Tag Archives: wajah

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Duhai, Sahabat

Oleh Aiman Bagea

Sepenggal puisi untuk para
sahabatku !

Rinduku perlahan mengurai

Tika sekerumun wajah

Berkelabat di bulat lensaku

Aku tahu wajah itu,

Aku kenali mereka,

Mereka ialah wajah sahabatku

Tika masa masa SMA dulu.

Duhai, sahabat !

Rinduku mendidih kini

Menumpahi keping kenangan

Dan retaklah kristal beningku

Meluncur dan berkilat.

Duhai, sahabat !

Mari kita saling mendoa

Biarkan doa itu mengalir

Ke langit, mengetuknya.

Duhai, sahabat !

Moga butir butir mimpi kita

Dapat di kumpul

Dalam cawan hari hari

Demi segaris kata :

MASA DEPAN.

[]

Aiman Bagea

Aiman Bagea kelahiran Rahampuu, Bombana, Indonesia. 1 September 1992.

“Tertawalah, karena dunia akan ikut tertawa; janganlah bersedih karena engkau akan bersedih sendiri.”

Kontak : http://www.facebook.com/Aimanbagea


Wajah Seorang Penipu

Oleh Ade Anita

 

“BU.. . itu ada tamu.” Aku segera membenahi pakaianku. Siapa orangnya yang ingin bertemu tanpa ada janji terlebih dahulu di waktu menjelang maghrib seperti ini. Sepuluh menit lagi azan akan berkumandang. Artinya, waktu buka akan segera tiba. Di bulan Ramadhan tahun 2009 ini, anggota keluarga yang ikut berpuasa hampir semuanya Alhamdulillah.

Ternyata perempuan itu. Wajahnya yang dekil terlihat sumringah begitu melihat hadirku. Tapi hanya sesaat karena sedetik kemudian, wajah itu kembali terlihat sendu. Aku mendengus membuang muakku di dalam keranjang sampah di dalam hatiku. Mau apa dia?

“Bu. Saya senang melihat ibu sehat-sehat saja. Saya selalu berdoa kepada Allah agar ibu baik-baik saja. Ibu beruntung banget dibanding saya yang terus menerus menderita.” Aku terdiam mendengar ceracaunya tanpa reaksi.

Tahun lalu, perempuan ini pernah datang ke rumah. Waktu itu suamiku sedang berada di luar kota. Perempuan ini datang sambil membawa tiga buah gelas belimbing, serta dua buah mangkuk dengan gambar ayam jago. Mangkuk yang biasa dipakai oleh para penjual bakso. Tapi bukan apa yang dibawanya itu yang membuatku dengan segera membuka pintu dan mempersilakannya duduk. Yang membuatku segera mempersilakannya duduk adalah air mata yang mengalir deras di pipinya yang kotor. Sedu sedannya begitu menyayat hati.

“Tolong saya bu. Saya nggak tahu mesti minta tolong sama siapa lagi. Tetangga sudah bosan memberi bantuan pada saya. Tapi memang bukan kehendak saya yang terus menerus tertimpa kemalangan.” Aku mengangsurkan sehelai tissue untuknya menghapus sungai yang mengalir deras di pipinya tersebut. Coreng kelabu di wajahnya mulai terhapus oleh air mata itu. Tapi itu malah membuat wajahnya terlihat semakin memelas. Menggelitik rasa iba yang semula tertidur pulas. Perempuan itu bercerita bahwa suaminya sakit keras. Tidak dapat berdiri dan hanya dapat tertidur saja di atas tempat tidur. Struk datang tanpa permisi. Sudah lama penyakit darah tinggi dan diabetes menggerogoti suaminya. Tapi ketidak adaan biaya membuat perempuan itu tidak dapat membawa suaminya pergi ke dokter. Sementara anak-anaknya, yang berjumlah tiga orang, hari itu tidak mau pergi sekolah karena malu sudah dua bulan terlambat bayar SPP.

Dunia memang terkadang amat kejam pada beberapa orang, tapi amat sangat manis dan empuk bagi beberapa orang yang lain. Kebetulan, perempuan di depanku ini merasakan sisi yang serba tidak enak.

“Ibu, belilah gelas dan mangkuk saya ini. Berapa saja ibu menebusnya saya akan terima. Saya benar-benar butuh uang untuk beli obat suami saya dan bayar SPP anak-anak saya. Kasihan suami saya bu. Dia tidak bisa makan apa-apa jika belum menebus obatnya, karena obat itu bisa membantunya menetralkan penyakitnya. Kasihani suami saya bu.” Perempuan itu lalu bersimpuh di kakiku. Membuatku risih dan memintanya untuk kembali duduk di bangku. Aku punya uang. Masih ada sisa uang belanja yang semula aku sisihkan untuk membeli baju renang bagi putriku. Baju renang muslimah agar aurat putriku tertutup jika dia ingin bermain-main di dalam air sekalipun.

“Ibu tinggal dimana?” Mulutku mencoba untuk mengulur waktu. Sementara otakku terus menyusun prioritas mana yang lebih utama, membantunya atau memenuhi kebutuhan putriku. Perempuan itu lalu menyebutkan sebuah alamat. Ternyata alamat yang disebutnya tidak jauh dari tempatku tinggal. Aku tanya lagi, siapa nama suaminya. Perempuan itu lalu menyebut nama suaminya, lengkap dengan nama tetangga rumahnya di kiri dan di kanan. Aku tahu mereka semua. Aku sering bertemu mereka di pengajian kampung. Lalu dengan Bismillah uang seratus ribupun lolos ke tangannya dan menolak semua gelas dan mangkuk yang dia tawarkan.

“Pakai saja. Di sini masih banyak gelas dan mangkuk. Ibu lebih membutuhkannya.” Bibir perempuan itu langsung gemetar mendengar penolakanku. Sekali lagi dia langsung duduk bersimpuh ingin mencium kakiku. Aku menolaknya dengan risih. Hatiku masih menangis membayangkan penderitaan yang harus dia pikul. Seorang istri yang tiba-tiba harus merawat suaminya yang tidak bisa apa-apa, dan rengekan anak-anaknya yang merongrong. Tanpa pekerjaan, tanpa penghasilan, dia masih berusaha untuk bertahan di atas bumi yang keras seperti cadas.

Lalu perempuan itu pergi pulang.

Lalu aku menyelesaikan masakanku. Selesai masak, aku jadi terpikir untuk mengirim masakanku sebagian ke rumahnya. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berbuat baik pada tetangga? Maka dengan berjalan kaki dan membawa masakan serta beberapa keperluan sembako, aku berjalan kaki mencari alamat.

Sayangnya, hingga satu jam aku berputar-putar tidak ada seorang pun yang tahu perempuan dan suaminya. Bahkan hingga Pak RT datang dan mendengar penuturanku, tetap perempuan itu tidak diketahui keberadaannya. Aku mulai merasa tidak enak. Rasa sesak mulai menyerang. Sesak karena marah yang tiba-tiba naik ke atas kepala. Aku telah ditipu di siang bolong. Kurang ajar!

Keesokannya Pak RW menemuiku dan menanyakan perihal kabar yang beredar. Terpaksa dengan hati yang masih marah aku ceritakan pada beliau. Akhirnya terungkap. Benar saja, ada beberapa orang yang juga mengadukan hal yang sama. Perempuan itu ternyata bukan siluman yang bisa begitu saja menghilang. Dia memang pernah menjadi warga di daerah kami tapi akhirnya diusir karena sering menipu kiri kanan. Masih gadis tapi mengaku sudah bersuami. Belum pernah punya anak tapi mengaku anak-anaknya banyak dan merongrong. Yang lebih parah lagi, semua uang yang diperolehnya itu dipakainya untuk main judi. ARFGHHH…

Lalu bulan Ramadhan di tahun 2009 ini, perempuan itu datang lagi di depan pintuku. Masih dengan wajah memelas dan dandanan bedak debu yang cukup tebal.

“Ibu, terima kasih atas bantuannya waktu itu. Di bulan ramadhan ini bu, saya jadi terpikir, mungkin enak kali ya kalau dagang kolak. Kalau nggak habis, ada anak-anak yang bisa ngabisinnya.” Aku tidak tersenyum juga tidak menyapa. Tapi aku melihat kesumringahan di wajahnya.

“Bu… ingat tahun lalu ibu datang ke rumah saya dan bilang suami ibu sakit parah?”

“Iya… iya, ingat. Sekarang dia sudah baikan bu. Sudah bisa tertawa lagi, tapi tetap nggak bisa bangun dari tempat tidur. Ya Cuma itu saja kebiasaannya, tertawa saja. Terima kasih banyak bu atas bantuannya. Cuma yang namanya hidup, saya tetap harus cari uang. Makanya, bantuin saya dong bu buat dagang kolak.” Aku mendengus tapi mencoba untuk bersabar. Sebentar lagi buka, sebentar lagi buka.

“Bu, tahun lalu, setelah ibu pulang, saya menyusul ke rumah ibu. Ternyata ibu penipu. Ibu belum menikah dan belum pernah punya anak. Saya nggak tahu gelas dan mangkuk siapa yang ibu bawa. Tapi ibu sudah menipu saya.” Luka lama itu terbuka lagi. Kali ini aku amat sangat ingin menangis, bukan karena perih tapi karena berusaha keras untuk menahan sabar karena sedang berpuasa. Dadaku sesak menahan bendungan tangis yang saya tahan. Bayangan detik detik azan maghrib yang sebentar lagi mengalun menguatkan pertahanan dinding beton yang terus saya pertebal, pertebal. Ah, kenapa harus bermain-main dengan emosi seorang perempuan. Tidak tahukah bahwa jumlah air yang mengalir di tubuh seorang perempuan sepenuhnya adalah air mata yang akan langsung bergejolak jika emosinya sudah dipermainkan? Aku terus menyabar-nyabarkan diri. Tidak boleh setitikpun air mata ini tumpah. Aku adalah wanita yang amat sangat ingin terlihat kuat dan tangguh. Meski sebenarnya amat sangat rapuh.

Perempuan itu terperangah menatap saya. “Kok, rajin banget sih pake nyamperin segala? Kayak nggak ada kerjaan.” lalu dengan seringai yang tidak jelas dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan santai menuju pagar rumahku. Pergi begitu saja. Tanpa permisi, tanpa keluar kata maaf satu potong pun. Sementara aku terus menerus harus mengaduk campuran semen dan batu-batu kali, agar beton-beton kesabaranku tidak runtuh. Agar dinding-dinding bangunan bendunganku tidak kalah oleh volume tangis yang benar-benar sudah membludak memenuhi rongga dada.

Dan itulah ujian kesabaran yang paling berat yang harus saya hadapi di bulan ramadhan 1430 H ini (Agustus 2009).

[]
Notes: ini termasuk kumpulan serpihan yang tercecer di ujung tahun 2009.

Gambar di bawah ini adalah gambar bunga anthurium. Amat booming di kalangan menengah ke atas, sehingga memiliki tanaman ini dalam salah satu koleksi tanaman yang menghiasi halaman rumah dipercaya bisa menaikkan derajat mereka sebagai bagian dari kalangan socialita. Sesungguhnya, idibalik kecantikan dan nilai gengsinya yang tinggi, ni adalah bunga paling beracun di urutan teratas bunga paling beracun di dunia. JIka tanpa sengaja memakan bunganya, maka akan muncul rasa terbakar disertai melepuh dan bengkak. Tangan juga bisa gatal-gatal. Tidak disarankan untuk meletakkan tanaman ini di samping hewan kesayangan atau tempat yang mudah dijangkau oleh anak kecil.


Karya Sederhana Awal Oktober

Oleh Afrilia Utami

Jangan Mencariku…

 

Wajahmu masih jelas kuingat, jelas. Satu per-satu titik dua dadu saling beradu, di antara titik-titik yang membilang masih sama hasil imbang. Belum malam dan siang yang mengedipkan dua matamu, setia dalam kedipmu adakah aku terbilang? Mungkin, atau tak pernah. Dua opsi yang kutawarkan.

Kicau suara hangatmu masih lembut terekam, lembut. Padi-padi menguning, kemuning sawah dihias pipit-pipit mungil terbang kian melayang kian menerawang. Rincik air bening kudengar tenang mengalir. Sesaat senja dan fajar menyingsing, jiwa pun berupacara di bawahnya. Menghening sesaat, lalu bisikan temaram di embun pelepahmu.. atau di jingga dan nila dalam bingkai angkasa, masihkah sempat untuk berbisik sekedar bertanya koma tanpa titik?

Ketika kau berpikir, mungkin aku sudah dahulu pergi tanpa tanda..

Saat kau menjawab, utuh hanya bayang senyumku yang menjadi penerjemah jawabmu…

Jangan mencariku…

30 September 2010

[]

Semu

 

Kau sapa aku tadi waktu

Wajahmu kuyu, dan

kau memelukku

“Bawalah aku bersama kedip nadimu”

Ucap katamu, sedikit menekuk hati

Kerut meraut di dangkal tatapmu.

Saat itu gerimis

Hampir rintiknya seperti menangis

Namun udara masih juga amis

Lalu kau lepaskan pelukmu

Dan dari luka itu

Kau kisahkan wajah-wajah kelabu

Luka tak menjelma curigaku

Ada masa ketika aku tak tercekam

Disemayamkan gulungan ombak malam

Yang Menolak paham

Ketika itu matamu mulai berbicara

Dari cerah, tak menemu arah

Surya kian merah, menabur gerah

Berkeriap tersingkap makin tercacah

Sementara mataku semakin dungu

Biru! Meribu haru tumpah

di ruah samudramu…

01 Oktober 2010

[]

Tsunami Wajah Kini

 

Waktu yang terapung dalam kata

Didesiran tanah, bersujud bumi

Melayar tersangkut laut

Di sana ada gemparan, ledakan!

Retak tepi bibir kian surut.kering.

Karang-karang berpamit pulang

Nelayan lupa pulang membawa jangkar

Orang-orang kembali dalam tangis bayi

Yang renta semakin janin

Tuhan, Aku tak sanggup melihat

Terlalu kencang badai menjantung

Di mata.

Aku tak sanggup merasa

Reseptorku sudah butarasa meraba rasa

Di mana?

Akan jiwaku berpamit pulang…

Di pusaran ini, aku memanggilmu. Tuhan.

Memanggil-manggil agar gigil tak berkesudahan

Kembali membatu di pelepah hijau subur ruahMu

Butir pasir ini tandus

Kuning gading, hilang peta mewajah sejarah

Tentang

Dulu,

Kanak-kanak. Kami!

Dan,

Lagi pinta kami tergulung ombak-ombak …

02 Oktober 2010

[]

Kata Mawar

 

disetiap kedipan airmata

ditiapnya darah yang mengalir

dibatang-batang berduri.

aku sirami mawar ini berkali-kali.

penuh luka dan suka yang kutuah

dalam ruah saku-saku

yang saling menali.

bukan taman ini sepi karena ditinggal mati sang penghuni

bukan taman ini tutup gerbang sebab urung sang pemilik tak kunjung pulang.

tetapi ia menanti, seorang datang membawa kunci yang sempat hilang

03 Oktober 2010

[]

Abu

 

pagi itu,

jelang julangnya matahari

merias cerah di landai awan-awan.

ada seorang wanita seperti senja yang menunggu giliran.

diam terteka duduk sambil bernyanyi.

sebuah bahasa, yang mengabukan kata.

04 Oktober 2010

[]

Lorong Danau

 

Lorong-lorong gerbong

Tempat Masinis ompong membondong

Kayu. Lalu abu.

Dan, kuajak kau ketempat

Danau penyanggah dudukku

Menata ekor ikan didua kaki

Atau ingsang dicerobong paru

Bukan asap mencakar dua lubang hidung

Rel-rel tempat labuhmu menginjak sekuel darat

Mari, ikuti alirku …

Asal airmata

Dari mataair

Sudah,

Berapa hanyut didalam kubik?

Merias tepi di ladang sepi

Tinggi membara arang muasal api

Dan unggun dengan anggun menjerit santun

Merayap dicelah rakit-rakit kecil

Jalan semai mendamai

Janganlah, ikuti cerobong bolongku …

Duduk saja sini, menahu danau inginkan kau..

05 Oktober 2010

[]


Setangkai Hujan II

Oleh Afrilia Utami

 

Kolaborasi : Reski Handani & Afrilia Utami


Image From “diannafirefly.blogspot.com”

 

Sedari tadi hujan terus menuai dingin yang semai. Kemanakah petualang kali ini hendak berpetualang? Ke sayu lembut matamu atau ke debar degup jantungmu, mungkin.

Hujan kali ini umpama pandang mata di derai langkah, mengiring gigil jatuh menumpuk serupa tugu. Di mana aku menitip tunggu sepanjang jalan. Menuai cemas di sekujur badan.

Dingin…benar gigil deburan angin. Nafasku mengeja titikmu kah? Ataukah deras gemuruh yang mengasbak di dua lapis bisumu? Langkah ini membayangi basah. Menelanjangi lompatan bocah-bocah yang redup di jiarah sejarah. Menyimpulkan senyum dan murungku di bibir merah jambumu.

Kemudian jelma tempias diam-diam menerobos jendela, potret wajahmu kuncup di mataku. Entah harus bagaimana aku berlari, di tiap lompatan kaki kau umpama jejak yang pulang dan pergi.

Lalu kuikuti perlahan namun pasti. Jejakmu semakin jelas mengarahkan kiblatku. Ku temukan aspal membentang jauh dari timur menuju selatan. Ingin kugapai lembut ragamu yang pias serupa mayat, dan perlahan kubisikan hangat,  mengangkatmu dari sejauh ku dan terpisah kau, menjadi dekat, erat dan semakin nafasmu lekat menguat.

Maka dekapmu rumah bagiku, dadamu halaman bunga yang kupetik sejak pagi hingga senja. Di situ sandar adalah gelak tawa di mana duka nestapa cuman dongeng lama, sejenak kemudian kucuri tubuhmu, matamu, dengarmu, retak garis bibirmu, akan kutatasimpan di kalbuku.

 

[]

September 2010

 

( Free Download klik this link for Setangkai Hujan.mp4)


Ajari Aku Menjadi Manusia

Oleh Dwi Klik Santosa

Kepadamu yang mudah menitikkan airmata

Saat menyaksikan anak-anak itu dekil dan kusut

mengais-ngais berkah di antara sampah-sampah

Kepadamu yang mudah menitikkan airmata

Saat menyaksikan wajahnya retak di cermin

Karena pandir, mematung dan membisu

membiarkan kedunguan itu menjadi berhala

Kepadamu yang mudah menitikkan airmata

Saat menemukan dirinya hampa dan sunyi

Karena banyak memberi dan tanpa ungkapkan pamrih

Kepadamu Tuan dan Puan budiman

Saya ingin belajar menjadi manusia

Pondokaren

23 Agustus 2010

: 04.58

[]


Pesan

Oleh Adhy Rical
“maukah kau dimadu?
menikahlah denganku”
(kemarin, 30/5/2010 11:59:34 PM)


Harus kuterima. Bukankah ini tanyamu yang kesekian setelah hujan sore itu tak bersisa? Gelasmu kosong. Aku berdiam sebelum bayangmu hadir. Kau selalu begitu: meminta kedua tanganku rapat di punggungmu. Tapi bukan itu yang buatku terjaga sebab jantungmu lebih mudah kuhitung dengan detak jantungku. Bukankah kita menghitung tanpa harus tahu bilangan?

“Apa yang akan kau curi dariku?”

Itulah tanyamu yang tak pernah bisa kujawab. Ah, kau seperti lelaki saja. Senang tak menyukai diri. Mungkin kau perlu melihatku agar tahu rasanya berwajah perempuan. Setidaknya, gambarmu mengair dalam gelas lalu kata-kata tegak memanggil.

Apa yang tak dapat kumiliki darimu?
Pesanmu tak pernah sampai.

Kendari, 2010



Semekar Bunga Pada Suatu Kenangan

Oleh Dwi Klik Santosa

Pernah ingin kupetik bunga itu
“Jangan dulu, tunggu saatnya nanti tiba”
Angin seperti membisik memberitahuku
Setiap pagi tiba, menjelang sore, kadang di tengah malam
Selalu kuawasi makhluk mungil di pot itu
“Andai saja kau nanti menerimanya”

Hari-hari yang panas
Ibukotaku riuh diderak revolusi
Dimana keramaian adalah jerit tangis kehilangan
Dan gelak tawa adalah wajah-wajah yang hilang
Debu-debu mengepul menjelma sejarah kelam

Seonggok kangen kubawa
Dari rantau membara ke kota kasur tua
Bunga itu jadi kupetik setangkai dengan asaku
“Persetan dengan suksesi”
Perih, remuk, rinduku yang malang
Bungaku layu sebelum sampai padamu
“Naomiku, malaikat yang terlalu cepat
atau aku yang selalu terlambat”

pondokaren
5 juli 2010
: oo.27


Luap

Oleh Adhy Rical
1/

air yang tenang
menenggelamkan kampung kami
nyanyi sunyi pagi itu
menjadi pekik
bahkan semua mantra yang pernah kau
ucapkan, menguap dalam hitungan jari

di bawah rumah
perahu lesap karena tak ada damar
yang meracik keluhmu luruh
sampai jauh mendayung kabar
bahkan semua ayat surau
seperti liang yang menunggu

2/

angin yang tenang
menengadahkan wajah kami
kampanye riuh siang itu
tumpah
bahkan semua janji yang kau
katakan meluap dalam hati

di bawah rumah
tak ada nyala api
yang membakar biar
sampai kau datang
dengan ratusan poster
dan kata-kata yang tertata
seperti nasi bungkus yang kemarin

Kendari, 2010


Laga

Oleh Adhy Rical
“bolehkah kau berhenti mencintaiku?
agar kutahu rasanya kehilangan”
(Kemarin jam 22:59)

Kertas buram di meja itu tak menyerap kisah. Gambar-gambar wajahmu, sebagian kugaris silang seperti menjawab ketakutan malam ini: kau akan pergi. Di bingkai, kaca-kaca tegak mengajak jantungku usai, tapi bukan kematian. Mereka berkumpul sepanjang sisa kopi kemarin. Mirip mimpi remaja: berbasahan. Tak ada lagu, desah, atau doa. Pesan pendekmu: semalam, kubunuh sepi, dan kau akan mati tak terbunuh. Aku pergi sebelum kehilangan berhenti. Aku (akan) berhenti sebelum lonceng berbunyi. []

Kendari, 2010


%d blogger menyukai ini: