Tag Archives: indonesia

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Opini: Negeri Berprotokol Berpejabat Pemimpin Tok!

Oleh Iwan Piliang (Blogger,Mereposisi Jakarta Menuju Jayakarta)

 

Rakyat dipersilahkan melayani, memfasilitasi…segala-galanya untuk pemimpin dan pejabat dengan ke-VVIP-annya. Tajuk hidup kita modern, prakteknya berkerajaan, feodalis-praktis.

***

DI dalam menulis sketsa, reportase, saya pernah memaparkan berapa banyak kendaraan voorijder RI-1. Pekan lalu ketika memukul bola Woodball, olah raga baru yang belakangan saya geluti, di taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, saya menatap ke pojokan jalan ke arah Masjid Sunda Kelapa. Jalanan sepi, lalu belasan mobil setelah dipimpin lima motor besar lewat mengiringi. Rupanya Wakil Presiden hendak keluar rumah dinasnya. RI-2 melintas pas. Jalanan lengang, lalu macet membuncah ke setiap perempatan jalan.

Kemarin, ketika Presiden SBY berkunjung ke Jogja, setidaknya 28 penerbangan harus delay mendarat . Begitulah pakem baku bila ada VVIP lewat. Maka rakyat kebanyakan harus mengalah demi pemimpin, demi pejabat.

Cerita ihwal ini akan bisa ditulis berpanjang-panjang, dan tiada akan henti-henti saking terjadi dari tingkat presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota hingga ke bawah, semua ingin mendapatkan layanan kepejabatan, layanan kepemimpinan, fasilitas ke-viviaipi-an.

Di ranah ini tak terkecuali para wakil rakyat. Juga mereka yang di Dewan Pertimbangan Daerah. Tengok saja mobil-mobil mereka kini, pelatnya dipasangi logo instansinya.

Mereka masih kurang percaya diri cukup dengan wajah dan kartu identitas, selain tunggangannya sudah pasti mobil di atas Rp 500 juta harganya. Kurang apalagi?

Malahan kalau di telaah dengan sudut pandang tersendiri, memberi logo yang tak pas tempat itu, membuat kesan murah mobil sekalas Lexus 4.600 CC yang berharga lebih Rp 2 miliar, misalnya. Tetapi begitulah, kepejabatan itu di negeri ini memang harus ditampakkan. Kepemimpinan itu seakan memang harus berjarak dengan rakyat.

Sehingga kita tak menemukan lagi pemimpin rakyat dan atau pemimpin merakyat.

Pada suatu kesempatan, saya pernah terkesima melihat sosok Emil Salim di lobby Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Di tengah mobil-mobil pejabat dan anggota DPR lain berkelas, Emil Salim, mantan Menteri  Lingkungan Hidup, dengan percaya diri menaiki sedan Toyota Vios, bertajuk Limo, jika dipakai taksi. Mungkin Emil Salim masih terkenang akan leluhurnya, H. Agus Salim, sosok sederhana, berpikir dan berbuat bagi kemajuan rakyat, tanpa harus berjarak dengan rakyat.

Bila Anda masih ingat, ketika Presiden Iran Ahmad Dinejad berkunjung ke Indonesia, khususnya ke kampus UI, Depok, ia disambut begitu hangat. Kehangatan sambutan itu, terlepas dari sudut pandang melihat negaranya, adalah karena kesederhanaannya menjabat Presiden Iran. Dinejad tetap sebagai manusia biasa, bagaikan rakyat kebanyakan menghuni rumahnya yang bersahaja.

Bandingkan di sini.

Bila Anda berkunjung ke Kabupaten pemekaran baru, simaklah bagaimana kantor dan rumah dinas Bupati, DPRD, dibuat. Semuanya tampak sangat mentereng. Persis bagaikan era di jaman kerajaan dulu. Raja harus memiliki singgasana hebat dan bagus. Belum lagi ditelaah penggunaan anggarannya, bahkan mencapai lebih 80% untuk belanja pejabat dan pegawai hingga hamba sahaya di kantor pemertintahan. Lalu jika di kaliber Propinsi Banten masih ditemukan busung lapar, gizi buruk, sekolah rubuh, inilah jawabnya: Negeri hanya untuk “kerajaan” dan kejayaan pejabat, anggaran untuk pembangunan rakyat, fasilitas rakyat, dicekakkan nian.

Bagaimana tidak cekak untuk rakyat, pola memakai, menggunakan dan memperuntukkannya tak ubah bagaikan di era kerajaan silam. Tak beda setetes pun jua. Kini “pemalakan” pajak ke bawah gencar sekali tetapi perampokan tambuan kelas atas melului penggelapan pajak Transfer Pricing, seakan difasilitasi UU, dan operasional yang dibuat terbatas. Bayangkan yang mengurus indikasi transfer pricing lebih seribuan triliun hilang tiap tahun hanya 5 orang dibanding 38.000 karyawan Dirjen pajak. Inilah kesakit-jiwaan tak berkira itu.

Kemarin di milis Tionghoa-net di yahoogroups.com, saya membaca tulisan Marlistya Citraningrum, Mahasiswa Calon Doktor di Taipei. Ia menulis pengalamannya bagaimana sosok Presiden Taiwan yang berkereta-api bagaikan orang kebanyakan; Presiden SBY (Indonesia) Vs Presiden Ma (Taiwan).  Dan agaknya, kita masih akan bermimpi berpejabat macam ini.

Saya copy paste-kan tulisan Citra, yang juga dimuat di Kompasiana, sebagai berikut:

Sabtu lalu, saya dan teman-teman naik kereta Taiwan High Speed Rail (THSR) tujuan Kaohsiung (Zuoying) berangkat dari Taipei jam 7.30 pagi. Kereta dengan kecepatan rata-rata 220 km/jam ini memperpendek waktu tempuh Taipei-Kaohsiung (±320 km) yang normalnya ditempuh dalam 5 jam perjalanan darat menggunakan kereta biasa/mobil menjadi hanya 1,5 jam saja.

Karena kepraktisannya, THSR menjadi pilihan pertama warga Taiwan, tidak perlu check in dan menunggu boarding, dan penerbangan lokal menjadi pilihan kedua. Kami memesan tempat duduk di gerbong 8, kelas ekonomi. Ada dua kelas di THSR, ekonomi dan bisnis. Harga tiket kelas ekonomi adalah NTD 1490 (sekitar IDR 440.000) dan harga tiket kelas bisnis adalah NTD 1950 (sekitar IDR 582.000).

Sewaktu kami memasuki gerbong dan kemudian duduk di tempat yang kami pesan, tidak ada sesuatu yang istimewa. Semuanya biasa saja. Beberapa saat kemudian perhatian kami teralihkan melihat seorang fotografer (terlihat dari kamera profesional yang dia gunakan) sibuk mengambil gambar. Tempat duduk kami berada di tengah, dan kami melihat seseorang memasuki gerbong kami dari depan, bersalaman dengan beberapa penumpang yang duduk di bagian depan, dan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya.

Kami baru menyadari itu adalah Presiden Ma Ying-Jeou, ketika ia berjalan menuju belakang, dan sempat menyalami salah satu di antara kami. Lalu meneruskan berjalan dan duduk di salah satu kursi di belakang. Nomor 16. Kursi kami nomor 7. Dan meninggalkan kami tercengang. Kaget. Saking kagetnya sampai tidak ada di antara kami yang sempat berpikir untuk memotret Presiden Ma.

Hanya begitu. No fuss. Beberapa orang dalam rombongan presiden itu pun biasa saja, tidak menggunakan setelan jas rapi, hanya kemeja dan celana panjang biasa, sama seperti Presiden Ma. Gerbongnya tidak dijaga khusus, tidak juga direserve untuk rombongan presiden. Dan itu gerbong kelas ekonomi. Tidak ada bodyguard berseragam, tidak ada pemeriksaan macam-macam untuk penumpang biasa. Dan penumpang lain yang ada di gerbong itupun tidak bereaksi berlebihan, sepertinya biasa melihat presiden mereka naik kereta penumpang biasa.

Lalu saya dan teman-teman sedikit bergunjing. Seandainya itu di Indonesia, apakah hal yang sama akan terjadi. Well, probably not. Lalu kebetulan tadi saya membaca berita itu. Memang pembandingannya bisa jadi kurang seimbang mengingat itu akan memakan terlalu banyak waktu jika bapak SBY naik kereta ke Yogya secara kita belum punya kereta supercepat seperti THSR. Tapi kok ya kurang mengapresiasi penumpang pesawat biasa yang terpaksa terlambat berangkat. Bagaimana jika ada janji penting, misalnya konferensi di kota tujuan? Pertemuan bisnis? Acara pernikahan?

Ah, saya hanya membandingkan saja. Maaf bila dirasa menyinggung.

Ah, Mbak Citra!

Tentu tulisan Anda mencerahkan. Kalau ada yang tersinggung, itulah hanya pemimpin, pejabat, yang acap kepala batu kalau diberi tahu. Maklum mereka memang segalanya tak mengurus kepentingan rakyat. Terima kasih untuk sebuah literair yang hebat. ***

(ditulis pada 13 Juli 2011) 


Download Gratis Kamus Besar Bahasa Indonesia & Tesaurus Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) terbit pertama kali pada 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia. Sejak saat itu KKBI telah menjadi sumber rujukan penting di kalangan pecinta bahasa Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Tatkala ada permasalahan dalam bahasa Indonesia, terjemahan dan padanan kata, KBBI selalu dianggap jalan keluar penyelesaiannya. Selain muatan isi, KBBI memang disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia. Walaupun upaya penyempurnaan isi tidak selamanya mengimbangi perkembangan kosakata bahasa Indonesia, namun KKBI akan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

KBBI Daring ini merupakan upaya penyediaan kemudahan akses terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia di mana pun, kapan pun, dan siapa pun selama mampu memanfaatkan dan dalam jaringan teknologi informasi dan komunikasi.

Database KBBI Daring ini diambil dari KBBI Edisi III. Pemutakhiran dan penyempurnaan isi KBBI sedang dan terus dilakukan. KKBI Edisi IV akan diluncurkan tahun 2011 ini. Tampilan antarmuka KBBI Daring (Online dan Offline) sengaja didesain dalam bentuk sederhana agar pengguna tidak menemukan kesulitan dalam penggunaan kamus ini.

Software (freeware) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi 1.1 ini merupakan versi offline dari KBBI Daring (Edisi III) yang ada di Pusat Bahasa (versi online).

Dibanding KKBI versi Online, maka KKBI versi offline (freeware) mempunyai beberapa keunggulan dan bebas disebarluaskan dengan syarat tidak mengubah software. Kedua versi KKBI ini saling melengkapi. Versi offline dapat digunakan bagi pengguna PC, sedang versi online untuk pengguna bergerak (mobile).

Sebagai pelengkap, IFW juga menyertakan sebuah e-book Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia versi PDF.

Download freeware Kamus Besar Bahasa Indonesia versi 1.1 <– Klik Di Sini (Free Software)

Pranala Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online <– Klik Di Sini

Kamus Besar Tesaurus Bahasa Indonesia <– Klik Di Sini (Free E-Book format PDF)


Praying is Not Enough Guys…Take Action…!!!

Oleh Very Barus

 

MEMBACA status teman2 di  layar bbm, facebook, twitter dan situs jejaringan lainnya semua mengumandangkan Pray for Indonesia bla..bla..bla..bla… termasuk gue yang juga bukan latah ikut-ikutan untuk menciplak status orang lain untuk PRAY FOR INDONESIA… tapi gue yakin dan menyadari kalo Negara ini memang sedang butuh topangan doa atas segala bencana yang tengah melanda tiada henti di beberapa daerah.

Belum habis kepiluan karena gunung Sinabung di Berastagi bergejolak, muncul bencana yang tidak kalah dahsyat di Wasior, muncul lagi Tsunami di Mentawai, kemudian berbarengan dengan bergejolaknya gunung Merapi dan banjir di ibukota Jakarta… Dan konon katanya ada beberapa gunung lainnya tengah dalam keadaan “awas”…

God…marah kah engkau…???

Yang jelas setiap menyaksikan siaran langsung laporan dari beberapa stasiun tv, yang berlomba2 menayangkan berita bencana di bumi pertiwi ini. Bahkan parahnya beberapa stasiun tv berlomba2 memasang ‘label’ ESKLUSIF pada tayangan mereka….

Damn..!!! I hate that! Karena di sini kita nggak butuh label ESKLUSIF. Kita butuh informasi tayangan yang benar2 menayangkan berita bencana yang membabi buta…berapa banyak korban jiwa dan juga korban hewan piaraan lainnya…agar kita yang jauh dari bencana bisa tergerak hatinya untuk membantu mereka.

PLEASE STOP USE “LABEL” ESCLUSIVE FOR INFORMATION..!!

Satu hal lagi, banyak diantara kita yang hanya berkoar-koar MARI KITA BERDOA dan BERDOA…untuk para korban…

Hey guys…!!!

Praying is not ENOUGH…!!!

Lihat kondisi mereka yang sangat memprihatinkan.. mungkin mereka nggak kalah khusuk berdoanya dari kita-kita. Dari pagi ketemu pagi mungkin doa mereka tak lepas-lepasnya dipanjatkan. Mereka butuh uluran tangan kita2! Mereka butuh bantuan sandang dan pangan as soon as possible!  Jadi jangan hanya prihatin! Jangan hanya berdoa!

Jujur gue salut dari beberapa sahabat yang langsung sigap mengumpulkan dana untuk korban bencana di beberapa daerah (tidak hanya di kawasan gunung Merapi saja).

Melihat kegigihan sahabat-sahabatku, apakah gue hanya mengucapkan salut doang..?? Tanpa action..?

Akhirnya, dengan niat yang tulus, gue turut membantu mengulurkan tangan dengan cara menadah alias membujuk beberapa teman untuk berpartisipasi mendonasikan ‘sedikit’ dari uang ngopi-ngopi mereka selalu BBM.

Bayangin aja, jika dalam sehari sahabat2ku yang doyan NGOPI rela merogoh koceknya sampai 100 ribuan…masak untuk selembar KAOS PRAY FOR INDONESIA yang harganya hanya 50 ribu saja…

SEKECIL apapun sumbangan yang kita berikan pada mereka itu sudah SANGAT BESAR artinya bagi mereka…

Tapi, untuk mengajak berdonasi tidak lah semudah yang gue bayangkan… 1001 (seribu satu alasan) yang diberikan teman2 gue bahkan tidak menggubris ajakan berdonasi…ya…rambut sama hitam namun isi hati tidak ada yang tau sobat..!!!

Meski banyak dari sahabat2ku yang hati NURANI-nya dibuta kan, namun gue tetap bersyukur masih memiliki segudang sahabat yang CARE dan mau mendonasikan sedikit uang ngopinya untuk saudara2 kita disana..

Guys…

Sadarkah kamu kalau: tragedy has the effect making people realize how VERY SMALL and human we are…suddenly we forget our differences…

And remember guys: WE ARE ONE and In God we are NOTHING!!!!

[]


Ternyata Aku Tetap Cinta

Oleh Ade Anita

Ini kisah ketika aku masih duduk di bangku SMA. Suatu hari, malam hari tepatnya, ada tamu datang ke rumah. Dia mahasiswa ayah di Universitas Muhammadiyah. Ayahku memang seorang dosen di UM, mengajar Pancasila dan Ketahanan Negara. Dia datang memberi ayah hadiah dan sebuah amplop. Isinya bukan surat cinta tapi uang. Ayah marah-marah ke mahasiswa itu tapi lalu menasehatinya baik-baik hingga mahasiswa itu pulang dengan air mata dipipinya. Begitu mahasiswa itu pulang, ayah datang kea de. “Nak, jangan pernah mengikuti jejak mahasiswa itu. Dia orang bodoh yang ingin membeli kelulusan sarjananya dengan uang. Ingatlah nak, semua yang didapat tidak dengan kejujuran, hanya akan melahirkan sebuah bencana baru. Mungkin dia sukses, kaya, tapi kesuksesan dan kekayaannya itu tidak akan membuat dia bahagia. “

(diikutip dari http://adeanita-adi.blogspot.com/2009/03/sekapur-sirih-di-hari-kedua-berkabung.html )

SEBENARNYA, selama Ramadhan kali ini aku ingin mengurangi frekuensi keaktifan di Fb. Masih aktif, sekedar untuk memeriksa apakah ada ajakan menulis, apakah ada pengumuman penting, ataukah ada sesuatu yang harus dikerjakan (manen kebon di game fb termasuk disini). Tapi, hari ini, rasanya jadi pingin nulis notes.

Bukan. Bukan karena ini hari kemerdekaan RI ke 65 tahun. Juga bukan karena lagi nggak ada kerjaan.Tapi karena sebal saja baca status teman-teman yang kebanyakan skeptis, pesimis dan sinis terhadap negeri tempat aku dilahirkan dan dibesarkan ini.

Dahulu, aku juga pernah menyimpan rasa sebal terhadap negeri ini. Sebal sekali.

Mungkin karena mataku yang sipit dan dibesarkan di masa Orde Baru yang rasialis. Aku merasa benci dengan negeri ini karena merasa diri ini sama sekali tidak merdeka. Tapi, ayah selalu menghiburku dan membesarkan hatiku dengan mengatakan bahwa bukan fisik yang dijadikan ukuran untuk berguna atau tidaknya seseorang di negeri ini.

Merdeka itu adalah, berani berkarya, berani berbuat, lalu berani bertanggung-jawab.

Berani berbeda, dan berani mempertahankan kebenaran dan berani mempersembahkan sesuatu yang indah dan bermanfaat.

Itulah merdeka yang benar di negeri ini.

Ya. Merdeka itu hanya istilah. Ada banyak orang yang merasa merdeka berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tapi mereka kemudian lupa tentang pengawasan dari Tuhan mereka yang telah menganugerahi mereka kemerdekaan yang sesungguhnya. Ilustrasi cerita di atas adalah salah satunya. Jika ingin disebutkan satu persatu, pasti penuhlah seluruh kapasitas notes yang tersedia.

Sekedar kilas balik. Tahun 2004, saya mulai mengelola ribrik Muslimah dan Media di www.kafemuslimah.com. Saya mengamati semua perkembangan berita di media massa dan menulis sebuah ulasan dari sudut pandang seorang muslimah, yaitu saya (hehehe). Hasilnya, kian hari saya merasa kian prihatin terhadap negeri ini. Masya Allah, ternyata Indonesia jadi terlihat begitu menyeramkan. Penjarahan dimana-mana, kesusahan meraja lela, belum lagi ancaman dari negera tetangga, pokoknya mengerikan sekali. Begitu mengerikan hingga saya sering merasa stress dan ketakutan sendiri. Saya benar-benar takut, karena teringat peringatan dari Allah dalam Al Quran yang meminta kita untuk waspada agar tidak tertimpa sebuah bencana yang akan menimpa orang-orang akibat kezaliman yang terjadi disekitar kita.

Duh!

Kurang zalim apa negeri ini?

Bencana apa yang kira-kira bisa menimpa?

Bisa apa saja.

Satu demi satu bencana terjadi. Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, ledakan gas, penjarahan massal, kejahatan cyber, perampokan, penggundulan hutan, banjir, kejahatan seksual. Buanyak sekali.

Akhirnya saya menyerah. Enggan lagi menulis ulasan. Suami saya memberi semangat (sebelumnya saya uring-uringan minta suami pindah ke negara lain.. hehehehe…).

“Ayo, kita perbaiki saja negeri ini sedikit demi sedikit.”

“Tapi ada terlalu banyak yang harus dikerjakan untuk memberi rasa nyaman.”

“Itu pentingnya kita diberi anugerah kemerdekaan. Kita merdeka untuk melakukannya kapan saja dan dimana pun. Insya Allah pertolongan Allah akan datang pada kita.”

Lalu mulailah kerja keras itu. Tidak banyak membawa hasil yang signifikan memang. Kejahatan tetap terjadi, kebrutalan tetap ada, penggundulan hutan semakin menjadi-jadi, banjir tetap terjadi dimana-mana, dsb, dst, dll, etc. Tapi, setidaknya kami kini lebih bahagia mencintai negeri ini. Terbebas dari belenggu rasa curiga akibat pembentukan opini di media massa yang selalu provokatif, pesimis, sinis. Bebas juga dari rasa ingin diberi lebih. Karena merdeka itu memang saudara kembar dengan berbuat ikhlas. Tidak mengharapkan imbalan apapun selain dari Ridha Allah.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan saya pun ternyata masih mencintai negeri ini. Aku cinta Indonesiaku.

Hingga suatu pagi, ketika ada dua orang renta berpakaian seragam veteran menawarkan selembar kalender. Aku sempat menaruh rasa curiga. “Ini pasti salah satu penipu yang ingin mengemis dengan cara berdagang benda-benda yang tidak berguna.” Aku hampir saja menolak mereka dengan mengatakan, “lain kali saja pak.”

Tapi, demi melihat bendera kecil yang lusuh yang dijahitkan di atas saku kemeja seragam coklat  susu tanda korps veteran mereka, aku terenyuh.

Merah putih itu. Entah apa yang terjadi ketika mereka terpaksa harus berjuang agar Merah Putih itu berkibar dahulu.

Bisa jadi karena harus berpeluh keringat dan menahan luka serta terciprat darah, mereka tidak lagi berpikir untuk sekolah. Pun tidak sempat berpikir akan seperti apa kehidupan mereka setelah negeri ini merdeka kelak.

Ternyata… tiba-tiba rasa haru itu hadir tanpa diundang. Dan aku merasa, amat cinta pada para pahlawan yang telah bertaruh nyawa mempertahankan negeri ini.

Dua orang bapak yang renta itu dahulu adalah salah satu pahlawan. Maka segera saja aku singkirkan rasa curiga lalu meraih dua lembar kalender yang ada di tangan gemetarnya.

“Mari pak, saya beli kalendernya…. terima kasih ya pak, untuk perjuangannya tempo dulu.” Dua bulir air mata menggelinding dari kedua bola mata kedua bapak renta itu.

Ya. Mari singkirkan sejenak rasa pesimis dan sinis. Mungkin ini saatnya untuk bisa mengikuti jejak para pahlawan yang telah memberi kita kehidupan yang lebih baik ketimbang mereka dahulu.

Apalagi ini bulan Ramadhan, dimana semua perbuatan baik akan diberi imbalan pahala berlipat ganda.

DIRGAHAYU INDONESIAKU.

[]


Tourist yang Tersesat yang Menyenangkan

Oleh Afrilia Utami

Sore, (12/09) di kagetkan dengan kedatangan bule asing, bersama dengan Teten Rustendi (om saya) yang saat itu membawanya ke tempat kediaman kami. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba tanpa kabar ada seorang yang tampan rupawan, hahaha.

Hanya berpakai celana Jeans Pendek, kaos, topi, dan sebuah ransel besar, beserta kacamata hitam pekat yang tepat di gantungkan di kerah bajunya.

Owh, hello… My name Brian Davidson. I’m from Texas (America)” dengan senyum yang sumringah.

Hai.. I’am Afrilia, Ok. Sit down over there, please…” jawabku dengan sedikit gugup.

Thank you, Nice to meet you.. A..ff..rilial…

No…no. My name Afrilia. But, you can called me A-F-R-I-L.”

“Afril… OK, your name’s difficult.. haha..

Berbincang dengannya sangat menyenangkan. Terlebih ia sudah berada di Indonesia kuranglebih selama dua bulan. Sebelum menuju Tasikmalaya, ia mengunjungi Sumatra, Jakarta, Padang, Yogyakarta, dll untuk mempelajari alat musik tradisional ‘Gamelan’.

Pertemuannya dengan Teten Tustendi, di awali dengan ketidak sengajaan. Ketika itu Om Teten sedang makan di luar. Tiba-tiba melihat seorang bule yang ternyata benar dalam keadaan tersesat, setelah di tanya tujuannya ialah menuju pantai Pangandaran. Tetapi tersasar sampai di Tasikmalaya. Bukan tanpa sebab ternyata dibalik itu semua iapun tidak begitu menguasai bahasa Indonesia. Mr. Brain dalam usianya 23 tahun sudah berkeliling hampir seluruh negara bagian bawah katulistiwa. Hampir semua negara pernah ia kunjungi, ya beliau seorang adventurer. Berpetualang sendiri. Dan memang sungguh berani, belum mental di uji.

Pemilik nama Lengkap Brian Davidson ini, selain ramah dan mengasikkan. Ia pandai memainkan catur, kartu, terutama Jugle. Ya, kami bersenang-senang seharian penuh dengannya. Hahaha, seperti ada mainan baru. Seorang Atheis yang tiba-tiba menggemparkan kami. Ia ingin belajar Islam lebih dalam, Mr. Brain selalu membawa catatan kecil di saku kanannya, dan sebuah kamus kecil English-Indonesia di saku kiri celananya. Dalam catatan kecilnya, ia selalu menulis apa yang ia temukan. Ternyata ia telah merangkum banyak pertanyaan tentang Islam, yang semakin mengagetkan ia mempunyai sebuah Al-Qur’an tiga bahasa.

Menurutnya “I love Islam more than Christianity. Though I knew little about Christianity. Democracy in the religion of my family (Islam lebih saya sukai, daripada Kristiani. Meski saya tahu sedikit tentang Kristiani. Keluarga saya Demokrasi dalam agama.)” jawabnya saat di tanya.

Why would you want to learn Islam (mengapa anda ingin mempelajari islam?).”

Dalam diskusi membahas tentang agama, tentu sangatlah menarik dan asik. Banyak pertanyaan-pertanyaan beliau yang terkadang mengapa sulit ya…di jawab dengan rumusan dalam bahasa English. “Why I should fear God?“. “What God tells us to fight the apostates and infidels?“. “What is an apostate and infidel?

(Mengapa saya harus takut kepada Allah?”. “Apa Allah menyuruh kita untuk berperang kepada orang murtad dan kafir?”.”Apa yang dimaksud dengan murtad dan kafir?)” dan tentu masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.

Esok pagi, om saya mengajak Mr. Brain untuk berkeliling kota naik sepeda. Dengan riangnya Mr. Brain langsung siap dan sangat bersemangat. Sesudah berkeliling sekitar 45 menit. Mr. Brain ingin mencoba makanan nasi T.O, ia melihat di internet tentang Nasi T.O dan ingin mencoba.

Hahaha, tidak salah saja ada bule di suruh makan nasi T.O dengan tangan telanjang tanpa sendok dan garpu yang setiap harinya hampir tidak alpa di atas piring berdampingan juga dengan serbet sarung. Melihat cara makannya, cukup membuat kami tersenyum sembunyikan tawa. Lama sekali, berulang kali ia sulit mengumpulkan nasi untuk menyuapkannya ke dalam mulut. “Waw, that’s Good. Hmm… “ ujarnya berkali-kali.

Kecerdasan dan ketangkasaan beliau cepat tanggap dalam melahap ilmu. Ia menguasai beberapa bahasa Spains, Korea (pernah menjadi guru bahasa English di Soul, Korea Selatan), Japan, dan mungkin sekarang bertambah bahasa Indonesia.

What you think about Indonesian society?

Yeah, saya senang with Indonesian’s People. They’re open hmm… terbuka.. dan I Love it, in here. Sa..yaa.. menyukai alat tra..disional music Indonesian and Indonesia’s culture. Before datang saya ke Indonesia. Saya ke Malaysia. Malaysia’s People tertutup.. tertutup, do you know tertutup?” jawabnya dengan bahasa yang gado-gado (campur English-Indo).

Hari-hari bersamanya adalah hari yang sangatlah menyenangkan. Banyak tawa jenaka yang lahir bersamanya. Senyum Mr. Brain itu yang kerap terpatung dalam mimik rautnya.

I hope you will never forget me..” ucap saya yang pelan membisik padanya.

Yeah .. Of Course. And I expect the same.. I glad to see you..

.. Begitulah muasal persahabatan dengan tourist tersasar itu.

14 September 2010

[]


Saputangan Merah

Oleh Dwi Klik Santosa

Baru kali ini aku diberikan kenang-kenangan aneh. Sehelai saputangan berwarna merah. Terbuat dari kain berbulu halus dan lembut. Betapa sesuatu yang indah dan sangat mengenangkan. Sesuatu yang lucu, mungkin. Dan entahlah, saat mengingat lagi masa-masa dulu itu.

Dulu sekali, ibuku pernah bercerita padaku. “Pemberian sebagai tanda kasih dari seseorang berupa saputangan, biasanya memberi isyarat tidak bagus bagi hubungan itu di kemudian hari.”

Ibuku orang kuno. Orang Jawa dan terlahir dari kampung. Tentu saja, kata-katanya ini kuanggap usang saja. Kebanyakan orang Jawa kan begitu, sedikit-sedikit gejala dan sebagainya selalu dihubung-hubungkan dengan hal-hal yang sifatnya gaib dan mistik. Dan, bagi pencernaan pemikiranku yang sedang tumbuh girang-girangnya ngilmiah, kadang-kadang kuartikan seperti hanya untuk menakut-nakuti saja. Ah, ibu.

Bagaimana pun saputangan merah itu, bagiku adalah hal yang istimewa. Apalagi, benda itu diberikan oleh seorang bule cantik bernama Michelle. Ya, Michelle Young, begitu pada awal bertemu dulu ia mengenalkan namanya. Dari sepintas lewat pengetahuanku tentang sosok dan pribadi seorang bule, terlalu banyak kuasumsikan konotatif. Entahlah, aku ini barangkali orang Indonesia yang berjenis tradisional dan konservatif.

Tapi, ketika berkenalan secara dekat dan intens dengan Michelle. Semua hal yang konotasi itu seperti hilang seketika. Bahkan, sungguh aneh bagiku. Jika dari suku asalku, penampilan seorang perempuan agung itu disebutkan serba halus, menunjukkan karakter ibaratnya seorang putri kedaton. Namun, si bule berambut pirang ini seperti tak kalah memanifestasi sebutan estetika ningrat itu.

Entahlah, serba kebetulan dan beruntung saja sepertinya pada waktu tempo dulu itu, dimana pada saat yang tak terduga, dapat berkenalan dan bahkan berhubungan dekat dengan seorang mojang asing yang brilian tapi santun.

“Kamu lucu,” selalu begitu komentarnya. Seusai aku menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Aku bukan badut,” kilahku.

Dan, senyum yang pipit di kedua pipinya itu, sungguh memberi panorama istimewa; si bule pirang yang kejawa-jawaan.

“Engkau tidak boleh bersendawa seperti itu,” katanya lagi, “itu tidak sopan.”

Waduh. “Iya, habis, saya tidak terbiasa minum minuman bersoda,” kilahku lagi.

Dan, selalu saja setiap aku berkilah, disikapinya dengan senyum, bahkan derai tawa yang lepas.

Perjalanan bus antar kota, Jakarta – Denpasar waktu itu memang melelahkan. Tapi, tidaklah demikian seolah-olah. Justru, biar saja, semakin lama semakin bagus. Haha.

Tatkala bus Lorena executive itu melaju tenang meninggalkan ibukota, AC bus yang adem serasa sihir saja yang cepat menilapkan semua penumpangnya. Begitupun aku. Novel yang baru saja beberapa lembar kusantap, tanggal pula dari tatapku. Tidak penuh memang kursi bus itu diisi penumpang. Kursi berinterior super deluxe yang berjajar dua-dua itu, di sisiku kosong. Tanpa diduga dan mendadak saja, bus ini tergoncang. Berderit keras dan panjang. Seisi bus pun pada goyah.

Rupanya Pak Sopir yang cekatan, berusaha menghindari penyeberang jalan yang sembrono, dengan membantingkan badan bus keluar ruas jalan. Untungnya ada tanah lapang yang siap menampung badan bus. Selamatlah seisi bus, tiada sesuatu pun yang celaka atau terluka. Begitupun, dari posisi tidurku yang seenaknya tadi itu, lantas mudah saja melempar tubuh ini, hingga terjongkrok ke bawah.

Setelah mulai tersadar. Kucari-cari novel yang tadi kubaca, terlempar entah kemana. Nah, pada saat novel handy itu mulai terlihat mataku berada di bawah jok kursi sebelah itu, akan kujangkau segera. Pada saat yang sama, selentik tangan meraih novel itu. Bertatapan mata kami sambil jongkok. Busyet! Bule cewek yang lucu. Baby face. Melalui sebulat coklat matanya itu, seolah ia berkata, “ini novelmu?”

Kuanggukkan kepalaku. Lalu kuterima novel itu dari sodoran tangannya. Ragu-ragu, aku kembali ke jok kursiku. Bus yang sudah berjalan lagi dengan tenang, mengenakkan duduk kami. Novel itu kubaca lagi. Dan, tapi .. mataku sudah mulai mencari-cari lagi.

Melongok ke samping. Kursi si bule baby face di sampingnya juga kosong. Wuiii … entahlah kejadiannya, singkat cerita, sosokku sudah terduduk di sampingnya. Dan ngobrollah kami berdua. Sekenanya. Sedapatnya. Mengalir saja. Asyik-asyik saja. Dari soal Indonesia moii. Gajah Mada. Mataram. Tanah air. Soekarno. Soeharto. NU. Muhammadiyah. Multipartai. Pemilu. Otonomi daerah.

“Novel yang bagus,” katanya, “apa itu royan?”

“Royan itu penyakit yang mewabah,” jawabku.

Royan Revolusi, begitulah judul novel itu. Novel bermuatan human satiris masa-masa selepas kemerdekaan Indonesia, karya Ramadhan KH.

“Indonesia negeri yang indah,” kata Michelle, “3 tahun ini saya jalan-jalan keliling AsiaTenggara.”

Lalu si bule santun ini menceritakan pengalaman hidupnya. Kekecewaannya terhadap keluarga, dan terspesial adalah kepada kaum laki-laki, dari pacar pertamanya, ayahnya, kakak lakinya dan kemudian dosennya yang pernah mengencaninya, menjadi alasan baginya meninggalkan sejenak Ausie untuk sekedar berusaha mencari hiburan batin. Dari Philipina, Singapura, hingga pada akhirnya tinggal di Bangkok, dan lalu menganut Budha. Semasa kuliah di salah satu universitas di Ausie, ia mengambil NU – Muhammadiyah sebagai obyek penelitiannya. Maka, tak heran bahasa Indonesianya bagus sekali. Dan, banyak nyambung saat pembicaraan menyangkut peta politik dan budaya nusantara. Menyenangkan sekali berdiskusi dengan si bule pinter ini. Apa saja kata-kataku bisa saja menjadi bahan tawanya. Entahlah, dataku yang kurang atau aku yang terlalu lugu, sehingga mudah ia tertawakan.

Tatkala bus Lorena ini berhenti di restoran Pasir Putih di bilangan Jawa Timur itu, menjadi hal yang sangat kuingat dan kukenang tentang sosok si Michelle ini. Setelah pintu bus dibuka, berebutan para penumpang ingin saling dulu turun dari bus. Belumlah kami sampai masuk ke restoran, seorang perempuan tua dalam keadaan memelas, memegang-megangi perutnya. Rintihnya iba. Entahlah, kenapa aku hanya diam melihat dan mendengar saja, tak juga berbuat apa-apa. Darimana datangnya, mendadak Michelle menghampirinya. Ia berkata kepada perempuan tua itu. Dan kemudian berteriak kepadaku, “bantu aku.”

Kami bertiga pun makan bersama. Disapa si perempuan tua itu oleh Michelle dengan banyak pertanyaan. Sesekali kutimpali, setiap si ibu tua itu menjawab. Dan berkelakarlah kami akhirnya bersama-sama. Dari cara Michelle bertanya dan tak sungkan menyentuh sosok si tua memelas ini, tak dapat kupungkiri, dia gadis menarik dan eksentrik. Punya empati yang bagus terhadap sosialisme.

Makanya, ketika bus mulai berjalan lagi melanjutkan rute ke Ketapang, diskusi kami pun lanjut ke topik sosialisme. Seru sekali. Saat kusinggung soal anarkisme sebagai sebuah sempalan cabang spesifik dari sosialisme, Michelle kelihatan seperti tidak senang.

“Tidak ada dimana pun manusia hidup tanpa aturan, kamu tahu itu,” sanggahnya sengit.

Ya, memang. Tapi catatan-catatan pendapat dari kecenderungan pemikiran Bakunin dan Matalesta, bahwa jika manusia mampu mandiri, berdiri sendiri, hidup tanpa ketergantungan yang lain, bersikap anarkisme, kenapa tidak?

Begitulah, ketika bus kami memasuki badan kapal penyeberangan menuju bandar Gilimanuk. Asyik saja, kami berdua, terlibat aksi-aksi menyenangkan. Rambut si bule ini pirang berkibar-kibar disisir angin. Serba sopan cara berpakaiannya, tak nampak seperti turis asing kebanyakan. Dan, ketika anak-anak pantai itu mulai beratraksi mengapung di lautan samping kapal yang berlabuh menunggu keberangkatan, mulailah mereka mendapatkan atensi dari para penumpang kapal. Aku dan Michelle tak ketinggalan. Koin ke koin telah habis dilempar dijadikan rebutan anak-anak itu. Sejenak hanyut bersama fragmen ini cukup menyenangkan kiranya.

Yah, sayangnya, sore cepat melaju, dan sampailah bus ini menyeberangi Selat Jawa. Menyusuri jalan meliuk-liuk Pulau Bali. Petang pun tiba, sampailah bus tumpangan kami di Terminal Ubung. Waktunya turun dan menuju tujuan. Begitupun, saat yang tidak enak, sebab harus berpisah dengan Michelle.

“Nanti aku cari kamu. Kita ketemu di Legian, ya,” begitu kata Michelle.

Cukup melegakan. Bahwa, kami tidak benar-benar akan berpisah. Nomor telepon rumah temanku itu kutulis di secarik kertas dan kuberikan kepadanya. Begitulah, tiga hari kemudian, kamipun ketemu lagi di Pantai Legian. Jarak yang tidak jauh dari tempatku tinggal yaitu di Double Six, Legian Kaja. Cukup niat dilakukan oleh Michelle. Karena jarak Bedugul dan Legian cukup jauh kiranya. Begitulah, seperti turis layaknya, kami pun menikmati hidup merdeka menyusuri sepanjang Legian yang berpasir halus. Hingga matahari terbenam, yaitu saat-saat yang paling ditunggu banyak turis karena daya magisnya, masih saja kami asyik terlibat diskusi ngalor ngidul.

Dari siang sampai petang. Bukan waktu yang lama barangkali. Betapa singkat.

“Saya ingin sekali melanjutkan lagi S2 saya di Jogja,” katanya, “kamu senang?”

Yeah, kata-kata Michelle ini. Begitulah, lalu kusahuti, “menarik!”

Sebelum taksi itu membawa pergi sosok si bule mungil. “Aku ingin kau simpan ini.”

Sebungkus paket kecil itu diserahkan kepadaku.

“Semua alamatmu kucatat. Pasti akan berguna nanti. Tunggu kabarku, ya,” begitu katanya lagi.

Itulah saat-saat terakhir yang bisa kuceritakan tentang Michelle, si bule Ausie yang menyenangkan. Sebulan. Satu semester. Setahun. Dua tahun. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Sebab aktifitas di ibukota yang seru dengan demo mahasiswa menggempur tirani, dengan sendirinya telah mampu mengubur kenangan itu.

Dan, saputangan merah itu. Kenangan itu. Hanya kenangan saja. Entahlah nasib si pemilik asalnya dulu. Setidaknya aku telah berusaha melakukan pesan kata-kata terakhirnya. Saputangan, hmmm … Betul belaka, kata ibuku. Sejak itu, aku seperti mendapatkan pelajaran dan didikan untuk tidak menghiraukan arti kebenaran kata-kata firasat naluri Jawa yang dianggap kuno.

Dwi Klik Santosa

Pondokaren

25 Juli 2009 :21.4o

[]

Mikhail Bakunin 1814-1876 (Photo: Wikipedia)


RBM Bagi Saya

Oleh Dwi Klik Santosa

Rachmat Budi Muliawan : sohib, kakak dan bapak.

Sejujurnya, saya kurang ngeh kenapa dengan RBM DAY?

Tapi karena teman-teman banyak mengirimkan tulisan-tulisan yang mengharukan tentang RBM, iya deh. Meski saya belum paham juga apa yang sedang terjadi. Saya nulis juga deh tentang RBM.

Saya putuskan juga akhirnya saya pun harus mengganti gambar saya sewaktu mblangkon. Supaya agak terlihat mirip dengan kerabat atau nyanak atau setidaknya sedikit lebih nge-RBM <menurut ala saya>.

Saya lupa, kapan pertama kali kenal RBM. Entah juga siapa yang tadinya memulai kenalan. Tapi seingat saya, begitu beliau masuk ke daftar teman saya di layar pesbuk ini, sosoknya seperti menjadi rupa-rupa sosok wayang yang saya kenal. Seperti Gunawan Wibisono. Kadang menyerupai Sadewa. Dan kadang-kadang, bisa muncul sebagaimana Puntadewa.

RBM selama masuk dalam kancah pertemanan saya, adalah pendengar yang baik … hahaha … ya, begitulah. Ketiga wayang yang saya sebutkan tadi itu karakternya pendengar yang baik. Tapi soal kearifan … wuaaahhh …  Sayalah yang terlalu cerewet selama ini. Atau tepatnya, agak sok pinter, gitulah kira-kira. Maklum, saya ini mewakili orang muda yang sedang bergelora menulis. Jadi apa saja saya tulis. Dan ketika RBM saya tag, komentarnya selalu mbombong ati saya. Tidak sedikit pun ada komentar berbau sinis, skeptis apalagi pesimis. Selalu membesarkan hati saya.

Dan begitupun, ketika sesekali beliau menge-tag tulisan ke saya. Malah kadang-kadang saya komentari yang aneh-aneh. Seolah-olah saya ini lebih pandai dari beliau … waduuuhh … saya sadar, kalau mungkin itu bukan pada tempatnya. Tapi ya, yang namanya RBM .. waduuuh … selalu menanggapi komentar-komentar saya dengan kalimat-kalimat yang positif. Dan selalu saja: MEMBESARKAN HATI SAYA.

Begitupun, saat saya meluncurkan buku saya : Abimanyu Anak Rembulan, di Bentara Budaya Jakarta, 24 Juli lalu itu. Saya selalu mendapat dukungan yang hangat. Meski beliau tidak hadir, tapi saya sempat terdiam untuk beberapa saat ketika membaca SMS beliau. “Maafkan, saya tidak bisa hadir, Mas Dwi. Tapi dari Jogja, saya ingin mengucap salam saya, semoga acaranya lancar dan sukses.”

Bagi saya, berteman dengan beliau adalah peristiwa yang langka. Dimana kami sebenarnya belum saling tatap muka. Tapi seperti sudah sedekat itu. Saya pernah membuat riset tentang apa hakekat MAYA itu. Dan pernah saya hipotesakan. Bahwa 99, 999999% yang berkait dengan maya itu bohong belaka. Sedangkan, … dan mungkin masih ada 0,000001% kebenaran itu.

Tapi saya rasa, kajian terhadap kebenaran hipotesa itu bisa jadi salah. Ternyata banyak teman-teman yang sejatinya lucu, memang lucu beneran. Lugu memang lugu beneran. Baik dan memang baik beneran. SAYA CINTA HIDUP YANG RUKUN. Jadi sejujurnya saya mencintai RBM. Saya menyayangi teman-teman semuanya yang juga mencintai RBM.

Selamat Hari RBM. Hore Kerukunan Indonesia.

Bravo!

[]

zentha

27 Agustus 2010

: 13.5o


Merdeka, Jujur, Indah

Oleh Dwi Klik Santosa

Karena kami diancam

dan kamu memaksakan kekuasaan…

maka kami bilang : TIDAK kepadamu

KETIKA hidup kita penuh kekangan, lilitan dan tekanan, apalah arti kewajaran dan keberlangsungan? Jika kita dikaruniai kelengkapan berupa pikiran, naluri dan nurani, kenapa kita harus takluk oleh hidup yang profan? Merdeka, inilah kebutuhan manusia yang paling hakiki. Tetapi dasarnya manusia hidup dalam kejalangan ambisi, kemapanan dan status sosial telah menjadikan tujuan, dimana tahta dan harta kemudian menjilma panglima. Apa itu kejujuran? Di mana keindahan berada, jika hidup terus menetek pada kamuflase dan ketidakmasifan? Apa itu cita-cita hidup yang sejati?

Pada musim penghujan di masa Orde Baru, menggulirlah pada suatu ketika sebuah kisah. Datuk Anwar Ibrahim menjadi berita besar di seantero nasional karena kedatangannya sebagai tamu negara ke ibukota Jakarta. Di rumah Rendra di perkampungan Cipayung Jaya, yang terletak di sudut wilayah Kota Depok, suatu saat berderinglah teleponnya. Datuk Anwar Ibrahim berkenan mengundang kehadiran Rendra di sebuah tempat terhormat di ibukota. “Insya Allah, saya akan datang Tuanku,” jawab Rendra.

Sekian lamanya, sebagaimana disepakati, Rendra tak datang jua menemui undangan itu. Lalu berderinglah kembali telepon di rumah Rendra. “Saya sudah berusaha menepati janji, Paduka Datuk, tapi mobil saya kering tidak berbensin, sehingga tidak dapat segera mengantarkan saya sampai ke Jakarta,” kata Rendra. Oh, …Lalu beberapa jam kemudian, datanglah mobil mewah memasuki jalan Cipayung Jaya yang berlumpur dan sudah menjadi kebiasaan pada saat musim penghujan datang.

Rendra merupakan sahabat yang terkenal dan besar namanya di Malaysia, tapi melihat Rendra yang sahaja dan sakit, meneteslah air mata Paduka Datuk. “Mas Willy, jika Anda berkenan, tinggal dan hiduplah di Malaysia. Ada rumah, fasilitas dan kemapanan hidup yang layak untuk mendukung Anda berkarya,” kata Datuk Anwar.

“Terima kasih, Tuanku Datuk atas tawarannya. Tapi walau bagaimana pun, Indonesia adalah rumah saya,” kata Rendra dengan tenang. Lalu mengalirlah kehangatan. Berpelukan kedua sahabat itu mengurai kerinduan masing-masing.

Begitu pula, berita-berita lain menggulirkan kisah. Rendra menolak kerjasama dan hadiah dari cukong-konglomerat penindas rakyat. Rendra menolak bantuan pemerintah asing. Rendra menolak sponsor dari lembaga dan perusahaan asing di tengah miskinnya hidup yang dijalani. Adalah manik manikam di bumi kita yang kaya akan epos legenda dan dongeng pelipur lara.

Meyakini pilihan hidupnya, Rendra kaya dalam kemiskinannya. Menjadi seniman yang ‘berseberangan’ merupakan pilihan yang rumit di tengah bergulirnya zaman edan yang munafik. Tapi niat telah ditetapkan. Tidak ada sewujud aral mampu mengkotak-kotak hidup manusia. Hanya dengan ketulusan dan kebesaran jiwa, maka manusia akan menjadi arif.

Rendra adalah seorang seniman besar. Lebih dari setengah abad, hidupnya dipenuhi pengabdian yang mengharukan. Berbagai gerak dan laku hidupnya senantiasa mengalirkan harapan dan berbuah berita yang mencengangkan banyak orang. Tak pelak, dinamika kehidupan telah menempatkan Rendra sebagai tokoh sekaligus cermin bagi para penggandrung dan pendulang hidup bermakna. Esensi sebuah pencarian adalah pengabdian. Jika seseorang mudah marah, putus asa, dan lalu menindas, maka ia hanya menjadi sampah saja bagi kehidupan. “Menjadi seniman harus tahan hidup dalam kesepian,” kata Rendra, “maka niscaya kelak kita akan mengerti apa sebetulnya yang sedang kita cari.”

Dan kemudian… “Aku muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kegagahan jiwa, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman.” Inilah cetusan marah seorang Rendra yang lantas karenanya menjadi intuisi bagi para seniman dan kreator untuk bangun kembali dari keterlenaannya karena terlalu memuja keindahan tanpa ikut andil menegakkan kemerdekaan dengan laku yang jujur dan sahaja.

[]


Sketsa Puasa 2 : Berpuasa Berserial Animasi Malaysia

Oleh Iwan Piliang

Serial Upin Ipin, diputar berulang di TPI. Ceritanya kuat, walaupun secara teknis animasi, visual tokoh utamanya hanyalah dua bocah kembar plontos, minimalis; bersekolah, bermain, berkehidupan di kampung. Literair penggalan pengalaman saya di industri animasi, berupaya lalu patah di tengah jalan mengindustrikan animasi di Indonesia. Padahal kemampuan animator kita, jauh lebih baik dari Malaysia. Sama dengan lebih unggulnya skill anak Indonesia di industri perminyakan. Setidaknya Dt. Noor M. Chalid, kartunis Kampong Boy, pernah ingin mengorder animasi ke saya. Pada 13 Agustus lalu rasa keindonesiaan kita seakan ditampar oleh ditembaknya kapal Patroli Departemen Kelautan RI di wilayah RI, oleh Polisi Perairan Diraja Malaysia. Mereka menangkap tiga petugas kita. Saya menyebut langgam Malaysia ini bagaikan Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia. Kata orang kampung saya, mereka ongeh—setingkat di atas congkak. Tarian Randai Sungai Geringging, tanah kelahiran saya, pernah pula diaku Malaysia sebagai keseniannya. Namun Upin dan Ipin tetaplah menghibur! Mana serial animasi kita?

TIGA anak saya lelaki. Mereka sepuluh, delapan dan tiga tahun. Dua anak tertua kini sudah menjalankan ibadah puasa penuh. Hiburan utama kami di saat makan sahur bersama keluarga di Ramadan kali ini menyimak penggalan serial animasi Upin-Ipin, produksi Malaysia disiarkan oleh TPI.

Di sebuah serialnya, Ipin membayangkan berbuka puasa melahap ayam goreng. Lalu kakaknya, Ros, mengajaknya berbelanja ke pasar. Kak Ros memberikan lembaran ringgit, sedianya dibelikan untuk dua tiga potong ayam sahaja. Namun Upin dan Ipin, justeru merasa dapat angin. Mereka membelanjakan semua ringgit ke aneka ayam; ayam golek, ayam madu, ayam goreng, ayam bakar, ayam pandan.

Di pasar mereka melihat Mail, teman sekelas, menjual ayam goreng kegemaran Ipin.

“Kau belilah ayam aku ni ‘Pin, emak aku buat, enaklah!” Mail berpromosi.

Si kembar itu pun sepakat membeli. Tak tanggung-tanggung, semua ayam goreng dagangan Mail bersisa, mereka borong.

Visual Upin dan Ipin menenteng beragam bungkusan serba ayam dengan riang pulang. Tinggallah Kak Ros manyun terperangah, segenap ringgit telah berganti ayam.

Di meja makan berbuka puasa. Meja penuh dengan hamparan piring berisi aneka penganan serba ayam.

“Kau habiskan itu semua,” ujar Ros ke Upin dan Ipin. Wajah Ros dongkol.

“Tak lah Kak, tak kuat lagi kami makannya.” suara Upin dan Ipin memelas.

Suasana di ruang makan di kampung melayu, Malaysia, itu. Opa—nenek—lalu menasehati Upin dan Ipin dengan suara khas, bijak, bahwa kalau lagi berpuasa, di siang hari, memang serasa semua makanan seakan terlahap, namun nyatanya di saat berbuka, sedikit sahaja dimakan, perut sudah berasa kenyang.

Khas duniak anak-kanak, khas Melayu.

“Betul, betul, betul!” ungkapan khas Ipin.

Ia acap mengulang ucapan lema betul, bentuk persetujuannya akan sesuatu.

Lalu anak Indonesia mengenallah budaya Malaysia melalui animasi. Berlanjut membanjirlah merchandising Upin Ipin, termasuk mewabah mainan tangkai es krim, diantaranya.

Lantas pertanyaannya, mana budaya kita, mana industri animasi Indonesia?

PANTASKAH saya bertanya?

Setelah mencoba berbisnis di jasa iklan sejak berhenti jadi wartawan dari majalah SWA pada 1989, dari 1993 hingga 1995, saya fokus memproduksi serial animasi. Alasan saya ketika itu sederhana saja. Bahwa menjadi pengusaha haruslah punya produk dan atau jasa yang masuk ke pasaran. Itu pengusaha!

Kalimat itu terus saya sosialisasikan di setiap menulis mengupas kewirausahaan hingga kini. Konon, kemajuan Cina dahsyat kini, tiada lain karena kegigihan membanjiri dunia dengan manca-ragam produk.

Nah setelah “capai” di jasa yang saya rasakan lebih banyak tangan “di bawah”, saya memilih industri tak dilirik orang ramai. Yakni serial animasi. Pilihan saya kala itu animasi wayang, dengan membuat karakter anak-anak, ada yang plontos macam Upin Ipin, namun berbaju wayang. Saya memilih judul Burisrawa, berdialek Batak.

Mengapa wayang? Sulit bagi saya kala itu membuat cerita berserial banyak. Cerita Kancil saja, untuk dijadikan enam episode masing-masing 24 menit—untuk siaran setengah jam—sudah seret kisahnya. Saya memilih Wayang Carangan, yang tak akan habis dikembangkan kisahnya hingga beratus serial.

Maka singkat kata, setelah sempat melihat-lihat ke Disney, AS, saya pun mengumpulkan animator 2D terbaik negeri ini, dan membenamkan segenap uang yang dihimpun seperak dua perak dari usaha selama lima tahun, lalu fokus membuat serial animasi.

Sesungguhnya serial animasi itu gampang menghitung bisnisnya. Harga penjualan paling murah serial itu per episode US $ 1.000, lalu jika kita sudah memproduksi 52 episode, untuk setahun, diputar seminggu sekali, maka per paket US $ 52.000. Untuk melego ke-1.000 stasiun teve menayangkan di pasar global sesuatu yang dapat dijangkau.

Maka jika seribu teve manca negara membeli, akan didapat US $ 52 juta, alias Rp 500 miliar lebih, belum termasuk pendapatan penjualan karakter untuk merchandising. Anggaplah pesimis, 10% saja jangkauan penjualan, masih diraih US $ 5,2 juta.

“Untuk meraih seribu televisi, bukan suatu yang sulit, karena di suatu negara televisi lebih dari satu, belum termasuk hak ulang siar,” ujar David C. Fill, Direktur Burbank, Sydney, pernah mengunjungi studio animasi saya awal 1995.

David pula yang melihat potensi Burisrawa dengan perbaikan penambahan dialog. Ia menyanggupi memasarkan ke Eropa, Asia, Timur Tengah. Amerika Serikat tidak bisa tembus, karena karakter yang kami buat terlalu tradisional.

Maka ketika satu episode serial Burisrawa yang kami produksi kelar, saya pun membuat sebuah event di Hotel Le Meredien pada awal 1994, membedah produksi kami. Hadir seratusan pakar, budayawan, kalangan DPR, pemerhati anak. Kritik dan pujian mengalir.

Episode pertama itu pula yang membuat Datok Noor M. Chalid—akrab dengan tokoh kartunnya: Lat—menerima saya di Kuala Lumpur, 11 Februari 1995. Ia menjemput saya ke bandara dengan Pajero, yang ia kemudikan sendiri. Ia mengajak ke sebuah klub eksekutif tak jauh dari Masjid Raya, Kuala Lumpur. Di sana sambil makan siang dengan nasi beralaskan potongan utuh daun pisang, kami saling tertawa, bagaimana serial Kampong Boy, dibuat di Kanada, sebagian proses dikerjakan oleh animator Filipina.

“Batang kelapa berdaun pisang, pisang berdaun kelapa. Pedati jadi macam kereta kuda kerajaan,” ujar “Lat“. Kami lalu terbahak-bahak, menertawakan para desain karakter Kanada tidak pula tahu beda kelapa dan pisang, juga pedati hanya gerobak, kayu segi empat ditarik sapi atau kerbau.

“Segera tahun depan, saya akan berkunjung ke studiomu, kita jajaki kerjasama produksi, karena di Indonesia biaya produksi rendah,” ujarnya.

Rencana Datok “Lat” itu tak pernah kesampaian. Sebab di penghujung 1995, seluruh dana produksi yang saya miliki dengan jumlah serial animasi kelar 6 episode, mencapai hampir Rp 2 miliar terbenam sudah. Pre Letter of Intent dari sebuah televisi lokal yang berkenan membeli dan menayangkan, tak kunjung kontrak. Padahal saya berkenan mereka beli di harga berapa saja. Toh sudah ada komitmen pasar global. Karena tiadanya kontrak, saya kesulitan mencari loan ke perbankan lokal.

Produksi yang rampung enam episode itu mustahil dipasarkan, karena untuk tayang setidaknya perlu 13 episode, dan untuk dijual ke pasar globali dealnya 52 episode satu paket, minimum 26 episode.

Maka khatam sebuah upaya membangun sebuah animasi dalam kerangka industri itu.

Sepuluh tahun silam kepada Agung Sanjaya, animator di Bali, memiliki studio mengerjakan bagian proses animasi untuk banyak produksi serial Jepang, seperti Dora Emon, Candy-Candy, bahkan untuk film animasi layar lebar Jepang, saya sampaikan ide untuk ke depan memproduksi serial Wayan dan Made.

Sebab dari Sanjaya saya mengerti bahwa Jepang tidak bakalan mendukung industri animasi negara lain. Karena itu salah satu credential asset mereka, baik sebagai industri, maupun penetrasi budaya. Di Bali orang kita hanya menjadi tukang yuntuk Jepang, sebatas meraih gaji tak seberapa.

Maka, ide tinggallah ide. Kini Indonesia, heboh Upin Ipin.

Mencari permodalan untuk bisnis kreatif di Indonesia amatlah sulitnya. Apalagi yang namanya venture capital riil yang saya teriakan sejak 25 tahun lalu, untuk dunia industri kreatif Indonesia, hingga kini masih isapan jempol belaka.

DI MEJA saya ketika menuliskan literair ini, menggeletak buku Undang-Undang Nomor 11, 2008, tentang Informasi Transaksi Elektronika (ITE). Di bagian halaman awalnya, ada tanda tangan seorang Dirjen Aplikasi Telematika, Depkominfo. Pada awal ia menjabat sempat saya paparkan potensi Indonesia di konten dan animasi. Karena, Departemen inilah salah satu yang sedianya mampu mengembangkan animasi menuju industri, bekerjasama dengan Departemen Perindustrian dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

Namun belakangan hari, sang Dirjen boro-boro mengembangkan industri animasi untuk konten telematika, malah membuat UU ITE yang mengakibatkan ranah kehidupan seakan gonjang-ganjing, bahkan seorang ibu menyusui macam Prita Mulyasari, harus dibuikan tanpa bisa pamit ke anaknya yang lagi disusui.

Kala itu saya menggugat UU ITE ke Mahkamah Konstitusi (MK), seakan seorang diri. Kawan-kawan media kala itu belum ngeh. Sang Dirjen, di persidangan sempat membawa artis Azhari bersaudara, sehingga konten pasal 27 ayat 3 yang saya gugat, soal beratnya hukuman ihwal pencemaran nama baik, seakan beralih ke sisi privat artis yang harus dilindungi. Dan kuat dugaan saya sang artis datang ke MK dibayar dengan uang Departemen, uang rakyat.

Kini mantan Dirjen itu sudah pula menjadi Komisaris sebuah bank BUMN papan atas. Dilihat dari portofolio karirnya, mampu melompat-lompat dalam hitungan pendek; Sebelumnya Kepala PT Pos Sumut, lalu tak sampai setahun jadi salah satu jajaran pimpinan Percetakan Uang Negara RI (Peruri). Maka pahamlah saya, bahwa bicara dengan pejabat negara, menjadi seakan menghadapi tembok.

Di Departemen Perindustrian, saya pernah merintis pengadaan motion capture. Alat untuk meng-capture gerak, sehingga mempercepat proses produksi. Departemen manganggarkan untuk dua tahun uang negara Rp 3,7 miliar sesuai dengan alat asal Inggris yang saya rekomendasikan: 18 kamera infra red, real time.

Ketika turun anggaran tahun pertama Rp 1,7 miliar, eh, kawan di AINAKI (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia), dimana organisasi ini saya salah satu pendiri—bahkan logonya pun goresan tangan saya sendiri—bersama sang Departemen, malah membeli kamera berkualifikasi sangat rendah dengan spesifikasi kualitas VGA, yang tak sampai Rp 200 juta didapat di pasaran. Hal ini harusnya diverifikasi KPK.

Dengan membeli peralatan dari Inggris, padahal tetap ada profit 5%, industri tertolong peralatan terpakai untuk kepentingan industri secara riil.

Dan di tahun berikutnya saya tak tahu lagi. Konon alat yang telah dibeli berkriteria VGA itu menganggur. Padahal setelah motion capture, saya mengharapkan negara mendukung pembelian jaringan komputer untuk merender: Rendering Farm.

Apa dinyana, wong motion capture gagal, apalah pula rendering farm.

Saya kemudian lebih memilih menulis untuk publik. Dari jauh saya amati banyak sekali sosok mengaku begawan di dunia animasi di Indonesia, tetapi belum ada yang mampu menjadi sebuah industri memproduksi 52 episode.

Maka ketika di event Indonesia ICT Award (INAICTA) 2010 ini ada animasi 3D Larjo, masuk sebagai pemenang, Riza Endartama, animator, lalu menjawab ucapan selamat saya di facebook-nya, “Iya kan berkat upaya abang juga dulu.” Ketika masih aktif di AINAKI dulu, kami memang sempat meminta usulan kawan-kawan animator membuat rencana serial. Larjo (singkatan Lalar Ijo) salah satu yang terpilih untuk dicarikan solusi menjadi serial, minimum hingga 26 episode, pada 2004 lalu.

Kini dalam hati terkadang ada rasa berkecil hati; apalah kita dibandingkan Malaysia kini dengan Upin Ipin saja kita telap.

Toh Larjo saja barulah berdurasi 5 menit, tidak pula sampai sepuluh episode.

Saya terkadang senyum dikulum. Menertawakan diri sendiri: tahu jalan menuju roma, apa daya tangan tak sampai. Jadi ingat sosok Jarjit Singh, acap berpantun di serial Upin Ipin, “Satu dua buah manggis, gagal tak usahlah menangis.”

He he he

Begitulah kawan-kawan, sebuah narasi tentang animasi yang tak kunjung menjadi industri di negeri ini. Rindu akan pemimpin negeri ini paham akan potensi dan peluang credential asset anak bangsanya.

Selamat merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan! []

Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: