Tag Archives: langit

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Euforia Masa Lalu

Oleh Enny Asrinawati

Air itu mengalir perlahan, seperti gerimis
Seperti waktu yang membawaku sampai di sini
Hingga aku tak sanggup menoleh lagi ke belakang
Melihat jejakku yang samar

Mungkin sakit dalam otakku
Menjadikanku bebal berkepanjangan
Mengabaikan suara-suara bising yang menuntun jalanku
Oh…, Aku hanya mendengar suaraMu Tuhan
Yang Kau bisikkan dalam naluriku
Kata hati, orang bilang
Tapi salahkah

Aku tenggelam dalam ego,
Mendengarku bicara sendiri saja
Menulikan diriku dari kata-kata orang yang sok tahu
Yang benar seharusnya
Yang membukakan jalanku seharusnya
Aku tenggelam dalam ego
Mendengarkanku bicara sendiri saja
Menyakiti mereka yang mencintaiku
Mengabaikan waktu

Aku hanya tidak ingin pergi dari mimpi mimpi
Mimpi-mimpi masa kecil ku
Mimpi yang kubangun dengan teman sepermainanku
Mimpi yang usang dimakan usiaku
Aku hanya ingin kembali
Bermimpi mengharap uang jatuh dari langit
Dari pesawat terbang yang melintas di atas kepala-kepala kami yang lugu
Mimpi menjadi pemain film dengan penuh bedak dan eyeshadaw yang tebal
Mimpi menjadi guru dalam permainan guru dan murid
Bahkan mimpi menjadi ibu seperti permainan ibu-ibuan
Yang seharusnya saat ini sudah tanpa bermimpi lagi aku pun menjadi ibu
Tapi mimpi itu yang aku rindu

Aku tak ingin kehilangan mimpi-mimpi
Tak ingin berhenti bermimpi meski mati pun
Namun dunia sudah tak mau tau itu
Waktu pun tak lagi berpihak pada usiaku

Tuhan, haruskah memang begitu
Usiaku tlah memakan mimpi-mimpi masa kecilku …

Surabaya, 020910

[]


Malam Tidak Sedang Menangis, Dik…

Oleh Afrilia Utami

Adikku…

bayang gulita masih meredup tak menyisakan

menanti hari-hari diburu mati dinisankan sepi

laku elegi bluri yang hilang lagu

kini hanya kaku membisu bak hilang suara merdu

Lihatlah, sayang…

Purnama itu hilang setengah layang

Langit sana terlalu hitam menajam dan legam

Hanya selimut malam yang kian surut

Dingin dalam raut yang semakin larut…

Dengan bekas-bekas nikotin berkata pelan

Jangan menangis, manis

airmatamu tak mengenal tandus menghumus

kedua matamu masih menghijau dan memukau

sejumlah mendung, tak terbendung

yang mungkin tutupi, setengah serak

jingga dan biru pada gordin kelabu

kau jadikan irama berbisik terbang bahkan menyelam

di meja malammalam yang bermalam pada malam

maka,

cepatlah tertidur…

terpejamlah…

sebelum malam berikutnya menceritakan malam-malam lainnya.

20 Agustus 2010

[]


Kembang Sedap Malam

Oleh Hera Hizboel

kembang darimu adalah nyanyian merdu yang menina boboku

kembang darimu adalah matahari yang membangunkan lelap tidurku

kembang darimu adalah puisi yang menggenapi rinduku

kembang darimu adalah musim semi yang membangkitkan segenap hasratku

kembang darimu adalah nyanyian merdu yang mengiringi tarian ku

kembang darimu adalah riak gelombang harapan dan cintaku

kembang darimu mengusik angin dan cuaca negeri sunyiku

kembang darimu adalah langit biru luas terbentang

menatap kembang –kembang itu diam-diam tumbuh perasaan di hatiku. antara keberanian dan ketidakberdayaan. Antara kebimbangan dan keyakinan. antara harapan dan ketidakpastian. antara kesanggupan dan rasa cemas

kembang itu…. mewangi di dasar hatiku

kembang itu…. menjadi kembang bagi jiwaku

kembang itu…. menjelma bintang dan rembulan yang menerangi sajadahku

kembang itu…. menggenapi lantunan zikir-tasbih-dan tahmidku

kembang itu.… menggelegak, menggemuruh, dan melebur di luas semesta-Mu

[]

5 Ramadhan 1431 H

hera



Mizan Rinduku (Untukmu)

Oleh Afrilia Utami

Ditandus bebatuan padang layang yang gersang
Kembaraku tak memulang, pula enggan pergi memulai
Kala Malaikat rotasi mendengung menutup gerbang-gerbang hari
Dan rona bangkai bumi membusuk mati
Tangan-tangan Ar-rahman mengiring sapuan jingga melata
Membuka tatap tajam mata langit, meniup kalut yang terbang
Mengiring langkah-langkah maut berpulang meminang kekal
Dipenghujung laju tarikan nafas . .

Di Dermaga petang yang membilang
Mata timur terpejam akhiri senyawa. Menguras
Digelisah angin dan kepak sayap-sayap lembut
Alunan titah langkah yang memulang sejarah

Berkalikatur aku singgah di taman semusim semi
Mengiring dongeng-dongeng ditelinga bunga-bunga yang kian tertidur manja
Seperti yang sering kau singgahi dipecahan lamunanku menjelang senja
Meraba rambu-rambu rindu yang pilu ku seduh diteriknya haru
Adakah rasa dingin memucat pasi dalam kufur angkuh merayu?

Amis riwayat sejarah masih berdiam dibalik cadar Anugrah
dibelahan jiwamu aku terus menarik garis rindu
menahan luap rasa ingin bertemu
membicarakan rasa cinta yang tak jua menampar sayang
sementara hari-hari adalah jalang sepi yang memanjang
bulan-bulan adalah selaput bangkai cerita dibalik akar cakrawala

seperti kelopak bibir diwarna harapan baru
sementara aku berada di antara tengahnya
mengupah rindu, menyayat maut yang berpaut
mematikan rintih asa, mengusir ketidakberdayaan tingkah

“Kasih itu?”
“Kasihmu ?”

“Rindu ini?”
ya, rinduku
Kubuat sederharna mizan rinduku untuk kalian

***

*Terimakasih sahabat, ada rasa jenuh yang menyayat saat tiada waktu yang memilah tanpa sapa kalian, kepingan-kepingan yang menjadikan langkah memayat. Ada rasa kasih meraba hangat, dalam letih paruh yang meluruh memudar puyar. Sungguh, aku merindukan kalian, dalam tarian canda jabar aksara, merangkum sepi menghuni tawa dan tulusnya berbagi. Sangat rinduku ini. kini, Haru bersua kembali, mengingat uluran kasih sayang serta do’a yang menjadikan gelora semangat penyembuh dari segala penyembuh. Aku kembali karena kalian, aku disini untuk kalian. Terimakasih saudaraku. Kutemukan tulus erat jabat CINTA keluarga. 🙂

Kubuat sederharna mizan rinduku tuk kalian
Maaf, kerna nyataku tak bisa merangkai kaidah indah
Tak mewakili indahnya mengenal baik kalian
Tak mewakili indahnya waktu mengekang kerinduan
Untuk kalian …

(Mohon maaf karena keterbatasan tag, namun bilik sederharna ini terbuka untuk kalian para Sahabat baikku )

Terimakasih Sahabat, salam Sayang segenap Rinduku 😉
Untuk kalian …

RS, 13 Juli 2010
:Afrilia Utami


Surat Untuk Sang Pecandu Rindu!

Oleh Afrilia Utami

***

Urai Rindu, Membakar Pilu

: Afrilia Utami

Sentuhlah, kekasih!
Keheningan yang bertanya gulandah
Tentang pertemuan yang berlum terjawab
Selasat terik Surya membakar bendungan luap

Sekian waktu lama tak bersanding
Mencoba merangkai senyummu
Berbutir mutiara hanya rontah takmenyatu
Di Dinding-dinding coretan yang berbelit

Nafasmu meraba sekian nadi hembusku
Ratap kita lama tak sua bertemu
Dingin kelana peradaban musim hinggap menua
Tentang Gila sepi merajuk Rindu yang tak terkendali

………………..
………………………..
……………………………………………..
……………….. (Barisan kata yang sulit ku jabarkan)
…………………………..
……………………………………….
………………………….

Sampai kapan, kekasih!!
Kapan tepi labui keinginan
Tak hanya bergumam pada igauan mimpi
Saat lapuknya lara yang bersenyawa pada derita
pun Bahagia

Tak biasa ku meninggalkan senyummu, setiap langkah genggamku hanya sebuah photo yang masih membisu menggemgang sebuah rindu yang tak kunjung sirnah dilahap waktu

Sydney, 29 Juni 2010
:Geovan Alviano

***

Kuterima kembali aksara kau di sana, yang selalu bersurat dengan limpahan puisi. Ataulah Sang Pecandu Rindu!

Surat Untuk sang Pecandu Rindu!

: Geovan Alviano

Pada awalnya seperti inilah kita menjajahi waktu, mengikat legam waktu bersama celurit warna-warna yang penuhi kanvas dalam kalbu yang kita lukis pada langit biru. Yang kokoh tak pudar mekar dilahap durasi waktu. Satu penyatuan yang menjadikan kesatuan di atas meja dan kursimu. Yang berseragam dibalik semua balut membungkus ragamu. Setia melambai dalam renjangan waktu yang tak berpilu ataupun berteduh pada kuasa musim yang mereguk iklim-iklim. Menjadi imam dalam setiap sujud Keyakinan yang terpatri bermukim di tihang kehidupan intim.

“Debar asmaraku selalu merajam disetiap lekuk jantung, nadi hidupmu … “

Tiga tahun kita bersama, menghidmati perjalanan semasa hidup bersama, sebelum berpisah dalam keabadian dan bertemu kembali dalam awal masa yang berbeda peradaban. Memang, tiada rupa sempurna, tiada nyata diatas harapan, tiada impian ditiduri keinginan, tiada kemauan didalam dorongan. Tiga tahun masih seumur jagung, belum panen subur berpayung. Namun subur merambat di tanah tandus yang telah lama kita urus yang tak pernah haus akan tanah berhumus. Hingga rindang tak bertepi menyudut pedang, tak menyayat runcingnya kesakitan, jua tak menusuk di uluh hati kematian. Serutan kenangan berseling menyayang linang dengan hilangnya ingatan semasa candu masih bercumbu dalam bayang, selama rindu masih berburu curi waktu kutipan, selama perpisahan yang hadirkan runcingnya rasa ‘hilang’, kehilangan, serta dihilangkan.

“Sulit Bertemu, mudah hanya Mengingat …”

Lama kita mencari tempat ketenangan, yang jauh dari ketakutan-ketakutan yang berpaut mengkias kerut. Ataupun ceruk buruk pertanyaan yang menagih intim kecurigaan, yang berujung pada pertikaian. Dilema kebimbangan ataukan mencandu pada kemenangan perasaan. Ya, semua hadir karena adanya Pabrik Cinta. Berlabuh unggakan tepian pilihan, menepi hadirkan seluas darat dimana kita kan melangkah dan menjalani pilihan kita. Kadanghal meramu sejuta pilihan bersama masih berbentur dengan pemahaman yang kerap hadirkan perbedaan. Bukankah kita satu? Meski raga, sukma, serta jiwa dan akal terpisah.

“Lama kumenanti benar jawab di tepi hatimu, meski nyatanya hati tidaklah bersudut tepian…”

Larut waktu ketika genggaman langkah tak hangat diselimuti jemari hadirmu mendengkur, kini hanya bisa bersurat menyurat. Mewakili dengan Prasati jabar aksara yang kita toreh diatas putih kertas. Menjabar kata ‘sayang’, cinta juga rindu yang sudah jenuh hanya dicandu oleh mata, bukan terdengar di kedua kerdam telinga. Berapa lamakah, kau kan ajarkan aku tentang perpisahan? Sementara separuh senyumku ada di pelipis ranum senyummu, jubah hangatkku terbawa dingin di dalam koper besarmu, bingkai serangkai seragam bahagia sudah larut terambing di bawa kelana perantara. Jadikanlah aku sapu tangan kotak birumu, yang setia melekat terbawa dihangat tubuhmu. Mengusap asinmu, hingga akar laramu. Kini aku tersesat dalam labirin Sepi. Sunyi. Senyap. Dan Pengap…..

“Mendaki keringat kenangan, ataukah turuni setihang lara yang berperang dengan serdadu candu-candu rindu…”

Jakarta, 2 Juni 2010
: Afrilia Utami

[]


Revisi “Pernik Dungu”

Oleh Afrilia Utami

malam ini…
seruling hening kembali hiasi degup waktu
diantara yang singgah
sepi telah permainkan imaji langit gelap
ketika para dermaga mimpi tengah menanti

Jangan ucap kerinduan
bila nyatanya sulit bersapa dalam biduan

lalu…
sedang aku bertanya

Hatiku merindukanmu
atau hanya terkaan
atau bahkan tawa biru

Ya, mungkin salahku
yang dulu pernah menitipkannya
pada ranum senyum
maupun kuyupnya laramu

[]


Lirihmu Menyambar di Pangkal Kesadaran

Oleh Afrilia Utami

Lirihmu menyambar di pangkal kesadaran
Saat kita bersua di Rumah Perjuangan

Melucuti arah melabuhi jendela, tak berpintu
Mencari Kapal Pesiar
Mengarungi dan melupakan selamat tinggal daratan
Hari bersemayang di antara gelombang-gelombang pasang

“Tenanglah, aku yang khan menunjukan gelombang pasang terdalam.”

Sekejap kedua mata saling bertatap
Jarak semakin dekat
Hingga hembus nafasmu ku rasa meraba nafasku
Kita bersama melabuhi badai yang melingkar di pangkuan
Menunggu kemarau berlalu, Musim Semi menyalami
Di mana rindang hijau membuat sinis langit membelah
Dihiasi para Bunga cantik yang bersolek kaidah indah

“Kau selalu temukan jalanku, bidikmu yang tepat di sasaran diri.”

Perlahan,
Tangan-tanganmu yang lembut begitu rela dan hangat mengusapku
Utuh Rembulan kawan kita tadi malam
Sempat menyatukan dalih perjodohan Alam
Berbulan madu di tembang Bintang
Mengudara kedinginan teramat bersilang
Bersimpul kasih yang dirindu.

“Genggamlah, lekas sentuhlah kedinginan yang tadi waktu sempat terbakar bara Sepi.”

Hingga kini,
Masih setia kau menemani
Aku yang masih terbaring berjuang kaku
Bersua sakit yang menjadikan nikmat termaknai
Maupun celoteh isakan paru-paru yang sayup berburu
Dan mencari rongga udara tuk sekedar bernafas
Meski nyatanya, harus bergantung pada benda mati
Yang seolah menjadikanku mahkluk mati

“Kau tak mati, matimu selalu ciumi awal hidupmu.”

Ya,
Lirihmu menyambar di pangkal kesadaran…

11 Juni 2010

[]


Kelana Peradaban

Oleh Afrilia Utami

Berdayun-dayun langkah Diri memapah ilusi khayalan
Ke arah ujung sunyi, mencari sejatinya palung kebenaran
Malam penuh gemintang dan rembulanpun mengambang di angkasa
Ah, mereka melingkar tari di ruas-ruas keheningan
Indah mereka bertari temaram dalam biduan

Kelana merombak penuh kepatuhan, Kau cari arti Dirimu
Setelah bangkit dari ketidakberdayaan, diantara kepolosan
Yang melengket dan tuntutan nafsu duniawi yang merajalela,
Di tempuh kelelahan itu secara sadar melingkar di leher nadi

Mendaki menapaki undakan batu, mengitari bukit-bukit merakit
Sang Elang melayang lincah di Mata Langit
Diceruk yang teduh, kembali aku mengeja penderitaan

Aku menafsir kebahagiaan
Dari sekedar berpotret untuk kenangan
Atau, bersilaturahmi dengan Kelana lain

Aku tanggalkan
Satu per-satu harapan
Sebelum akhirnya hanya menjadi angan
Aku tahan, secarik surat yang berisi 8956 pertanyaan
Diam beradu diantara damar kerinduan
Seperti mengisyaratkan tentang kehilangan

Aku tidak tidur Dua Ratus Tahun
Selayak linglung diri mengejar hari
Aku lupa hari,
Lupa abad
Lupa Waktu
Lupa Tempat
Yang Kutempati
Aku bagai menemukan diri
Disebuah peradaban yang tak ku kenali

Kelana yang lupa ingatan
Bagai gasing mengitari porosnya
Mengingatkan Langkah tersapu tak terarah

“Disana ..
Di tempat yang pernah hilang, digarap kelabu bayang
Aku buat Mizanku
Mencatat hari-hari hilang
Tak terukur tumpuan kerling pijakan
Tak terukur busuk lidah acapkali tersungkur kezhaliman”

18 Juni 2010,

[]


Doa yang Berkelok ke Timur # 2

Oleh Adhy Rical

Siang itu, tanggal 25 Juli 2005, kau jelas sekali mendengar semua amarahku di ruang rias. Sebenarnya bukan padamu amarah itu. Aku hanya marah pada keadaan. Kenapa keteledoran masih ada dalam tim. Bukankah kau tahu, semenit pun tak boleh ada kata terlambat di sini? Kami telah sepakat sejak lama bahwa sebuah keberhasilan -paling tidak melawan dalam diri- adalah tidak terlambat waktu.

Persoalan sepele sebenarnya tapi mug bercorak hijau yang sudah kami siapkan dari Kendari tak sempat terbawa. Pentas dua jam lagi dimulai. Ini yang pertama membawa tim dengan jumlah yang besar dan pertama pentas di Jakarta. Kami merasa makin kecil di sini. Tentu sangat mendebarkan bukan?

“Dhy, kami sudah cari di pasar Minggu. Benda itu tidak ada. Gimana dong?”
Yaa bagaimana lagi. Benda itu wajib. Judulnya aja Mug, kok ga bisa dapat?”

Tak lama Ahid menelpon lagi. “Dhy, ada solusi gak? Mungkin bisa ganti dengan benda lain?”

“Ada. Nanti aku yang cari!”

Sepertinya, emosi siang itu cukup panas.

“Cari gimana maksudnya? Kamu kan sutradara, gimana ada waktu nyarinya?”
“Tenang saja. Selalu ada waktu yang baik jika kita tenang.”

Aku membayangkan masalah besar di sana. Kalian pasti mengoceh atau mengumpat padaku. Situasi memang tak pantas. Benar-benar tak pantas. Begitulah waktu selalu baik ketika tenang. Bukan secara kebetulan kalau saat itu aku lebih mengandalkan Udin, kawan dari Kendari yang baru tiga bulan di Jakarta kumintai untuk mencari mug. Ia berhasil.

Ada peristiwa yang membahagiakan selain pertunjukan itu.

Pertama, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan lomba mengakhiri cerita tingkat remaja. Sesuatu yang tak terbayangkan bagi kami sebab salah satu peserta dari timku berhasil memperoleh juara 1. “Saya suka Eva dalam menjalin kisah seperti itu, Dhy”, kata Ratna Sarumpaet. Ya ya. Terima kasih telah memilih Eva. Ia perempuan yang berbeda dari yang lain, kelakarku sedikit promosi. Hahahay.

Kedua, setelah Mug-Mug tampil, Slamet Gundono meminta kami untuk berkolaborasi. Wayang Suket yang menarik dengan lakon Gatot Kaca. Wuih! Tambah seru. Ini pengalaman berharga bisa bermain bersama “raksasa” dari Solo. Tentu saja TIM saat itu makin ramai dan riuh dengan dialek yang berbeda. Sesekali mas Slamet celetuk ala Kendari Mug dan TAM pun membalasnya ala Solo.

Doa yang Berkelok ke Timur. Ini judul kedua dari catatan yang kutulis. Katakanlah doa yang tak sampai atau belum sampai tapi kutujukan padamu. Beberapa kali pembicaraanku berkelok-kelok tapi belum menemuimu. Aku selalu berdebar menyebut namamu sebab percakapan sederhana kita lalu menginap tiga hari di tempatmu adalah sesuatu yang lain. Kangen? Iya barangkali.

“Kang, boleh tanya?”

Ini pertanyaan awal yang tak pernah aku lupa ketika kau mengajak bermalam di Horison.

“Bukan mug lagi kan? Haha…” Tawa yang ringan. Kukira itulah jawaban paling akrab dan dalam. Kami sebenarnya pernah bertemu di Kendari. Ketika itu ia ke Raha tapi aku tak sampai Raha.

Kok, Kaki Langit, Horison edisi lalu itu memuat lagu Iwan Fals utuh dan diulas sebagai sajak yang bagus sih? Itukan jiplakan!”

“Mungkin editornya penggemar lagu dangdut, Dhy.” Jawaban kelakar itu sudah cukup bagiku. Aku tak perlu bertanya lagi sebab sudah jelas. Tidak semua sajak dan lirik lagu itu dikuasai oleh editor kan?

“Tapi Iwan kan tak sama dengan….”

“Ini yang kedua, Dhy. Kayaknya kita diskusi di rumah saja. Sambil main badminton. Mau?”

Haha… boleh! Sudah lama tak berkeringat dengan badminton.”

***

Horison.

Memasuki ruang tengah, ada banyak foto terpampang. Kukira tak perlu kusebutkan siapa saja foto yang ada di situ. Aku merasakan damai. Ya. Sesuatu yang berbeda. Mungkin karena saat itu tak ada rapat redaksi atau pertemuan lain yang sifatnya urgen maka kesunyian itu menjadi keberuntungan tersendiri buat kami. Hemm… Aku langsung menuju lantai paling atas sebab katamu ruangan di sana paling cocok untuk kami. Pas untuk latihan. Lumayan, ruangnya cukup luas dengan beberapa jemuran di sekitar tembok.

Mulailah kau bercerita lebar tentang kesibukan awak Horison jelang deadline sampai motif cover yang pertama kali kubilang monoton. Tentu saja itu yang pertama kubilang sebab pengalaman kerja sebagai layouter di koran lokal cukuplah alasan untuk menolak. Apakah cover itu sebuah pencitraan atau hal lain? Diskusi malam hingga larut itu menarik sekali. Malam itu pula kali pertama melihatmu memakai sarung setelah beberapa hari sebelumnya, penampilanmu kebapakan dengan motif kemeja abu-abu lengan panjang dan celana kain jatuh abu-abu tua. Bukankah aku mengetahui semua jenis kain karena bekerja lima belas tahun sebagai desainer tekstil orangtuaku?

Mendadak kau mengeluh sakit ketika kita bermain badminton. “Dhy, udah dulu ya!” Cuma itu katamu. Tak ada bicara lagi lalu masuk kamar menyendiri.

Sayang sekali kita harus berpisah. Terlalu banyak hal yang kami dapatkan darimu tapi kami harus berangkat ke Yogyakarta. Tampil di Teater Garasi pada tanggal 28 Juli 2005.

“Hubungi kalau sudah sampai Jogja ya, Dhy. Tentu saja, kabar dari Kendari kutunggu selalu.”

“Siap, Kang!”

Sebuah sms dari Ahid masuk pada tanggal 23 November 2009, “Dhy, Akang berpulang ke rahmatullah.”

Aku hanya diam lalu menulis puisi pendek: Tuhan Mencintaimu. Sajak ini termuat dalam antologi puisi “Berjalan ke Utara”.

[]

Kendari, 2005-2010


%d blogger menyukai ini: