Tag Archives: kebun

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen, Minggu Ke-VII, Agustus 2012

@Cover VII Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VII, Agustus 2012

Periode: 05 – 12 Agustus 2012


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [17]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Aku Mencintai Hidupku

Oleh Dwi Klik Santosa

Ingin rajin selalu kusirami setiap yang hidup dan hijau di sebidang taman kecil kebunku, wahai. Sebagai wujud syukur kepadaMu, ahai, sumber mataairku tiada kering di sepanjang tahun.

Ingin rajin selalu kusirami setiap yang hidup dan hijau di sebidang taman hatiku, wahai. Sebagai wujud syukur kepadaMu, ahai, sumber airmataku tiada kering di sepanjang hayat.

Pondokaren

26 Agustus 2010

: 06.o1

[]


Negeri Kami Begitu Ngeri dan Nyeri

Oleh Syaiful Alim

I

Negeri kami kaya raya

tapi kami banyak yang tidur di pinggir jalan raya.

Negeri kami subur

tapi kami makan beras impor

dan ikan dari singapura dan kuala lumpur.

Negeri kami makmur

tapi jutaan rakyatnya menjemur

basah luka di panas matahari

sudah lama dilindas dilibas reroda kuasa

yang berlumur dosa.

Luka kami jadi jamur

tumbuh di sekejur tubuh

yang membuat mata kami lamur

menanti mati dikubur umur.

Ke mana sumur-sumur kami

tempat mandi, mencuci, dan membasahi

kemarau yang kian birahi.

Ke mana sungai-sungai kami

tempat hanyutkan derit derita

dan jerit sakit berabad lama.

Hutan-hutan mulai gundul

kebun sawah ladang sudah susah dicangkul

anak-anak kami kian sulit digamit dan dirangkul

karena dapur berhari-hari tak mengepul.

II

Lihatlah kaum beragama negeri kami

pandai berakrobat ayat suci

sebagai siasat mengembat kursi.

Lihatlah artis aktor negeri kami

tidak hanya pintar aksi di televisi

tapi juga mencalonkan diri jadi bupati

walikota, dan gubernur cuma bermodal pesona berahi.

Lihatlah rakyat negeri kami

dibiarkan sekarat sampai berkarat keringat.

Beribu-ribu mengungsi

ke negeri orang mencari sekerat roti

meski dicaci maki, disetrika, diperkosa

dan dijual di tempat-tempat prostitusi.

Lihatlah anggota dewan kami

enak naik sedan produk luar negeri

rakyat bersedu sedan, berjejal-jejal pantat

berdiri bergelantungan bagai monyet

di tiang besi bis kota tua terkutuk

bau apek bau keringat busuk

menusuk-nusuk indra cium

belum lagi jemari-jemari

yang mengendap-ngendap dompet

hendak mencopet.

Lihatlah pejabat-pejabat kami

mereka sudah berubah jadi tikus-tikus berdasi

sementara kami makan nasi basi.

Aduhai serdadu yang lihai melesatkan peluru

sesatkan arah tuju ke kepala koruptor-koruptor itu

jangan kau bidik rakyat cilik

mereka sudah lama berdarah tercabik.

Negeri kami kotor

oleh ulah teror penjarahan upah buruh

dan kami pasti kalah oleh leleh peluru yang luruh

dari mulut-mulut pejabat yang tiba-tiba jadi tikus sawah

mencuri keringat, air mata, dan mata air yang sepuh

tertanam di tubuh melepuh.

III

Kami ingin menangis

tapi air mata habis.

Kami ingin tertawa

tapi duka senantiasa terbawa.

Kami ingin teriak mengoyak langit

tapi kami kehilangan suara jerit.

Kami ingin bersaksi di hadapan matahari

tapi matahari sudah mereka beli.

OH NEGERI KAMI BEGITU NGERI DAN NYERI

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Sisa Khuldi Semalam

Oleh Syaiful Alim

“Eva, kenapa kau bersedih
bukankah semalam kita mengunyah surga paling tindih?”
“Adam, kenapa tak sejak dulu
kita bertemu dan berbulan madu?”

Adam dan Eva saling bertanya dan memendam jawaban.
Mungkin masih risih dengan sisa Khuldi semalam
yang dilahap pada gelap, rembulan tiba-tiba tenggelam.

“Adam, di mana sisa Khuldi semalam?”
“Tenang, Sayangku, aku simpan di tenggorokan paling dalam.
Untuk bekal kita pergi dari sini. Kita bakal pegal,
maka kita siap bekal.”

“Aku belum paham apakah sisa Khuldi semalam
sampai lambung atau dada
tapi aku melambung. Ingin hati menabung dendam
yang membuat tubuh demam.”

“Tak usah susah. Lebih baik petik bebuah kata
dari kebun kita”

“Seberapa layak kau olah kebun kata
sehingga hasilkan sajak jelita?”

“Aku duga kelak banyak anak manusia congkak. Tak suka nyemil sajak.
Mereka lebih memilih kaum bijak berbibir kampak dan tombak.
Mari, kita lari dari sini. Membikin surga sendiri.
Ruang beranak pinak. Riang menanak sajak”

[]

Khartoum, Sudan, 2010.

baca puisi ini dalam bahasa Inggris :  The Piece of Khuldi from The Last Night


Sisa Khuldi Semalam

Oleh Syaiful Alim

“Eva, kenapa kau bersedih
bukankah semalam kita mengunyah surga paling tindih?”
“Adam, kenapa tak sejak dulu
kita bertemu dan berbulan madu?”

Adam dan Eva saling bertanya dan memendam jawaban.
Mungkin masih risih dengan sisa Khuldi semalam
yang dilahap pada gelap, rembulan tiba-tiba tenggelam.

“Adam, di mana sisa Khuldi semalam?”
“Tenang, Sayangku, aku simpan di tenggorokan paling dalam.
Untuk bekal kita pergi dari sini. Kita bakal pegal,
maka kita siap bekal.”

“Aku belum paham apakah sisa Khuldi semalam
sampai lambung atau dada
tapi aku melambung. Ingin hati menabung dendam
yang membuat tubuh demam.”

“Tak usah susah. Lebih baik petik bebuah kata
dari kebun kita”

“Seberapa layak kau olah kebun kata
sehingga hasilkan sajak jelita?”

“Aku duga kelak banyak anak manusia congkak. Tak suka nyemil sajak.
Mereka lebih memilih kaum bijak berbibir kampak dan tombak.
Mari, kita lari dari sini. Membikin surga sendiri.
Ruang beranak pinak. Riang menanak sajak”

[]

Khartoum, Sudan, 2010.



Seperti Air Mengalir

Oleh Adhy Rical

: Dwi Klik Santosa

seperti air mengalir
menemuimu di ujung muara
ada buku bergambar: burung merak dan kebun jagung
dari sisa usia yang menyusu

kau tak butuh api tapi tanah yang hangat
menanak kisah leluhur atau mimpi remaja
yang tak pernah mengibu dalam arisan
atau pertemuan ayah yang padat

seperti air mengalir
yang keluar dari mata ibuku
menjadi kunang-kunang dalam kelambu
: mimpilah agar gairah selalu lahir

[]
Kendari, 2010

ar


Mari Bermain

Oleh Adhy Rical
Bermain apa dulu? Teater apa aja. Nikmati aja dulu. Poin pentingnya di sini. Sebab agaknya sulit jika menyinggung hal-hal besar tentang teater seperti produksi, artistik, dan lainnya tetapi kita lupa hal yang paling sederhana: bermain. Wajar atau tidak teknik bermainnya, ada aturannya tersendiri. Paling tidak mata penonton lebih cerdas dari yang kita duga sebelumnya.

Jika aturan itu mungkin membuat orang malas dalami, ya biar saja. Tiap orang punya metode berbeda. Setidaknya, saya tidak berupaya mendedahkan persoalan dengan sesuatu yang rumit. Kadang-kadang bermain itu justru aturannya dibuat sendiri oleh yang bersangkutan. Setelah ramai dan menarik, barulah aturan pasti disepakati.

Begini, tanggal 9 Juli 2007 lalu, seorang sutradara dari kelompok Store House Jepang, mengadakan workshop di Kedai Kebun Forum. Workshop yang sederhana tapi mengasyikkan: bermain tali. Ingatan kita kembali ke permainan-permainan masa kecil. Namun di balik itu, Singo mengharapkan kerjasama kolektif sederhana yang tentu saja teater tidak menafikan itu. Bukankah dalam permainan itu ada pertukaran budaya yang pelan-pelan terasa juga pertukaran pengalaman batin? Lebih dari itu, hubungan emosional dan bentuk kerjasama yang tidak banyak membuat alis menyatu rapat. Tiap peserta punya referensi sendiri, keberagaman, dan pengalaman yang berbeda. Justru inilah uniknya. Masing-masing kepala punya problem yang mesti dia dedahkan sendiri dalam pencapaian karya kreatif berikutnya.

Patut dicatat, bahwa saya tidak berbicara soal hal baru dalam karya kreatif teater yang dihasilkannya (mungkin secara estetik) tetapi proses dan karya yang berguna itu sendiri kelak. Juga bukan soal menokohkan apalagi mengidolakan karya terdahulu atau memilah penonton secara estetis dan ekonomis tapi apa yang sudah kita hasilkan selanjutnya memotret diri untuk terus berkarya dan berkembang, tentu saja lewat pengalaman bersama diri, orang lain, dan alam. Sesederhana itu. Yap. Terus bagaimana dengan teater yang harus bertapa dulu di tempat tertentu untuk mendapatkan ilham? Berdiam diri dalam kamar dengan setumpuk referensi? Atau berkelana ke tempat mana saja untuk berbagi cerita? Apapun kecenderungannya, verbalitas atau semiotik. Jelasnya, ia masih dalam ranah bermain.

Saya hanya ingin bermain (juga?) dalam teater yang cenderung bermula. Remaja! Waow. Teater pink. Teater timbul-tenggelam. Prosesnya lebih pendek daripada teater mahasiswa. Dan memang ia lebih banyak jumlahnya (?), karena keadaan bukan karena matakuliah, mungkin juga karena trend. Apa sajalah, tak perlu didebatkan. Basis kekuatannya dahsyat benar. Seperti remaja yang kali pertama dapat ciuman, rasanya sulit dipikir karena nggak nyambung. Tapi daya magisnya, wuihh… (jangan dilanjutkan, kalau pun “ya”, teruskan sesuai selera).

Sayangnya tidak banyak naskah lakon untuk segmen ini. Akhirnya, banyak naskah yang dimainkan tergolong berat (belum lagi tafsirnya mungkin gelap hehe, pinjam istilah seorang teman). Beberapa festival teater remaja di tanah air bisa buktikan kecenderungan itu.

Bermain dengan Ijma

Nah ini dia. Mari bermain berdasarkan kesepakatan bersama dulu. Istilah ijma kupinjam sajalah. Soalnya sampai sekarang kan belum ada ijma-nya teater. Ijma yang kumaksud sederhana juga seperti penemuan Teater Garasi yang sangat kecil tapi berguna. Apaan? Latar hitam dalam panggung. Dasarnya: referensi, alasannya: teater Indonesia miskin. Ini belum termasuk penemuan lain mereka yang mesti saya angkat gelas untuk bersulang: terima kasih.

Garasi mungkin saja agak berbeda dengan komunitas teater lainnya. Mereka tidak mau persulit keadaan tapi mencari sesuatu yang sulit untuk kemudian dibuat mudah. Metode yang mungkin banyak orang lalui tapi tidak menyadari begitu pentingnya. Belajar bersama, memberi dan menerima menjadi satu hal yang tidak terpisahkan. Banyak ijma yang berlaku demi pencapaian bersama. Komunitas yang belajar bersama, tentu memperoleh sesuatu yang sangat berguna untuk dikembangkan lagi sehingga kecenderungan latah dan tidak berkonsep dapat dihindari.

Saya teringat dengan salah satu infotainment tivi tentang strategi orang yang ingin cintanya diterima oleh pujaan hati. Banyak cara yang dilakukan, dari yang paling goblok sampai hal yang paling ekstrim. Penonton sudah punya jawaban di kepala: diterima atau ditolak. Yang bikin menarik hati bukan jawaban dari pilihan itu tapi bagaimana prosesnya ia berupaya lakukan perjuangannya. Bermain teater dengan ijma, apalagi dengan remaja, dibutuhkan sekali itu. Setelah Garasi, siapa lagi?

Kapan Bermain?

Jangan tanya dan tunggu tapi tentukan. Apalagi mencari perbedaan atau kelemahan komunitas tertentu untuk kemudian saling menjatuhkan. Kalau pun ada biar saja. Anggap saja dinamika. Dengan begitu, keberagaman ada maka daya hidup untuk bermain kian besar. Sehingga yang berproses dalam karya dan pentas nantinya bukan yang itu-itu terus.

Saya pikir, remaja adalah salah satu modal penting untuk keberagaman teater ke depan. Modal itu telah dikerjakan Garasi dengan program Actor Studio-nya meskipun remaja belum bisa masuk dalam program tersebut. Paling tidak, program itu banyak membantu dalam pencapaian tertentu, minimal di atas 17 tahun.

Tidak menutup kemungkinan program Actor Studio akan merambah pelajar. Jika salah satu item program itu adalah “membuka jalan” keaktoran maka pelajar dengan idiom pink itu pasti lebih menarik. Wilayah permainan akan semakin hidup dengan gaya pubertas yang berbeda. Lebih jauh, teater tidak lagi menjadi sesuatu yang ekslusif dan magis saja, tetapi nantinya benar-benar menjadi milik publik. Bukan sekadar bermain untuk ditonton oleh penggemar komunitas tertentu.

Setuju atau tidak saya khawatir jangan sampai teater kita juga begitu, tertindas oleh sesuatu yang tidak diketahui sendiri: tertindas gelap. Ah, jangan sampai kita lupa bermain indah tetapi lebih mementingkan tepuk tangan yang riuh. Tak apalah jika begitu. Setidaknya, masih ada yang bisa ditertawai sebuah adegan tak lucu karena dimainkan kawan sendiri. Ah, biar saja begitu. Biarkan ia mencari jalannya sendiri. Toh, kentara juga siapa yang lampunya redup sebelum menyala.◘

Yogyakarta, 2007



Cespen : Rambut Mio

Oleh Adhy Rical

Ini tentang Mio. Perempuan yang memiliki dua rambut berbeda. Hitam dan putih. Tidak biasa sebab yang hitam itu rambut lelakinya. Lima puluh dua tahun lalu ketika beringin depan rumah masih setinggi cucu perempuannya.

“Kenapa kau berikan rambut padaku, sayang? Kenapa bukan cincin. Tak harus emas. Besi dari badik pun kuterima.”

“Pernikahan itu indah. Kitab-kitab bilang begitu. Tapi cinta akan tertutup karenanya.”

“Apakah pernikahan harus memberimu cincin? Bukankah rambut lebih abadi? Kelak, ketika kita renta, rambutku tetap menghitam di rambutmu. Kita pun akan melalui rambut. Tentu.”

Lalu kau bercerita tentang pelukan pertama. “Jika kau memeluk pasanganmu, katakanlah ‘hangat sekali’. Jika tidak, kau harus memasak air sampai pagi.”

***

Pagi itu, Mio mengajakku ke kebun peluru. Belakangan aku tahu kalau kebun peluru adalah kuburan. Mungkin karena di sekitar kuburan terdapat jagung, kacang, dan beberapa tanaman umbi. Tapi yang lebih penting selain tujuh nisan di kebun peluru adalah Mio memiliki ribuan selongsong peluru.

“Kau jangan banyak bicara, Nak”, pesan Mio padaku.
“Hanya ambil gambar, Bunda,” bisikku.
“Tiga orang dari tujuh nisan di sini karena mereka banyak bicara. Peluru lebih peka mendengar suara tukang kebun daripada suara tukang bicara.”

“Siapa tukang bicara?”
“Sstt… tak baik bertanya di kebun peluru.”
“Tapi siapa?”
“Kami tak punya tipi tapi kami tahu, tukang bicara banyak di tipi.”

***

Kini, aku masih menyimpan rambut Mio. Tapi entah untuk siapa. Sebab rambut Mio tak lagi hitam atau putih tapi merah. Darah itu merah, Mio. Semerah darahku membesi pada kepalamu yang pecah siang tadi. Rasanya tak percaya, peluru lebih memilih kepalamu daripada tukang bicara sepertiku. []

Kendari, 2010


%d blogger menyukai ini: