Category Archives: Resensi Buku

[Buku Baru] Gadis Portugis

Gadis Portugis (Mappajarungi Manan)

Judul: Gadis Portugis

Penulis: Mappajarungi Manan

Tebal: 440 halaman; 14x20cm

Tahun terbit: Juli 2011

Harga : Rp.50.000

Penerbit: Penerbit Najah

ISBN: 978-602-978-800-6

***

Ada geletar rindu dalam gelegar perang yang sama-sama dahsyat dalam novel ini!

Saat geletar-geletar cinta itu tumbuh, genderang perang tiba-tiba terdengar demikian keras dan mengerikan…

Perempuan yang tidak memilih jalan pulang

***

Pada abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Kondisi ekonomi Gowa demikian makmur.

Salah satu pahlawan yang berperan penting dan berdiri di balik kejayaan tersebut adalah Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa.

Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar Portugis yang bernama Elis Pareira. Benih-benih cinta pun muncul di antara mereka. Begitu kuatnya cinta mereka, Karaeng Ceddi bahkan sanggup melanggar batas adat-istiadat yang dipegangnya selama ini demi hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.

Apa yang kemudian terjadi? Bagaimana nasib cinta mereka saat perang besar berkobar antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon?

Inilah novel yang berhasil meramu unsur heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik!

***

INILAH kisah gadis yang terseret cinta di medan perang. Bangsawan Palangga jatuh cinta kepada seorang gadis Portugis. Lelaki gagah berkumis tipis dan berkulit putih itu adalah putra penguasa di wilayah Palangga bernama Karaeng Caddi.

Ia jatuh cinta kepada putri bangsawan Portugis Benyamin Pareira bernama Elis. Keluarga terpandang asal Portugis ini tinggal di kawasan Paotere. Keluarga ini pedagang sukses yang mengumpulkan rempah-rempah dari Maluku.

Di dalam novel sejarah berjudul Gadis Portugis ini, getar-getar cinta itu tumbuh ketika genderang perang sedang ditabuh. Belanda terus berusaha mengacaubalaukan Kerajaan Gowa. Karaeng Caddi dan Elis semakin sulit dipisahkan. Pasangan ini berusaha mendobrak tradisi kuat masing masing keluarga.

Kedua orangtua Elis tidak setuju anaknya menikah dengan Karaeng Caddi yang terkenal sebagai putra mahkota di wilayah Palangga. Terutama ayah Elis, Benyamin Pareira ingin anaknya mendapat jodoh dari kalangan Portugis pula.

Sebaliknya Karaeng Caddi yang juga ketat dengan adat, justru melawannya. “Adat Makassar tidak ada yang secara tertulis menghalangi cinta lain bangsa. Pemuda-pemuda Gowa bebas menentukan jodohnya,” kata Karang Caddi ketika seorang temannya mengingatkan.
Belanda bersama sekutunya berhasil menyerang Kerajaan Gowa. Orang-orang Portugis dipaksa meninggalkan Makassar termasuk kedua orangtua Elis. Anak-anak termasuk Elis mengungsi ke gereja.

Karaeng Caddi dan karaeng-karaeng lainnya masih berusaha melakukan perlawanan meski Perjanjian Bongaya sudah ditandatangani. Elis pun malahan memimpin pasukan perempuan melakukan perlawanan.

Ketika perang mereda, Karang Caddi pulang ke Palangga bersama Elis. Karaeng Palangga bersama istrinya kaget bukan kepalang melihat anaknya membawa serta seorang gadis.
Setelah dijelaskan, kedua orangtua Karaeng Caddi ikut gembira. Tetapi persoalannya, kekasih anaknya itu berbeda agama. Namun karena cinta yang telah membara Elis pun ikhlas mengikuti agama pacarnya sehingga mereka pun melanjutkan jalinan cinta ke pelaminan. (Tasman Banto/Tribun Timur: Putra Mahkota Palangga Mencintai Gadis Portugis)

***

PADA abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Kondisi ekonomi Gowa demikian makmur.

Dan, tahukah Anda bahwa salah satu pahlawan yang berdiri di balik kejayaan tersebut adalah peran penting Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa.

Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar dari Portugis yang bernama Elis Pareira. Benih-benih cinta pun muncul di antara mereka. Saking kuatnya debaran-debaran perasaan tersebut, Karaeng Ceddi melanggar batas-batas adat-istiadat yang telah dipegangnya bertahun-tahun dengan melakukan hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.

Lantas, apa yang terjadi kemudian? Terutama saat perang besar meletus antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon?

Penulis novel ini yang memiliki pengalaman panjang sebagai seoang jurnalis, baik di dalam negeri maupun di mancanegara, meramu kisah di dalam novel ini dengan penuh kesabaran. Bahkan pembaca seolah-oleh dibawa mengimajinasikan suasana dan konflik yang terjadi di abad keenam belas tersebut.

Inilah novel yang berhasil meramu unsur heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik! Saat geletar-geletar cinta itu tumbuh, genderang perang tiba-tiba terdengar demikian keras dan mengerikan. (Rul/Wartakota: Novel Gadis Portugis)



Republik Warung Kopi, Catatan Kecil dari Sudut Indonesia

Oleh Hanna Fransisca

 

***

Ambang Petang, beranjak dari

dermaga lengang selepas hujan

Langit mengirim kelabu pucat

Angin mengirim dingin

Sungai mengirim keruh

Dan kau mengirim mimpi

Sengaja saya mengutip penggalan puisi murung yang ditulis penyair Amrin Zuraidi Rawansyah sebagai pembuka dari catatan ini. Catatan dari sebuah perayaan antologi sajak delapan penyair dari sebuah sudut Indonesia yang sekian lama tersembunyi dari hiruk-pikuk kesusastraan Indonesia, yakni delapan penyair dari Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat, sebuah kawasan luas yang dalam sejarahnya selalu dihubungkan dengan kekayaan hutan, kekayaan bumi, serta manusia-manusia Melayu, Dayak, Tionghoa, dan para pelintas batas Malaysia. Sejauh mata memandang, dari pantai landai Pontianak hingga Pemangkat, dari pancang tengah Singkawang hingga ketinggian Bengkayang, dataran luas ini menyimpan ribuan kisah tentang hamparan karet, lada, kopra, sawit, jeruk, hingga batubara dan ladang emas. Kalimantan Barat, seperti halnya daerah-daerah terluas lainnya di Indonesia, adalah penyangga penting bagi hadirnya Republik Indonesia, penyumbang devisa bagi megahnya Jakarta, hingga penjaga teguh sebagian perbatasan darat Malaysia.

Tentu, hamparan kisah yang tertanam pada bumi yang luas ini, menjadi catatan penting ketika seorang penyair kemudian lahir di sana, dan menuliskan puisi-puisinya. “Puisi tidak lahir dari sebuah kekosongan, sebab penyair selalu mencatat apa yang didengar dan dirasakan,” begitulah setidaknya pengertian yang saya yakini tentang puisi. Seperti kata Rendra dalam puisinya, yang mengatakan bahwa “puisi adalah sebuah kesaksian,” //… Aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka/ada orang memanah rembulan/ada anak burung terjatuh dari sarangnya/orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga//. Maka kehidupan di bumi Kalimantan Barat adalah juga kehidupan yang subur dengan inspirasi, kehidupan yang subur dengan kegelisahan, dan dengan kesaksian-kesaksian.

Delapan penyair dari kawasan ini, kini mencatatkan kesaksiannya, setelah lama terkubur dan lenyap dari perbincangan kesusastraan Indonesia selama bertahun-tahun. Setidaknya, ketika perbincangan kesusastraan Indonesia dari kawasan Pulau Kalimantan dibicarakan, maka yang muncul adalah dominasi Kalimantan Selatan, lalu disusul dengan Kalimantan Timur. Sedangkan Kalimantan Barat, selalu terdengar sayup-sayup, bahkan hampir tanpa kabar.

Maka dengan terbitnya buku ini, seolah-olah menegaskan kembali bahwa kehadiran sastra di bumi Kalimantan Barat masih ada. Delapan penyair yang rata-rata berusia muda, menuliskan kesaksiannya dengan beragam tema yang mengusik. Seperti halnya kutipan penggalan puisi murung “Menuju Kubu” pada awal tulisan, yang merupakan salah satu dari sepuluh puisi yang ditulis oleh penyair Amrin Zuraidi Rawansyah. // … Langit mengirim kelabu pucat/Angin mengirim dingin/Sungai mengirim keruh/Dan kau mengirim mimpi//. Suara lirih ini seakan mewakili doa dan sekaligus harapan bagi bumi kelahiran.

Di belahan lain, rintihan yang lebih gamblang dikumandangkan oleh Wisnu Pamungkas. Puisinya yang diberi judul “Mitos Ruang”, dengan tegas mempertanyakan tanggungjawab dari kesalahan segelintir manusia yang harus ditanggung akibatnya oleh segenap keturunan, menjadi kutukan yang tak lekang dimakan waktu. //Berjuta-juta tahun kemudian/Ruang-ruang dibajak, dikapling-kapling seperti tanah/Diberi patok, diukur ulang/Bagi yang bukan keturunan ular beludak dilarang masuk/Tak seorang pun sadar kalau saat ini tempat itu telah jadi perangkap//. Betapa mengerikan sebuah desain peradaban yang diputuskan berdasarkan keuntungan sesaat, sehingga seorang penyair mentasbihkannya sebagai sebuah kutukan yang abadi. Wisnu Pamungkas telah menggunakan perangkat metafor verbal, akan tetapi menyimpan kecerdasan dalam membangun logika puisi, menjadi sebuah tema yang keras dan satir. Kita lihat misalnya pada puisi Negara Kelamin. Ia dengan enaknya memperolok sejarah, dengan cara mempermainkan logika, sehingga sejarah pada akhirnya hanyalah sebuah permainan iseng yang penuh ironi.

NEGARA KELAMIN

Ibu memproklamasikan kelamin Ayah sebagai negara baru

Ayah tak berkutik dan menyerah, walau ia marah karena tiada pilihan

Tiada yang salah pada hubungan mereka, tapi Ibu mengira telah menjadi pahlawan ketika berhasil menyesah Ayah di ranjang perkawinan

Menciptakan khayalan terhadap persetubuhan

Menelan lelaki itu mentah-mentah sebagai santapan

Ayah tiada mengira kejantannya bisa menjadi negara, tetapi akhirnya ia terpaksa berbagi wilayah dengan wanita itu

Membuat sempadan dari tirai, membaca proklamasi sendiri-sendiri di tapal batas

Sebenarnya mereka dahulu sama-sama serdadu sebelum perang ini pecah

Sebelum pahlawan menjadi kebutuhan untuk permainan

Ibu memang pernah menaruh dendam pada Ayah, begitu pula Ayah. Mereka pernah berseteru walau tanpa pertumpahan darah. Hom pilahom pimpah!

Sejak saat itu negara ini terpecah-pecah,

Negara sakinah hanya iklan saat kampanye dilakukan

Lagi pun sejak itu Ibu dan Ayah merasa tak perlu lagi menikah

Hom pilahom pimpah!

Sebuah puisi dengan gaya yang segar, dengan ironi yang keras, dengan spirit mempermainkan sebuah konsep yang serius tentang negara (tentang batas-batas kekuasaan), yang pada akhirnya hanyalah sekumpulan mitos untuk memperdaya kebodohan. Puisi Negara Kelamin Wisnu Pamungkas menunjukkan sebuah gaya yang khas, karakter yang unik yang memberi harapan sebuah penemuan baru dalam cara ungkap puisi. Tentu saja, saya menyambut gembira pada pencapaian semacam ini, yang sekaligus bukti bahwa penyair Kalimantan Barat memiliki potensi yang tidak boleh diabaikan.

Lain dengan Wisnu Pamungkas, spirit serupa juga dikumandangkan oleh dua penyair yang menggarap tema sama dalam salah satu puisinya, yakni tema tentang Indonesia yang dibidik dari sebuah warung kopi. Ada potret beragam manusia, dengan nasibnya yang berbeda-beda, bersama mimpi dan harapan yang juga berbeda-beda, mereka masing-masing dibedah dalam bangku panjang sebuah kedai kopi. Bayangkanlah sebuah warung kopi adalah representasi dari nasib sebuah negara. //kau akan mendengar suara lebah di sini/bahkan lebih pikuk dari suara lebah//, begitulah puisi Warung Kopi Winny, Jalan Gajahmada; yang ditulis oleh penyair Pay Jarot Sujarwo. Ada segerombolan remaja “harapan bangsa” yang riuh mendiskusikan ponsel terbaru, gaya hidup, dan pacaran, tak peduli pada keluhuran cita-cita; ada pengusaha rakus berceramah dengan dandanan wangi dan perlente; ada pegawai negeri malu-malu dengan baju safari, mereka mangkir dan melihat para pelayan dengan birahi; ada segerombolan penjudi meramal angka dan selalu yakin setiap hari bahwa hari ini akan ada keberuntungan dari nomor-nomor ajaib yang diramal; ada sekelompok wartawan yang saling pamer berita, dan berdiskusi tentang parlemen negara di gedung-gedung negara; ada aktivis LSM, ada yang jatuh cinta, ada yang patah hati, ada rencana-rencana, ada proyek, partai, ada trik-trik para penipu; dan ada para pelacur bergoyang memamerkan tubuhnya. Inilah negara. Inilah tanah air. Dan inilah penyair Pay Jarot Sujarwo yang mememberi kesaksian dalam puisi, bahwa negara hanyalah sebuah warung kopi.

Kemudian Ety Syaifurohyani (seakan-akan memiliki getaran yang serupa), menulis puisi Kopitiam dengan penggalan kalimat berikut: //… kalau pejabat ingin mendengar keluhan dan jeritan rakyat/duduklah di kopitiam/para pejabat yang terhormat akan mendengar jeritan rakyat …//. Tentu, ”Indonesia” dalam catatan dua penyair yang menuliskannya dalam logika ”warung kopi”, adalah Indonesia yang direkam dalam bayangan besar, dari sebuah sudut kecil bernama: Kalimantan Barat.

Puisi lain adalah puisi yang penuh tenaga seperti kilatan pedang samurai: padat, berkelebat, dan menebas. Inilah gaya yang khas dari Ida Nursanti Basuni. Dua puisinya tentang kengerian dan kesedihan rintihan bumi Kalimantan direkam dengan getaran yang penuh perih, menimbulkan suasana yang asing, sepi, dan menggantung. Puisi dengan judul Pagagan, dan Maktangguk, menandai sebuah gaya yang dalam menghipnotis pembaca lewat tebasannya yang padat.

PEGAGAN

Keranji merah bergumam:

“kelat kebal

segala hama!”

Pegagan meriap

MAKTANGGUK

Sehabis maghrib

pukul setengah tujuh malam

batang limau mengejan

senyap

Angin menerbangkan putik kelapa

lengang gardu jaga

raung genset lesap

Kegesitan Ida Nursanti Basuni dalam merekam respon spontan dari sebuah tempat, melahirkan suasana magis yang menikam. Mengingatkan saya pada sebaris sajak yang ditulis oleh Sitor Situmorang (dan puisinya menjadi sangat terkenal karena memang hanya terdiri dari satu baris), yang berjudul “Malam Lebaran”.

MALAM LEBARAN

Bulan di atas kuburan

Puisi jenis ini, bagi beberapa penyair, adalah puncak sebuah pencapaian. Tidak mudah menulis sebuah puisi yang hanya berisi inti, dengan pilihan kata yang betul-betul diperhitungkan baik dari segi bunyi, keindahan irama, dan juga sekaligus mewakili makna. Meskipun ia puisi yang teramat pendek, tapi momen-momen puitiklah yang menentukan tingkat keberhasilannya. Momen-momen puitik, tentu tak akan banyak berguna jika tanpa didasari oleh pengalaman dan kepekaan yang lebih. Ida Nursanti Basuni memiliki kepekaan pada bahasa yang lebih, dibandingkan yang lain di dalam buku ini.

Tiga penyair berikutnya adalah Saifun Arif Kojeh, Syazsya Kayung, dan Nano L. Basuki. Nano L. Basuki lebih tertarik pada kesaksiannya terhadap dunia pendidikan, sedangkan Saifun Arif Kojeh dan Syazsya Kayung lebih tertarik pada nyanyian alam yang berisi keperihan lantaran kerusakan akibat ulah manusia. Gambaran-gambaran ketiga penyair ini, juga mewakili gambaran kegelisahan dari pertanyaan yang sama: ke manakah sesungguhnya negeri ini hendak dibawa?

Demikian kesaksian delapan penyair Indonesia yang lahir dan besar dari sudut yang jauh, Kalimantan Barat. Selamat datang di belantara khazanah kesusastraan Indonesia.

Singkawang, Juni 2011

Republik Warung Kopi

Republik Warung Kopi

Bagi yang berminat bisa menghubungi Ida Nursanti Basuni atau Pay Jarot Sujarwo atau Ety Syaifurohyani


%d blogger menyukai ini: