Category Archives: Tehnologi Informasi

Download Gratis Kamus Besar Bahasa Indonesia & Tesaurus Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) terbit pertama kali pada 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia. Sejak saat itu KKBI telah menjadi sumber rujukan penting di kalangan pecinta bahasa Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Tatkala ada permasalahan dalam bahasa Indonesia, terjemahan dan padanan kata, KBBI selalu dianggap jalan keluar penyelesaiannya. Selain muatan isi, KBBI memang disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia. Walaupun upaya penyempurnaan isi tidak selamanya mengimbangi perkembangan kosakata bahasa Indonesia, namun KKBI akan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

KBBI Daring ini merupakan upaya penyediaan kemudahan akses terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia di mana pun, kapan pun, dan siapa pun selama mampu memanfaatkan dan dalam jaringan teknologi informasi dan komunikasi.

Database KBBI Daring ini diambil dari KBBI Edisi III. Pemutakhiran dan penyempurnaan isi KBBI sedang dan terus dilakukan. KKBI Edisi IV akan diluncurkan tahun 2011 ini. Tampilan antarmuka KBBI Daring (Online dan Offline) sengaja didesain dalam bentuk sederhana agar pengguna tidak menemukan kesulitan dalam penggunaan kamus ini.

Software (freeware) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi 1.1 ini merupakan versi offline dari KBBI Daring (Edisi III) yang ada di Pusat Bahasa (versi online).

Dibanding KKBI versi Online, maka KKBI versi offline (freeware) mempunyai beberapa keunggulan dan bebas disebarluaskan dengan syarat tidak mengubah software. Kedua versi KKBI ini saling melengkapi. Versi offline dapat digunakan bagi pengguna PC, sedang versi online untuk pengguna bergerak (mobile).

Sebagai pelengkap, IFW juga menyertakan sebuah e-book Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia versi PDF.

Download freeware Kamus Besar Bahasa Indonesia versi 1.1 <– Klik Di Sini (Free Software)

Pranala Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online <– Klik Di Sini

Kamus Besar Tesaurus Bahasa Indonesia <– Klik Di Sini (Free E-Book format PDF)


Sketsa: Ole Ole Bandung Radio 2.0

Oleh Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter

Seorang kenalan di Bandung bekerja di IPTN, pernah berjibaku bagi proyek Boeing 777. Ia bilang, bahwa Bandung kini kota 3F: Food, Fashion, Fun. Bagi saya bertemu dengan kawan-kawan di Bandung menjadi kesenangan tersendiri. Mereka melakukan R & D di aplikasi dan konten untuk teknologi informasi, pengetahuan, dunia ICT khususnya. Bandung menjadi oase harap saya. Sekelumit tentang dunia broadcasting di Radio2.0. Revolusi radio dengan aplikasi total football buatan anak negeri sendiri. Adalah sebuah lompatan pesat jika perusahan seperti PT Telkom Indonesia, nimbrung melakukan venture ke upaya-upaya kemajuan ICT. Itu tampaknya kini dilirik Telkom bagi e-Broadcasting Institute (eBI), Bandung.

SABTU 3 April. Suasana <i? long week end Jalanan di ibu kota Jakarta, begitu berbeda dibanding hari kerja. Pagi cerah. Langit bersih. Satu dua mobil, motor, berlalu lalang di bilangan Jakarta Pusat di sekitar pukul 7 pagi. Di suasana demikian saya meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan mobil travel Cipaganti. Berangkat dari pool mereka di Cikini. Penumpang mobil Hyundai Travello, berkapasitas 9 orang, cuma ada 4; tiga perempuan dan saya.

Sejak tol Cipularang ada, angkutan penumpang Jakarta-Bandung atau sebaliknya, lebih meriah menggunakan travel. Beragam perusahaan jasa muncul. Mereka membandrol tarif di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu. Cipaganti Rp 70 ribu. Layaknya perjalanan umumnya, jika udara cerah, sudut pandang jernih dapat melihat panorama. Lekuk bukit hijau, gunung di kejauhan, pemandangan dari daerah Sadang hingga ke Padalarang.

Seperti biasa, saya memilih tujuan BTC (Bandung Trade Center). Akan tetapi pool kedatangan kini sudah di seberang BTC; tanah lapang, tempat aneka bis, mobil ukuran sedang, ada deretan Alphard terbaru Vell Fire. Mobil mewah ini setiap jam kini melayani warga Bandung hendak menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tarifnya Rp 175 ribu perorang. Dengan rupiah segitu, dapat untuk menempuh kenyamanan perjalanan dua setengah jam.

Saya jadi teringat ketika pertama ke New York, AS, awal 90-an, melihat helikopter mangkal di jalanan di seberang patung Liberty. Mereka menawarkan jasa mengelilingi kawasan patung. Tarifnya satu orang US $ 50. Dikala rupiah gagah satu dolar belum sampai Rp 2.000, realatif murah numpak helikopter sekitar 15 menit.

Sedang melamun, Hemat Dwi Nuryanto, telah hadir di depan saya. Ia salah satu pendiri Zamrud Technology, berkantor di kawasan Salman, ITB Bandung. Hemat alumni ITB, pernah mengambil S2 di Perancis. Ia mantan karyawan IPTN. Bersama kawan-kawan di komunitas open sourcedi Bandung, ia membuat layanan sosial untuk mengemas seluruh materi ajar dapat diakses gratis melalui web di http://www.crayonpedia.org.

Program mulia itu, bila saja tuntas kelak, menguntungkan publik, karena seluruh buku pelajaran bisa diakses gratis. Siswa secara interaktif dapat menyimak pelajaran dalam format video, image interaktif. Beragam hal menguntungkan publik menjadi pokok perhatian kami. Crayonpedia.org, menjadi perekatnya.

“Tapi hari ini kita bahas e-broadcasting dulu,” ujar Hemat.

Di mobilnya, Hemat memperagakan bagaimana colokan lighter ke mobil terhubung ke i-phone-nya. Ia mengklik http://www.suararadio.com, dengan menekan satu frekuensi di radio mobil, kendali radio berbasis internet dari i-Phone itu sudah terdengar melalui speaker yang ada di mobil.

Hemat dapat mengganti chanel radio kesepuluh radio yang sudah bergabung di suararadio.com, seperti radio Antares. Gamblang memindah-mindahkan frekuensi. Itu artinya semua radio yang sudah tergabung di suararadio.com, jika pun kelak adanya di ujung Sabang, Aceh, dengan mudah didengar; termasuk jika radio itu ada di Alaska sekalipun, dapat diakses dari desktop terhubung internet, termasuk mobile phone.

Saya teringat akan sebuah artikel lama yang bertajuk mobility on the race. Kini teknologi aplikasi mobile seperti Android, dengan handset murah buatan Cina akan membanjiri pasar. Konten kian menjadi primadona.

Nah musik, radio, salah satu konten bisa jadi berkibar. Di dalam mobil Hemat, saya teringat akan Next Generation Dahsboard. Dengan perangkat mobile yang kita bawa, cukup dengan voice command, maka perangkat tersebut akan merespon setiap permintaan kita. Misalnya, perintahkan ke dash board mobil, saya ingin mendengar berita jam 7 di radio Elshinta, Jakarta, misalnya, maka sang player radio akan melakukannya untuk Anda. Kini sudah dimulai Ford Motor Company.

Apa yang disuguhkan Hemat di mobilnya, merupakan kepiawaian smart phone yang diintegrasikan ke jack audio di mobil, jika di rumah ke Hifi system, Audio Land atau public address, seperti di kantor-kantor. Perkembangan inilah yang ditarget Hemat di e- Broadcasting Institute (eBI), Bandung. Inovasi dalam setahun ke depan akan membuat mereka melompat mengikuti Next Generation Radio atau Radio 3.0; menginjeksi kecerdasan buatan ke dalam radio 2.0 : intelligent radio.

Bila kini kebanyakan radio siaran masih menggunakan teknologi manual, atau pun sudah menggunakan sistem komputer, namun sifatnya masih data base searah. Untuk format lagu msialnya. Pada radio 2.0, semua data dan input data, bisa real times, terintegrasi, bergerak dinamis. Pada radio 3.0 kelak, sudah dapat diperintah dengan suara Anda.

Di bawah Zamrud Technology, eBI sedang menggalang jaringan. Setidaknya 1.000 radio dapat bergabung hingga 2014. Portal suararadio.com, itu memiliki kelebihan bahwa semua radio dapat memuat berita atau kontennya, secara real time tayang (pod casting), pendengar dapat menyimak berita atau konten musik, dari gadget-nya di mana pun berada. Ibaratnya bagaikan kita membaca berita macam di detik.com, tapi di suararadio, mendengarkan berita dalam format suara.

Kelebihan lain, di antaranya, pemasang iklan di radio di mana pun berada kini dapat memantau iklannya real time, maupun melihat archive jam pemutaran secara nyata.

Kecanggihan itu dapat bekerja, karena adanya jantung aplikasi yang diciptakan menggerakkan, berupa aplikasi Mi>RISE (Radio Broadcasting Integrated System). Aplikasi yang berguna bagi para radio melakukan otomasi siaran.

Melalui aplikasi RISE di masing-masing radio, mereka mendapatkan kemudahan bagaimana mengelola siaran, mulai lagu yang hendak diputar, berita yang dipancarkan itu semua dapat dilakukan dengan cara remote, termasuk melalui handset mobile phone sang penyiar.

Seluruh back office radio, manajeman lagu, konten siaran lain, iklan, bahkan pendataan secara real time, dapat dilihat di manapaun dan kapan pun. Singkatnya RISE telah merevolusi manajemen radio menjadi ke dalam genggeman.

Perkembangan pesat eBI, tampaknya akan terjadi, menghingat PT Telkom kini dalam proses melakukan kerjasama saling menguntungkan. Pada 13 April 2010 mendatang setidanya 750 radio yang tergabung di PRSNI, dan juga radio swasta lainnya, diundang ke Bandung oleh eBI.

Masing-masing radio dengan investasi Rp 2,5 juta sudah mendapatkan bantuan peralatan RISE dan hard ware. Bahkan untuk pengembangan bisnis radio yang dikelola secara modern itu masing-masing peserta dimungkinkan mendapatkan pinjaman dana lunak berkisar Rp 100-Rp 200 juta melalui CSR bantuan UKM Telkom, yang pengembaliannya ringan, melalui kompensaisai iklan Telkom.

Prestasi eBI itu dapat dicermati melalui 10 radio yang telah tergabung. Konten dan pendapatan bisnis naik tajam. Di konten, kini SMS pendengar secara real time dapat dimonitor komputer, pemeringkatan lagu pendengar seketika, bukan lagi kira-kira, atau sekadar catat.

“Iklan radio kecil yang semula tarifnya Rp 15 ribu, kini melompat Rp 115 ribu satu spot dalam enam bulan,” ujar Hemat.

Kok bisa?

“Karena biro iklan mendapatkan data komprehenmsif sercara real time tentang pendengarnya, bahkan sampai usia pendengar,” ujar Hemat.

Obrolan panjang dan kemampuan RISE lainnya itu kami lakukan di kantor Hemat di Salman Bussiness Center. Suara azan Zhuhur dari Masjid Salman berkumandang. Allahu Akbar. Kami masih meneruskan obrolan.

KAWASAN Sulanjana 28, Bandung. Di sebelah toko busana Muslim Shafira, di lantai dasarnya deretan aneka makanan dan penganan. Di beberapa toples kecil ada aneka contoh camilan gratis. Cimpring bawang tipis dengan bumbu kucai, khas, mengusik selera saya. Cimpring adalah kerupuk dari bahan singkong berbumbu.

Ribuan aneka makanan lain, bahkan dodol Garut Picnic pun kini sudah mengeluarkan berbagai rasa, termasuk aroma coklat dan aneka buah di gelar berjejer di sana.

Menyimak beragam makanan itu, saya teringat bagaimana Iran melakukan pameran selama tiga bulan dari Desember-Februari di setiap tahun di Dubai Global Village, Dubai, Persatuan Emirat Arab. Iran membanjiri standnya dengan aneka makanan, terutama aneka makanan manis macam dodol. Jika segenap makanan ole-ole Bandung itu digelar di Dubai, amboi meriah kali.

Di lantai dua, saya dan Hemat, bertemu dengan Dadang Erawan. Ia tokoh vital merancang kelahiran pesawat N2130 buatan IPTN. Jika saja peswat itu jadi berwujud, penerbangan macam Lion, tak perlu lagi membeli Boeing 737 900 ER, karena kapasitasnya sama.

Pendidikan S3 dadang dari Perancis. Ia ahli sebagai pembuat wind tunnel, bagi pengujian pesawat. Sejak tidak di IPTN, ia berusaha survive dengan melakukan jasa pembuatan wind tunnel dan pesawat tanpa awak. Celakanya negara seperti Singapura yang beberapa kali mengorder Dadang, termasuk kampus NUS dan NTU mengorder pembuatan wind tunnel.

Malang bener kita serbagai bangsa ya, kata saya?

Kalian sekolah hebat kemampuan sakti, negeri lain yang memanfaatkan?

“Itulah, demi bertahan,” kata Dadang tertawa.

Karena pertahanan ekonomi bangsa ini tidak pernah terurus baik, bahkan business intelligent pun tidak ada lembaga yang menggarapnya, maka credential asset bangsa ini, kemudian memang berarakan, bercerabutan terburai terkulai.

Sambil tersenyum Dadang melihat ke dinding, di mana poster usaha isterinya Yoghurt Odise ikut disuguhkan dengan berbagai rasa di sana. “Nah dalam keadaan tertentu, yoghurt lebih menghidupi dari pada keahlian ilmu kami” ujar Dadang.

Seorang rekannya, yang pernah bekerja untuk pembuatan Boeing 777 menimpali “Iya nih kita bisa kalah sama para isteri. Isteri saya sekarang dagang macam-macam termasuk bandrek dalam sase ke Pekanbaru. Beli di Bandung seribu, di sana jual dua ribu perak. Cepat dapat duit.”

Kami tertawa. Dalam pembicaraan itulah keluar kata Bandung kini kota 3F: Food, Fashion dan Fun.

Banyak sekali yang dapat saya tuturkan dalam perjalanan sehari ke Bandung. Mereka orang mandiri yang tak bergantung ke proyek pemerintah. Saya merasa bersyukur sebagai orang biasa yang tidak bersekolah tinggi. Bertemu mereka dalam satu komunitas, berjibaku terus berkarya bagi sebuah perubahan kemajuan, darah segar kehidupan.

“Jangan lupa nanti tanggal 13 April Anda jadi pembicara bagi jurnalisme radio 2.0,” ujar Hemat ketika melapas saya pulang ke Jakarta.

Bagi saya, suatu yang unik lagi.

Sebagai sosok cuma menulis di blog, di tengah konten radio ke depan akan berkembang dengan revolusi aplikasi dan penyiaran, jurnalisme radio memang memiliki tantangan. Perkembangan, formatnya, di tengah segalanya bisa berinteraksi, menjadi “mainan” tersendiri lagi. Khusus urusan jurnalisme radio untuk era radio 2.0, lain kali saya tuliskan. Sehari perjalanan ke Bandung, bagi saya, sebuah rona membakar semangat, bahwa Indonesia ke depan, pasti Indonesia yang hebat.[]

Tulisan ini dapat pula dibaca pada blog penulisnya, di: http://blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: