Tag Archives: emak

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Nyokap Gue Backpacker Sejati

Oleh Very Barus

Emak Pergi ke Surabaya jam 6:00 pagi ini. Jaga adik adik…”

Aku membaca secarik kertas tulisan tangan Emak di atas meja belajarku. Kutarik nafas dalam dalam menandakan aksi heran di benakku. Ampun deh. Tabiat nyokap bepergian mendadak seperti ini sudah nggak kehitung pake jari tangan plus jari kakiku. Nyokap melakukan perjalanan jauh seorang diri itu sudah biasa. Nggak butuh teman, padahal usia nyokap sudah 55 tahun. “Kalo bawa teman justru merepotkan,” terang nyokap.

Jadi perjalanan antara Jakarta – Surabaya, Jakarta – Bandung, Jakarta – Makasar, Jakarta – Medan dan kota kota lainnya sudah dilalui nyokap seorang diri. Alasannya sih klise.

Mumpung masih punya sanak saudara di beberapa kota kenapa nggak kita kunjungi?” ucap nyokap yang suka bawa produk produk asal kota yang dikunjunginya, kemudian di jual kembali pada tetangga tetangga di sekitar rumah. “Lumayan kan uangnya bisa emak gunakan untuk biaya jalan jalan lagi,” aku nyokap enteng.

Nyokap gue benar benar backpacker sejati deh. Soalnya setiap bepergian nyokap betah naik bis umum berlama-lama. Kalo nggak ada bis ya kereta api atau kapal laut. Sedangkan naik pesawat terbang sangat tidak pernah dilakukan. Alasannya takut ketinggian. Atau kadang kadang keceplosan juga berkata, ”harga tiket pesawat mahal,” akunya polos.

Sangkin seringnya bepergian yang memakan waktu satu hingga dua minggu, akhirnya imun dengan kebiasaan nyokap. Bahkan suka kaget aja kalau tiba-tiba nyokap sudah nyampe di rumah. Bukannya girang malah kaget. “Lha, Mama sudah pulang?” dan biasanya dengan enteng mama akan menjawab, ”Iya, dua hari lagi mama pergi ke Bandung. Tantemu nyuruh mama datang ke rumahnya.”

Jawaban mama hanya membuat aku bengong. ”Ha? Mau pergi lagi?”

Aku nggak tau apakah kegemaran nyokap sebagai backpacker sejati hanya sekedar membunuh kejenuhan sejak bokap meninggal? Atau juga karena ingin mengunjungi saudara saudara nyokap yang tersebar di beberapa kota di Indonesia? Entah lah. Sampai saat ini pertanyaan itu belum terpecahkan juga. Biasanya kalau nyokap sedang menjalankan ritual backpacker-nya. tugas mengasuh dua adikku Elsa (6) dan Andi (10) pasti turun tahta ketanganku.

Sebagai anak tertua, aku harus mengurus segala keperluan mereka. Mulai uang jajan hingga memasak makan mereka. Untung adik adik sangat mengerti akan kondisi nyokap yang backpacker. Kalau tidak, mungkin adik adikku merengek rengek minta ikut menjadi member of backpackers.

Biasanya untuk nyogok anak anaknya supaya nggak ngomel sewaktu ditinggal pergi, nyokap pasti bawa oleh-oleh dari kota yang dikunjunginnya. Minimal makanan khas daerah tersebut. Pasti aman deh. Anak-anaknya nggak bakalan rewel.

Suatu hari ketika nyokap berada di Makassar, nyokap mengirim sms : ”Mama sdng brd di kapal mau plg ke Jkrt. Tp cuaca sdng buruk.”

Isi sms nyokap membuat aku tidak tenang. Karena beberapa berita yang aku baca di Koran kalau gara gara cuaca buruk ketinggian ombak melebihi dua meter hingga lebih. Wuihhh… aku langsung membayangkan kalau terjadi apa-apa pada nyokap.

Kegelisahanku akan nasib nyokap memang tidak berdampak buruk. Nyokap tiba di rumah dalam keadaan sehat walafiat. Tapi raut wajah nyokap teramat pias alias pucat pasi. Nyokap pun mengisahkan kalau kapal yang dia tumpangi sempat mengalami oleng teramat dahsyat gara-gara benturan ombak besar ditambah lagi guyuran hujan dan petir yang silih berganti.

“Pokoknya mama pasrah kalau saat itu kapal yang mama tumpangi tenggelam dan karam. Soalnya semua sudah panik dan penuh histeris,” kisah nyokap sambil terus bersyukur kalau dia masih selamat.

Kejadian demi kejadian sudah kerap kali nyokap alami selama berpetualangan dari satu kota ke kota lain. Bahkan bus yang nyokap tumpangi terbalik dan memakan korban beberapa penumpang tewas. Namun nyokap hanya luka kecil. Kemudian nyokap pernah ketinggalan bus yang hendak ditumpanginya gara-gara nyokap ketiduran. Belum lagi ketika nyokap ditodong pencopet di dalam bus saat pulang dari kota Medan. Namun lagi-lagi nyokap masih selamat dan masih dilindungi Tuhan.

Mungkin dengan kejadian demi kejadian yang dialami nyokap akan membuat dia jera. Namun aku keliru, karena ketika aku bertanya apakah nyokap akan jera bepergan? Eh, dengan enteng nyokap bilang begini, ”Ya, kalau nyokap sudah sehat, minggu depan mungkin nyokap akan ke rumah Om kamu yang di Surabaya. Soalnya Om kamu mau selamatan rumah barunya.”

Lagi lagi aku kaget. “Nyokap mau pergi lagi?” Dengan enteng nyokap mengangguk. “Iya…”

Hmm… Begini nih kalau punya nyokap seorang backpacker sejati. Meski mengalami berbagai cobaan, keinginan untuk traveling pantang surut…

Maju terus pantang mundur Mak…!!!

[]


%d blogger menyukai ini: