Tag Archives: awan

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Awan Hitam (Saat dan Peristiwa) Kumpulan Puisi Fuad

Buku "Awan Hitam" dan Fuad, penulisnya (Gambar Kanan)

Judul: Awan Hitam (Saat dan Peristiwa) Kumpulan Puisi
Penulis: Fuad
Pengantar: Hudan Hidayat
Desain/Ilustrasi: Yoga/Doni
Proofread: Gieb
ISBN: 978-602-96901-2-5
Penerbit: Mijil Publisher
Harga: Rp 52.000,- (111 +xii ) –

Suatu permainan membuka dan menutup. Suatu gerak ada dan tiada. Suatu kehendak dari dorongan motif yang merenungkan dunia tanpa, atau mungkin – ia pendamkan dalam, amanat puisi yang harus kita tarik dari simpulan isi – ia sadari. Kesadaran yang belah saat melihat dunia yang dilihatnya secara terbuka. Dunia itu pun adalah misteri juga. Di kedalaman benda-benda yang ditatapi oleh aku-lirik, dekat-nya fuad, benda-benda itu menampakkan emosinya. Atau sang aku yang emosional? Yang artinya benda-benda itu terhampar saja secara objektif – netral tanpa emosi. Bisa jadi. Tapi puisi tak mengatakan penampakan seperti itu – benda-benda itu ikut sedih dan sombre, seperti aku dalam dekat itu, sedih dan sombre. Atau seperti kita dalam dunia dan disambar oleh dekat-nya fuad, ikut terdiam dan patah hati melihat dunia yang tak berkesudahan ini. (Hudan Hidayat)

Buku ini dapat dipesan melalui akun Fuad (Awan Hitam) dan Team Mijil Publisher (Helena Adriany dan Harri Gieb)
Harga buku belum termasuk ongkos kirim

Pembayaran melalui transfer ke rekening:
Fuad
Bank Mandiri Cikarang
No.Rek 156-00-0321218-2


Selamat Pagi Indonesia

Oleh Dwi Klik Santosa

 

MENU RENUNGAN PAGI INI

(membaca dari berita Trans 7)

 

1.

Gumpalan awan Merapi menyerupai wajah Petruk

Dikutipkan oleh omongan warga

“Itu peringatan bagi pemimpin negeri ini

Yang ingkar terhadap rakyatnya”

 

2.

Pencuri hewan ternak ketahuan warga tepi Merapi

Mereka berlari masuk hutan

Meninggalkan dua motornya yang ringsek

Diamuk kemarahan warga

 

3.

Seorang bayi disebutkan berumur 3 bulan

selamat tersangkut di rawa-rawa

pada peristiwa tsunami Mentawai

Dari lubang telinga dan hidungnya tertutup pasir

Entah dimana orang tuanya

Oleh relawan yang menemukannya ia diberi nama Tegar.

 

Zentha

2 November 2010

: 07.2o


Matamu Mendung, Air Mata tak Kuasa Kubendung

Oleh Syaiful Alim

Matamu mendung
air mata tak kuasa kubendung.

Entah tangan angin lelah
atau bebuah awan mentah
hingga bebutir air urung jatuh
di tadah gundah, gigih tagih jatah
bermusim-musim kemarau latah
melukai rahim mawar dan janin-janin sajak
yang mukim di makam jejak.

Kunamai matamu mendung
air mata tak kuasa kubendung.

“Ayolah menangis. Menangisi air mataku
yang sebentar lagi beku, sebenar rindu padamu.”

Pepohonan kaku, menahan kelu.
Kemarau dibakukan di buku-buku
kabarkan petani yang sunyi
meratapi pipi kian keriput dan tanaman padi
yang tak pernah luput dari rerumput
hama yang lama jadi piyama
senang dan kenyang sebatas umpama.

Oh! Hidup sehangat peluk mama
dingin takluk disengat kutuk nama: Mata!

Matamu mendung
air mata tak kuasa kubendung.

[]

Khartoum, Sudan, 2010.



Hilangmu, Membakar Rindu…

Oleh Afrilia Utami

KEMBALI ada rasa Hilang, terbungkus sedikit duka, ketika sebelumnya bersapa dengan Suka. Jujur, ada rasa kehilangan jelasnya mungkin rindu yang kini saya genggam tuknya. Meski hanya lewat dunia maya kami saling mengenal. Namun seperti sudah ada ikatan Persaudaraan diantara kami dan lainnya. Ia sudah seperti kaka sendiri. Ya, lewat akun ini aku mengenalnya. Meski tak sempurna kami saling mengetahui satu antar lainnya, mencium aroma badannya pun tak pernah, apa lagi jelas menatap wajah lembutnya. Tetap saja ia selalu ajarkan saya pelajaran yang sangat bermanfaat, memberikan support, dan senyumnya meski hanya bersimbolik :). Dan senyumnya selalu menjemput senyumku 🙂 Begitupun dengan Mas Fuad, yang selalu bijak ia berkata dalam tulis jabar aksaranya. Bahkan ahli menafsirkan makna, kadang apa yang ditulisnya baru kita sadari bahwa ya itulah, makna dari yang tertulis.

Setelah Mas Fuad, kini Ka Yazid…

Tengoklah, kepergianmu yang tak menentu membuat para Sahabat dekatmu merasakan sangat kehilangan. Tanda Mereka sahabat yang baik. Ya, paling baik diantara yang baik. Mereka menutur kata rindu tuk mu, bersua pilu karena hilangmu. Kau memang sudah menjadi Sahabat yang sangat berarti, bahkan di hati adikmu ini. Sudah seperti kaulah kaka kandung sendiri. “ka Yazid” panggil saya tuk mu, “dik” lontarmu tuk saya. Terimakasih ka Yazid, selalu saja ada hadirmu sempatkan berkunjung dalam karyaku yang masih “celengan”, selalu saja sempat berikan pujian serta motivasi dan dorongan semangat baru.

“Menulislah untuk dirimu sendiri, bukan orang lain,” lirihmu yang ku rawat.

Pun sama dengan Mas Fuad, hampir setiap malam ada saja tautan lagu. Ikut saja saya mendengarnya, menganyam rindu-rindu heningnya temaram, menjadi hangat tersulam. Terimakasih Mas Fuad 🙂 dan santunmu saya suka. Selalu saja sempat berikan pujian serta motivasi dan dorongan semangat baru.

….

Aku yang selalu terhanyut terseret arusmu. Dalam setiap kaidah kata yang kau jabarkan, merangkainya dengan penuh makna mendalam, juga perenungan tentang Kehidupan, lewat dalihmu yang terukir indah sangat. Tetap saja kau tak sombong, itu yang ku suka.

+++

: Hilangmu, Membakar Rindu ..

Lilin-lilin bertasbih di terpih angin
Saat lambai dingin membakar panas kerinduan
Kehilangan tanda (seperti) telah memiliki
Tetap alur waktu bermain lincah saat kau disini
Dan melemah saat kau sudahi perbincangan ini

Biru waktu yang terpatri di kehidupan nadi
Kau lukiskan pena berarsir kaidah makna berarti
Pemahaman tentang semua tanya yang belum terjawab
Pandai hatimu menjabari ke bo-do-han dengan Pintarmu
Dan Kejora bersenandung rindu tuk mu

Tulisanmu pun tak hanya bertulis
Tapi memberikan kejelasan arti yang terlukis
Syarat dengan Perenungan dasar mendalam
Penyair Sufi, yang tak bergumam pada kesombongan alam

(Maaf, aku tak pandai merangkai kaidah ‘tentang’ indah sepertimu)
Berharap kaupun merasakan hal yang sama saat ini.

Terimakasih Penyair Sufikku : Ka Yazid Musyaba dan Mas Fuad (Awan Hitam)

12 Juli 2010

[]


%d blogger menyukai ini: