Tag Archives: bunda

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Kautanya, Kujawab

Oleh Syaiful Alim

 

Kautanya berapa kupunya selimut

pembalut kalut, kangen melumut.

Aku selalu tidur telanjang, Sayang

supaya kian menghargai kain dan benang.

Kautanya kenapa kusuka luka

tanpa sesuatu apa, ketika diterkam terka.

Aku butuh utuh sentuh aduh

daripada tak sudah seduh sedih.

Kautanya apa kaucinta wanita jelita

seribu depa puja, tak dikekalkan kata.

Sejuta kuberkata, tampan dan jelita

itu telaga juga jelaga kita.

Kautanya apakah kauurung mencintaiku

jika kusuka murung, meraung di ruang kamar.

Ha ha bukankah aku selalu

riang memeluk rindumu yang meriang dan memar.

Kautanya kapan masa depan kita cerah

banyak anak negeri gerah.

Begini saja, jalani masa kini ini

dengan nulis sunyi atau bertani.

Kautanya adakah dada

terima duda, dicerai derai ceria.

Hmm, bibirku seolah panas sebab lada

jawab trauma, belajarlah pada Bunda Maria.

Kautanya siapa aku

Cukup, kukecup dulu bibirmu.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Anak-Anak Malam

Oleh Dwi Klik Santosa

tak ada yang bohong dari apa yang selalu melintas. pagi, siang, sore ataupun malam. “ah, aku seperti debu. beterbangan, berserakan, kapan mengendap. dan malam, adakah tenangmu merehatkan gamangku.”

konon, embun adalah manik yang terjatuh dari airmata sih. bening yang tercipta karena tangis malam yang damai merindu.

malam, engkaukah ibu? bunda yang tabah mengasuh peradaban. dan tapi, ah … akukah anak-anakmu yang kuwalat. tersesat karena membangsat tak kenal adat. kapankah aku embun?

[]
Pondokaren
08 agustus 2010
: 08.02


Syurga di Langgam Jiwo

Oleh Hera Hizboel

WEEK END minggu ke dua di bulan Juli sangat berbeda dengan akhir pekanku yang lain. Bersama 8 orang anak-anak sanggar ZUHUD, aku menjalani dua hari kebersamaan pada Sabtu dan Minggu (17/7-18/7), di Rumah Langgam Jiwo-Tapos-Jawa Barat.

Di tengah kabut, di tengah hujan, di bawah udara dingin yang menggigit, hatiku hangat oleh puisi, oleh nyanyian, dan oleh senda gurau yang tak ada habis-habisnya. Salah satu puisi yang dinyanyikan dengan merdu sebagai kado rahasia yang ditujukan sebagai hadiah ulang tahunku, yang jatuh pada 26 Juni lalu, sungguh merupakan kejutan manis yang membuatku terlambung sekaligus terharu biru. Berikut teksnya:

Syurga-MU Bunda

Tatap pesona kilau harapan

elok belaian hadirkan damai

langkah laku tenang bimbing nadiku

syair langitmu permaikan hidup

badai mengalun

jiwa menghujam

liku menatap

pandang menajam

hamparan terang

harap sang bintang

sesak mendera

asa membara

cinta yang kau beri tak pernah terbayar

kasih yang kau tanam tak akan terbalas

belaian sayangmu semayam tak bertepi

keningku berlabuh di lautan syurga-Mu

darah yang mengalir

lalu tak terganti

berputar sang waktu

peluh terus menari.


Sebenarnya, agenda utama kami berkumpul adalah membuat konsep musik untuk mengiringi acara pernikahan Arief dan Iif. Dua anak muda yang menjadi bagian dari keluarga besar kami yang akan menikah pada Sabtu, 24 Juli 2010 di pesantren. Tapi, karena selama ini kami semua sulit sekali bisa libur berbarengan, maka jadilah dua hari itu kami manfaatkan untuk membuat musik pengantin sekaligus mengerjakan konsep musikalisasi puisi yang akan ditampilkan oleh ZUHUD di Kedailalang pada 14 Agustus 2010 nanti. Suara kodok, kicau burung, rumput dan dedaunan yang basah oleh kabut dan hujan yang turun berganti-ganti, seolah melengkapi notasi demi notasi yang membuat komposisi terus saja mengalir dengan sempurna. Tak ada perdebatan dan silang pendapat. Semua penuh senyum dan sukacita menyatukan nada dan irama. Sehingga, lahirlah beberapa puisi baru dan lagu baru, termasuk kado susulan buatku dari Vhai berjudul Rembulan Merah. Sebuah komposisi yang berbeda dari yang pertama. Lebih riang dan lebih menghentak.

REMBULAN MERAH

Tlah datang kepadaku Rembulan Merah/yang merasuk ke dalam dasar akal dan pikirku/dia slalu datang dalam kembang tidurku/inikah keajaiban rembulan dalam hatiku/sinarnya sayup-sayup menelan malam/lentiknya bak panorama keindahan alam dunia/kau bening dalam tatapan raut wajahmu/kau bening dalam sgala keheningan…/sulit dibayangkan bila kau menjadi milikku/hanya rasa yang dirasa, hanya kamu yang punya rasa/Maha Suci Tuhan yang menciptakanmu/Maha Suci Tuhan yang menakdirkanku/aku bagai musafir dalam derita/yang menemukan oase di padang pasir yang gersang/hilang hausku karena menatap wajahmu/kau adalah hera-rembulan merah dalam hatiku.

Tentang kado. Ulang tahunku kali ini aku memang minta dihadiahi puisi oleh orang-orang terdekatku. Termasuk dari anak-anak sanggar ZUHUD. Tapi, tak kusangka puisi mereka bahkan diisi dengan musik bagus, yang sangat menyentuh lubuk hatiku yang paling dalam. Denting gitar yang menjadi pembuka lagu, menarik-narik hatiku. Sehingga, mau tak mau ketika masuk pada syair utamanya, air mataku pun luruh berbaur dengan senyum dan perasaan bahagia yang meluap-luap.

Sebenarnya, ada beberapa baris dari teks mereka yang terlalu menyanjungku. Tapi, kuanggap itu sebagai sesuatu yang wajar. Setiap anak pasti memuliakan bundanya. Begitu juga dengan anak-anak ZUHUD-ku. Mereka menyanjung dan mendoakanku, ibunda mereka.

Sudah barang tentu, sebagai ibu aku sangat-sangat bahagia berada di tengah anak-anak yang memiliki cinta dan perhatian yang luar biasa seperti itu. Selama ini bukan aku tidak tahu kalau mereka mencintaiku, maklum, jalinan hubungan kami banyak terhalangi oleh kesibukan menjalani hiruk pikuk hidup keseharian. Sehingga tak cukup tersedia ruang waktu untuk saling memberi perhatian dan mengekspresikan perasaan. Tapi, dua hari itu benar-benar membukakan mata hatiku, bahwa aku punya anak-anak yang luar biasa sayang padaku. Berarti, aku harus mulai menggenapi doa-doaku dengan permohonan pada Allah agar kami senantiasa dipersatukan dalam jalinan kasih yang indah itu sampai akhir hayat, dan mereka terus tumbuh menjadi pribadi yang baik, memiliki budi pekerti baik, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi orang banyak. Aku juga minta pada Allah agar aku menjadi ibunda yang membanggakan bagi mereka.

Aah…rasanya tak cukup kata I LOVE YOU untuk anak-anakku itu. Tapi, demi Allah hatiku penuh oleh cinta untuk mereka semua.

hera – 20 Juli 2010

[]

Note:
Terima kasih dan cinta tak terkira untuk anak-anakku: Dono, Iwan, Vhai, Tony, Benny, Fikri, Sari, dan Zaza (bidadari kecil yang juga ikut menyumbangkan nada).


Ayah

Oleh Very Barus

AYAH mau datang ke Jakarta. Jadi kakak harus bersiap siap menyambut kedatangan ayah. Katanya dia rindu sama kakak.

Begitu lah isi sms terakhir yang aku terima dari adikku yang tinggal di Surabaya. Sms yang mengagetkan, juga membuat aku bingung. Kaget bukan karena bahagia. Tapi kaget yang membuat aku harus memeras otak untuk berpikir. Ada angin apa yang membuat ayah ingin datang ke Jakarta dan juga mau bertemu denganku? Karena sedikit pun tidak ada kenangan indah yang menempel di memori otakku. Bahkan aku sempat rancu mengartikan posisi seorang ayah dalam kehidupanku. Sejak kecil, aku dan adikku Tegar hanya diasuh dan dibesarkan oleh Bunda Ya, Bunda seorang yang berjuang banting tulang menghidupi kami.

Mengarungi hidup bertiga membuat aku bertekat tidak akan ada yang bisa memisahkan antara aku, adikku dan juga Bundaku. Bunda sosok yang sangat berarti dalam hidupku. Aku dapat merasakan bagaimana pilunya hati Bunda ketika terdampar di sebuah kota yang sama sekali tidak dikenalnya. Kota Palu yang sangat jauh dari jangkauan tapi membuat Bunda rela meninggalkan sanak saudara juga orangtua demi mengikuti sang pujaan hati. Suami yang dulu sangat dicintainya. Kala itu Bunda ingin menyusul suaminya sambil membawa aku yang masih berusia dua tahun juga adikku yang masih dalam rahim Bunda. Dalam hayalan Bunda, di kota kecil itu Bunda akan membina rumah tangga yang utuh. Mendampingi suami, membesarkan dua buah hatinya. Tapi, impian hanya sebuah impian. Karena sosok ayah suami yang dicari tak kunjung tiba.

Kemana ayah?

Disini. Di kota ini lah kisa hidup tragis yang harus dijalani Bunda. Sambi terus mencari keberadaan ayah, Bunda berjuang membesarkan aku dan menanti kelahiran adikku. Hingga adikku terlahir kedunia ini, Bunda memberinya nama Tegar Kelana. Ya, nama yang mencerminkan ketegaran hati Bunda disaat melahirkan adikku. Karena, ketika Tegar lahir pun sosok ayah tak kunjung tiba. Kala itu usiaku masih teramat premature untuk membaca pikiran Bunda. Bahkan Bunda mengatakan kalau usiaku terlalu dini untuk bisa berbagi duka dengannya. Hanya saja, ingatanku sangat mature untuk mengingat bagaimana Bundaku harus membasuh airmatanya disaat dia sedang sholat. Bermohon pada Tuhan agar dia dipertemukan dengan suaminya. Tapi doa Bunda belum juga mendapat jawaban. Hanya kabar dari orang orang terdekat mengatakan kalau ayah sudah memiliki keluarga baru. Ya, ayah sudah menikah lagi.

Hati Hunda semakin terluka. Luka yang sangat dalam sehingga sulit untuk disembuhkan. Luka batin Bunda yang teramat pilu membuat Bunda bertekat tidak akan mengusik kebahagiaan ayah dengan keluarga barunya. Meski terkadang pertanyaan tulus dari bocah polos berusia 5 tahun, yang selalu ingin tau keberadaan ayahnya, Bunda hanya menjawab kalau ayahmu masih ada dan suatu saat kamu pasti akan bertemu dengan dia.

Bunda tidak pernah menutupi dimana keberadaan ayah. Bunda tidak pernah menitipkan sakit hatinya atas perbuatan ayah kepada kepada kami. Bunda tidak pernah mengajarkan kami untuk membenci apalagi dendam pada ayah. Hanya saja, sebagai anak tentu memiliki cermin untuk berkaca. Pada cermin mana dia seharusnya berkaca? Cermin yang bisa memantulkan kebaikan atau cermin yang retak yang memantulkan keabstrakkan? Bagiku Bunda adalah cermin yang baik. Bunda selalu memberikan pantulan yang baik bagi aku dan Tegar. Meski kami hidup dalam keterbatasan. Keterbatasan materi tapi kami berkecukupan dalam kebahagiaan. Bunda berpesan, bahagia tidak dilihat dari seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa besar kasih sayang yang kamu dapatkan dari orang orang yang menyayangimu. Bunda sangat sayang pada kalian anak anakku. Melihat sosok Bunda yang begitu kuat dengan sejuta permasalahan, mentalku juga Tegar adikku terpatri untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan. Kami berdua menjadi anak yang kuat dalam mengarungi pahitnya kehidupan. Kami tidak akan membiarkan Bunda berjuang seorang diri untuk kebahagiaan kami. Menginjak usia 7 dan 10 tahun, kami sudah bisa membantu Bunda. Melakukan apa pun untuk mendapatkan uang membantu Bunda meringanan biaya sekolah juga untuk kebutuhan kami bertiga. Bunda tidak melarang, hanya Bunda berpesan, bekerjalah dengan jujur dan dengan hati yang tulus, itu akan menjadi bekal kalian dikemudian hari.

Tapi, ketegaran demi ketegaran yang diajarkan Bunda kepada kami seakan runtuh seketika. Ya, ketika kami mendapat kabar kalau Bunda meninggal dunia secara tiba tiba. Aku tidak kuasa membendung tembok ketegaranku. Airmataku tumpah melihat kepergian Bunda yang begitu cepat. Belum sempat rasa kagum akan Bunda kuwujudkan dalam bentuk hadiah, Bunda telah berpulang. Bunda telah tiada. Oh Tuhan, adil kah ini? Begtu cepat Engkau memanggil Bundaku Tuhan.

Kepergian Bunda memudarkan semangatku untuk hidup. Kepergian Bunda seakan menimbulkan bara yang selama ini tidak pernah menyala. Bara yang selalu dipadamkan Bunda. Bara dimana ketika mengingat sosok ayah bara itu seakan berkobar kobar. Bara itu kini menyala nyala. Semakin berkobar ketika dihari terakhir Bunda, sosok ayah pun tidak menampakkan wujudnya. Ayah, kenapa engkau begitu tega? Tega melukai hati Bundaku yang begitu dalam. Luka yang dipendamnya hingga Bunda berpulang pada sang Pencipta.

Aku tersentak ketika ringtone handphoneku memekakkan telinga. Dering tanda sms masuk. Kulihat dilayar monitor, sms dari Tegar.

Kak, ingat pesan Bunda, jangan menyimpan dendam pada ayah. Tegar sudah bertemu sama ayah. Ayah banyak berubah Kak…

Berubah? Apa yang berubah? Dari mana adikku tau kalau ayah banyak berubah? Bukannya aku dan dia tidak pernah bertemu dengan ayah? Atau hanya karena dia mau bertemu dengan kami, anak-anaknya yang terbuang, sehingga itu yang disebut berubah?
28 tahun bukanlah waktu yang singkat. Perjalanan yang sangat panjang dalam menapakin hidup tanpa ayah. Hidup yang begitu kejam. Sehingga untuk meneteskan airmata akan kehadiran sosok ayah pun aku sudah sungkan. Aku tidak memiliki waktu untuk meratapi nasib tanpa ayah. Apakah aku pantas berbahagia bertemu dengan ayah? Ayah yang mana? Ayah biologis yang tidak memiliki tanggung jawab itu. seandainya Bunda mengajarkan dendam, mungkin disinilah kesempatan bagiku untuk membalas dendam, membalas rasa sakit hatiku, sakit hati Bunda juga sakit hati Tegar. Seandainya membunuh itu tidak mendapat ganjaran hukuman, mungkin inilah saatnya aku membunuh ayah.

Tapi, aku selalu teringat pesan Bunda. Bunda yang tidak mengajarkan dendam. Bunda yang tidak mengajarkan kami untuk membenci. Bunda hanya berpesan, suatu saat nanti, kamu pasti akan bertemu dengan ayahmu. Dan mungkin inilah saat yang dijanjikan Tuhan untuk Bunda. Ya, janji untuk mempertemukan aku dan ayah. Apakah aku bahagia? Entah lah….

Sudah satu jam aku menunggu di stasiun Gambir, tapi kereta yang ditumpangi ayah dari Surabaya belum juga menampakkan wujudnya. Aku sempat berkirim sms pada Tegar, menanyakan kepastian pukul berapa kereta yang ditumpangi ayah berangkat dari Surabaya. Tapi, belum lagi sms dibalas Tegar, kereta Argo Bromo dari Surabaya sudah membunyikan klaksonnya. Ya, suara klakson khas kereta yang sangat memekakkan telingat. Dan aku baru tersadar kalau aku tidak mengenal seperti apa sosok ayah. Buru buru aku mengirim sms pada Tegar ciri ciri ayah seperti apa?

Ayah pakai kacamata, pakai tongkat dan rambutnya sudah putih semua. Jalan ayah agak tertatih tatih. Jadi kakak harus menuntun ayah. Maklum, kata ayah usianya sudah 70 tahun.
Aku terdiam sejenak. 70 tahun? bukannya itu usia yang sudah sangat senja? Kenapa ayah pergi sendirian? Kenapa Tegar tidak menemani ayah? Kalau terjadi apa apa pada ayah gimana? Tiba tiba rasa khawatir akan keadaan ayah begitu dalam. Kenapa aku jadi gelisah akan keberadaan ayah?

Satu persatu penumpang turun dari perut gerbong kereta. Tapi aku belum melihat sosok lelaki tua seperti yang ada dalam gambaranku? Aku semakin gelisah. Atau jangan jangan ayah salah turun? Jangan jangan ayah sudah turun di kota yang lain? Tapi, sebelum kegelisahan semakin memuncak, dari kejauhan aku melihat laki laki tua keluar dari perut gerbong kereta sambil tertatih tatih melangkah keluar gerbong. Tongkatnya itu lah yang membuat aku meyakini kalau itu adalah ayah. Kupandangi lelaki tua itu dari kejauhan, begitu sulit untuk berjalan. Entah kenapa tiba tiba airmataku memburamkan pandanganku. Haru kah? Bergegas kuhampiri lelaki tua itu. Persis didepannya aku berdiri. Dan lelaki tua itu memandangiku lekat lekat.

“Ayah?”
“Kamu Andi?”
“Iya Ayah. Ini Andi…”

Ayah membentangkan tangannya. Ayah memelukku erat erat. Aku membalas pelukan ayah lebih erat. Aku sudah sulit mengontrol emosiku. Antara benci, marah, rindu, kasihan juga takut kehilangan ayah lagi berbaur menjadi satu kesatuan dikepalaku.

“Maaf kan ayah nak… Ayah rindu sekali sama kalian. Ayah banyak salah pada kalian.”
“Iya Ayah. Andi juga sangat rindu pada ayah.”

Belum hilang melepas rasa rinduku pada ayah, handphoneku berdering pertanda sms masuk. sms Tegar.

Gimana kak? Sudah ketemu sama ayah? Jangan benci sama ayah kak. hanya dia orangtua kita yang masih hidup. Biarkan masa lalunya menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Dan biarkan pertemuan dengan ayah ini menjadi bagian dari perjalanan hidup kita. Salam rindu buat ayah.

Sambil terus menuntun ayah berjalan menuju mobilku, aku membalas sms buat Tegar.

Aku tidak pernah membenci ayah. Aku akan menjaga ayah. Karena Bunda pernah berpesan, suatu saat nanti kita akan bertemu dengan ayah. Dan inilah saatnya. Doa Bunda dijawab oleh Tuhan. Salam rindumu sudah kusampaikan pada ayah…

[]


Cespen : Rambut Mio

Oleh Adhy Rical

Ini tentang Mio. Perempuan yang memiliki dua rambut berbeda. Hitam dan putih. Tidak biasa sebab yang hitam itu rambut lelakinya. Lima puluh dua tahun lalu ketika beringin depan rumah masih setinggi cucu perempuannya.

“Kenapa kau berikan rambut padaku, sayang? Kenapa bukan cincin. Tak harus emas. Besi dari badik pun kuterima.”

“Pernikahan itu indah. Kitab-kitab bilang begitu. Tapi cinta akan tertutup karenanya.”

“Apakah pernikahan harus memberimu cincin? Bukankah rambut lebih abadi? Kelak, ketika kita renta, rambutku tetap menghitam di rambutmu. Kita pun akan melalui rambut. Tentu.”

Lalu kau bercerita tentang pelukan pertama. “Jika kau memeluk pasanganmu, katakanlah ‘hangat sekali’. Jika tidak, kau harus memasak air sampai pagi.”

***

Pagi itu, Mio mengajakku ke kebun peluru. Belakangan aku tahu kalau kebun peluru adalah kuburan. Mungkin karena di sekitar kuburan terdapat jagung, kacang, dan beberapa tanaman umbi. Tapi yang lebih penting selain tujuh nisan di kebun peluru adalah Mio memiliki ribuan selongsong peluru.

“Kau jangan banyak bicara, Nak”, pesan Mio padaku.
“Hanya ambil gambar, Bunda,” bisikku.
“Tiga orang dari tujuh nisan di sini karena mereka banyak bicara. Peluru lebih peka mendengar suara tukang kebun daripada suara tukang bicara.”

“Siapa tukang bicara?”
“Sstt… tak baik bertanya di kebun peluru.”
“Tapi siapa?”
“Kami tak punya tipi tapi kami tahu, tukang bicara banyak di tipi.”

***

Kini, aku masih menyimpan rambut Mio. Tapi entah untuk siapa. Sebab rambut Mio tak lagi hitam atau putih tapi merah. Darah itu merah, Mio. Semerah darahku membesi pada kepalamu yang pecah siang tadi. Rasanya tak percaya, peluru lebih memilih kepalamu daripada tukang bicara sepertiku. []

Kendari, 2010


Bercakap dengan Djibril

Catatan Adhy Rical dari posting Facebook Bunda Sjibril

Ini hanya catatan sederhana yang ditulis Bunda Djibril pada hari Senin, 7 Juni 2010. Sesiangan itu mengalir saja seperti sungai di kepala yang diam-diam menuju muara kata. Yang paling berbahagia adalah percakapan itu membuatku beruntung bisa mendapat tiga ember ikan segar dan dua sahabat yang diam-diam mencintaiku.

Bunda Djibril sudah mem-posting catatan ini. Tak ada yang berbeda. Saya hanya menambahkan sedikit warna pada letaknya. Terima kasih pada Keranda Hitam dan Kyai Setan Kober. Jabat erat hati.

***
Status : Bunda Djibril
“kerumunan hujan menjelma pasar, menjual gigil dan menawar perigi pada tepi hatiku yang nyaring tanpa bunyi, seketika malam membelah bulan, tak bisa kuhitung suara, kantuk tak sesal karena tak tidur semalaman, sekrang.. burung mengikis sayapnya, dari embun yang beku tadi malam, sekrang.. pagi merangkak ke jalan raya, di… sana dia mengutip mimpi yang terbirit di incar matahari pagi.”

Adhy Rical
sejak tadi udah di atas rakit. hehe.
akulah pasar, ikan-ikan di sini.
hanya butuh dua langkah menyelam bersama mereka. 🙂

Bunda Djibril
dan seberapa besar arus, membawamu ke entah, dan berpendar pada hitam laut petang, dan sepasang ikan berenang di dadamu yang maha laut itu

Adhy Rical
arus hanya sebesar keringat tapi daki di dadaku seluas lumpur sungai. jika ada doa dan restu, itulah air yang mahalaut.

Bunda Djibril
cukuplah, tak bisa berbatas katamu, karena itu pun perigi, kusebut kali, itupun sumur ke sebut mata air, dan itu pun lumpur, kusebut gelombang petang berkeruh, adapun kau laut, aku yang tau, karena di beringas ombakmu, aku mengabut, aku melaut…

Adhy Rical
aduh
aku mau tenggelam nih
jadi ikan saja
berenang di matamu
biar tak ada debu

Bunda Djibril
haha, silahkan, tapi awas, bui akan menjelma kail, kelak kau akan terpancing, umpan senja sangkut di matanya, ada beberapa ikan terjerat, haha, sekarang sudah sekarung..

mau kukail rindu di matamu
biar cecah bulan pasangkan laut ku

Adhy Rical
tahu ikan pemakan lumut?
ia tak butuh kail tapi selalu datang untukmu
melumat semua lumut yang bergaris
agar kekasihmu memeluk sampai pagi…
dan mengumpulkan daki-daki
untuk sarapan petang hari

Keranda Hitam
hehe..
seruu neh..minum kopi enak..lanjuuut..!!

Bunda Djibril
terlalu dalam kau mengarung aku,..
adalah aku sebagai diriku,
santun betul kau menjadikan aku hidangan mu
silahkan, telah letak piring dan sisiku, pada perjamuanmu
maka, santaplah, tanpa sendok dan garpu…
tanganmu adalah lahap yang rakus pada aku

Adhy Rical
ikan itu tak lebih besar dari lentik matamu
sendok dan garpu seluas rumahku
maka daki hanyalah bagian di luar tubuh yang tak kau hirau.

percaya deh, tubuhmu tetap bersih lebih dari yang kau duga. tak perlu bawa keranda besi tapi tawaran kopi keranda hitam, maaf. tak bisa kutolak. 🙂

Bunda Djibril
haha…

tubuh itu cuma gaun yang lingkap pada daging, dan darahku, masalah daki hanyalah garis pelik hidup yang nyasar di puasaran pundak, ketiak, dan jelaga leherku, ada pun kau menemukan nya, itu lah duniaku, penuh lukuk, meski sempat kuluruskan sekali waktu..

keranda membawa kan kopi, biar keuteguk sekali, lalu kurendam pusara nadi bersama kang adhy, haha, samsu sebatang dong,, hahaha

Adhy Rical
baiklah.
sebab air meninggi
ikan-ikan lain menyimpan tawa dalam jaring
kusimpan satu sirip

: napasku setengah tiang
percayalah
aku hanya datang jika matamu basah
itulah sungai lumutan yang tak pernah habis

bye 😉

kopinya titip dulu, samsu juga untuk malam nanti. siang gini, mild lebih asyik

Keranda Hitam
haha..gw punya esse mint..lainnya buatku muaaal

Bunda Djibril
lekangkan satu sisik, untuk kusimpan kala bersisir, biar pun kau tak datang, belaimu pada rambutku yang gemerentang cukup mendiamkan tangisku yang terendam bulan..
kutunggu datangmu, pada kala berikut, saat senja menikuk ke muara, dan laut legam tak berombak…

c-u

aduh, kalo mild, bisa batuk hehehee.. kebelakang dulu akh, nyeduh dan ngaso. asekkkk

Bunda Djibril
keranda, kemon, ke belakang, wah abang adek tuh, esse, samsu.. hahhahha

Keranda Hitam
abang dipanggil produser keseleg plot..hehe

Bunda Djibril
haha,. maho ajah..

Kendari, 2010

dokumentasi AR


Sastra dari Kamar Ibu

(Serpihan dari beberapa catatan yang hilang entah kemana)

Oleh Adhy Rical

Tepat. Kita tidak perlu repot mencarinya. Sastra begitu dekat dengan kita. Sedekat mulut kita dengan puting susu ibu. Begitu dekatnya, kita sering lupa bahwa apa yang pernah didendangkan atau didongengkan sebelum tidur adalah bagian dari sastra yang banyak dinikmati dari berbagai sumber. Yupz.

Baiklah. Kita mulai dari sini. Kota Kendari? Ah, bukan. Ini kota masih pemberian tidak sengaja orang Jepang. Konawe bagaimana? Menarik. Kota yang dulu sabana. Kota yang diyakini dalam legenda To-Laki turunnya manusia pertama, Oheo.

Waduh. Kok tambah rumit, ya. Kita hendak bicara sastra, sejarah, atau mitos? Tak apalah. Begini saja. Mari kita bicara dari hati saja. Kata ibuku, hati yang tenang dan bersih sangat sulit ditemukan sekalipun pada orang yang jujur. Nah, begini lebih baik. Saya hendak bilang: tulislah apa saja dan tentang apa saja. Mungkin tentang anak-anak sekolah di kampung adat Hukaeya-Laea yang fasih menulis dengan belimbing hutan. []

Diary atau buku catatan harian mungkin kian kurang digunakan karena fasilitas benda elektronik sudah memiliki fitur tersebut. Tetapi, bagaimana pun menulis tetap perlu sekalipun untuk hal-hal yang tidak perlu. Ia perlu untuk mencatat hal-hal terkecil yang luput dari perkiraan orang seperti ketika tali sepatu terlepas, kancing baju terjatuh, topi yang tertiup angin, sms nyasar atau miscall yang datang setiap hari. Bukan main. Begitu banyak kata-kata yang bertaburan apalagi jika Anda termasuk orang yang suka ngerumpi/menggos/gosip atau bacrit atau apalah istilahmu (hanya kamu yang tahu). Kenapa tidak ditulis? Sulit memulai dengan kalimat pembuka? Tak apa. Tulis semau dan sesukamu. Biarkan ia bebas. Tak perlu cari kata-kata yang rumit untuk menulis itu semua. Buatlah dengan kata yang sederhana, bebas, meskipun tidak terarah. Hanya satu yang mesti diingat, mulailah dengan bahasa yang santun.

Santun. Saya menyukai kata ini karena lebih teduh. Seteduh kalimat ibu saat kita hendak ke sekolah. Lupakan referensi dan panduan menulis lainnya jika anda hendak menulis. Biarkan ia mengalir secepat pikiran yang datang. Biarkan ia jadi dulu dengan tidak berbentuk. Butuh waktu memang untuk membentuknya. Bisakah Anda menulis surat cinta hari ini kepada orang yang anda kagumi? Aha. Senyummu itu, kusuka. Tetaplah dengan semangat. Ini mudah saja. Sekali lagi. Sastra bermula dari kamar ibu. Mari, kita susuri cerita dari kamar ibu kita. Lupakan ayah untuk sementara yang membantu ibu hingga kita ada. Di kamar ini.

Tak kusangka, masih bisa menulisnya dengan jempol. []


Ikan Bambu Bumbu Indomi

Oleh Adhy Rical

Jangan sekali-kali menganggap ini resep makanan sekalipun kau penggemar kuliner nusantara. Bukan. Ini mantra penjinak buaya agar kau acap mendengar kisah selanjutnya. Paling tidak, ikan bambu bumbu indomi itu seperti apa ya? Hmm, yummy kunae deela.

Sebentar! Kita mulai dari menara runtuh sebab itulah tanda memasuki kawasan terlarang. Dulu, di jalan ini, ratusan jonga dapat kau temui dengan mudah. Saking banyaknya, pengendara dapat saja membawa pulang satu-dua ekor, hasil tabrakan.

Jaraknya cukup jauh. Sembilan kilometer. Kau harus melalui sabana, tak satu pun pohon tumbuh, belum lagi melewati rawa buaya, belum lagi hutan yang jarang terjamah, belum lagi kendaraan mesin tak bisa lewat. Lagi-lagi belum. Menarik, unik, dan menantang. Tentu saja tak semenantang cicak-buaya di ibukota. Padahal buaya itu hewan penyayang, matanya lebih bening daripada mata kasmaran. Lebih dari 100 GB gambarku yang bisa buktikan itu. Entah, apa maksud orang ibukota menganalogikannya begitu.

Kami terpana begitu sampai rumah pertama di mulut kampung. “Ini bukan rumah”, kata kawanku. “Biarlah, daripada benjol”, timpal yang lain. Bisa jadi karena kalian tak pernah melihat rumah seperti itu. Kalau dilihat sepintas, mirip malige (rumah adat suku Wolio). Tak satu pun berpasak. Paling jauh, mereka hanya mengandalkan ikatan rotan, itupun dengan simpul yang sangat sederhana.

Hai, kau tidak sedang menilai struktur rumah kan? Kapan ikan bambunya? Ini sudah ¼ jalan. Tak satupun tanda kita akan mengarah ke sana.

Sebentar! Ranselku mulai terasa berat. Ya ampun. Baru terasa kalau setiap ransel beratnya 35 kg. Wufh. Pedestrian ketengan seperti kami memang tak setangguh pemakai laras.

Baiklah. Aku hanya ingin bilang, kalau setiap malam ada banyak mantra yang didendangkan. Bunda Tiye paling ahli ber-modulele. Konon, tak satupun ramalannya meleset. Hmm, lain waktu, boleh kukatakan apa ramalannya tentangku padamu.

“Kau tahu, aku akan masuk dalam mimpimu. Jika tiba saatnya nanti kau terbangun, kau akan melihat sebuah buku tua di sini yang sama dalam mimpimu”, katamu dingin.

“Benarkah?”

“Kita bertemu besok setelah kokok ayam kedua. Kau boleh bawa semua alat perekammu. Ceritakan yang sebenarnya kau lihat dalam mimpi semalammu. Kau akan percaya bahwa sebenarnya aku mengamati mimpimu.”

Ai ai, kau pandai sekali Bunda. Caramu mengajakku melebihi motivasi sutradara. Malah lebih teduh daripada peramal-peramal di tipi. Ah, sayang, hape pun kau kira batu dari kota pengganjal lemari. Kemah yang kami bawa malah kau bilang seperti cerita kakekmu waktu lelaki bermata biru itu membawa rumahnya setiap waktu.

“Baiklah. Aku ingin merapal mantramu. Boleh yah?”

“Kau belum tentu bisa merapal mantra dengan benar apalagi memberikan secara tepat pada orang yang kau tuju.”

“Bukan itu Bunda. Aku hanya ingin mengejanya kemudian mendendangkannya seperti kau menidurkan cucumu tanpa kisah-kisah lelaki hebat yang bisa terbang dengan baju kaos atau lelaki bertopeng. Biarlah kukatakan dengan sederhana, mantramu memiliki bunyi yang menuntunku lebih dekat padaNya.”

Kau hanya memperlihatkan sebuah Kotika Tadahoro (primbon suku Tolaki) lalu tersenyum sambil meletakkan tiga helai pandan dan sebuah buku tua yang sama persis kulihat semalam di alam mimpi. Hmm, kau mengajakku belajar melawan sunyi dengan diam.

***

“Bawalah batu ini kali Yala, carilah ikan di sana dengan batu!”

Belakangan kutahu, kalau batu yang kami terima masih banyak di kali Yala. Batu itu hanya alat untuk menumbuk batu-batu kali lainnya agar ikan-ikan segera keluar dan lebih mudah kami tangkap. Teknik sederhana yang bagus. Ikan bambu bumbu indomi, segeralah!

Mulailah kami bekerja selayaknya orang yang paham benar tentang ikan. Setelah beres, tibalah daging ikan dimasukkan ke dalam bambu. Dibakar seperti nasi bambu. Langsung siap saji jika telah masak. Bumbu indomi layak dipakai, lebih instan. Gurih benar.

Hah! Sesederhana itukah?

Iya.

Memang benar. Tidak ada hubungan mantra dengan ikan bambu bumbu indomi. Sejak tadi kita tidak sedang bicara ikan bambu kan? Hanya mantra penjinak buaya. Tapi kau harus yakin, mantra ini tak pernah mempan di kota. Ia hanya mempan pada orang yang hatinya benar-benar terbuka bersih dan jujur. Mantra apa itu?

Modulele. Mulanya modulele itu hanya lagu biasa. Lagu pengantar tidur. Semakin larut, perihnya semakin terasa. Karena tak mendengar sebelumnya, kubiarkan saja perekamku berjalan unlimited. Terjemahannya begini:

ini tanda leluhur kami
adat tak akan mati
kalau hanya kau bakar rumah kami

ini tanah lahir kami
kami tak akan mati
kalau hanya kau paksa kami melahirkan

Bunda benar. Belum pernah saya melihat perempuan yang dipaksa melahirkan dengan todongan senjata. Mereka memang tidak menembakkan peluru itu tepat di perutmu tapi itu lebih sakit karena selalu hadir setiap matamu akan terpejam. Nyawa yang mereka ambil lebih mudah daripada melempar batu kali.

Sekali lagi Bunda benar. Buaya kota memang sanggat kejam. Mereka mengumpulkan semua lelaki di surau lalu memberikan hadiah yang tak pernah kau lupa seumur hidupmu. Satu peluru yang bersarang di setiap kepala lelakimu.

Subahanallah. Mungkinkah mereka lelaki pertama yang mencium surga di telapak kakimu, Bunda? []

Rumah Ondo, 18 Desember 2009

——–

Baca literair tentang tulisan ini :

Literair : Moodulele, Menani, Syair Tua Orang Moronene

Kajian Ikan Bambu Bumbu Indomi-nya Adhy Rical

Oleh Ilham Q. Moehiddin

Literair : Moodulele, Menani, Syair Tua Orang Moronene (2)

Sastra Lisan Tradisional Orang Moronene yang Berayun Pada Zaman

Oleh Ilham Q. Moehiddin


%d blogger menyukai ini: