Tag Archives: kaki

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Weeeeeeeeekkkkk…

Oleh Dwi Klik Santosa

 

 

Weeeeeeeeekkkkk ….

Kusobek surat itu ragu-ragu

“Engkau manis, tapi, sebaiknya jangan terlalu berharap padaku …”

Weeekk … weeekk … weeekk … weeeekkk

Jadi serpihan ia

Dan kutebar penuh semangat, memanja mengkalku

Weeeeeeeeekkkkk ….

Tak sengaja kaki menginjaknya

Nampak sebal, ia bangkit lagi dan nyebur ke sungai

Weeekk … weeekk … weeekk … weeeekkk

Suara itu bagai tawa yang menyebalkan

Huh … melamunkan berdansa mesra bersamamu

Malah terpeleset mandi bersama bebek itu

Weeeeeeeeekkkkk ….

Celanaku sobek sewaktu badanku terjatuh, terjengkang

Sepeda itu njungkel ke parit mempertegas seduku

“Mata yang nakal, kenapa tak bisa melupa .. kenapa tak bisa …”

Kupalingkan mukaku, supaya tak terbaca aib itu

Weeekk … weeekk … weeekk … weeeekkk

Huh …. buru-buru gerakku, kian saja melapangkan cela itu

Dan barang ajaib pula tersembunyi pun menganga tak lagi ragu

Tapi, ahai … malu hanya sejenak

Engkau yang pingkal, senyum-senyum melihatku

Justrulah biang, muasal lekatnya engkau dan aku

Zentha

30 September 2010

: 16.01


Tiga Indera Kau Salah Kata (Lupa) ?

Oleh Afrilia Utami

/1/

Ada yang retak di kakimu

Di ujung kuku-kuku melulu malu

Termutasi. Ilusi mat(i) mengepala sakau

Di ekor bayang mu?

/2/

Dengarlah bisu di dua mataku. Tidak

Mempunyai sanak sejak kanak-kanak

Kau lupa beranak. Aku Lupa menanak

Kudus batu. Musaf pelepah perak tinta rangka

Tengkorak.

Jahiliah mu?

/3/

Hilang suara telinganya. Jangan tanya

Tiga wat terawat. Pengomposan UCAP, pembibitan

Tepat KATA. Hijau kaumata kacamata.

Semakin biang dinding gugur bunga rupa. (katanya)

Murah yang murahan, sayang…

Engkau Tangis dan ringis yang terus?

[]

12 September 2010


Pijat Oh Pijat

Oleh Very Barus

SUDAH 2 minggu gue berada di Medan. Selama rentan waktu tersebut rutinitas gue cukup beragam. Mulai dari nge-trip ke Berastagi, ke Lau Sidebuk debuk, ke Rantauprapat naek kereta yang sangat melelahkan itu. Juga agenda menyantap makanan gue selama di Medan yang bener-bener nggak ada ‘etika’ di dunia per-diet-an. Karena melahap apa saja yang mengandung kolesterol tinggi. Intinya sudah dua minggu ini badan gue RONTOK. Pengen pijat tapi belum nemu tempat pijat yang bagus dan enak.

Sampai akhirnya, tadi siang, badan semakin nggak bisa diajak kompromi, alias mulai terasa cenut-cenut dan pegelnya semakin nggak SOPAN menyerang tubuh gue. Gue pun nanya ke kakak di mana tempat pijat yang dekat dengan rumah. Disebutlah nama sebuat tempat pijat TUNA NETRA yang ada di Jalan Sei blablabla(sei itu sama dengan sungai). Jaraknya nggak jauh-jauh amat dari rumah. Disarankan jalan kaki saja ke sono karena dekat. Tapi karena badan lagi malas berjalan kaki, gue pun naek becak saja… Cuma ngerogoh kocek 3000 kok!

Nyampe di tempat pijat gue lihat ada beberapa tukang pijat tunantera yang sedang duduk-duduk menunggu customer. Gue bilang mau pijat. Dan langsung di tuntun ke kamar yang bersekat-sekat (seharusnya gue yang nuntun si tunanetra eh malah dia yang nuntun gue).

SINGKAT CERITA NIH…

Badan gue mulai dipijet sama si abang pijat. Oiya, satu hal yang paling gue tidak suka saat dipijat adalah kalo diajak ngobrol sama si pemijat. Gue paling anti ngobrol sambil dipijat. Karena menurut gue nggak penting banget ditanya-tanya hal yang nggak penting (nama, alamat, kerjaan dan asal-muasal. Nggak pentinggggg deh!! Mau sensus apa mau pijat??? ). Gue pengen menikmati pijatannya.

Pijatan pertama dimulai di bagian telapak kaki. Si ‘abang’ tukang pijat memijat telapak kaki gue menggunakan alat yang terbuat dari kayu berbentuk bulat yang ujungnya tumpul. Tapi anehnya, si abang pijat ini menusuk-nusuk benda tumpul itu ke telapak kaki dengan sekuat tenaganya. Bukan rasa nyaman yang gue rasakan justru rasa teramat sakit karena tusukan alat pijatnya tadi…

“AWWW…!!!! “—teriak gue.

“Sakit bang?” tanya si tunet.

“Iya…”

“Itu tandanya badan abang benar-benar sakit semua.”

Sotoy banget tuh si tunet. Wong dia nusuk-nusuk telapak kaki kok malah badan yang sakit. Parahnya dia nusuk sekuat tenaganya gimana gue nggak menjerit! Tapi gue coba bersabar. Mungkin cuma di bagian telapak kaki doang dia mijit sekuat tenaganya.

Tapi, saat giliran kaki dan paha gue mulai dipijat, ternyata pijatannya semakin bertenaga. Semakin sakit dan semakin membuat gue…Aw…aw…aw…aw…—alias menjerit-jerit.

Pokoknya seluruh energi yang ada ditubuhnya dikeluarkan untuk memijat badan gue. Bukan memijat dengan tehnik pijat yang sesungguhnya. Soalnya gue punya langganan tukang pijat di Bandung yang bener-bener asoy geboy dah. Kalo dia mijat nggak membuat gue menjerit-jerit tapi tertidur sangkin pijatannya bener-bener pake manner!

Intinya, waktu dia pijat bagian kaki sampe paha, gue sudah ampun-ampunan minta tolong. Tapi dia malah bangga dan bilang…

“Sakit bang…? Itu tandanya semua badan abang sakit… Harus dipijat dengan tenaga yang kuat…”

Nggak segitunya kale… Soalnya saya juga sering pijat kok. Tapi nggak sesakit ini. Pake tehnik dong biar nggak kesakitan…”

“Tapi di sini pijatnya begini bang. Kalau sudah menjerit-jerit berarti pijatannya benar.”

Busyet dah… Teori dari mana si abang itu? Kok bisa bilang menjerit dulu baru pijitannya nampol??? Enak aja…!!! Yang ada badan semakin rontok bukan semakin seger.

“Pijatnya nggak usah kenceng-kenceng deh bang…”

“KENCANG? MACAM NAIK KERETA (motor) pula abang ini… Bukan kencang bang tapi jangan kuat-kuat…”

Terserah elo deh…!!! (Hmmmmm…ngeyel kan si tunet…??).

Sampe lah bagian punggung gue dipijat. Dan pijatannya masih tetap sakit. Ternyata pijatan yang dipelani sama dengan nggak dipelani tetap saja rasanya sama. SAMA SAKITNYA!

Arggghhh…!!!

Untung ngilangin bete, gue pun BBM-an sama teman gue Liza dan Glen. Tapi entah telingannya terlalu sensitif atau rasa inginnya yang terlalu tinggi. Tiba-tiba saja dia mengomentarin begini…

“Suara apa itu bang…?”

“Yang mana…?”

“Yang krik…krik…krik…itu”

Ternyata dia mendengar suara scroll Blackberry (Onyx) gue yang gue geser-geser saat membaca pesan BBM dari teman-teman gue. Karena kesal gue jawab aja asal…

“Oo…itu suara hape saya…”

Hape apa bang. Kok nggak pernah dengar suara seperti itu…”

“Hmmm…Nokia E72…”

“Ooo…suaranya begitu ya. Beda dengan suara-suara hape yang lainnya…”

Argghhh…!!! Nanya mulu nih orang. Kalo dilayani dia malah kebanyakan nanya. Langsung aja gue diemin. Dan gue asyik bbm-an sama Liza mengeluh soal pijatan di tunet ini.

Trus…

Waktu dia mijet di bagian tangan gue. Bertambah lagi penderitaan gue. Pijatannya bener-bener kelewatan deh. Tangan gue diplintir…plintir kayak meremas kain cucian… sakit banget!

“Awww…sakit banget!!”

“Sakit ya bang…?”

“Ya iya lah…!!!!”

“Berarti tangan abang juga benar-benar sakit.”

Arrghhhhh…!!!! Sotoy banget si tunet ini…semua yang dipijatnya terasa sakit malah dianggap wajar. Busyet dah…!!

Parahnya lagi waktu bagian kepala gue mau dipijat, eh, dia mau memelintir kepala gue (mau dibunyikin gitu deh). Langsung dong gue marah. Wong gue nggak pernah membunyi-bunyikan kepala gue dengan cara memelintir ke kiri dan ke kanan. Eh dia malah pengen seenaknya aja melakukan itu… Ini tunet bener-bener bekerja tanpa perasaan melainkan pake paksaan tenaga (sekuat-kuatnya).

Usai dipijat badan gue bukan makin seger melainkan makin remuk redam. Makin sakit dan bener-bener RONTOK!!

Kesimpulan dari HASIL PIJATAN SI TUNET ADALAH…

Bener-bener menderita…bener-bener sakit…bener-bener rontok…bener-bener nyesel dan bener-bener KAPOK…!!! Nggak bakalan mau datang ke situ lagi!

[]


Orang Africa

Oleh Mappajarungi Manan

ADA joke begini, manusia apa yang paling tua di dunia? Jawabnya manusia Africa atau yang berkulit item.

Kenapa?

Ceritanya begini. Ketika pertama kali manusia diciptakan dari udara, air, dan tanah, Tuhan memerintahkan malaikat untuk memanggang adonan yang terbuat dari udara, air dan tanah itu ke dalam oven.

Saat dimasukkan ke oven (pembakaran), rupanya pembakaran dalam oven itu terlalu lama, sehingga hasilnya gosong. Malaikat-pun mendapat murka dari Tuhan semesta alam, karena terlanjur jadi, maka Tuhan meniupkan ruh lalu ditempatkanlah manusia itu di bagian tengah di bumi ini. Itulah manusia Africa.

Selang beberapa abad kemudian, Tuhan memerintahkan lagi untuk membuat manusia yang lebih baik agar tidak gosong. Segeralah malaikat mengerjakan adonan seperti semula, kemudian memasukkan ke dalam oven pembakaran. Karena takut atas kemurkaan Tuhan, malaikat itu dengan seksama mengamati pembakaran dalam oven.

Karena takut gosong, buru-buru malaikat mengangkatnya dan meletakkan di altar untuk persembahan (tapi tak dibunuh), tapi apa yang terjadi, rupanya program pembuatan manusia kedua itu, lagi-lagi keliru, malaikat terlalu cepat mengangkatnya, sehingga adonannya masih putih belum matang. Karena terlanjur dan proyek itu tak sia-sia, lantaran telah menelan anggaran begitu besar, maka dibiarkanlah manusia itu hidup sebagai orang bule, itulah orang-orang yang mendiami Eropa.

Rupanya, Tuhan tidak puas dengan kedua program itu, maka Ia memerintahkan lagi malaikat untuk membuat manusia yang betul-betul sempurna dan matang sehingga enak dipandang. Lantas malaikat membuat adonan lagi, karena ketakutan berbuat salah yang ketiga kalinya, malaikat begitu ekstra hati-hati. Pendek kata, kerja penuh konsentrasi. Hasilnya tidak sia-sia, pembakarannya yang dihasilkan mantap. Itulah manusia Asia, termasuk Indonesia. Jadi manusia Indonesia termasuk ciptaan malaikat yang sempurna.

Sebenarnya, manusia Africa memiliki ketahanan fisik, karena didera dengan alam yang menantang. Manusianya dibentuk dari alam. Karena kondisi alam yang menantang maka hidup manusianya juga penuh tantangan. Perempuan Africa, rata-rata memiliki postur tubuh yang menarik. Coba saja amati pinggul wanita-wanita Africa, rata-rata memiliki pinggul yang montok. Sangat jauh beda dengan wanita Jepang yang rata-rata slim alias ramping atau kurus.

Jadi untuk ukuran seksi dan memuaskan pria, menarik untuk dinikmati adalah wanita Africa. Tak mengherankan banyak pria-pria menggemari wanita-wanita asal Africa karena memiliki tubuh yang montok dengan payudara yang rata-rata besar. Karena itu untuk berhubungan dengan wanita Africa memiliki kepuasan tersendiri, baik ia “berada di atas” maupun ketika “berada di bawah”, karena padat berisi maka dudukannya begitu empuk serta tekanan dari atas juga memuaskan…coba saja!!

Tapi, rata-rata betis wanita-wanita Africa itu kecil. Namun ukuran paha ke atas cukup mantap hingga bagian belakang. Juga “masa depannya” menggiurkan. Di Harare, untuk mengajak berhubungan wanita-wanitanya tidak begitu sulit, sepanjang berkenalan dan mengajak untuk berhubungan ya…mudah. Yang penting kita royal terhadapnya dalam segi materi. Karena rata-rata wanita Africa itu terutama bagian Selatan materi merupakan hal yang utama.

Berbeda dengan prianya, pantat mereka itu terlihat tepos dan kurus. Tapi kalau prianya gemuk paling badannya saja yang gemuk sementara kakinya tetap kecil serta pantat tetap tepos. Rata-rata pria di Africa suka berselingkuh. Jadi jangan heran banyak wanita di Zimbabwe memiliki anak tapi tidak memiliki suami. “Iya itu benar, malah ada wanita di Plumtree memiliki 7 anak dari 7 suami” ujar Romo Thomas, warga Negara

Indonesia yang bertugas sebagai missionaris di Bulawayo, Zimbabwe. []


Tarian Dialog Senja Akan Rayu

Oleh Afrilia Utami

Senja di dua mata arah bercerita tentang satu hati, rayu !

“Pautan rayu adakah kau tahu jika aku takut kau terjatuh, sangat takut ketika suara ini mengalun.”

Suaramu tak mengeluarkan kerikir batu kan? Apalagi oli yang mengalir.
Sudahlah aku takkan jatuh

“Ragamu memang tidak sayang, tapi hatimu bakal jatuh.”

Maka semburat senja semakin memerah ketika rona pipimu merubah ranum langsatmu, kian memerah.

“Tahukah dirimu jika kaki kaki hujan itu lebih tajam dari pedang, maka seperti itulah hadirmu ketika menyapa hati.”

Pernahkah kumenyakitimu.
Hingga bahagia mekar di ambang gumammu bahkan di tepi corak senyummu?

” Tahukah dirimu apa yang kurasa ketika itu, sakit teramat sakit, tapi ???
Indah bukan alang alang. “

Rindu hanya buat tarian yg mengendap pada bayang bayang, menukar sebungkus bahagia dengan senyum tangis semata. Aih, hadirku sudah memasuki hatimu kah?

” duhai perlukah aku kata, lihatlah di sudut senja maka pelangi sudah biaskan semua jawabmu itu.”

Maka menyatulah dua arah dalam satu hati, seperti menyatunya surya dengan samudra,
dan tahukah kalian wahai camar kalau senja ini indah, maka usahlah cemburu !

28 Juli 2010

[]

Notes :
sebuah catatan sederhana ketika saya berdialog dengan sahabat baik sekaligus penyair padi, noegi arur.



Doa yang Berkelok ke Timur # 2

Oleh Adhy Rical

Siang itu, tanggal 25 Juli 2005, kau jelas sekali mendengar semua amarahku di ruang rias. Sebenarnya bukan padamu amarah itu. Aku hanya marah pada keadaan. Kenapa keteledoran masih ada dalam tim. Bukankah kau tahu, semenit pun tak boleh ada kata terlambat di sini? Kami telah sepakat sejak lama bahwa sebuah keberhasilan -paling tidak melawan dalam diri- adalah tidak terlambat waktu.

Persoalan sepele sebenarnya tapi mug bercorak hijau yang sudah kami siapkan dari Kendari tak sempat terbawa. Pentas dua jam lagi dimulai. Ini yang pertama membawa tim dengan jumlah yang besar dan pertama pentas di Jakarta. Kami merasa makin kecil di sini. Tentu sangat mendebarkan bukan?

“Dhy, kami sudah cari di pasar Minggu. Benda itu tidak ada. Gimana dong?”
Yaa bagaimana lagi. Benda itu wajib. Judulnya aja Mug, kok ga bisa dapat?”

Tak lama Ahid menelpon lagi. “Dhy, ada solusi gak? Mungkin bisa ganti dengan benda lain?”

“Ada. Nanti aku yang cari!”

Sepertinya, emosi siang itu cukup panas.

“Cari gimana maksudnya? Kamu kan sutradara, gimana ada waktu nyarinya?”
“Tenang saja. Selalu ada waktu yang baik jika kita tenang.”

Aku membayangkan masalah besar di sana. Kalian pasti mengoceh atau mengumpat padaku. Situasi memang tak pantas. Benar-benar tak pantas. Begitulah waktu selalu baik ketika tenang. Bukan secara kebetulan kalau saat itu aku lebih mengandalkan Udin, kawan dari Kendari yang baru tiga bulan di Jakarta kumintai untuk mencari mug. Ia berhasil.

Ada peristiwa yang membahagiakan selain pertunjukan itu.

Pertama, Dewan Kesenian Jakarta mengadakan lomba mengakhiri cerita tingkat remaja. Sesuatu yang tak terbayangkan bagi kami sebab salah satu peserta dari timku berhasil memperoleh juara 1. “Saya suka Eva dalam menjalin kisah seperti itu, Dhy”, kata Ratna Sarumpaet. Ya ya. Terima kasih telah memilih Eva. Ia perempuan yang berbeda dari yang lain, kelakarku sedikit promosi. Hahahay.

Kedua, setelah Mug-Mug tampil, Slamet Gundono meminta kami untuk berkolaborasi. Wayang Suket yang menarik dengan lakon Gatot Kaca. Wuih! Tambah seru. Ini pengalaman berharga bisa bermain bersama “raksasa” dari Solo. Tentu saja TIM saat itu makin ramai dan riuh dengan dialek yang berbeda. Sesekali mas Slamet celetuk ala Kendari Mug dan TAM pun membalasnya ala Solo.

Doa yang Berkelok ke Timur. Ini judul kedua dari catatan yang kutulis. Katakanlah doa yang tak sampai atau belum sampai tapi kutujukan padamu. Beberapa kali pembicaraanku berkelok-kelok tapi belum menemuimu. Aku selalu berdebar menyebut namamu sebab percakapan sederhana kita lalu menginap tiga hari di tempatmu adalah sesuatu yang lain. Kangen? Iya barangkali.

“Kang, boleh tanya?”

Ini pertanyaan awal yang tak pernah aku lupa ketika kau mengajak bermalam di Horison.

“Bukan mug lagi kan? Haha…” Tawa yang ringan. Kukira itulah jawaban paling akrab dan dalam. Kami sebenarnya pernah bertemu di Kendari. Ketika itu ia ke Raha tapi aku tak sampai Raha.

Kok, Kaki Langit, Horison edisi lalu itu memuat lagu Iwan Fals utuh dan diulas sebagai sajak yang bagus sih? Itukan jiplakan!”

“Mungkin editornya penggemar lagu dangdut, Dhy.” Jawaban kelakar itu sudah cukup bagiku. Aku tak perlu bertanya lagi sebab sudah jelas. Tidak semua sajak dan lirik lagu itu dikuasai oleh editor kan?

“Tapi Iwan kan tak sama dengan….”

“Ini yang kedua, Dhy. Kayaknya kita diskusi di rumah saja. Sambil main badminton. Mau?”

Haha… boleh! Sudah lama tak berkeringat dengan badminton.”

***

Horison.

Memasuki ruang tengah, ada banyak foto terpampang. Kukira tak perlu kusebutkan siapa saja foto yang ada di situ. Aku merasakan damai. Ya. Sesuatu yang berbeda. Mungkin karena saat itu tak ada rapat redaksi atau pertemuan lain yang sifatnya urgen maka kesunyian itu menjadi keberuntungan tersendiri buat kami. Hemm… Aku langsung menuju lantai paling atas sebab katamu ruangan di sana paling cocok untuk kami. Pas untuk latihan. Lumayan, ruangnya cukup luas dengan beberapa jemuran di sekitar tembok.

Mulailah kau bercerita lebar tentang kesibukan awak Horison jelang deadline sampai motif cover yang pertama kali kubilang monoton. Tentu saja itu yang pertama kubilang sebab pengalaman kerja sebagai layouter di koran lokal cukuplah alasan untuk menolak. Apakah cover itu sebuah pencitraan atau hal lain? Diskusi malam hingga larut itu menarik sekali. Malam itu pula kali pertama melihatmu memakai sarung setelah beberapa hari sebelumnya, penampilanmu kebapakan dengan motif kemeja abu-abu lengan panjang dan celana kain jatuh abu-abu tua. Bukankah aku mengetahui semua jenis kain karena bekerja lima belas tahun sebagai desainer tekstil orangtuaku?

Mendadak kau mengeluh sakit ketika kita bermain badminton. “Dhy, udah dulu ya!” Cuma itu katamu. Tak ada bicara lagi lalu masuk kamar menyendiri.

Sayang sekali kita harus berpisah. Terlalu banyak hal yang kami dapatkan darimu tapi kami harus berangkat ke Yogyakarta. Tampil di Teater Garasi pada tanggal 28 Juli 2005.

“Hubungi kalau sudah sampai Jogja ya, Dhy. Tentu saja, kabar dari Kendari kutunggu selalu.”

“Siap, Kang!”

Sebuah sms dari Ahid masuk pada tanggal 23 November 2009, “Dhy, Akang berpulang ke rahmatullah.”

Aku hanya diam lalu menulis puisi pendek: Tuhan Mencintaimu. Sajak ini termuat dalam antologi puisi “Berjalan ke Utara”.

[]

Kendari, 2005-2010


Tuhan Mencintaimu

Oleh Adhy Rical

: mwa

semalaman kau melawan koma
sepagi ini kabarmu tiba
sekadar mengingatmu di kaki langit
kau bawakan mug dari pasar minggu
untuk kupakai minum di tim
sambil bercerita
tentang ginjal kita yang tak bertemu

tuhan mencintaimu
kami setelahnya

Konawe, 2009
[]

akhirnya kutemukan dirimu dari file temanku


Lalindu

Oleh Adhy Rical

arus yang alir
membawa wajahmu
dari atas bukit tanah merah
mengawan ke hulu
seakan kepak kongga owose
yang lari dari larumbalangi

pucuk-pucuk sawit
dan anak-anak rakit
melambai sayu, merambat saru
kita hidup karena seru

ada ikan di matamu
kerang sungai di rambutmu
kuhirup diam-diam sahaja
kita tiada karena tanya

payudaramu terbelah setengah
gundukan pasir di bawah pusarmu, engah
kita menolak percintaan, lalindu
sebab gairah tak harus dengan rindu

bukankah setiap lekuk perjalanan waktu
berhenti setelah kedua kaki bertemu?
seperti doa yang berkelok ke timur
mata yang pelan-pelan mengabur

Walalindu, 2010

kongga owose: burung rajawali, dalam mitos suku tolaki, darah burung itulah yang membuat seluruh tanah di konawe dan mekongga berwarna merah.


Dukun Cinta

Oleh Adhy Rical

(Fodo, Fido, Maryam)

Fodo, buta angka dan aksara
tapi fasih melafal nama dengan mantra

Malam Jumat legi
Fido, dosen Biologi
sujud ke Fodo minta polemore* hingga pagi
resep kaki tekukur diukur
maharnya: murmukumurdubursukur

Bukan pakar yang tak debar
bila zakar mungkir mekar
karena tersebar kabar besar
mantra Fodo tak pernah hambar

tak peduli laki-perempuan asal sabar
Fodo kian tenar

Malam cekam Fido geram
seperti luka kena garam
napasnya bertualang arung jeram
Maryam sering keluar malam

kurang ajar, bentaknya garang
Maryam bawa koper barang
meski panas hujan menyerang
Fido buntuti Maryam dengan parang

Enam malam hatinya gamang
Fodo dan Maryam jalang di bawah ranjang

Motaha, 2004

* Ilmu teluh suku Tolaki



%d blogger menyukai ini: