Category Archives: Panel Penulis Reguler

Lorong

Oleh Shinta Miranda

 

di sini setelah banyak tentara datang serombongan

setiap lorong yang pernah sepi telah bercabang dua

warung warung rendah atap berdiri berhimpitan

tak tentu tegaknya sebab bukan buatan arsitek

dengan kamarkamar berjendela satu yang akan terbuka

bila ranjang di dalamnya belum tertutup dua badan

 

di sini sebelum banyak tentara datang serombongan

lorong lorong yang cukup besar adalah perantara kaki

menuju pasar tempat orang berbelanja setiap hari

tempat anakanak bermain dengan aman dan nyaman

tempat manusia berpapasan dan saling bersenyuman

 

di usia remaja tetap kulewati lorong yang semakin becek

bising dengan lengkingan lagu dangdut dan cekikik perempuan

bau minyak wangi murahan bercampur sayur busuk menusuk

semua hidung belang yang katanya main perang-perangan

pangkat rendahan, supir angkot, kuli angkut pasar,penjudi

copet kesasar yang lari dari kejaran mantri pasar badan besar

 

aku bergegas menuju tempat ini setelah bertahun kupergi

berita di televisi mengatakan sebuah lokalisasi kumuh

dilalap si jago merah dan penghuninya berhamburan

saat aku tiba di tempat kupernah ada dan kebingungan

seorang perempuan yang hanya berkutang pada dadanya

terisak-isak sambil menyumpah serapah tak rela berserah

 

katanya pemerintah kota sengaja membakar

melalui orang orang yang katanya bermarifat

sebab maksiat tak pernah datangi manfaat

itu alasan sebuah sejarah mestilah tamat

 

aku mencari ibuku di tempat ini

aku mencari tentara yang membawa ibuku

ke tempat ini

 

[]

2010


Shinta Miranda

Penyair ini sangat produktif menulis puisi dan cerpen. Sejumlah puisinya sudah dibukukan dalam dua antologi; 1) Antologi 9 Penyair Wanita: Perempuan Dalam Sajam; 2) Merah Yang Meremah. Shinta kini bermukim di Jakarta.

Iklan

Kesiasiaan

Oleh Nona G Muchtar

 

ini bulan desember yang pekat oleh kisah hujan. cuaca biru tua, matahari kuning lembut.

sungai sungai meruah, airnya yang sewarna bata tumpah di bahumu yang ringkih. betapa tak terbacanya pesan yang kau kirim!

angin menderakkan silir yang sunyi, dingin. jejak menjadi begitu kesepian dan kosong. tanah basah, lembab dan kampung kampung yang sepi menjadi kemuraman paling beku. di pelupuk matamu hujan tak berhenti turun. oh, sembabmu slalu saja memukau!

tahun ini kita gagal berjumpa kemarau panjang. kau yang penuh hujan dan aku musim itu sendiri.

perasaan yang tersimpan kian matang memimpi temu. uhh

alangkah jauhnya kini kesempatan mata dan tubuh yang demam mencari secelah ruang bagi rindu yang membludak ya?

lalu dalam sebuah pesta makan malam kita menjadi sepasang luka dengan menu paling lengkap. ada cemas setengah matang pada mangkuk berlukis satu mawar dan berliterliter benci dalam botol yang kau teguk serupa tonikum. apa yang kau ingin bangkitkan dari dadamu, petualang?

lihat, kita selalu kenyang dengan duka, katamu lirih. dan hujan turun lagi, menderas dari sepasang matamu. apa kita harus memiliki perahu agar tak tenggelam karena air mata? ah!

jika saja laut tak pernah menyimpan misteri, mungkin kita bisa berteman dengan ombak, mudah membaca kabar yang dibawa camar dan mahir menolak gelombang pasang.

tapi tetap saja kita menjadi penggemar setia pengetahuan yang selalu kehilangan buku panduan. iya kan? dan kita menua pada perpustakaan yang gelap, menjadi bukubuku lapuk menunggu dimakan rayap, tanpa pengunjung. sepi

[]

tengah malam di bbp, 04122010


Nona G. Mochtar

Penulis dan juga penyair ini sangat produktif menulis puisi. Sejumlah karya dapat dibaca di blog pribadinya dan di akun jejaring sosial. Perempuan penyair ini sangat sederhana menggambarkan dirinya, bahwa dia adalah…“Perempuan yang ingin jadi dirinya sendiri, tak ingin mengekang siapa siapa dan tak ingin dikekang siapa siapa kecuali oleh Tuhannya.” Nona kini bermukim di Jakarta Selatan.


Serial Sobarudin: SMU Antariksa

Oleh Fakhrie Sadah

 

PAGI ini Sobarudin datang lebih awal. Sambil mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, sobar menyenderkan punggungnya pada gerbang sekolah yang telah terbuka setengah. Siapa lagi kalau bukan Adun si penjaga sekolah yang buka. Sobar menyapu pandangannya ke seluruh penjuru sekolah. Di kejauhan terlihat Adun sedang membuka pintu kelas satu-persatu. Melihat sekolah yang telah menjadi lahan abdinya selama sepuluh tahun terakhir ini, sobar jadi senyum-senyum sendiri..

SMU Antariksa mempunyai relief bangunan berbentuk persegi panjang. Mengelilingi lapangan volli dan Basket, juga digunakan untuk upacara bendera setiap seninnya. Dari gerbang sekolah, di sebelah kanan terlihat laboratorium serbaguna hingga ke sudut persegi. Disebut laboratoriun serbaguna kerena segala aktifitas yang berbau praktek seperti praktek biologi, fisika, kimia, bahasa hingga komputer dilakukan disini. Jangan ditanya sarana prakteknya, apalagi metode praktek yang diterapkan.

Di Labor ini hanya terdapat seonggok tengkorak tua yang sudah hilang beberapa rusuknya, sebuah CPU rusak untuk obok-obok TIK dan tipe butut untuk listening bahasa. Di dinding bagian dalam labor terlihat bermacam-macam poster mulai dari isi perut hewan, internet masuk desa hingga peringatan ancaman global warming. Toh, pada perjalanannya labor ini lebih serinmg digunakan sebagai tempat musyawarah antar sekolah terdekat, dengan masyarakat maupuin walimurid.

Di samping labor terdapat ruang kepsek, keduanya membentul letter eL. lalu ruang dewan guru, gudang, kelas tidak terpakai dan ruang kelas satu hingga kelas tiga yang di pisahkan oleh Musholla, toilet , dan perpustakaan.

Yang paling bisa membuat Sobar betah berlama-lama di sekolah itu adalah barisan pohon kenanga yang tumbuh teratur di titik-titik strategis setiap bangunan yang ada. Keseluruhan jumlahnya ada 25 pohon. Bunganya hijhau kekuningan , bergelung seperti bintang laut dan menyebarkan aroma wangi yang menghanyutkan. Pohon yang masih famili annonaceae ini tergolong rajin berbunga. Dan entah siapa yang memulai, sayup-sayup terdengar “SMU Kenanga” adalah nama lain dari SMU Antariksa (Selengkapnya di bab ‘KENANGA’).

Gudang dan sebuah kelas yang tidak terpakai terletak di sisi kanan ruang dewan guru. Tidak ada yang istimewa dari gudang sekolah. Hanya berfungsi untuk menyimpan potongan-potongan kursi atau meja patah. Yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar memasak daging saat acara-acara besar di sekolah seperti Maulid Nabi atau hari meugang menjelang Ramadhan (Selengkapnya di bab ‘maulid’).

Lebih menarik membayangkan Kelas tidak terpakai yang menyatu dengan gudang. Kelas ini dinamakan ‘Kelas Sunti’. Kelas Sunti tidak pernah digunakan sejak awal berdiri SMU Antariksa pada tahun 1968, berhantu katanya. Wejang Mak sunti, tokoh spiritual yang terpandang di desa Antariksa memang sangat dirunut warga. Maklum, masyarakat desa Antariksa yang mayoritas berprofesi nelayan itu memang lekat dengan hal-hal berbau mistis, keramat dan pantangan. Termasuk pantangan menggunakan kelas ini. Menurut Mak Sunti, jin penguasa pantai Antariksa pernah menemuinya dan meminta kelas itu sebagai tempat anak-anak jin belajar. Bahkan setelah Mak Sunti wafat pada tahun 1972, wejangannya tetap dijalankan. Dan kelas inipun dinamakan kelas sunti’.

Seiring masa yang terus beranjak dewasa, banyak yang memicing sinis terhadap sikap komite sekolah yang tetap mempertahankan wejangan Mak Sunti. Hingga pada tahun 2008 teguran keras pernah datang dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten. Karena tidak ada tanggapan dari komite sekolah. Dinas Pendidikan kabupaten menurunkan staftnya untuk turun lapangan dan membuka paksa segel mistis tersebut. Akhirnya komite sekolah terpaksa mengangguk ketika ultimatum dikeluarkan.

“Kelas sunti harus digunakan, atau komite dan perangkat sekolah akan diganti!!”. Bisa saja komite sekolah berkeras hati. Toh seluruh warga Desa Antariksa siap membela mereka. Namun ternyata, dalam lubuk hati mereka terselip rasa penasaran atas keganjilan ini. “Bagaimana bila wejang Mak sunti dilanggar?” (Selengkapnya di bab ‘Sunti’).

Entahlah, Sobar tidak sepenuhnya percaya dengan mistis. ia juga tidak sepenuhnya mengingkari. Alam ghaib pada kenyataannya memang ada. Dan kawasan pesisir termasuk territorial favorit paraa jin penghuni alam ghaib.

Di depan gudang dan kelas sunti, tumbuh beberapa pohon jambu bol yang rimbun. Memberikan kesejukan sekaligus menghalangi hujan dan sinar matahari langsung menerpa deretan sepeda dan motor yang terparkir disana. Ya, halaman kosong di depan gudang dan kelas sunti digunakan sebagai tempat parkir roda dua.

Sebagaimana sekolah pedesaan yang umumnya asri, SMU Antariksa juga terasa teduh dengan pepohonan. Selain puluhan pohon kenanga yang semerbak, tiga pohon jambu bol yang rimbun, taman mungil di depan kantor kepsek dan taman border di sepanjang pagar depan sekolah. Di depan Musolla dan perpustakaan Terdapat pula dua pohon pala yang menjulang tinggi hingga puluhan meter.

Konon katanya pohon ini sudah berumur ratusan tahun. Beberapa LSM yang datang ke sekolah acap menyarankan agar pohon pala itu ditebang saja. Alasan mereka pohon pala ini terlalu tua. Selain tidak produktif atau tidak akan berbuah lagi, dikhawatirkan pohon itu suatu saat bisa tumbang dan mencelakakan para siswa. Apalagi di Aceh sering gempa akhir-akhir ini. Sobar setuju, beberapa guru lain juga setuju. Tapi, lagi-lagi para tokoh masyarakat dan sesepuh desa yang sudah merasa menyatu dengan SMU Antariksa menentang rencana penebangan itu habis-habisan, bisa kualat katanya.
Meski subur dengan pepohonan dan aroma mistis, SMU Antariksa jauh dari kesan Angker.

Justru yang terasa adalah nuansa klasik yang menentramkan jiwa. Apalagi saat musim hujan. Menjelang hujan turun, gerombolan burung kecil terbang rendah memenuhi area sekolah. Para bintang menyebutnya burung hujan. Sesekali salah satu diantara mereka nyelonong ke dalam kelas, dan langsung diteriaki para bintang, “Tangkap.., tangkap..!!”. Saat hujan deras menghantam bumi, beberapa bintang terlihat lari-lari kecil mengitari lapangan olah raga. Hehe, itu pasti ulah Pak Bruno. Semua guru dan bintang sudah hafal tabiat guru fisika yang hobi menghukum ini (Selengkapnya di bab ‘Hukuman’).

Pak Bruno bukan tidak tahu bahaya hujan yang menerpa tubuh secara langsung. Tapi, untuk anak-anak pantai ini hujan hanya mengelitik daya tahan tubuh mereka. Makum, mereka sudah akrab dengan badai laut sekalipun (Selengkapnya di bab ‘Melaot’). Dan di penghujung hujan, kenanga itu makin semerbak menebar aroma.

Selain itu, SMU Antariksa juga menyimpan sejuta cerita tentang fenomena dan intrik dalam dunia pendidikan (Selengkapnya di bab ‘Diam’, ‘Akrab’, ‘Marah’). Belum lagi sekelumit masalah eksternal dan internal yang mempengaruhi citra sekolah (Selengkapnya di bab ‘Pasar’, ‘UN’). Ada juga cerita tentang pribadi-pribadi para guru dan bintang yang istimewa (Selengkapnya di bab ‘Sobarudin’, ‘Faiz’, ‘Sano’, ‘cinta’)

“Selamat pagi Pak..!!” Teriak beberapa bintang membuyarkan lamunan sob ar
“Pagi anak-anak..!” Jawab Sobar yang langsung menguasai diri
“Tin-tin”, Klaksson mobil Pak Teguh sang kepala sekolah kembali mengejutkannya.

Bergegas sobar membuka gerbang lebar-lebar. Mobil Pak Teguh memasuki pekarangan sekolah diikuti para bintang dan beberapa guru. Sobar kembali tersenyum lebar, “Selamat datang hati-hati yang bersih, selamat datang para pencari cahaya Tuhan..” gumannya, lalu menarik nafas dalam dan melepasnya perlahan-lahan.

 

[]

Biography :
Nama : Fakhrie Sadah
Lahir : Aceh, 28 April 1984
Aktifitas: Kuliah di KIFAL (Khartoum Institut For Arabic Language) Sudan


Rinduku Bertawaf Dihatimu

Oleh Y. Riswana

 

Kau coba bersyair kepada awan, ia kan terberai.
Kau coba lebur di denting malam, ia kan terbunuh sepi.
Atau berseru kepada dedaunan, ia akan gugur ke bumi….

 

Tidak bagi rindu ini padamu….
Tidak bagi cinta ini untukmu….

 

Ia kan selalu bertawaf di hatimu…

 

[]


Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

Oleh Awy Ameer Qolawun

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

[]

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

[]

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

[]


Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

 

Oleh Awy Ameer Qolawun

 

 

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

 

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

 

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

 

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

 

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

 

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

 

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

 

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

 

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

 

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

 

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

 

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

 

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

 

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

 

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

 

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

 

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

 

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

 

[]

 

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

 

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

 

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

 

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

 

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

 

[]

 

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

 

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

 

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

 

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

 

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

 

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

 

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

 

[]


%d blogger menyukai ini: