Tag Archives: kompas

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Gerobak Butut

Oleh Very Barus

Tadi pagi, bangun tidur gue dikagetkan dengan ada seonggok gerobak barang butut (barang2 bekas) “nangkring manis” di depan rumah gue.
What…????

Siapa nyuruh gerobak butut parkir di depan rumah gue…?? Nggak tau apa ada tulisan “Dilarang Parkir”.
Trus gue nyari2 siapa pemilik gerobak tersebut. Nggak berapa lama si empunya gerobak datang. Seorang bapak tua sambil menenteng bungkusan sampah. Ternyata dia lagi ngider ke tetangga2 gue, sambil nanyain apakah mereka punya barang2 butut yang udah nggak kepake lagi, lalu dijual ke dia.

Melihat sosok gue berdiri tegak bak super hero yang baru bangun tidur. Nafas aja masih bau naga. Tapi dengan senyum manisnya si bapak nyapa gue. Suaranya pelan banget. Nyaris tidak terdengar.

”Punya barang2 butut gak…?”

HA…??? BUTUT…???

Nggak ada tuh…” jawab gue seadanya. Di otak gue dia nanya SOP BUNTUT—maklum, efek baru bangun tidur. Jadi nggak connecting people.

“Koran2 bekas juga nggak apa2 deh…” tanya si bapak lagi.

Otak gue langsung “Cliiinggg….!!!!!”. Gue tersadar kalo dia nanya barang butut. Dan dengan tangkas otak gue mulai aktif. Mengingat di lantai atas (gudang) banyak tumpukan koran yang cukup mengganggu pemandangan dan kebersihan. Secara tiap hari gue langganan 3 koran (Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia).

Wah, mungkin si bapak ini UTUSAN TUHAN untuk menyerahkan koran2 bekas yang udah lama banget mau dimusnahkan dari muka bumi ini. Langsung dong terjadi transaksi…

Emang berapa sekilo…?”
“1000…”
Ha..? 1000?” (murah amat bisik gue)
“Iya seribu perak…”
“Ya udah…Pak… Tolong diangkutin aja tuh koran2 bekas di atas….”(ketimbang semakin menjulang tinggi koran bekas di gudang, mending dijual aja deh. Emang gue tukang butut ngumpulin koran2 bekas??)

Dengan semangat 45-46-47-48-nya si bapak naek ke atas dan membawa tumpukan koran yang mungkin tingginya melebihin tinggi si bapak. Gue lihat si bapak senyum2 manis… Mungkin rezeki nomplok kali ya... Sementara gue juga senyum2 lebih manis… Karena koran butut gue bermanfaat juga, bisa menghasilkan uang (hahahaha…)

Hasil jual koran butut tadi ternyata total yang gue dapat 60 ribu gitu deh… ya, lumayan deh bisa beli AQUA 3 GALON untuk stok seminggu…

Wah, kalo begini caranya, gue kumpulin lagi deh koran butut mulai dari sekarang. Biar bisa dijual lagi ke si bapak tua… (iya kalo dia masih melintasi rumah gue. Kalo tidak..?????)

[]


Sketsa XVIII Kematian David: Surat Pembaca, Indikasi Pikun Polisi & Banjir Singapura

Oleh Iwan Piliang

Hingga Sketsa 18 Kematian David ini, saya sempat berhenti menuliskannya. Berpuluh harusnya, namun topik lain kemudian menjadi perhatian baru. Rencananya kelengkapan literair ihwal kasus ini akan saya tuangkan ke buku. Lalu, pada 15 Juni 2010, Surat Pembaca DSP Paul Tay, dari kepolisian Singapura, di Kompas, mengalir kembali energi menulisnya, laksana banjir mengaliri kawasan Orchad Road, Singapura, Rabu, 16 Juni 2010, pagi.

ENTAH mengapa, beberapa bulan ini saya seakan terhenti menghidangkan Sketsa ke hadapan Anda. Sesungguhnya banyak tulisan, mulai dari urusan jurnalisme, behind the scene kemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dalam kacamata blogger yang memverifikasi, lantas sebelumnya ditertawakan banyak kawan karena mereka yakin Anas kalah, hingga ke perjalanan ke dua kota; Bandung dan Medan; berbagi pengalaman soal dunia online, sosial media dan citizen journalism dengan kawan-kawan mahasiswa.

Bertemu muka kawan muda, memberi harap bagi saya, agaknya, suatu saat akan ada perubahan keberpihakan kepada rakyat, jika mereka menjaga integritas dirinya, paham akan kahadirannya ke jagad: tiada lain meningkatkan mutu peradaban.

Waktu bergerak. Selasa 15 Juni 2010. Sosok Ruby Alamsyah, ahli forensik digital, yang turut secara suka rela membantu menagih forensik digital laptop milik Almarhum David Hartanto Wijaya, Mahasiswa Indonesia yang diberitakan oleh kampusnya Nanyang Technological University (NTU), Singapura, bunuh diri, menelepon saya. Ia bertanya, ”Apakah sudah baca surat pembaca Kompas, surat balasan polisi Singapura, terhadap surat pembaca keluarga David?”

Belum!

Seketika saya mengklik e-paper Kompas, karena sudah lama tak melanggani versi cetak harian itu.

Inti surat polisi Singapura, diwakili DSP Paul Tay, menampik tudingan Hartono Wijaya yang menagih laptop David. Sebaliknya polisi Singapura mengaku sudah tiga kali menyurati keluarga dan memberitahukan kedutaan RI di Singapura, bahwa polisi Singapura sudah meminta keluarga almarhum mengambil hal milik David itu, namun tidak ada respon dan tidak berkeinginan mengambilnya.

Sebagaimana sudah saya tuliskan dalam deretan Sketsa ihwal David: Saya bersama Hartono Wijaya, Ruby Alamsyah, Oktober 2009 lalu sengaja datang ke Singapura kembali, untuk mengambil laptop David. Waktu dan tempat penyerahan oleh polisi Singapura dilakukan di KBRI. Apa lacur ”ritual” pengembalian itu hanyalah penyerahan fisik laptop dengan secarik kertas dengan 3 kopi tanda terima yang harus ditandatangani pihak keluarga Hartono Wijaya, tanpa data hashing. Hartono sesungguhnya mau menerima, dengan syarat hashing, digital konten, tersedia.

”Digital konten di laptop itu penting bagi keluarga untuk menindak lanjuti kasus ini ke urusan pencarian keadilan, maka harus dicocokkan digital signature ketika serah terima dengan polisi Singapura,” tutur Ruby Alamsyah.

Dari data hashing itu bisa dibuktikan apakah polisi di pengadilan jujur atau berbohong.

Sementara di satu sisi polisi Singapura kekeh bertahan pengembalian hak milik pribadi David perintah pengadilan hanya di urusan fisik saja, seperti laptop ya hardwarenya saja. Itu logika mereka. Bulak-balik mutar di urusan itu saja. Padahal logika warasnya semua fakta persidangan yang menjadi milik almarhum wajib dikembalikan ke keluarga.

Ruby kala itu sudah menyiapkan peralatan digital forensik, agar sama-sama bisa dicocokkan hashing datanya. Hash adalah istilah untuk 32 bit angka dan huruf yang menerakan data tanda digital yang ada di laptop asli; tidak berubah, tidak bertambah, tidak di-delete, atau ada ketikan baru dan atau adanya perubahan kalimat misalnya di setiap data asli. Tiga puluh dua angka itu mengacu ke acuan baku dalam ketentuan beristilah MD-5, diakui sercara internasional di kalangan praktisi teknologi informasi.

Dari keterangan saksi ahli polisi di persidangan koroner Singapura, setidaknya ada dua hal penting dan mendasar.

Pertama, polisi forensik digital Singapura mengaku menemukan surat bahwa David menyatakan mau bunuh diri dalam ketikan surat di words. Tanggal dan waktu surat itu dibuat dibantah dengan alibi kuat keluarga bahwa David sedang makan siang bersama keluarga di restoran Angke, Jakarta Barat.

Kedua, polisi menyebutkan tiga kali menemukan David di laptopnya mengunjungi situs yang berkaitan dengan situs bunuh diri di internet. Celakanya, di persidangan ahli forensik digital Singapura tidak bisa menyebutkan tanggal, waktunya. Kenyatan ini tentu menimbulkan tanda tanya besar.

Banyak kejanggalan lain ihwal materi persidangan.

Fokus ke urusan digital ini saja, maka Hartono Wijaya, secara tegas menyatakan, ”Tidak akan mau menerima hanya berupa fisik laptop David tanpa digital konten yang telah diococokkan tanda tangan digital oleh ahli Indonesia bersertifikat internasional dengan polisi Singapura.”

Kala itu polisi berjanji membicarakannya ke atasan mereka. Bahkan Ruby via telepon sempat berbicara dengan ahli digital forensik, pejabat di kantor pusat polisi Singapura yang kebetulan satu asosiasi dengannya di http://www.htcia.org. Namun hubungan relasi itu, tidak memuluskan langkah. Hari itu kami bertiga pulang kembali ke Jakarta dengan tangan kosong.

Berjalanlah waktu. Hampir tiap pekan kontak dan komunikasi dengan kelurga David saya lakukan. Belakangan intensitas menurun, sebulan sekali. Saya masih terus menanyakan peran Direktorat Perlindungan Warga RI di Departemen Luar Negeri. Namun oleh direkturnya, dalam berbalas SMS dengan saya terkesan sekali kalimat menjaga jarak, jawaban normatif.

Kepada Duta Besar kita di Singapura, saya sudah kehilangan selera bertanya, karena jika membandingkan sosok Ali Wardana. dengan Wahid Supriyadi yang menjadi Dubes di Abu Dhabi, di mana saya juga pernah mengurus sukses kasus kemanusiaan memulangkan sosok Ziad, yang tak bisa kembali selama 8 tahun bermasalah di Uni Emirat Arab (sudah pula saya tulis 6 Sketsanya), Dubes kita di Singapura, bagi saya, terindikasi cenderung menyalahkan keluarga David, tidak berorientasi esensi soal berjibunnya kejanggalan kematian David.

Maka, ketika membaca surat pembaca polisi Singapura di medio Juni ini, saya spontan tertawa sendiri bagaikan sosok gila. Nyengir dan nyengir saya di tenggang lima menit. Anak terkecil saya sosok bocah lelaki tiga tahun kemudian mendekat bertanya, ”Ketawa sama siapa ayah?”

Saya jawab, tertawa sama malaikat.

”Malaikat? Ayah bisa lihat?”

”Traya juga suka lihat di pojokan ada hantu pakai baju hitam”

Kami tertawa.

Biasa, keceriaan ayah dan anak.

Kecerian macam itulah yang selalu mengganggu pikiran saya hingga kini jika membayangkan sosok ibu dan ayah David. Kecerian mereka yang telah pergi.

Kepada saya, keluarga ini mengatakan sudah merelakan David berpulang. Namun, karena hub-ba-lahap-nya pengadilan, yang di urusan pengembalian laptop saja polisi Singapura mengingkari janji, berlagak seakan pilon, lagi-lagi, mutar-mutar, di kalimat tak adanya kalimat perintah pengadilan untuk mengembalikan hashing data, walaupun hal itu fakta yang mereka nyanyikan di pengadilan. Lagu yang sangat lucu, tentu.

Langgam jumawa polisi Singapura tidak akan pernah lupa pula di benak saya. ”Kami salah satu polisi terbaik di dunia. Kasus ini pasti akan kami selesaikan dengan profesional,” kata Avadiar, Kepala Polisi Investigasi Kasus David, kepada Hartono Wijaya.

Sejenak saya terdiam kembali.

RABU, 16 Juni 2010. Jakarta mendung menggayut. Sejak pagi hujan rinai di kediaman kami. Saya membayangkan macet-gencet deretan kendaraan berlelet-lelet. Saya monitor di twitter.com, kawan-kawan melaporkan kemacetan panjang Cawang-Grogol. Pintu tol Pondok Gede, arah dari Cikarang, Jawa Barat mencapai 21 kilometer tersendat.

Saya kembali bermimpi berada di Singapura membayangkan subway nyaman bagi warga. Sebaliknya di sini, hanya proposalnya saja yang baru terdengar dan terindikasi pula sudah menghabiskan Rp 200 miliar anggaran APBD DKI hanya untuk proposal. Sementara Monorail terindikasi tersandera oleh laku seoarang pengusaha kuat yang ingin mengambil alih proyek itu. Warga seakan dinomor-duakan.

Saya sedang online di internet, mengisi status di Facebook. Seorang kawan dari Singapura mengabarkan kawasan Orchard Road, Singapura, banjir mencapai 1,5 meter. Bergegas saya buka videonya di youtube.com. Benar saja, sebuah pemandangan langka di luar logika.

Saya masih ingat bagaimana seorang ahli geomensi, ilmu Cina kuna, yang mempelajari antara lain soal pengairan, drainase yang berintikan segenap saluran-saluran air harus mengalir. Maka saya perhatikan gorong-gorong di Singapura memang dibangun lebar besar. Hampir tak ada got mampet, apalagi kali mati macam di Pademangan, Jakarta Utara. Di pemahaman agama saya, surga dominan hijau dan di mana air mengalir.

Kejadian banjir di Singapura itu jelas tegas tak ada hubungan dengan kematian David, tak berkait ke surat pembaca polisi Singapura ingkar di Kompas, 15 Juni 2010.

Benang merah premis yang ingin saya ungkap adalah korelasi kecongkakan yang sama. Pertama congkaknya polisi Singapura dengan mengatakan bahwa dirinya salah satu polisi terbaik di dunia. Di dalam proses pengembalian laptop hak milik David saja pura-pura lupa, pura-pura tak masalah malah melempar ulah.

Sombong kedua, ya soal geomensi, ihwal saluran air. Kepada saya ahli geomensi yang saya temui di Singapura mengatakan bahwa kota itu sudah dirancang tidak bakalan kena banjir, dan kini, kalimat itu menjadi mubazir.

Sebagai penutup Sketsa ini, saya ingin menuturkan kepada Anda, bahwa hari-hari saya selalu rutin menulis dan mengikuti langkah hati. Dua kali di penghujung dua pekan ini saya berada di Cipanas, berdiskusi dengan programer yang sejak lama melakukan R&D di konten dan aplikasi, Anthony Seger.

Di sebuah kali kecil berair deras Minggu pagi, 13 Juni 2010, di Cipanas, saya menemukan seorang ibu dengan tiga anak yang masih di bangku SD sedang mencuci akar ilalang gunung. Ia mengambil akar itu dengan berjalan kai 5 km ke arah kaki Gunung Putri.

Akar putih bagaikan tebu berukuran lidi itu, seingat saya di waktu kecil di kampung dulu, jika digigit memang berasa manis. Keluarga itu menjual hanya Rp 5 ribu per kg ke supermarket. Toko mengikat kembali kecil-kecil dijual dengan harga berkali lipat.

Akar ilalang itu berguna untuk kesehatan, obat panas dalam, ginjal dan banyak lainnya. Air rebusannya diminum menyegarkan. Ini salah satu kekayaan hayati. Saya menjadi teringat kembali kalimat wawancara Emil Salim, 80 tahun, mantan Menteri Lingkungan Hidup di Kompas, 6 Juni 2010. Sosok kakek yang masih jernih bertutur itu bilang, ”Terkadang apa yang tampak tumbuh di tanah, bisa lebih bernilai dibanding apa yang ada di perut bumi. Itulah kekayaan hayati.”

Jika berada di tengah alam terkembang, kian terasa keberadaan manusia fana, sekaligus terasa bak sosok kecil tak bisa apa-apa. Sama tak bisa apa-apanya jika alam berbuat, kota anti banjir macam Singapura, toh dilibas juga oleh bah.

Memang bah!

Agaknya dalam kerangka itulah, polisi Singapura tampaknya harus berkaca. Termasuk saya dan kita semua agaknya. Satu nyawa David memang tak ada artinya. Namun sikap, tabiat, memperlakukan sesosok manusia, termasuk kekayaan hayati bumi, bukan semata di urusan sandiwara fakta. []

Iwan Piliang, literary citizen reporter: blog-presstalk.com


%d blogger menyukai ini: