Tag Archives: ilham

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Kejutan Terduga ala Ilham Q. Moehiddin dan Boim Lebom

Oleh Ade Anita

Kejutan Terduga. Ya…kalian memang tidak salah baca, ini memang tertulis kejutan terduga. Artinya, sebuah kejutan yang sudah diduga bakalan terjadi tapi ternyata tetap mengejutkan. Ada banyak contohnya, seperti dugaan kita bahwa nilai di raport akan dapat segini-segini-segini sambil mengingat-ingat nilai-nilai yang sudah kita ketahui sebelumnya dari hasil evaluasi belajar kita. Tapi, ketika pembagian raport dan kita membuka buku raport tersebut, tetap saja ada kejutan tak terduga meski kita sudah menduga sebelumnya. Sensasi surprise yang kita peroleh terasa seperti sesuatu yang belum kita ketahui sebelumnya.

Atau ketika berlari setelah tiba-tiba seseorang berteriak, “Bu, bu, anaknya jatuh tuh…sekarang dia menangis.”

Kita sudah tahu rupa anak kita sendiri jika sedang menangis, pasti bibirnya manyun, air matanya dideras-derasin…sederas-derasnya guna menarik simpati banyak orang…sebanyak-banyaknya. Tapi tetap saja ketika di ujung pelarian kita untuk menghampiri anak kita tersebut, tetap muncul sensasi surprise yang mengejutkan. “Ya Allah, anakku menangis, air matanya deras banget, kenapa, nak?”Padahal sudah diberitahu sebelumnya bahwa dia terjatuh.

Semua kejutan yang sudah diduga itu memang kadang tidak masuk di akal sehat. Kenapa masih bisa tetap mengejutkan? Kenapa semua dugaan yang sudah diprediksikan sebelumnya itu masih bisa tetap mengejutkan?

Dan, inilah yang saya temui ketika membaca dua buah cerpen dari dua orang penulis handal yang saya baca kemarin dan beberapa hari yang lalu. Keduanya menyajikan dua buah cerpen yang cantik.

(terlepas dari kefrontalan tema, pemilihan bahasa, judul, penggambaran situasi yang mungkin tidak cocok untuk beberapa orang dan sebagainya. Hmmm, jujur, saya sebenarnya berusaha keras ingin tetap menulis dan membaca yang cerah-cerah dan mencerahkan saja. Tapi, kemarin seorang teman mengingatkan betapa pentingnya untuk menilik sejenak kenyataan yang terpapar sehari-hari, yang begitu dekat dengan kehidupan real masyarakat kebanyakan. Well, teman. Ini penjelasan saya. Bukan maksud saya menghindar menulis kisah itu, hanya saja, kadang saya ingin sesuatu yang menghibur diri sendiri karena lelah juga terus menerus menyaksikan kesusahan, kesulitan, kesengsaraan, dan problema hidup yang membelit. Kadang, saya merasa menulis dan membaca adalah seperti sejenak mengintip “surga” agar kembali semangat dalam perjalanan panjang di dunia menuju akherat yang kadang terasa menjenuhkan).

Ya sudah…tidak usah berpanjang-panjang, silahkan baca dua cerpen cantik ini. Keduanya sebenarnya memiliki karakter dan gaya yang amat berbeda tapi punya sebuah persamaan, yaitu sama-sama menampilkan kejutan. Dan lihat kepiawaian dua penulis handal ini menyajikan kejutannya. Saya sendiri, belajar banyak dari dua cerpen ini. Yaitu bahwa menulis itu membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Yaitu kesabaran untuk terus menyusun kata demi kata agar bisa tetap memikat pembaca tulisan kita hingga tetap setia membaca apa yang kita tulis. Juga kesabaran untuk menyimpan kejutan di akhir cerita (ada banyak penulis pemula yang tidak sabar ingin cepat-cepat membuka kode rahasia/cluenya, bahkan membuatnya tidak rahasia lagi) dan terus meminta pembaca agar sejenak melupakan kejutan di akhir itu dan terus menyaksikan suguhan kita dengan nyaman. Saya sendiri belum bisa melakukan itu. Itu sebabnya kedua cerpen ini saya simpan karena saya ingin belajar banyak.

[]

KUTANG

Oleh Ilham Q. Moehiddin

“JANGAN gantung disitu!” teriak Jajang, perempuan pelacur yang dibawa ayah seminggu lalu, sudah mulai bertingkah.

Mariam yang hendak menyampirkan kutang Jajang di pagar rumah, bersama cucian lainnya, terlonjak kaget. Masam mukanya. Mariam lalu berputar ke samping rumah, lantas melempar begitu saja kutang Jajang ke atas perdu rimbun dekat kandang ayam. Ini pun tanpa setahu Jajang. Sebab, jika Jajang sampai tahu, kutangnya dilempar begitu saja, jelas ia segera datang mengomeli Mariam. Tapi Mariam tidak acuh. Setelah membalik baskom, ia kembali memasak.

Jajang sedari bangun, sudah duduk kangkang di beranda. Daster yang dikenakannya membuat bentuk pinggul dan buah dadanya amat kentara. Akibatnya beberapa bapak dan mahasiswa yang kebetulan melintas depan rumah, melotot hingga hampir masuk got. Dan, Jajang tak peduli. Sudah dua batang lisong ayah dihabiskannya, ditemani segelas kopi buatan Mariam, tentu saja tanpa setahu ayah. Ayah sudah pernah marah perihal lisong itu.

“Lisong itu jangan kau habiskan Jang, untukku nanti tak sehari sudah habis. Kau kan sudah kuberi uang, belilah rokok menthol kegemaranmu. Katanya, biar kau tak mudah hamil,” kata ayah sambil menyesap kopi buatan Mariam. Wajah ayah tertekuk, bibir ayah tertarik ke dalam. Digelengnya kepala berulang-ulang. Pahit, pasti tanpa gula, mungkin begitu ayah membatin. “Kopimu lagi-lagi enak pagi ini, Iam.” Mariam tak menyahut.

“Sudah aku katakan, sisakan lisong itu buatku!” Ayah tiba-tiba muncul di pintu.

Kali ini Jajang tidak bisa berkelit. Ia ketahuan mengisap lisong ayah. Jajang cemberut. Dilemparnya tiga lisong ke atas tas kerja lusuh ayah. Ayah merapikan kerah bajunya…meraih kunci truknya lalu menuju pintu pagar.

Jajang tersenyum. Kuakui, Jajang memang cantik jika senyum tanpa lisong ayah dibibirnya. Ayah mengusap kepalanya, lalu menepuk paha Jajang, “jangan terbiasa duduk kangkang seperti itu, orang perempuan akan selalu cantik jika bisa sedikit sopan.” Ayah berkata datar, senyum sekilas, lalu pergi.

Jajang menatapi punggung ayah hingga lepas dari matanya, lalu masuk kamar. Entah apa yang dibuatnya di dalam. Aku rapikan sepatuku, lalu ke dapur. Mariam sedang menggoreng telur setengah matang untuk sarapanku.

“Pergi sendiri?” Mariam bertanya, sambil meletakkan piring didepanku.

“Tidak. Linggar akan kemari menjemputku.” Jawabku sambil meneguk teh.

“Mau kubuatkan telur satu lagi?”

“Tak usahlah. Linggar pasti sudah sarapan sebelum kemari.”

“Baiklah.”

Mariam adik ayah. Dia tinggal bersama kami sejak kematian ibu delapan tahun lalu. Dia benar-benar memegang amanah ibuku, untuk menjagaku. Mungkin karena amanah ibu Mariam belum mau menikah sampai sekarang. Beberapa lelaki dari kampung kami sudah pernah datang menemui ayah, meminta Mariam sebagai istri. Tapi Mariam menolak halus, menjadikan diriku sebagai alasan penolakannya. Aku kasihan padanya. Sekaligus senang karena dia masih bersama kami.

Aku tak tahu kalau Linggar sudah datang. Dia tidak ke dapur, tapi langsung ke kamarku. Aku tahu apa yang dibuatnya dikamarku. Hal itu mendadak jadi kebiasaan Linggar semenjak Jajang ada di rumah ini.

Aku sudah memperingati Linggar agar perbuatannya dihentikan. “Nanti lubang itu ayah lihat. Ayah sering kemari melihatku belajar. Ditanyakannya nanti lubang itu, lantas aku mau jawab apa?”.

Tapi Linggar tidak peduli.

Jadilah, dia setiap pagi datang, beralasan menjemputku, lalu menunggui lubang buatannya di dinding kamarku yang tepat bersebelahan dengan kamar ayah dimana Jajang lebih banyak menghabiskan waktunya.

Jika Jajang tidak segera dibawa ayah kembali ke tangsi truk, Linggar tidak akan berhenti. Linggar pernah bilang padaku, bahwa Jajang itu sangat cantik menggoda, muda, membuatnya tidak bisa tidur terus memikirkan kemolekan tubuh perempuan itu. Kalau saja Jajang bukan perempuan milik ayah, sudah pasti akan diajaknya lari. Linggar itu sudah gila, barangkali.

Tetapi, aku agak terganggu dengan komentar komentar Linggar tentang perempuan itu. Penasaranku timbul, apa sebenarnya yang dilihat Linggar melalui lubang di dinding kamarku itu? Apa mungkin yang dilihat Linggar adalah tubuh telanjang Jajang saat sedang berganti baju? Atau Linggar senang menatapi pantat montok Jajang yang kerap berdiri di ambang jendela kamar ayah?

Jujur saja aku turut menikmati keuntungan dari rutinitas Linggar itu. Karenanya, Linggar akan tiap pagi ke rumah ini, menjemputku. Paling tidak, aku bisa berhemat untuk biaya angkot ke kampus.

#

Hari ini Mariam kembali mengeluh pada ayah perihal harga gula dan minyak tanah. Tapi ayah tidak berkomentar. Ayah hanya memberi Mariam sepuluh ribu rupiah. Itupun kata ayah untuk tiga hari. Tatkala Mariam hendak protes, ayah buru-buru menimpali, “…ada baiknya dapurmu terus menyala Mariam, tapi bersabarlah. Terima dulu uang itu, nanti aku tambah. Saat ini aku tak punya lagi. Uang dua puluh ribu rupiah ini untuk Jajang. Katanya, rokok dia habis dan kutangnya sobek lagi.” Katanya pada Mariam sambil melipat uang dua puluh ribuan yang lalu diselipkan ayah dibawah gelas kopinya.

Sambil berjalan ke kamar mandi ayah menggerutu pada dirinya sendiri, “…kenapa perempuan itu mesti beli kutang saban hari. Perasaan…aku tak pernah mengoyak kutang perempuan.”

Kulihat Mariam merah pipinya, rupanya dia malu…tutur kata ayah terdengar olehnya.

Sambil bersabun, ayah masih juga bicara tentang minyak tanah, “…kalau minyak kau habis, dan aku tak ada, suruh saja si Anwar mengumpulkan kayu kering dari pohon-pohon di taman kota sana.”

Mendengar itu, aku spontan teriak, “Tidak! Nanti aku ditangkap orang Tantib dituduh mau mencuri kayu!”

“Ya..sudah.” Ayah menyahutiku pelan.

#

Usai mandi, ayah berkata hendak ke pangkalan truk. Ada barang yang hendak diantarpulaukan. Aku tak habis pikir, kenapa jika ayah hendak ‘nyetir’ ke luar kota, tidak pernah memberi tahu jauh jauh hari. Tidak pula hendak membawa serta Jajang. Kata ayah, biar Jajang di sini dulu, sebab ayah mungkin pulang agak lama. Ayah malah menyambung kalimatnya dengan sedikit menyinggung aku, bahwa aku tidak begitu suka Jajang ada di rumah ini.

Sebenarnya bukan aku tidak begitu suka akan kehadiran Jajang. Aku akui, Jajang sungguh membuat rumah ini sedikit ramai. Yang aku tidak suka adalah gunjingan tetangga, dan tentunya rutinitas Linggar dikamarku. Sibuk memelototi tubuh Jajang dari lubang di dinding kamarku. Sekarang lubang itu kian besar saja ukurannya. Dia tak puas dengan ukuran sebesar kelingking. Justru itu yang aku takutkan, semakin besar lubang buatan Linggar, semakin besar pula peluang ayah akan melihatnya.

Ayah lalu pergi, tentunya diantar Jajang ke pintu pagar. Sepeninggal ibu delapan tahun lalu ayah sangat kesepian. Jika bukan Jajang yang dibawanya ke rumah, pasti Marliah, perempuan yang tidak pernah berhenti mengunyah. Rahangnya selalu bergerak. Selain gembul, perempuan itu sangat boros menggunakan air. Jika mandi, nampak air di selokan belakang mengalir tak putus putus. Aku tak suka Marliah. Masih baik jika ayah menginapkan Jajang. Hanya saja, Marliah tak pernah meributkan kutang seperti Jajang.

Aku urusi saja kuliahku. Aku tidak mau otakku dipenuhi masalah rumah, soal kegemaran Linggar mengintip, perkara dapur Mariam, dan tentunya keributan kecil soal kutang Jajang.

#

Bahasan kuliah tak mau masuk ke otakku. Jamilah telah menulis sepenggal pesan yang disampaikan padaku lewat temannya. Mila tak menulis banyak pesan, kecuali bahwa ia tak masuk hari ini. Kusampaikan pula pesan lewat kawannya itu, bahwa aku akan menemuinya di kontrakannya selepas urusan dengan dosen pembimbingku sudah pungkas.

Di halaman kantor fakultas, Linggar telah menunggu aku, Senang sekali tampangnya.

“Nanti malam aku ke rumahmu ya?” Bujuk Linggar.

“Buat apa?” Tanyaku sambil membereskan diktat yang tertiup angin.

“Aku ingin ketemu Jajang.”

Aku terpana. “Tidak.”

“Kenapa? Ayahmu kan tidak ada.”

“Pokoknya tidak boleh,” kataku tegas, dan sebelum Linggar menyahutiku, aku menyambung, “…aku tak mau kau kena damprat ayah kalau ketahuan menggoda perempuannya.”

“Aku tak akan menggodanya. Aku hanya akan mengobrol sedikit padanya. Lagi pula di rumah kan ada Mariam.”

Aku menatap Linggar. Kuperhatikan gelagat anak ini. “Baiklah.” Kataku.

Linggar tersenyum menang, tapi segera ku tarik bahunya, “Eit..tunggu dulu. Kau harus ingat, jangan macam-macam!” Aku memperingatinya.

“Santailah sedikit. Aku tahu kau sedang khawatir dengan Jamilah. Temuilah dia.” Linggar meyakinkanku sambil menepuk pundakku.

Aku harus ke tempat Jamilah. Aku bergegas, sebab kurasakan pelataran ini makin panas.

#

Aku tiba di rumah sudah hampir sore. Begitu tiba aku tak langsung masuk kamar, tapi terus ke dapur. Mariam tidak ada, namun semua yang aku butuhkan saat ini sudah tersaji di atas meja makan. Benar, aku sangat lapar. Tapi niatku urung, laparku mendadak lenyap saat telingaku menangkap suara renyah tawa Jajang. Asalnya dari kamarku. Segera kuhampiri kamarku, tapi Linggar baru saja keluar. Dia melihatku, mengancungkan jempolnya, sembari memberi isyarat agar aku tenang saja sebab tak terjadi apa-apa. Kutengok kamarku, ada Jajang di dalam, dan sedang duduk di kursi meja belajarku.

“Keluar.” Aku berteriak pendek pada Jajang, dan perempuan itu segera keluar tanpa membantah, lalu masuk kamar ayah. Kutatap Linggar dengan sinar mata bertanya.

“Tenang saja. Aku sudah berjanji kami hanya akan ngobrol,” kata Linggar sambil meraih ranselnya.

“Tapi dia perempuan ayahku!” Kataku sambil menekan suara.

“Tapi bukan istri ayahmu kan?!”

Aku tertegun Linggar menjawab begitu. “Oke… Lalu kenapa?”

Linggar mengangkat keningnya. “Kau pasti paham jika siapapun boleh bercakap dengannya.” Datar saja Linggar berkata.

Aku tak membalas kalimat Linggar. Sahabatku itu mengacak-acak rambutku, lalu pergi begitu saja.

Baiklah. Sebatas mereka tak berbuat apa-apa, akan sedikit membuatku lega. Kutengok ke luar sebentar sebelum menutup pintu, kulihat enam kutang masih tersampir di pagar samping rumah. Pasti kutang Jajang.

Malamnya aku minta Mariam mengawasi Jajang selama aku tak di rumah. Dengan mengangguk Mariam menyanggupi tugas itu.

#

Seminggu kemudian, sepulang kuliah, kutemukan sebentuk paket di meja beranda. Paket tanpa pengirim, tapi jelas tertera nama Jajang sebagai penerima. Paket itu agak besar, tapi tak berat seperti terlihat.

Kuserahkan saja paket itu pada Jajang. Perempuan itu gembira menerimanya dan langsung masuk kamar. Masih kudengar suara ringannya dari balik dinding tipis bilik ayah. Pastilah dari ayah, batinku.

#

Tiga hari kemudian, sepulang dari pertemuan liga mahasiswa, lapar nyaris hendak membunuhku. Di pagar rumah kulihat lima kutang tersampir. Semuanya baru dicuci, dan tampak masih baru. Tadinya hendak kuminta Mariam memindahkan semua kutang itu ke samping rumah. Tapi lapar perutku tak bisa berkompromi lagi, sebelum menuju dapur, kupindahkan sendiri kutang-kutang itu.

Lalu aku ke dapur mencari Mariam. Kutemukan adik ayah itu sedang mengatur perabot dapur yang baru selesai dicucinya.

“Ada lauk apa?” Tanyaku sambil meraih tudung makan.

“Hanya nasi. Aku tak masak lagi, minyak habis,” kata Mariam tanpa menoleh. Dari apa yang kulihat, Mariam memang hanya meletakkan sepasu nasi di atas meja.

“Secepat itu?”

“Kalau ingin lauk, beli mie bungkus saja. Air panas ada kok.”

“Jajang kemana?”

“Di kamar ayahmu.”

Perih lapar diperutku makin menggila. Aku ke kamar hendak mencari beberapa recehan di meja belajarku untuk sebungkus mie instan di kios ujung gang.

Ketika sedang mencari, mataku terpaku pada lubang buatan Linggar. Penasaran membuatku melupakan sejenak niat menemukan recehan diantara tumpukan kertas kuliah.

Perlahan aku dekati lubang itu. Sebenarnya apa yang sering dilihat Linggar melalui lubang ini. Baru saja kutempatkan mataku di sana, secepatnya kutarik kepalaku ke belakang. Jika tidak menyaksikan sendiri, tentunya aku tak akan pernah percaya. Di kamar ayah, kulihat Jajang sedang bersama sahabatku Linggar. Di kamar ayah..di ranjang ayah..bersama perempuan simpanan ayah, sahabatku Linggar tanpa busana…sedang menggeluti tubuh telanjang Jajang. Daster, celana dalam dan kutang Jajang…tersampir dimana mana.

Linggar dengan penuh berahi menciumi tubuh telanjang Jajang…dan perempuan itu begitu menikmatinya sambil tersenyum senang.

Aku tiba-tiba muak dengan kedua manusia ini. Mataku masih saja lekat di depan lubang itu. Saat itu Mariam masuk, “Nwar, kamu boleh kok utang di warung sebelah.”

Aku kaget setengah mati. Aku Gugup. Seperti orang yang tertangkap basah, aku menyambut kalimat Mariam.

“Apa..kutang? Kutang siapa?

[]

Kendari, 2003

[ sumber : Kutang. Bab VI. Cerpen. Antologi Kitab & Tafsir Perawan ]



———–sekarang cerpen yang lainnya.

CERITA PAGI 2

by Boim Lebon on Tuesday, 23 November 2010 at 08:20

Pagi2 mau berangkat kerja. Kadang naik bis, naik motor atau bawa mobil. Hari itu mau ke kantor naik bis aja, karena lbh santai, praktis dan ekonomis. Tiba-tiba ada dua anak lewat depan rumah sambil tertawa-tawa.

“eh, liat Abit gak? dia e’e’ di mobil papanya …”

“iya, liat … hehe lucu ya, sambil meringis!”

“ksh tau yuk ke mamanya?”

“jangaaan … hehe, ntar Abit dimarahin looh!”

saya cuma mesem-mesem aja ngeliat anak-anak tetangga yang masih senyam-senyum itu. Tapi selanjutnya anak2 berumur 6-7 tahunan itu berlari.

Dan ketika saya mulai meninggalkan rumah, seorang tetangga nampak sedang memanasi Avanzanya, “mau bareng Mas Boim?”

“Oh, boleh, makasih,’ kata saya, ‘ngerepotin gak?”

“Ah, enggak…lagian saya keluar tol Kebun Jeruk juga kok.”

Oh, ya, udah, daripada naik bis, sekarang ke kantor nebeng Avanza tetangga, deh.

Saya dipersilahkan duduk di bangku depan samping sopir. Tapi begitu sy duduk, kok bangkunya agak basah…?

Saya liat kayaknya ada sesuatu yg … iiih, gak bisa digambarkan dng kata-kata, nih. Soalnya sy diam terus, sampai si tetangga itu bilang, “anak sy yang kecil buang-buang air melulu Mas, kenapa ya? Masuk angin atau kenapa y?”

Sy cuma bilang, “mungkin juga, sih …terus td dia masuk ke mobil ini ya?”

“Eh iya, emang kenapa, Mas?”

“Ah, enggaaaaak …..” dalam hati gak enak, udah numpang masak protes?

[]


Membaca Pelacur : Membaca Sebuah Empati

Oleh Ade Anita

Notes ini berawal dari sebuah pertanyaan, bagaimana caranya agar bisa menulis sesuatu yang mempermainkan emosi pembaca.

Ya. Sebagai seorang pembaca, saya juga sering menemui sebuah tulisan yang begitu mengaduk-aduk emosi pembaca. Seakan-akan kita hadir di tulisan tersebut dan menyaksikan kisah yang disajikan secara langsung. Dan sebagai seorang penulis pemula, saya sendiri juga ingin sekali bisa menghasilkan tulisan seperti itu. Mungkin sama inginnya dengan penggemar film yang ingin menyaksikan film dalam bentuk 3D hingga film-film itu terasa benar-benar nyata.

(oot dulu yah: kemarin waktu saya jalan-jalan ke toko elektronik, saya melihat penawaran untuk televisi layar datar besar yang menyajikan teknologi 3D. Jadi, penonton harus memakai kacamata khusus. Luar biasa menariknya, apalagi ketika ada acara sepak bola, yang digilai oleh suami saya. Suami saya bilang, “seperti menonton di stadionnya langsung deh, De. Tertarik nggak buat beli ini?” dan saya dengan bodohnya hanya bilang, “Iya, itu karena kamu pakai kacamata khusus 3D, sedangkan aku kan tidak pakai kacamata itu. Nanti yang ada aku lari ke atas genteng dan sibuk benerin antena, karena menyangka antena televisi kita berubah arah.”.. hehehe..:P).

Oke. Kembali ke topik semula.

Lalu, bagaimana caranya agar tulisan kita bisa ‘dalam’, dan memerah emosi pembaca yang membaca tulisan kita? Mungkin, dengan cara kita menulis semua ide yang ada di kepala kita. Tapi setelah selesai menulis, cobalah untuk menempatkan diri sebagai pembaca yang sebelumnya tidak pernah membaca tulisan kita tersebut.

Nah…nah…bingung kan? Hehehe…sebenarnya yang saya mau katakan adalah, mencoba untuk berempati pada tokoh yang sedang kita tulis.

Berikut ini saya punya tiga puisi dari tiga penulis luar biasa. Ketiganya membahas sebuah topik yang serupa, yaitu tentang Pelacur. Pada tahu kan pelacur itu siapa? Nah, ketiga penulis luar biasa ini, belum tentu juga pernah bertemu dengan seorang pelacur. Pun belum tentu juga pernah bersinggungan langsung dengan profesi seorang pelacur. Mungkin kata pelacur dalam kepala mereka, mereka dapat dari pengetahuan membaca dan menonton berita saja. Selebihnya hanya imajinasi. Dan disinilah keluar-biasaan ketiga penulis ini ketika menempatkan diri sebagai pembaca. Dalam arti, mereka tahu dimana sela-sela emosi pembaca yang bisa diaduk sedemikian rupa hingga bisa menerima imajinasi mereka tentang sosok pelacur menurut versi masing-masing.

Sekali lagi, tulisan ini saya buat dalam rangka saya pribadi juga sedang belajar agar bisa menulis sehebat para penulis di bawah ini. Saya pernah membandingkan, mana di antara ketiga penulis ini yang terasa benar-benar menghayati dan berempati pada tokoh imajinasi mereka, dan punya pendapat sendiri tentang kesan yang mereka berikan. Tidak tahu ya dengan pendapat kalian, sama apa tidak dengan pendapat saya..hehehe.

Ya sudahlah…nikmati sajiannya dan perhatikan cara imajinasi seseorang untuk menyelipkan sebuah empati terhadap tokoh yang mereka ciptakan.

[]

Pelacur di mata penulis Pik Parwati:

Puisi tentang “Jiwa Yang Tersakiti” (Diikutkan dalam lomba Fatamorgana Publisher)

by Pik Parwati on Tuesday, 09 November 2010 at 13:50

Rintihan Pelacur

Oleh Pik Parwati

Aku terjaga

Sakit

Perih

Pedih

Tubuhku terpasung kemiskinan

Jiwaku dipenjara keinginan

Suara lengkuhan  mulai lenyap

Tawa palsu hilang sudah

Aku tertinggal disni

Terhempas oleh sisa nafsu.

[]

Sekarang, pelacur di mata penulis Faradhina Indzifara:

Subuh Seorang Pelacur

by Faradina Izdhihary on Friday, 12 February 2010 at 11:37

sebelum bedug subuh ditabuh perempuan itu memunguti remah tulangnya ia bersyukur masih tersisaseorang pelanggan melumatnya hingga lebur semalam

perempuan yang dipanggil pelacur itumemilih sepi sebagai istanasejak selaput daranya direngut dengan paksa

di bekas luka itu tuhan meniitip seorang bidadari yang mengajarkan padanya menentang dunia

ketika padanya diminta lembar-lembar rupiah penebus susu dan bubur bayi perempuan itu sadar hanya punya vagina karenanya putrinya ada dengannya ia akan menyuapinya

sebelum fajar rekah selalu ia tulis surat untuk tuhannya”kau tahu, darah dan hatiku tetap perawan meski lelaki yang menjamahku telah ribuan”

bila siang perempuan-perempuan berdiri di teras-teras dengan secangkis besar gosip dan rerasan menatapnya sambil memuntahkan sarapanperempuan itu membalas dengan ketulusan

adakah jaminan bagi istri-istri pendosayang memuja fitnah jadi kudapan? kau tahu, padaku tuhan memberi janjiseorang pelacur masuk surgasetelah memberi minum anjing yang dahaga

sedang yang kusuapi anak manusia luka yang ditorehkan lelakimu saat perempuan seperti kalian lalai mengikat syahwatnya

[]

Nah, sekarang tulisan lain lagi. Sungguh belum lengkap jika belum membaca prosa tentang pelacur yang ditulis oleh Ilham Q. Moehiddin berikut ini:

Pelacur Jalanan Mati Awal Maret

by Ilham Q Moehiddin on Thursday, 28 October 2010 at 17:55

Pelacur Jalanan Mati Awal Maret

(bias demokrasi)

Hujan rintik memanahi bumi Jakarta sore itu.

Sekelompok anak berlarian menawarkan payung pada penyeberang dan penunggu bis kota. Seketika kesibukan di emperan menyepi, khawatir rintik itu menjadi sederas hujan dua hari yang lalu.

Motik berjalan terburu buru dengan sepotong lembar koran menutupi kepalanya yang beruban. Tidak hirau belakang sandal jepit tipis mengangkat air ke roknya yang bau. Tidak dihiraunya juga cemoohan segerombolan pelajar di halte utara Istana Merdeka yang begitu angkuh dengan pagarnya, seolah tidak tahu ada hati yang sedang menangis terluka.

Motik menghapus titik hujan yang campur dengan keringatnya. Ia jongkok bisu menyalang mata mengawasi gerombolan pelajar tadi yang gencar mencemoohnya. Motik tahu mereka malu untuk menghampirinya. Karena dia bau. Karena dia begitu ringkih untuk tugas hariannya. Dia terlalu tua.

Bahkan mentari pun malu menyengatnya dengan sinar garang Tuhan. Seolah, mentari tahu, buat apa bagi Motik sinar itu, toh dia sudah muak menikmatinya tiap hari. Motik sadar dia sudah tidak laku di pasaran jalan jalan Jakarta.

“Mentari, mengapa malu padaku. Apa kau tidak mau lagi menyetubuhiku? Jangan nistakan tubuhku lagi. Dulu kau begitu memujanya, sekarang kau bahkan meludahi selangkanganku. Jangan…jangan sakiti aku.” Pelan tajam dia berujar, meratapi keangkuhan Mentari.

Kamu bau…aku muak…kamu bau…kamu bau…kamu bau…

Mentari menyahuti rintihan Motik dengan koor panjangnya.

“Mengapa?”

Tapi, mentari membisu di relung awan awan. Jakarta pun bisu, seakan merasai kepedihan hati Motik atas penolakan Mentari. Sementara itu bis bis lalu lalang sibuk sendiri sendiri.

Bulan Februari, seribu sebilan ratus sembilan puluh lima, setahun yang lalu Motik tidak harus malu seperti sekarang ini. Waktu itu, dia belum terkena penyakit ‘kekelaminan’ politik orang orang gede. Bodoh betul Motik kenapa mau dicicipi oleh peradaban ‘kabinet’. Waktu pun juga yang mengubah arah arus peradaban republik yang sudah beranjak tua ini.

Begitu buruk, sebanding dengan aku yang bau, pikir Motik menasehati diri sendiri.

Kini, menjelang awal Maret, tahun ini Motik sangat lain. Ia bahkan tidak tersentuh tangan tangan malaikat penunggu republik. Ia ditolak bagai daging mentah seminggu yang lalu.

“Jangan…jangan sakiti tubuhku!” Motik merintih pilu seolah menahan sakit ketika seorang mencoba meraih tangannya.

Seharusnya dia gembira. Ada sejumput khawatir memancar dari sorot matanya. Ia bingung dengan polah orang orang yang sedikit sedikit berubah. Suatu ketika nyalang, ketika yang lain begitu lembut seakan semua dosa terampuni.

“Jangan sakiti tubuhku…hatiku. Aku yang malu dan bau, tidak mau semakin di ejek, dihindari. Biarkan aku sendiri. Pergi! Menjauh dari manisku, menjauh dari sorgaku. Aku tidak mau itu semua lagi. Aku mau pergi sejauh mungkin…jauh sekali. Mundur dari percaturan bumi yang terus membodohiku. Biar aku terima karma Tuhan. Tuhan tidak akan malu walau kuhampiri sedekat apapun. Pergi…! Biarkan aku sendiri!”

Motik memohon dengan bibir gemetar oleh dingin hujan sore itu.

Jakarta belum mau menyahuti Motik. Mungkin Jakarta masih harus berpikir seribu kali untuk langkahnya. Jakarta pun linglung harus terus diduduki dengan keangkuhan beton beton kualitas nomer lima. Jakarta belum mau membela Motik.

Motik belum mau hengkang dari tepukan tangan republik yang tidak pernah tidur dengan cobaan. Padahal, Motik begitu menyesali itu semua, harapannya untuk dibela seringkali membuncah menjadi teriakan histeris yang menyumbat nada nadi ekonomi konglomerat. Seharusnya Jakarta membelanya, bukan menyatroni hatinya, menamparnya hingga terjungkal ke pinggir pinggir jaman yang kejam.

Motik tahu itu semua adalah manis suatu ‘permainan’. Maka, dia tidak perlu nyeleneh untuk mengubah kodrat alam. Motik sadar dia terus diawasi. Waktu terus merambat di sela sela jemari kakinya.

Berturut turut menundurkan logika yang terkadang turut pula menyesatkan. Kasihan Motik, sejak hari itu dia tidak terlihat lagi di sepanjang jalan jalan Jakarta. Jakarta bahkan melupakannya. Jakarta bahkan, tidak tahu lagi hidup Motik.

Tubuhnya terbaring kering di gardus yang basah air hujan. Awan menangis. Jakarta menyesal. Mentari malu untuk ingkar dari kata hatinya. Mentari tetap angkuh.

Motik mati.

Mati dengan luka hati yang dia bawa bawa dari bulan lalu.

Seiris senyum miris membekas pada wajahnya. Motik memang harus pergi. Dia sudah cukup senang karena Mentari pernah menyetubuhinya, pernah menjamahnya, pernah merasakan selangkangannya. Walau pun semua harus membayar murah untuk itu.

Sore itu, kembali rintik memanahi bumi tanpa Motik. Karena Motik sudah mati.

Gerombolan pelajar di halte utara Istana Merdeka ‘harus’ menyoraki Motik yang lain. Motik tidak perlu malu lagi, walau dia bau.

Jakarta, 19 Agustus 1996

[ cuplikan dari : Cerpen [IV], Bab II. Cerpen, Kitab & Tafsir Perawan ]

[]


%d blogger menyukai ini: