Tag Archives: menunggu

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Lelaki Rindu Menunggu Di Pohon Randu Dengan Tersedu

Oleh Syaiful Alim

Lelaki itu menunggu di pohon randu dengan tersedu rindu terasa seperti lindu mengguncang seisi bumi semua manusia berlarian kencang menahan ketakutan yang mencincang kebun kacang sebidang ladang gersang diserang kemarau dan hama meranjau tanpa ada pegawai dinas pertanian meninjau lebih senang memegang uang panas sementara rakyat sekarat dikerat harga sembako toko-toko cuma cari untung segunung menenung siapa yang buntung bunting luka membanting tulang tualang ke negeri seberang mengais gerimis tangis dan selembar dinar dolar Amerika yang jadi singa dunia menerkam sekejam-kejamnya darah bersimbah di mana-mana busuk menusuk khusyuk sembahyang yang sering terguling oleh paha menyala di kamar dan mawar di luar pagar lebih segar membuat bugar yang gegar cagar rindu runtuh oleh cinta tak utuh sentuh lahir bukan batin yang cinta getir dan anyir rupa-rupa derit derita yang menggurita menjerit tanpa kata kita merakit bambu menghanyutkan kepedihan dan kesedihan di sungai laut tempat tepat membagi penat berlipat melompat secepat-cepatnya dari duri mawar dalam diri iri sinar matahari hari-hari menari riang bersama gelombang yang menghidangkan bimbang dan kembang tembang timbang kubang air mata merindumu seperti serdadu sewindu tak ketemu anak istri menanti meniti sepi demi sepi disesapi mimpi yang ranum bagai pipi sekuntum perawan desa mencuci pakaian di pinggir kali telanjang dada ada beberapa lelaki mengintip dari celah-celah rerimbun daun menimbun hasrat birahi kelahi iman dan aman berteman setaman gambar cabul majalah menyembul di lorong-lorong kota tak tertata wali kota suka disuap pengusaha membangun pusat belanja dan lapangan golf yang tak terjangkau rakyat kecil mencicil kerikil menegakkan gubuk kecil terkucil dari riuh dari kota penuh peluh luluh menggenangi jalan berlubang-lubang penguasa dan pengusaha korupsi pasir batu aspal dijual jadi uang ditabung di lambung dan bank-bank kerap bangkrut kredit macet tergencet aset seret menyeret-nyeret lecet luka tanpa kain pembalut kian kalut disambut kabut sebut siapa tersangka merangkai rangka-rangka angka berserakan di meja yang sulit dieja walau lampu mampu menerangi ruang lapang pajang sekretaris-sekretaris laris manis menangis minta naik jabatan dengan menawarkan tubuh mawar wangi angin mengabarkan selingkuh keluarga runtuh mengaduh seduh sesal asal kebal muka murka amuk massa masa tiba iba bakar api sudah mendidih di kepala pedih perih berabad lama kebun sawah ladang diserang gersang kerontang menantang serantang gusar tangan kasar burung nasar mengincar bangkai-bangkai lunglai lalai mengbingkai remah retak tanpa kemah tak tik tuk cuaca gemerutuk mengutuk kemarau kemarahan panjang membentang dari barat sampai timur menjemur luka-luka menjamur rindu pulang padang ilalang bergoyang bayang-bayang wajah yang dipalang kata terlarang mengerang di punggung karang mengapung dikepung capung warna-warni bagai hasil lahan petani meski tak pernah rasakan gurih keringat yang ngucur dari sekujur tubuh mengukur kurang lebih perih tak berlabuh subuh rubuh aduh seduh air mata…

Khartaoum, Sudan, 2010.

[]


%d blogger menyukai ini: