Tag Archives: kakek

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Nyanyian Kuda

Oleh Dwi Klik Santosa

MUSIM libur sekolah tiba. Sebagaimana yang dijanjikan ibu, aku dibolehkan selama seminggu penuh bertandang dan tinggal bersama kakek dan nenek di kampung. Bertualang ke kampung kelahiran ibu yang hening dan jauh dari keramaian kota, wuih, betapa menyenangkan.

Mumpung pula ada kesempatan yang bagus. Jika ayah sedang banyak waktu di rumah, ada saja ulahnya untuk meraih perhatian ibu. Sepertinya ayah sedang puber kedua. Masa-masa nakal dan bandel seperti usiaku kini. HihihiNah, saatnya memberi kesempatan… Lagi pula, sudah nyaris setahun, karena kesibukan hidup di kota, rindu rasanya menikmati lagi udara desa persawahan yang segar. Lebih dari sekedar itu, amat sangat kurindukan bersua nenek yang penuh perhatian kepadaku. Nenekku adalah perempuan yang lembut dan baik. Kepadaku, beliau selalu memanjakan. Berusaha melancarkan dan membuat senang terhadap apa saja hal, agar satu-satunya cucu tersayang ini senang dan tidak nampak kurang suatu apa.

Begitupun dengan Mbah Asyik, kakekku. Ayah dari ibuku ini suka dipanggil demikian, karena sosoknya selalu asyik jika diajak ngobrol. Sosoknya sahaja. Tinggi dan kurus dan selalu menampakkan senyum yang menyenangkan ketika beliau mulai unjuk bicara. Bahkan, jika kakek sedang narik dokar, sebagai pekerjaannya sehari-hari, para penumpangnya tidak saja menjadikannya sopir atau si pengendali kuda penarik biduk dokar, tapi juga sering kali jadi tumpahan curhat. Pendengar yang baik dan setia, serta tak jarang pula sekaligus memberikan timbangan atau jalan keluar bagi si pencurhat yang bimbang atau gundah karena persoalan keseharian hidup yangmenghimpitnya.

Kakek dan nenek adalah sepasang yang hangat dan sangat halus perangainya. Bahkan, meski aku sudah SMA kini, tapi tetap saja kedua beliau ini memperlakukanku seolah kanak-kanak manis yang harus dimanja dan dijagai perasaannya. Agar supaya aku betah dan kerasan saat tinggal bersama beliau berdua. Agar aku tidak merasa dikecewakan atau dibuatnya sakit hati atau putus asa. Ah, kakek. Ah, nenek.

Tidak diperlakukan begitu saja, bagiku tinggal berbaur dengan kehidupan di desa yang asri nan permai di sini, cukup sudah bagiku untuk mengikatkan kangen itu. Apalagi dengan menu-menu masakan nenek yang tiada sekalipun tidak spesial bagiku. Bothok mlanding, terik irisan tempe bersantan dan keripik jamur. Nasi Thiwul kebul-kebul yang diurap dengan nasi putih, plus sambal bawang. Wuaaah, menu yang istimewa dan sama sekali sulit rasanya dapat kutemukan di kota, ruang biasanya aku berkutat dan berkeseharian.

Jika sedang makan bersama kakek dan nenek. Ada saja bentuk manjaku kepada beliau. Sesekali aku minta disuapin nenek, sambil mendengarkan kakek asyik bercerita. Sesekali pula jika cerita kakek mengandung hal yang lucu, sehingga menyebabkan nenek tertawa terpingkal-pingkal, lalu gantian aku meminta perhatian kakek untuk menyuapiku. Dan pada suatu waktu itu, saat aku sedang bermandi-mandi kasih sayang dengan kedua beliau itu di amben beranda, sekonyong-konyong terdengar suara janggal. Yang entahlah, suara itu kurasakan seperti sesuatu yang unik dan mengusikku untuk masuk mengakrabi keinginan tahuan kenapa suaranya itu begitu.

“Jangan kaget. Begitulah si Peno kalau ada tamu, ada saja maunya pingin juga diperhatikan,” kata kakek, “si Peno ini keturunan si Poni kuda kesayangan kakek yang telah almarhum.”

Keterangan kakek ini setidaknya mampu meredam rasa ingin tahuku. Dan, saat malam tiba. Kelakar kakek yang lucu dan hebat terus menggenangi rasa banggaku memiliki sejoli serasi ini. Seringkali nenek dibuat sipu-sipu dengan canda lepas kakek.

Hoalah, dulu itu nenekmu ini betapa sulit didekati. Hanya sekedar untuk melihatnya sekali saja tersenyum…huwaduuuh, haduh,” kata kakek dengan mimik yang dibuat-buat.

Nenek hanya menahan senyum saja. Dan tiba-tiba seraut wajah berkeriput itu pias dan merengut tiba-tiba.

Nah, awas ya, kalau mulai lagi…,” ancam nenek menatap kakek serius.

Tentu saja hal ini menarik perhatianku.

“Memangnya kenapa, Kek?”

Kakek pun melirikku genit. Lirikan serta alis tebal memutih yang terangkat begitu itu sangat kukenali dengan baik. Pastilah ada suatu kenakalan yang akan dilakukan kakek. Dan rupanya isyarat itu terbaca oleh nenek. Saat nenek memelototiku, lantas kutiru gaya lirikan kakek. Kemudian kulirik nenek dan kakek berurutan, sambil cengengesan. Kulihat nenek merengut, makin sewot saja memandangi kami berdua.

“Kakek dan cucu sama saja,” seru nenek, “lebih baik kutinggal tidur.”

“Tunggu, Nek…”

Mendadak aku jadi gugup. Tapi anehnya, kakek pingkal saja ketawa. Melihat cara kakek tertawa, tak urung membuatku geli. Dan lalu ikut pula ketawa. Setelah agak mereda. Nyanyi jengkerik berderik memecah malam. Kuamati sedetail mungkin wajah kakek.

“Maaf, Kek. Sebenarnya apa sih yang bikin kakek ketawa sepingkal itu. Dan kenapa tadi nenek nampak sewot, dan tersipu-sipu?” tanyaku.

Lalu terdengarlah lagi tawa kakek yang keras meruangi lagi larutnya malam. Aku yang geli, jadi bego saja. Tapi kemudian…

“Kamu tahu tidak, Cu. Kenapa pada akhirnya nenek mau menerima cinta kakek?”

Wuaaa… Iya… iya, karena apa, Kek?”

Lampu yang remang-remang di beranda itu tidak seutuhnya menimpa wajah kakek. Tapi mata tua yang berkilat-kilat itu menatapku tajam, seperti hendak memberitahukan sesuatu yang penting.

“Nenekmu dulu adalah gadis yang cantik. Begitu amat cantiknya.”

“Ya, Kek. Sampai sekarang pun nenek masih cantik.”

“Iya, ya. Tapi bukan itu saja, rasanya yang menjadikan kakek dulu naksir berat kepadanya. Tapi lebih karena di mata kakek, nenekmu itu orangnya lembut. Penyabar dan cekatan menghadapi apapun masalah. Semua itu tergambar nyata saat bencana menimpa keluarganya. Saat tanah longsor itu meruntuhkan rumah dan harta yang berada di dalamnya, bahkan menyebabkan luka bagi bapak dan ibunya. Betapa sabar ia menerima kenyataan itu.Tidak nampak sekalipun tangisnya. Tulus dan pandai ia merawat kedua orangtuanya. Biarpun tidak punya tempat lagi untuk berteduh, tapi tetap penuh semangat ia menjalani hidup secara wajar. Saat itulah banyak pemuda datang menawarkan perhatian kepada nenekmu.”

“Termasuk kakek.”

Kakek menggeleng-gelengkan kepala.

“Kakek ini dulunya pendiam. Meski telah lama sebenarnya merasakan hal yang aneh sejak pertama jumpa dan sempat pernah bertatapan mata dengan nenekmu. Namun sejauh itu, kakek hanya memendam saja keinginan untuk kenal lebih jauh dengannya.”

“Kakek pemalu ya…”

“Jujur saja, Cu. Kakek merasa harus tahu diri. Sebab terlahir sebagai orang tak berpunya. Bapakku hanya seorang penarik dokar dan yang akhirnya sampai sekarang ini kuteruskan, jadi Mbah Asyik si penarik dokar…”

Mendengar cerita kakek pada bagian ini, sedikit membuatku tegang. Kupandangi lekat-lekat wajah kakek. Kulit-kulit itu berkeriputan di sana-sini. Seraut wajah yang lugu. Dan kedua bola mata itu hitam memudar. Meski begitu tenang dan mengandung semacam wibawa. Laksana saja permukaan danau ditempa sorot purnama. Berkilat-kilat keemasan cahyanya, serasa teduh pula begitupun menghanyutkan. Kedua bibirnya yang basah pula kecoklatan itu mulailah lagi bergerak-gerak.

“Sedangkan para pemuda yang rata-rata anak dari orang kaya dan orang terpandang itu selalu datang dan ada saja lagaknya demi untuk menarik simpati atau perhatian nenekmu…”

“Apakah mereka itu cakep-cakep melebihi kakek?”

Kakek senyum saja menatapku. Senyum itu lebar penuh arti.

“Pada umumnya, mereka itu berandalan dan menunjukkan gelagat yang tidak sopan, begitu kata nenekmu pada suatu hari.”

Wuaah…artinya nenek tidak berkenan, ya dengan mereka semua itu. Lalu seterusnya, bagaimana dengan kakek?”

Wajah kakek mulai mengembang lagi. Romannya berseri, memercik nakal. Tapi sejauh itu belum juga beliau membuka suara, dan hanya mesam-mesem saja.

“Gimana Kek, ayo cerita. Pasti lalu kakek jadi jagoan dan menjilma pangeran tampan seperti di dongeng itu.”

Ah, kuno itu!”

Haa! Kaget aku mendengar kata kakek.

“Setiap kali aku mengagumi sosok nenekmu, selalu saja lalu menjilma catatan-catatan seperti puisi gitu.”

“Iya, Kek! Wuiiii…”

“Tapi sejauh itu catatan-catatan di kertas-kertas itu hanya kakek simpan saja untuk kakek kenang sendiri. Dan hingga pada suatu hari…”

“Kakek berani membacakan puisi itu di depan nenek!”

“Kamu tuh sok tahu.”

Lha terus…”

“Suatu hari, secara kebetulan nenekmu butuh tumpangan dokar kakek. Segera kubantu dengan riang mengangkat barang belanjaan nenek dari pasar itu. Kalau biasanya, dokar penuh baru berangkat. Karena yang numpang nenekmu, seorang saja tidak mengapa, langsung kulecut laju si Poni. Tapi, rupanya selama berduaan saja di dokar, begitu lamanya kami terus saling diam.”

YaaahKek. Nggak seru! Kakek kan dijuluki Mbah Asyik, masak tidak berani ngajak Nenek ngobrol.”

“Bukan begitu, Cu. Keringat kakek berdleweran di sana-sini. Kakek bingung mau ngomong apa. Kurang ajarnya, suasana yang tegang begitu, si Poni, si kuda kurang ajar itu kentut melulu. Baunya huwalaahhhh…”

Hahahaha… ” tawaku pecah, betapa lucunya.

“Ya, tapi, malah kakek syukuri. Ternyata kentut si Poni malah bikin kami sama-sama tertawa ngakak. Tapi, yah… sejauh itu masih saja kakek belum bisa ngomong hal-hal yang penting menyangkut perasaan kakek.”

Yaaaah, Kakek…”

“Ya, memang begitulah, Cu.”

“Terus gimana dong, Kek, kelanjutannya.”

Nah, ini tumben-tumbenan. Kejadian seperti itu terulang lagi. Entahlah, sepertinya nenekmu menghendaki pula suasana berduaan saja seperti yang lalu itu. Dan, begitulah, akhirnya kami berduaan lagi…seperti dulu. Dan selalu begitu. Masih saling bisu. Dan terus saja si Poni rajin mengganggu dan lalu mencairkan tawa di antara kami…”

“Terus, hanya segitu saja, Kek.”

“Tunggu dulu. Sewaktu dokar Kakek telah tiba di depan rumah nenekmu. Barang-barang belanjaan itu lekas kuturunkan. Tiba-tiba nenekmu, mengulurkan tangannya memberi upah. Sesuatu yang ganjil. Sebab yang kemarin saja aku tetap menolak pemberian uang darinya sebagai jasa numpang dokarku. Tapi tetap dia nekat, bersikeras ingin memberikan uang itu. Kakek agak tersinggung. Rupanya nenekmu membaca itu. Kemudian, seruas lesung pipit pipi nenekmu mengembang. Uang itu dimasukkan lagi ke dalam dompetnya. Dan dari dompet itu ia mengeluarkan secarik kertas. Disorongkan dengan malu-malu kepadaku…”

“Apa isinya Kek?”

“Puisiku.”

“Puisi Kakek? Kok bisa?”

Ya. Sewaktu berduaan dari pasar yang pertama kali itu, rupanya kertas itu terjatuh, lalu dibawa dan disimpan nenekmu.”

“Boleh tahu tidak, Kek, bunyi puisi itu?”

Hhh…mau tahu saja,” seru kakek sambil menatapku.

Tatapan matanya itu lugu. Dan nakal. Khas sekali kerling Mbah Asyik yang kukenal selama ini.

“Tapi baiklah. Hanya kepadamu, Cu, tidak pula ibumu, kisah lama yang telah bertahun-tahun ini menjadi rahasia hati antara kakek dan nenekmu itu akan kukatakan sejujurnya.”

Malam yang lucu. Kata-kata kakek ini betapa memakuku untuk mengalir dan mengetahui apa yang akan lagi dikatakan laki-laki tua yang lugu tapi asyik.

“Begini bunyi puisi itu:

Kalau saja senyummu semanis kuda ini

Dan manis pula kau bilang: kamu manis, aku mau jadi milikmu

Duh, sepanjang waktuku pasti penuh tawa

…”

Wuuaaaa…seru, Kek, asyik. Hahaha…”

“Iya, dan asyiknya lagi…di bawah tulisan kakek itu, tulisan apik dan rapi itu…

Takkah kau lihat senyumku semanis si Poni

Kamu juga manis: jangan ragu lagi”

Wuaaa…”

Begitulah, malam pun makin larut. Tawa kakek menjadi tawaku juga. Jangan-jangan nenek pun hanya pura-pura saja akan tidur di sebalik kamarnya. Dan tapi beliau malu-malu mau, sedari tadi mengintip menguping bincang kami. Kemudian diam-diam tersenyum lebar dan tertawa lepas pula.

Senyum si kuda…hmmm!  Liburan yang menyenangkan.

Pondokaren 16 Juli 2009 : oo.06

[]


Bulan Seperti Penyair

Oleh Adhy Rical

bermalam di matamu
sandarkan sesak mimpi menghamba
isakmu sujud alir perigi
mengapi di puting api
mengaji di matamu
kobarkan bedama benak kekanak
amarahmu simbar para resi
mengair di lesung pipi

bermalam matamu
basuh jiwa raga
sebelum kafan bertali putih

Konawe, 2009


%d blogger menyukai ini: