saja dalam Al-Quran, dalam Al-Hadist sekalipun konsep gender tidak ditemukan. Jika ada yang mengatakan hal sebaliknya, itu hanya upaya syubhat untuk menegaskan kefasikannya. Islam hanya mengenal keistimewaan posisi dan kedudukan perempuan. Selanjutnya saya akan menyebutnya dan memperkenalkannya sebagai ‘keistimewaan’ Muslimah. Konsep ini sangat berbeda dengan apa yang disebut sebagai paham Gender, atau malah feminisme. Akan kita lihat mengapa posisi perempuan penting dalam tradisi Islam.

Kehidupan Rasulullah SAW, sejak beliau bayi, kanak-kanak hingga masa awal kerasulan, beliau sangat dipengaruhi oleh beberapa tokoh perempuan. Sebut saja Halimah binti Abi Dzuaib, seorang perempuan Badui yang menyusui beliau saat bayi. Kemudian, Khadijah, istri pertama beliau, yang juga sekaligus menjadi pemeluk Islam pertama. Ada Aisyah, istri lain Rasulullah SAW, yang juga termasuk para perawi hadist yang utama karena dia hampir selalu hadir di saat-saat genting kehidupan Nabi, atau pada saat turunnya ayat.

Para perempuan yang disebut di atas sangat besar pengaruhnya dalam kehidupan Rasulullah SAW. Maka tidak heran jika, Rasulullah SAW menempatkan perempuan dalam suatu keistimewaan. Masih banyak peristiwa yang menggambarkan betapa besar peran perempuan dalam perjalanan awal Islam.

Bahkan, setelah wafatnya Rasulullah SAW pun, perempuan Muslim makin memperlihatkan eksistensinya. Para perempuan Muslim melihat adanya kekuasaan, pengaruh besar dan kekuatan yang mereka lihat dari para istri Nabi. Mereka pun kemudian mendesak kalifah dan suami-suami mereka, bahwa hak istimewa yang diberikan Rasullullah pada istri-istrinya, juga harus diberikan pada mereka. Mulai saat itulah, para perempuan menggunakan hijab.

Riwayat lain juga menyebut, bagaimana Aisyah memerangi pengaruh Abdullah Ibnu Saba dalam perang Jamal. Menjelang berakhirnya kekalifahan Usman, muncullah seorang Yahudi, Abdullah Ibnu Saba. Dalam sejarah dia dikenal sebagai orang yang berpura-pura menjadi Muslim, sedang dalam hatinya penuh dengan kebusukan dan bermaksud merusak Islam dari dalam.

Ia menyadari ketidakmampuannya merobohkan Islam dengan kekuatan dan kekerasan. Karena itu, ia mengalihkan siasatnya dengan memperalat kondisi yang bergejolak dalam lingkungannya. Sebagai sesuatu yang berkaitan dengan Islam, baik itu ayat dan hadist Rasulullah SAW, dijadikannya hujjah (alat pembenar) untuk menunjang kehendak dan pendapatnya. Kekacauan demi kekacauan yang dibuatnya itu, berakhir pada titik dimana umat Muslim tidak dapat mentolerirnya lagi, dan berpuncak pada munculnya Aisyah memimpin pasukan Muslim dalam perang Jamal, (H. Soekarno dan Ahmad Supardi, 2001, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Angkasa).

Pun, tentang hal peran perempuan dalam kesultanan Islam. Prof. DR. A. Syalabi menerangkan, “Khalifah Muawiyah kerap kali mengundang para ulama, sastrawan, sufi dan ahli sejarah untuk menghadiri majelisnya. Mereka dipertemukan dalam gelanggang untuk munazharah (diskusi) ilmiah dan kesusasteraan. Munazharah itu dihadiri semua ahli dari golongan laki-laki dan perempuan.” Atau, siapa yang tak kenal Fakhroenvissa Sheika Shulda, sastrawan dan penyair terkemuka Baghdad pada zaman Sultan Harun Al-Rasyid.

Namun sekali lagi, peran-peran perempuan Muslim ini, tidak bisa disejajarkan atau bahkan disamakan dengan gerakan feminisme atau disebut sebagai kemandirian gender. Sebab tingkatan peran perempuan Muslim lebih tinggi dari sekadar gagasan feminisme. Gambaran di atas juga untuk menegaskan bahwa riwayat-riwayat tersebut, oleh kaum feminis, tidak boleh dijadikan hujjah untuk membenarkan ide dan gagasan mereka. Bukan itu maksud tulisan ini. Sebab dasar dari dua kutub pemikiran ini sangat berbeda; feminisme adalah produk sekulerisme Eropa, sedangkan ‘keistimewaan’ Muslimah terbentuk dari tradisi Islam.

Muslimah tidak pernah dikenalkan dengan konsep kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Sebab, tanpa konsep kesetaraan seperti yang dikampanyekan para kaum sekuler feminis, laki-laki dan perempuan dalam Islam telah setara. Wanita Muslim memiliki posisi yang istimewa dalam kehidupan Islam. Wanita Muslim tahu benar bagaimana perbedaan mendasar antara perempuan dan laki-laki sehingga mereka memperoleh hak dan posisi istimewa dalam Islam dan kekhususan dari Rasulullah SAW. Mereka tahu benar bagaimana bersikap terhadap laki-laki atau suami mereka, dan bagaimana Rasulullah SAW mengistimewakan posisi mereka terhadap suami mereka.

Klaim Ayat

Dalam opini saudari Emmy Astuti, dikatakan bahwa soal hak waris, sebelum datangnya Islam, perempuan tidak memiliki hak waris sedikitpun. Saudari Emmy telah keliru dalam hal ini.

Mengutip Muhammad bin Ishaq (wafat + 767 M), ahli sejarah terkemuka periode klasik Islam, menyebutkan, pada zaman pra Islam, keturunan sering diperhitungkan dari garis perempuan. Secara resmi harta diwarisi oleh perempuan, tetapi ini pun tidak memberi perempuan kekuatan dan pengaruh. Laki-laki kadang mengawini perempuan hanya untuk mendapatkan warisannya secara resmi.

Kemudian Islam memperbaiki ini dengan menentukan hak waris bagi anak perempuan seperdua dari anak laki-laki. Ini untuk mencegah laki-laki mengambil perempuan dari golongannya hanya untuk menguasai hartanya. Langkah Rasulullah SAW ini kemudian ditegaskan Allah SWT dalam surat An-Nisa. (Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi, 1991, Risalah Gusti).

Di sini jelas sekali, bahwa Emmy Astuti –yang menyebut dirinya feminis Muslim– telah keliru dan tidak mampu menjelaskan tentang latar-belakang turunnya ayat tersebut. Dalil-dalil yang digunakannya lemah. Secara historis, Emmy tidak mengecek kebenaran sejarah peristiwa tersebut. Ini tentu fatal.

Tradisi Muslimah ini sudah dilakukan dan terus berkembang dalam Islam selama 12 abad (600 – 1800 M), bahkan sebelum para pemikir sekuler Eropa menemukan konsep gender dan gerakan feminisme.

Artinya, Islam telah lama mendukung dan mengenal nash-nash yang berhubungan dengan kehidupan laki-laki dan perempuan. Pada saat wanita Muslim merasakan “kemerdekaan” mereka lewat keistimewaan yang diajarkan Rasulullah SAW, wanita Eropa justru saat itu masih terbelenggu sistem kastorian yang dikembangkan para bangsawan dan kaum terpelajar Eropa.

Ketika Aisyah menjadi salah satu tokoh utama dalam Islam dan memimpin pasukan melawan para penyeleweng agama Allah SWT dalam perang Jamal, di belahan bumi lain wanita Eropa dilarang terlibat dalam politik, bahkan sampai tahun 1800 wanita Venesia masih dilarang membaca buku.

Lantas apa yang hendak diperbandingkan di sini? Dalam opini saudari Emmy Astuti, diangkat sejumlah ayat untuk mendukung ide dan gagasan feminisme yang coba dikaitkannya dengan Islam. Ayat-ayat yang disebutkan itu benar. Namun ketika ayat-ayat ini merujuk klaim yang ditunjukkan untuk mendukung gagasan feminisme, terlihat jelas tidak tepat.

Sebut saja; Al-Mu’Min:40, At-Taubah:71-72, Al-Baqarah:187, An-Nahl:97, Al-Ahzab:35, adalah sekian ayat yang membicarakan kedudukan dan persamaan laki-laki dan perempuan dalam tataran keimanan. Sesuatu yang abstrak dan ukurannya hanya Allah SWT yang mengetahui. Padahal dalam gagasan feminisme dan gerakan gender, yang menjadi tuntutan adalah persamaan dan kedudukan secara harfiah dan fisik. Nash-nash ini tidak cukup untuk mendukung gagasan adanya paham gender dan feminisme dalam Islam.

Jadi benarlah, jika penggunaan ayat-ayat suci Al-Quran untuk sekadar menegaskan ide dan gagasan feminisme dan gender pada kaum Muslimah tidaklah tepat. Untuk hal di atas, sesungguhnya Allah SWT telah memperingatkan umat Muslim dalam firman;

“Maka sampaikanlah olehmu apa yang telah diperintahkan kepadamu secara tegas (terang-terangan), dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan kamu.” [QS (15): 95-95].

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS: 15:9]

Untuk lebih jelas, mari kita tengok apa dan bagimana ide dan gagasan feminisme itu sesungguhnya. Sebagai produk sekulerisme Eropa, feminisme, gerakan gender dan kajian wanita mulai tumbuh sekitar awal tahun 1800. Sebagai gerakan abad pertengahan, feminisme di Eropa dilihat sebagai sebuah gagasan yang baru. Tidak mengherankan memang. Sebab pada saat itu, Eropa sedang dalam transisi politik dan reformasi pemikiran yang sangat hebat. Perang Dunia I dan Perang Sipil di Amerika mengacaukan tatanan politik, dan pada saat itulah ide dan gagasan feminisme seperti memperoleh peluang.

Jika Anda seorang feminis, pastilah Anda mengenal Simone de Beauvoir, salah satu peletak dasar feminisme. Maka ketika bukunya, The Second Sex, mengupas secara kompleks pemikirannya tentang feminisme dan gerakan wanita, seketika The Second Sex “dibaptis” menjadi buku wajib dalam pemikiran feminisme. Buku ini membantu para feminis untuk mengerti arti sepenuhnya tentang otherness (yang lain atau objek) perempuan. Kendati dalam peletakan konsep-konsepnya, Beauvoir juga dipengaruhi Jean Paul Sartre, di mana bagian filsafatnya yang paling dekat dengan feminisme adalah etre-pour-les autres, atau being for others (ada-untuk-orang lain).

Dan dalam pandangan Sartre, bahwa apa yang terjadi adalah pengalaman pada suatu saat “saya” sebagai objek mengobjekkan orang lain (saya subjek-orang lain objek) dan dapat juga terjadi “saya” sebagai subjek diobjekkan orang lain (saya objek orang lain subjek).

Dengan mengadopsi prinsip-prinsip eksistensialisme, terutama konsep etre-pour-autrui atau ada-untuk-orang lain, Beauvoir yakin bahwa antara hubungan dua jenis, laki-laki telah mengklaim dirinya sebagai jati diri dan perempuan sebagai yang lain, atau laki-laki sebagai subjek dan perempuan sebagai objek. Beauvoir menegaskan dalam The Second Sex, bila hal ini benar, itu berarti ada ancaman bahwa perempuan kelak ingin menjadi subjek. Jadi, bila laki-laki ingin terus menjadi bebas, ia harus mensubordinasikan perempuan, dengan menindasnya. (Simone de Beauvoir. The Second Sex (1949), terj. H.M. Parsley. Great Britain: Penguin Books, 1989).

Dalam buku yang lain, pemikiran Sartre tentang kebebasan dan Tuhan, dianggap sangat berbahaya dalam hubungannya dengan Akidah dan Tauhid dalam Islam. Konsepsi tentang kebebasan inilah yang merupakan penolakan Tuhan oleh Sartre. “Seandainya Tuhan ada”, kata Sartre, “tidak mungkin saya bebas. Seandainya Tuhan Maha Tahu dan Maha Segalanya, kalau begitu tidak ada lagi kreativitas kebebasan. Tuhan yang absolut itu akan menghancurkan kebebasan saya, karena itu Engkau saya tolak,” demikian Sartre. (Dagfinn Dagfinn, “Sartre on Freedom”, dalam Paul Arthur; The Philosophy of Jean-Paul Sartre; Jurnal Perempuan Edisi-2).

Tetapi, kajian wanita tidak sama persis dengan feminisme. Kalaupun keduanya dinyatakan sebagai hal yang identik, akan muncul pertanyaan baru: feminisme macam apa? Seperti kita ketahui, feminisme memiliki banyak aliran: feminisme marxis, liberal, radikal, psikoanalisis, sosialis, dan seterusnya. Namun demikian dapat dikatakan bahwa memang ada kaitan erat antara kedua hal tersebut. Feminisme sebagai gerakan politik di satu pihak dan kajian wanita sebagai kegiatan akademis di pihak lain, kerap tumpang tindih. Rumusan yang paling tepat mengenai hubungan antara kedua hal tersebut adalah perkembangan kajian wanita dirangsang oleh gerakan feminisme. (Sandra Kartika & Ida Rosdalina, Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, LSPP dan Asia Foundation, 1999).

Nah, kita telah menemukan titik-titik di mana dua kutub antara gagasan feminisme dan Keistimewaan Muslimah tidak dapat bertautan. Berbagai perbedaan mendasar dan bertolak belakang menjadi landasan pengertian ini. Bagaimana mungkin para feminis mendesakkan ide dan gagasan feminisme sekuler Eropa (kendati telah banyak pengaruh yang disebut sebagai feminisme yang Indonesianis) kepada perwujudan Keistimewaan Muslimah? Bagaimana mungkin para feminis menyebut diri feminis Muslim, sedang kedua hal ini tidak saling bertautan. Penggunaan istilah ini justru terdengar rancu bagi kalangan Muslimah.

Jadi Al-Quran tidak pernah mengulas tentang paham Gender, namun posisi perempuan dalam Islam adalah istimewa. Sesungguhnya Islam tidak pernah menutup diri terhadap ide dan gagasan lain di luar Islam, selama ide dan gagasan itu tidak bertentangan dengan hukum Al-Quran dan Sunnah Rasul. Bagi Ahlul Sunnah, sumber hukum itu terdiri dari Al-Quran dan Sunnah Rasul, tapi jika ada hal-hal baru, yang memerlukan ketetapan hukum, sedang dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul belum ada jawabannya, maka hendaknya para pemimpin mereka melakukan Ijtihad-nya, baik dengan jalan Ra’yu maupun dengan jalan Qiyas. Demikianlah tuntunan Rasulullah SAW.

Sayangnya, ide dan gagasan feminisme dan tentunya paham Gender tidak ditemukan hukumnya dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul. Karena sifatnya yang bertentangan dengan nash-nash Islam, bahkan untuk ijtihad terhadap ide dan gagasan feminisme sangat sulit dilakukan. Bahkan pula dengan jalan Ra’yu maupun dengan jalan Qiyas.

Ada pesan bijaksana bagi kaum feminisme; yakni jika hendak mengetahui keindahan arsitektur sebuah rumah, jangan hanya memandanginya dari kejauhan, kemudian membuat penilaian-penilaian, tetapi cobalah jejaki halamannya lalu masuklah dalam rumah itu. Kadangkala penilaian kita akan lebih objektif ketika kita berada di dalam daripada penilaian kita saat masih melihatnya dari kejauhan.

Jadi, jelaslah bahwa posisi dan kedudukan perempuan Muslimah telah menempati level dan tingkat kesadarannya sendiri, yang telah sesuai dengan Al-Quran dan Al-Hadist. Apa yang salah dengan pemahaman ini menurut gagasan feminisme? Tentu tidak ada, sebab Keistimewaan Muslimah sejatinya telah berjalan di jalurnya sendiri. Dan, seharusnya gerakan gender dan sekuler feminisme, silakan berjalan di jalurnya pula.

Bagi Muslimah yang merasa terus didesakkan dengan bentuk-bentuk syubhat, hendaklah bersabar dan mengingat firman Allah ini. “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” []

Sumber: www.hidayatullah.com


Perempuan

Oleh Mappajarungi Manan

Kita dihadapkan pada pandangan dari hari ke hari. Tanpa sadar, bahwa, kita mengarah pada kehancuran moral kita. Kita akan tersontak, melihat kenyataan-kenyataan yang terjadi. Tapi, kita mengabaikan. Mungkin, kehancuran itu sesaat lagi menghadapi kita. Kehancuran peradaban-peradaban yang merasa sangat kuat sekalipun seperti : Yunani, Fir’aun, Roma, Babylonia, Byzantium dan Islam (Andalusia) hancur. Kini, kita hanya tahu puing-puing sejarah yang sudah direkayasa.

Kehancuran peradaban yang besar itu adalah akibat hubungan antara pria dan perempuan yang bercampur baur. Pria melecehkan perempuan hanya sebagai “pelayan”. Perempuan dijadikan korban pelampiasan. Perempuan dijadikan komoditi politik dan ekonomi. Perempuan belum dijadikan sebagai tonggak pembangunan. Hanya sebagai lapisan ketiga.

Pernah baca sejarah tentang tentara Sparta? Jenderal Sparta mengorbankan perempuan untuk mencapai puncak kariernya dengan mengizinkan para prajuritnya bersenang-senang agar Jenderal tetap dicintai pengikutnya. Jenderal membiarkan para prajuritnya mabuk-mabukan dan menikmati perempuan-perempuan. Ternyata Sang Jenderal salah. Sebaliknya ia “menghancurkan” negerinya sendiri, akibat kelalaiannya terhadap perempuan.

Tanpa sadar, perempuan adalah mahluk yang super power. Sementara, kita hanya melihat selama ini perempuan adalah lemah dari fisik dan tutur kata. Bayangkan, bangun pagi (padahal ia usai kerja keras melayani suami di malam hari), menyiapkan sarapan, mengurus anak, mencuci pakaian, dan lain-lain.

Tapi, kehancuran moral, kata Said Abdullah Seif Al-Hatimy, juga disebabkan oleh perempuan Neo-Jahiliyah. Selain itu juga mungkin Neo-Lib. Ah sama-sama neo. Perempuan

Neo-Jahiliyah adalah perempuan yang sibuk dengan urusan yang sifatnya pribadi. Di malam ia masih sibuk, pagi hari ke kantor. Bila tiba di rumah, kemudian ia ke salon menata kecantikan rambut, muka dan tubuhnya. Ia tiba kembali di rumah dengan lelah. Ia hanya duduk menonton atau mendengarkan musik.

Betapapun itu, perempuan banyak memiliki karier tetapi kata Agres Meyer, parempuan hanya punya satu panggilan Ibu. Karena itu, sebagai seorang ibu, sulit untuk mengatakan tidak bila anak-anaknya meminta dengan manja. Begitupun pria, akan terlayani dengan baik bila telah mendekatkan diri dengan bijak.

Kita melihat lakon politik di manapun, banyak melibatkan perempuan untuk mencapai kemenangan. Namun, ketika mencapai puncak, perempuan sering menjadi korban untuk melihat suatu posisi. Perempuan akan menjadi nomor dua, bila pria sudah tak ada yang sanggup. Padahal, posisi strategis dalam suatu jabatan lebih elegan dan bijak bila ditangani oleh perempuan dan ada dukungan penuh dari pria.

Kita bisa mencontoh kepemimpinan ketika Zaman Nabi Sulaeman, ada sebuah kerajaan yang sangat makmur. Kerajaan itu dipimpin oleh perempuan bernama Ratu Balqis. Kebijakan-kebijakan yang diambilnya sangat luar biasa, karena semua rakyatnya patuh dan hormat. Padahal ia seorang wanita. Ketegasan dan kejujuran dan adil itulah yang dianutnya.

Tidak hanya zaman dulu kita dipertontonkan untuk mengorbakan perempuan guna menjaga kamuliaan. Kini, mungkin kita dihadapkan pada persoalan yang pelit. Seorang perempuan bakal dikorbankan guna menjaga harga kredibilitas. Haruskah perempuan?! Apakah perempuan itu seorang pemimpin tertinggi?! Kita sulit memberi jawaban karena ini merupakan hak-hak yang berkepentingan.

Mengorbankan perempuan karena untuk menyelamatkan diri merupakan kelemahan dan kesalahan luar biasa yang tidak bisa kita biarkan. Kita harus mencari keadilan yang benar-benar adil. Mempertahankan harga diri, hanya untuk mengorbankan perempuan adalah sama halnya membusukkan harga diri yang tidak berharga. Ibarat kita membungkus daging yang di dalam bungkusan itu penuh dengan belatung. Oh perempuan! []

Sumber: http://www.mappajarungi.multiply.com/


%d blogger menyukai ini: