Category Archives: Humaniora

Assalamu’alaikum Ibu

Oleh Ade Anita

1.

Setiap kali melintas di jalan Casablanca, ada sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan di dalam kendaraan. Yaitu menengok sejenak ke arah pekuburan dan mengirimkan sebuah salam untuk ibuku. Ya. Itu rumah ibuku sekarang sejak tahun 2003, tepatnya 18 April 2003. Beliau meninggal dengan tenang setelah terkena serangan jantung.

“Assalamu’alaikum Ya Ahli Kubur, Assalamu’alaikum Ibu. Semoga ibu selalu mendapat rahmat dari Allah yang memang tiada pernah habis dimana pun kita berada.”

2.

Ibuku seorang perempuan yang unik. Teman-temanku banyak yang menyukai beliau karena beliau senang bergurau, senang memasak dan menjamu orang, serta selalu punya seribu satu cerita. Entah itu cerita tentang masa lalunya yang seru atau cerita tentang teman-temannya yang bermacam-macam karakternya. (Hmm…mungkin aku belajar dari beliau dan semua cerita-ceritanya dan mencoba untuk mengumpulkannya satu persatu dalam tulisan). Tidak heran hal pertama yang sering ditanyakan oleh teman-temanku jika bertemu denganku adalah, “Gimana kabar nyokap lo?”

3.

Almarhumah ibuku memang selalu ceria dan senang bercanda. Tapi bukan berarti dia tidak pernah menangis atau bersedih. Bersedih, tentu saja ibuku pernah bersedih (atau mungkin sering hanya saja aku tidak tahu? Entahlah). Air mata sering aku lihat meluncur di keduabelah pipinya. Tapi, khusus untuk kasus air mata ini, tidak bisa dikatakan bahwa air mata ini meluncur karena beliau sedang bersedih. Karena, jika sedang terlalu bergembira pun, ibuku sering meneteskan air mata. Termasuk ketika sedang terharu.

Setidaknya ada tiga peristiwa dimana ibu meneteskan air matanya, khusus untukku (ya, air mata ini spesial hanya untukku, tidak untuk yang lain).

Peristiwa itu adalah, ketika aku sedang tertidur di kamar pembantuku. Tiba-tiba saja, ada setetes air yang menetes tepat menimpa wajahku. Bukan hanya setetes atau dua tetes, tapi banyak. Mengganggu tidur siangku, dan membuatku terjaga bangun, tapi lalu mengerang.

Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika ibu pergi dengan teman-temannya untuk ikut kegiatan PKK di Kecamatan. Ibu memang seorang aktifis pemberdayaan keluarga dan masyarakat di Kelurahan tempatku tinggal. Dia sering bepergian untuk membantu keluarga tidak mampu, anak-anak dhuafa dengan teman-teman PKK-nya yang bekerja sama dengan Kementrian Sosial kala itu (era tahun 70-an). Siang ketika ibu sedang ikut kegiatan sosial tersebut, aku dan adikku bermain pimpong di halaman garasi rumah kami. Aku dan adikku tidak bisa main pimpong tapi seperti halnya kanak-kanak yang lain, kami tetap memainkan permainan pimpong tersebut dengan cara kami sendiri. Kebetulan, aku berkali-kali menang dan tentu saja kebalikannya, adikku berkali-kali kalah. Kondisi yang menyebalkan dan menyesakkan itu adalah kondisi kalah. Dan setelah mengalami kekalahan berkali-kali, kemarahan adikku pun mulai muncul. Terlebih mungkin setelah melihat kepongahanku karena kembali meraih kemenangan. Akhirnya, karena kesal, adikku melempar raket pimpongnya ke arahku. Mungkin dia tidak sengaja karena sudah terlalu kesal, dan melemparnya dengan main-main. Tapi, takdir rupanya berbicara lain. Raket itu terlempar begitu saja dan langsung ujung kayu bulatnya menimpuk kepalaku.

ZING…

Aku langsung menghentikan tawa kemenanganku dan langsung memelototi adikku. “Kenapa sih? Sakit tahu.” Sementara adikku hanya menatapku dengan bengong dan terkejut. Tidak berkedip.

“Kenapa?”

Adikku masih terdiam menatapku dengan terpana. Spontan aku meraba ujung pelipisku. Ujung jemariku terasa basah. Lalu aku bawa ujung jemari itu ke depan wajahku hingga aku bisa melihat ternyata ujung jemariku sudah dipenuhi oleh lumuran darah. Panik, aku melihat ke arah jendela kaca dan langsung melihat bahwa saat itu, ternyata wajahku sudah dilumuri oleh darah. Barulah aku menangis kencang hingga semua orang datang dengan panik dan memberi pertolongan. Setelah lukaku kering, aku yang masih marah pada adikku, menolak untuk bertemu dengannya dan lebih memilih untuk tidur di kamar pembantu. Ketika sedang terlelap dalam tidurku itulah ibuku datang dan langsung mengelus pelipisku yang terluka bocor tersebut sambil meneteskan air matanya. “Maafin ibu ya nak, ibu sedang pergi ketika kepalamu bocor.” Sejak itu, ibu mengurangi semua kegiatan sosialnya dan lebih banyak berdiam di rumah saja.

Peristiwa kedua ibu meneteskan air matanya khusus untukku adalah, ketika suatu pagi ibu dan ayah memanggil-manggil namaku dengan suara yang penuh gegap gempita. “Adeeeeeeeeeee…adeeeeeeeeeee.”

Aku sedang tertidur. Pagi-pagi kedua orang tua kalian memanggil kalian, apa yang langsung terlintas di kepala kalian? Ya. Benar. Aku langsung merasa bahwa mereka memanggilku untuk menyuruhku melakukan sebuah pekerjaan. Padahal, aku sedang bergelung dengan selimutku menikmati sisa pagi yang dingin. Selimut aku tinggikan, menutupi seluruh tubuh dan kepala, berharap tidak terdengar lagi panggilan itu.

“ADEEEE…”

Duh. Apa sih nih? Nggak bisa melihat orang senang sebentar. Ini kan hari minggu!

Akhirnya dengan merenggut kesal, aku melempar selimutku dan turun ke bawah (rumahku memang bertingkat). Di lantai bawah, kulihat ayah dan ibu sedang duduk berdampingan sambil tersenyum-senyum ke arahku. Koran bergelimpangan di depan mereka, lembar per lembar.

“Ade, kamu diterima di UI.”

Kantukku langsung menguap hilang tanpa bekas.

Lalu dimulailah hari pendaftaran dimulai. Setelah selesai mendaftar, ayah dan ibu mengajakku berkeliling kampus. Jika saja mungkin, pasti mereka ingin naik ke atas kap mobil dan berteriak pada semua orang “Hei, lihat, anak saya akan bersekolah disini.”… aku tahu itu akan terjadi jika saja kami naik mobil dengan sun roof di atasnya. Untungnya mobil kami adalah mobil kijang biasa.

Setelah puas berkeliling kampus, kami makan di tempat jajan mahasiswa. “Wah, berarti nanti kamu bakalan makan di sini ya De?” Aku mesem-mesem salah tingkah. Di sekelilingku ada banyak mahasiswa dan mereka menatap kami sambil tersenyum (karena kami datang dengan anggota keluarga yang lengkap!!!).

Lalu, ketika aku izin ke kamar mandi seorang diri, ibu tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut menemani. Di kamar mandi itulah, ibu tiba-tiba memelukku erat dan air matanya aku rasa menempel di leherku. Basah.

“Ade, terima kasih ya karena kamu sudah berusaha keras untuk bisa masuk di UI. Ibu bangga banget sama kamu. Ibu tahu pasti, kamu usaha keras banget untuk prestasi ini. Pasti berat apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Ibu inget, guru-guru SD kamu dulu, yang pernah bilang bahwa kamu adalah anak yang bodoh dan tidak sepantasnya bersekolah tinggi-tinggi. Tapi, ternyata kamu hebat. Kamu bisa menepis semua cemooh orang itu. Terima kasih ya nak.”

Aku langsung ikut menangis juga.

Aku memang punya kelainan sejak kecil. Yaitu, orientasi kiri kananku kacau balau (juga ditambah dengan sakit asma yang parah, hingga setiap tahun pasti ada waktu dua sampai tiga kali harus opname). Tapi terutama orientasi kiri kananku itu yang terasa mengganggu. Karena, itu menyebabkan aku mengalami kesulitan untuk membaca, menulis dan otomatis juga mengenal angka. Aku tidak bisa membedakan huruf b – d, p – g, h – 4, s – z, a – e, bahkan juga u – n. Lebih parah lagi, aku sering sulit terbalik-balik menulis akhiran ng, ny (selalu ditulis gn, yn). Kepandaianku hanyalah berhitung sampai dengan 10. Lebih dari sepuluh, selalu terbalik-balik dan itu berakibat parah. Mau nulis 12 malah menulis 21…dan seterusnya.

Raportku terbakar. Seluruh nilainya merah yang parah. Yang tersisa biru hanya ada dua pelajaran, yaitu pelajaran kesenian (karena memang tidak ada teori, yang ada hanyalah menyanyi dan menggambar saja), serta pelajaran agama Islam. Tapi inipun setelah guru agamamu memanggil ibuku secara khusus hanya untuk memberi nasehat, “Bu, anak ibu parah banget. Sepertinya dia bukan duduk di sekolah ini dan bercampur dengan anak-anak yang lain. Seharusnya, nilai agamanya merah, tapi, peraturan pemerintah tidak membolehkan seorang anak mendapat merah di pelajaran agamanya kecuali kalau keluarga ibu memang seorang keluarga komunis.”

Sejak itu, ibu langsung memanggil seorang guru les khusus. Guru les inilah yang mengajari aku membaca, menulis dan berhitung. Cara mengajarnya amat kreatif. Namanya Tante Pop, seorang guru dari suku Ambon yang punya anjing besar bernama Leksi (hehehe, jujur, aku sebenarnya takut anjing, tapi karena tidak ada pilihan, terpaksa aku les di rumahnya dengan kedua kaki terlipat di atas kursi belajar).

“Ingat ya Ade. Huruf ‘b’ itu, perutnya sedang hamil; sedangkah huruf ‘d’ adalah huruf dengan pantat yang besarrrrrrrrr.” Hahahah…kreatif kan? Tante Pop ini juga yang memberi saran padaku untuk meletakkan sesuatu di tangan kananku agar aku tahu, bahwa inilah tangan kananku dan inilah sebelah kanan. Itulah sebabnya, hingga sekarang, aku selalu mengenakan jam tangan di sebelah kanan dan selalu ada sebuah cincin yang melingkar di jemari tangan kananku. Cincin ini tidak pernah lepas. Ketika cincin ini kekecilan, suamiku membelikanku cincin baru yang muat. Cincin di jemari tangan kananku itu sebuah keharusan untukku.

Itu sebabnya ibu langsung memeluk dan menangis penuh haru di kamar mandi FISIP UI. Dan aku, juga ikut menangis karenanya.

Lalu, yang terakhir, ibu menangis ketika aku akhirnya wisuda sarjana. Hanya ada satu perkataannnya yang aku ingat seumur hidupku, “Terima kasih ya De. Kamu sudah berhasil jadi sarjana. Setidaknya, ibu tidak terlalu malu pada keluarga kesar kita, karena ternyata meski anak ibu kebanyakan perempuan semua, tapi bukan berarti tidak bisa bercahaya seperti keluarga yang lain.”

(Oh, bunda. Aku tahu betapa berat tekanan dari sebuah keluarga dengan patron Patrilineal yang kental yang melingkupimu. Memiliki anak laki-laki itu adalah sebuah keharusan. Kalau perlu, seorang suami boleh menikah lagi demi mendapatkan seorang anak laki-laki. Alhamdulilah, anak ke empat ibuku seorang laki-laki dan hanya dialah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku).

4.

Hidup memang keras dan tidak bisa diprediksi kemauannya. Tapi, ibuku selalu mengajarkannya untuk mensiasati hidup dengan cara yang cerdik. Hidup sering kejam dan kadang terasa tiada ampun. Tapi, ibuku selalu mengajarkan sebuah semangat untuk senantiasa bangkit ketika aku terjatuh. Hidup itu tidak selamanya buruk, ada bagian yang indahnya. Dan ibuku mengajarkan aku untuk selalu gembira dan ceria menghadapinya dengan canda dan tawa.

“Ibu…sedang apa ibu di sini?”

Akhirnya, setelah tiga tahun ibuku meninggal, aku dapat bertemu dengan ibuku kembali. Tapi, itu hanya dalam mimpi. Dalam mimpi tersebut, aku sedang mengenakan ihram dan sedang mengerjakan ibadah haji. Ibu aku temui di samping Ka’bah, juga sedang mengenakan pakaian ihram. Duduk bersimpuh sambil menyenderkan punggungnya yang gemuk di dinding Ka’bah.

“Ibu menunggumu, nak.”

Perempuan itu langsung aku peluk erat. Rindu ini sudah memuncak.

“Ade kangen sama ibu. Ade lupa bilang terima kasih dulu.” Sebuah rombongan orang-orang berpakaian ihram datang berbondong-bondong. Mengacaukan pelukanku dan lalu menyeret ibuku pergi. Aku terpisah. Tapi aku masih sempat melihat ibuku tersenyum dengan langkah tenangnya yang mengeililingi Ka’bah. Dan aku pun terbangun.

5.

Ya Allah, aku rindu kedua orang tuaku. Titip salamku untuk mereka ya. Jaga mereka, sayangi mereka, seperti mereka menjaga dan menyayangi aku ketika uku masih kecil.”

Itu doaku kini karena kedua orang tuaku memang telah tiada.

Itu sebabnya, setiap kali melewati pekuburan Menteng Pulo, aku selalu menoleh ke pekuburan dan menatap sebuah titik nisan di sana, sekedar untuk mengucapkan, “Assalamu’alaikum Ibu.”

[]

Catatan kaki penulis:

Dalam kerinduan dan harapan semoga ibu dan ayahku selalu disayang Allah. Selamat hari ibu untuk semua ibu di seluruh dunia.


Mereka Juga Layak Punya Cita-Cita (Anak-Anak Kurang Mampu)

Oleh Very Barus

(mereka ada diantara kita)

SABTU pagi, sekitar pukul 08:00 WIB, bertempatan ‘warung kopi’  berskala dunia Starbuck BNI 46 Bilangan Sudirman (sebelah hotel Shangri La),  gue janjian dengan sahabat-sahabat gue (Deddy Irman dan Sari juga bebebrapa sahabat dari karyawan Starbuck).  Pagi itu rencanannya kami akan bertemu langsung, bertawa-canda, berbagi kasih dan kisah, juga berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang mampu yang berasal dari kawasan Semper ato kawasan Tanjung Priok sono deh.

Jauh sebelum acara  ‘berbagi kasih dengan anak kurang mampu’ di gelar, gue sudah di bbm sama sobat gue. Apakah gue tertarik untuk bergabung? Dengan semangat 45 gue mengiyakan ajakan tersebut. Bukan sok hero sih kalo gue mengiyakan dan ikut berpartisipan untuk acara-acara berbau social. Apalagi berhubungan langsung dengan anak-anak yang kurang mampu. Anak2 Autis atau keterbelakangan mental. Gue suka berhadapan dengan mereka….

Sekitar jam 8.30 pagi…

Setelah gue dan teman2  dari Starbuck ngumpul, Rombongan anak-anak berseragam merah-putih turun dari bus yang khusus mengantar mereka ke warung kopi itu. Wajah mereka penuh keceriaan. Meski baju yang mereka pakai sebenarnya sudah tidak layak untuk dipakai (warna putih menjadi warna keabu2an atau coklat muda gitu deh). Celana atau rok yang mereka pakai pun banyak yang sudah kena tambal sulam. Sepatu dan kaos kaki juga banyak bolongnya.

Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan membuat gue sangat miris. Suka membayangkan seandainya gue berada pada posisi mereka, apakah gue masih sanggup menerima kenyataan hidup?

Tapi itu lah realita…..

Dibimbing dua orang wali kelas, dengan rasa sungkan sekitar 40 murid sekolah dasar itu masuk ke gerai Starbuck dan disambut dengan sangat ramah oleh karyawan Starbuck. Mereka pun menyalami kami satu persatu.

I love this part..!!

(gue bersama mereka)

Sambil memilih tempat duduk sesuai selera mereka, gue mulai melakukan pendekatan dengan anak-anak tersebut. Mereka pun berkisah tentang siapa orangtua mereka, apa pekerjaan orangtuanya dan apa cita-cita mereka. Rata-rata mereka memiliki orangtua yang bekerja sebagai SUPIR bus, truk dan pekerja buruh yang sering keluar kota.

“Bapak sekarang berada di Riau-PakanBaru..nyupir bus, om..” ucap seorang murid laki-laki dengan malu-malu.

Sementara temannya yang lain juga  ‘curhat’ tentang orangtuanya yang sebagai buruh kasar. Pokoknya berbagai pekerjaan berat menjadi profesi orangtua mereka.  Diposisi lain, teman gue sibuk mengajarkan bahasa Inggris pada anak-anak perempuan. Ada juga yang mengajarkan matematika hingga mata pelajaran yang mereka sukai yaitu BERNYANYI….

Sementara teman-teman dari Starbuck sibuk menyuguhkan susu coklat dingin di dalam wadahnya lalu dibagi-bagikan pada anak-anak tersebut. Tidak ketinggalan roti donat khas Starbuck menjadi suguhan pendamping susu coklat tadi. Hmmm…. Wajah mereka langsung berubah cukup ceria menikmati suguhan tersebut.

“Kami jarang makan enak om…apalagi minum susu coklat seperti ini..”ujar seorang murid dengan polosnya langsung meneguk habis satu tubler sus coklat dingin. Gue hanya tersenyum haru.

Kemudian, kami pun kembali sibuk dengan acara temu canda-curhat-sharing dan apalah itu namanya. Yang jelas, murid-murid SD tersebut sudah tidak sungkan-sungkan untuk curhat pada gue. Bahkan ketika gue menanyakan cita-cita mereka, sambil mengacungin telunjuk mereka berebut menjawab..

“Saya pengen jadi Tentara…saya jadi dokter…saya jadi penyanyi…saya jadi pilot..saya pengen jadi guru dan saya pengen jadi polwan..”

Hmm… cita-cita yang wajar bukan? Dan meski pun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, mereka juga LAYAK PUNYA CITA-CITA. Jangan pupuskan cita-cita mereka…

Bahkan yang mengagumkan dari murid-murid SD tadi, banyak diantara mereka yang berada di rangkin paling atas di kelasnya. Juara kelas dengan prestasi yang tidak kalah ‘agung’ dari murid-murid SD yang punya label ‘SD internasional’.

(sari mengajarkan bahasa Inggris)

Ada curhatan yang nggak kalah seru ketika seorang dari mereka membisikkan ke telinga gue seperti ini, ”Om, si anu (nama temannya), waktu kelas 2 SD ketahuan merokok, om.”

Dengan lagak sok jadi guru, gue langsung bertanya pada murid-murid laki-laki yang sedang duduk-duduk bersama gue, ”Siapa diantara kalian yang pernah merokok, ayo tunjuk tangan..?”

Sambil malu-malu, dua orang dari mereka angkat tangan dan mengakui kalo mereka pernah merokok. Itu juga dikarenakan ikut-ikutan sama kakak kelas mereka. “Tapi sekarang saya tidak merokok lagi om…” jawabnya polos. Kemudian, gue pun memberikan penyuluhan pada mereka kalau MEROKOK ITU TIDAK ADA GUNANYA…(kebetulan gue tidak merokok)

Kejadian yang nggak kalah seru adalah ketika ada beberapa murid yang berdarah BATAK mulai melantunkan lagu-lagu Batak. Dengan PD selangit mereka menyanyikan beberapa lagu Batak.

“Kamu tau nggak arti lagu yang kamu nyanyikan..?”

“Tidak om…”

“Kenapa kamu nyanyikan..?”

“Soalnya dirumah bapak sering memutar lagu Batak. Jadi saya jadi hafal om. Tapi nggak tau artinya..” (gue hanya tersenyum saja)

Hari terus berlanjut, acara semakin seru. Mereka semakin akrab sama gue dan teman-teman. Beberapa cemilan pun disuguhkan lagi. Mereka juga bebas mau menambah minuman susu coklat tadi. Mereka juga curhat kalau mereka mengidolakan JUSTIN BIEBER dan Charlie ST12. Dan satu lagi…. Ada yang curhat kalau dia sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya  si juara kelas…

Oalahhhhhhh…… serunya berada ditengah-tengah mereka… dan gue berharap semoga mereka bisa menggapai apa yang mereka cita-citakan…

(mereka layak mencicipi kebahagaian)

[]


Desahan Itu Bunyinya… Ahhh!!…Uhhhh!!…Ahh!!!…Uhhhh!!

Oleh Very Barus

 

 

KETIKA sedang asyik membuka-buka file foto waktu liburan di Bali kemaren. Entah kenapa gue tergelitik mengingat kejadian saat gue dan teman2 nginap di VILLA Nusa Dua yang menurut gue cukup mewah. Dengan fasilitas yang  komplit. Mulai dari kamar mandi yang lengkap dengan shower, bathtub, ditaburin lilin2  aroma teraphy dan kembang yang membuat ruangan menjadi sangat Harummmmmmmm…!!!

Trus, ruang tv yang cozy lengkap dengan lukisan abstrak colourful bikin mata jadi segerrrr. Sofa yang empuknya minta ampun dah. Sekali duduk pantat jadi malas berdiri. Trus, kitchen dan perlengkapan masak yang lengkap (mana mungkin kami masak…!!)….

trus, disebelah kitchen dan kamar langsung terbentang kolam renang yang bisa membuat elo berimajinasi bak perenang kelas dunia Michael Phelps berenang sepuas udelmu di kolam renang (yang sesungguhnya  ukurannya nggak luas2 amat sih).

Belum lagi kalo elo naik ke lantai dua yang gue sebut sebagai balkon. Elo bisa BBQ-an disitu. Sunbathing disitu, berbikin berhayal serasa di pinggir pantai. Dan juga elo bisa bercinta sambil menatap terang bulan dan menikmati udara seju di Nusa Dua tanpa resah diintip orang. Yang jelas Villa tersebut layak dijadikan tempat untuk berleha-leha..berfantasi dan berimajinasi…

TAPI SAYANG…

Saat nginap di villa tersebut, gue single! Tidak membawa pasangan alias pacar. jadi  gue tidak bisa melampiaskan imajinasi bercinta gue di bathtub atau di balcon yang difasilitasi Gazebo yang empuk. Sayang seribu kali sayang…imajinasiku hanya bisa  gue lampiaskan dengan berenang sepuas-puasnya di kolam renang. (Berhayal seolah2 gue perenang tingkat internasional yang besok akan berlomba).

TAPI BEDA DENGAN SOBAT GUE…

Sangat beruntung dia karena membawa pasangannya alias bini. Dengan cekatan si bini langsung mewujudkan fantasi seksualnya dengan memasang lilin di kamar mandi yang ukurannya seluas samudra (pokoknya luas deh). Mengisi bathtub dengan air yang sudah dicampur showergel ato sabun cair untuk berendan di bathtub…(biar ada efek busa-busanya).

Lalu dia  memanggil suaminya…

“Sayang….. sini dong sayang…mari kita mandi bareng….”

Sobat gue yang sedang asyik nonton tv langsung menyamperin si istri yang sudah standby di bathtub. (Elo sudah bisa membayangkan bagaimana POSE si istri saat menunggu sang suami datang? Silahkan ciptakan imajinasimu!)

Sementara gue dan teman gue sudah sibuk dengan aktivitas masing2…

Gue sibuk ngetik di di ruang tidur (sambil browsing internet juga)

Teman gue sibuk menonton tv cable di ruang tv…

SESAAT KEMUDIAN….

Dari arah kamar mandi gue dan teman sudah mendengar suara desahan-desahan yang sangat kencang dan mampu membuyarkan konsentrasi.

“Ahhh….. Oooh…. Yessss…. Ohhhh….!!!”

Gue hanya bisa tersenyum mendengar suara desaan sialan itu. Bahkan sempat menggerutu..”sialan nih orang..bikin konak aja..!!”

“Achhhhh…!!!! Hmmmm…..!!!! ooohhhhh…!!!”

Suara desahan semakin menggila. Gue semakin nggak focus mengetik. Lalu gue memanggil teman gue untuk sama2 mendengar suara desahan sadis itu. Kemudian dengan lantang teman gue yang nggak kuasa menahan nafsunya langsung berteriak..

“WOII…BRISIKKKKK….!!!! KAYAK SEDANG SYUTING FILM BOKEP AJA KALIAN DISITU…!!!”

Kemudian terdengar suara gelak tawa dari arah kamar mandi…

“Mumpung di Villa bo…jadi gue puas-puasin deh…!!” teriak teman gue sambil terus melanjutkan  adegan mesum mereka. Tidak ketinggalan efek desahannya…

SIALAN….!!!!

*setelah diselidiki, ternyata setiap mereka bercinta di rumah, si istri tidak bisa melampiaskan desahan “spektakular” itu. Karena di kanan-kiri rumah mereka banyak sanak saudara yang setiap saat bisa mendengar suara desahan itu.

*bahkan kejadin memilukuan, ketika mereka bercinta dan si istri mendesah ‘sadis’, eh, dengan anteng si suami menutup kepala si istri dengan bantal. Alasannya simple..”biar suaranya nggak kedengaran tetangga..wakakakkakakakka…!!!!

Kasihan..!!!

[]


Dude, Where’s My Carrrrrr…!!!! (Panik)

Oleh Very Barus

 

 

KALO judul di atas sih judul film yang pernah dibintangin Aston Kutcher dan Jenifer Garner. Tapi kalo dalam arti sesungguhnya yang versi gue kira2 begini…..”Anjriiiiittt… mobil gue parkir dimana ya..???”

Gitu deh…

Jadi ceritanya begini…

Kejadian ini bukan satu ato dua kali terjadi…berkali-kali dan sangat memalukan dan melelahkan!!. Meski sesungguhnya kejadian yang berkali-kali tapi nggak jera2 juga.. Dan sebelum2nya kesalahan lupa parkir bukan ada di gue tapi teman gue.

Setiap kami parkir mobil di MALL (Mall apa aja…), pasti pulang dari mall kami bingung dimana letak parkir mobil. Bahkan, pernah kejadian pilu kami mencari keberadaan mobil sampai keringat darah bercucuran. Baju yang tadinya rapih berubah menjadi bersimba keringat.. Karena kami berjalan Dari sudut timur, utara, selatan dan  barat hanya untuk mencari tempat mobil diparkirkan.. Saling bertanya yang tidak menemukan jawaban…

“Tadi kita parkir dimana nyet..?”

“Manaketehek…!! Lupa..!!”

“Waduh, dimana ya…??”

“Hmm.. Disono kali…” ucap gue sambil nunjuk dengan membentangkan kelima jari gue (bukan jari telunjuk doang).. Kalo sudah menunjukku dengan  membentangkan kelima jari, itu artinya kami harus mencari kesepenjuru sudut tempat parkir…

Mampus gak lo..???

Nyari sana…nyari sini….naik turun escalator ke PI-P2-P3 ato P berapa aja deh yang menunjukkan tempat parkir. Hasilnya nihil… karena ternyata sesungguhnya mobil parkir di PI…tidak berubah posisi…weleehhh….!!

Anehnya, kebodohan itu berulang2 terjadi…DAMN..!!!

Pernah sangkin PARNO-nya… sebelum meninggalkan tempat parkir kami nyatet lokasi parkirinya di BB. Misalkan P2  L5…jadi aman dongggg…

Nah, pas mau pulang… bingung tadi nyatatnya dimana trus parahnya lagi… yang dicatat tadi ternyata TIDAK DI SAVE!!! maka hilang dong itu catatan…. Lalu kami kembali GEMPOR mencari tempat parkir…

KEJADIN BODOH KEMAREN BARU GUE ALAMI…

Siang itu gue pake mobil cewek gue nih… janjian di Senayan City mau ngembaliin tuh mobil.

Kelalaian yang fatal terjadi..

Saat pacar  mau pulang, gue temani dong sampe tempat parkir…

Dengan sok gagah perkasa gue ngembaliin STNK dan bukti karcis parkir sambil merangkul dia dengan mesra. Tiba di tempat parkir gue bingung  tadi gue parkir mobil dimana ya..??

Gue BBM teman gue yang pelupa itu juga sama aja. Dia nggak tau letak persis parkir mobil kami (karena wkt masuk ke tpt parkir, mobil kami parkir berdampingan).

Waduh…. Mampus deh..terulang lagi nih mencari mobil yang entah dimana keberadaannya.

Nyari dari sebelah timur… gak ada..

Sebelah selatan….. ga ada…

Utara…gak ada…

Barat….gak ada…

———- “ Putus asa dong…”

Trus gue nanya dong ke tukang parkir yg sedari tadi berdiri2 doang. Kali aja dia bisa menjadi dwa penolong menunjukkan arah…

“Mas..tau tempat parkir ini gak?” (sambil nunjukkin kertas parkir). Lalu dengan entengnya dan sok menolong dia bertanya…

“Si mas tadi masuk dari mana..? Kalo tau masuk dari mana saya bisa bantu..” jawabnya poltak (polos tak berotak)

“Oala mas…Kalo saya tau tadi masuknya dari mana..pasti saya nggak akan nanya mas. Dan saya nggak akan kebingungan mencari mobil gue seperti skrg ini… gimana sih!!” (gondok segondok-gondoknya)

Akhirnya si petugas parkir yang sotoy tadi kami tinggalkan. Nanya ke tukang parkir berikutnya. Ternyata SOTOY-nya 11-12 dengan yg tadi… pertanyaan kok sama sih..? kayak sudah direkam aja.!!

“Tadi si mas masuk dari mana…?” (nggak kreatif bgt pertanyaannya)

Trus.. tadi waktu keluar dari mall gue masih pegang2an tangan nih sama pacar. Tapi setelah di tempat parkir dan setelah beberapa kilo meter berjalan nyari keberadaan mobil. Kemesraan sudah tidak terlihat lagi.

KEMESRAAN LUNTUR..!!

Si pacar sudah tertinggal jauh dibelakang karena keletihan berjalan mengikuti jejak langkak kaki gue yang tengah PANIK melangkah dua kali lebih cepat (kelihatan ya mesranya nggak awet wakakakkakaka…!!!!).

Akhirnya, setelah putus asa dan setelah separuh jiwaku pergi (lagu ANANG dong!!!..) karena keletihan. Gue pasrah…(bayangin aja hampir 1 jam gue nyari2 parkir mobil gak nemu2. Keringat keluar sudah berdarah2 alias keringat darah)

Disaat pasrah dan tenaga terkuras…eh otak gue mulai jernih…CLING..!!!!!

Gue inget papan billboard yang ada di pintu masuk mall..waktu mau masuk gue sempat memuji cewek yg ada dipapan billboard tersebut..”CANTIK YA….”

Nah., akhirnya cewek di papan billboard tersebutlah yg membukakan otak kinclong gue….Dan akhirnya mobil nemu juga.

Mobil masih terparkir ditempat yang sama…

Di lokasi yang sama..

Dan di posisi yang sama…

Kesalahan bukan pada mobil..tapi pada MEMORI OTAK GUE yang sudah OVER LOADED!!!!

Dan akhirnya… sang kekasih yang terlihat letih kurangkul dan menuntunnya masuk ke dalam mobil….dengan sisa2 tenaganya, dia menghidupkan mesin mobil dan melaju perlahan tapi pasti..

Take care dear….. and  Thanks God…! Atas KELETIHAN YANG TERAMAT SADIS INI…!!!

[]


Praying is Not Enough Guys…Take Action…!!!

Oleh Very Barus

 

MEMBACA status teman2 di  layar bbm, facebook, twitter dan situs jejaringan lainnya semua mengumandangkan Pray for Indonesia bla..bla..bla..bla… termasuk gue yang juga bukan latah ikut-ikutan untuk menciplak status orang lain untuk PRAY FOR INDONESIA… tapi gue yakin dan menyadari kalo Negara ini memang sedang butuh topangan doa atas segala bencana yang tengah melanda tiada henti di beberapa daerah.

Belum habis kepiluan karena gunung Sinabung di Berastagi bergejolak, muncul bencana yang tidak kalah dahsyat di Wasior, muncul lagi Tsunami di Mentawai, kemudian berbarengan dengan bergejolaknya gunung Merapi dan banjir di ibukota Jakarta… Dan konon katanya ada beberapa gunung lainnya tengah dalam keadaan “awas”…

God…marah kah engkau…???

Yang jelas setiap menyaksikan siaran langsung laporan dari beberapa stasiun tv, yang berlomba2 menayangkan berita bencana di bumi pertiwi ini. Bahkan parahnya beberapa stasiun tv berlomba2 memasang ‘label’ ESKLUSIF pada tayangan mereka….

Damn..!!! I hate that! Karena di sini kita nggak butuh label ESKLUSIF. Kita butuh informasi tayangan yang benar2 menayangkan berita bencana yang membabi buta…berapa banyak korban jiwa dan juga korban hewan piaraan lainnya…agar kita yang jauh dari bencana bisa tergerak hatinya untuk membantu mereka.

PLEASE STOP USE “LABEL” ESCLUSIVE FOR INFORMATION..!!

Satu hal lagi, banyak diantara kita yang hanya berkoar-koar MARI KITA BERDOA dan BERDOA…untuk para korban…

Hey guys…!!!

Praying is not ENOUGH…!!!

Lihat kondisi mereka yang sangat memprihatinkan.. mungkin mereka nggak kalah khusuk berdoanya dari kita-kita. Dari pagi ketemu pagi mungkin doa mereka tak lepas-lepasnya dipanjatkan. Mereka butuh uluran tangan kita2! Mereka butuh bantuan sandang dan pangan as soon as possible!  Jadi jangan hanya prihatin! Jangan hanya berdoa!

Jujur gue salut dari beberapa sahabat yang langsung sigap mengumpulkan dana untuk korban bencana di beberapa daerah (tidak hanya di kawasan gunung Merapi saja).

Melihat kegigihan sahabat-sahabatku, apakah gue hanya mengucapkan salut doang..?? Tanpa action..?

Akhirnya, dengan niat yang tulus, gue turut membantu mengulurkan tangan dengan cara menadah alias membujuk beberapa teman untuk berpartisipasi mendonasikan ‘sedikit’ dari uang ngopi-ngopi mereka selalu BBM.

Bayangin aja, jika dalam sehari sahabat2ku yang doyan NGOPI rela merogoh koceknya sampai 100 ribuan…masak untuk selembar KAOS PRAY FOR INDONESIA yang harganya hanya 50 ribu saja…

SEKECIL apapun sumbangan yang kita berikan pada mereka itu sudah SANGAT BESAR artinya bagi mereka…

Tapi, untuk mengajak berdonasi tidak lah semudah yang gue bayangkan… 1001 (seribu satu alasan) yang diberikan teman2 gue bahkan tidak menggubris ajakan berdonasi…ya…rambut sama hitam namun isi hati tidak ada yang tau sobat..!!!

Meski banyak dari sahabat2ku yang hati NURANI-nya dibuta kan, namun gue tetap bersyukur masih memiliki segudang sahabat yang CARE dan mau mendonasikan sedikit uang ngopinya untuk saudara2 kita disana..

Guys…

Sadarkah kamu kalau: tragedy has the effect making people realize how VERY SMALL and human we are…suddenly we forget our differences…

And remember guys: WE ARE ONE and In God we are NOTHING!!!!

[]


Mau Ngucapin Makasih Ke…..

Oleh Very Barus

 

 

SEJAK tanggal 30 Oktober kemaren, gue sudah berada di BALI. Dengan segala kemudahan, fasilitas dan juga perhatian dari orang-orang terdekat gue.

Rasanya nggak afdol banget kalo gue nggak SAY THANKS to all my beloved friends selama gue di Bali….jujur saja, gue sempat speechless dengan segala apa yang gue terima selama di Bali. Kedatangan gue ke “rumah kedua” gue itu sebenarnya tanpa ada harapan muluk2 selain hanya pengen ‘menepi’ dan menikmati pergantian usia. Tidak berhayal nginap di villa mewah…difasilitasi transportasi yang ready 24 hours.. nggak..!!!

Tapi ternyata realita berbicara lain…

Tanggal 30 Oktober gue berangkat ke Bali with best friend Eddy Bogel and wife…

Tanggal 31 Oktober, teman gue lainnya Glen dan Liza nyusul ke Bali…

Kehadiaran mereka saja sudah membuat gue bahagia..campur aduk. Karena sepanjang pertemanan dengan mereka yang kadang UP and DOWN, tapi jujur tetap membuat gue kangen sama mereka. Dan terbukti… di hari istimewa gue, mereka hadir dan kami merayakannya bersama2 dengan sangat sederhana…duduk2 di tepi pantai (depan tempat clubbing Dejavu Seminyak). Hanya sekedar minum2, ngemil2, ketawa2 dan juga seru2an…plus sahabat yang tinggal di Bali, Juni, Maria and Martin..Damn..!!! I’m so happy at the moment…

1 November 2010.

Hari Ultah gue, Mbak Irma sengaja mengajak makan di Restoran Italia… bikin kejutan yang lagi2 gue speechless…Thank u Mbak…

Kemudian, sore harinya…

Gue, Bogel, Nova dan Glen (minus Liza karena sudah pulang), dapat surprise nginap di Villa Nusa dua (http://www.nusaduaretreat.com). Yang sejujurnya nggak kepikiran bisa nginap di Villa yang rate permalamnya hanya 450-800 US Dollar. Dengan fasilitas yang sangat memanjakan kami berempat. Kolam renang dideket tempat tidur, makanan yang nendang, juga fasilitas2 lainnya. intinya bener2 nggak nyangka deh…!!!

 

2 November.

Berbarengan dengan Ultah NOVA, lagi2 gue dan Nova dikasih kejutan oleh Ayu dan Jhony (pacar Finlandia-nya). Diundang makan malam di ‘warung’-nya…eh, ternyata di penghujung makan malam ada Birthday Cake yang lagi2 bikin termehek2 (dalam hati). Karena gue memiliki sahabat2 yang tulus, baik dan BERTEMAN TANPA PAMRIH…

Sampai pada hari2 berikutnya di Bali, gue masih  terus bersyukur dengan apa yang gue terima di usia baru gue ini…semoga berkat yang diberikan kepada gue bisa menjadi berkat buat teman2 lainnya…

SO, FROM MY DEEPEST MY HEART…I JUST WANNA SAY…

Makasih buat Eddy Bogel, Nova, Glen dan Liza… yang bener2 sudah meluangkan waktu ‘sibuk’ kalian di Jakarta, tapi masih sempat menyisihkan waktu untuk kumpul bersama2 merayakan Ultah gue… u’r so great friends… jujur, gue sempat kehilangan kalian..and now we are together again…!!!! Love u guys…

Makasih buat Mbak Irma dan Mas Anto, yang telah menjadi ‘tuan rumah’ yang sangat baik. Telah memberikan tempat buah gue dan teman2 mencicipi tempat tidur empuk dan sejuk. Makanan yang lezat, minuman yang nikmat…dengan ketulusan hati kalian menerima dan melayani kami selama di Bali membuat kami merasa memiliki keluarga… untuk mengungkapkan isi hati ini rasanya butuh berlembar2 deh…

Makasih buat Ayu dan Jhony….again and again.. thanks Alot Ayu, Jhony atas birthday cake-nya yang bener2 bikin terkejut. Juga lanjutan celebrate-nya ke EIKON danMBARGO (Sampe membuat Glen mabok berat dan latah berat….mampus aja ngakak mendengar celotehan Glen sambil membacakan PANCASILA ala orang GAGU…mampus ngakakkkk abis..!!!  AYU and Jhony..thank u so much… love u …

Terimakasih to Villa Nusadua Retreat yang telah memfasilitasi hidup kami bak anak2 borju.. it’s so great moment…!!!

Thanks to Juni atas VODKA dan Minuman lainnya…!!!!

Yang jelas…. Hari2 gue bener2 penuh warna…menjelang pergantian usia dan memasuki usia baru…

And untuk semua kebahagian itu, gue nggak pernah lupa berterimakasih ke my LORD…ALMIGHTY…atas karunia dan panjang umur…juga kesehatan… thanks LORD…

Oiya..buat Nova dan Bogel..thanks kalung Salib-nya ya….!!!!

[]


Hari ini Kulepaskan Kau Dari Hatiku: Ikhlas

Oleh Ade Anita

Hari ini kulepaskan kau dari hatiku

Perih

Sakit

Itu pasti dan kamu tidak pernah tahu bagaimana sengsaranya rasa itu bagi hatiku

Seandainya kamu tahu, sayang

Semua akan aku lakukan untuk dirimu, hanya untuk dirimu

Bahkan seluruh cita-cita terbesarku adalah untuk melihatmu bahagia

Bahkan seluruh peluh akan aku peras untuk mewujudkan semua mimpimu agar bisa jadi kenyataan

Bahkan seluruh darah dalam nadiku, akan aku pompa agar kau bisa senantiasa ceria

Ya Tuhan, betapa besar keinginanku untuk dapat memilikimu,

memelukmu agar senantiasa dekat dengan hatiku

merasakan denyut jantungmu

Lalu bersama kita akan melalui hari bersama-sama

Menerjang badai galau yang sering menghadang

Menebas duka yang sering melintas

Lalu meraih tawa dan merajut bahagia bersama

Aku tidak akan pernah lupa untuk memancing di telaga ceriamu

Agar suara tawamu bisa senantiasa mewarnai hari-hariku

Lalu memanah matahari, agar senantiasa bisa mencerahkan rumah kita

Setiap malam, aku tidak akan pernah lupa memetik bintang agar bisa menghiasi dinding malammu yang gelap

Tapi siapa yang bisa melawan takdir yang telah digoreskan?

Hari ini kulepas kau dari hatiku

Berat…tapi insya Allah aku sudah ikhlas

Semata karena aku cinta padamu

dan yakin, Dia lebih mencintaimu

Selamat jalan cinta

[]

Catatan kaki Ade Anita :

Notes ini ditulis dalam rangka ikut lomba menulis puisi dengan tema “Hari ini kulepaskan kau dari hatiku”.

Behind the story; sebenarnya enggan ikut lomba ini, karena temanya bisa menimbulkan perang dunia ketiga…(hehehehe), tapi, tiba-tiba aku pingin nulis ketika sedang menyusun sesuatu dan tiba-tiba ingat kenangan ketika keguguran dahulu. Jadi, tulisan ini didedikasikan untuk calon anakku yang tidak jadi lahir. Bukan untuk siapapun. Jika ada kesamaan nama atau kejadian, itu hanya kebetulan.


Salah!

Oleh Ade Anita

 

“Ibu berangkat ya…byee.”

Lalu langkahku langsung menerjang gerimis. Ada sebuah harapan yang bergelora di dalam dada. Bercampur dengan doa yang panjang.’Ya Allah, mudahkanlah jalanku agar bisa dapat arisan hari ini.”

Menyusuri gang sempit, hingga bertemu mulut gang yang menganga. Berbelok sedikit, lalu sampailah di tujuan.

“Eh….kok?? Masih sepi?”

Semua tetanggaku ikut melongokkan kepala meninjau sebuah rumah yang lengang. Celingak celinguk melihat suasana sepi yang temaram di dalam rumah. Tak ada siapapun. Bahkan lalat sekalipun tidak juga sedang berkumpul mengerubungi hidangan. Ya. Bahkan hidangan yang tersebar di meja atau karpet, tak ada sepotongpun.

“Memangnya cari siapa bu Ade?”Akhirnya beberapa kepala yang ikut-ikutan mencari sesuatu yang mereka tidak tahu mulai bertanya.

“Arisan?? Hari ini arisan RT kan disini?”

“Loh? Ini baru tanggal 4 bu Ade, arisan kan tanggal 8 nanti, hari senin.”

“Hah? Tapi…di rumah saya kalendernya bilang ini tanggal 8.” Akhirnya semua kepala itu mulai tersenyum lebar.

“Salah bu Ade…pasti belum diganti deh kalendernya . Ini november.”

Duh…duh…Aku langsung berbalik, berjalan cepat, dan setengah berharap sudah menguasai ilmu menghilang.

Menghilang!

Hip hip..ayo menghilang.

Malu nih…sungguh!

(¤#%€£¥%#*°¤)

[]

 

Catatan kaki penulis :

Ade Anita…menulis dengan wajah masih merah karena malu.

komentar anakku:

“Hahaha…aku kira selama ini, kisah seperti ini cuma ada di lawakan, atau sketsa, atau exrravaganza…ternyata orang rumah sendiri.”

“Iihh, berisik! Malu nih.”

“Yaiyalah malu, hujan-hujan ngelawak. Pasti ibu-ibu di belakang rumah lagi pada pesta ketawa sekarang. “

“Uhhh… habis pada malas ngerobek kalender sih!”

“Nggak bisa bu, nggak bisa nyari kambing hitam di kalender…tetep aja, sekali ngelawak tetep ngelawak..nggak ada harapan.”

“Weee, siapa yang nyari kambing hitam di kalender. Mau kurban?”

“Eits, nggak boleh ngalihin topik. Tema hari ini tetep, ibu salah ingat tanggal.”

“Uh, uhhhh… “

(¤#%€£¥%#*°¤)…gimana sih cara ganti tema? Ada yang punya softwarenya?


Mukjizat

Oleh Ade Anita

 

APA kalian percaya bahwa mukjizat (dalam kamus bahasa Indonesia, mukjizat diartikan sbg keajaiban yg terjadi diluar kemampuan nalar pikiran manusia) itu ada? Sebaiknya percaya. Mukjizat itu memang nyata ada.

Semalam, aku dan keluargaku kedatangan tamu istimewa. Amat sangat istimewa. Sebuah keluarga yang baru saja merasakan mendapat mukjizat dari Allah.

Bukan. Mereka bukan sebuah keluarga kaya raya yang mendapat karunia kenikmatan lain di dunia ini.

Juga bukan keluarga yang mendapat hadiah lottere.

Tapi sebuah keluarga miskin, dimana ratu keluarganya, bekerja membantuku menyeterika pakaian.

Ya. Ini adalah keluarga miskin dengan tiga orang anak yang masih kecil. Sang ibu bekerja sebagai buruh cuci seterika; sedangkan ayah menjadi petugas instalasi listrik lepasan (tukang pasang kabel jika ada orang yang ingin membangun rumah. Dia tidak sama dengan petugas PLN dan memang tidak bekerja di PLN. Mereka umumnya termasuk kategori tukang bangunan, hanya saja spesiallisasinya di pemasangan instalasi listrik).

Pada bulan Februari lalu, aku memasang status di facebookku ini dengan bunyi seperti ini:

Innalillahi wainna ilaihi rajiun … anaknya mbak yg suka bantuin aku nyetrika jatuh dari atap KRL di cawang…kepala bagian belakangnya pecah, skrg di ICU rs tebet..semoga diberi yg terbaik oleh Allah SWT.

[24 February at 19:03 via Mobile Web • Comment • Like]

Jujur.. waktu itu aku tidak dapat berharap banyak pada kondisi si anak.

Ade Anita
jam lima sore tadi.. rs tebet minta 30 juta utk operasi penyelamatan…si mbak lari sana lari sini cari bantuan, suaminya hanya kuli bangunan. aku bingung mo ngomong apa, krn aku tahu, kecuali mukjizat Allah datang, jikapun operasi berhasil dilakukan dan si anak selamat; si anak akan jd spt zombie..otak belakangnya rusak parah..hiks..hiks… ..
[24 February at 19:20]

Ade Anita
tabah bgt..dia dtg ke rumahku tanpa air mata, “bu, saya ikhlas dgn kondisi anak saya skrg, benar-benar ikhlas..meski baru 12 tahun saya bersamanya..baru tadi pagi saya mengantarnya sekolah…” lalu si mbak mencium tanganku dgn tangan gemetar lalu tiba2 menangis di atas punggung tanganku..”Ya Allah, apa salah saya? Apa saya kurang sabar selama ini? Kenapa saya selalu diuji dgn penderitaan?”….sedih bgt…air mata si mbak memenuhi punggung tanganku
[24 February at 19:27 ]

Dan semalam si ibu, anaknya dan neneknya datang ke rumahku.

Subhanallah… aku asli kehabisan kata-kata. Semalam itu benar-benar merupakan sebuah pemandangan betapa besarnya kekuasaan Allah pada seseorang. Subhanallah…Allahu Akbar.

Susah payah rasanya menyimpan rasa haru dan takjub. Benar-benar luar biasa.

Kepalanya sekarang peyang sebelah. Jadi, kejadiannya begini. Pulang sekolah, karena kereta api penuh, maka teman-teman anak tersebut mengajak anak itu naik ke atas atap gerbong kereta api.

“Gri, ayo naik ke atas. Cemen lu kagak berani datang. Ayo. Kagak ape-ape lagi. Ayo, pengecut lu!”

Semula anak ini tidak mau naik ke atas. Dia hari itu sedang tidak enak badan memang. Sebenarnya, semalam dia sudah minta dikerok oleh ibunya. Lalu pagi-pagi minta ijin untuk tidak masuk sekolah. Tapi si ibu meminta dia untuk bersekolah. Dengan naik kendaraan umum, si ibu pagi-pagi mengantarkan anaknya bersekolah. Anak ini adalah anak tertua dan laki-laki. Harapan keluarga tentu berada di pundaknya. Tapi pulang sekolah, ledekan teman-temannya tidak dapat dihadapinya seorang diri. Tidak ada lagi ibu yang dapat mendampinginnya terus menerus dan menjauhkannya dari ledekan dan ajakan buruk teman-temannya. Maka, karena tidak mau dianggap pengecut dan cemen, anak inipun naik ke atas gerbong kereta api.

Ternyata di atas gerbong kereta api, angin cukup kencang. Tubuhnya yang sedang tidak enak badan ini terasa tidak enak. Perutnya terasa mual dan dia mulai merasa menggigil. Teman-temannya pun datang lagi.

“Kenapa lu? Dingin. Ini…. rokok. Merokok aja biar nggak dingin.” Anak ini belum pernah merokok sebelumnya. Dia baru kelas satu SMP.

“Hei, pengecut lu. Ayo cepat. Enak, bikin elu jadi bersemangat dan kuat. Lagian bukan laki-laki kalau nggak merokok.” Maka, diapun merokok dan lalu batuk-batuk dengan sukses. Kepalanya makin pusing tapi laju kereta telah memabwanya sampai di tujuan. Kereta berhenti di Stasiun Cawang. Ini tujuan perhentian mereka. Satu persatu anak-anak inipun turun dari kereta api dengan cara melompat ke bawah. Hup.

Tapi anak ini tidak pernah bisa sukses melompat. Kepalanya terantuk teralis atap stasiun kereta api.

DUG.

Tepat mengenai tulang kepala samping, dan otak besarnya pun terpukul keras. Amat keras. Tengkoraknya retak, tapi darah yang keluar tidak terlalu banyak. Hanya saja, si anak langsung pingsan.

“Satu jam anak saya tidak diapa-apakan di RS Bxxxxx.”
“Kenapa?”
“Karena tidak ada yang tahu siapa keluarga yang menanggungnya.”
“Loh? Teman-temannya kemana?”
“Kabur semua. Mereka pada takut semua. Jadi langsung pada kabur. Baru deh setelah satu jam tergeletak, ada salah seorang temannya yang merasa bersalah lalu datang ke stasiun ngasih tahu bahwa dia tahu sekolah dimana si korban. Akhirnya, satu jam kemudian, pihak stasiun Cawang mendatangi sekolah ini anak. Membongkar semua file data siswa, satu jam kemudian barulah diketahui dimana rumah orang tua korban dan barulah saya bisa mendatangi anak saya ke rumah sakit. Dan Masya Allah bu, saya hampir tidak mengenali anak saya sendiri. Wajahnya membengkak, suaranya seperti orang digorok… grkk…grkk…grk…… Dada, bibir, pipi, leher semuanya berwarna biru tua hampir kehitaman. Rupanya karena tidak ada perlakuan apapun di rumah sakit ini, maka pendarahan sudah menyebar kemana-mana. Paru-parunya terendam darah.”

“Saya berlari-lari mencari bantuan. Ada lima rumah sakit yang saya hubungi, kelima-limanya tidak sanggup memberikan pertolongan. Wajah dan dada anak saya sudah seperti balon berwarna ungu tua. Dan suaranya itu yang mengerikan…. grrkk… grrk…. Persis seperti orang yang habis digorok. Akhirnya, barulah di rumah sakit ke enam anak saya diterima dan mereka langsung melakukan pembedahan setelah sebelumnya mengatakan bahwa mereka membutuhkan uang Rp 30 juta untuk melakukan pembedahan tersebut. Saya berlari-lari lagi ke sana kemari mencari bantuan dan terkumpullah Rp 5 juta rupiah. Lalu operasi pun dilakukan malam itu juga. Semua darah yang menggenangi paru-paru anak saya dikeluarkan melalui sebuah selang yang cukup besar melalui mulut. Juga darah-darah beku yang ada di seputar kepala, wajah, leher dan dadanya.”

“Akhirnya, satu bulan anak saya di ICU dalam keadaan koma. Suami saya sudah menguatkan saya, dan meminta saya untuk ikhlas. Bu, jujur, saya waktu itu sudah ikhlas. IKhlas sekali. Tapi saya tetap tidak berhenti berdoa. Saya berdoa terus dan terus hingga bibir saya kering dan pecah-pecah. Saya benar-benar berharap Allah akan memberikan mukjizat pada saya.”

“Selama ini, saya benar-benar ikhlas dengan semua kehidupan saya yang miskin. Saya tidak pernah protes pada Allah. Saya bisa bekerja, saya bersyukur. Saya bisa makan, saya bersyukur. Saya harus berpuasa karena tidak punya uang untuk membeli makananan, saya bersyukur. Saya harus terbaring sakit dan tidak dapat bekerja, saya juga tetap bersyukur. Saya tidak pernah menuntut yang aneh-aneh pada Allah. Saya juga tidak pernah mengajukan protes kepada Allah. Jadi, ketika anak saya sakit, saya bilang sama Allah, bahwa kali ini, saya akan menggunakan hak saya untuk meminta sebagai hamba Allah. Saya ingin meminta kesembuhan untuk anak saya.”

Aku (ade anita) merinding mendengar doa si ibu ini. Sekian lama, terlalu banyak aku berhadapan dengan banyak orang dan kebanyakan dari mereka selalu punya banyak keinginan yang dipanjatkan pada Tuhan mereka. Ada yang berdoa dengan cara santun dan lemah lembut, ada juga yang berdoa dengan memaksa Tuhan mereka agar mengabulkan permintaan mereka. Tapi baru kali ini aku mendengar seorang ibu yang menangguhkan semua permintaannya untuk kehidupannya, karena ingin doa yang menjadi haknya untuk meminta sesuatu pada Tuhan itu, diberikannya pada anaknya di saat yang benar-benar tepat.

Bunda. Di telapakmu ada surga. Di tanganmu ada doa. Dan di dalam hatimu selalu terselip kasih dan sayang.

Tepat satu bulan, anaknya pun siuman. Subhanallah.

Tapi perjuangannya belum selesai sampai disini. Masih ada hari-hari panjang penyembuhan. Pada pasien dengan cidera otak berat, tidak ada pemberian obat untuk menghilangkan rasa sakit. Maka dari hari ke hari, yang harus dihadapi oleh si ibu adalah lolongan kesakitan si anak. Tengkorak anaknya dibolongi dengan diameter 10 cm. Potongan tulang tengkorak itu retak, dan dokter mencangkokannya di daerah pinggul si anak agar tulang tengkorak itu bisa merecover diri sendiri. Satu bulan kemudian, tulang tengkorak yang dicangkokkan di bagian pinggul si anak ini tumbuh dan setelah bentuknya rapat lagi, kembali tulang ini dipindahkan ke kepala si anak. Dijahit lagi untuk menutupi lubang yang menganga di kepalanya tersebut.

Sisa hari selanjutnya adalah terapi untuk menyatukan kembali seluruh syaraf.

“Jadi, kadang dalam satu hari anak saya terus menerus tertawa tiada henti. Ini karena syarat tawanya sedang bekerja. Lalu satu hari penuh terus menerus menangis. Satu hari terus menerus menendang, satu hari terus menerus memukul, meninju, memaki, sedih, senang…. satu persatu semuanya muncul. Saya seperti sedang menyaksikan seorang robot. Dan kembali saya berdoa. Saya tidak ingin anak saya sembuh dan menjadi anak yang idiot. Alhamdulillah anak saya akhirnya sekarang sembuh dan tidak idiot. Dia normal.”

Dan memang demikianlah pemandangan yang saya saksikan di hadapan saya semalam. Seorang anak normal yang tidak berbeda dengan anak-anak lain.

“Waktu koma, apa yang kamu impikan?”

“Saya bermimpi bertemu dengan nabi Ibrahim. Dia berpakaian serba putih, berjanggut. DIrinya amat sangat bercahaya sehingga amat susah payah saya melihatnya. Saya pun memajukan lengan saya, untuk melindungi cahaya silau yang menyertai kedatangan nabi Ibrahim tersebut. Lalu, nabi IBrahim tersebut berkata pada saya… “agri, jangan nakal ya. Berbaktilah pada ibumu. Sekarang, pulanglah lagi.”… lalu saya langsung ada di lapangan rumput yang hijau… terus main bola deh. Asyik banget. Sampai akhirnya dibangunkan. dan ada ibu di samping saya….mak, makasih ya.”..” Si anak sambil mengucapkan terima kasih menatap ibunya yang menatapnya masih dengan pandangan rasa syukur. Si ibu lalu menggenggam jemari anaknya dan menciuminya dengan penuh rasa syukur.

“Jangan nakal lagi ya nak nak.”

“Nggak mak. Agri nggak akan nakal, Agri dah janji sama Allah, Agri mau jadi dai.”

Dan memang demikianlah keadaan anak ini sekarang. Setiap pagi dia selalu berdzikir Al Fathihah sebanyak 100 kali.

Lalu saya kehabisan kata-kata. Untuk pertama kalinya, saya diberi karunia pemandangan sebuah mukjizat yang luar biasa.

[]

(menulis masih dengan rasa amazing yang luar biasa. Subhanallah, kuasa Allah benar-benar luar biasa).

Jakarta, 9 Juni 2010

foto ini adalah hasil gambar anak saya, Swarnasari.. menceritakan tentan induk ayam yang selalu melindungi anak-anaknya. Anak si ibu tersebut memang berjumlah tiga orang.


Sebuah Klarifikasi

Oleh Ade Anita

 

APA yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh manusia? Jujur, semula saya merasa bahwa tidak ada yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia. Berpikir adalah sebuah keharusan; karena dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itulah maka seseorang bisa mengembangkan sebuah pemahaman baru akan sebuah sesuatu. Dari proses berpikir yang dilakukannya, maka seseorang bisa memperoleh peningkatan kemampuan menguasai sesuatu; dia juga bisa menjauhkan sebuah kesalah pahaman; bisa mengenyahkan sebuah prasangka dan yang lebih penting lagi adalah, bisa memjauhkan dirinya dari sebuah perbuatan yang merugikan diri sendiri dan diri orang lain yang ada di sekitarnya.

Jadi, apakah seluruh proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itu pasti membawanya kepada sebuah kebenaran? Jawabnya, belum tentu. Jika seseorang mengembangkan sebuah cara berpikir melalui sebuah sudut pandang yang salah, maka bisa jadi dia justru akan terseret ke arah kesalahan yang lebih besar lagi.

Darimana sebuah kesalahan bisa terjadi dan menimpa seseorang yang sedang melakukan proses berpikir? Jawabnya ada di buku-buku yang bisa dibeli dan dibaca oleh banyak orang. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tapi sebuah tulisan yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga biasa. Benar-benar seorang ibu rumah tangga yang bahkan sudah terlalu lama sekali tidak pernah lagi membuka buku-buku pelajaran sekolah kecuali ketika dia membantu anak-anaknya belajar di rumah.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu anak perempuan ibu rumah tangga tersebut (baca: ade anita, yaitu saya sendiri) yang baru berusia empat (4) tahun, sedang bersenandung dengan lucunya. Dia menyanyikan lagu Naik Delman.

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka. Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja.

Lagu berhenti sampai di situ. Lalu, putri bungsu saya itu datang ke pangkuan saya dengan wajah serius dan kening berkerut. Dia bertanya dengan polosnya:

“Ibu, kenapa aku harus duduk di muka? Duduk di muka itu kan nggak sopan ya bu?”

Mendengar pertanyaan polosnya ini, saya hampir saja tertawa terbahak-bahak tapi wajah polos dan super duper serius yang diperlihatkan oleh putri bungsu saya itu mengurungkan niat saya. Saya tahu, dia melontarkan pertanyaan tersebut karena dalam kepalanya, dia melakukan sebuah proses berpikir seiring dengan lantunan syair lagu yang dia nyanyikan. Akhirnya, saya pun menghabiskan sore dengan melakukan perbincangan ringan dengan putri bungsu saya tersebut. Bahwa dalam bahasa Indonesia, ada bentuk sinonim yang memililki arti beberapa kata yang berbeda memiliki arti yang sama. Sebuah proses belajar pasti akan menemukan kesalahan di awal-awal pemahamannya. Karena itu saya bisa memahami ketidak mengertian putri bungsu saya itu.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari; sebuah kesalahan serupa sering kali terjadi pada diri kita. Kurangnya pemahaman akan sesuatu, hanya mengetahui sebagian saja dari sebuah informasi yang skalanya luas, keengganan untuk bertanya mencari kebenaran, rasa malas untuk bertanya pada narasumber yang asli, keinginan untuk mencari popularitas dengan mengangkat sisi yang kontroversial dari sesuatu adalah sebagian alasan dari terjadinya sebuah kesalahan dalam proses berpikir seseorang. Termasuk sebuah peristiwa yang menimpa saya baru-baru ini. Sehari setelah saya menuliskan sebuah status di facebook yang terkait dengan niat saya untuk mengucapkan terima kasih pada teman-teman.

Peristiwanya bermula beberapa waktu yang lalu. Beberapa teman yang sama-sama memiliki hobi menulis, bertanya pada saya apa yang saya lakukan untuk mencari ide ketika tiba-tiba merasa kehilangan kemampuan untuk menulis. Satu persatu pada mereka saya berikan jawaban disertai contoh. Tapi, karena beberapa orang kemudian menanyakan hal yang sama berulang kali; maka saya pun ingin menuliskannya dalam sebuah tulisan saja. Niatnya untuk berbagi cara menikmati tulisan sambil terus mengasah kemampuan untuk memahami sesuatu. Karena saya amat percaya, sebuah ide muncul karena saratnya pemahaman yang kita peroleh dari proses berpikir yang kita lakukan. Itulah sebabnya saya pun mulai menuliskan sebuah rangkaian tulisan berseri.

Seri pertama sudah keluar di notes : Begini cara saya menikmati sebuah tulisan (1)

Ada beberapa serial lanjutan yang ingin saya share (bagi) dengan teman-teman. Beberapa masih belum bisa dishare dan dipublish karena masih menunggu ijin dari notes yang ingin saya copy paste untuk dijadikan contoh tulisan yang bisa dijadikan contoh belajar menggali ide dan belajar menulis yang baik (saya bahkan meminta izin pada seorang teman saya, karena akan meng-copas puisinya dan akan meletakkannya sebagai sebuah contoh puisi yang tidak terlalu bagus dan meminta maaf karena pasti saya akan melontarkan sebuah kritik pedas pada puisinya. Alhamdulillah teman saya itu bersedia dikritik dan tidak keberatan puisinya dijadikan contoh). Saya senang dengan sikap besar yang ditunjukkan oleh teman-teman saya itu. Saya juga senang karena banyak teman-teman yang bersedia membagi tulisannya untuk niat copas belajar nulis saya tersebut. Sayapun bersemangat. Begitu bersemangatnya saya untuk berbagi, maka sayapun mengucapkan rasa terima kasih pada teman-teman melalui status facebook yang berbunyi.

“Ternyata.. notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku.. gpp ya… biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri.”

Sayangnya, hal ini ternyata dipahami salah oleh seorang teman saya. Sedih memang. Terlebih karena teman saya tersebut tidak menanyakan terlebih dahulu pada saya, apa maksud status facebook saya tersebut. Tapi sudahlah. Dengan ini saya melakukan klarifikasi dan semoga kesalah pahaman tersebut bisa segera selesai. Saya minta maaf. Tulus hati saya mengajukan permintaan maaf pada siapa saja yang salah sangka dengan apa yang saya lakukan.

Saya tidak peduli apakah kalian akan memaafkan saya atau tidak tapi saya sudah memaafkan kalian semua.

Tuduhan kalian amat kejam sebenarnya. Saya tidak pernah mengaku-aku karya orang lain sebagai karya saya. Bahkan; untuk ilustrasi dari sebuah tulisan saya sendiripun, saya tidak pernah mengambil hasil gambar atau hasil foto milik orang lain tanpa izin mereka. Itu sebabnya saya selalu berusaha untuk menggambar sendiri semua ilustrasi yang saya butuhkan untuk mendukung notes saya (meski itu artinya notes saya tampil begitu sederhana; tapi itu semua hasil karya saya sendiri). Saya tidak pernah menjadi seorang plagiat, pencuri ide, korupsi karya, penjahat sastra, konglomerat hitam di dunia penulisan atau apapun bukan karena suami saya seorang terdidik, pendidik yang harus memberi contoh pada didikannya; tapi karena saya seorang muslimah yang saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga dari tiga orang anak. Ibu dari anak-anak yang kelak akan menjadi generasi yang menegakkan negara ini dari berbagai hantaman dan benturan negara lain yang saling berebut tempat untuk menjadi terhormat di atas dunia. Ibu dari anak-anak yang insya Allah akan menjadi salah satu pemegang panji kebesaran agama Islam (agama saya). Ibu dari anak-anak yang amat sangat saya harapkan bisa menjadi pemimpin masa depan yang adil, jujur dan mengayomi orang lain.

Jakarta, 5 Mei 2010

[]

berikut notes dari mas tetet yang menurut saya muncul karena salah pengertian.

TAK HABIS PIKIR

[Today at 06:00]

Ade Anita menulis begini:

“Ternyata . . . notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku . . gpp ya . . . biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri”.

Saya geleng kepala, mengelus dada, memijit kening; tak habis pikir, ini etika apa?

Di Tepi Tali Kutang

Salam Hormat

TETET SRIE WD

JANTUK; Bagian akhir dari Topeng Betawi disebut Jantuk. Adegan ini merupakan intisari ceritera berupa renungan, nasehat, instrospeksi, agar manusia menyadari batas2 kemampuannya. Dari kesenian rakyat kita bisa belajar banyak etika.
Foto; Tetet Srie WD.

Rian Garyati Etika

.. Entah……… Hemmmm……..

Budhi Setyawan

mas tetet, perlu ditanyakan ke ade anita itu, dalam meng-copas tulisan2 itu, dengan mencantumkan nama penulis/pengarangnya nggak? koq jadi inget ttg geguritan saya yang telah menyebar ke banyak web & blog itu. banyak yang tanpa nama saya, & dan ada yg dengan nama orang lain. …. tumut prihatin mas….

Asrul Irfanto

senada dengan pak Budhi, seharusnya mencantumkan nama penulis/pengarang sebuah karya yang dicopas, entah itu untuk konsumsi pribadi ataupun publik.
salam hormat

M Djoko Yuwono

guritan dan puisi2 saya juga dicopas di blog2 entah milik siapa gak disebutin penciptanya… bikin males ngeposting karya2 kreatif di dunia maya..

Qur’anul Hidayat

Ah, jadi ngeri dengernya mas Teted. .
Smga bisa lbh hati-hati

Elis Kurniasih

Boten ngertos ah, teu langkung wae

Tetet Srie Wd

@Rian Garyati; Yes, hmmmm . . serem kan? Thanks. @Budhi Setyawan; Yes, di salah satu blog saya baca karya anda, RON GARING, nama penulisnya adalah Narto. Mungkinkah itu nama samaran mas? @Asrul Irfanto; Yes, saya juga setuju Pak Asrul, salam hormat. @M. Djoko Yuwono; Yes, waahh . . rupanya sampeyan mengalami juga mas? Duh duh duh . . salam. @Qur’anul Hidayat; Yes, memang ngeri, apalagi jika itu dilakukan orang berpendidikan mas. Ngeri dan serem!

Dinda Natasya DrCinta Pertama

Ikut Sharing Mas, hehe kok ada ya orang yang malah bangga seolah itu karyanya padahal penulis aslinya berdiri tepat didepannya.
Hehehe, ironis.
Status saya sering muncul ditempat lain beberapa saat setelah diposting.
Kadang2 kata2 yang saya sampaikan diudara, bsk sudah muncul distatus orang. … See more

Susi Maelasari

koq bs sampe gt yah,semuakan ada kode etiknya,mbok ya di jelasin aja secara gamblang,jd gak ngambang…sukses terus mas Tetet 🙂

Putri Suryandari

Itulah dunia cyber, dunia tanpa batas ruang dan waktu, sehingga etikapun dianggap tak ada. Memang perlu di buat peraturan penulisan dan pengcopyan dari internet, biar gak mudah melakukan pembajakan tanpa merasa bersalah.

Sandra Palupi

Tulisan diatas itu kelihatan bahwa Ade Anita mengerti bahwa apa yang dilakukannya ngawur, tapi diteruskan saja dengan enteng dan egois, seolah itu bukan masalah besar bagi pembuat karya.

Kang Arief

tak mengurangi kehormatan andaikata mau menulis:
terinspirasi dari, dikutip dari, diambil dari, kolaborasi dengan dsb,mungkin benar mbak sandra tak merasa itu “bukan masalah besar bagi pembuat karya”

Uhuy Bogel

Euy … nyata depan mata terbaca, inilah dunia semoga diri menyadari, … sukses selalu Mas Tetet…

… salam hormat …

Tetet Srie Wd

@Dinda Natasya DrCinta Pertama; Yes, kebanggaan, termasuk bagaimana proses dan caranya, memang milik dan menjadi hak setiap orang. Saya sagat suka jiwa besarmu; anggap saja menyemai benih, walau bukan kita yang panen jeng.@Susi Maelasari; Yes, kode etiknya ada tapi etikanya yang bisa jadi gak ada mBak. @Putri Suryandari; Yes, etika memang sering dianggap tidak ada mBak. Hikss.

Tetet Srie Wd

@Sandra Palupi; Yes, di situlah bedanya antara pencipta dengan tukang copas. Yang satu punya tanggung jawab, yang lain bermain di antara tanggung jawab. Salam hormat. @Kang Arief; Yes, terima kasih berkenan memberikan pencerahan. Salam hormat. @Uhuy Bogel Euy; Yes, dunia bulat dan berputar . . . he he he. Terima kasih atensi dan komennya, salam hormat.

Djuwarsih Mukhlisin

Saya juga tak habis pikir pak Tetet, dapatkah bila “hanya” dinikmati sendiri dipertanggungjawabkan siapa yg punya karya ? Sedangkan dalam membuat karya, kita selalu tak bertemu dengan yg namanya ilham, dan ilham itulah hak istimewa pada isi otak dan hati manusia yg mahal harganya…makanya bila kita menemukan plagiat..yg terasa adalah hati kita tersakiti…

Awan Hitam

ya mas tetet….semoga yang bersangkutan di beri pencerahan untuknya…semoga dirimu selalu berkarya dan kreatif selalu…
Salam hangat untukmu ..
Hormatku

Mas Bowiebraggi 把然

klau jaman sekrng, itu namanya ‘etika bajul’… dan bnyak bajul di mana mana’… waspadai’…

Ade Anita

saya ade anita. Saya sudah menulis sejak lama sekali. Bisa mas tetet sebutkan, sebuah saja karya tulisan saya yang merupakan hasil membajak karya orang lain? Bisa mas tetet sebutkan satus aja karya tulisan saya yang merupakan hasil meng-aku-aku tulisan orang lain?

Demi Allah, DEMI ALLAH, saya tidak seperti saya semua orang di komentar ini tuduhkan. Saya tidak pernah menjadikan menulis sebagai ladang untuk mencari rizki. Saya menulis karena saya senang menulis dan ingin menjadikan hobi saya ini sebagai lahan untuk berdakwah (itu sebabnya saya sering protes pada mas tetet yang sering menggunakan kata seperti kelamin, kutang, dll karena menurut saya itu tidak sopan). Apakah mungkin saya yang bercita-cita untuk menjadikan kegiatan menulis ini sebagai bagian dari ibadah menghiasinya dengan sesuatu yang kotor dan tidak senonoh dan bahkan bertentangan dengan agama Islam yang saya yakin kebenaranya?

kenapa sih mas tetet tidak bertanya pada saya terlebih dahulu?
Semua orang di komentar ini sudah saya maafkan.

[]


%d blogger menyukai ini: