Tag Archives: merah

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story


[Buku Baru] Garis Merah di Rijswijk

Garis Merah di Rijswijk, #1

Novel: Garis Merah di Rijswijk (Trilogy #1)

Novel Unggulan Lomba Novel Republika 2012.

GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)


Lorong

Oleh Shinta Miranda

 

di sini setelah banyak tentara datang serombongan

setiap lorong yang pernah sepi telah bercabang dua

warung warung rendah atap berdiri berhimpitan

tak tentu tegaknya sebab bukan buatan arsitek

dengan kamarkamar berjendela satu yang akan terbuka

bila ranjang di dalamnya belum tertutup dua badan

 

di sini sebelum banyak tentara datang serombongan

lorong lorong yang cukup besar adalah perantara kaki

menuju pasar tempat orang berbelanja setiap hari

tempat anakanak bermain dengan aman dan nyaman

tempat manusia berpapasan dan saling bersenyuman

 

di usia remaja tetap kulewati lorong yang semakin becek

bising dengan lengkingan lagu dangdut dan cekikik perempuan

bau minyak wangi murahan bercampur sayur busuk menusuk

semua hidung belang yang katanya main perang-perangan

pangkat rendahan, supir angkot, kuli angkut pasar,penjudi

copet kesasar yang lari dari kejaran mantri pasar badan besar

 

aku bergegas menuju tempat ini setelah bertahun kupergi

berita di televisi mengatakan sebuah lokalisasi kumuh

dilalap si jago merah dan penghuninya berhamburan

saat aku tiba di tempat kupernah ada dan kebingungan

seorang perempuan yang hanya berkutang pada dadanya

terisak-isak sambil menyumpah serapah tak rela berserah

 

katanya pemerintah kota sengaja membakar

melalui orang orang yang katanya bermarifat

sebab maksiat tak pernah datangi manfaat

itu alasan sebuah sejarah mestilah tamat

 

aku mencari ibuku di tempat ini

aku mencari tentara yang membawa ibuku

ke tempat ini

 

[]

2010


Shinta Miranda

Penyair ini sangat produktif menulis puisi dan cerpen. Sejumlah puisinya sudah dibukukan dalam dua antologi; 1) Antologi 9 Penyair Wanita: Perempuan Dalam Sajam; 2) Merah Yang Meremah. Shinta kini bermukim di Jakarta.


Janganlah Diam, Merah (Putih)

Oleh Afrilia Utami

 

Dan barangkali didahimu penuh debu. 

bekas vulkanik menangis sorekan amis.

jangan hanya jadi batu, sayang.

kau lupa cara mengingatkan darah

akan perjuangan perebutan tanah

“Aku lupa mengangkat amunisi

menembak mati langsung bangsaku sendiri.”

hari ini aku ingin meminang air mata dari  mukjijat

kanal sebelah utara. lalu tertidur pada

tanah kudus. menjaring ikan dengan jala setengah

hangus.

“Mana yang paling hangus, seluasnya humus sudah

bergugur semalam. lama tidak terurus. hingga mati pun

lupa diliangkan lubang.”

jangan terlalu marah, sayang.

merah gagahmu telah lama masih saja

terjajah. aku berdiri mendekorasi putih

mengumpulkan seberapa lama lagi tulang

tanpa sum-sum mulai tunai terbilang

janganlah terlalu berdiam, sayang

dihari sini kesabaran kita mulai ditanam.

 

[]

10 November 2010


Cinta Itu Pernah Mekar Disini

Oleh Dwi Klik Santosa

 

Apa itu sejatinya cinta?

Pernah ditanyakan soal ini kepada Sadewa.

“Cinta itu seberapa besar engkau melepaskan pembelaanmu

ketika menyaksikan makhluk sesama didera penderitaan.

Apa itu sejatinya cinta?

Ditanyakan lagi soal itu dengan mata yang basah.

“Cinta itu tak berharap upah atau imbalan terhadap apa pun jasa

yang pernah ada dan terjalin.”

“Oh, Raden. Apa itu sejatinya cinta?”

Menyendu, meluruh Rasawulan mengharap jawab.

“Cinta itu sejauh mana engkau mampu memahami

meyakini tanpa rasa jengah dan marah. Meski betapa sulit dan rumit hidup kau jalani.”

“Oh, apakah sejatinya …

O, Raden .. kenapa kau tinggal pergi … kenapa kau tinggal pergi …”

 

Apa sejatinya cinta?

Kerajaan Sela Merah banjir pelamar.

Laki-laki bergelar ksatria. Raja dan hartawan.

Datang dengan hasrat jantan dan semadu asa.

“Akan kujinakkan teka-teki sayembara itu. Akan kutaklukkan!”

Rasawulan, primadona Negeri Sela Merah.

Ialah puteri semata wayang Prabu Rasadewa yang agung kaloka.

Betapa ia jelita. Belia dan memesona.

“Ah, tapi kenapa engkau kini muram dan sakit, anakku.

Kenapa engkau harus sedemikian rupa menderita?”

Lihatlah, para pemuda tampan dan cakap itu.

Simaklah kebagusan para ksatria dan priyayi agung itu.

Betapa mereka gagah dan perkasa.

Betapa mereka kaya dan menggairahkan.

Coba kau lirik hadiah-hadiah yang gemerlap dan serba indah itu.

Coba kau teliti dan renungi kitab-kitab syair yang tebal dan halus bermutu itu.

Itulah persembahan. Sebagai tali kasih. Sebagai tanda cinta.

Takkah kau tersentuh.

Dan minat memilih salah satu

dari mereka yang agung dan masyur itu, puteriku?”

 

“Apa sejatinya cinta, ayah? Apa sejatinya cinta? “ …

 

“Heh … Rasawulan.

Seratus peti emas jamrud

tak cukup juga membeli cintamu.

Mestikah kurebut dengan darah.”

Prabu Dirgamayapati, raja Pasir Seta.

Gagah, gempal, masyur

membawa selaskar prajurit gahar dan ganas.

Marah ia. Menggelegak karena hati yang luka.

Pun pedih karena asmara yang patah.

Kalap ia. Mengamuk bersama sepasukan murka

menghancurkan apa saja. Negeri Sela Merah berduka.

Kian masygul Prabu Rasadewa. Makin sakit puteri Rasawulan.

 

“Heh … raja songar.

Jangan hendaknya engkau mengumbar jumawa.”

Datang Arjuna sesegera.

Panah bulan sabit tegang direntang.

Dalam regangan busur Bramastra yang gemilang.

sejenak saja melesat Pasopati keramat. Retas sudah

mengakhiri sora Raja Dirgamayapati.

Takluk segenap pasukan Pasir Seta.

Beriringan mereka lesu membawa jasad sang raja.

 

“Engkau yang redup ditilam rindu.

Pesonamu pudar dipendar gairah.

Amboi, seribu tahun. Mawar takkan mekar kedua kali.

Takkan mekar kedua kali.”

Datang sang lelananging jagad menebar jala.

 

“Sepuluh tahun akan kunanti.

Satu abad lamanya akan kutunggu.”

 

“Duhai Rasawulan, takkah kau melihat kepadaku.

Aku datang kini melindungi rakyatmu …”

 

“Cinta tak seserba halus dikata-kata.

Tak seserta datang sebesar minat dan hasrat.”

 

“Rasawulan …”

 

“Maafkan saya ….

Cinta itu seberapa besar engkau melepaskan pembelaanmu

ketika menyaksikan makhluk sesama didera penderitaan.

Cinta itu tak berharap upah atau imbalan terhadap apa pun jasa

yang pernah ada dan terjalin.

Cinta itu sejauh mana engkau mampu memahami

meyakini tanpa rasa jengah dan marah. Meski betapa sulit dan rumit hidup kau jalani.”

Selebar jala ditebar. Robek, sobek jerat itu

cabar dalam keteguhan mawar Sela Merah.

Makin lara ia. Merana dalam keyakinan.

Mulat Kresna sang raja binathara

Waskita ia sebagai jilmaan Wisnu

“Hei … Arjuna.

Panahmu sudah benar kaulepaskan pada tempatnya.

Tapi ketahuilah. Sejatinya cinta Rasawulan telah dijatuhkan

Saudaramu bungsu. Cepat ia kau bawa kemari.

Sebelum terlambat.

Sebelum semuanya menjadi sesal dan kesia-siaan.”

 

[]

Pondokaren

16 Oktober 2010

: 16.21

SADEWA. Ksatria bungsu Pandawa, begitu seringkali aku disebutkan. Sejak lahir sebagai orok, ditinggal mangkat ayah dan bundaku. Hidup pun kujalani apa adanya. Untuk apa keluh. Untuk apa resah. Rindu pada kedua beliau memang seringkali menjadikan tangisku. Tapi “engkaulah putra Pandu sang perkasa dan Madrim yang penyayang. Pantang bagimu hidup bersedu-sedu.” Begitu didikan Prabu Salya, ayah angkatku hingga kini membesarkanku.


Ternyata Aku Tetap Cinta

Oleh Ade Anita

Ini kisah ketika aku masih duduk di bangku SMA. Suatu hari, malam hari tepatnya, ada tamu datang ke rumah. Dia mahasiswa ayah di Universitas Muhammadiyah. Ayahku memang seorang dosen di UM, mengajar Pancasila dan Ketahanan Negara. Dia datang memberi ayah hadiah dan sebuah amplop. Isinya bukan surat cinta tapi uang. Ayah marah-marah ke mahasiswa itu tapi lalu menasehatinya baik-baik hingga mahasiswa itu pulang dengan air mata dipipinya. Begitu mahasiswa itu pulang, ayah datang kea de. “Nak, jangan pernah mengikuti jejak mahasiswa itu. Dia orang bodoh yang ingin membeli kelulusan sarjananya dengan uang. Ingatlah nak, semua yang didapat tidak dengan kejujuran, hanya akan melahirkan sebuah bencana baru. Mungkin dia sukses, kaya, tapi kesuksesan dan kekayaannya itu tidak akan membuat dia bahagia. “

(diikutip dari http://adeanita-adi.blogspot.com/2009/03/sekapur-sirih-di-hari-kedua-berkabung.html )

SEBENARNYA, selama Ramadhan kali ini aku ingin mengurangi frekuensi keaktifan di Fb. Masih aktif, sekedar untuk memeriksa apakah ada ajakan menulis, apakah ada pengumuman penting, ataukah ada sesuatu yang harus dikerjakan (manen kebon di game fb termasuk disini). Tapi, hari ini, rasanya jadi pingin nulis notes.

Bukan. Bukan karena ini hari kemerdekaan RI ke 65 tahun. Juga bukan karena lagi nggak ada kerjaan.Tapi karena sebal saja baca status teman-teman yang kebanyakan skeptis, pesimis dan sinis terhadap negeri tempat aku dilahirkan dan dibesarkan ini.

Dahulu, aku juga pernah menyimpan rasa sebal terhadap negeri ini. Sebal sekali.

Mungkin karena mataku yang sipit dan dibesarkan di masa Orde Baru yang rasialis. Aku merasa benci dengan negeri ini karena merasa diri ini sama sekali tidak merdeka. Tapi, ayah selalu menghiburku dan membesarkan hatiku dengan mengatakan bahwa bukan fisik yang dijadikan ukuran untuk berguna atau tidaknya seseorang di negeri ini.

Merdeka itu adalah, berani berkarya, berani berbuat, lalu berani bertanggung-jawab.

Berani berbeda, dan berani mempertahankan kebenaran dan berani mempersembahkan sesuatu yang indah dan bermanfaat.

Itulah merdeka yang benar di negeri ini.

Ya. Merdeka itu hanya istilah. Ada banyak orang yang merasa merdeka berbuat apa saja sesuka hati mereka. Tapi mereka kemudian lupa tentang pengawasan dari Tuhan mereka yang telah menganugerahi mereka kemerdekaan yang sesungguhnya. Ilustrasi cerita di atas adalah salah satunya. Jika ingin disebutkan satu persatu, pasti penuhlah seluruh kapasitas notes yang tersedia.

Sekedar kilas balik. Tahun 2004, saya mulai mengelola ribrik Muslimah dan Media di www.kafemuslimah.com. Saya mengamati semua perkembangan berita di media massa dan menulis sebuah ulasan dari sudut pandang seorang muslimah, yaitu saya (hehehe). Hasilnya, kian hari saya merasa kian prihatin terhadap negeri ini. Masya Allah, ternyata Indonesia jadi terlihat begitu menyeramkan. Penjarahan dimana-mana, kesusahan meraja lela, belum lagi ancaman dari negera tetangga, pokoknya mengerikan sekali. Begitu mengerikan hingga saya sering merasa stress dan ketakutan sendiri. Saya benar-benar takut, karena teringat peringatan dari Allah dalam Al Quran yang meminta kita untuk waspada agar tidak tertimpa sebuah bencana yang akan menimpa orang-orang akibat kezaliman yang terjadi disekitar kita.

Duh!

Kurang zalim apa negeri ini?

Bencana apa yang kira-kira bisa menimpa?

Bisa apa saja.

Satu demi satu bencana terjadi. Tsunami, gempa bumi, tanah longsor, ledakan gas, penjarahan massal, kejahatan cyber, perampokan, penggundulan hutan, banjir, kejahatan seksual. Buanyak sekali.

Akhirnya saya menyerah. Enggan lagi menulis ulasan. Suami saya memberi semangat (sebelumnya saya uring-uringan minta suami pindah ke negara lain.. hehehehe…).

“Ayo, kita perbaiki saja negeri ini sedikit demi sedikit.”

“Tapi ada terlalu banyak yang harus dikerjakan untuk memberi rasa nyaman.”

“Itu pentingnya kita diberi anugerah kemerdekaan. Kita merdeka untuk melakukannya kapan saja dan dimana pun. Insya Allah pertolongan Allah akan datang pada kita.”

Lalu mulailah kerja keras itu. Tidak banyak membawa hasil yang signifikan memang. Kejahatan tetap terjadi, kebrutalan tetap ada, penggundulan hutan semakin menjadi-jadi, banjir tetap terjadi dimana-mana, dsb, dst, dll, etc. Tapi, setidaknya kami kini lebih bahagia mencintai negeri ini. Terbebas dari belenggu rasa curiga akibat pembentukan opini di media massa yang selalu provokatif, pesimis, sinis. Bebas juga dari rasa ingin diberi lebih. Karena merdeka itu memang saudara kembar dengan berbuat ikhlas. Tidak mengharapkan imbalan apapun selain dari Ridha Allah.

Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan saya pun ternyata masih mencintai negeri ini. Aku cinta Indonesiaku.

Hingga suatu pagi, ketika ada dua orang renta berpakaian seragam veteran menawarkan selembar kalender. Aku sempat menaruh rasa curiga. “Ini pasti salah satu penipu yang ingin mengemis dengan cara berdagang benda-benda yang tidak berguna.” Aku hampir saja menolak mereka dengan mengatakan, “lain kali saja pak.”

Tapi, demi melihat bendera kecil yang lusuh yang dijahitkan di atas saku kemeja seragam coklat  susu tanda korps veteran mereka, aku terenyuh.

Merah putih itu. Entah apa yang terjadi ketika mereka terpaksa harus berjuang agar Merah Putih itu berkibar dahulu.

Bisa jadi karena harus berpeluh keringat dan menahan luka serta terciprat darah, mereka tidak lagi berpikir untuk sekolah. Pun tidak sempat berpikir akan seperti apa kehidupan mereka setelah negeri ini merdeka kelak.

Ternyata… tiba-tiba rasa haru itu hadir tanpa diundang. Dan aku merasa, amat cinta pada para pahlawan yang telah bertaruh nyawa mempertahankan negeri ini.

Dua orang bapak yang renta itu dahulu adalah salah satu pahlawan. Maka segera saja aku singkirkan rasa curiga lalu meraih dua lembar kalender yang ada di tangan gemetarnya.

“Mari pak, saya beli kalendernya…. terima kasih ya pak, untuk perjuangannya tempo dulu.” Dua bulir air mata menggelinding dari kedua bola mata kedua bapak renta itu.

Ya. Mari singkirkan sejenak rasa pesimis dan sinis. Mungkin ini saatnya untuk bisa mengikuti jejak para pahlawan yang telah memberi kita kehidupan yang lebih baik ketimbang mereka dahulu.

Apalagi ini bulan Ramadhan, dimana semua perbuatan baik akan diberi imbalan pahala berlipat ganda.

DIRGAHAYU INDONESIAKU.

[]


Pagi, Siang, Sore, Malamku Menuju

Oleh Dwi Klik Santosa

Sebungah pagi. Nyanyi burung-burung bagai menjilma inspirasi.

“Mata fajar itu rona-rona. Hangatnya, perkasanya menuntunku hendak mencari.”

Segerah siang. Debu-debu memanja-manja mengepuli sepori-pori makhluk.

“Sepanjang-panjangnya aku bertanya dan menggali.”

Sejumput asa diderak bersama ritmenya.

Semburat merah senjakala. Bagaskara lingsir ke peraduan.

Ilalang-ilalang bergoyang, kidung serunai menandai.

“Pulang, pulanglah kami ke pelukan. Panasmu meninggali catatan.”

Pada malam. Sunyi senyap. Makhluk khusyuk memasrahkan jiwa.

“Kurehatkan tubuh dan isiku, semoga kau jagai aku dari prahara.”

Pondokaren

21 Agustus 2010

: 06.25

[]

foto : getty image

sssshhhh ….. ngookkkk … ngiiiiiikkk ….. bebunyian pun aneka. tangis hanya bagi mereka yang hidupnya ramai merasa ditindas sepi. pula bagi mereka yang hidupnya sepi merasa ditindas ramai.


Balada Laki-Laki Jantan

Oleh Dwi Klik Santosa

Nafasku laki-laki jantan. Perkasa karena serba liat urat dan ototku. Gahar dan keras suaraku, takkah niscaya ini kharisma manusia agung. Hohoho… Inikah takdirku ksatria. Megah disebabkan terlahir dari darah seorang raja. Pedang dan perang inilah serba mainanku. Siapa meragukan aku. Sedangkan kata-kataku… hohoho… Serasa-rasa gagah dan garda depan. Jangan heran. Jangan kaget… itulah nuansa serba indah karena terjalin dari caraku menaklukkan. Siapa itu lawan. Apa itu aral bagi mau dan hasratku. Hai, hai, hai.. Siapa kamu? Siapa kalian?

Akulah jejaka brilian. Kupahamkan dengan baik; adaku karena mutuku. Siapa tak kenal aku. Siapa tak gandrung padaku… Hohoho… Dan begitulah, seribu satu perempuan kukenali dengan baik. Dari keringat, geliat dan nafasnya. Dari cara jalan, macak dan nggombalnya. Senampak-nampak mahal, sebau-bau wangi, tapi… ah, palsu… palsu belaka. Putih, merah dan hitamnya adalah sapuan cakrawala yang luntur dari aslinya. Aduuuhhhh biyuuungg, Yundaku… Yunda Sembadra… Akulah laki-laki angin. Melayang-layang, mengawang-awang asaku terbang kini tanpa tali ikatan. Kemana terbangku, kemana rebahku. Aku mabuk, yundaku… Terjatuh kini dan kapan lagi bangunku.

[]

Pondokaren

22 Agustus 2010

: 05.2o

[]

Burisrawa namaku. Dilahirkan sebagai pangeran tampan, benih kemasyuran dari Prabu Salya ayahku dan permaisuri Setyawati ibuku. Ketiga kakakku adalah perempuan cantik-cantik. Dan kesemuanya diperisteri oleh tiga laki-laki bergelar raja besar. Takkah kalian percaya. Takkah kalian maklum apa arti bengalku… hohoho…



Tentang Sajak Cinta

Oleh Adhy Rical

: Nanang Suryadi

“sebuah tembikar dari tanah liat yang likat.
ditoreh kata. tentang asal mula kata: cinta…”

ada beras merah dari moyangku
yang diendapkan dalam tanah
seusia perawan menikah nanti
: minuman tembikar* untuk sanggama pertama

ada sajak cinta tentangku
yang kau tulis dari ranjang pengantin
seusia muasal kekal istrimu
: tembikar likat yang melilin

doa-doa purba semalam
tentang asal mula manusia: pertemuan…

Kendari, 2010

ar
——
*minuman tembikar: suku Tolaki menyebutnya pongasi tinano, minuman khas yang terbuat dari beras merah yang diendapkan dalam tanah. Minuman yang disiapkan sejak perempuan lahir dan akan disuguhkan jika ia menikah nanti. Beberapa catatan menyebutkan, minuman itu pengaruh dari Yunan Selatan.


%d blogger menyukai ini: