Tag Archives: makassar

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


[Buku Baru] Gadis Portugis

Gadis Portugis (Mappajarungi Manan)

Judul: Gadis Portugis

Penulis: Mappajarungi Manan

Tebal: 440 halaman; 14x20cm

Tahun terbit: Juli 2011

Harga : Rp.50.000

Penerbit: Penerbit Najah

ISBN: 978-602-978-800-6

***

Ada geletar rindu dalam gelegar perang yang sama-sama dahsyat dalam novel ini!

Saat geletar-geletar cinta itu tumbuh, genderang perang tiba-tiba terdengar demikian keras dan mengerikan…

Perempuan yang tidak memilih jalan pulang

***

Pada abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Kondisi ekonomi Gowa demikian makmur.

Salah satu pahlawan yang berperan penting dan berdiri di balik kejayaan tersebut adalah Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa.

Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar Portugis yang bernama Elis Pareira. Benih-benih cinta pun muncul di antara mereka. Begitu kuatnya cinta mereka, Karaeng Ceddi bahkan sanggup melanggar batas adat-istiadat yang dipegangnya selama ini demi hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.

Apa yang kemudian terjadi? Bagaimana nasib cinta mereka saat perang besar berkobar antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon?

Inilah novel yang berhasil meramu unsur heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik!

***

INILAH kisah gadis yang terseret cinta di medan perang. Bangsawan Palangga jatuh cinta kepada seorang gadis Portugis. Lelaki gagah berkumis tipis dan berkulit putih itu adalah putra penguasa di wilayah Palangga bernama Karaeng Caddi.

Ia jatuh cinta kepada putri bangsawan Portugis Benyamin Pareira bernama Elis. Keluarga terpandang asal Portugis ini tinggal di kawasan Paotere. Keluarga ini pedagang sukses yang mengumpulkan rempah-rempah dari Maluku.

Di dalam novel sejarah berjudul Gadis Portugis ini, getar-getar cinta itu tumbuh ketika genderang perang sedang ditabuh. Belanda terus berusaha mengacaubalaukan Kerajaan Gowa. Karaeng Caddi dan Elis semakin sulit dipisahkan. Pasangan ini berusaha mendobrak tradisi kuat masing masing keluarga.

Kedua orangtua Elis tidak setuju anaknya menikah dengan Karaeng Caddi yang terkenal sebagai putra mahkota di wilayah Palangga. Terutama ayah Elis, Benyamin Pareira ingin anaknya mendapat jodoh dari kalangan Portugis pula.

Sebaliknya Karaeng Caddi yang juga ketat dengan adat, justru melawannya. “Adat Makassar tidak ada yang secara tertulis menghalangi cinta lain bangsa. Pemuda-pemuda Gowa bebas menentukan jodohnya,” kata Karang Caddi ketika seorang temannya mengingatkan.
Belanda bersama sekutunya berhasil menyerang Kerajaan Gowa. Orang-orang Portugis dipaksa meninggalkan Makassar termasuk kedua orangtua Elis. Anak-anak termasuk Elis mengungsi ke gereja.

Karaeng Caddi dan karaeng-karaeng lainnya masih berusaha melakukan perlawanan meski Perjanjian Bongaya sudah ditandatangani. Elis pun malahan memimpin pasukan perempuan melakukan perlawanan.

Ketika perang mereda, Karang Caddi pulang ke Palangga bersama Elis. Karaeng Palangga bersama istrinya kaget bukan kepalang melihat anaknya membawa serta seorang gadis.
Setelah dijelaskan, kedua orangtua Karaeng Caddi ikut gembira. Tetapi persoalannya, kekasih anaknya itu berbeda agama. Namun karena cinta yang telah membara Elis pun ikhlas mengikuti agama pacarnya sehingga mereka pun melanjutkan jalinan cinta ke pelaminan. (Tasman Banto/Tribun Timur: Putra Mahkota Palangga Mencintai Gadis Portugis)

***

PADA abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Kondisi ekonomi Gowa demikian makmur.

Dan, tahukah Anda bahwa salah satu pahlawan yang berdiri di balik kejayaan tersebut adalah peran penting Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa.

Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar dari Portugis yang bernama Elis Pareira. Benih-benih cinta pun muncul di antara mereka. Saking kuatnya debaran-debaran perasaan tersebut, Karaeng Ceddi melanggar batas-batas adat-istiadat yang telah dipegangnya bertahun-tahun dengan melakukan hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.

Lantas, apa yang terjadi kemudian? Terutama saat perang besar meletus antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon?

Penulis novel ini yang memiliki pengalaman panjang sebagai seoang jurnalis, baik di dalam negeri maupun di mancanegara, meramu kisah di dalam novel ini dengan penuh kesabaran. Bahkan pembaca seolah-oleh dibawa mengimajinasikan suasana dan konflik yang terjadi di abad keenam belas tersebut.

Inilah novel yang berhasil meramu unsur heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik! Saat geletar-geletar cinta itu tumbuh, genderang perang tiba-tiba terdengar demikian keras dan mengerikan. (Rul/Wartakota: Novel Gadis Portugis)



Daeng

Oleh Mappajarungi Manan

Tiga puluh tahun silam, tiap liburan sekolah, aku selalu diajak oleh bapak untuk liburan ke kampung halaman kakek-nenek. Maklum, saya tinggal di desa yang terpencil di Rate-Rate, Kolaka. Begitu riang gembira rasanya. Bisa jalan-jalan ke Ujung-Pandang (Makassar, kini). Kendatipun kampung bapak di Bontoramba, namun terbilang dekat jaraknya dari kota Sungguminasa, ibukota Kabupaten Gowa. Demikian halnya dengan Ujung Pandang.

Memori masa kecil masih tergambar dalam benakku. Setelah lebih dari 30 tahun itu. Apalagi tiba-tiba dari gedung Senayan tempat wakil rakyat itu berkantor keluar kata Daeng dari mulut Poltak (politik tak karuan) yang meminta mantan Wapres M Yusuf Kalla agar tenang dengan memanggil Yusuf Kalla, “Daeng”. Kontan para wakil rakyat yang ada di gedung itu memprotes. Tak ayal lagi, gemanya hingga ke penjuru belahan negeri ini. Disambut nada protes!.

Sejak kecil, ditelingaku akrab mendengar sebutan Daeng. Teringat, saat bermain di rumah sepupu di Sungguminasa, di samping rumah sepupu tinggal seorang perempuan nan cerewet. Di halaman perempuan itu terdapat pohon mangga. “Mappa, kita panjat mangga” ajak sepupuku yang namanya Accang. Adik Accang, Cilli, juga ikut. Kedua sepupuku badannya ramping. Tapi, dalam soal panjat-memanjat, aku terbilang lincah.

Pendek kata, aku memanjat mangga di halaman perempuan tua itu. Maklum anak-anak melihat mangga ranum, langsung sikat saja. Cilli yang kecil dan lincah tiba-tiba lari dan teriak. “Mappa!!,.. Turun!!.. ada Daeng Kuning”. Accang juga berlari. Tinggallah aku di atas pohon mangga itu meringis. Namun, aku sempat berpikir : “Kok perempuan ini dibilang Daeng Kuning, kenapa pakaian dan kulitnya tak kuning?” Aku tak berani turun dari pohon mangga itu, kendatipun Daeng Kuning meminta aku turun. Tegang , aku pasrah.

“Punnah teako naung, kujoloko,” kata Daeng Kuning. Akupun turun dan segera berlari menuju rumah sepupuku yang bertetangga dengan Daeng Kuning. Tak menghiraukan omelan Daeng Kuning. Dari kecil, aku sering bertanya dalam hal apa saja. Nah yang selalu terngiang soal Daeng Kuning, kenapa sampai dinamakan Daeng Kuning?..

Di Sulawesi Selatan semua yang dianggap tua dipanggil Daeng. Bagi etnis Makassar yang mendiami Kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Maros. Tidak memandang itu tukang becak, dipanggil daeng becak, tukang kayu dan tukang apa saja kalau dia lelaki lebih tua dari yang memanggil, pasti dipanggil Daeng. Entah sejak kapan panggilan itu melekat pada diri Daeng becak dan Daeng-Daeng lainnya. Kata Daeng mulai merakyat dan dipergunakan pada khalayak setelah Indonesia merdeka, maka nilai-nilai sakral daeng mulai tergerus oleh zaman.

Padahal, bagi etnis Makassar, penggunaan kata Daeng itu, sangat sakral. Itu, hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan. Kalau bukan bangsawan, maka ia akan dipanggil sesuai dengan namanya saja. Misalnya, seorang lelaki bernama Hardik, maka ia akan dipanggil dengan Hardik saja. “Oe Hardik, kamu mau kemana?” begitulah panggilan buat yang bukan keturunan bangsawan.

Tapi, bila ia keturunan bangsawan, ia akan memakai nama pemberian Daeng. Misalnya Sultan Hasanuddin Daeng Mattawang, atau Rahim Daeng Nyonri. Demikian pula dengan wanitanya juga ada pemberian Daeng (Pa’daengang). Misalnya: Hayati Daeng Rannu (perempuan yang periang) Wati Daeng Puji (Wanita terpuji perbuatannya), Endang Daeng Te’ne (Perempuan yang manis). Jadi cara memanggil mereka, jangan menyebut nama yang ada didepannya, tetapi nama pemberian yang ada setelah Daeng, Misalnya Endang, harus dipanggil Daeng Te’ne. Kalau memangil namanya, akan kurang sopan dan dinilai tidak bermartabat..Nah kepada Perempuan Daeng Kuning, sampai sekarang saya masih belum mengerti kenapa diberi nama Daeng Kuning?.. Nama sebelum Daeng Kuning, saja juga tak tahu. Entahlah.

Di Kalangan etnis Bugis dan etnis lainnya di Sulawesi Selatan seperti Lu’, Mandar, Tator, Duri, Silaja, yang merupakan saudara-saudara etnis Makassar sangat kental penggunaan kata Daeng. Dulu, sebelum penggunaan kata Andi, bagi bangsawan Bugis, juga menggunakan pemberian nama Daeng. Namun entah, bagi kalangan Bugis sudah jarang penggunaan Daeng. Hanya saja kalangan Bugis menggunakan kata Daeng untuk memanggil orang-orang yang lebih tua baik kepada perempuan maupun kepada Laki-laki. Jadi bagi orang Bugis, kata Daeng adalah Kakak Tertua. Begitupun kini di kalangan Makassar.

Di bumi sulawesi selatan, kendatipun ada beberapa etnis yang berlainan bahasa namun sikap dan karakteristik sama. Sama-sama menjunjung tinggi harga diri. Siri na pace. Siri adalah malu, pacce adalah harga diri yang turut membantu teman, intinya adalah solidaritas. Jadi, jangan heran persatuan dan kesatuan dari Sulawesi Selatan sudah lama terbangun. Jadi, ketika orang-orang Sulsel dipermalukan, maka akan timbul pacce secara serentak, untuk melawan orang yang mempermalukan itu. Sebab, bila tidak maka orang yang dipermalukan tak lain itu ibarat hewan. Malu adalah harga diri, harus ditegakkan.

Dalam kasus Poltak tadi, etika penggunaan kata Daeng memang kurang tepat. Karena dalam forum terhormat itu, alangkah bijaknya kalau Poltak memanggil M Yusuf Kalla sebagai saudara. Karena bagaimanapun, parleman merupakan lembaga tinggi negara yang dipilih oleh rakyat. Kalau memanggil Bapak, juga kurang tepat. Namun, etika politik Poltak intinya tidak elegan. Sistem komunikasi politik yang dimilikinya tidak ada.

Sedikit mengutip pakar komunikasi politik, Barlund, dalam berkomunikasi, harus dinamis yaitu suatu proses perilaku yang dipikirkan seorang penafsir dan bukan suatu yang tersendiri dan tidak dipikirkan. Lalu, dia memahami makna yaitu ada urutan yang linear dalam arus makna dari seorang kepada yang lain. Tapi si Politik Tak Karuan itu, tidak memahami makna, terkesan ingin mengacaukan dan carmuk. Tidak hanya melecehkan “Daeng” tapi juga pernah menghina Chines. Nah Poltak. []

Tulisan ini juga bisa dibaca di: http://www.mappajarungi.multiply.com/


%d blogger menyukai ini: