Category Archives: Novel

Melongok Sedikit “Isi Perut” Novel Garis Merah di Rijswijk

Di buku kesatu dari trilogi Rijswijk ini, kita akan membaca beberapa hal dalam setting Batavia (Betawi), Kwik Tang Kiam, seperti apa jam malam di Passer Senen, Passer Baroe, Kramat Raya. Pelarian Tan Sjahrir di subuh buta, menghindari Marrechaussée Belanda, dan akhirnya berlindung di salah satu rumah warga Betawi di Menteng.

Ada kejadian lucu di Kedai Kopi Acim, di depan Gang Sebelas, saat seorang tentara pelajar dari Kompi IV Komando Gerilya Kota wilayah Kebon Sirih menjemput Makhzam dari persembunyian di Cikini. Juga pertemuan pertama kali Makhzam dengan Sri Yanti.

Aksi-aksi sabotase Malaka dan Makhzam di Solo dan Semarang terhadap tangsi Belanda, saat Komando Pasukan Hijrah bergerak ke Bandung. Menyergap pos-pos dan tangsi logistik Belanda di sekitar kota Cina, Semarang dan merampok kereta api uap DD ALCO yang membawa logistik ke Jogja, membuat Mook, petinggi intelijen militer Belanda, naik pitam dan marah-marah pada Gubernur Jendral Stachouwer.

Malaka dan Makzham dimarahi Gatot Subroto karena mempermainkan Kapten Sanyoto dan menjadikannya lelucon di antara pasukan tentara pelajar, hanya karena lebih cekatan daripada Peleton Intai Tempur milik Sanyoto.

Lalu, percakapan Tan Malaka soal gerak ideologis Marx, dan apa maunya Soekarno pada penyatuan tiga aliran penting pemikiran yang dicampurnya, dan tentang posisi Tjipto dan Douwes Dekker—di sebuah kamar kecil di Jogja. Lalu, sejauh mana peran utusan-utusan Celebes dan Borneo sebelum pertemuan di Des Indes. Ada Rohana yang jago masak dan menjahit, tapi pandai menulis di surat kabar Perempoean Bergerak.

Bagaimana silang pendapat Sjahrir dan Malaka soal okupasi Nippon, dan seperti apa Hatta menengahi pertentangan itu. Pembicaraan dan siasat rahasia yang dibangun Mook, dan rencana Jonkheer Stachouwer membendung arus kepentingan di dalam Casteel Rijswijk. Posisi Amir Sjarifuddin di antara NEFIS dan kaum Calvinis di Kramat 106. Seperti apa permulaan siasat yang di bangun dan ditelusupkan Grand Mason-Zion, yang membonceng dalam setiap upaya Mook dan NEFIS.

Seperti apa nota aliansi sekutu yang diterima NEFIS, soal penimbunan kekuatan armada Nippon di Pasifik Barat Daya membayangi ancaman pada gugus Pulau Savo, Kepulauan Solomon, Kepulauan Santa Cruz, Semenanjung Huon, dan Kepulauan Admiralty. Lalu, pada gugus Guadalcanal, di mana bertebaran area-area yang ditandai bendera kecil berpita merah—Pulau Savo, Solomon Timur, Tanjung Esperance, Kepulauan Santa Cruz, dan Tassafaronga. Dan bendera-bendera kecil berpita biru, di gugus Solomon—Teluk Kula, Kolombangara, Teluk Vella, kawasan laut Vella Lavella, Teluk Kaisar Augusta, dan Tanjung Saint George.

Apa maksud pasukan Nippon pada bendera kecil berpita oranye berstrip kuning, yang ada di area dalam Gugus Guinea Baru: Laut Karang, Kokoda, Buna-Gona, Laut Bismarck, Teluk Nassau, Salamaua-Lae, Semenanjung Huon, Britania Baru, Kepulauan Admiralty, Aitape-Wewak. Dan, area berbendera kecil hijau di wilayah terluar Hindia: Biak, Noemfoor, dan Morotai.

Bagaimana siasat sekutu mengantisipasi pertahanan di wilayah ujung Filipina, Bataan, Selat Badung, Laut Java, Selat Sunda, Pulau Timor, Teluk Leyte, Borneo dan Celebes, yang masuk dalam peta perang Pasifik. Bagaimana kepanikan pemerintah Hindia tentang rencana serbuan Nippon selepas Operasi Selatan—dan mulai memasuki Andalas lewat samudera Hindia.

Lalu, kita ke Benkoelen (Bengkulu), menyimak kisah Soekarno dan Haji Hasan Din. Seperti apa posisi Benkoelen dalam kepentingan dan nafsu penguasaan oleh EIC dan VOC yang masif di sana. **

 

Judul: GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

 

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)

Novel ini ditulis dengan teknik Gonzo-Story


[Buku Baru] Garis Merah di Rijswijk

Garis Merah di Rijswijk, #1

Novel: Garis Merah di Rijswijk (Trilogy #1)

Novel Unggulan Lomba Novel Republika 2012.

GARIS MERAH DI RIJSWIJK

(buku kesatu dari Trilogi Rijswijk)

Penulis: Li Loh

Penerbit: Republika, Juni 2012.

ISBN: 978-602-759-504-0

Harga : Rp. 57.500,-

Dapatkan di Toko Buku Gramedia

atau Hub. Penerbit Republika (Rida) di: 021-7803747 (ext. 103)


Perempuan dalam Hujan

Oleh Syaiful Alim

Aku memandang hujan dari jendela kamar rumah flatku. Hujan ini membawaku padamu, perempuanku. Bukankah kau suka hujan? Masa kanak-kanakmu datang lagi jika hujan mengguyur bumi yang belukar. Kau keluar kamar. Bermain basah dengan air. Rambutmu yang panjang tergerai itu kaubiarkan dicumbu bibir hujan. Bibir hujan bersujud di rambut lembutmu. Aku, lelakimu, cuma bisa memandang tubuhmu dan mendengar teriak kanakmu. Karena aku tahu seusai ini kau akan berkata, “Cinta, peluk aku.” Begitulah kau menjaga kehangatan cinta. Kaujadikan hujan sebagai jalan untuk menggodaku dan memasak sesakku. Mungkinkah kelahiranmu disertai dengan turunnya hujan? sePertanyaan ini masih kusimpan. Aku belum berani bertanya padamu. Dan mungkin kau sudah tahu bahwa aku jatuh cinta padamu juga karena hujan. Hujan sore itu. Hujan yang melahirkan pelangi.

Kilau warna-warni pelangi itu sembunyi di teduh matamu dan lesung pipitmu. Jika pelangi itu tak muncul lagi di langit ini, aku masih bisa menatapnya, menatap dan mendekap mata teduh dan lesung pipitmu. Akhir-akhir ini pelangi sulit melahirkan warna-warni cahaya. Peperangan yang tak henti-henti, pertikaan dan pembunuhan selalu tumbuh di bumimu dan bumiku. Burung-burung lupa jalan pulang. Sarang-sarang mereka yang bertengger di reranting, rerimbun daun dan ketiak pohon kurma telah hangus terbakar. Asap-asap menyesak dada. Mungkinkah umat manusia kini lebih tertarik pada logika perang dan pedang? Seolah peperangan adalah jalan menuju perdamaian. Betapa deras airmata dukaku jika ayat-ayat Tuhan diperalat untuk menumpuk mayat. Berapa kali kita akan melayat bersama lalat. Mungkinkah dunia sudah terhipnotis mantra-mantra berikut ini:

“Setiap aliansi yang tidak dimaksudkan perang, sama sekali tidak ada gunanya.” (Adolf Hitler)

“Setiap orang yang tidak ikut perang, harus bekerja untuk kaisar, tanpa upah, untuk suatu masa tertentu.” (Jenghis Khan)

“Semua perang menghendaki perdamaian.” (St. Agustinus)

“Hiduplah dalam keadaan perang.” (Friedrick Wilhelm Nietzsche)

Kau perempuan dalam hujan. Aku sengaja menjebakmu dengan hujan. Hujan yang turun dari langit sajak-sajakku. Seperti biasanya kau keluar kamar menyambut hujanku dengan kerongkongan kemarau. Dan aku mengamati tubuhmu yang utuh dan basah dari simpang jalan. Sambil membawa pencil dan kertas, aku catat setiap gerak dan teriak serak merdumu. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu. Kau jatuh cinta pada sajak-sajakku dan aku jatuh cinta pada gerak dan teriak serak merdumu. Gerak tubuhmu yang lincah dan deras hujan sudah beberapa kali menetaskan sajak-sajak dari jemariku. Suara teriak serakmu mengoyak sepiku. Sepi yang pisau. Menusuk-nusuk daging adamku. Mengalir darah sederas hujan itu.

“Cinta, peluk aku!”

Kauulangi lagi pintamu. Aku tidak memelukmu. Aku lebih baik memberimu handuk. Aku yakin kau masih ingin menikmati basah hujan yang melekat di tubuh dan rambutmu. Usaplah tubuh dan rambutmu, sayangku, bujukku. Dan sudah kuduga apa yang terjadi: kau menolak dan melempar handuk ke lantai, lalu menubruk tubuhku, tubuh karang.

“Aku suka tubuh karangmu.”

Kau selalu mengulang kata-kata itu di depanku. Sungguh aku belum pernah menjumpai perempuan yang begitu jujur seperti kau. Kau selalu jujur dengan nafsumu. Kau selalu jujur dengan pujianmu. Aku suka tubuh karangmu. Rayumu itu membuat nafasku memeluk nafasmu. Dan aku tak berhenti memelukmu sebelum kau meraung dan mengerang.

“Tubuhku memang karang, Sayang, namun di gelombang lautmu aku sering tumbang.”

Hujan dan perempuan. Bukankah kedua jenis mahkluk ini bisa menghidupkan dan mematikan? Aku selalu memandangmu sebagai hujan yang turun membasahi tanah-tanah retak dan sawah-sawah kering. Menumbuhkan tunas pohon yang meranggas. Menumbuhkan benih-benih kehidupan. Membangkitkan akar-akar pepohonan dari trauma panjang. Aku pun sadar, sewaktu-waktu kau menjelma hujan bandang yang memporak-porandakan rumah sembahyang, gedung-gedung, dan ladang-ladang.

Kau hujan santunku, Sayangku. Hadirmu kaupersembahkan kepada akar-akar pepohonan yang terkapar, kembang yang hilang tembang, rerumput yang surut denyut, kerongkongan padi-padian dan umbi-umbian yang kerontang, suami-istri yang berbagi punggung, dan aku yang murung.

Daun-daun pohon kurma berisik diusik angin cerdik. Tubuh hujan yang terpelanting di atap genting menjadi bebunyian denting, namun aku merasa hening. Butir-butir air itu mengalir mencari lubang dan kubang. Wahai hujan, di sini, di negeri ini, kau tak kan menjumpai yang kau mau. Cuma pasir dan debu muaramu berakhir. Seperti aku. Iya, seperti aku yang mencari dermaga bagi badai resahku malam ini. Cinta dan rinduku ditentukan oleh kawat yang merambat di udara dan kabel bandel yang suka membuat sebel. Dolar di sakuku selalu terkapar ketika aku merindu suaramu. Suara serak merdu itu. Ah, cinta memang hanya serindang pohon, sisanya air mata yang memohon. Ah, cinta memang hanya semanis buah manggis, sisanya air mata yang menitis. Ah, cinta memang hanya sesuap nasi, sisanya lumbung padi yang belum terisi. Ah, cinta memang sehelai puisi, sisanya pisau yang sepi. Ah, cinta memang sedesah berahi, sisanya resah yang berujung pada mati.

“Apa yang akan kita lakukan jika bertemu?

Diam batu? Atau meredam nafsu?

Bermain gitar? Atau menusukkan puisi pisau di daging sepiku?”

Ha ha…. Tanyamu yang bertubi-tubi itu membuatku tertawa. Sungguh aku belum tahu apa yang akan kuperbuat. Akankah aku menjelma seekor singa lapar? Akankah aku menjelma pengungsi yang seminggu belum mencium bau beras setakar? Atau lebih baik aku merawat getar dan debar agar mekar mawar? Kelak kita nikmati wangi, meski diri ditikam-tikam duri.

Perempuanku, aku berandai, jika hujan malam ini adalah kau….

*BISA DIBACA VERSI UTUH DALAM NOVEL KIDUNG CINTA POHON KURMA. SUDAH BEREDAR DI TOKO BUKU ATAU PESAN VIA INBOX FACEBOOK SAYA.



Acara Bedah dan Peluncuran Novis : Abimanyu Anak Rembulan, karya Dwi Klik Santosa

Photos : Dokumentasi pribadi Dwi Klik Santosa, dan Abimanyu Anak Rembulan

Nivel Grafis Abimanyu Anak Rembulan

MEJENG BARENG : pak gregory churchill (pecinta wayang indonesia) dan aku

DISPLAY : buku dan harga

PANELIS : Dwi Klik Santosa, Sujiwo Tedjo, Veven SP Wardhana (MC), Henry Ismono, Isa Anshori

KENAPA ABIMANYU : saya menjelaskan kenapa novis ini Abimanyu Anak Rembulan

RUANG ATAS BENTARA BUDAYA : bedah buku dan diskusi novis Abimanyu Anak Rembulan

WAWANCARA : diwawancarai Media Indonesia

DISPLAY : Abimanyu Anak Rembulan di ruang pameran

PIDATO PELUNCURAN : sedikit menjelaskan tentang terbitnya novis Abimanyu Anak Rembulan

INTERAKSI RUANG DAN PANGGUNG : aku dan hadirin

KESAN DAN PESAN PUBLIK : mas Edi Haryono, direktur Burung Merak Press dan asisten Bengkel Teater Rendra memberikan cerita singkat tentang kesan dan perkenalannya dengan sosok saya dan kenapa Abimanyu Anak Rembulan

SIMBOL ESTAFET : penyerahan novis Abimanyu Anak Rembulan dan wayang Abimanyu secara simbolis kepada generasi penerus dilakukan oleh pakdhe Widodo (penerbit Jagad Pustaka)

PEMENTASAN WAYANG URBAN : ruang dan antusias penonton

MAS DALANG NANANG HAPE : dengan energik dan luwesnya, mas Nanang menceritakan perjalanan Abimanyu dalam kemasannya “wayang urban” kali ini

APRESIASI : mas Darma Setiawan (mantan dekan Teknologi Industri Universitas Jayabaya) mengapresiasi novis Abimanyu Anak Rembulan

RESEPSIONIS : mas Yanusa Nugroho mengisi buku tamu

23 JULI 2010 : diskusi dengan mas Sujiwo Tedjo

PARA SAHABAT : kang Kyai Khadziq Faisol dari Salatiga, aku dan mbak Pratiwi


Script Novel: Unabomber, Gadis Kecil di Elliot House

(Not Yet Published)

Prolog

Ia tampil dengan tangan diborgol di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat 19 April 2007. Rambutnya dicukur cepak, jasnya baru, jambangnya pun rapi. Dari tubuhnya tidak terpancar bau apek karena belum mandi, seperti saat pertama kali muncul di pengadilan, 4 April.

Hari itu, Anton Ferdinand, yang lebih akrab dipanggil Tony, 53 tahun, untuk kedua kalinya tampil di pengadilan. Ia tidak boleh jauh dari cengkeraman dua agen khusus Badan Intelijen Negara (BIN) dan dua petugas keamanan pengadilan. Dua agen, dengan jas yang sering menyembulkan pistol di pingganganya, selalu memepet Tony. Padahal, tanpa dikepung pun, Tony sudah berjalan tertatih-tatih. Kedua tangannya dirantai menjadi satu dengan kaki, diikat kencang, sehingga ia tidak bebas bergerak.

Tony diseret ke pengadilan atas dakwaan pembunuhan terencana, kejam dan sadistis, selama 7 tahun dengan cara mengirim paket bom misterius. Paket tanpa alamat itu, ketika dibuka langsung meledak. Sasaran paket Tony tidak lain adalah lembaga penelitian, universitas dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan, seperti perusahaan kehutanan.

###

Gantung! Gantung! Gantung!

Sorak-sorai dan teriakan menggema dari dinding Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Barisan orang sebelah kiri pagar pintu masuk pengadilan meneriakkan anti Anton Ferdinand. Kumpulan orang-orang ini merasa Tony harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya selama ini. Bagi mereka, segala kegiatan Tony selama 7 tahun membuat banyak orang sengsara, makanya mereka memilih untuk menggantung Tony. Kain dan kertas bertuliskan kata-kata kecaman mereka ancung-ancungkan. Tidak peduli, kata-kata itu begitu menyakitkan hati Rohana Ferdinand, ibu Tony.

Lain lagi dengan orang-orang yang berkerumun di depan dan kanan pagar masuk pengadilan. Kerumunan itu, terlihat jelas sebagai kerumunan anak muda, meneriakkan yel-yel simpati pada Tony. Entah apa yang memotivasi mereka untuk menyukai orang yang telah merenggut belasan nyawa dari petualangan mautnya selama 7 tahun.

Di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Tony duduk tegak dikursinya. Kedua tangannya tidak bebas bergerak. Bahkan untuk menggaruk sekalipun. Borgol baja putih yang membelenggu tangan pria ini disatukan dengan kursinya.

Keputusan hakim atas tindakannya selama ini belum juga diumumkan.

Tok! Tok!

Palu hakim Agus Liesnawan mengetuk dua kali. Pengacara Tony, Ibrahim Mustafa dan Jaksa Penuntut Manohan Rusnandar maju ke depan. Mereka berdua lalu terlibat pembicaraan serius dengan hakim. Tidak jelas apa yang dibahas ketiga orang ini. Kemudian, setelahnya mereka kembali ke kursi masing-masing.

Hakim Agus Liesnawan memandang tajam pada Tony.

“Sidang ditunda 30 menit, untuk memberi waktu pada kami mengambil keputusan.”

Setelah kata-kata itu, di sudut ruangan terdengar aba-aba dari seorang petugas pengadilan. Serentak semua orang dalam ruangan itu berdiri. Hakim Agus Liesnawan lalu bangkit meninggalkan ruangan sidang. Setelah itu, lima orang jaksa penuntut dipimpin Manohan Rusnandar, di sayap kanan ruangan satu per satu bangkit menuju sebuah ruangan dimana nantinya nasib Tony diputuskan di sana. Wajah-wajah ke lima orang ini sangat tenang. Mereka jaksa pilihan yang berasal dari berbagai kantor kejaksaan tinggi di beberapa provinsi yang ditunjuk secara khusus menangani kasus Tony. Mereka direkrut berdasarkan kemampuan mereka menangani berbagai kasus berat dan rumit. Sangat serius rupanya, sampai-sampai Jaksa Agung harus memilih mereka secara langsung.

Sementara itu, Tony kembali mendapat pengawalan ekstra ketat dari agen-agen BIN. Selama 30 menit, Tony ditempatkan di ruang isolasi, dan terus mendapat pengawasan. Para agen ini tidak boleh ceroboh menangani orang seperti Tony. Dalam keadaan bebas, Tony bisa merubah apa saja menjadi bahan peledak dahsyat. Tentu ini berbahaya bagi karir mereka juga.

Tony duduk tenang dan sesekali menghembuskan asap rokok, yang diberikan seorang agen padanya tadi. Telah pula didengarnya perkataan pengacaranya, Ibrahim Mustafa, tentang nasibnya kemudian. Tony bisa dijatuhi hukuman sampai yang paling berat. Yakni vonis mati.

Mati.

Mungkin sesuatu yang baru bagi Tony.

Sedotan rokok terakhir diselesaikan Tony. Puntungnya ditekan pada permukaan asbak. Ia mengusap wajah dan kembali duduk bersandar di kursinya. Ia tidak pernah berkata sepatah pun. Tapi senyuman selalu saja menghias bibirnya yang tipis.

Terdengar ketukan di pintu. Seorang agen bangkit membukakan. Seorang pria muncul dari balik pintu mengenakan seragam petugas pengadilan. Mereka kemudian bicara sedikit. Lalu si agen berbicara pada Tony.

“Kukira, sekaranglah saatnya, Tony.”

Setengah iba dan setengah sinis.

Tony bangkit dari kursinya tanpa disuruh. Kesadarannya untuk bersikap baik muncul. Hal yang mungkin selama 7 tahun tidak pernah dilakukannya. Seperti tadi, kembali mereka melewati koridor pengadilan yang suram. Sepanjang koridor tidak ditemui orang-orang yang sehari-hari memadati pengadilan ini. Tony merasa beberapa hari terakhir ini memang disiapkan untuknya. Seorang yang akan dicatat sebagai pengebom maut sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Tengkuk Tony tiba-tiba dingin begitu memasuki ruang pengadilan itu. Mata orang-orang di ruangan itu menatapnya. Pandangan orang-orang itu, dirasakan Tony seolah-olah menuding dan membuangnya demikian jauh. Tony kemudian duduk ditempat semula. Kursi pesakitan.

Aba-aba kembali terdengar. Semua hadirin berdiri. Hakim Agus Liesnawan masuk ruangan dan menduduki kursinya. Diikuti dua hakim anggota. Ke-lima jaksa penuntut kemudian masuk satu per satu, lalu menyusul masuk pengacaranya sendiri. Setelah mereka duduk, para pengunjung sidang lalu duduk kembali.

Wajah hakim Agus Liesnawan berpaling pada salah seorang hakim anggota yang duduk disebelah kanannya. Hakim anggota, Ny. Triana balas menatap hakim Agus Liesnawan.

“Sudah siap dengan keputusan yang akan saya bacakan?” Tanya hakim Agus.

“Sudah yang mulia,” balas Ny. Triana.

Lalu ia menyerahkan selembar putusan yang telah ditandatangani ketiga hakim dalam sidang itu kepada hakim Agus Liesnawan. Wajah hakim Agus tidak berubah ketika membacanya. Justru ketegangan sedang berkecamuk dalam diri Ibrahim Mustafa dan Jaksa Manohan Rusnandar. Masing-masing dari mereka pias dikursinya.

Hal berbeda terjadi pada Tony. Sepertinya Tony sudah tahu nasib apa yang menunggunya di ujung palu hakim Agus. Pengacara Ibrahim Mustafa menganggap kasus ini adalah kasus terberat yang pernah ditanganinya. Di atas kertas, ia sudah pasti kalah. Banyaknya bukti yang dilimpahkan tim jaksa penuntut yang dipimpin Manohan Rusnandar sering membantai alibi klien dalam sesi-sesi awal persidangan.

Manohan bukan orang baru. Jaksa satu ini sangat piawai, dan berkali-kali berhasil mengurai kejahatan kerah putih yang terkenal rumit. Walau pengalaman keduanya setara, Ibrahim Mustafa merasa Manohan bukan tandingannya.

“Semoga Tuhan yang maha kuasa mengampuni kita semua.”

Hakim Agus berbisik berkata pada Ny. Triana.

“Benar yang mulia.”

Hakim Agus kemudian memisahkan beberapa kopian berkas vonis itu dan diberikannya pada Ny. Triana, dan pada satu hakim anggota lainnya, hakim anggota Abdul Tahir. Perlahan hakim Agus membuka lembaran yang sedari tadi berada ditangannya.

“Atas bukti-bukti dan pengakuan-pengakuan dari para saksi dalam dua persidangan, tertanggal 4 April dan 19 April, tentang keterlibatan Anton Ferdinand atas serangkaian pengeboman di Jakarta, Bali, Surabaya, Bogor, Medan, Aceh. Maka juri menyatakan Anton Ferdinand………”

Hakim Agus menahan kalimatnya. Ketegangan bertambah, terlebih pada Ibrahim dan Manohan.

Di luar gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, kerumunan orang semakin banyak, untuk menyaksikan dan mendengar keputusan akhir di pengadilan kedua ini. Para reporter pun menunggu dengan gelisah. Mereka sangat terkejut ketika diberitahu peradilan terhadap Anton Ferdinand tertutup untuk umum dan pers.

Suara-suara anti Anton Ferdinand dan yel-yel dukungan buat lelaki yang dijuluki Unabomber, saling bersahutan. Seolah orang-orang itu sedang memberikan dukungan untuk sang calon pemenang pertandingan sepakbola.

Sebuah pertandingan yang diawali dari neraka.

Dalam deraan panas mentari di musim panas tahun ini.

Semua orang ini masih menunggu keputusan dari mulut hakim Agus Liesnawan.

[]

Penulis,

FS. Shulda


Script Novel: Kabin 21

(Not Yet Published)

Prolog

Pukul 05.10 pagi, Renee terjaga dari tidurnya yang tiba-tiba semalam. Mengucek matanya sebentar, lalu mengibaskan kepalanya. Pening. Matanya berkedip mencari jam meja di kegelapan. Masih terlalu pagi, pikirnya. Ia lupa mimpi apa yang membangunkannya barusan. Jelas sekali sebuah lemparan buku besar baru saja mengenai kepalanya membuatnya tersentak bangun. Tetapi ia lupa kejadian sebelumnya dalam mimpinya yang membuat buku besar itu mampir dikepalanya.

Renee, itu sebutannya. Namanya cukup bagus tanpa harus dipenggal seperti itu. Dari cerita ayahnya, ibunya yang memberinya nama. Al Grenee Surya Laksana. Mungkin bagus menurut ibunya. Tapi baginya, awal namanya lebih mirip bunyi suara Katsumoto, seorang pimpinan samurai Jepang dalam film bikinan Tom Cruise, The Last Samurai. Tom sendiri dalam film itu berperan sebagai Kapten Algren yang datang menegosiasikan pembelian senjata oleh pemerintah jepang era Kaisar Meiji.  Namun Kapten Algren malah kepincut dengan gaya hidup samurai. Ia belajar banyak hal, yang akhirnya menyeretnya dalam pertempuran terakhir para samurai melawan tentara imperium Meiji yang me-restorasi angkatan perangnya. Katsumoto dan Algren bertempur dengan hebat bersama ratusan samurai melawan ribuan pasukan kavaleri dan infanteri Meiji. Katsumoto tewas dengan gagah, dan Kapten Algren pulang ke Amerika.

Bagaimana dengan nama Renee yang dipakainya akhir-akhir ini. Nama itu pemberian sahabatnya ketika mengambil master jurusan filsafat timur di University of Chicago. Ulah iseng sahabatnya memenggal namanya menjadi Renee, menjadikannya lekat hampir 12 tahun terakhir.

Renee memang belum lama di Indonesia. Ia lama tinggal bersama ayahnya di Chicago. Ayahnya, Faisal Hadinata, seorang pengusaha ternama, mantan perwira tinggi tentara yang pensiun dini karena desakan kakeknya, pengusaha perkebunan. Kakeknya mau ayah Renee mengambilalih pengurusan induk perusahaan milik keluarga. Dan terbukti ayahnya memang ulung menangani bisnis warisan itu. Karenanya, ayahnya sibuk luar biasa.

Tapi, Renee tidak pernah kehilangan perhatian ayahnya. Mereka berdua sangat akrab, hingga membuat ayahnya seringkali harus meninggalkan rapat penting sekalipun hanya untuk bisa menonton Renee membanting rivalnya ke matras saat eksebisi karate di sekolahnya. Singkatnya, ayahnya selalu ada saat dibutuhkan.

Ibunya. Aisyah Marrykozy. Ingatan Renee tidak begitu jelas soal ibunya. Seingatnya, ibunya adalah seorang wanita yang sangat cantik. Yang hanya menuliskan nama belakangnya dengan inisial “M.”. Darah Marrykozy, keluarga kelas menengah yang cukup mapan di Turky mengalir padanya. Ibunya meninggal beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke sepuluh. Dahulu pernah ia dikunjungi kerabat ibunya dari Turky. Bahkan kakeknya yang orang Turky tulen pernah menemuinya, sekadar mampir ketika mengunjungi makam neneknya di Bombana. Perjumpaan yang luar biasa, seingatnya.

Kakeknya itu bercerita banyak tentang keluarganya dengan dialek Turkiye yang kental berbaur dengan suku kata bahasa Indonesia yang tidak sempurna. Dari kakeknya, Renee nyaris mewarisi semua yang melekat dan mengalir dalam dirinya. Postur yang tegap, tinggi, wajah dengan rahang yang kuat, lengan dan tungkai yang kokoh. Kecuali kulitnya, mata dan rambutnya yang agak gelap membuatnya mudah dikenal sebagai orang Indonesia. Amerika tidak mengubahnya sedikit pun. Saat ini pun dia masih doyan ikan teri kering.

Setibanya di Indonesia ketika itu tidak banyak yang bisa dilakukannya. Dunia investigasi begitu tiba-tiba digelutinya. Awalnya, dia hanya membantu pihak kepolisian menemukan simpul dari rumitnya kasus “kerah putih” pada sebuah lembaga strategis pemerintah.

Ketika itu, Renee mampu mengurai secara detil kerumitan data-data, keterangan saksi, dan temuan lapangan. Ia mampu menggabungkan semua fakta yang ada, hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa laporan keuangan yang awalnya menggunakan auditor independen, dialihkan penanganannya secara tidak transparan. Buku besar laporan keuangan bahkan dibuat dalam empat salinan yang berbeda. Bahkan salah seorang saksi kunci harus mati ketika berupaya mengungkapkan sebuah keganjilan dalam laporan, antara awal bulan kwartal pertama dengan bulan selanjutnya di kwartal yang sama.

Keganjilan itu mengantarnya ke sebuah tempat di Malaysia, yang kemudian diketahuinya sebagai tempat perjudian. Sejumlah dana yang memang tidak dilaporkan, telah mengalir dalam jumlah besar pada sebuah lembaga judi pacuan kuda. Beberapa kupon lotere dalam nomor seri berbeda, cocok dengan jumlah dan tanggal transfer dari sebuah bank swasta lokal di Jakarta dan Batam.

Renee semakin takjub ketika mengetahui bahwa beberapa juta dolar Amerika yang diselewengkan kurang dari empat tahun mengendap dalam bentuk investasi perusahaan timah di Bangka. Bahwa untuk menghilangkan jejak uang yang diselewengkan, tersangka dengan cekatan menginvestasikan nyaris semuanya ke berbagai bentuk usaha dan perjudian.

Agak berbeda dengan modus pencucian uang yang lazim diketahui. Namun Renee mengerti jika uang dapat ditelusuri jejaknya kendati hanya menyisakan keping-keping puzzle kecil yang harus digabungkannya hingga menjadi sebuah fakta utuh. Sang tersangka seketika menjadi terdakwa dan tidak begitu lama, hukuman penjara 70 tahun dijatuhkan hakim padanya.

Renee berhasil mengungkap itu karena menemukan korelasi antara jumlah transfer yang seragam dari rekap penerimaan bank yang diperolehnya atas bantuan beberapa kenalannya yang dia sebut “beberapa orang baik” di Interpol. Jumlah transfer memang sengaja dibuat tidak seragam. Tetapi justru disana kelemahan upaya pencucian uang itu. Data aliran uang selalu menampilkan pola yang berulang dalam lompatan interval yang beragam.

Nominal uang pungli yang ditransfer beragam, tetapi jumlah transfer pertama kali kembali berulang pada transfer ke delapan kali. Begitu seterusnya. Hingga Renee harus menunggu untuk memastikan kecurigaannya. Pada transfer ke 56 kalinya, pola tersebut muncul kembali. Pola ini identik dengan transfer ke 48, 40, 32, 24 dan transfer ke 16. Kemunculan pola ini sebagai tanda bagi tim kepolisian untuk meringkus sejumlah orang dengan tuduhan korupsi dan menyalahgunaan uang negara.

Setelah kasus itu, Renee kemudian lebih banyak terlibat dalam penyelidikan. []

Penulis,

FS. Shulda


Script Novel: My K and His X

(Not Yet Published)

Oleh Ratu Putri

Sinopsis:

Aku punya pacar. Namanya Kevin. Kami berkenalan dari facebook. Setelah proses pendekatan kami lewati, akhirnya Kevin mengajakku ke hubungan selangkah lebih serius. Kevin cowok yang baik, pengertian, romantis, perhatian, dan keren. Satu alasan yang membuat aku terpikat adalah suaranya yang lembut sehingga enak didengar.

Tepat di hari yang sama ketika kami baru jadian, Kevin dan aku bertemu mantannya, Tya, di mall. Tya sedang merayakan ulang tahunnya bersama teman-temannya. Entah kenapa jantung Kevin dag-dig-dug, nggak karuan. Pulangnya, Tya menghubungi Kevin terus-menerus. Sejak saat itu, aku menduga ada yang tidak beres pada Kevin dan Tya.

Makin hari ulah Kevin makin negatif. Tidak nampak lagi Kevin seperti yang kukenal pada awal perkenalan kami. Yang tersisa hanya suara lembutnya, itu pun sudah jarang kudengar. Tya juga makin sering mengganggu hubungan kami. Dan hal itu menjadi pertanyaan besar bagiku. Mengapa Tya mengganggu hubungan kami? Apa yang diharapkannya dari Kevin? Apa yang membuatnya begitu sulit melepas Kevin?

Hubunganku dengan Kevin kian memburuk. Nggak hanya itu saja, hubunganku dengan keluargaku, dengan sahabat-sahabatku juga semakin memburuk. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Seakan semuanya tidak membutuhkan kehadiranku. Semuanya pergi disaat aku sedang butuh dukungan.

Aku capek. Apa yang dilakukan Kevin dan Tya makin tidak wajar. Tya tak henti-hentinya membuat masalah, sedangkan Kevin tetap saja meladeninya, membuat Tya makin bertingkah. Aku minta putus. Tapi Kevin tidak mau. Ada saja alasannya yang membuatku luluh. Sampai pada akhirnya, dia menyakitiku hingga sakit ke ulu hati.

Kevin pergi. Kehidupanku membaik. Meski pada awalnya aku setengah hati merelakan kepergiannya, pada akhirnya semua baik-baik saja. Malah aku menemukan kebahagiaan yang lebih indah, jauh yang aku rasakan ketika bersama Kevin. Aku menyadari betapa besar arti sahabat. Betapa beruntungnya memiliki keluarga yang masih utuh, bahkan beruntungnya memiliki ibu yang cerewet dan bawel seperti ibuku.

Kevin dan Tya melanjutkan kehidupan mereka. Aku pun begitu. Setelah Tya puas mendapatkan apa yang dia mau, aku tidak mengusiknya lagi. Kehidupanku jauh lebih sempurna dari apa yang direbut olehnya.

Bandung
2009

Sumber: http://www.facebook.com/ratu.putri


%d blogger menyukai ini: