Tag Archives: jejak

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


[Kajian] Membaca Tarian Jiwa Julia Napitupulu

(Sebuah telaah sederhana tentang kehadiran seorang Julia Napitupulu dalam Buku : JEJAK-JEJAK CINTA TUJUH PEREMPUAN)

 

Oleh Kusnadi Arraihan *)

Tulisan, apapun bentuknya adalah sebuah cermin gerak dinamis dari jiwa penulisnya.  Tulisan adalah wahana yang paling jujur, tentang kedirian seseorang. Banyak hal yang tersimpan dalam gerak tulisan itu. Kehidupan ini bagi seorang penulis adalah bukan hanya ketika dia berbicara soal bakat, tetapi juga merupakan alat seperti katub pengaman untuk melepaskan sebahagian dari beban kehidupan. Itu sebab mengapa menulis tak sepenuhnya hanya mengandalkan panca indera, tetapi juga melewati proses perenungan, aktualisasi imajinasi dan ini tugas dari dinamika kejiwaan penulisnya.

Inilah cermin kesan yang paling terlihat, ketika saya pertama sekali mengenal seorang perempuan pemilik nama Julia Napitupulu, saya hanya mengenalnya dari ruang Facebook, yang notebene diperlukan sebuah kemampuan daya jelajah analisa kita terhadap apa yang ditulis oleh seseorang, karena bisa jadi, tak sepenuhnya kita yang berkerabat di halaman jejaring sosial tersebut pernah saling bertemu muka. Maka pengenalan kita tentang sahabat tersebut biasanya hanya tertumpu pada tulisan yang disajikannya. Dan hal inilah yang coba saya lakukan juga terhadap seorang Julia Napitupulu.

Dalam buku “Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan” yang diterbitkan Penerbit Langit Kata tahun 2011, tebal 168 halaman, memuat tulisan dari tujuh penulis dalam bentuk cerita pendek dan puisi.

Ketujuh penulis tersebut, yaitu : Tina K – Ami Wahyu – Ami Verita – Lely Aprilia – Ayudya Prameswari – Tita Tjindarbumi – Julia Napitupulu. Penyunting oleh Ami Wahyu, foto sampul Thony Tjokro, pewajah sampul dan pewajah isi disajikan oleh Donoem.

Dalam kaitan ini, saya mengkhususkan untuk sedikit menyajikan hasil “penglihatan” saya pada tulisan Julia Napitupulu. Penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi ini memiliki multi talenta, karena di sela-sela menulis, Julia Napitupulu adalah seorang trainer bidang soft competence, seorang pembawa acara, bahkan juga piawai memainkan alat musik piano sekaligus menekuni bakatnya sebagai penyanyi. Benar-benar sebuah jiwa yang tak pernah berhenti menari.

Dalam buku ini, Julia Napitupulu ada menyajikan tiga tulisan, yang sekejap seusai membacanya, ada yang terus bergerak dalam benak, jejak kesan yang ditinggalkan tulisan dari hasil imajinasi penulis ini tak hanya mencari ruang, tetapi juga terus mengelana dalam pikiran. Mengapa demikian? Karena seorang Julia (demikian ia biasa disapa para sahabatnya – atau juga dengan nama Jula, sebuah sapaan penuh historis dari masa kecilnya) menulis dengan sepenuh jiwa yang bergerak, karena hati nurani penulis ini mampu menitipkan “ruh” pada setiap kalimat yang dituliskannya. Dapat kita rasakan nuansa yang demikian jernih ketika membaca salah satu sajiannya pada buku ini, yang ia beri judul “Melodi yang Tercipta Begitu Saja”. 

Dari judulnya saja, sungguh Julia telah berani keluar dari patron penulisan judul karya sastra yang pada umumnya menjauhi makna harfiah, lebih kental dengan penggunaan perumpamaan. Dalam tulisannya ini, Julia menggambarkan betapa sesuatu yang disebutnya dengan “melodi” itu bukan disiapkannya lebih dahulu baru kemudian melodi itu melahirkan banyak senandung. Tetapi justru, dengan kebersahajaan rasa dan jiwanya, Julia mencoba untuk menikmati jalinan kehidupan yang tersambung sebagai tali temali ini, dengan kadar kualitas dan cara-cara yang hebat, sehingga justru kisah kehidupan yang mungkin hal wajar bagi kehidupan orang lain, justru menjadi rahim yang melahirkan banyak melodi bagi kehidupan seorang Julia. Hidup telah dengan baik di-improvisasi olehnya.

Struktur tulisan yang lahir dari seorang Julia Napitupulu sebenarnya tak sepenuhnya kental dengan sastra, hal ini wajar, karena mungkin pengalaman dan latar belakang pendidikannya telah memasukkan unsur psikologi dalam setiap ia menuliskan sesuatu. Tetapi yang terasakan saat menikmati tulisan-tulisannya justru kita berada dalam ruang keindahan yang runut dan seperti memenuhi semua keelokan sastra. Mari kita perhatikan lirik dari tulisannya ini, saya petikkan :

di siang yang bagai hening malam

aku dan lekakiku terbaring dalam pesona

terlontar dari bintang-bintang yang meledakkan kami

dalam warna-warna pelangi

 

wajahnya,

raut lelaki yang tuntas

merekam sensasi

yang masih menjalari pori-pori

aku mengeja damai

diteratur hembus nafasnya

 

Diksi yang disajikannya sederhana, tapi proses pengendapan makna dalam benak setelah memahami dua bait lirik di atas, justru menjadi tidak sederhana. Larik “di siang yang bagai hening malam” adalah sebuah kontradiksi yang indah, Julia lihai sekali memilih bait ini. Pada bait kedua kita perhatikan: “wajahnya, raut lelaki yang tuntas”. O, duhai indahnya. Sebagai lelaki tulen, saya bahkan belum bisa mencerna dengan baik, makna hebat di balik larik itu.

Menikmati secara keseluruhan “Melodi yang Tercipta Begitu Saja” terasa kita memasuki sebuah ruang yang luas, dan di setiap sudut ruang itu ada keindahan yang bersahaja. Pada bagian tengah ruang itu, ada penataan bunga-bunga yang penuh warna. Ruang itu adalah kehidupan itu sendiri. Julia sangat suka menggunakan metafora alam untuk mempersonifikasikan tentang realitas hidup. Dan dalam tulisan ini Julia dengan sangat piawai menggambarkan sosok lelaki, sulit bagi pembaca untuk menyembunyikan kekaguman untuk cara-cara dia menuangkan ke dalam bentuk bahasa.

Kita lihat saja caranya menuangkan sketsa imajinasi tentang lelaki itu. Lelaki yang memiliki wajah sebagai raut yang tuntas, tulang rahang yang kukuh like a wave to the sea, tulang lehernya a bird to the sky, tulang belikatnya sekuat kayu, seliat tanah. Dan banyak hal lain yang digambarkan Julia dengan sangat anggun. Seluruh yang dimiliki lelaki itu pada akhirnya melahirkan sebuah melodi. Sungguh sebuah tulisan yang menjadikan nafas selalu harum, seperti sebuah telaga bening yang eksotis.

Pada tulisan kedua yang disumbangkan Julia dalam buku tersebut diberi judul “Sekarang Aku Tahu untuk Apa Aku Bernyanyi. Sebuah judul yang biasa saja. Tapi sungguh berbeda dengan isinya. Tulisan ini juga terkesan skema prolog, digambarkan seperti dialog, dan dengan menggunakan bahasa yang menghanyutkan rasa.

Kekuatan tulisan-tulisan Julia yang saya kenal memang bercorak seperti itu. Ini yang saya katakana di awal tadi sebagai pengaruh ilmu psikologi yang digelutinya. Artinya, semua puisi dan tulisan Julia selalu menghentak di kedalaman rasa yang terdalam. Sehingga sulit bagi pembaca untuk mengabaikan sebarispun dari larik-larik yang ditulisnya.

Pada tulisan ketiga yang disajikan dalam buku ini, Julia menggunakan bahasa Inggris yang indah, untuk menuliskan keindahan puisinya tersebut. Judulnya pun cukup menggugah “You’re My Every Phrase”. Ah!

Tulisan ini juga tetap menggambarkan tentang dua anak manusia, juga masih menggunakan alam sebagai bagian dari perumpamaan yang hendak diungkap. Dalam suatu pembicaraan, Julia pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia suka menggunakan unsur alam sebagai bagian dari tulisannya, karena hakikatnya alam itu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, dalam perspektif Julia, alam itu adalah realitas hidup untuk mewakili banyak rasa, banyak keadaan, dan itu telah dilakukannya dengan menggunakan idiom-idiom yang memukau.

Secara keseluruhan, dengan tidak mengabaikan kehebatan tulisan dari enam penulis lainnya,  ketiga tulisan Julia yang dalam buku ini diletakkan pada bagian penutup, tetapi justru di sini kelihaian penyuntingnya untuk menjadikan ketiga tulisan Julia ini bukan sebagai “grendel”, tetapi justru menjadi “perekat” imaji pembaca terhadap buku ini. Karena ketika kita menyelesaikan keseluruhan isi buku ini, maka ketiga tulisan Julia ini menjadi bagian penting dari “penahan kesan menarik” terhadap keseluruhan isi buku.

Sebuah tulisan memiliki banyak tanggung jawab untuk mewakili suatu keadaan di tengah khalayak, tulisan tentang cinta, tentang anak-anak, tentang remaja, dan tentang orang tua, bahkan tentang keseluruhan hidup manusia, adalah warna yang membuat kita faham tatanan masyarakat berserta pola pikir yang bergerak membentuk peradaban. Dan seorang Julia Napitupulu tengah berusaha menggeluti semua kemampuan bakat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Dalam setiap tulisannya, perempuan Batak ini benar-benar memproses sebuah tulisan seperti menjaga sebuah proses kelahiran seorang anak, sedemikian rupa dia menjaga seluruh kualitas, dan ini juga yang membuat dirinya, dalam segi kuantitas tulisan agak tertinggal dibandingkan dengan bakat menulisnya yang sebenarnya sangat baik itu. Ini masalah sikap dan komitmen, dan seorang Julia menjaganya menurut perspektif yang dimilikinya.

Ada rasa kagum yang terselip, di tengah gelombang aktivitasnya yang demikian padat, belum lagi urusan perannya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, seorang Julia Napitupulu masih sempat menulis. Bisa jadi mungkin bukanlah tulisan yang fenomenal, tapi di ruang rasa jiwa saya, tulisan Julia selalu memberikan nuansa keanggunan yang memukau.  Karena membaca tulisannya seperti menyaksikan jiwanya menari-nari, mengisi semua ruang sambil terus bergerak dinamis, dengan ritme dan tempo yang indah. Julia Napitupulu adalah sebuah jiwa yang terus menari. ***

16 Mei 2011

*) Kusnadi Arraihan – Penikmat Sastra. Menetap di Medan.

The Dancing Soul (illustrasi oleh Ardi Nugroho, Surabaya)

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com


Setangkai Hujan II

Oleh Afrilia Utami

 

Kolaborasi : Reski Handani & Afrilia Utami


Image From “diannafirefly.blogspot.com”

 

Sedari tadi hujan terus menuai dingin yang semai. Kemanakah petualang kali ini hendak berpetualang? Ke sayu lembut matamu atau ke debar degup jantungmu, mungkin.

Hujan kali ini umpama pandang mata di derai langkah, mengiring gigil jatuh menumpuk serupa tugu. Di mana aku menitip tunggu sepanjang jalan. Menuai cemas di sekujur badan.

Dingin…benar gigil deburan angin. Nafasku mengeja titikmu kah? Ataukah deras gemuruh yang mengasbak di dua lapis bisumu? Langkah ini membayangi basah. Menelanjangi lompatan bocah-bocah yang redup di jiarah sejarah. Menyimpulkan senyum dan murungku di bibir merah jambumu.

Kemudian jelma tempias diam-diam menerobos jendela, potret wajahmu kuncup di mataku. Entah harus bagaimana aku berlari, di tiap lompatan kaki kau umpama jejak yang pulang dan pergi.

Lalu kuikuti perlahan namun pasti. Jejakmu semakin jelas mengarahkan kiblatku. Ku temukan aspal membentang jauh dari timur menuju selatan. Ingin kugapai lembut ragamu yang pias serupa mayat, dan perlahan kubisikan hangat,  mengangkatmu dari sejauh ku dan terpisah kau, menjadi dekat, erat dan semakin nafasmu lekat menguat.

Maka dekapmu rumah bagiku, dadamu halaman bunga yang kupetik sejak pagi hingga senja. Di situ sandar adalah gelak tawa di mana duka nestapa cuman dongeng lama, sejenak kemudian kucuri tubuhmu, matamu, dengarmu, retak garis bibirmu, akan kutatasimpan di kalbuku.

 

[]

September 2010

 

( Free Download klik this link for Setangkai Hujan.mp4)


Keraguan Itu Bernama Cinta

Oleh Hera Naimahh

hatiku adalah sebongkah rapuh

ketika harus berbagi napas dan udara seketika

tapi bagaimanapun pada sebongkah rapuh itu pula

kuncup cinta ini pernah bermula dan menggoreskan

kisah tentang garis pantai yang

setia menanti senja tiba

tahukah kau

kalau setelah itu diam-diam waktu

berhenti

menahan hujan,

menaklukkan gelombang,

dan memadamkan gemuruh api

yang kemudian membatu dan teguh

menenggelamkan semua benda

tak bernama

masih adakah di sana

pucuk-pucuk cemara yang pernah

bersaksi ketika pertama kali kusampaikan:

“aku cinta padamu”

bagaimana mungkin

kau lupa cara membacaku

padahal katamu

masih kau simpan jejakku

di relung-relung rahasiamu

[]

hera – september 2010


Balumpa

Oleh Adhy Rical

telah kudendangkan balumpa

sebelum kau menjahit punggungku

petang di bawah tangga

kita berdepan:

bawalah mataku, katamu

sebab ayam hijau tak punya tiang penyangga

yang mengajakmu bernyanyi

bahwa keluh hanyalah asap dapur sesorean

jejakmu di mana, sayang?

begitu sulit meminum air mata sendiri

tak ada kampung lengang

kalau bukan karena lenggang

jangan ucapkan waliakomo

kita bernyanyi saja seperti rindu sudah

kabanti, kabanti kamba-kamba wolio

o, haluoleo

bukanlah bilangan di bawah jemari

tentang pertemuan yang belum

Batumarupa, 2010

[]

Catatan:

balumpa: perjuangan orang Wakatobi melawan penjajah dan penyebaran agama Islam yang divisualkan melalui tarian dan nyanyian (kabanti). Diperkirakan balumpa bermula pada pertengahan abad ke-14.

halu oleo: delapan hari (Tolaki). Rentang waktu untuk menemukan seseorang (lelaki) yang kelak menjadi raja di Konawe dengan nama Haluoleo.

kabanti kamba-kamba wolio: sastra lisan percintaan Butuni.

waliakomo: pulang/balik/selamat tinggal (Tomia), sering diucapkan dalam kabanti.



foto: arif relano


Di Bawah Pohon Pete

Oleh Dwi Klik Santosa

bulan pucat dalam jepretanku. foto : dwi ks, 6 agustus 2009; 23.09

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Entah karena apa

Mungkin disebabkan aku merasa tidak akan pernah lagi

Mendengarkan pengetahuan-pengetahuan indahnya

nada marahnya, cerita lucunya

bahkan isak tangisnya

Sungguh mati, aku merasa kehilangan

Dan sangat gusar kapan lagi akan menemukan

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Ketika banyak orang berebutan paling depan

hendak melepasnya menuju

Hanya bersender aku dibawah pohon itu

Sunyi dan sepoi ditemani angin bukit

Tersibak-sibak rambutku

Menggerak-gerakkan mata untuk luruh

dan mengucap doa yang tak seberapa fasih

“Tuhanku, hamba berbicara kini

Sebagai manusia rapuh

Makhluk yang suka sekali mengeluh

Banyak menuntut dan rajin membohong pada diri

Hamba ingin bersyukur kepadaMu, Tuhan

Hamba ingin curhat kepadaMu

Yang Kaupanggil hari ini, semogalah tunai kembali kepadaMu

Sedang makhlukMu yang sebatang dan berdebu ini

lapangkan jalannya untuk tegar menelusuri jejak-jejak itu”

[]

Cipayung Jaya, 5 Agustus 2010 : 22.4o


Membaca “Jejak Guru Bangsa”

Oleh Dwi Klik Santosa

Humor itu serius. Ini yang terpetik dari sekian lembar dalam 179 halaman buku yang ditulis Mohamad Sobary : JEJAK GURU BANGSAMewarisi Kearifan Gus Dur. Sepanjang membaca buku ini, tak kurang seperti orang gila saya, senyum-senyum dan ngakak-ngakak sendiri. Wong edan! Gus Dur ki edan tenanedan bukan karena kahanan, tapi memang kahananlah yang ingin dilawannya.

Hal yang menarik perhatian saya dari sudut mengagumi Gus Dur, adalah ketika pada saat beliau masih sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Jogjakarta. Pada saat yang sama, beliau diminta sama ibunya untuk nyantri juga di Pesantren Al-Munawir, Krapyak, yang waktu itu dipimpin oleh Kyai Maksum. Banyak tanya jawab yang menggelitik antara santri Dur dan Pak Kyai. Dan topik yang dibicarakan cukup tajam, karena seusia itu santri Dur suka sekali membaca novel-novel pergerakan, yang rata-rata  semuanya berbahasa Inggris.

Dituliskan Kang Sobary, buku-buku yang dibaca Gus Dur itu antara lain : Das Capital (Karl Marx), Communist Manifesto (Karl Marx), The German Ideology (gabungan Karl Marx dan Engels), What to Be Done (Lenin). Novel-novel Tolstoy : War and Peace, dsb dsb. Ernest Hemingway : A Farewell to Arms, For Whom the Bell Tolls, The Old Man and The Sea. John Steinbeck : Travels with Charley, In Search of America. Cerpen-cerpen Chekov, Drama-drama Pushkin dan Nikolai Gogol dsb dsb.

Membaca buku ini: menyenangkan!

[]

Pondokaren, 15 Agustus 2010 : 16.1o


Jejak Kisah Dibatas Cakrawala Senja

Oleh Afrilia Utami

Di kasat cakrawala …
Rona senja masih melamar pucuk hening
Lambaian jingga yang lantunkan mesra
Serpihan angin melaju merantau tak terarah
Bawakan hembusan rindu yang meramu dalam biduan semesta
Tidaklah hinggap pudar
melumuri putih kilauan, kasihNya

Ambang gulandah jejakmu ..
Dalam tepi langit yang mulai merah merona
Sepi yang berkisah dalam kau dan bila aku
Masih menjadi tikaman arti
Pelajaran tak henti ditinggal poros KalamNya

Lihatlah .. Matahari mulai tenggelam
Aku berlari sambil bertari dengan serangkai bunga
Tempat dulu kita tunaikan kisah
Semasa benih masih hanya bijian kecil membilah
Hingga pucuk-pucuk mahkota lamari indah
Tak terpilah tepi nadi digumam waktu berdetik nadi

Dalam selasar langit yang menelan hari
Genggamlah, serangkai cerita nostalgia
Meski endapan lara diselasar kaidah derita
Pun bahagia
Selebih leleh air yang deras membendung album
Berkucup rindang menjari-jari
Dalam diameter tepi harapan
Dan ketakutan yang merajam ..
Debar ..!

Merangkum kisah saat gumam nadi diantara dayuhan Senja, menebing raum pesona kaidah yang melipat, hingga raga memucat pasi bersama tenggelamnya Matahari, ingin kunikmati jauh lebih lama .. Namun senja hanya tampakkan diri yang masih melahap waktu yang berduarasi..

29 Juni 2010
: Afrilia Utami

[]

Senja di Pantai Kudeta. Diambil pada tanggal 16 Oktober 2008


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [4]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Mencari Ibu

Oleh Adhy Rical

: Ayu

duduklah
kita berdendang
kubawakan daun merah muda
dari tujuh sumur batu*
tempat mandi bidadari

aku tak bisa menulis padi
ilalang merimbun dua belas jarimu
dangau membawa jejak mimpi

nak, ibumu tak teduh seperti ibuku
tak bisa kucari
mungkin bianglala bisa tiruskan wajahnya
di antara semak

di sinilah kita bernyanyi
ketika ibumu kali pertama menyusu
kuceritakan legenda seperti ibuku

peluklah
kita berhitung
berapa bidadari membasuh wajah
berapa rusa dan pemburu
atau berapa bocah dan peluru
kenapa daun merah muda ini hanya satu

nak, mari bermimpi
dengan doa ibuku
bukan dengan doa ibumu

Sumur Batu, 2009

*sumur batu, legenda suku Moronene, titisan tujuh bidadari dan Oheo.



%d blogger menyukai ini: