Tag Archives: aku

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Keinginan Sapardi Dilafaz Cinta Gibran

(Mengakhiri silang sengkarut debat dan klaim khalayak pada jejak sebuah puisi)

Oleh Ilham Q. Moehiddin

SILANG pendapat perihal dua entitas puisi yang masing masing berjudul “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono dan “Lafaz Cinta” karya Kahlil Gibran yang sangat identik dalam syair-syairnya, sepertinya akan segera berakhir.

Bagi saya, awalnya persilangan pendapat yang ramai terjadi di berbagai situs dan blogger sastra Indonesia, soal kedua puisi ini belum menyita perhatian saya. Sampai suatu waktu Shinta Miranda, seorang sastrais perempuan, membuat umpan pada komentarnya di tulisan saya Ada Apa Antara Dauglas Mulloch dan Taufiq Ismail.

Pada Shinta Miranda, saya kemudian menyanggupi untuk membuat telisik literasi atas dua puisi berjudul berbeda namun memiliki kesamaan larik itu.

Persilangan pendapat yang bermula pada adanya kesamaan nash puisi ini membuat saya tertarik. Entah siapa yang mulai membenturkan dua nama penyair itu pada satu bidang puisi? Tetapi saya pun sependapat jika sebuah karya mesti ditahbiskan pada pengkaryanya, bukan pada pengutipnya, atau pada pengklaiman pihak lain.

Agar lebih jelas, yang mana nash puisi yang “disengketakan” itu, berikut saya kutip puisi tersebut;

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/ kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada//

Syair ini tentu saja indah, sehingga sering bahkan terkutip di banyak undangan pernikahan, dan kartu ucapan pada kado antar kekasih. Ini seketika menarik bagi saya. Sebab dibeberapa situs atau blog pecinta sastra, ketika literasi ini ditampilkan dengan menyebut salah satu dari dua penyair itu, seketika lahir debat. Konyol, sebab kadang debat tadi berganti keras bahkan sering lancung menjadi sarkas. Tak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak mengemukakan pendapat dan sangkaan yang sebenarnya tak berujung-pangkal.

Penelusuran Literasi untuk Membuktikan Akurasi Klaim

Untuk membuktikan siapa sebenarnya pemilik sah karya puisi itu, saya pun mencoba melakukan penisikan literasi pada kedua penyair. Ketersediaan bahan penisikan lumayan membantu.

Karena saya percaya pada premis bahwa sejak awal melihat dan membaca puisi itu adalah nama Sapardi Djoko Damono yang tertera dan belum pernah melihatnya diterakan atas nama Kahlil Gibran, dan menangkap kemungkinan lain adalahnya duplikasi, maka saya berangkat dengan sebuah hipotesa subjektif untuk menisik karya-karya Gibran.

Alasan saya pada hipotesa subjektif ini adalah; 1) karya Gibran kebanyakan berbahasa asing, dan hanya sedikit yang telah ditranslasi ke bahasa Indonesia, sehingga merujuk dokumen aslinya agak sukar; 2) total karya Gibran beserta varian dan derifasinya berjumlah 522 karya, termasuk karya-karya Gibran dalam bahasa Arab, Inggris, terjemahan dari bahasa Arab, karya seni, artikel pendek, puisi, kumpulan surat, biografinya, dan kritisasi, tesis, essai, artikel dan review atas karyanya, rekaman suara, pochette, laporan pameran, dan sejumlah karyanya dalam bahasa Italia dan Perancis; 3) jejak kepenyairan Sapardi mudah ditelusuri.

Ada dua sumber dokumen yang saya gunakan dalam penisikan; hardcopy berliterasi Indonesia (cetak/buku) dan softcopy berliterasi asing (digital/literasi internet). Untuk kepentingan menguber literasi Kahlil Gibran dalam bahasa asing, saya memutuskan menggunakan tiga mesin mencari (search engine) yang terbukti akurat, yakni Google.com, Yahoo.com, dan Bing.com. Sebuah mesin pencari Ask.com tidak saya gunakan sebab memiliki kelemahan (sukar menemukan dokumen dengan kata kunci panjang secara akurat).

Metodenya sederhana saja, namun butuh kesabaran ekstra untuk menisik sekian banyak literatur rujukan. Jika pada karya Gibran, saya temukan memang ada syair serupa yang merujuk namanya, maka saya terpaksa harus kembali “menguber” karya-karya Sapardi. Saya mendahulukan Gibran sebab ini bisa membantu mempercepat uji tisik literasi yang saya lakukan.

Ada enam buku Gibran Kahlil Gibran (berbahasa Indonesia, terbitan Pustaka Jaya) yang menjadi acuan saya sebagai bahan uji, yakni; Lagu Gelombang; Pasir dan Buih; Potret Diri; Sang Pralambang; Sayap-Sayap Patah; dan Taman Sang Nabi.

Sebagai pembanding saya sertakan pula beberapa karya Gibran dalam bahasa Inggris. Lima e-book novel Gibran Kahlil Gibran berbahasa Inggris; The Broken Wings (1959); The Earth Gods (1931); The Perfect World (1918); A Tear and a Smile (1914); dan Nymphs of the Valley (1908).

Kumpulan surat-surat; 1) Beloved Prophet: The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell and her Private Journal, [New York, Alfred A. Knopf, 1972 (in notes B.P.) – Hilu, V. (ed. and arr.)]; 2) Blue Flame: The Love Letters of Kahlil Gibran and May Ziadah, [Harlow, Longman, 1983 – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 3) Gibran: Love Letters, [Oxford, Oneworld, 1995 (rev. ed. of Blue Flame) – Bushrui, S. B. and S. H. al-Kuzbari (eds. and trans.)]; 4) Chapel Hill papers (Minis family papers), in the Southern Historical Collection, University of North Carolina at Chapel Hill, item #2725, [1948, includes correspondence of Mary Elizabeth (Haskell) Minis from and about Kahlil Gibran]; 5) I Care about your Happiness: Quotations from the Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [selected by S. P. Schutz and N. Hoffman, Boulder, Blue Mountain Arts, 1976]; 6) The Love Letters of Kahlil Gibran and Mary Haskell, [Houston, Annie Salem Otto, 1964 – Otto, A. S. (ed. and arr.)]; 7) Unpublished Gibran Letters to Ameen Rihani, [trans. S. B. Bushrui, Beirut, Rihani House for the World Lebanese Cultural Union, 1972].

Defeat (poem); Freedom and Slavery (poem); Love (poem); O Mother Mine (moulaya; syrian folk songs); Out of My Deeper Heart (short articles); Reflections on Love (short articles); Speech and Silence (short articles); Three Maiden Lovers (moulaya; syrian folk songs); Youth and Age (short articles); The Wisdom of Gibran: Aphorisms and Maxims, ed. and trans. J. Sheban, New York, Philosophical Library, 1966.

Saya menyertakan pula kumpulan surat Gibran, sejumlah puisi penting, artikel pendek, teks moulaya, dan kumpulan kata bijak Gibran, sebab saya menaruh sangka bahwa bisa saja enam larik puisi itu diselipkan Gibran dalam surat-suratnya, atau bagian dari artikel, puisi, moulaya, atau bahkan dalam salah satu kutipan bijak Gibran.

Memulai Penisikan

Setelah menyiapkan tiga mesin pencari berbeda, saya pun memasukkan kata kunci; kahlil gibran’s book containing these words i want to love you with a simple like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes i want to love you with a simple like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Hasilnya, hanya satu rujukan yang memuat puisi itu sebagai milik Gibran, yakni fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love. Sayangnya blog ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair dalam bahasa Inggris yang gramarnya acak-kadut.

Kata kunci saya sempitkan, menjadi; all+kahlil gibran’s books have containing words I want to love you with a simple, like the words that were not spoken to the fire that makes wood ashes, I want to love you with a simple, like cues that were not delivered to the rain clouds that make it dead.

Setelah disaring, rujukan yang persis benar mengacu pada syair bermilik Gibran ada tiga, yakni; fatoerblogs_wordpress_aphorisms-love; jovinohidayat_blogspot_jika-cinta-berbicara; jovinohidayat_ blogspot_archive. Sayangnya lagi, ketiga rujukan ini adalah blog milik orang Indonesia yang memuat translasi syair seadanya. Malah ada kemungkinan tiga puisi pada tiga blog ini berasal dari satu sumber penerjemahan.

Lalu kata kuncinya saya sempitkan lagi, menjadi; all + kahlil gibran’s + books + have containing + words + fire + wood + ashes + cues + rain + clouds

Sama seperti kata kunci format kedua, saya kembali menemukan tiga rujukan blog yang sama.

Semua rujukan mesin pencari terhadap Gibran dan Sapardi hasilnya identik, sehingga jelas sekali kongklusi bahwa syair-syair itu disadur sekenanya dari satu blog ke blog lainnya (tanpa memperdulikan fakta pengkarya).

Sama halnya untuk literasi penyair Gibran dalam bahasa Inggris, perlakuan yang sama juga saya berikan untuk literasi penyair Gibran dan Sapardi dalam penelusuran berbahasa Indonesia.

Kata kunci mengalami tiga kali formasi penajaman, untuk menghasilkan rujukan yang seakurat mungkin.

  1. Kata kunci pertama; kahlil gibran+sapardi buku yang mengandung kata Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  2. Kata kunci kedua, yang disempitkan; buku+Kahlil Gibran+Sapardi memiliki kata-kata yang mengandung aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata-kata yang tidak berbicara dengan api yang membuat abu kayu, aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti isyarat yang tidak disampaikan kepada awan hujan yang membuatnya mati.
  3. Kata kunci ketiga, yang kian disempitkan dengan separasi kata inti pembentuk puisi; semua + buku + kahlil gibran + sapardi + api + kayu + abu + isyarat + hujan + awan.

Yang menarik, ketika saya menggunakan kata kunci berbahasa Indonesia dan sekaligus mempadankan dua nama (kahlil gibran+sapardi) untuk syair yang sama, diperoleh rujukan dengan pembagian; 6.412 hasil untuk Gibran, dan 5.159 hasil untuk Sapardi. Uniknya, dari 11.571 rujukan puisi ini yang ditemukan semuanya sama persis pada larik, yang membedakannya hanya judul dan tera pengkaryanya saja.

Rekomendasi Pencabutan

Semua rujukan ini dipisahkan sesuai karakter literasi yang paling kuat rujukannya, dengan ditentukan oleh kelengkapan kata dan kalimat yang disadur oleh para pemilik blog. Dari rujukan yang tersisa jika berbentuk file *.pdf maka akan didownload terlebih dulu lalu disaring dengan menggunakan fasilitas (tools) software pemilah kata.

Karena semua karya awal Gibran ditranslasi dalam bahasa Inggris maka saya melacak puisi tersebut dengan menggunakan ektraksi kata inti menggunakan software pemilah kata.

Hasilnya, sungguh membuat saya lega. Ternyata yang diperdebatkan selama ini tidak lebih sekadar bualan belaka. Semata-mata hanya memetik karya tanpa mengecek referensi awal. Parahnya, karya itu sudah tersebar kemana-mana, dan dipolemikkan dalam silang sengkarut yang tak berujung.

Saya berani mengatakan, bahwa dengan ini, perdebatan perihal syair tersebut telah berakhir. Bahwa syair indah itu adalah milik Sapardi Djoko Damono dengan judul asli “Aku Ingin”, dan bukan syair milik Gibran yang diberi judul “Lafaz Cinta”. Saya merekomendasikan agar para pemilik blog segera mencabut syair jiplakan berjudul “Lafaz Cinta” yang didaulatkan atas nama Gibran, dan memasang nama Sapardi Djoko Damono, sebagai pemilik asli syair itu.

Kesimpulan ini dapat saya buktikan secara empiris. Perhatikan penggunaan kata kunci (fire, wood, ashes, cues, rain, dan clouds) pada beberapa karya utama Gibran dari enam sample buku yang digunakan, dan lima e-book, serta beberapa literasi Gibran berformat *.pdf.

Dari enam kata kunci utama pembentuk syair, hanya dua kata yang sering muncul dalam karya-karya Gibran, yakni Ashes (abu) dan Fire (api). Dan, tidak ada karya Gibran yang mempertemukan enam kata di atas dalam larik-larik pada dua bait pendek, atau pada sebuah puisi utuh.

Karya-karya Gibran yang mengandung kata Ashes :

“life is as cold as ice and as grey as ashes.”

[ Kahlil Gibran to Yusuf Huwayik, in A Self-Portrait (1972), 26. ]

“like ashes which hide the embers but do not extinguish them.”

[ Jessie Fremont Beale to Fred Holland Day, Nov. 25, 1896. Quoted in J. and K. Gibran, Life and World, 37–38. ]

“Night is over, and we children of night must die when dawn comes leaping upon the hills; and out of our ashes a mightier love shall rise. And it shall laugh in the sun and it shall be deathless.”

[Beloved Prophet, 323]

Sedangkan, dalam karya Gibran (dan yang merujuk Gibran dan karyanya) yang mengandung kata Fire :

One of his greatest delights was to cast images in lead using old sardine tins. He used to put the lead on the fire to melt and then fill the two halves of the can with fine moist sand. Then pressing the image in between the two, he would scrape away the sand that squeezed out, put the two halves together again and pour the lead into the mold until the image had cooled.

[Beloved Prophet, 429]

“Dust of the Ages and the Eternal Fire”

[in Nymphs of the Valley, 30. Gibran also wrote “The Poet from Baalbek,” a story with the theme of reincarnation (Thoughts and Meditations, 1–8). Ameen Rihani in his magisterial work The Book of Khalid, which was to later influence Gibran’s own writings, refers to Baalbek as being the place where Shakib spent much of his childhood.]

His rebellion, no doubt in this instance fired by his own bitter rejection by Hala’s powerful family, is evident in “The Broken Wings”.

[Man and Poet, Khalil Gibran.]

After the fire, Gibran began painting and writing with renewed resolution. Perhaps in recognition of his indebtedness to Fred Holland Day he wrote “Letters of Fire”, beginning his soliloquy with the lines inscribed on Keats’ grave in Rome: “Here lies one whose name was writ in water.”

[Man and Poet, Khalil Gibran]

“Write upon my gravestone: Here lies the remains of him who wrote his name on Heaven’s face in letters of fire.”

[A Tear and a Smile]

Three stories written during this period, “Martha,” “Yuhanna the Mad,” and the “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” were later published together under the title “Ara’is al-Muruj”.

[Nymphs of the Valley]

The other story in the trilogy, “Dust of the Ages and the Eternal Fire,” deals with the themes of reincarnation and preordained love. The hero appears first as Nathan, the son of a Phoenician priest in Baalbek, and then in his new incarnation as Ali al-Husaini, a Bedouin nomad.

[Nymphs of the Valley, The Husainis were an Arab tribe dwelling in tents around Baalbek]

In January 1912, after much delay, Gibran’s Arabic novella al-’Ajnihah al-Mutakassirah (The Broken Wings) was published. He sent Mary a copy in which he had translated the dedication: TO THE ONE who stares at the sun with glazed eyes and grasps the fire with untrembling fingers and hears the spiritual time of Eternity behind the clamorous shrieking of the blind. To M.E.H. I dedicate this book. – Gibran.

[ Kahlil Gibran, dedication in The Broken Wings, 1959 ]

It is true the world will be apt enough to censure thee for a madman in walking contrary to it: And thou art not to be surprised if the children thereof laugh at thee, calling thee silly fool. For the way to the love of God is folly to the world, but is wisdom to the children of God. Hence, whenever the world perceiveth this holy fire of love in God’s children, it concludeth immediately that they are turned fools, and are besides themselves. But to the children of God, that which is despised of the world is the greatest treasure.

[ The Perfect World was later published in 1918 in The Madman: His Parables and Poems (1918); quoted in Heinemann edition (1971), 71.]

The name of Arrabitah spread wide and far becoming tantamount to renaissance, to rejuvenation in the minds of the younger generations, and to iconoclasm and hot-headed rebellion in the eyes of the older and more conservative ones. The lines of battle were clearly drawn: the issue was never in doubt. So quickly was the tide turned in favor of Arrabitah that those who hailed it were no less puzzled than those who opposed it…no one knows the “secret” save that hidden power which brought the members of Arrabitah together at a certain spot, in a certain time, and for a certain purpose entirely irrespective of their conscious planning, endowing each with a flame that may be more, or less brilliant than that of another, but all coming from the selfsame fireplace.

[Naimy, A Biography, 157, 158.]

My life has a great deal of seeing people in it, just individuals, one by one, and groups as well. And I want it to be so more and more. I want to live reality. Better than to write ever so truly about fire, is to be one little live coal. I want some day simply to live what I would say, and talk to people. I want to be a teacher. Because I have been so lonely, I want to talk to those who are lonely.

[Beloved Prophet, 356]

Who shall inscribe the name of the present generation in the scrolls of Time, who they are and where they are? I do not find them among the many “nightingales of the Nile and the warblers of Syria and Lebanon,” but among the few whose lips and hearts have been touched by a new fire. Of those some are still within the womb of Creative Silence; some are breathing the air we breathe, and treading the ground we tread. Of the latter –, nay, leading the latter – is the poet of Night and Solitude, the poet of Loneliness and Melancholy, the poet of Longing and Spiritual Awakening, the poet of the sea and the Tempest – Gibran Kahlil Gibran.

[Naimy, A Biography, 159–60. First published in Beirut in 1934 and translated into English by Mikhail Naimy in 1950, and published by the Philosophical Library.]

Again in Mother Earth the artist portrays men and women, rooted to the earth and at the same time endowed with the transformational and unifying power of fire, expressed in The Earth Gods thus:

Behold, man and woman/ Flame to flame/ In white ecstasy// Roots that suck at the breast of purple earth/ Flame flowers at the breasts of the sky// And we are the purple breast/ And we are the enduring sky// Our soul, even the soul of life, your soul and mine/ Dwells this night in a throat enflamed/ And garments the body of a girl with beating waves// Your sceptre cannot sway this destiny/ Your weariness is but ambition// This and all is wiped away// In the passion of a man and a maid//

[The Earth Gods, 31.]

Dari rujukan ini dapat saya simpulkan, bahwa dalam karya-karya Gibran tidak ada dua bait yang menggabungkan enam kata kunci yang terdapat pada puisi yang dipolemikkan, sehingga dapat dipastikan bahwa TIDAK PERNAH ADA puisi berjudul Lafaz Cinta karya Khalil Gibran. Uji literasi membuktikan bahwa secara eksistensial, syair pada puisi di bawah ini adalah sah milik Sapardi Djoko Damono:

Aku Ingin

Oleh Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

[]

Saya puas dengan hasilnya. Tentu saja, saya pribadi puas atas penelusuran dua hari ini. Hanya saja, masih ada yang sedikit mengganjal hati saya. Mengapa selama ini penyair Sapardi DD, tidak berusaha meralat sangkaan keliru orang-orang atas syairnya tersebut. Apakah beliau sengaja membiarkannya demikian, agar polemik menjadi ramai, atau beliau tak mau ikut-ikutan “capek” pada sesuatu yang tiba-tiba menjadi silang sengkarut.

Entahlah…yang pasti selamat buat beliau atas syair indahnya itu. []

—————————

Catatan penulis:

*] Akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran berkata kunci bahasa Inggris; Google [124.000], Yahoo [0], Bing [12.900]

**] Sedangkan akumulasi rata-rata data yang berhasil diperoleh dari ketiga mesin pencari untuk literasi Gibran+Sapardi berkata kunci bahasa Indonesia; Gibran : Google [955], Yahoo [17], Bing [5.440], dan Sapardi : Google [635], Yahoo [54], Bing [4.470]

***] Software dan fasilitas pemilah kata+kalimat pada file PDF dan e-book: Adobe Reader 9.2, dan PDF Word+Phrase Extractor 3.0 Beta 3

Sapardi Djoko Damono. Foto: Arif Relano Oba

Gibran Kahlil Gibran. Sumber foto: Flickr


Aku Lelah

Oleh Aiman Bagea

Cukup !!!

Aku lelah !

Terlalu banyak yang mengalir dari
bibirmu.

Itu serapah.

Itu amarah.

Itu tajam.

Aku lelah !

Kupingku kokoh.

Hatiku luruh.

Seiring kata katamu.

Yang meluncur tanpa spasi.

Aku lelah !

Dan denyut ini.

Aku hentikan.

Titik untuk katamu.

Titik.

Tanpa koma.

Aku lelah !

[]

 

Aiman Bagea

Aiman Bagea kelahiran Rahampuu, Bombana, Indonesia. 1 September 1992.

“Tertawalah, karena dunia akan ikut tertawa; janganlah bersedih karena engkau akan bersedih sendiri.”

Kontak : http://www.facebook.com/Aimanbagea


Aku Masih Ingin Lebih Lama Dipangkuanmu, Ibu

Oleh Afrilia Utami

 

 

Hari ini seorang anak bertemu

Dengan riwayat sebuah kerinduan

Pada jendela pertemuan

 

Akan hangat tembang suara lantunnya

Akan cantik faras pesona raga jiwanya

Akan pertama aku. Seorang anak,

mengenal sesosok pahlawan abadi.

Yang tak jemu memperkenalkan

Apa itu nafas..

Apa itu hidup..

Apa itu cinta..

Dan, apa itu Tuhan.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di tiapnya

Abu usiaku.

 

 

Hari ini, aku. Anakmu, Ibu… yang dulunya singgahi rahimmu selama Tujuh bulan lamanya, tanpa tahu seberapa banyak susahmu membesarkan semua lelah dan deritamu yang kausebut itu bahagia, itu anugrah terindah yang pernah kaumiliki di dunia ini. Semakin harinya, senyummu semakin mekar  umpama embun kasturi ucap ayah, setiap aku bergerak dalam kandunganmu, tiapnya kaki nakalku menendang-nendang perutmu.  Kemudian, mendengar kabar akan kehadiranku sebentar lagi, kaubersemangat memilah baju ditoko-toko, keranjang tempat nanti lumpuh mungilku tertidur manja didalamnya, beragam mainan dengan warna cantik, dan tak lelah dua matamu kaupaksa membaca buku-buku tebal tentang bagaimana cara terbaik membesarkanku, aku. Anakmu. Meski aku terlahir prematur.

 

“Sayang, kelak kau akan tahu, seberapa besar cinta Ibu padamu.. meski tak setiap waktu ibu menjagamu.“

 

Ibu, bukan kelak dan nanti kuakan tahu. Tetapi sebelum celotehku pertama kali terlontar, Cintamu sudah jelas memupuk rindang diputihku.

 

Masih ingatkah Ibu? kala itu, Hujan cukup besar. Aku masih takut dengan deras suara rintik airnya, dilanjutkan dengan wajah-wajah cahaya yang bergemuruh. Tapi kau ibu, kau terus saja menimangku, mengelus ubun-ubunku dengan lembut, penuh dengan tulusnya kasihmu. Senyummu saat itu kuperhatikan, kusimak dengan dalam, semakin dalam semakin tenang jiwa ini. Mungkin semua ketenangan ini terlahir karenamu, ibu.. Meski masa kanakku tak selalu setia ada bersamamu.

 

“Kau tak perlu menjadi siapa-siapa, karena kau satu dirimu sendiri, Anakku. Janganlah ingin menjadi, tapi jadilah apa yang kauinginkan.”

 

Apa yang sebenarnya kuinginkan ibu? Apa aku tak mempunyai cita-cita pada saat kautanya apa yang kucita-citakan. Sebaris iklan mini hanya bertuliskan “aku ingin membahagiakan, ibuku.”. apa yang kau inginkan dariku ibu? Aku terlahir di sini untukmu.. untuk setia merajut tiap senyummu menjadi busana yang akan kaukenakan bersamaku. Lalu kuberi nama busana itui “bahagia”.

 

Namun pada nyatanya, kini aku jauh darimu, ibu. Aku jauh dari peluk teduhnya kata lisanmu, dari hangatnya senyummu. Dari tiap kilau yang kutemukan di dua matamu, yang tergurai bebas di hitam rambutmu. Dan disegaris manisnya kaumembangunkanku dengan apa itu cinta yang tak kenal dengan dendam dan nafsu jiwa. Maafku ibu, kini jarang sekali waktu mempertemukan kita. Mungkin lama airmatamu menitik meruah di laut yang urung hadirkan ombak.

 

Sekarang aku di sini ibu. Anakmu, yang dulu buat bekas jahitan diperutmu. Pada tiap malamnya, mengetuk-ngetuk mimpi malammu. Di paginya, yang hadirkan kejengkelan berepisode panjang tak kunjung usai.

 

Ya, dekaplah lagi aku ibu. Meski aku bukan anakmu yang pada saat itu berumur 5th, atau pada tiap keluh kesal di usia 17th, yang semakin bertanya perihal di kediaman kepala empatmu. Anakmu ini, sudah tua, ibu. Sudah siap untuk kaumandikan untuk terakhir kalinya. Izinkanlah ibu, untuk aku mencium syurga kakimu,kembali. Aku tidak malu menangis dihadapmu, tapi aku takkan biarkan melihatmu semakin melinangkan mataair di kudus jiwa ibumu.

 

Kaulah, yang memperkenalkan aku.

Ibu.

Pada,

Muasal nafas cinta tumbuh di setiapnya

Abu usiaku.

 

Aku masih ingin lebih lama dipangkuanmu, Ibu ..

 

“Happy birthday, Mom ..and today I’m here again find love.”

 

 

[ Love you, Mom… ]

 


Aku Tidak Takut, Aku Tidak Takut

Oleh Dwi Klik Santosa

 

jika kau tanyakan apa itu kesucian

aku hanya punya tekad saja

untuk ingin selalu bisa mengelap debu-debu

memisahkan keringat bau itu dari badanku

aku tidak mengerti

kenapa airmata ini tak sudah-sudah

apakah sunyi dan sepi sedemikian menakutkan

aku tahu, suci bagimu adalah yang

fasih mengucap kata-kata indah

sedang lihatlah kini, lidahku kelu

aksenku cedal, bahkan sekedar menyebut

namaku saja, begini kaku

aku tidak takut kau anggap rendah

bahkan kau tiadakan pula dalam hitungan

atau kau tendang sekalipun sebagai sisa-sisa

aku tidak takut, aku tidak takut

aku hanya punya tekad saja

untuk ingin selalu bisa mengelap debu-debu

memisahkan keringat bau itu dari badanku

[]

Pondokaren

2 Juni 2009 : 24.o5


Dua Sajak Dwi KS

Oleh Dwi Klik Santosa

Aku Tidak Takut, Aku Tidak Takut

jika kau tanyakan apa itu kesucian

aku hanya punya tekad saja

untuk ingin selalu bisa mengelap debu-debu

memisahkan keringat bau itu dari badanku

aku tidak mengerti

kenapa airmata ini tak sudah-sudah

apakah sunyi dan sepi sedemikian menakutkan

aku tahu, suci bagimu adalah yang

fasih mengucap kata-kata indah

sedang lihatlah kini, lidahku kelu

aksenku cedal, bahkan sekedar menyebut

namaku saja, begini kaku

aku tidak takut kau anggap rendah

bahkan kau tiadakan pula dalam hitungan

atau kau tendang sekalipun sebagai sisa-sisa

aku tidak takut, aku tidak takut

aku hanya punya tekad saja

untuk ingin selalu bisa mengelap debu-debu

memisahkan keringat bau itu dari badanku

[]

Pondokaren

2 Juni 2009 : 24.o5

Selugu Embun

Ada yang ingin kulakukan

Tapi selalu lupa dan mungkin tidak bisa

Melihat wajahmu ketika bangun tidur

Konon lugu itu ayu seperti mekarnya bunga padma

Wangi tanpa bedak dan parfum aroma

[]

Pondokaren

6 Oktober 2010

: 06.01


Pusaran Ragu

Oleh Hera Naimahh

kau bawa aku mengangkasa mengitari jagat raya

menghitung bintang-bintang dan bercakap dengan purnama

adakah sebuah negeri tak bermusim yang bersedia menyimpan

serangkaian kisah tentang cahaya silau yang sanggup

membakar segenap reruntuhan masa lalu

mestinya kau halau semua rintangan di balik angin puting beliung yang

menghancurkan kesanggupan bersama waktu

benarkah cinta sanggup menaklukkan debur

aku letih bercakap dengan diri sendiri

aku letih merangkai kata-kata untuk menenteramkan

kegaduhan di alam serba maya

sekarang aku tahu

ternyata aku memang tak sepenuhnya mampu

mengurung senja bersamamu

cukuplah perjalanan ini

aku hendak bergegas pulang ke pangkuan kesadaran

karena  pantai   tak  lagi  bisa  menjadi  tepi  yang  gigih

menduga

dan setia

*****

hera 12/9/10


Di Bawah Pohon Pete

Oleh Dwi Klik Santosa

bulan pucat dalam jepretanku. foto : dwi ks, 6 agustus 2009; 23.09

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Entah karena apa

Mungkin disebabkan aku merasa tidak akan pernah lagi

Mendengarkan pengetahuan-pengetahuan indahnya

nada marahnya, cerita lucunya

bahkan isak tangisnya

Sungguh mati, aku merasa kehilangan

Dan sangat gusar kapan lagi akan menemukan

Aku pernah menangis di bawah pohon itu

Ketika banyak orang berebutan paling depan

hendak melepasnya menuju

Hanya bersender aku dibawah pohon itu

Sunyi dan sepoi ditemani angin bukit

Tersibak-sibak rambutku

Menggerak-gerakkan mata untuk luruh

dan mengucap doa yang tak seberapa fasih

“Tuhanku, hamba berbicara kini

Sebagai manusia rapuh

Makhluk yang suka sekali mengeluh

Banyak menuntut dan rajin membohong pada diri

Hamba ingin bersyukur kepadaMu, Tuhan

Hamba ingin curhat kepadaMu

Yang Kaupanggil hari ini, semogalah tunai kembali kepadaMu

Sedang makhlukMu yang sebatang dan berdebu ini

lapangkan jalannya untuk tegar menelusuri jejak-jejak itu”

[]

Cipayung Jaya, 5 Agustus 2010 : 22.4o


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [13]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Seseorang yang Mungkin Anda Kenal #2

Oleh Adhy Rical
1
Jangan pernah memakai ukuranmu dalam menilai sesuatu. Pakailah menurut ukuran di luar dari dirimu sebab kau akan membutuhkan lebih banyak meter. Kesombongan terbesar dari dirimu bukanlah ketika kau berkata “aku” tetapi ketika kau sulit berkata “kami”.

2
Semakin banyak kau memberi maka semakin banyak kau dapatkan. Semakin banyak kau meminta maka semakin banyak kau kehilangan. Jika kau pandai bersyukur maka kau tak pernah kehilangan.

3
Seorang penjahit hanya membutuhkan benang, gunting, dan kain untuk membuat pakaian tidur kekasihnya sedang pustakawan membutuhkan banyak buku tentang kain, gunting, dan benang untuk memesan pakaian tidur kekasihnya pada penjahit.

4
Perawan akan berkata “peganglah dadaku jika kau tak percaya padaku” sedang perjaka akan berkata “percayalah padaku, aku hanya memegang dadamu”.

5
Guru yang baik akan memberikan buku pada muridnya sedang murid yang baik akan memberikan kayu pada gurunya. Jika murid itu pintar, ia hanya bilang, “kayu ini cocok untuk memukul kepalamu” tapi jika murid itu bodoh, ia akan bilang, “buku itu dari kayu”.

6
Sekali kau mengeluh maka sehari itu harapanmu kandas. Sehari kau berharap maka sekali itu keluhmu kandas. Jangan tanya kenapa ia kandas hari ini tapi tanyalah apa yang membuatnya kandas.

7
Carilah kutu di kepala lalu belajarlah menghitung jari.

[]
Kendari, 2010

ar


%d blogger menyukai ini: