Category Archives: Cerpen

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-VI, Juli – Agustus 2012

@Cover VI Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VI, Juli – Agustus 2012

Periode: 29 Juli – 05 Agustus 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-V, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-V, Juli 2012

Periode: 23 – 29 Juli 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

E-Book Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-IV, Juli 2012

Periode: 16 – 22 Juli 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-III, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mendonwload

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-III, Juli 2012

Periode: 09 – 15 Juli 2012


[Cerpen] Duniaku

Oleh Fanny J. Poyk

 

Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mahluk yang bisa mencintaiku tanpa menoleh ke belakang, tanpa meneliti dengan cermat segala hal dalam lekuk tubuhku, dalam benak akal sehatku, dalam hati dan perasaanku.

… Aku adalah aku, mahluk Tuhan yang patut dicintai dan mencintai. Aku tetaplah aku meski semua fatamorgana telah tercipta untukku. Aku akan selalu menghapus air mata yang mengambang lemah di kedua pipiku. Aku akan selalu berkata, oh derita…pergi…pergilah kau dari sisiku.

Itulah aku. Dan aku tetap seperti aku apa adanya. Aku menerima cibiran dan pandang sinis dengan senyum getir. Karena sesungguhnya aku adalah sosok yang terus berjalan dalam kegetiran itu sendiri. Aku menerima semuanya dengan pasrah, sepasrah wujudku yang dirongrong beragam virus ganas yang perlahan-lahan melemahkan seluruh sendi dan sel-sel di tubuhku. Aku sadar sakratul maut berjalan perlahan mengikis hari-hari yang setia menemaniku. Aku sadar, aku mengutuk dan menyesali diriku, mengapa…mengapa semua ini menimpaku. Virus-virus itu kini entah telah menyebar kemana, karena sebelum aku tahu dia bersemayam di tubuhku, aku telah mengencani banyak lelaki.

Aku tahu dosaku terus menumpuk dan menumpuk. Akan tetapi…aku tak kuasa untuk merintanginya. Dan ketika lelaki bernama Pram itu datang dengan cintanya yang tulus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatnya menderita. Dia adalah lelaki terkasih yang membuatku berharga sebagai perempuan, sebagai manusia, sebagai mahluk Tuhan yang ingin mencintai dan dicintai. Pram…mengenang nama itu, air mata membasahi pipiku. Dia datang dengan setumpuk cinta untukku.

“Aku tidak peduli siapa dirimu, cinta telah menggiringku kepadamu…” katanya jujur sekaligus naif.

Aku meradang. Ingin kutolak semua keindahan yang telah ia berikan. Namun aku tak kuasa. Tatkala ia melamar dan memintaku untuk menemui orangtuanya, batinku menangis.

“Apa yang membuatmu yakin sehingga kau begitu ingin menjadikanku isterimu, Pram?” tanyaku.

“Kamu cantik, kamu mencintaiku, dan…kamu baik,” katanya tulus.

Aku terdiam. Kucari makna di balik kalimat pujiannya. Apakah lelaki ini bodoh? Pikirku. Matanya yang polos tidak menyiratkan beragam dusta, cibiran atau jebakan. Aku mulai menyukai apa yang ada pada dirinya. Aku merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang benar-benar manusiawi. Dia berbeda dengan puluhan laki-laki yang pernah kukencani.

“Aku sungguh mencintaimu. Kita akan hidup bahagia,” katanya meyakinkan.

Aku tertawa getir. Pram… Aku tidak berani berjanji. Aku hanya berani menikmati saat-saat indah yang kauberikan, meski hanya untuk sesaat saja. Aku tahu kau meradang tatkala kutolak lamaranmu, kau berlalu bagai singa yang terluka. Kenyataan itu memang membuatku merintih pilu.

Di kamarku, aku merenungi takdirku. Kulihat diriku di depan kaca. Inikah aku? Dalam wajah cantikku tersembul sosok asing yang selalu kubenci. Aku selalu berusaha memusnahkan sosok tersebut dalam bentuk apapun. Namun, beratus bahkan beribu kali kulakukan, dia tetap kembali dan kembali lagi.

Aku adalah aku, wajahku cantik. Hidungku bangir. Bibirku seksi. Mataku indah, rambutku hitam, lebat dan panjang bergelombang. Lekuk tubuhku sempurna. Semuanya indah, seindah sosok wanita yang bersemayam di jiwa dan imajinasiku. Aku adalah aku, aku tak pernah minta dilahirkan seperti adanya aku saat ini. Aku tak ingin memanipulasi raga seperti yang kulakukan saat ini.

***

Malam ini, aku kembali melanglangbuana. Melenggang di antara remangnya Jakarta. Kupamerkan lekuk indah moleknya tubuhku pada mobil-mobil mewah yang lewat. Aku tertawa, aku melirik genit menunggu lelaki hidung belang turun dari mobilnya dan membawaku pergi. Kucari mangsa baru dalam hiruk-pikuk dan pekatnya udara malam Jakarta. Kubasuh dukaku untuk sejenak membaur dalam hingar bingarnya euforia sesaat yang kini kurasa.

“Selamat malam, sayang. Siapa namamu?” tanya seorang lelaki dari balik kaca mobil mewahnya.

“Namaku Mona.”

“Ayo masuk!”

Kubuka pintu mobil sedan mewah itu dengan elegan. Perjalanan panjang seperti yang sudah pernah kulakukan kembali kulalui.

“Benar namamu, Mona?” tanya lelaki itu.

“Tergantung!”

“Besok namamu apa?”

“Belum bisa kukatakan sekarang.”

Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.

“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya.” Katanya sambil menarik bahuku kasar.

Aku diam, kubiarkan ia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa lagi aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.

Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gajih bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa…mengapa ini menimpaku?

Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa… mengapa… aku seperti ini?

Tuhan, aku berdiri menatapMu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin merubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.

Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ihklas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta. Aku kerap menertawai diriku. Pada cermin aku bertanya, mengapa…mengapa pada raga ini tersimpan status yang berbeda?

“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab kegundahanku.

“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.

“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”

“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”

Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.

Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.

Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai dewi malam yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi wanita jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Dengan nama itu pula kelak aku dimakamkan.

Inilah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, pada siapa saja yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, perkenalkan, namaku Ryantono! ***

Depok, Maret 2009


[Cerpen] Mencuri Perahu

Oleh Ilham Q. Moehiddin

 

“Ama (bapak), benarkah aku anak ikan?”

“Siapa yang mengatai kau macam itu!” Meradang Ama Bandi mendengar pertanyaan Ripah, anak perempuan lima belas tahun itu. Buku-buku jemarinya mengeras. Sepertinya, hendak lekas saja dia meninju seseorang.

“Orang-orang di pasar membiarkan anak mereka mengejekku,” jelas Ripah. Mukanya pucat melihat Amanya dipenuhi amarah.

Bandi melompat dari kursi, sigap melepas sarung, dan menurunkan sebilah Taa (parang pendek) dari gantungannya.

“Tak usahlah Ama melayani mereka. Aku tak apa-apa.” Sergah Ripah pada tingkah ayahnya.

Suara datar Ripah membuat Bandi menghentikan gerakannya. Mukanya heran, amarahnya tiba-tiba surut. “Mengapa Ripah…?”

Bandi berjongkok, meletakkan bilah Taa itu di lantai, lalu menatap anak perempuannya itu, “Ama akan membelamu jika ada orang yang mengejekmu serupa itu.”

“Tak perlu. Tindakan Ama hanya akan membuat mereka kian menjadi-jadi. Makin malu aku dibuatnya nanti,” ujar Ripah sambil mengusap air matanya.

Bandi terunduk. Dihelanya napas perlahan.

“Ripah… kau tak perlu mendengar bualan mereka. Mana ada anak ikan itu. Manusia tentu beranak manusia.”

Ama Bandi mencoba mengajak anak perempuannya bicara baik-baik.

Ripah langsung berdiri. Mendelik pada ayahnya, lalu berjalan masuk dapur. Bandi bangkit dari jongkoknya, menggantung kembali Taa pada sangkutannya dan berjalan ke bibir jendela. Matanya menyapu pinggiran pantai Talaga Besar yang sedang dihadang angin barat.

Sudah sepekan dia tak melaut. Pun sama dengan kebanyakan nelayan lainnya. Banyak di antara mereka tak ada yang berani turun melaut jika musim angin barat. Tetapi, untuk alasan tertentu, sesekali ada juga yang memberanikan diri menyabung nyawa di lautan.

Tapi, Bandi tak mau ambil risiko seperti itu. Anaknya hanya Ripah dan belum menikah pula. Istrinya sudah lama wafat ketika melahirkan Ripah.

***

 

Ketika Ripah masih bayi, imannya nyaris tak kuat jika mendengar gunjing orang banyak perihal istrinya. Entah setan apa yang merasuk ke hati dan pikiran Salamah, istrinya itu, hingga dia berbuat nekat begitu.

Setelah persalinan, bahkan ari-ari bayi belum sempat diputuskan, Salamah tiba-tiba bangkit dari pembaringan dan melompat keluar rumah, berlari menuju pantai. Gerak cepat Salamah, tak disangka Bandi. Tak dapat dikejar istrinya itu sehingga terlambat baginya menghalau Salamah menceburkan diri ke laut. Tubuh salamah langsung hilang ditelan ombak besar. Kejadiannya juga persis saat musim angin barat.

Bandi menduga, istrinya itu jadi gila memikirkan ekonomi keluarga mereka. Musim angin barat yang panjang membuat kedua orang suami-istri itu resah. Bandi harus punya uang untuk persalinan Salamah, tapi istrinya itu justru mencegahnya melaut.

Maju tak mungkin, apalagi mundur. Mereka berdua benar-benar terjepit keadaan. Maka, itulah sebabnya barangkali Salamah berpikiran pendek. Bunuh diri dengan cara gila macam itu.

Semalaman semua lelaki di kampung nelayan itu mencari tubuh Salamah, termasuk Bandi. Si bayi dititipkan pada bidan desa yang membantu Salamah melahirkan. Hingga pagi menjelang, mereka tak menemukan tubuh Salamah. Bukan jasad perempuan itu yang mereka dapati di sekitar pantai, justru seekor ikan duyung (pesut) yang bertingkah aneh.

Ikan duyung itu berenang ke sana-kemari mengitari pantai. Sesekali menyembulkan separuh tubuhnya ke permukaan air, lalu berbunyi sesekali. Orang-orang yang sedang sibuk mencari jasad Salamah mencoba mengusirnya, tapi ikan duyung itu tak juga mau pergi. Entah dari mana datangnya ikan itu.

Bandi tidak mempersoalkan kehadiran ikan itu. Bukan hal itu yang membuat dia risau, melainkan gunjingan orang setelah tiga hari kemudian. Semua penduduk lelaki memang tak berhenti mencari selama sepekan, tapi mulut perempuan-perempuan kampung pun tak juga berhenti bergunjing.

Mereka mulai menanggapi kehadiran ikan duyung itu sebagai jelmaan Salamah. Lama kelamaan pergunjingan itu bertambah liar dan nama Bandi mulai pula disangkutpautkan.

“Pantas saja hidupnya susah, si Bandi itu mengawini ikan duyung rupanya.” Demikian gunjing seorang perempuan.

“Eh, ikan duyung kan bawa sial pada nelayan. Ikan itu harus diusir jika mendekati kapal. Si Bandi itu malah mengawininya ya?” sambar perempuan lainnya. Lalu, ramai di antara mereka membincangkan satu masalah itu saja.

Mereka bahkan mulai menyebut-nyebut bayi Salamah yang bahkan belum diberi nama itu. Mereka mulai melarang siapa saja datang menjenguk bayi Salamah. Takut kena sial, kata mereka. Jika bertemu Bandi sedang menggendong bayinya di depan rumah, mereka buru-buru berlalu tanpa menyapa. Bahkan, menoleh pun tidak.

Keadaan inilah yang selalu dikhawatirkan Bandi. Sejak duhulu, dia sudah menduga akan datang saat-saat seperti ini. Ripah akhirnya harus menghadapi situasi dan sikap kolot masyarakat di sekitar mereka. Dahulu Bandi pun masih suka percaya takhayul macam itu, tapi semenjak dia bisa membaca lewat program paket B, perlahan-lahan banyak takhayul yang tak masuk akal harus dia buangnya.

Tetapi, Ripah, apalah daya gadis remaja seusia dia menghadapi cemooh dan gunjingan orang sekampung. Kejadian di pasar barusan itu membuat Bandi makin khawatir.

***

 

“Ripah!” Panggil Bandi dari ruang tamu.

Tak ada sahutan dari kamar putrinya itu. Waktu Maghrib baru saja berlalu. Bandi menuju dapur. Perutnya minta diisi. Aroma harum kuah santan dari arah dapur begitu menggugah seleranya. Tapi, Ripah tak ada di dapur. Ah, barangkali anak itu sedang mengambil air, mengisi bak di belakang rumah.

Bandi memutuskan makan lebih dulu. Jika dibiarkan dingin, sayur kuah santan itu tak akan lezat lagi.

Baru saja separuh piringnya tandas, Bandi terkejut bukan main. Darahnya mengalir cepat. Dia melompat dari kursi, meninggalkan makanannya begitu saja. Tak menjejak anak tangga lagi, Bandi melompat seraya berteriak pada adiknya yang kebetulan berumah persis di sebelah rumahnya.

“Bakri…keluar kau! Keluar Bakri…!!”

Bakri tampak menjulurkan kepalanya dari jendela. “Ada apa?! Mengapa berteriak malam-malam begini?”

“Turun kau…! Bantu aku cari kemenakanmu. Cari Ripah! Dayungku hilang. Perahuku dicuri!” Balas Bandi berteriak.

Wajah Bakri pun pucat. Tanpa menghiraukan istrinya, Bakri ikut melompat turun dari rumahnya dan mengejar Bandi yang sudah lebih dulu berlari ke arah pantai. Entah kesulitan apa yang sekarang dihadapi kemenakannya itu.

Orang-orang yang mendengar teriakan Bandi pun ikut keluar rumah. Mereka menghadang Bakri dan bertanya, “Ada apa dengan kalian?”

“Dayung Bandi hilang!” teriak Bakri pendek, sambil berlari mengejar kakaknya.

Orang-orang lelaki itu pun ikut pucat. Mereka tak membuang waktu, ikut berlari menyusul Bakri dan Bandi.

Hanya kaum lelaki di kampung itu yang menaruh simpati pada keluarga Bandi. Mereka mengabaikan permintaan istri mereka untuk tidak bergaul dengan Bandi.

Setibanya di pantai, Bandi langsung menuju tempat tambatan perahu. Bakri bersama dua lelaki lainnya mengumpulkan pelapah kelapa kering, memilinnya hingga erat, melipat ujungnya menjadi dua. Mereka membuat obor. Dibaginya semua obor itu pada setiap orang lelaki yang datang membantu. Setelah dinyalakan, mulailah mereka menyusuri pantai sambil meneriakkan nama Ripah berulang-ulang.

Suara mereka beradu dengan kerasnya hempasan ombak.

Bandi mendapati Bakri. “Perahuku tak ada ditambatannya,” kata Bandi gugup. Wajahnya berkeringat dan matanya menjadi liar. “Ini bagaimana?” Tanyanya panik.

“Lepaskan beberapa perahu dan siapkan petromaks. Kita harus temukan Ripah malam ini juga!” perintah Bakri.

Bandi bergegas melaksanakan permintaan adiknya itu. Dia sukar berpikir saat ini. Untung saja adiknya bisa lebih tenang darinya.

Saat sedang makan tadi, jantung Bandi hampir berhenti saat melihat dayungnya tak ada digantungannya. Jika nelayan tak melaut, dayung digantungkan di tempatnya. Apalagi sekarang ini musim angin barat. Pada musim macam ini, perahu akan ditambatkan agak jauh dari bibir pantai sebab kadangkala jika air naik, perahu yang tak diikat pada tambatan akan diseret air ke tengah laut. Jika diikat pun dan air mencapainya, air akan membenturkan satu perahu dengan lainnya.

Saat Bandi menyadari dayungnya sudah tak ada ditempatnya, tak ada sangkaan lain jika Ripahlah yang telah mengambilnya. Dayung harus satu dengan perahunya. Jika dayung disangkutan hilang, itulah pertanda bahwa perahu telah hilang dicuri.

Ripah seorang diri mendorong perahu dan menuju laut di saat ombak sedang tinggi-tingginya saat ini. Gadis remaja itu tak tahu bahaya apa yang sedang dihalaunya.

Orang-orang sekampung sudah berkumpul di tepi pantai. Mereka masing-masing membawa lampu penerang sehingga pantai itu kini benderang dibuatnya. Sebagian besar wajah perempuan-perempuan itu menyimpan cemas melihat suami dan anak lelaki dewasa mereka bahu-membahu membantu Bandi dan Bakri menyusul Ripah ke tengah laut.

Ombak sesekali menghempas keras pinggiran pantai. Membuat mereka sedikit kewalahan melarungkan perahu. Mati-matian mereka menahan perahu agar tetap mengapung dan tak kemasukan air laut yang datang menghantam silih berganti.

Mereka diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap tiga perahu. Setiap perahu berisi dua orang. Bandi sudah mendahului mereka dan kini sudah agak ke tengah. Lalu, satu kelompok lagi dilarungkan. Bakri masuk di kelompok ketiga. Kemudian, menyusul kelompok keempat dan kelima. Satu perahu dari kelompok keempat nyaris tak bisa menyusul setelah terbalik dihantam ombak dari arah samping.

Lima belas lampu kini berkelap-kelip di tengah laut. Suara-suara panggilan mereka berlomba hendak mengalahkan hebatnya suara debur ombak. Setibanya mereka di titik pertemuan, masing-masing perahu kemudian menyebar dalam radius yang perlahan-lahan makin luas. Lampu-lampu mereka kini bagai kunang-kunang yang menyebar di atas air.

Bakri telah memberi tahu, jika bertemu perahu Ripah, segeralah memberi isyarat lampu pada lainnya. Bukan saja besarnya ombak yang mereka khawatirkan, melainkan lusinan karang di bagian utara pulau dan tentunya Ripah yang tidak berpengalaman sama sekali.

Hampir dua jam lebih semua perahu itu menyebar saat sebuah isyarat terlihat dari kejauhan. Tampaknya sebuah perahu baru saja menemukan sesuatu. Semoga bukan jasad Ripah atau pecahan perahunya.

Begitu melihat isyarat itu, semua perahu bergerak perlahan saling mendekat. Bandi ada dijarak terdekat dari perahu itu dan dia tiba lebih dulu. Hampir pecah tangis lelaki itu tatkala melihat anak gadisnya dalam keadaan selamat. Perahunya nyaris penuh dengan air dan dayungnya tidak ada.

Salah seorang telah mengikatkan perahu Ripah ke perahu lainnya dan airnya sedang dikuras.

“Ripah…! Ada apa denganmu, Nak? Mengapa berbuat seperti ini?!” Teriak Bandi berusaha melawan debur ombak saat menanyai Ripah.

Ripah hanya sekilas melihat ayahnya, lalu kembali matanya menyusuri permukaan air. Sepertinya gadis itu tak hirau lagi dengan sekelilingnya.

“Ikan besar itu mengambil dayung Ama,” kata Ripah pendek.

“Ikan apa? Mengapa kau melakukan ini, hah?” Tanya Bandi lagi.

“Aku hendak mencari Ina (ibu). Inaku tadi muncul di sini, di dekat perahu, lalu dayung Ama disambarnya, dibawanya pergi.”

“Apa yang kau bicarakan ini?” Bandi jadi hilang kesabaran. Tubuh Ripah diguncangkan agar sadar.

Ripah diam lagi. Matanya terus berputar awas berusaha menembus kegelapan malam di laut itu. Sekarang, semua perahu sudah saling merapat. Bakri melompat ke perahu di mana Bandi dan Ripah berada. Tangannya lalu meraih anak itu.

“Ripah, apa yang kau lakukan?” Tanyanya dengan wajah lembut.

Ripah memandangi wajah pamannya itu. Air matanya tiba-tiba jatuh.

Dalam tangisnya, Ripah masih berusaha memandang ke arah laut. “Ripah hendak mencari Ina. Sebab orang-orang di pasar bilang, Inaku adalah ikan duyung dan aku anak ikan yang bawa sial.”

Bakri tertunduk. Bandi justru jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya. Lelaki itu menangis untuk pertama kalinya. Bahkan, dia tak melakukan itu saat istrinya hilang 15 tahun silam.

“Mengapa kau dengarkan kata-kata orang. Paman sudah berulang kali bilang, dengarkan Amamu saja. Amamu lebih paham tentang ini semua daripada orang-orang itu.” Bakri sedang mencoba membujuk Ripah.

Ripah menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Orang-orang itulah yang benar. Tadi Ina menghampiriku, berenang di sisi perahuku. Ina mendorong perahuku ke tempat ini, tapi lalu menyambar dayung dan membawanya pergi.”

“Tidak, Ripah. Inamu bukan ikan. Tak ada ikan beranak manusia.”

Ripah tiba-tiba menolak tubuh pamannya. Mimiknya tak suka pada ucapan pamannya itu. Ripah lalu bergerak ke bibir perahu. Sambil memegangi bibir perahu, matanya kini nyalang mengawasi permukaan air.

Bakri menghela napas dengan berat. Dia bangkit dan memutar tangannya di udara. Itu isyarat untuk kembali ke pantai. Malam ini sudah cukup berat bagi semuanya. Masalah Ripah nanti mereka selesaikan di darat saja.

Rombongan perahu itu pun pelan-pelan memisah dan satu per satu menuju pantai. Ripah kini bersama ayahnya di perahu milik mereka. Ayahnya mendapat pinjaman dayung dan perahunya diikat di belakang perahu Bakri.

Sekitar 200 meter dari pantai, entah dari mana datangnya, seekor ikan duyung tiba-tiba muncul berenang di sisi kanan perahu Bandi. Sesekali ikan itu menyelam lalu muncul lagi di sisi satunya. Ripah yang menyadari itu lebih dulu, dan tanpa tercegah lagi, gadis itu membuang dirinya ke laut, seolah hendak menyusul ikan itu.

Bandi yang sedikit lengah ikut melompat ke air. Namun, gelombang yang datang dari belakang perahu menabrak tubuhnya, menggulingkannya, hingga dia harus segera meraih cadik perahu agar bisa mengapung. Tapi, tubuh Ripah tak dilihatnya. Bandi berteriak pada Bakri, “Ripah terjun ke laut!” Serunya.

Bandi menyelam lagi. Bakri menyusulnya melompat dari perahu. Kedua kakak-beradik itu berulang-ulang menyelam mencari tubuh Ripah. Dua orang di perahu Bakri ikut pula melompat berusaha membantu Bandi dan Bakri. Beberapa menit mereka mencari Ripah sambil berjuang melawan hantaman ombak, akhirnya Bakri menyerah.

Bakri menarik tubuh Bandi, berusaha mengapung di atas ombak yang mendorong keduanya, dan dua orang lainnya menuju pantai. Bandi kini pasrah. Dia biarkan tubuhnya diseret Bakri menuju pantai. Dia atas pasir, kemudian lelaki itu menangis.

***

 

Selama empat hari selanjutnya, orang-orang melakukan pencarian atas Ripah. Tapi, sama seperti ibunya dahulu, Ripah tak pernah ditemukan lagi.

Semenjak hari itu, Bandi kerap menghabiskan sorenya di tepi pantai, duduk di atas perahunya yang ditambat. Matanya terus-menerus menyapu permukaan air. Seperti berusaha mencari jejak kedua buah hatinya itu. Jika adiknya atau orang-orang mengajaknya pulang, Bandi hanya menyahuti mereka tanpa ekspresi.

“Aku sedang menjaga perahu agar tidak dicuri para ikan,” ujarnya pendek. ***

(Republika, 1 Mei 2011)

 


[Cerpen] Kehendakmu-lah yang Jadi, Bukan Kehendakku

Oleh : Alex Putra Siosar

Paint: Mothers Love by Kolongi

SIANG itu, ibu menghampiriku di teras. Lalu, ibu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Saya membuka amplop itu. Isinya sebuah foto usus ibu. Hasil foto  dari Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan. Saya terkejut. Mengapa tidak. Rumah sakit itu menvonis ibu terkena penyakit kanker. Kanker usus. Dan dalam amplop itu ada sepucuk surat rujukan kepada Rumah Sakit Umum Cipto Jakarta. Menerima isi amplop itu, betapa hancurnya hati kami. Saya menatap wajah ibu. Ia terlihat pucat. Bibirnya terkatup rapat. Dan ibu terlihat takut.

Sepulang dari Rumah Sakit Cipto Jakarta, resmilah ibu menjadi penghuni Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan. Ada selang waktu ibu berganti rumah sakit. Kadang opname di Rumah Sakit Umum Adam Malik dan pindah lagi ke Pirngadi Medan. Hal ini, karena kelengkapan medis rumah sakit tersebut. Di kamar VIP Rumah Sakit Umum Pirngadi, ibu menjalani hari-harinya dengan berbaring. Infus, menggari tangannya. Terapi kemo, membuatnya gemetar. Dan obat-obatan membuat lidahnya semakin pahit. Belum lagi, dengan selang kantongan yang menembus ususnya untuk pembuangan air besar. Selang kantongan itu membuat jantung ibu terdengar bagaikan gendang bertabuh bertalu-talu. Genderang perang. Perang melawan kanker. Begitu juga dengan air mata ibu yang selalu membasahi bantal tempat kepalanya terkulai.

Di kamar itu, tak ada orang sakit selain ibu. Bapak memilih kamar VIP ini, karena ia tak mau mengganggu orang sakit yang lain. Kanker stadium IV yang diderita ibu, tak jarang membuatnya meronta-ronta menahan sakit. Bila ditilik dari biaya, sangat mahal. Biaya dokter, obat-obatan dan kamar, setiap harinya seputaran enam ratus ribu rupiah. Jumlah ini bagi kami sangatlah besar. Tapi, bapak tidak pernah menyerah. Kami rela bapak menjual perlahan-lahan tanahnya. Dan bapak tidak pernah mengemis kepada kedua abangku yang tinggal di Amerika maupun Palembang.

Saya sering merasa pilu melihat ibu. Keluhnya, tangisnya dan jeritannya yang meronta-ronta menembus dinding serta langit-langit kamar itu. Obat bius tak ampuh lagi bagi ibu. Dokterpun hampir mati akal meredam pemberontakan ibu terhadap penyakitnya. Apalagi perawat, sering menahan perasaan melihat amukan ibu. Mengapa tidak. Ibu selalu marah-marah pada perawat-perawat itu dan menyuruh mereka, supaya membuang saja semua obatnya. Ibu berpeluh, obat-obat itu hanya membuat perutnya mual dan gembung.

“Sudahlah. Saya tak kuat lagi. Akhiri saja hidupku ini,” kata ibu.

Delapan bulan berjalan, ibuku menginap di rumah sakit. Selama ini saya dan adikku tak pernah jenuh menemani ibu. Kami tak merasa sungkan lagi, ketika ibu meminta pispot, mengganti baju dan sarungnya. Memang perawat di rumah sakit ini baik-baik dan sangat cekatan. Tapi, kami merasa lebih cepat dari mereka. Seperti kecepatan ibu, ketika merawat kami semasa kecil.

Ibu opname di rumah sakit, membuatku harus cuti kuliah. Saya tak bisa konsentrasi di kampus. Pikiranku selalu bercabang. Mengingat ibu selalu menahan sakitnya, membayangkan bapak yang sudah 65 tahun dan anakku yang masih berumur 6 bulan. Saya juga harus mencari nafkah untuk keluarga. Sementara, istriku belum kuat dan harus merawat anak kami yang masih mungil. Dengan keadaan ini, sering membuatku depresi. Dada ini terasa sesak. Dan kecemasan tak jarang menghantuiku. Oleh karena ini, istriku, Ribka, sering membujukku untuk berdoa dan ke gereja.

***

Hari Jumat, sekitar Pukul 13.00 Wib, saya pamit pada ibu. Ribka, istriku, menggantikan saya menjaga ibu. Dimana tadi, ia menitipkan anak kami, Angelia, pada Bu Aminah. Ibu ini adalah tetangga kami yang sangat baik. Ketika Tahun Baru, ibu selalu menghantarkan aneka roti, rendang lembu, sayuran dan nasi pada Ibu Aminah. Begitu juga pada saat Hari Raya Idul Fitri, Bu Aminah menghantarkan aneka masakan pada kami.  Ibuku dan Bu Aminah sudah bersahabat sejak gadis. Mereka sama-sama sekolah di Sekolah Pendidikan Guru Medan.

“Ibu, saya pamit dulu, ya…..” kataku sambil membelai rambutnya. Ibu seolah ingin berbicara. Tapi, lidahnya tak kuat bergerak. Hanya matanya menatapku. Dan sesekali berkedip lemah.

“Nanti saya bawakan jeruk untuk ibu,” kataku lagi sambil mencium keningnya.

Dengan berat hati, kutinggalkan ibu dan Ribka di kamar itu. Sudah seminggu ini, kondisi ibu terlihat semakin buruk. Jeritannya menahan sakit tak terdengar lagi. Hanya gerakan bola matanya menunjukkan rasa sakitnya. Dan denyutan urat di lehernya yang begitu kencang, seolah menunjukkan pemberontakannya terhadap kanker.

“Hati-hati di jalan ya, Bang. Sepertinya hari mau hujan. Langit gelap sekali,” kata istriku.

“Iya. Jaga ibu kita, ya…” sahutku.

Hari ini, saya ada janji dengan Pak Thomas. Ia adalah seorang pendeta di gereja protestan. Pak Thomas saya kenal, ketika saya membeli obat di apotik. Dan ia juga membeli obat untuk istrinya yang sedang bersalin. Pendeta muda ini tampaknya sangat bersahabat. Gaul. Enak sekali berbicara dengannya. Tak diduga, ia mengundangku untuk datang ke rumahnya. Sebenarnya saya ragu memenuhi undangan Pak Thomas. Karena saya merasa tak layak berkunjung ke rumah seorang pendeta. Apalagi, rumahnya di samping gereja. Tapi, entah mengapa, ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk memenuhi undangannya. Mungkin, karena kami cepat akrab.

Niatku bertemu dengan pendeta itu, terhalang. Hujan turun dengan deras. Awan yang sudah beberapa waktu lalu bergerombol hitam bersama kilat, mencekam Kota Medan. Dan suara petir terdengar meledak-ledak. Di jalan depan rumahku, sudah mulai terlihat air meluap. Sayapun jadi terkurung di dalam rumah bersama bapak.

Saya masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, saya mengambil alkitab di meja. Ada tiga puluh menit saya membacanya. Setelah itu, saya ingin berdoa. Ada kerinduan untuk berdoa kepada Tuhan. Seiring dengan itu, sayapun jadi teringat dengan doa ibu, ketika adikku, Antonius, sakit. Antonius sakit demam tinggi, sampai empat puluh satu derajat celcius. Seminggu ia terkapar di rumah sakit. Sampai matanya mendelik-delik. Bola matanya terus naik ke atas. Dan doa ibuku saat itu, doa penyerahan diri.

“Tuhan…. Jadilah kehendakMU dan bukan kehendakku.” Akhir doa ibu saat itu. Dan sampai saat ini, Antonius tumbuh dewasa. Ia selamat dari maut.

Saya kagum mendengar doa ibu. Rupanya Tuhan itu tidak jauh. Tidak seperti yang saya bayangkan selama ini, yaitu DIA di atas langit. Pikirku, Tuhan hanya sejauh doa. Mengapa saya tidak berdoa ?

Akhirnya, keinginanku tadi hanya sekedar berdoa menjadi sebuah tekad. Saya duduk di tepi tempat tidur. Saya melipat tangan. Kepala tertunduk. Dan kututup kedua mataku. Lalu, saya berdoa.

“Terimakasih Tuhan,

Engkaulah yang membawaku dalam doa ini.

Dengan kerendahan hati,

Saya datang ke hadapanMU.

Dan, ampunilah kesalahan serta dosa-dosaku

ya, Bapa.

Tuhan, ibuku sakit

Ia sangat menderita.

KehendakMUlah yang jadi, bukan kehendakku.

Dalam nama Bapa di Sorga, Yesus Kristus, saya telah berdoa

Amin.”

 

Selesai berdoa, saya kembali meraih Alkitab. Mungkin keinginan ini, karena rinduku masa kecil. Ketika ibu membawaku ke gereja untuk mengikuti kebaktian anak-anak dan remaja (KA/KR).  Di sana ramai sekali anak-anak dan remaja. Kami bernyanyi, berdoa, membaca firman Tuhan dan mendengarkan cerita rohani dari guru KA/KR. Indah dan damai sekali. Namun, sejalan dengan pertumbuhanku, sejak duduk di bangku SMA saya jarang sekali mengikuti kebaktian rohani. Ibu sering menegurku. Tapi, saya tak mengubrisnya.

Di ruang tamu, telepon berdering. Saya segera menghampirinya. Tapi, kalah cepat dengan bapak. Rupanya bapak dari tadi sudah duduk di kursi tamu.

“Hallo….,” sahut bapak. Hanya satu menit bapak mengangkat telepon itu. Dan dengan lunglai ia meletakkan gagang telepon itu.

“Ibu sudah meninggal,” kata bapak.

Mendengar itu, tiba-tiba saja hentakan yang begitu keras dan cepat seperti kilat menghantam jantungku. Rasanya, baru saja suara petir mengoyak gendang telingaku. Hujan yang deras, seolah menghanyutkan harapanku. Tidak. Tidak ! Saya tidak menerima ini, batinku memberontak.

Segera kuraih telepon. Seakan tak tak percaya, saya menelopon Ribka, istriku.

“Keadaan ibu bagaimana ?” kataku. Ku dengar hanya isak tangisnya.

“Ibu bagaimana ?” kataku lagi.

“Ibu sudah meninggal, bang…” sahut istriku dengan terbata-bata dan isaknya.

Mendengar jawaban itu, saya terdiam. Bisu. Rasanya sepi sekali. Seakan saya berada dalam lorong yang gelap dan hanya suara kalelawar-kalelawar berdesit. Sarang laba-laba mengurung langkahku.

Dan saya kembali memencet nomor-nomor di telepon.

“Hallo…,” Kudengar suara menyahut dari seberang sana.

“Pak pendeta, ibu sudah meninggal,” kataku.

Ia tak menjawab.

“Pak. Pak pendeta, baru saja saya berdoa. Saya katakan pada Tuhan, kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku.”

Lalu, dari telepon itu menjawab.

“Kehidupan dan kematian ialah rahasia Tuhan. Penyerahan diri ialah muzizat.” kata pendeta itu yang membuatku tak mengerti.

“Andre, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibu. Jangan larut dalam kekecewaan dan kesedihan, ya. Saya adalah sahabatmu,” kata pak pendeta.

Saya ingat lagi doa ibu, ketika adikku sakit. Dalam doaku dengan ibu sama, yaitu kehendakMU-lah yang jadi, bukan kehendakku. Tapi, mengapa dengan doaku ? Mengapa Tuhan mengambil nyawa ibuku ? Apakah salah doaku ? Pikiranku terus berkecambuk, antara perasaan dan logika.

“Andre…,” kata bapak memecah keterpakuan.

“Hati bapak begitu hancur dengan kepergian ibu. Ibumu adalah istri yang sangat baik bagi bapak. Rasanya bapak tidak menerima keputusan ini yang diberikan Tuhan pada keluarga kita. Dan bapak tahu, kamu sangat kecewa. Kamupun tidak menerima semuanya ini,” kata bapakku.

Saya diam. Saya duduk dengan lemah di kursi.

“Mungkin Tuhan punya rencana untuk keluarga kita dengan kepergian ibu,” kata bapak sambil memelukku.

“Bapak rela, anakku,” kata bapak lagi.

“Tidak, Pak…Saya ingin ibu melihatku diwisuda.”

“Ibu sudah terlampau menderita dengan sakit kankernya. Bapak melihat dan merasakan, jiwa kita sudah mulai rapuh menghadapi penderitaan ibu. Sudahlah, nak. Mungkin ini rencana Tuhan yang terbaik untuk ibu dan keluarga kita,” kata bapakku lagi.

“Tuhan, mengapa KAU tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan kuliah, agar ibu melihat saya di wisuda ? Dan apakah kelak, anakku juga doanya sama dengan doaku saat ini ? Tuhan, saya takut. Takut, saya juga akan mengalami penderitaan yang sama dengan ibu.” Riak batinku sambil menatap tajam pada salib dan patung Yesus yang tergantung di dinding ruang tamu.

Tiba-tiba, mataku terasa gelap. Saya terkulai di kursi. Dan sekejap, saya merasakan sunyi sekali. Lalu, tak merasakan apa-apa lagi. Entah berapa lama, saya merasakan ini. Sampai saya terbangun dan tergeletak di tempat tidur. Dan saya melihat anakku Angelia tertidur pulas di sampingku.

Rumah bapakpun tidak sesepi tadi. Kini, saya mendengar suara tangis orang-orang di ruang tamu. Saya segera ke sana. Dan saya melihat ibu tertidur di kasur beralaskan tikar.

“Ibu….! Ibu…..!” tangisku sambil memeluk tubuhnya yang terbujur kaku.

Air mataku, tak diusapnya. ***

Medan, 2 Juli 2011

 

Catatan :

Cerpen ini tergerak dari cuplikan Film Surat Kecil Untuk Tuhan. Sebenarnya saya tidak ingin menulis dan mempublikasikannya, tapi saya prihatin dengan kanker. Penyakit yang perlahan-lahan mematikan. Membuat orang-orang yang mengalaminya sangat menderita. Apalagi, kanker bisa menurunkannya pada gen si penderita. Nama dan tokoh dalam cerpen ini adalah fiktif.

Alex Putra Siosar


Magnolia de Capoterra

Oleh :  Ilham Q. Moehiddin

 

Seorang wanita 72 tahun, duduk di sebuah kursi Bar Cavallo. Bergaun mewah, dengan belahan dada rendah, memamerkan garis buah dada dan sebentuk kalung mutiara. Syal putih bulu Angsa tersampir di sekitar pundaknya. Rambutnya tergelung dengan baik. Jemari dan pergelangan tangannya, berhias emas. Bahkan telinganya, ada sepasang giwang bermata berlian kecil.

Wanita tua itu duduk tenang di sudut remang Bar Cavallo, dekat bartender biasa menyajikan minuman. Setiap kali wanita itu datang, selalu saja duduk di tempat yang sama, memesan minuman yang sama, Cannonau. Di permulaan pagi, wanita itu pulang dalam keadaan yang sama pula—sempoyongan karena sedikit mabuk.

Aku bukan warga kota Capoterra. Aku berasal dari kota lain, Cabras, berjarak 300 kilometer dari kota ini. Aku sangat suka Capoterra. Suka pada udara kering yang berhembus dari laut Mediterania.

Di kota ini, aku datang untuk membunuh sepi di tepian pantai Capoterra, menghabiskan waktu bersama gadis-gadis lokal, menyantap Bottarga yang gurih, ditemani anggur putih Vernaccia beraroma kacang Badam. Entah kenapa? Aku sendiri tak tahu. Yang jelas, aku selalu bergairah ketika membaui aroma udara pagi yang kering dan asin dari balkon kamarku saat menikmati dua tangkup roti dan Pecorino.

Biasanya aku hanya menghabiskan waktu di kafe-kafe kecil di sepanjang jalan pasar ikan, di utara kota Capoterra. Bercerita hal yang tak perlu pada gadis-gadis Sassari yang wangi dan sintal sambil memangku beberapa dari mereka. Gadis-gadis itu akan menemaniku tidur dengan bayaran murah setelah mendengarkan bualanku perihal kapal-kapal, samudera dan benua-benua.

Sejak kunjungan pertamaku di Bar Cavallo ini, wanita tua itu tak pernah absen dari penglihatanku. Dia selalu hadir di sana. Sambil memainkan jemarinya pada bibir gelas, lamat-lamat kudengar dia menyenandungkan lagu Tu Per Me Canta La Voce Del Nord. Lagu tentang hati yang patah. Senandungnya hanya berhenti saat pintu bar terbuka dan seseorang terlihat masuk. Tubuhnya akan ditegakkan, lalu matanya seperti menyala dalam rupa yang aneh.

Ya, matanya itu tak pernah luput dari pintu masuk. Setiap tamu lelaki yang melalui pintu itu, ditatapinya dengan tajam. Seolah mata itu sanggup menelanjangi setiap mereka, satu per satu. Wanita tua ini seperti sedang mencari sesuatu pada wajah-wajah itu.

Aku baru menyadari sikapnya saat mata kami bersirobok pandang. Saat kami bertatapan, wanita itu bahkan tak tersenyum sama sekali. Matanya segera beralih pada wajah orang lain yang baru datang, dan begitu seterusnya.

Aku menanyakan kelakuan wanita itu pada bartender yang dengan senang hati berkisah padaku. Katanya, wanita itu bernama Magnolia. Nama panggung yang begitu dikenali setiap pria di Capoterra ini, 50 tahun silam. Namanya membuat Bar Cavallo ramai setiap malam. Tak ada malam yang dilewatkan para pria di kota ini tanpa berkerumun di dekat panggung pada pesona Magnolia saat menyanyikan A Tenore dengan suara soprannya yang memukau.

Kini orang-orang telah menyangka wanita tua itu sudah gila.

***

Gadis muda Magnolia, cantik seperti arti namanya. Panggung Bar Cavallo selalu semarak dengan hentakan kakinya saat bernyanyi. Magnolia saat itu berumur 22 tahun.

Sepi gadis itu sirna saat cintanya tersangkut pada Morty, seorang cellis muda yang baru setahun bekerja di Cavallo. Morty menawan hati Magnolia lewat gesekan Cello-nya yang membuat merinding.

Magnolia dan Morty, seperti kebanyakan pasangan muda yang dirundung asmara, menikmati hari-hari mereka dalam cinta yang gelora. Pada malam yang berangin, saat kabut menghampar di sepanjang pantai Capoterra, menyusupi belulang kota itu yang sedang lelap, keduanya dimabuk gairah. Cahaya lampu minyak memantulkan bayang mereka yang berkelindan. Dua bayang yang saling memagut, merasuk, dan berusaha merampungkan petualangan dalam hasrat yang menjilam-jilam. Kemudian pecah dalam gemuruh yang tuntas. Mereka berdua lindap dalam senyum, memagut sekali lagi di penghabisan, sebelum pulas dalam dekapan satu sama lain.

Cinta mereka memang manis. Semua lelaki iri pada keberuntungan Morty. Namun semua wanita di Capoterra justru bersukacita. Akhirnya, ada lelaki yang akan membawa Magnolia de Capoterra itu pergi dari kota ini. Meninggalkan kota itu dengan kaum lelaki hanya untuk mereka saja.

Magnolia hamil dan begitu bahagia karenanya. Tetapi Morty lebih murung dari biasanya. Dia tak bergairah lagi mengesek Cello. Gadis itu tak pernah menyangka Morty akan menyangkali kehamilannya. Mereka bertahan dalam kepura-puraan cinta di hadapan semua orang, hingga suatu malam Morty tak pernah lagi muncul di panggung Bar Cavallo.

Gadis itu hanya menemukan selembar surat yang berisi maaf Morty untuk kepergiannya yang tiba-tiba itu. Lelaki itu pergi. Meninggalkan Magnolia yang merasa sangat terkutuk telah menerima semua cinta lelaki itu. Magnolia bertekad menunggu Morty. Walau dia harus terus menghibur dengan perut yang kian membesar.

Magnolia melahirkan anak perempuan yang cantik. Tetapi Magnolia segera kehilangan bayinya empat jam berikutnya. Bayi perempuannya itu mati karena gagal jantung. Bukan main hancur perasaan Magnolia. Satu-satunya alasan dia terus bertahan menunggu Morty, adalah bayinya itu.

Setelah ditinggalkan oleh bayinya, kini Magnolia benar-benar berada dalam kesepian yang tak berujung. Magnolia memang tolol. Buat apa menunggu lelaki yang telah menyetubuhinya, lalu pergi begitu saja? Barangkali saja, lelaki itu kini sedang bersama gadis lain di Tortili. Atau, sedang menjual cintanya pada janda-janda kaya di Carbonia.

“Ah, brengsek kau Morty! Persetan dengan tubuhmu, dan cintamu. Kau menawanku dalam penjara tak bertepi ini. Aku akan memelihara parasaan ini dan menunggumu hingga kau kembali padaku,” kecam Magnolia, sebelum memukul keras permukaan meja dan meneguk seketika wisky dari slokinya.

Hari itu, hari terakhir Magnolia menyanyi untuk Bar Cavallo.

Dia memulai penantiannya. Magnolia menolak tawaran bernyanyi dari beberapa bar dan restoran ternama lainnya di Capoterra. Dia juga menolak cinta seorang lelaki yang begitu gigih merebut perhatiannya. Namun hati Magnolia hanyalah untuk Morty saja.

***

Barangkali aku memang beruntung. Tak pernah menyangka, menyaksikan bagian akhir dari kisah Magnolia.

Saat aku sedang menikmati suasana Cavallo seperti biasa, Magnolia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berseru. Melihatnya berdiam di keremangan sudut Cavallo saja sudah aneh, apalagi melihatnya berdiri dan berseru seperti itu.

“Morty!” Teriak Magnolia.

Seorang lelaki tua yang baru masuk dan hendak memilih meja, berpaling dengan heran. Mencoba menajamkan mata pada sosok yang menyebut namanya di keremangan Cavallo ini.

Lelaki tua itu berjalan mendekat. Saat jarak keduanya tinggal dua meter, lelaki itu terkejut. “Kaukah itu, Magnolia? Aku kira, engkau sudah…” katanya gugup.

Magnolia menarik segaris senyum di wajahnya yang keriput. Dia telah menyebut nama yang puluhan tahun tak bisa enyah dari kepalanya. “Inilah aku, Morty…Magnolia-mu. Cinta yang menunggumu pulang, Morty.” Suara Magnolia bergetar.

Morty nanap. Sejujurnya, Morty tak berharap mengalami peristiwa ini. Dia mengira Magnolia telah lama mati. Pertemuan ini sulit membuatnya tersenyum. Tapi ada rasa aneh yang menuntunnya hendak merangkul wanita tua di depannya itu. Sedikit cinta yang tersisa mendorongnya untuk memeluk Magnolia. Tangan Morty berkembang.

“Hukkk….!”

Morty langsung terbatuk. Menggeriap. Mata tuanya nanar menjelajahi wajah Magnolia. Perlahan matanya turun, melihat telapak tangan kirinya yang kini merah. Perutnya tiba-tiba terasa panas.

Sebilah pisau tipis kini menancap di perut Morty. Magnolia menghujamkan pisau itu tepat sebelum Morty memeluknya. Lelaki tua itu kaget bukan main.

Morty luruh di lantai Cavallo. Darah membanjir dari sobekan luka di perutnya.

Kepanikan lalu pecah di bar itu. Pengunjung wanita histeris. Beberapa lelaki, termasuk aku, segera mendekati Morty. Tetapi, lelaki tua itu baru saja mati.

Magnolia tersenyum. Matanya tak berkedip menatap tubuh Morty. Cavallo adalah tempat pertama kali mereka bertemu, dan di tempat itu pula Magnolia mengakhiri riwayat Morty. “Akulah saja yang mencintaimu. Jangan kemana-mana lagi, Morty?” katanya tenang.

Airmata mengaliri pipi Magnolia.  Itulah kata-kata terakhir Magnolia yang aku dengar, karena beberapa saat kemudian, polisi datang dan membawanya pergi.

Magnolia tak gila.

Selama 49 tahun, Magnolia hanya menunggu datangnya hari ini. (*)

 

Juni, 2011


Glosarium :

Capoterra; salah satu kota pesisir di Pulau Sardinia (Sardegna), Italia.

Cannonau; anggur merah asal Cagliari.

Bottarga; telur ikan kering, biasa dihidangkan dengan pasta, makanan khas Costa Smeralda.

Vernaccia; anggur putih asal Oristano, umumnya beraroma kacang Badam.

Pecorino; keju dari susu domba, dihasilkan banyak pertanian di Logudoro.

Cellis; istilah untuk pemusik yang memainkan Cello.

Sassari, Tortili, dan Carbonia; nama kota-kota lain di Sardegna.



Cerpen di atas adalah salah satu cerpen dalam kumpulan cerita pendek “MEMBUNUH GIBRAN” yang akan segera terbit.

 

 


Surat Panjang untuk Suami Tercinta, Demi Anak Perempuan Kita

Oleh : Julia Napitupulu

 

 

Suamiku, suatu saat kamu akan berterimakasih aku pernah tempelkan surat ini di kulkas kita (p.s.: ga usah pula kamu tanya kenapa aku nempelnya di kulkas ya). Peristiwa tadi sebetulnya ga perlu terjadi, kalau saja kamu bisa pegang beberapa nasihatku…ini mengenai bagaimana memahami (atau istilahmu: menangani) Putri kita:

Yang Pertama, jangan pernah lupa bahwa anak perempuan kita seorang Wanita, seperti Aku. Mungkin ukuran dada kami berbeda tapi dia tetap W A N I T A, terima dan pahamilah fakta ini.

Kedua, mengenai koleksi bonekanya. Tak usah kamu coba untuk bernalar berapa banyak boneka yang harus ia miliki, dan mengapa pula semuanya harus dalam warna pink), karena aku juga ga bisa menjelaskan kepada buku kas belanjaku, kenapa aku harus beli lipstik lagi, padahal yang tiga terakhir, setahun juga ga bakal abis.

Ketiga, mengenai frekuensi nonton Barbie. Meskipun dia sudah nonton film 129 kali, so what kalo dia masih pengen? Temenin aja kenapa sih? Ga usah terlalu takut dia bakal ke-Barbie-berbie-an. Aku tadinya juga anti Barbie kok, sampai aku pelajari kalau Barbie jaman modern udah beda. Kenapa memang kalau Putri kita Cantik, sekaligus Seksi, sekaligus Pintar, plus Berbakat, plus Berani dan Berhati Mulia?? Sudah tak berlaku lagi tuh filosofi konyol: “Daripada Cantik tapi Bodoh, mending Jelek tapi Pintar”.

Sehubungan dengan masalah Barbie, nanti kamu tinggal ajari dia bagaimana memilih Pria Terbaik dari sepeleton Pria Keren yang tersandung jatuh karena cinta pandangan pertama sama dia. Pesonanya emang udah begitu, udah bawaan orok.

Aku merasa kamu agak enggan untuk main rumah-rumahan sama dia. Padahal dunia sudah membuktikan bahwa Pria Straight juga bisa menjadi ratu di dunia persalonan, perkulineran, musik, dan dunia otak kanan lainnya? Jadi ga usah merasa jadi wadam kalau kamu menemani anakmu main rumah-rumahan, sisir-sisiran, dan juga ga usah repot mikir mengenai aturan main, siapa menang, siapa kalah. Itu hanya cara untuk meng-enjoy sebuah hubungan. Just be natural & go flowing with her…(jangan lupa ajak anak laki-laki kita juga).

Keenam, bisa ga kalau dia lagi main masak-masakan dan kamarnya seperti kapal pecah, kamu turut merasa happy dengan excitement-nya? Dan bukannya komplain dengan kamarnya yang berantakan? Suasana kapal pecah itu salah satu cara dia mencintai kehidupan, sama seperti dapurku yang kayak abis perang padahal cuman masak teri sambel pakek pete.

Yang ketujuh ini penting-ting banget..(p.s.: aku sampai gemeter terharu tau ga sih nulis ini). Lain kali, saat dia mendatangimu dengan berurai air mata, dan mulut tertarik ke bawah, apa pun yang sedang kamu lakukan, listen to me: a p a p u n, letakkan itu dan simak dia baik-baik. Itu moment of trust yang bisa kamu bangun atau kamu hancurkan, saat itu juga.

Kedelapan. Ini juga maha penting: jangan langsung percaya kalau dia berkata: ‘aku happy, Papa’. Kami, para wanita, punya 5 lapisan rasa…simak yang tersirat di belakang kata.

Kesembilan. Ini sebenarnya nyambung dengan yang pertama. Hanya karena Kamu Papanya dan dia putrimu, bukan berarti kamu bukan Pria dan dia bukan wanita. Oleh karena itu sadarilah bahwa ada masanya kamu memang tak berdaya luluh lantak kalah hanya oleh sorot matanya, tetap bukan alasan kamu harus menguras kantongmu untuk memborong seluruh isi mall untuknya. Belajar mengendalikan dia dari aku. Ijazah-ku udah delapan dalam hal begitu-begitu.

Terakhir nih. Suamiku. Aku tau kamu lelah utk menafkahi kita, dan menata kerajaan ini agar aman lohjinawi sepeninggalmu kelak…tapi pernah-kah kamu berpikir, bisa saja aku yang meninggal duluan kan?? Karena aku merasa dia sudah cukup belajar mendengar, menari, beres-beres, bergaul dan melatih kepekaannya. Tapi kurasa dia masih perlu belajar untuk menerobos waktu 10 tahun ke depan, berkuda di jalur terdepan, bangkit untuk yang ke-100 kali setelah 99 kali jatuh, juga menantang derita fisik demi kebenaran dan kejujuran. Itu TUGAS MU, Suamikuga semuanya bisa ku-handle meski aku nyaris superwoman. Karena itu, jangan terlalu serius untuk mengamankan kerajaan dari badai dan topan, tapi hiruplah juga sarinya. Puaskan lah matamu saat melihat putrimu sedang kasak kusuk cekakak cekikik dengan ibunya, itu momen terindah, yang membuat tubuh lelahmu bisa segar lhoh, dengan seketika…Betapa waktu seperti Pencuri, Sayang…

Aku udah nangis setengah jam…ketahuilah, tulisan cakar ayam ini puncak kelelahanku dan juga bukti sayangku. Semoga terbaca oleh mata hatimu ya…

Tertanda,

Lady of the House & Penguasa dapur kerajaanmu

[]

 

(p.s.: yang masi tetep keren meski udah brojol beberapa kali…)

 

 

Julia Napitupulu

Lahir di Jakarta, 8 April 1974. Ibu dari Willi (putra, 7 tahun), dan Abel (putri, 6 tahun). Misi terbesarnya adalah menjadi pengajar. Setelah resign sebagai pelatih (psychology) di HR Consultant, Julia kini aktif bekerja sebagai pelatih di bidang Soft Competence dan Assessor Recruiting & Assesment karyawan, serta Konselor tes minat-bakat anak. Julia juga punya bejubel aktivitas, yakni Singing Pianist, Presenter Radio, MC. Menulis baginya adalah bentuk theraphy baginya untuk bisa melihat lebih jernih, dunia di luar dan dalam dirinya. Sebagai trainer, Julia kerap menggunakan metode menulis dalam proses kepelatihan; dalam bentuk studi kasus, kuis, skrip roleplay.

 


%d blogger menyukai ini: