Tag Archives: persahabatan

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Tourist yang Tersesat yang Menyenangkan

Oleh Afrilia Utami

Sore, (12/09) di kagetkan dengan kedatangan bule asing, bersama dengan Teten Rustendi (om saya) yang saat itu membawanya ke tempat kediaman kami. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba tanpa kabar ada seorang yang tampan rupawan, hahaha.

Hanya berpakai celana Jeans Pendek, kaos, topi, dan sebuah ransel besar, beserta kacamata hitam pekat yang tepat di gantungkan di kerah bajunya.

Owh, hello… My name Brian Davidson. I’m from Texas (America)” dengan senyum yang sumringah.

Hai.. I’am Afrilia, Ok. Sit down over there, please…” jawabku dengan sedikit gugup.

Thank you, Nice to meet you.. A..ff..rilial…

No…no. My name Afrilia. But, you can called me A-F-R-I-L.”

“Afril… OK, your name’s difficult.. haha..

Berbincang dengannya sangat menyenangkan. Terlebih ia sudah berada di Indonesia kuranglebih selama dua bulan. Sebelum menuju Tasikmalaya, ia mengunjungi Sumatra, Jakarta, Padang, Yogyakarta, dll untuk mempelajari alat musik tradisional ‘Gamelan’.

Pertemuannya dengan Teten Tustendi, di awali dengan ketidak sengajaan. Ketika itu Om Teten sedang makan di luar. Tiba-tiba melihat seorang bule yang ternyata benar dalam keadaan tersesat, setelah di tanya tujuannya ialah menuju pantai Pangandaran. Tetapi tersasar sampai di Tasikmalaya. Bukan tanpa sebab ternyata dibalik itu semua iapun tidak begitu menguasai bahasa Indonesia. Mr. Brain dalam usianya 23 tahun sudah berkeliling hampir seluruh negara bagian bawah katulistiwa. Hampir semua negara pernah ia kunjungi, ya beliau seorang adventurer. Berpetualang sendiri. Dan memang sungguh berani, belum mental di uji.

Pemilik nama Lengkap Brian Davidson ini, selain ramah dan mengasikkan. Ia pandai memainkan catur, kartu, terutama Jugle. Ya, kami bersenang-senang seharian penuh dengannya. Hahaha, seperti ada mainan baru. Seorang Atheis yang tiba-tiba menggemparkan kami. Ia ingin belajar Islam lebih dalam, Mr. Brain selalu membawa catatan kecil di saku kanannya, dan sebuah kamus kecil English-Indonesia di saku kiri celananya. Dalam catatan kecilnya, ia selalu menulis apa yang ia temukan. Ternyata ia telah merangkum banyak pertanyaan tentang Islam, yang semakin mengagetkan ia mempunyai sebuah Al-Qur’an tiga bahasa.

Menurutnya “I love Islam more than Christianity. Though I knew little about Christianity. Democracy in the religion of my family (Islam lebih saya sukai, daripada Kristiani. Meski saya tahu sedikit tentang Kristiani. Keluarga saya Demokrasi dalam agama.)” jawabnya saat di tanya.

Why would you want to learn Islam (mengapa anda ingin mempelajari islam?).”

Dalam diskusi membahas tentang agama, tentu sangatlah menarik dan asik. Banyak pertanyaan-pertanyaan beliau yang terkadang mengapa sulit ya…di jawab dengan rumusan dalam bahasa English. “Why I should fear God?“. “What God tells us to fight the apostates and infidels?“. “What is an apostate and infidel?

(Mengapa saya harus takut kepada Allah?”. “Apa Allah menyuruh kita untuk berperang kepada orang murtad dan kafir?”.”Apa yang dimaksud dengan murtad dan kafir?)” dan tentu masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.

Esok pagi, om saya mengajak Mr. Brain untuk berkeliling kota naik sepeda. Dengan riangnya Mr. Brain langsung siap dan sangat bersemangat. Sesudah berkeliling sekitar 45 menit. Mr. Brain ingin mencoba makanan nasi T.O, ia melihat di internet tentang Nasi T.O dan ingin mencoba.

Hahaha, tidak salah saja ada bule di suruh makan nasi T.O dengan tangan telanjang tanpa sendok dan garpu yang setiap harinya hampir tidak alpa di atas piring berdampingan juga dengan serbet sarung. Melihat cara makannya, cukup membuat kami tersenyum sembunyikan tawa. Lama sekali, berulang kali ia sulit mengumpulkan nasi untuk menyuapkannya ke dalam mulut. “Waw, that’s Good. Hmm… “ ujarnya berkali-kali.

Kecerdasan dan ketangkasaan beliau cepat tanggap dalam melahap ilmu. Ia menguasai beberapa bahasa Spains, Korea (pernah menjadi guru bahasa English di Soul, Korea Selatan), Japan, dan mungkin sekarang bertambah bahasa Indonesia.

What you think about Indonesian society?

Yeah, saya senang with Indonesian’s People. They’re open hmm… terbuka.. dan I Love it, in here. Sa..yaa.. menyukai alat tra..disional music Indonesian and Indonesia’s culture. Before datang saya ke Indonesia. Saya ke Malaysia. Malaysia’s People tertutup.. tertutup, do you know tertutup?” jawabnya dengan bahasa yang gado-gado (campur English-Indo).

Hari-hari bersamanya adalah hari yang sangatlah menyenangkan. Banyak tawa jenaka yang lahir bersamanya. Senyum Mr. Brain itu yang kerap terpatung dalam mimik rautnya.

I hope you will never forget me..” ucap saya yang pelan membisik padanya.

Yeah .. Of Course. And I expect the same.. I glad to see you..

.. Begitulah muasal persahabatan dengan tourist tersasar itu.

14 September 2010

[]


Persahabatan Bagai Kepompong

Oleh Hera Ibrahim

Siang itu Kamis, 15 April 2010 matahari bersinar garang. Tapi, udara di rumah Niniel (salah satu dari 10 perempuan yang tergabung dalam kelompok Mini’s), yang terletak di kawasan Pratama Hills Lebak Bulus, Jakarta Selatan terasa sejuk. Tetumbuhan yang menyemak di sekitar kolam renang belakang rumah bagus itu mengirim angin sepoi-sepoi dan membelai semua perempuan yang tengah saling berebut bicara. Anehnya, semua punya topik seru untuk diperdebatkan. Maklum, karena kesibukan masing-masing, kami hanya bisa berkumpul sebulan sekali.

Saking serunya, ternyata, meski saat itu semua mengeluh lapar tapi tak ada satu pun yang beranjak menuju meja makan yang telah penuh dengan makanan lezat. Semua mencoba menahan lapar karena masih menunggu Intan, teman paling gaduh di antara kami.Intan yang ditunggu-tunggu masih 10 menit lagi baru akan tiba. Ia harus singgah membeli empek-empek di kawasan Kebayoran Baru.

Ya, kesepakatan kami memang masing-masing membawa makanan. Tentu saja setelah “conference” lewat BlackBerry Messanger dua hari sebelumnya, untuk meng-klopkan menu. Aku sendiri kebagian membawa Bandeng Pesmol, Noni dan Mila membawa Ikan Cakalang Asap Bumbu Rica dan Ayam Woku, Ina dengan Kangkung Plecing khas Lombok, Santi dengan Ayam Bakar Bumbu Rujak, Dewi membawa Rujak Buah, Niniel si nyonya rumah menyiapkan nasi dan bakso super lezat dan sehat karena dijamin tanpa borax dan bahan pengawet (katanya), dan Janti yang berbaik hati membawakan dua tart cantik untuk merayakan ulang tahun Ina dan Noni yang baru lewat beberapa hari lalu.

Sembari menunggu Intan semua berusaha “menipu” cacing-cacing di perut dengan memakan rujak buatan Dewi sembari berharap Intan segera datang. Tapi, karena setelah lewat 10 menit ditunggu Intan tak juga datang, akhirnya semua menyerah! Satu demi satu berjalan menghampiri meja makan dan segera memilih makanan kesukaan masing-masing. Niniel tiba-tiba punya ide memotret kerumunan kami di sekitar makanan dan segera mengirimnya ke BB Intan disertai permohonan maaf karena kami mendahului makan. Hal itu bukan bermaksud menghormati Intan yang memang lebih tua dua tahun dari kami, tapi justru mengompori agar ia segera datang sebelum makanan tandas. Syukurlah, tak lama kemudian wanita cantik satu itu akhirnya muncul juga di tengah-tengah kami.

Kebersamaan kami memang seru. Meski tak selalu bisa lengkap 10 orang hadir dalam setiap pertemuan, tapi hal itu tidak mengurangi hangatnya perjumpaan kami. Usia persahabatan kami yang telah puluhan tahun telah sampai pada titik saling menerima dan saling memahami karakter masing-masing. Maka, kalaupun ada salah satu di antara kami yang tengah bad mood ketika berkumpul dan bersikap sangat menyebalkan sekalipun justru menjadi bahan tertawaan bagi kami semua. Keanehan siapa pun di antara kami bahkan kerap menjadi bahan guyonan yang tak habis-habisnya. Tidak ada saling marah apalagi sakit hati. Semua hal kami maknai lucu dan menyenangkan.

Biasanya kami berkumpul di cafe atau restoran, tapi kali ini kami memilih di rumah Niniel karena suatu alasan. Kondisi kesehatan Niniel yang agak menurun membuat kami mengubah kebiasaan kumpul-kumpul di luar. Kesediaan masing-masing kami membawa makanan juga bermaksud tidak mau merepotkan nyonya rumah, karena niatan kami yang utama adalah menjenguk Niniel. Namun, pada prakteknya Niniel justru sibuk menggiling daging untuk bakso sejak hari masih gelap, dan kegaduhan kami juga membuat tensi teman ayu kami itu menjadi drop saking kelelahan ngobrol dan bersenda gurau selama hampir enam jam! (semoga Mas Wawiek yang suami Niniel tidak menjadi gusar pada kami). Dan semoga sjuga kehadiran kami bisa menjadi energi yang membuat Niniel kembali sehat dan bugar.

Kebersamaan kami memang harus disyukuri. Kesediaan masing-masing pribadi untuk tetap peduli satu sama lain pada saat-saat penting seperti misalnya ketika salah seorang di antara kami ada yang sakit, adalah bukti bahwa jalinan hati kami semua sudah sangat erat. Jakarta yang gaduh tidak membuat kami tenggelam dan tidak punya waktu lagi untuk saling berbagi dan saling peduli.

Persahabatan memang bagai kepompong. Ia membuat kami bersama-sama tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang kian matang dan bijak. Kelebihan dan kekurangan tiap pribadi menjadi inspirasi dan bahan pembelajaran bagi yang lainnya, sehingga kelak akan membuat semua menjelma menjadi kupu-kupu yang cantik dan menggemaskan. []

Sumber: http://www.facebook.com/hera.ibrahim


%d blogger menyukai ini: