Rindu Terlarang

Oleh Syaiful Alim

 

Berdosakah jika aku merindu

rindu laut atas sungainya, cintaku

dalam salah alur-alur lumpur

kubiarkan rerumput liar di detak jejak

hatiku yang malam

bunga putik yang padam.

 

Bumbu rindu yang pernah kutaruh di dapur rupamu menguap

masih kucium harum tubuhmu.

Bambu yang kutanam di kiblat utuhmu mengaburkan harap

sebab rerimbun daun dan rias ruas itu.

Cumbu yang pernah kau ukir di bibirku menumbuh pohon

batangnya kuat, daunnya lebat, rantingnya sehat

cabang-cabangnya erat dan buahnya teramat lezat

dan sering kulihat anak-anak memanjat.

tidakkah kau mau berteduh di rindangnya

seraya menyantap buah dan melahap kicau burung yang nyaring di reranting?

 

Masih berdosakah jika aku merindumu?

pedih dan perih luka telah kupapah hingga kulelah

aku ingin memecah langit resahku

aku ingin membelah bukit desahku

juga dendam demam malam-malamku.

 

Kukenang hawa yang berenang di genang airmata

mencari-cari adam yang hilang, mungkin tuhan lupa

bahwa kita sepasang rusuk, atau aku alpa karena tertusuk busuk luka di dada.

Wajahmu tinggal bayang-bayang di remang mimpi dan terang matahari

aku mencoba menangkap bayangmu dengan cermin

namun kau meratap, jangan, aku silau dengan cahaya itu, katamu

aku marah, lalu kulempar cermin itu, pecah seribu.

 

Aku merindumu, sayang

walau kau milik orang

Akan kuculik kau menjelang petang

lalu kupaksa kau menyetubuhi nafasku seperti kunthi pada batara surya

seusai badai birahiku reda, tak apa kau pulang atau menghilang.

Kujaga benih yang kau selipkan di bilik rahim, kuberdoa kepada tuhan maha rahim penyayang

semoga lahir kata, mengalir makna, menzikirkan kita.

 

Sore warna gading

denting alunan gending di rumah-rumah perkampungan itu

menghanyutkanku, kupungut remah-remah kenangan di jejak-jejak waktu

aku hening, menanti senja tanpa sejuta puisimu, bagai senjata serdadu

aku kering mengenangmu, kau kecup keningku lembut,

menyambut kemilau sinar senja, menyumbat lukaku

lalu kau petik gitar, mengetik getar di buku tubuhku:

 

“You were my strength when I was weak

You were my voice when I couldn’t speak

You were my eyes when I couldn’t see”

 

“You gave me wings and made me fly

You touched my hand I could touch the sky

I lost my faith, you gave it back to me”

 

Sejak itu aku suka lukisan, musik dan sajak

ketiga rupa itu membikin dinding sepiku retak

wangi mawar melati menyerbak.

 

Masihkah aku berdosa merindumu?

dosa dan neraka telah membuat manusia salah tingkah dan serba salah

sebenarnya apa kemauan tuhan mencipta keduanya?

aku ingin membunuh malaikat yang singgah di tubuhku

supaya tidak mencatat dosa-dosaku, tapi masih ada tuhan

apakah aku juga membunuhnya?

ha ha. maaf, tuhan, aku bercanda

aku bukan nitszche atau karl marx

walau aku mau membunuhmu, supaya kekal padaku.

 

Aku hendak membakar surga dan neraka, seperti rabiah al-adawiyah dalam doa

atau kubawa neraka ke mana-mana, bagai al-hallaj dalam fana.

 

Surga telah menyihir manusia

neraka telah menyindir pendosa

aku tidak butuh surga dan neraka, kita butuh sentosa

lelah aku hidup di penjara

mari menari bersama mentari, “aku bebas, maka aku ada”

 

Aku merindumu, sayang

kemarilah kutimang-timang

lalu kutusuk pisau dan tumbang.

 

[]

Mekah, 23 10 10

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: