Tag Archives: pelangi

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012

Iklan

Aku Suka Hujan

Oleh Ade Anita

1. Satu

“Aku selalu menyukai hujan.” Itu yang aku katakan pada banyak orang.

“Kenapa?” Dan itu yang banyak orang tanyakan padaku.

“Karena hujan punya punya ritme tersendiri yang romantis. Dimulai dengan suasana teduh, lalu mendung, lalu hujan pun turun. Dan ketika hujan mereda, ada matahari yang malu-malu mengintip, hingga pelangi harus menurunkan tirainya agar malu matahari tidak tersingkap dengan cepat.”

 

2. Dua

“Tapi sekarang cuaca sering ekstrim tidak terduga. Siangnya panas terik bukan main, tapi sesaat kemudian hujan turun dengan deras. Apakah kamu masih menyukainya?” Itu yang kamu tanyakan padaku.

Membuatku terdiam lalu menengadah ke atas.

Mencoba membaca awan, membaca warna langit.

Aku suka warna biru.

Aku suka warna putih.

dan Aku juga suka warna kelabu yang itu.

“Ya, aku tetep suka hujan. Karena hujan bisa menghilangkan debu di atas batu. Aku selalu berdoa, agar begitulah Allah menghapus dosa-dosaku yang panjang tercecer di sepanjang jalan berbatu yang telah aku lewati.”

 

3. Tiga

“Bagaimana jika pelangi tidak pernah muncul setelah hujan berhenti?”

Aku kembali menengadahkan kepala ke atas dan menatap langit yang luas,… amat sangat luas.

“Tidak mengapa. Keindahan kan tidak selalu muncul di akhir sebuah pertunjukan.”

Ada awan yang berarak datang berbentuk perahu di hamparan langit yang kutatap

Di belakangnya ada juga awan kelinci, ikan, hati, bulatan, serta… awan yang berbentuk senyuman.

“Tapi ada sesuatu dalam kalimatmu yang salah.” Aku berhenti menatap kemegahan langit yang luas…. amat sangat luas.

“Jangan pernah menggunakan kata tidak pernah. Pelangi selalu muncul  selama matahari tidak terlambat datang menjenguk.

 

4. Empat.

“Ayo, kita pulang.”

“Tapi masih hujan. Kepalaku sering pusing jika kena hujan.”

“Katamu suka hujan.”

“Iya, aku tetep suka hujan. Tapi kan bukan berarti bisa langsung melebur jadi satu karena rasa suka itu.”

“Kalau suka, cinta, seharusnya tidak merasa berat jika ingin bersamanya.”

“Tidak. Aku tidak mau kehilangan diriku sendiri hanya karena rasa cintaku yang egois. Jika bersamanya akan membawa derita dan nestapa yang panjang, kenapa harus dipertahankan? Cinta kan tidak harus membawa derita. Cinta seharusnya membawa bahagia.”

“Sudah, ayolah. Hujan mulai mereda. Kita bisa pakai payung berdua.”

“Ya… aku suka berjalan berdua di bawah payung bersama dirimu.”

“Jadi, kamu suka hujan atau suka diriku?”

(sst… tidak usah kujawab, kamu selalu membuatku ingin tersenyum kegirangan)

“Lihat, ada pelangi di atas kita.”

“Mana? Ini kan malam hari.”

Lalu aku menengadah ke atas, menatap langit malam yang luas terhampar… amat sangat luas

Dimana terdapat bulan purnama yang bercahaya penuh dengan amat cantik

Awan hitam pun tidak percaya diri untuk menyambanginya

Rintik hujan yang masih tersisa berubah menjadi butir berlian yang menjadi gaun malamnya

“Lihat.. ada pelangi di seputar bulan.”

“Oh iya… aduh. cantiknya. Subhanallah. Aku ingin terbang kesana… aku ingin memilikinya.”

“Jangan, nanti aku tidak bisa dekat dengan dirimu lagi.”

(duh, kenapa kamu selalu bisa membuatku tersenyum kegirangan)

 

5. Lima

“Ini… untukmu.”

“Apa?”

Lalu aku melihat gambar bulan yang dikelilingi pelangi malam di kamera handphonemu.

“Waaa.a….. subhanallah… cantik banget. Kapan ngambil fotonya?”

(duh, kenapa kamu selalu bisa membuatku tersenyum kegirangan… tapi kali ini sudah bercampur amat bahagia… bahagia yang amat sangat luas.)

[]

 

Catatan Kaki Penulis :

From my own status: Ade “malam ini, bulan purnamanya indah banget..ada pelangi yang mengitarinya….amazing. please take a look. (Fri, 22 Oct 2010 15:11:01 GMT)”

gambar bulan di bawah ini aku ambil dari web orang lain.



Jejak Sajak Satu ( Sembilan Sajak )

Oleh Syaiful Alim

Sajak Kesatu: Lelaki dengan Lika Liku Luka

Aku lelaki dengan lika liku luka.

Aku suka jika air mataku kauseka.

Tubuhku penuh jejak peluh

sungai yang mengeluh.

Kemarau meranjau hijau

burung-burung urung berkicau.

Maukah kau jadi Kekasih

basuh basah resah, sisihkan rusuh perih?

Darah lutut netes tanpa kain pembalut

angin hilang arah, angan terbuang di surut laut.

Ingin tangan raih putih Cahaya

tapi aku cuma sahaya.

Masihkah ada dada

bisa terima trauma

yang berputar bagai reroda?

Jujur, nasibku kurang mujur.

Pernah berlayar, mencintai pantai

tapi perahu dengkleh oleh leleh badai

kesal sesal ngucur dari sekujur usia

yang sia-sia menangisi sisa air mata.

Oh! Aku lelaki dengan lika liku luka

betapa hidup sulit diterka!

Sajak Kedua: Matamu Mendung, Air Mata tak Kuasa Kubendung

Matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

Entah tangan angin lelah

atau bebuah awan mentah

hingga bebutir air urung jatuh

ditadah gundah, gigih tagih jatah

bermusim-musim kemarau latah

melukai rahim mawar dan janin-janin sajak

yang mukim di makam jejak.

Kunamai matamu mendung

air mata tak kuasa kubendung.

“Ayolah menangis. Menangisi air mataku

yang sebentar lagi beku, sebenar rindu padamu.”

Pepohonan kaku, menahan kelu.

Kemarau dibakukan di buku-buku

kabarkan petani yang sunyi

meratapi pipi kian keriput dan tanaman padi

yang tak pernah luput dari rerumput

hama yang lama jadi piyama

senang dan kenyang sebatas umpama.

Oh! Hidup sehangat peluk mama

dingin takluk disengat kutuk nama: Mata!

Sajak Ketiga: Surga tak Terduga

“Eva, mungkin ini Surga sebenarnya

pohon khuldi tumbuh di mana-mana?”

“Adam, ini Bumi?

atau hmm, aku belum mengerti”

“Hmm, sebentar, apakah masuk akal

cuma karena memakan Khuldi

kita diungsikan ke Bumi?”

“Seharusnya kita sangsi”

“Hmm,Tuhan itu otoriter

daripada darah tercecer

lebih baik bumi kita isi dengan puisi.”

“Hmm, bertani, bernyanyi

berpuisi, dan melukis sunyi.”

Sajak Keempat: Ular Liar dalam Dada

“Adam, ada ular liar dalam dada

berbisik, hai Eva, kenapa kau

masih di sisi Adam, cari cara curi

rusuk kanannya. Lalu ajukan surat cuti

lari dari diri menari bersama matahari”

“Eva, juga pada dadaku. Seolah ditusuki paku

berbisik, hai Adam, kenapa tak kau

ambil lagi rusuk kirimu. Supaya kau

kian lelaki.”

Semua bermula dari bisik

lalu luka karma serupa sisik

laku ular menebar kobar berisik.

Ah! Alangkah asyik!

Ah! Alangkah cabik!

Sajak Kelima: Benda dan Beda

Lalu Tuhan berfirman tengah malam:

Kuajarkan kepadamu, Adam, nama-nama benda

manusia suka dendam karena beda.

Iya. Begitulah manusia senantiasa sia-sia

saling duga paling tafsir tanpa pikir ragam makna.

Tak.Tak ingin kautergelincir retak

belajarlah pada sajak, setiap jejak

lahir sejuta berita derita dan cerita cinta.

Sajak!

Sajak Keenam: Kupahat Namamu di Paha Liat Laut

Jangan kauduga cintaku surga berjelaga.

Adalah lega menerima jelaga juga telaga

ada kalah dan menang yang lelah

sayap seolah sebelah, ah!

Aku berjaga di batas getas dan cadas

bertahan dalam laju dan kandas

tersebab cinta menderas

dan rindu tajam menebas.

Karena namamu berurat denyut

maka kupahat namamu di paha liat laut.

Cinta sekuat maut, tak satu pun luput

jemari rindu merebut serabut laut

menghindar dari surut

memudar kalut.

Kemarau gontai bantai pantai

habis badai

habis ombak

jejak tak terlacak

oh! Hidup redup dalam degup tangis

jemari melantai

mengemis gerimis.

Tidak! Demi namamu

aku ikhlas melepas segala

mengemas bianglala.

Tidak! Demi namamu berurat denyut

aku berjibaku dengan pasang dan surut.

: Namamu!

Sajak Ketujuh: Surau Suram

Surau suram

walau cahaya lampu

kilau bikin silau

mampu menggalaukan

ikan-ikan di danau.

Jamaah memamah zikir

tapi kikir pikir.

Ulama berlama-lama seteru

dengan tanda seru dan saru.

Oh! Haru!

Inikah deru juru Bisik

bikin segala penjuru berisik?

Oh! Mata bagai cadik

bidik pelangi di sore yang wangi!

aku saksikan surau suram

hakikat kemarau diikat temaram.

Sajak Kedelapan: Mencintai Rasa Sakit, Menggapai Asa dengan Rakit

Sakit karena rindu adalah niscaya

sedikit jumpa adalah cahaya.

Sejak kau jadi sajak

aku tak hendak beranjak dari kenduri duri

dan mawar penawar hambar hari-hari.

Kita tahu, cinta adalah nama lain dari air mata

maka aku mencintai rasa sakit

menggapai asa dengan rakit

yang terbuat dari seikat bambu kata.

Bisa sebab biasa

kutulis tangis senantiasa

bukan mengemis gerimis

pada pagi yang magis dan amis

darah menjarah segala arah

burung terbang luka parah

paruh tak utuh

peluh luruh

keluh jatuh

di nada nadi tak utuh.

Duh! Adalah mata air kuseduh.

Duh! Adakah pohon teduh.

Duh! Ada yang kuunduh.

Aku mencintai rasa sakit

seperti aku mencintaimu

sebab di balik kesakitan-kesakitan

tumbuh subuh dan embun berkilau bagai intan.

Sajak Kesembilan: Sembahyang Tanpa Asin Sembah, Yasin Mewabah Bagai Air Bah

Aku datang kepadamu, Sayang

membawa sekantung air mata

dan kata yang sulit ditata

jadi puisi. Bayang-bayang

gelita meronta.

Aku sepi, mimpi api.

Aku kerdil, harap kandil.

Aku sahaya, pinta cahaya.

Aduhai! wajahmu yang dihijab seribu tabir

kubuka dengan takbir hingga bibir terkilir.

Aduhai! tubuhmu yang diutuhkan subuh dan pasir

kulabuhkan sentuh yang ngalir.

Lihatlah luka subuh yang tak kunjung sembuh

kambuh rubuhkan tubuh bersimbah

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

mungkin nangisi negeri setengah tiang

dan para bedebah yang tertawa riang

seraya khutbah di masjid raya

serta minta doa kian jaya.

Lampu yang lampau di surau itu

tak mampu memancarkan getar sinar

cuma terdengar suara parau

atau suara muadzin meracau

bau tembakau

bikin kacau

istri dan anak risau

tungku beku tak tanak nasi

perut terisi igau

dan kicau murung burung gagak

lapar yang kaku bagai cagak.

Oh! Bagaimana aku mencintaimu

kalau kilaumu raib dalam gemerlap lampu maghrib

kota-kota ajaib berjibaku dengan aib.

Oh! Ilalang tumbuh di kening

angin lalu lalang goyangkan hening

dedaun beringin pada kemuning

Oh butuh utuh embun bening!

Basah subuh belum kubasuh

sembahyang tanpa asin sembah

yasin mewabah bagai air bah

ah!

Khartoum, Sudan, 2010.

[][][]

TELAH BEREDAR NOVEL ‘KIDUNG CINTA POHON KURMA’ DI TOKO BUKU. BISA PESAN-BELI VIA INBOX SAYA. HARGA CUMA Rp. 60.000. SUDAH TERMASUK ONGKOS KIRIM.

“Tanggal 19 Agustus lalu aku bertemu Joko Pinurbo dan Acep Zamzam Noor. Kami berbincang tentang novel Syaiful Alim, KIDUNG CINTA POHON KURMA. Menurut Jokpin, novel itu ditulis oleh orang yang cerdas. Isinya mengurai tentang pentingnya toleransi, sehingga perlu dibaca tidak hanya oleh orang Islam tapi juga para pemeluk agama lain. Menurut Acep, novel itu sangat bagus untuk mengimbangi kelemahan yang terdapat pada “Ayat-Ayat Cinta”.

( Sitok Srengenge, Penyair )


Nyanyian Badut

(Dua Sajak)

Oleh Dwi Klik Santosa

Si Pelukis Mimpi

thet … thoet … thet … thet … thoet

kumainkan sebuah persembahan sinfonia

dari bebunyian nada sumbang hidung dan mulutku

yang kupencet-pencet dan kubuat-buat seekspresif mungkin

anak-anak pingkal ketawa

ibu-ibu mereka tak habis-habis melepas senyum

lalu mulai kudongengkan sebuah latar belakang

kenapa sinfonia itu dicipta bach

dan meluncurlah kemudian

serajut kisah

tentang perjalanan anak manusia

mengejar mimpi

di tengah keterbatasannya yang dekil dan udik

ia menjadi bahan ketawaan dan hinaan

“bagaimana bisa kau akan lukis pelangi itu

dasar pemimpi!”

dan kemudian disematkan julukan baginya

sebagai si tolol, si pemimpi, si cebol nggayuh lintang

betapa luka batin setia menyertai hidupnya

“aku harus mendapatkan mimpiku”

dikuatkan tekadnya

dihebatkan tinjunya

digerakkan maunya dengan sepenuh gairah

hadir dan mengalir ia menjelajah waktu

jatuh bangun

selalu terjatuh, dan kembali terbangun

Tuhan senantiasa sayangi setiap makhluknya

yang jujur dan rajin mencari

hanya dengan semangat juang jua

cita-cita si udik yang dekil pada akhirnya terlampaui

“wah, indah sekali lukisanmu”

puja dan puji pun lantas

menyematkan nama baru yang gagah

si pelukis mimpi, begitulah

thet … thoet … thet … thet … thoet

kumainkan lagi irama sinfonia lebih rancak

pencetan hidung dan gerak mulutku

makin menjadi-jadi membunyikan nada sekenanya

mimik wajahku kubuat pula se-tak-karuan-mungkin

anak-anak lagi-lagi terpingkal

ibu-ibu mereka nampak gemas

sore itu, semua hadirin begitu sumringah

tak urung si ibu muda dan ayah muda

si empunya rumah, pasutri tetanggaku

mendatangiku dengan wajah haru

“terima kasih, mas

atas kadonya yang spesial buat ultah si kecil

yang hari ini genap 1tahun”

sembari mengelap make-up badutku

kubalas dengan erat jabat tangan itu

sebelum kutinggalkan rumahnya

si ibu muda itu berteriak dan lalu menghampiriku

“maaf, mas, bolehkah saya tahu

cerita tadi itu terinspirasi

atau mengadaptasi dari buku apa”

kutatap si ibu muda dengan senyum

“itu tadi kisah hidup saya sendiri

hanya saja, masih mimpi tak terbeli”

ya, masih mimpi di tengah mimpi

[]

Terlahir Proletar

baiklah, baiklah, aku mengerti

memang kuakui

sebagai laki-laki aku kurang romantis

aku tidak bisa selalu datang

padamu dengan sekeranjang janji

apalagi membelikanmu mimpi

begini lho,

aku ini hanya seorang yang sahaja saja

yang berharga dari milikku

dan dapat kaulihat nyata, hanya semangatku

jika tidak percaya, coba kau bangun lebih pagi

kau pandangi baik-baik mentari

bedakah senyumnya dengan senyumku

ya, sudahlah, jika begitu

aku tidak tahu lagi

bagaimana menjelaskan padamu

akulah aku

terlahir sebagai diriku

jika hanya kepadaNya tujuanku

aku tidak takut lagi

hidup sebagai diriku

pondokaren


21 maret 2009 : oo:2o

[]


%d blogger menyukai ini: