Tag Archives: perempuan

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

[Buku Baru] Perempuan di Balik Kabut

Segera terbit sekumpulan cerita, karya Susy Ayu “Perempuan Di balik Kabut“. Kata pengantar: Seno Gumira Adjidarma. Tebal 122 halaman.

Spesial: Bagi 100 pembeli pertama mendapatkan bonus satu buku Kumpulan Puisi Susy Ayu “Rahim Kata-Kata” (2010).

Harga pre-launching Rp. 40.000,-  dengan tandatangan pengarang. (belum termasuk ongkir).

Pesan sekarang. Hubungi segera akun Facebook Susy Ayu. Tersedia di TB Gramedia pada November 2011.

**
Simak Sejumlah Cuplikan Berikut:

Setangkai Lily dari Peking.

“Pacaran kamu sekarang sama pribumi?” Suatu hari papa menegurku dengan keras di depan rumah ketika Iwan baru mengantarku pulang dari pameran photography. Aku tidak diberinya kesempatan bicara.

“Berapa lama kamu ngabisin duit orang tuamu? 18 tahun? 19 tahun? SMA kamu sudah minta mobil kalo kuliah kamu minta apa? Ganti mobil yang ada tvnya sekalian? Kamu kuliah taruh kata 7 tahun, 3 tahun kamu habiskan di diskotik dan di pusat pertokoan!” Papa tidak berhenti bicara, kemarahannya ditumpahkan pada Iwan.

“Itu untung kalo kamu nggak narkoba. Kalo kamu narkoba, mabuk, ketagihan…orang tuamu akan menghabiskan puluhan juta lagi untuk mengirimmu ke rehabilitasi. Dikira saya tidak tahu? Terus berapa juta lagi untuk mobil baru biar perasaanmu senang, biar kamu lupa sama narkobamu itu? Kalo kamu lulus jadi insinyur, itu udah untung banget. Kamu akan tetap dibayar untuk bikin diskotik dan mall baru agar anakmu bisa belanja lebih gila-gilaan lagi. Generasi apa kamu?”

(dimuat di Minggu Pagi, KR,Yogyakarta)

**
Antara Jalan Tol dan Tepi Pantai

“Apa yg kamu inginkan kemudian?”

“Aku ingin bercinta dengan orang lain di pantai..bukan denganmu! Ini impian terindahku, tapi nggak adil, mas sudah merasakannya bersama orang lain. Perasaan kita nggak seimbang, aku nggak mau..nggak mau!”

“Pilihlah lakilaki lain, bilang kalau kau sudah, dan segera kita wujudkan impianmu itu: bercinta di tepi pantai dengan lakilaki yang paling kau cintai. Ah, kau cintaikah aku. Begini caramu perlakukan cinta kita? Dan kau tahu obsesi percintaanku yang belum pernah terwujud denganmu? Di mobil, di pinggir jalan tol! Aku juga akan melakukan hal yang sama. Ini adilkan, sayang?”

(dimuat di harian Fajar, Makassar)
**
Rahasia Hati

Aku berada di sebuah kafe sesorean dan semalaman tadi, di hadapanku secangkir kopi amat pahit, sejumlah gadis melintas, slender, wangi, mengkilat seperti porselen yang rapuh namun jelita seperti boneka. Gerimis di luar, kupikir mungkin aku kesepian. Aku merasa seperti seekor laron, memburu hangat dan cahaya lalu membentur bentur dinding kaca untuk kemudian mati dalam bahagia.

Ketika kunyalakan rokok, kau melintas di antara ujung rokok dan korekku yg menyala. Di manakah kau? Setelah hembusan pertama kusadari ketololanku, kau ratusan kilometer dariku dalam sebuah rumah dimana kutinggalkan kau dgn sederetan tanya yang panjang.

(dimuat di majalah KARTINI)


**


Nota Perkawinan

Cuma senggama yang bisa menghasilkan gerakan lebih baik dari ini. Beberapa di antaranya mengingatkanku pada itu. Punggungnya melengkung ke atas ranjang, matanya membeliak dengan setetes air mengambang di sudut matanya, dan cengkeraman jari-jarinya. Kurapatkan kedua kakiku mencari sesuatu. Ah, sungguh tidak sopan kataku dalam hati. Tapi aku tidak sanggup menahankan perasaan ini, meskipun aku seorang istri baik-baik. Dan di usiaku yang ketigapuluh enam, susuku masih sekencang delima, hanya saja dengan suami megap-megap macam ini aku merasa agak tersinggung. Tapi ia sekarat, aku bisa melihatnya. .

(dimuat di harian Suara Karya)


[Kajian] Membaca Tarian Jiwa Julia Napitupulu

(Sebuah telaah sederhana tentang kehadiran seorang Julia Napitupulu dalam Buku : JEJAK-JEJAK CINTA TUJUH PEREMPUAN)

 

Oleh Kusnadi Arraihan *)

Tulisan, apapun bentuknya adalah sebuah cermin gerak dinamis dari jiwa penulisnya.  Tulisan adalah wahana yang paling jujur, tentang kedirian seseorang. Banyak hal yang tersimpan dalam gerak tulisan itu. Kehidupan ini bagi seorang penulis adalah bukan hanya ketika dia berbicara soal bakat, tetapi juga merupakan alat seperti katub pengaman untuk melepaskan sebahagian dari beban kehidupan. Itu sebab mengapa menulis tak sepenuhnya hanya mengandalkan panca indera, tetapi juga melewati proses perenungan, aktualisasi imajinasi dan ini tugas dari dinamika kejiwaan penulisnya.

Inilah cermin kesan yang paling terlihat, ketika saya pertama sekali mengenal seorang perempuan pemilik nama Julia Napitupulu, saya hanya mengenalnya dari ruang Facebook, yang notebene diperlukan sebuah kemampuan daya jelajah analisa kita terhadap apa yang ditulis oleh seseorang, karena bisa jadi, tak sepenuhnya kita yang berkerabat di halaman jejaring sosial tersebut pernah saling bertemu muka. Maka pengenalan kita tentang sahabat tersebut biasanya hanya tertumpu pada tulisan yang disajikannya. Dan hal inilah yang coba saya lakukan juga terhadap seorang Julia Napitupulu.

Dalam buku “Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan” yang diterbitkan Penerbit Langit Kata tahun 2011, tebal 168 halaman, memuat tulisan dari tujuh penulis dalam bentuk cerita pendek dan puisi.

Ketujuh penulis tersebut, yaitu : Tina K – Ami Wahyu – Ami Verita – Lely Aprilia – Ayudya Prameswari – Tita Tjindarbumi – Julia Napitupulu. Penyunting oleh Ami Wahyu, foto sampul Thony Tjokro, pewajah sampul dan pewajah isi disajikan oleh Donoem.

Dalam kaitan ini, saya mengkhususkan untuk sedikit menyajikan hasil “penglihatan” saya pada tulisan Julia Napitupulu. Penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi ini memiliki multi talenta, karena di sela-sela menulis, Julia Napitupulu adalah seorang trainer bidang soft competence, seorang pembawa acara, bahkan juga piawai memainkan alat musik piano sekaligus menekuni bakatnya sebagai penyanyi. Benar-benar sebuah jiwa yang tak pernah berhenti menari.

Dalam buku ini, Julia Napitupulu ada menyajikan tiga tulisan, yang sekejap seusai membacanya, ada yang terus bergerak dalam benak, jejak kesan yang ditinggalkan tulisan dari hasil imajinasi penulis ini tak hanya mencari ruang, tetapi juga terus mengelana dalam pikiran. Mengapa demikian? Karena seorang Julia (demikian ia biasa disapa para sahabatnya – atau juga dengan nama Jula, sebuah sapaan penuh historis dari masa kecilnya) menulis dengan sepenuh jiwa yang bergerak, karena hati nurani penulis ini mampu menitipkan “ruh” pada setiap kalimat yang dituliskannya. Dapat kita rasakan nuansa yang demikian jernih ketika membaca salah satu sajiannya pada buku ini, yang ia beri judul “Melodi yang Tercipta Begitu Saja”. 

Dari judulnya saja, sungguh Julia telah berani keluar dari patron penulisan judul karya sastra yang pada umumnya menjauhi makna harfiah, lebih kental dengan penggunaan perumpamaan. Dalam tulisannya ini, Julia menggambarkan betapa sesuatu yang disebutnya dengan “melodi” itu bukan disiapkannya lebih dahulu baru kemudian melodi itu melahirkan banyak senandung. Tetapi justru, dengan kebersahajaan rasa dan jiwanya, Julia mencoba untuk menikmati jalinan kehidupan yang tersambung sebagai tali temali ini, dengan kadar kualitas dan cara-cara yang hebat, sehingga justru kisah kehidupan yang mungkin hal wajar bagi kehidupan orang lain, justru menjadi rahim yang melahirkan banyak melodi bagi kehidupan seorang Julia. Hidup telah dengan baik di-improvisasi olehnya.

Struktur tulisan yang lahir dari seorang Julia Napitupulu sebenarnya tak sepenuhnya kental dengan sastra, hal ini wajar, karena mungkin pengalaman dan latar belakang pendidikannya telah memasukkan unsur psikologi dalam setiap ia menuliskan sesuatu. Tetapi yang terasakan saat menikmati tulisan-tulisannya justru kita berada dalam ruang keindahan yang runut dan seperti memenuhi semua keelokan sastra. Mari kita perhatikan lirik dari tulisannya ini, saya petikkan :

di siang yang bagai hening malam

aku dan lekakiku terbaring dalam pesona

terlontar dari bintang-bintang yang meledakkan kami

dalam warna-warna pelangi

 

wajahnya,

raut lelaki yang tuntas

merekam sensasi

yang masih menjalari pori-pori

aku mengeja damai

diteratur hembus nafasnya

 

Diksi yang disajikannya sederhana, tapi proses pengendapan makna dalam benak setelah memahami dua bait lirik di atas, justru menjadi tidak sederhana. Larik “di siang yang bagai hening malam” adalah sebuah kontradiksi yang indah, Julia lihai sekali memilih bait ini. Pada bait kedua kita perhatikan: “wajahnya, raut lelaki yang tuntas”. O, duhai indahnya. Sebagai lelaki tulen, saya bahkan belum bisa mencerna dengan baik, makna hebat di balik larik itu.

Menikmati secara keseluruhan “Melodi yang Tercipta Begitu Saja” terasa kita memasuki sebuah ruang yang luas, dan di setiap sudut ruang itu ada keindahan yang bersahaja. Pada bagian tengah ruang itu, ada penataan bunga-bunga yang penuh warna. Ruang itu adalah kehidupan itu sendiri. Julia sangat suka menggunakan metafora alam untuk mempersonifikasikan tentang realitas hidup. Dan dalam tulisan ini Julia dengan sangat piawai menggambarkan sosok lelaki, sulit bagi pembaca untuk menyembunyikan kekaguman untuk cara-cara dia menuangkan ke dalam bentuk bahasa.

Kita lihat saja caranya menuangkan sketsa imajinasi tentang lelaki itu. Lelaki yang memiliki wajah sebagai raut yang tuntas, tulang rahang yang kukuh like a wave to the sea, tulang lehernya a bird to the sky, tulang belikatnya sekuat kayu, seliat tanah. Dan banyak hal lain yang digambarkan Julia dengan sangat anggun. Seluruh yang dimiliki lelaki itu pada akhirnya melahirkan sebuah melodi. Sungguh sebuah tulisan yang menjadikan nafas selalu harum, seperti sebuah telaga bening yang eksotis.

Pada tulisan kedua yang disumbangkan Julia dalam buku tersebut diberi judul “Sekarang Aku Tahu untuk Apa Aku Bernyanyi. Sebuah judul yang biasa saja. Tapi sungguh berbeda dengan isinya. Tulisan ini juga terkesan skema prolog, digambarkan seperti dialog, dan dengan menggunakan bahasa yang menghanyutkan rasa.

Kekuatan tulisan-tulisan Julia yang saya kenal memang bercorak seperti itu. Ini yang saya katakana di awal tadi sebagai pengaruh ilmu psikologi yang digelutinya. Artinya, semua puisi dan tulisan Julia selalu menghentak di kedalaman rasa yang terdalam. Sehingga sulit bagi pembaca untuk mengabaikan sebarispun dari larik-larik yang ditulisnya.

Pada tulisan ketiga yang disajikan dalam buku ini, Julia menggunakan bahasa Inggris yang indah, untuk menuliskan keindahan puisinya tersebut. Judulnya pun cukup menggugah “You’re My Every Phrase”. Ah!

Tulisan ini juga tetap menggambarkan tentang dua anak manusia, juga masih menggunakan alam sebagai bagian dari perumpamaan yang hendak diungkap. Dalam suatu pembicaraan, Julia pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia suka menggunakan unsur alam sebagai bagian dari tulisannya, karena hakikatnya alam itu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, dalam perspektif Julia, alam itu adalah realitas hidup untuk mewakili banyak rasa, banyak keadaan, dan itu telah dilakukannya dengan menggunakan idiom-idiom yang memukau.

Secara keseluruhan, dengan tidak mengabaikan kehebatan tulisan dari enam penulis lainnya,  ketiga tulisan Julia yang dalam buku ini diletakkan pada bagian penutup, tetapi justru di sini kelihaian penyuntingnya untuk menjadikan ketiga tulisan Julia ini bukan sebagai “grendel”, tetapi justru menjadi “perekat” imaji pembaca terhadap buku ini. Karena ketika kita menyelesaikan keseluruhan isi buku ini, maka ketiga tulisan Julia ini menjadi bagian penting dari “penahan kesan menarik” terhadap keseluruhan isi buku.

Sebuah tulisan memiliki banyak tanggung jawab untuk mewakili suatu keadaan di tengah khalayak, tulisan tentang cinta, tentang anak-anak, tentang remaja, dan tentang orang tua, bahkan tentang keseluruhan hidup manusia, adalah warna yang membuat kita faham tatanan masyarakat berserta pola pikir yang bergerak membentuk peradaban. Dan seorang Julia Napitupulu tengah berusaha menggeluti semua kemampuan bakat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Dalam setiap tulisannya, perempuan Batak ini benar-benar memproses sebuah tulisan seperti menjaga sebuah proses kelahiran seorang anak, sedemikian rupa dia menjaga seluruh kualitas, dan ini juga yang membuat dirinya, dalam segi kuantitas tulisan agak tertinggal dibandingkan dengan bakat menulisnya yang sebenarnya sangat baik itu. Ini masalah sikap dan komitmen, dan seorang Julia menjaganya menurut perspektif yang dimilikinya.

Ada rasa kagum yang terselip, di tengah gelombang aktivitasnya yang demikian padat, belum lagi urusan perannya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, seorang Julia Napitupulu masih sempat menulis. Bisa jadi mungkin bukanlah tulisan yang fenomenal, tapi di ruang rasa jiwa saya, tulisan Julia selalu memberikan nuansa keanggunan yang memukau.  Karena membaca tulisannya seperti menyaksikan jiwanya menari-nari, mengisi semua ruang sambil terus bergerak dinamis, dengan ritme dan tempo yang indah. Julia Napitupulu adalah sebuah jiwa yang terus menari. ***

16 Mei 2011

*) Kusnadi Arraihan – Penikmat Sastra. Menetap di Medan.

The Dancing Soul (illustrasi oleh Ardi Nugroho, Surabaya)

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com


Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita

Oleh : Julia Napitupulu

 

 

Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas ya). Peristiwa tadi sebetulnya ga perlu terjadi, kalau saja kamu bisa pegang beberapa nasihatku…ini mengenai bagaimana memahami (atau istilahmu: menangani) Putri kita:

Yang Pertama, jangan pernah lupa bahwa anak perempuan kita seorang Wanita, seperti Aku. Mungkin ukuran dada kami berbeda tapi dia tetap W A N I T A, terima dan pahamilah fakta ini.

Kedua, mengenai koleksi bonekanya. Tak usah kamu coba untuk bernalar berapa banyak boneka yang harus ia miliki, dan mengapa pula semuanya harus dalam warna pink), karena aku juga ga bisa menjelaskan kepada buku kas belanjaku, kenapa aku harus beli lipstik lagi, padahal yang tiga terakhir, setahun juga ga bakal abis.

Ketiga, mengenai frekuensi nonton Barbie. Meskipun dia sudah nonton film 129 kali, so what kalo dia masih pengen? Temenin aja kenapa sih? Ga usah terlalu takut dia bakal ke-Barbie-berbie-an. Aku tadinya juga anti Barbie kok, sampai aku pelajari kalau Barbie jaman modern udah beda. Kenapa memang kalau Putri kita Cantik, sekaligus Seksi, sekaligus Pintar, plus Berbakat, plus Berani dan Berhati Mulia?? Sudah tak berlaku lagi tuh filosofi konyol: “Daripada Cantik tapi Bodoh, mending Jelek tapi Pintar”.

Sehubungan dengan masalah Barbie, nanti kamu tinggal ajari dia bagaimana memilih Pria Terbaik dari sepeleton Pria Keren yang tersandung jatuh karena cinta pandangan pertama sama dia. Pesonanya emang udah begitu, udah bawaan orok.

Aku merasa kamu agak enggan untuk main rumah-rumahan sama dia. Padahal dunia sudah membuktikan bahwa Pria Straight juga bisa menjadi ratu di dunia persalonan, perkulineran, musik, dan dunia otak kanan lainnya? Jadi ga usah merasa jadi wadam kalau kamu menemani anakmu main rumah-rumahan, sisir-sisiran, dan juga ga usah repot mikir mengenai aturan main, siapa menang, siapa kalah. Itu hanya cara untuk meng-enjoy sebuah hubungan. Just be natural & go flowing with her…(jangan lupa ajak anak laki-laki kita juga).

Keenam, bisa ga kalau dia lagi main masak-masakan dan kamarnya seperti kapal pecah, kamu turut merasa happy dengan excitement-nya? Dan bukannya komplain dengan kamarnya yang berantakan? Suasana kapal pecah itu salah satu cara dia mencintai kehidupan, sama seperti dapurku yang kayak abis perang padahal cuman masak teri sambel pakek pete.

Yang ketujuh ini penting-ting banget..(p.s.: aku sampai gemeter terharu tau ga sih nulis ini). Lain kali, saat dia mendatangimu dengan berurai air mata, dan mulut tertarik ke bawah, apa pun yang sedang kamu lakukan, listen to me: a p a p u n, letakkan itu dan simak dia baik-baik. Itu moment of trust yang bisa kamu bangun atau kamu hancurkan, saat itu juga.

Kedelapan. Ini juga maha penting: jangan langsung percaya kalau dia berkata: ‘aku happy, Papa’. Kami, para wanita, punya 5 lapisan rasa…simak yang tersirat di belakang kata.

Kesembilan. Ini sebenarnya nyambung dengan yang pertama. Hanya karena Kamu Papanya dan dia putrimu, bukan berarti kamu bukan Pria dan dia bukan wanita. Oleh karena itu sadarilah bahwa ada masanya kamu memang tak berdaya luluh lantak kalah hanya oleh sorot matanya, tetap bukan alasan kamu harus menguras kantongmu untuk memborong seluruh isi mall untuknya. Belajar mengendalikan dia dari aku. Ijazah-ku udah delapan dalam hal begitu-begitu.

Terakhir nih. Suamiku. Aku tau kamu lelah utk menafkahi kita, dan menata kerajaan ini agar aman lohjinawi sepeninggalmu kelak…tapi pernah-kah kamu berpikir, bisa saja aku yang meninggal duluan kan?? Karena aku merasa dia sudah cukup belajar mendengar, menari, beres-beres, bergaul dan melatih kepekaannya. Tapi kurasa dia masih perlu belajar untuk menerobos waktu 10 tahun ke depan, berkuda di jalur terdepan, bangkit untuk yang ke-100 kali setelah 99 kali jatuh, juga menantang derita fisik demi kebenaran dan kejujuran. Itu TUGAS MU, Suamikuga semuanya bisa ku-handle meski aku nyaris superwoman. Karena itu, jangan terlalu serius untuk mengamankan kerajaan dari badai dan topan, tapi hiruplah juga sarinya. Puaskan lah matamu saat melihat putrimu sedang kasak kusuk cekakak cekikik dengan ibunya, itu momen terindah, yang membuat tubuh lelahmu bisa segar lhoh, dengan seketika…Betapa waktu seperti Pencuri, Sayang…

Aku udah nangis setengah jam…ketahuilah, tulisan cakar ayam ini puncak kelelahanku dan juga bukti sayangku. Semoga terbaca oleh mata hatimu ya…

Tertanda,

Lady of the House & Penguasa dapur kerajaanmu

[]

 

(p.s.: yang masi tetep keren meski udah brojol beberapa kali…)

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.

 


Perempuan Perdamaian

Oleh Syaiful Alim

 

 

Jilbab hitam membalut rambut

serta dada gadis palestin itu begitu berlumut

lembab oleh darah dan dendam tersulut

namun keelokan wajahnya tak nampak surut.

 

Ia mencungkili kerikil di sisa rumah runtuh

untuk mencicil membangun gubuk kedamaian penuh

di kecamuk perang, perang yang selalu tumbuh.

 

Ia mendengar gemuruh pilu

jilbab disingsingkan, berlari menuju bising peluru

menemui anak-anak di kemah-kemah pengungsi

mengajak mereka membaca sajak dan bernyanyi.

 

Larik-larik sajak yang tergeletak di pecahan peluru.

Lirik-lirik lagu yang dicetak dari derap sepatu serdadu.

 

Dalam hujaman tembak mereka bersajak.

Dalam kejam amunisi mereka bernyanyi.

 

Aduhai, siapalah yang terkoyak dengan lembut sajak.

Aduhai, siapalah yang terkulai dengan merdu lagu.

 

Dengarlah. Dengarlah. Sajak itu makin mengombak.

Dengarlah. Dengarlah. Nyanyi itu makin nyeri.

 

“Kami sabar menanti kuncup perdamaian mekar

Seperti kami sabar menggauli lapar.”

 

“Kami kumpulkan kuntum-kuntum zaitun selagi bisa

Kami pikul harum harapan yang masih sisa.”

 

“Kami menangis tanpa air mata

Kami mengemis mata air di langit tak bernama.”

 

“Kami merdeka dari segala penjajah

Kami hidup dan mati di bumi sejarah.”

 

“Kembalikan Ayah-Ibu kami

Kembalikan darah-rindu kami”

 

Lihat. Lihatlah. Langit koyak oleh nyaring nyayi itu.

Lihat. Lihatlah. Bumi retak oleh runcing sajak itu.

 

Tapi tetap saja pedang berdenting

perang berdesing

beribu kuncup zaitun jatuh pecah berkeping

berjuta tubuh terbaring kering.

 

Beri kami roti gandum

sudah lama kami mati oleh leleh dentum.

Beri kami zaitun sekuntum

sudah lama kami tak mencium harum.

 

Tapi siapa yang memberi, jika tangan-tangan putus berserakan di lantai rumah ibadah

jika kapal-kapal sembako terjungkal di lautan darah

jika toko-toko hancur roboh berterbangan tak tentu arah.

 

Siapa? Siapa? Siapa?

 

Jawab! Jawab! Jawab!

 

Sesungguhnya apa yang kita ributkan?

Apa yang kita perebutkan?

 

Apa? Apa? Apa?

 

Jawab! Jawab! Jawab!

 

Perempuan perdamaian terus bersajak dan bernyanyi

sepi makin rinai

api amunisi makin ramai.

 

 

2010.

 


Perempuan dalam Hujan

Oleh Syaiful Alim

Aku memandang hujan dari jendela kamar rumah flatku. Hujan ini membawaku padamu, perempuanku. Bukankah kau suka hujan? Masa kanak-kanakmu datang lagi jika hujan mengguyur bumi yang belukar. Kau keluar kamar. Bermain basah dengan air. Rambutmu yang panjang tergerai itu kaubiarkan dicumbu bibir hujan. Bibir hujan bersujud di rambut lembutmu. Aku, lelakimu, cuma bisa memandang tubuhmu dan mendengar teriak kanakmu. Karena aku tahu seusai ini kau akan berkata, “Cinta, peluk aku.” Begitulah kau menjaga kehangatan cinta. Kaujadikan hujan sebagai jalan untuk menggodaku dan memasak sesakku. Mungkinkah kelahiranmu disertai dengan turunnya hujan? sePertanyaan ini masih kusimpan. Aku belum berani bertanya padamu. Dan mungkin kau sudah tahu bahwa aku jatuh cinta padamu juga karena hujan. Hujan sore itu. Hujan yang melahirkan pelangi.

Kilau warna-warni pelangi itu sembunyi di teduh matamu dan lesung pipitmu. Jika pelangi itu tak muncul lagi di langit ini, aku masih bisa menatapnya, menatap dan mendekap mata teduh dan lesung pipitmu. Akhir-akhir ini pelangi sulit melahirkan warna-warni cahaya. Peperangan yang tak henti-henti, pertikaan dan pembunuhan selalu tumbuh di bumimu dan bumiku. Burung-burung lupa jalan pulang. Sarang-sarang mereka yang bertengger di reranting, rerimbun daun dan ketiak pohon kurma telah hangus terbakar. Asap-asap menyesak dada. Mungkinkah umat manusia kini lebih tertarik pada logika perang dan pedang? Seolah peperangan adalah jalan menuju perdamaian. Betapa deras airmata dukaku jika ayat-ayat Tuhan diperalat untuk menumpuk mayat. Berapa kali kita akan melayat bersama lalat. Mungkinkah dunia sudah terhipnotis mantra-mantra berikut ini:

“Setiap aliansi yang tidak dimaksudkan perang, sama sekali tidak ada gunanya.” (Adolf Hitler)

“Setiap orang yang tidak ikut perang, harus bekerja untuk kaisar, tanpa upah, untuk suatu masa tertentu.” (Jenghis Khan)

“Semua perang menghendaki perdamaian.” (St. Agustinus)

“Hiduplah dalam keadaan perang.” (Friedrick Wilhelm Nietzsche)

Kau perempuan dalam hujan. Aku sengaja menjebakmu dengan hujan. Hujan yang turun dari langit sajak-sajakku. Seperti biasanya kau keluar kamar menyambut hujanku dengan kerongkongan kemarau. Dan aku mengamati tubuhmu yang utuh dan basah dari simpang jalan. Sambil membawa pencil dan kertas, aku catat setiap gerak dan teriak serak merdumu. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu. Kau jatuh cinta pada sajak-sajakku dan aku jatuh cinta pada gerak dan teriak serak merdumu. Gerak tubuhmu yang lincah dan deras hujan sudah beberapa kali menetaskan sajak-sajak dari jemariku. Suara teriak serakmu mengoyak sepiku. Sepi yang pisau. Menusuk-nusuk daging adamku. Mengalir darah sederas hujan itu.

“Cinta, peluk aku!”

Kauulangi lagi pintamu. Aku tidak memelukmu. Aku lebih baik memberimu handuk. Aku yakin kau masih ingin menikmati basah hujan yang melekat di tubuh dan rambutmu. Usaplah tubuh dan rambutmu, sayangku, bujukku. Dan sudah kuduga apa yang terjadi: kau menolak dan melempar handuk ke lantai, lalu menubruk tubuhku, tubuh karang.

“Aku suka tubuh karangmu.”

Kau selalu mengulang kata-kata itu di depanku. Sungguh aku belum pernah menjumpai perempuan yang begitu jujur seperti kau. Kau selalu jujur dengan nafsumu. Kau selalu jujur dengan pujianmu. Aku suka tubuh karangmu. Rayumu itu membuat nafasku memeluk nafasmu. Dan aku tak berhenti memelukmu sebelum kau meraung dan mengerang.

“Tubuhku memang karang, Sayang, namun di gelombang lautmu aku sering tumbang.”

Hujan dan perempuan. Bukankah kedua jenis mahkluk ini bisa menghidupkan dan mematikan? Aku selalu memandangmu sebagai hujan yang turun membasahi tanah-tanah retak dan sawah-sawah kering. Menumbuhkan tunas pohon yang meranggas. Menumbuhkan benih-benih kehidupan. Membangkitkan akar-akar pepohonan dari trauma panjang. Aku pun sadar, sewaktu-waktu kau menjelma hujan bandang yang memporak-porandakan rumah sembahyang, gedung-gedung, dan ladang-ladang.

Kau hujan santunku, Sayangku. Hadirmu kaupersembahkan kepada akar-akar pepohonan yang terkapar, kembang yang hilang tembang, rerumput yang surut denyut, kerongkongan padi-padian dan umbi-umbian yang kerontang, suami-istri yang berbagi punggung, dan aku yang murung.

Daun-daun pohon kurma berisik diusik angin cerdik. Tubuh hujan yang terpelanting di atap genting menjadi bebunyian denting, namun aku merasa hening. Butir-butir air itu mengalir mencari lubang dan kubang. Wahai hujan, di sini, di negeri ini, kau tak kan menjumpai yang kau mau. Cuma pasir dan debu muaramu berakhir. Seperti aku. Iya, seperti aku yang mencari dermaga bagi badai resahku malam ini. Cinta dan rinduku ditentukan oleh kawat yang merambat di udara dan kabel bandel yang suka membuat sebel. Dolar di sakuku selalu terkapar ketika aku merindu suaramu. Suara serak merdu itu. Ah, cinta memang hanya serindang pohon, sisanya air mata yang memohon. Ah, cinta memang hanya semanis buah manggis, sisanya air mata yang menitis. Ah, cinta memang hanya sesuap nasi, sisanya lumbung padi yang belum terisi. Ah, cinta memang sehelai puisi, sisanya pisau yang sepi. Ah, cinta memang sedesah berahi, sisanya resah yang berujung pada mati.

“Apa yang akan kita lakukan jika bertemu?

Diam batu? Atau meredam nafsu?

Bermain gitar? Atau menusukkan puisi pisau di daging sepiku?”

Ha ha…. Tanyamu yang bertubi-tubi itu membuatku tertawa. Sungguh aku belum tahu apa yang akan kuperbuat. Akankah aku menjelma seekor singa lapar? Akankah aku menjelma pengungsi yang seminggu belum mencium bau beras setakar? Atau lebih baik aku merawat getar dan debar agar mekar mawar? Kelak kita nikmati wangi, meski diri ditikam-tikam duri.

Perempuanku, aku berandai, jika hujan malam ini adalah kau….

*BISA DIBACA VERSI UTUH DALAM NOVEL KIDUNG CINTA POHON KURMA. SUDAH BEREDAR DI TOKO BUKU ATAU PESAN VIA INBOX FACEBOOK SAYA.



Enam Benam Dalam Benak

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Pohon Randu

Bunga randu memeluk tangkai

angin meliuk lihai.

Rindu lapuk sehelai demi sehelai.

 

(2) Kafe Kopi

Pekat tandas ke dasar gelas.

Bibir rekat rakaat deras

bubar debar, disambar selebar ruas.

 

(3) Buku

Buka buku kemarau.

Dedaun kaku, rasa risau

berayun kangen Ibuku.

 

(4) Kursi

Sabar diukur kursi.

Debar akur, detak jam melandai.

Dada dilanda lindu puisi.

 

(5) Daun Talas

Lamat-lamat bibir hujan lumat tubuh perempuan.

Beri aku daun talas, Tuan.

Amat ikhlas ulas elus Jumat Tuhan.

 

(6) Apel

Ulat menggeliat di liat kulit.

Kau rindu, lahap sedikit.

Tersedu dan sakit.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Teristimewa #4

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #3 ]

Oleh Ade Anita

Dari Celah Hingga Jalan Raya

I. Celah

Sebuah lubang yang terjadi tanpa sengaja.

Sebuah lubang tempat kesempatan bisa didapat.

Sebuah kesempatan yang terjadi hanya satu kali.

“Ibu menikah dahulu dengan bapak usia berapa?”

Aku bertanya pada perempuan yang terlihat putus asa di hadapanku ini. Mungkin ini pertanyaan yang tidak penting. Bukankah tak berguna bertanya pada daun kering yang tergeletak di atas lumpur, siapa yang menjatuhkannya dari ranting pohon? Tapi sebuah kenangan cinta yang terekam baik selalu menerbitkan seulas senyum. Dan aku melihat setitik warna merah jambu di pipi yang tirus.

“17 tahun.”

Wah… Sweet seventen dong. Siapa naksir siapa nih?”

Sebuah senyum merekah di wajah tirus yang sumringah.

II. Pelangi

Tujuh warna fantastis yang menghiasi langit yang basah.

Merah yang membara oleh gairah.

Hijau yang khusyuk.

Jingga yang genit.

Kuning yang lembut.

Biru yang mengemban rindu.

Nila yang tegas.

Ungu yang tegar.

Semua air mata bidadari yang jatuh bersama hujan, tersapu oleh indahnya pelangi.

Lengkungannya selalu mampu membuang lara.

“Kami dahulu menikah sirri. Bawah tangan. Sudah kadung cinta mati sama bapak. Jadi nggak peduli lagi meski orang tua nggak setuju. Jadi meski hidup susah tetap saja rasanya tentrem. Tapi sama orang tua akhirnya direstui sih, jadi nikah ulang biar dapat buku nikah.”

Lalu mata yang cekung itu mulai melirik ke arah dinding yang penuh dengan bercak-bercak jamur. Hitam. Licin. Bau. Dan disanalah terdapat sebuah bingkai sederhana yang berisi sebuah potret. Seorang pemuda tampak tersenyum bahagia mendekap seorang gadis remaja yang tertawa lebar. Rona bahagia menebar. Menghalau bau tengik jamur yang menempel di dinding yang tampak lusuh. Bagai pelangi yang menghalau gerimis yang miris.

III. Atap

Sinar mentari yang perkasa tak dapat menembus atap.

Padanya kita memperoleh kenyamanan untuk berteduh dari terik.

Tapi sebuah lubang kecil tak dapat menghalau tembusan cahaya.

Pada sebuah titik terang yang tertahta di lantai semen, mataku tertuju.

Lalu menelusuri sulur cahaya yang terbentang antara noktah cahaya dan lubang di atap.

“Setelah menikah, langsung menetap di sini atau masih tinggal dengan orang tua?”

“Masih tinggal dengan orang tua saya dulu. Suami belum bekerja. Dulu orang tua suami hidup dari kontrakan. Terus bapak mertua kasi modal untuk jualan cendol, dibeliin gerobak, stoples. Ya sudah suami kerja, baru saya ngontrak di petakan. Pas orang tua suami meninggal, saya tempati rumah ini. Ini semua petak-petak punya sendiri, nggak ada yang ngontrak. Dulunya kontrakan, tapi dibagi-bagi warisan jadi dah ditempati ama anak-anaknya.”

“Berarti semua ini satu deret masih pada saudara suami semua dong?”

“Ya gitu deh. Tapi percuma sodara juga, pada nggak mau nulung.”

Angin datang berhembus. Angin musim kemarau yang membawa hawa panas. Terdengar suara berderit dari arah samping rumah. Entah berapa lama kayu-kayu galar itu bisa menopang doyongan rumah yang makin miring ini. Rumah reyot ini bisa rubuh kapan saja.

“Saya bingung mbak. Anak saya mau sekolah, yang kecil mau masuk SD, yang besar mau naik kelas dua SMP. Mereka belum beli seragam. Yang SMP bahkan belum bayaran tiga bulan padahal minggu depan sudah harus lunas biar bisa ikut evaluasi. Habis, suami saya sakit sejak tiga bulan yang lalu. Jadi nggak ada yang keliling jualan. Hutang kami dimana-mana. Semua barang sudah kami jual untuk biaya berobat bapak kemarin. Saya takut lihat para tukang pukul itu datang.”

Aku tercenung. Menatap sekeliling isi rumah yang lengang. Semua barang di rumah ini adalah barang yang dipungut dari pinggir jalan. Atau barang yang tertinggal bertahan karena memang tak ada yang sudi membelinya. Meja makan yang kakinya patah satu hingga harus diganjal dengan batu. Atau kasur springbed yang bagian tengahnya sudah melesak ke dalam. Yang tampak hangat mencerahkan hanyalah foto sederhana tentang seorang pemuda yang sedang merangkul seorang gadis muda yang tertawa penuh bahagia.

Aku termenung. Lalu kembali menatap noktah cahaya yang tertahta di atas lantai.

Menelusuri jembatan cahaya yang mengantarkan mataku pada sebuah lubang di atas atap.

III. Cendol.

Minuman dingin yang terdiri dari adonan tepung beras yang disaring dengan saringan khusus hingga membentuk pilinan mungil. Disajikan dengan pemanis gula merah dan parutan es.

Aku suka cendol. Murah meriah menyegarkan.

“Cendolnya dulu bapak bikin sendiri?”

“Iya.”

“Ibu sendiri bisa bikin cendol?”

“Bisa.”

“Berarti, setelah bapak meninggal ini, ibu masih bisa nerusin usaha bapak dong, untuk jualan cendol?”

Perempuan di depanku menggeleng. Penuh putus asa dia menatap kedua anaknya yang setelah makan nasi bungkus, kini tampak tertidur kelelahan di atas lantai.

“Saya bisa bikin cendol, tapi saya belum pernah berjualan cendol. Kaki saya reumatik, apa bisa keliling kampung menjajakan cendol?”

“Iya sih, berat memang. Biasanya, kalau reumatiknya kambuh diobati apa bu?”

“Minum sari daun bayam liar.”

“Bayam liar? Maksudnya? Beda ya dengan bayam biasa di pasar?”

“Beda. Itu loh mbak, di trotoar, di pinggir selokan, di bawah tiang listrik, biasanya suka tumbuh tanaman yang daunnya mirip bayam. Nah, itu dipetik, ambil daun pucuknya saja dan batang mudanya, cuci bersih, rebus terus diperas airnya. Airnya itu bisa untuk menghilangkan sakit reumatik.”

“Oh ya?”

Kadang, kita sering tidak menyadari bahwa nikmat dan kemudahan yang diberikan Allah sungguh amat sangat tidak terbatas jumlahnya. Tak mampu rasanya untuk dihitung satu persatu. Bahkan untuk si miskin yang tidak mampu membeli apa-apapun disediakan juga obat-obatan gratis di sepanjang jalanan yang terbentang.

“Wah, setiap hari saya selalu jalan kaki mengantar anak saya sekolah. Nanti deh saya bantu juga mengumpulkan daunnya itu agar ibu bisa segera bekerja. Jalanan yang saya tempuh cukup panjang. Setiap hari, saya bisa ganti variasi rute jalanan agar setok daunnya tidak pernah kekurangan. Ibu harus bangkit, bekerja. Berat pasti, tapi sekarang sudah tidak ada pilihan lagi. Karena segala sesuatunya memerlukan biaya. Anak sekolah, makan, bayar listrik, bayar hutang, semua memerlukan uang.”

“Tapi saya takut tidak bisa. Aduh, saya tidak bisa. Bagaimana jika saya tidak bisa membayar semua itu?”

“Pelan-pelan. Semuanya dijalani secara bertahap saja. Sementara saya hanya bisa membantu mengumpulkan daun dulu mungkin. Yang penting, ibu yakin dulu ibu bisa dan Allah pasti akan memberi bantuan. Tuhan tidak pernah menelantarkan hambaNya begitu saja. Coba saja lihat, bayam-bayam liar Allah tumbuhkan dengan cepat dimana saja. Sama seperti Mengkudu yang bisa ada dimana saja.”

“Bagaimana jika saya tidak bisa?

“Tapi mereka berdua yakin ibu bisa. Ibu amat berarti bagi mereka berdua.” Aku menunjuk dua kepala mungil yang sedang tertidur pulas.

IV. Jalan Raya

Ada pepatah yang mengatakan kasih ibu sepanjang jalan. Panjang tak terputus.

Sejauh kaki melangkah.

Berderap dengan gagah atau meniti dengan tertatih. Masih ingatkah kita semua kapan pertama kali kedua kaki kita menjamah jalanan?

Tidak. Tidak ada yang ingat bagaimana rasanya ketika pertama kali kaki kita menjamah jalanan. Tapi seorang ibu akan selalu ingat kapan anaknya pertama kali menjejakkan kaki. Karena segala sesuatu ada tahapannya. Dimulai dari hal yang paling mudah dahulu. Bukankah pertama kali kita tidak pernah langsung berjalan dengan dua kaki? Ada kedua tangan yang membantu menopang untuk merangkak.

Terjerembab beberapa kali.

Menangis sakit karena dahi yang terbentur.

Atau lutut yang lecet karena tergores jalanan.

Barulah setelah itu bisa berdiri sambil tersenyum bangga.

Semua ibu akan tertawa lebar ketika melihat anaknya akhirnya bisa berdiri sendiri. Makin bangga ketika anaknya bisa berjalan. Berlari kencang. Lalu tiba-tiba memanggil penuh nada khawatir ketika laju lari anaknya menjauh dari pandangan.

“Hei, jangan jauh-jauh perginya nak, nanti kamu tersesat atau hilang.”

Hmm…. Aku rindu almarhumah ibuku.

Rindu dengan tegurannya yang dulu sering kuabaikan karena aku merasa sudah lebih pandai.

[]

Catatan penulis :

  1. Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada anggota keluarga atau tetangga yang kekurangan tidak dapat melanjutkan sekolah karena mendadak menjadi yatim.
    1. Minta surat pengantar keterangan tidak mampu ke RT atau rw.
    2. Pergi ke sekolah untuk mengajukan keringanan dengan membawa: surat pengantar keterangan kematian orang tua, surat keterangan tidak mampu dari rt/rw, akte kelahiran.
    3. Jika surat-surat itu belum ada, beri keterangan secara verbal pada pihak sekolah tentang kondisi yang terjadi dan ajukan keringanan. Bukti administrasi menyusul.
    4. Ajukan diri anak untuk masuk dalam daftar mereka yang menjadi tanggungan sekolah. Semua sekolah negeri (sd, smp, sma, dan beberapa Perguruan Tinggi Negeri) akan membebaskan anak yatim dari keluarga miskin dari pungutan sekolah dan memasukkan mereka dalam daftar beasiswa dari hasil subsidi silang yang ada di komite sekolah. Tentu ada prosedur khusus yang akan dilalui seperti pengecekan langsung kondisi rumah, pekerjaan orang tua, jumlah penghasilan dan pengeluaran perbulannya, jumlah anggota keluarga. Semua semata agar pemberian bantuan tidak salah alamat atau disalah gunakan oleh mereka yang tidak berhak. Sedangkan untuk sekolah swasta, kebijaksanaan yang diterapkan umumnya bervariasi tergantung kondisi sekolah yang bersangkutan.
  1. Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“.
  2. (al Quran:Al Baqarah: 155-157)

Teristimewa #3

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #2 ]

Oleh Ade Anita

APA yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Mungkin hanya bayang-bayang sepanjang badan. Atau guratan kuning di kaki langit. Tapi bisa juga sebongkah senyum di wajah yang tidak lagi nestapa.

Hati manusia memang tidak dapat disangka. Tak cukup hanya menilai seseorang dari seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Dan jangan pernah tertipu oleh seraut wajah manis nan menawan. Terlebih jika wajah itu dimiliki oleh seorang penipu.

Bertemu dengan penipu adalah hal yang paling menyesakkan. Rusak binasa bangunan rasa percaya. Kacau balau hubungan timbal balik yang telah terbina. Lalu siapa yang harus dipercaya jika rasa percaya sudah dikhianati? Dan siang itu, tujuh tahun yang lalu, aku tertipu oleh pandangan mataku sendiri.

“Jadi, usia bapak berapa?”

“32 tahun.”

“Ah, masih muda. Lalu, ibu sendiri, berapa usianya?”

“29 tahun.”

Perempuan dengan tubuh gemetar itu, ternyata memiliki usia yang jauh lebih muda dariku. Aku nyaris salah sangka, menyandangkan cap sebagai perempuan tua di pundaknya.

“Anak menyangka saya sudah tua ya?”

Aku terkejut, amat khawatir bila isi kepalaku terbaca. “Tidak.”

“Berapa usia anak sendiri?”

Aku menggeleng, enggan menjawab.

“Anak-anaknya sudah besar, pasti sudah lumayan berumur?”

“Sudah lapor rt setempat, bu…untuk memberitahu kematian bapak?”

“Apakah anak eh…mbak sudah mencapai kepala tiga seperti saya?”

“Ah, mungkin lebih baik saya minta tolong seseorang untuk memberitahu pengurus masjid terdekat perihal kematian bapak.”

“Ataukah jangan-jangan sudah mencapai kepala empat?”

Lalu tiba-tiba tangan kurus yang terlihat lemah itu mencengkeram lenganku.

“Berapa usiamu nak?”

“Nggak penting bu berapa usia saya.”

“Tapi ibu ingin tahu nak. Berapa usiamu?”

Cengkeraman itu kian kuat. Dagingku mulai terasa dibenami sesuatu yang menyakitkan. Aku gelisah, bagaimana ini?

“Bu, itu tidak penting. Bapak harus dikuburkan, itu fokus kita hari ini bukan?”

“Bapak sudah mati. Apa lagi pentingnya hal itu? Masa muda saya sudah terlewati olehnya. Kecantikan saya tersedot oleh kesengsaraan yang terlalui bersamanya. Jika dia mati, apa lagi yang bisa saya lakukan? Hidup saya sudah tidak berarti lagi. Masa depan saya sudah terenggut oleh kematian suami saya. Saya tidak punya harapan. Jadi, saya ingin tahu usia mbak sebelum hidup saya berakhir?”

Aku tergugu. Gelisah menggantang galau.

Gamang.

Kehidupan sering terkotak-kotak dalam berbagai perbedaan yang menggelisahkan. Muda dan tua. Cantik dan jelek. Pintar dan bodoh. Kaya dan miskin. Sholeh dan kafir. Terpuji dan terhina. Gendut dan kurus.

“Berapa usiamu?”

Senang dan sedih. Terpilih dan tersingkir. Kalah dan menang. Kecil dan besar. Muda dan dewasa. Laki-laki dan perempuan. Tinggi dan pendek. Modern dan kuno. Baik dan buruk.

“Saya, …ngg…33 tahun.”

Lalu aura di wajah itu pun berubah layu. Perempuan gemetar di depanku mulai menjambak rambutnya sendiri. Tak lama kemudian dia menunduk lalu menangis tersedu. Meraung.

“Tuhan amat sangat tidak adil pada saya. Semua keburukan ditimpakannya pada saya. Lalu lihat apa yang dia berikan pada mbak. Saya hanya menerima sisa. Saya benar-benar sampah, saya benar-benar sampah.”

Aku kian galau. Merasa bersalah dengan kejujuran yang baru saja aku ucapkan.

“Sstt… Jangan bergerak bu. Ada nyamuk di wajah ibu.”

Tangan gemetar itu mengusir dengan sekali kibas. “Bahkan nyamuk pun menginginkan kematian saya lebih cepat.”

PLOK!

Nyamuk mati terpukul. Darahnya muncrat di pipi. Aku tersenyum.

“Bukan bu, nyamuk itu utusan Tuhan yang teristimewa untuk ibu.”

“Kenapa?”

“Berarti ibu amat berarti, hingga darahnya dicari-cari. Sudah, jangan terus-menerus menyalahkan Tuhan. Jika tidak ada nyamuk, mungkin tidak akan berguna semua pemikiran manusia untuk mengusir nyamuk, dan pil kina tidak ada artinya sama sekali.”

Perempuan gemetar itu menatapku lamat-lamat. Tatapannya  terasa mencoba untuk menembus ke dalam kepalaku. Perlahan, aku mendaratkan tanganku di atas telapak tangannya dan mencoba untuk menepuknya secara perlahan. Berharap rasa hangat yang kumiliki bisa sedikit memberinya ketenangan.

Jadi…apa yang disisakan oleh sinar Mentari di sore hari? Rasa sedih karena kehilangan hari yang ceria. Berlalunya waktu dalam kesia-siaan sepanjang hari. Rasa pilu menyambut gelap malam dalam gaun hitam yang muram.

Tidak. Itu bukan gambaran senja yang aku suka.

Baik, sekarang, tanya aku sekali lagi. Apa yang disisakan oleh sinar mentari di sore hari? Keindahan senja yang jingga. Semburat lembayung yang syahdu. Serta keteduhan angin yang berbisik lembut di telinga.

Aku menyukai senja. Apakah kau juga menyukainya?

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Hal-hal yang harus dilakukan ketika ada tetangga terdekat atau anggota keluarga kita meninggal dunia.

  1. Lapor Rukun Tetangga setempat. Petugas RT akan memberikan pada kita surat pengantar keterangan kematian resmi hingga tingkat kecamatan. Adapun biaya yang mungkin dikeluarkan di kelurahan dan kecamatan berkisar antara Rp100.000 s.d. Rp500.000 (tiap-tiap lokasi berbeda-beda kisarannya, dan biasanya tidak diberikan kuitansi).
  2. Lapor pengurus masjid terdekat untuk yang beragama Islam. Tiap-tiap masjid setempat, memiliki dana khusus untuk yang tertimpa kematian. Dana ini dipakai untuk membantu; honorarium sekedarnya bagi petugas memandikan jenazah, memberikan kain kaffan gratis bagi keluarga miskin (tentu saja harus ada surat keterangan kematian resmi dari RT setempat dan surat keterangan tidak mampu, juga dari RT setempat), dan menyediakan peminjaman gratis tenda sederhana sebesar 2 x 3 meter bagi pelayat di rumah duka dan meminjamkan kursi sebanyak 10 buah kursi lipat bagi pelayat. Juga penyediaan satu kotak minuman gelas kemasan, dan membantu memberitahu perihal kematian lewat pengeras suara. Termasuk disini peminjaman keranda mayat gratis.

Mengapa dua hal ini harus dilakukan (terutama jika yang tertimpa musibah adalah keluarga miskin)? Karena siar pemberitahuan lewat pengeras suara tersebut bisa menghimpn dana tambahan dari masyarakat guna keringankan beban yang harus ditanggung oleh yang tertimpa musibah.

Untuk menguburkan mayat, di DKI Jakarta, ada sewa kuburan untuk tiga tahun yang dibayar di muka dengan kisaran sebesar Rp150.000 s.d. Rp300.000 (untuk tanah pemakaman umum di DKI Jakarta, memang diberlakukan sewa lahan kavling, tidak ada hak pemilikan kavling, dimana sewa tersebut berlaku untuk tiga tahun. Setiap tiga tahun sekali, harus dilakukan pembayaran sewa lahan jika tidak maka kavling dianggap terlantar dan berhak untuk dialihkan kepada pihak lain tanpa pemberitahuan sebelumnya).

Biaya membuka kavling kuburan berkisar antara Rp300.000 s.d .Rp2.000.000 (tergantung apakah itu kavling pavorit atau tidak dan tergantung apakah itu termasuk tanah kuburan pavorit atau tidak. Yang dimaksud dengan kavling pavorit yaitu letaknya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya, letaknya yang eksklusif seperti di hook atau tempat yang mudah diingat lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan tanah kuburan pavorit, yaitu tanah kuburan yang menjadi incaran banyak orang karena letaknya yang terkenal dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Misalnya, areal pemakaman Karet Bivak, Menteng Pulo, dan sebagainya.

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #4 ]


Teristimewa #2

[ baca juga kisah sebelumnya di : Teristimewa #1 ]

Oleh Ade Anita

TUJUH tahun itu bermula di hari ini.

Hari dimana matahari bersinar amat terik. Laksana pedang yang menghunus hingga menembus ke dalam kulit. Tulang-tulang pun terasa bergemeretak terpanggang kering. Kulit terasa sakit bagai tercubit-cubit.

Semua orang merasa gerah. Semua orang  juga merasa cemas. Sebilah pisau terhunus tampak sudah bersiap-siap di depan nadi lengan kurus yang gemetar.

Aku mau mati…lebih baik aku mati saja.”

Jangan bu, jangan lakukan itu, ingat Tuhan…Ingat Tuhan.”

Pisau itu pun tertahan karena ada kata Tuhan disebut. Lalu mata cekung itu menatap si pencetus kalimat dengan tatapan nanar.

Siapa Tuhan? Di mana Dia saat ini? Suami saya mati meninggalkan saya dan anak-anak begitu saja. Ada orang yang siap menghabisi nyawa kami karena kami punya hutang dimana-mana? Di mana Tuhan saat ini? Mengapa Tuhan membiarkan semua kesengsaraan ini terjadi pada kami? Mengapa? MENGAPA???”

Lalu kaki gemetar yang menopang tubuh kurus itu pun lunglai kehilangan daya topang. Bagai daun yang kering terjatuh dari ranting . Tak berdaya. Juga kehilangan segala. Diam pasrah pada desakan angin yang perkasa.

Cepat. Ambil pisaunya sebelum nadi terlanjur diputus.”

[]

Tujuh tahun itu bermula di hari ini.

Di siang yang panas terik. Hingga tenggorokan terasa kerontang. Perempuan itu kini sudah ada di hadapanku. Duduk bersimpuh di atas bangku yang busanya sudah menyembul keluar dimana-mana. Mungkin tergerogoti oleh cakar yang kelaparan dan ingin menyulap busa agar berubah menjadi makanan pengganjal perut.

Sayangnya, telah tertebar bolong dan keropos di banyak tempat di atas bangku. Makanan tidak juga terwujud begitu saja. Yang ada sekarang adalah wajah tirus dengan air mata yang sudah mengering.

Alhamdulillah, akhirnya mayat suaminya yang terkapar di depan rumah bisa juga dikuburkan . Dan mungkin kini sudah telentang berhimpit dengan tanah dan sebilah papan.

Jadi, apa yang akan ibu lakukan sekarang?”

Perempuan itu pun menatapku dengan tatapan yang nanar. Kedua bola matanya berwarna abu-abu. Pertanda air mata sudah mulai mengering di dalam danau yang dulu pernah ada di kedua bola mata tersebut. Tak ada sepatah katapun yang terucap . Yang aku temui hanya dua buah bibir kering yang gemetar.

Tangan yang gemetar. Bibir yang gemetar. Kaki yang gemetar. Mata yang nanar. Air mata yang kering.

Bu, ibu sudah makan belum?”

Tak ada jawaban. Hanya ada sebuah kepala yang menunduk kian dalam.

Bu, kapan terakhir ibu makan?”

Kepala tertunduk itu menoleh ke arah dua kepala mungil yang bersimpuh di mulut pintu. Astaga!

Cerita ini bukan cerita tentang perempuan kurus yang memiliki sepasang kaki yang gemetar. Karena di samping perempuan ini ada dua buah kepala yang masih menjadi satu rangkaian tak terpisahkan.

Dik, kalian sudah makan belum?”

Wajah-wajah polos itu saling menatap satu sama lain. Lalu kompak menunduk menekuri lantai. “Dik, kapan terakhir kalian makan?”

Salah seorang anak akhirnya mengangkat dua buah jarinya dengan rasa ragu. Kedua jari yang gemetar. Dari dua buah tangan kecil nan kurus yang juga gemetar.

Dua hari yang lalu, sebelum bapak meninggal.”

Lalu tiba-tiba seekor cicak menjatuhkan serpihan cat yang mengelupas dari langit-langit yang sudah amat rapuh…PLUK.

Tujuh Tahun  itu bermula di hari ini.

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Ini bukan cerita fiksi, juga bukan juga cerita rekayasa. Ini cerita fakta. Atas permintaan banyak teman, mereka minta versi lengkap jalan ceritanya, jadi aku nulis lagi deh bagian berikutnya. Semua cerita benar terjadi, cuma nama tokohnya saja yang diganti masih bersambung terus ya…

[ kisah selanjutnya : Teristimewa #3 ]


%d blogger menyukai ini: