Tag Archives: menulis

[Kajian] Membaca Tarian Jiwa Julia Napitupulu

(Sebuah telaah sederhana tentang kehadiran seorang Julia Napitupulu dalam Buku : JEJAK-JEJAK CINTA TUJUH PEREMPUAN)

 

Oleh Kusnadi Arraihan *)

Tulisan, apapun bentuknya adalah sebuah cermin gerak dinamis dari jiwa penulisnya.  Tulisan adalah wahana yang paling jujur, tentang kedirian seseorang. Banyak hal yang tersimpan dalam gerak tulisan itu. Kehidupan ini bagi seorang penulis adalah bukan hanya ketika dia berbicara soal bakat, tetapi juga merupakan alat seperti katub pengaman untuk melepaskan sebahagian dari beban kehidupan. Itu sebab mengapa menulis tak sepenuhnya hanya mengandalkan panca indera, tetapi juga melewati proses perenungan, aktualisasi imajinasi dan ini tugas dari dinamika kejiwaan penulisnya.

Inilah cermin kesan yang paling terlihat, ketika saya pertama sekali mengenal seorang perempuan pemilik nama Julia Napitupulu, saya hanya mengenalnya dari ruang Facebook, yang notebene diperlukan sebuah kemampuan daya jelajah analisa kita terhadap apa yang ditulis oleh seseorang, karena bisa jadi, tak sepenuhnya kita yang berkerabat di halaman jejaring sosial tersebut pernah saling bertemu muka. Maka pengenalan kita tentang sahabat tersebut biasanya hanya tertumpu pada tulisan yang disajikannya. Dan hal inilah yang coba saya lakukan juga terhadap seorang Julia Napitupulu.

Dalam buku “Jejak-Jejak Cinta Tujuh Perempuan” yang diterbitkan Penerbit Langit Kata tahun 2011, tebal 168 halaman, memuat tulisan dari tujuh penulis dalam bentuk cerita pendek dan puisi.

Ketujuh penulis tersebut, yaitu : Tina K – Ami Wahyu – Ami Verita – Lely Aprilia – Ayudya Prameswari – Tita Tjindarbumi – Julia Napitupulu. Penyunting oleh Ami Wahyu, foto sampul Thony Tjokro, pewajah sampul dan pewajah isi disajikan oleh Donoem.

Dalam kaitan ini, saya mengkhususkan untuk sedikit menyajikan hasil “penglihatan” saya pada tulisan Julia Napitupulu. Penulis dengan latar belakang pendidikan ilmu psikologi ini memiliki multi talenta, karena di sela-sela menulis, Julia Napitupulu adalah seorang trainer bidang soft competence, seorang pembawa acara, bahkan juga piawai memainkan alat musik piano sekaligus menekuni bakatnya sebagai penyanyi. Benar-benar sebuah jiwa yang tak pernah berhenti menari.

Dalam buku ini, Julia Napitupulu ada menyajikan tiga tulisan, yang sekejap seusai membacanya, ada yang terus bergerak dalam benak, jejak kesan yang ditinggalkan tulisan dari hasil imajinasi penulis ini tak hanya mencari ruang, tetapi juga terus mengelana dalam pikiran. Mengapa demikian? Karena seorang Julia (demikian ia biasa disapa para sahabatnya – atau juga dengan nama Jula, sebuah sapaan penuh historis dari masa kecilnya) menulis dengan sepenuh jiwa yang bergerak, karena hati nurani penulis ini mampu menitipkan “ruh” pada setiap kalimat yang dituliskannya. Dapat kita rasakan nuansa yang demikian jernih ketika membaca salah satu sajiannya pada buku ini, yang ia beri judul “Melodi yang Tercipta Begitu Saja”. 

Dari judulnya saja, sungguh Julia telah berani keluar dari patron penulisan judul karya sastra yang pada umumnya menjauhi makna harfiah, lebih kental dengan penggunaan perumpamaan. Dalam tulisannya ini, Julia menggambarkan betapa sesuatu yang disebutnya dengan “melodi” itu bukan disiapkannya lebih dahulu baru kemudian melodi itu melahirkan banyak senandung. Tetapi justru, dengan kebersahajaan rasa dan jiwanya, Julia mencoba untuk menikmati jalinan kehidupan yang tersambung sebagai tali temali ini, dengan kadar kualitas dan cara-cara yang hebat, sehingga justru kisah kehidupan yang mungkin hal wajar bagi kehidupan orang lain, justru menjadi rahim yang melahirkan banyak melodi bagi kehidupan seorang Julia. Hidup telah dengan baik di-improvisasi olehnya.

Struktur tulisan yang lahir dari seorang Julia Napitupulu sebenarnya tak sepenuhnya kental dengan sastra, hal ini wajar, karena mungkin pengalaman dan latar belakang pendidikannya telah memasukkan unsur psikologi dalam setiap ia menuliskan sesuatu. Tetapi yang terasakan saat menikmati tulisan-tulisannya justru kita berada dalam ruang keindahan yang runut dan seperti memenuhi semua keelokan sastra. Mari kita perhatikan lirik dari tulisannya ini, saya petikkan :

di siang yang bagai hening malam

aku dan lekakiku terbaring dalam pesona

terlontar dari bintang-bintang yang meledakkan kami

dalam warna-warna pelangi

 

wajahnya,

raut lelaki yang tuntas

merekam sensasi

yang masih menjalari pori-pori

aku mengeja damai

diteratur hembus nafasnya

 

Diksi yang disajikannya sederhana, tapi proses pengendapan makna dalam benak setelah memahami dua bait lirik di atas, justru menjadi tidak sederhana. Larik “di siang yang bagai hening malam” adalah sebuah kontradiksi yang indah, Julia lihai sekali memilih bait ini. Pada bait kedua kita perhatikan: “wajahnya, raut lelaki yang tuntas”. O, duhai indahnya. Sebagai lelaki tulen, saya bahkan belum bisa mencerna dengan baik, makna hebat di balik larik itu.

Menikmati secara keseluruhan “Melodi yang Tercipta Begitu Saja” terasa kita memasuki sebuah ruang yang luas, dan di setiap sudut ruang itu ada keindahan yang bersahaja. Pada bagian tengah ruang itu, ada penataan bunga-bunga yang penuh warna. Ruang itu adalah kehidupan itu sendiri. Julia sangat suka menggunakan metafora alam untuk mempersonifikasikan tentang realitas hidup. Dan dalam tulisan ini Julia dengan sangat piawai menggambarkan sosok lelaki, sulit bagi pembaca untuk menyembunyikan kekaguman untuk cara-cara dia menuangkan ke dalam bentuk bahasa.

Kita lihat saja caranya menuangkan sketsa imajinasi tentang lelaki itu. Lelaki yang memiliki wajah sebagai raut yang tuntas, tulang rahang yang kukuh like a wave to the sea, tulang lehernya a bird to the sky, tulang belikatnya sekuat kayu, seliat tanah. Dan banyak hal lain yang digambarkan Julia dengan sangat anggun. Seluruh yang dimiliki lelaki itu pada akhirnya melahirkan sebuah melodi. Sungguh sebuah tulisan yang menjadikan nafas selalu harum, seperti sebuah telaga bening yang eksotis.

Pada tulisan kedua yang disumbangkan Julia dalam buku tersebut diberi judul “Sekarang Aku Tahu untuk Apa Aku Bernyanyi. Sebuah judul yang biasa saja. Tapi sungguh berbeda dengan isinya. Tulisan ini juga terkesan skema prolog, digambarkan seperti dialog, dan dengan menggunakan bahasa yang menghanyutkan rasa.

Kekuatan tulisan-tulisan Julia yang saya kenal memang bercorak seperti itu. Ini yang saya katakana di awal tadi sebagai pengaruh ilmu psikologi yang digelutinya. Artinya, semua puisi dan tulisan Julia selalu menghentak di kedalaman rasa yang terdalam. Sehingga sulit bagi pembaca untuk mengabaikan sebarispun dari larik-larik yang ditulisnya.

Pada tulisan ketiga yang disajikan dalam buku ini, Julia menggunakan bahasa Inggris yang indah, untuk menuliskan keindahan puisinya tersebut. Judulnya pun cukup menggugah “You’re My Every Phrase”. Ah!

Tulisan ini juga tetap menggambarkan tentang dua anak manusia, juga masih menggunakan alam sebagai bagian dari perumpamaan yang hendak diungkap. Dalam suatu pembicaraan, Julia pernah mengatakan kepada saya bahwa memang dia suka menggunakan unsur alam sebagai bagian dari tulisannya, karena hakikatnya alam itu adalah kehidupan itu sendiri. Dengan demikian, dalam perspektif Julia, alam itu adalah realitas hidup untuk mewakili banyak rasa, banyak keadaan, dan itu telah dilakukannya dengan menggunakan idiom-idiom yang memukau.

Secara keseluruhan, dengan tidak mengabaikan kehebatan tulisan dari enam penulis lainnya,  ketiga tulisan Julia yang dalam buku ini diletakkan pada bagian penutup, tetapi justru di sini kelihaian penyuntingnya untuk menjadikan ketiga tulisan Julia ini bukan sebagai “grendel”, tetapi justru menjadi “perekat” imaji pembaca terhadap buku ini. Karena ketika kita menyelesaikan keseluruhan isi buku ini, maka ketiga tulisan Julia ini menjadi bagian penting dari “penahan kesan menarik” terhadap keseluruhan isi buku.

Sebuah tulisan memiliki banyak tanggung jawab untuk mewakili suatu keadaan di tengah khalayak, tulisan tentang cinta, tentang anak-anak, tentang remaja, dan tentang orang tua, bahkan tentang keseluruhan hidup manusia, adalah warna yang membuat kita faham tatanan masyarakat berserta pola pikir yang bergerak membentuk peradaban. Dan seorang Julia Napitupulu tengah berusaha menggeluti semua kemampuan bakat yang dititipkan Tuhan kepadanya. Dalam setiap tulisannya, perempuan Batak ini benar-benar memproses sebuah tulisan seperti menjaga sebuah proses kelahiran seorang anak, sedemikian rupa dia menjaga seluruh kualitas, dan ini juga yang membuat dirinya, dalam segi kuantitas tulisan agak tertinggal dibandingkan dengan bakat menulisnya yang sebenarnya sangat baik itu. Ini masalah sikap dan komitmen, dan seorang Julia menjaganya menurut perspektif yang dimilikinya.

Ada rasa kagum yang terselip, di tengah gelombang aktivitasnya yang demikian padat, belum lagi urusan perannya sebagai seorang istri dan ibu dari dua orang anak, seorang Julia Napitupulu masih sempat menulis. Bisa jadi mungkin bukanlah tulisan yang fenomenal, tapi di ruang rasa jiwa saya, tulisan Julia selalu memberikan nuansa keanggunan yang memukau.  Karena membaca tulisannya seperti menyaksikan jiwanya menari-nari, mengisi semua ruang sambil terus bergerak dinamis, dengan ritme dan tempo yang indah. Julia Napitupulu adalah sebuah jiwa yang terus menari. ***

16 Mei 2011

*) Kusnadi Arraihan – Penikmat Sastra. Menetap di Medan.

The Dancing Soul (illustrasi oleh Ardi Nugroho, Surabaya)

Kusnadi Arraihan, bernama pena ‘Koez’ lahir pada 19 September kini tinggal di kota Medan, Sumut. Buah penanya dapat pula dilihat pada: http://hamparanbirutanpabatas.blogspot.com, http://kusnadiarraihan.wordpress.com

Iklan

Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

Oleh Awy Ameer Qolawun

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

[]

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

[]

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

[]


Pengalaman Menulis Pertama Seorang Penulis: Awy Ameer Qolawun

Catatan dari Diaryku (80) : Pengalaman Pertama Takkan Terlupa

 

Oleh Awy Ameer Qolawun

 

 

Sebenarnya, menjadi seorang penulis itu sama sekali bukan bayangan dan cita-citaku. Memang aku suka membaca sejak kecil, tapi untuk menjadi penulis? Tak sekalipun terlintas.

 

Awal aku mengambil keputusan untuk total belajar agama (usai lulus SMP) pikiran itu sama sekali tidak ada. Aku masih tetap sebagai penikmat buku saja.

 

Hingga datang sepucuk surat, oh, bukan surat, tetapi secarik notes lebih tepat, dari pamanku, Syifa’ (adik kandung umiku) yang saat itu berada di Makkah.

 

Dalam surat itu Khol Syifa’ (aku biasa memanggil paman-paman dan bibi-bibiku dengan panggilan “Khol/Kholah”) menuliskan : “Wy, coba kamu buat coret-coretan dari hasil ngajimu, terus kirimkan ke majalah Al-Mu’tashim”. Hanya itu saja.

 

Aku hanya memandang notes itu dengan bengong sambil bergumam dalam hati, “apa ya bisa?” selalu itu saja kalimatku setiap melihat hal yang seolah “wah”.

 

Namun, sejak kecilku, surat-surat dari Khol-ku selalu menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagiku. Bagiku surat-surat beliau seperti baterei energizer yang dibelasakkan ke punggung boneka kelinci robot.

 

Akhirnya, iseng saja aku mencoba menulis. Emm.. Mulai dari mana ya? Kata khol-ku di surat, dari ngajimu. Waktu itu aku lagi semangat-semangatnya mengkaji sebuah buku yang sangat inspiring, “Idzotun Nasyi-in” (petuah bagi remaja) karya Syaikh Mustofa Al-Gholayini.

 

Aku terjemah saja salah satu artikel di buku yang tiap malam sabtu itu dikaji oleh Babaku bersama kami. Aku tulis tangan di selembar kertas buku tulis. Mencoba untuk pertama kali menyusun kata. Iseng saja, kan disuruh nyoba.

 

Lalu aku salin lagi dengan tulisan tangan yang lebih bagus, masih-masih di kertas buku tulis. Dan aku kirimkan ke Redaksi majalah “Al-Mu’tashim”. Sebuah majalah dakwah terbitan Malang yang bertiras lumayan besar waktu itu, 5000 eksemplar setiap terbit.

 

Itu adalah tulisan pertamaku, setelah mengirimkannya melalui pos, aku lupa. Sampai 3 bulan berikutnya aku terbengong saat ada sebuah paket berisi kaos bertuliskan “al-mu’tashim” dan menerima majalah dari redaksi.

 

Tak ada pikiran apapun saat aku membolak-balik halaman majalah itu. Membaca isinya pun tak tertarik, karena itu majalah dewasa, dakwah lagi. Saat itu mah aku masih lebih suka baca majalah Mentari dan Bobo.

 

Aku lihat-lihat saja judul dan gambarnya, sampai punggungku terasa penat dan aku menyandar pada kursi tepat saat aku membalik halaman terakhir. Saat itulah aku melonjak terbelalak kaget.

 

Sebuah judul besar, dengan nama tak asing, membuatku menganga tak percaya. “Sabar, bukti orang berakal” oleh Alawy Muhammad Aly.

 

Hah? Yang bener? Masak tulisanku dimuat? Pertama kali menulis langsung dimuat? Benar-benar tak menyangka. Gembira, bengong, tak yakin, seolah mimpi, dada membesar, kuduk meremang, mata berbinar, nafas naik turun. Itu sensasi yang pertama kali aku rasakan.

 

Padahal aku sendiri sudah lupa jika pernah menulis dan mengirim tulisanku. Sejak itu, aku mulai terobsesi untuk menulis. Aku coba lagi mengirim ke “Al-Mu’tashim” dan dimuat lagi. Lalu aku mencoba tantangan dengan membidik majalah bertiras nasional, SANTRI, dan tulisanku dimuat lagi.

 

Sampai-sampai redakturnya jauh-jauh datang dari Jakarta ke Lamongan untuk mencariku dan mewawancarai babaku. Gara-gara tulisan yang menyengat, “mempertanyakan eksistensi pesantren di abad 21”. Padahal saat menulis artikel itu, aku hanya iseng dan tanpa riset apapun.

 

Namun, setelah itu aku tak lagi mengirim tulisan ke media, sebab di pesantren Babaku kami mendirikan Mading addhiya’. Konsentrasiku pun tercurah semuanya untuk Dhiya’.

 

Sempat aku mendapat secarik surat dari Khol-ku lagi, “Coba kamu tulis kejadian-kejadian politik di Tanah air, kamu resume dan kirimkan ke Khol”. Tapi kali ini surat itu hanya masuk agendaku, sebab pikiranku telah tersita oleh Addhiya’. Di mading inilah tulisanku terbit berkala, dan kemampuan menulisku terasah (ya jelas lah, wong aku redpel-nya, ya pasti terbit tulisan-tulisannya)

 

[]

 

Saat Workshop FLP Saudi Arabia di Makkah pada 2 Desember lalu, Mbak Helvy Tiana Rosa mengajarkan pada kami, bahwa menulis itu sama dengan melihat kungfu, heee..

 

Maksudnya? Apa hubungannya menulis dengan kungfu? Kita tak akan bisa menulis, begitu pula tak akan bisa kungfu jika hanya melihatnya saja tanpa berlatih dan mencoba. Ingin menjadi penulis tapi tak sekalipun mencoba menulis, maka sama halnya mimpi di siang bolong.

 

Setidaknya, ada 7 kiat praktis yang diajarkan Mbak Helvy pada kami untuk menjadi penulis :

 

1. Suka Membaca

2. Mencintai Bahasa

3. Menulis catatan harian

4. Terbiasa surat menyurat

5. Latihan deskripsi dan imajinasi

6. Hobi meneliti, menelaaah, dan berdiskusi.

7. Berani mempublikasi dan memposting tulisan kita.

 

Ketakutan tulisan kita dikatakan jelek adalah sebuah kesalahan tersendiri. Itu urusan belakang. Justru dari sini kita bisa tahu kelemahan tulisan kita melalui komentar teman-teman kita. Saat ini, salah satu media yang tepat untuk mempublish tulisan cakar ayam kita, ya notes di FB ini.

 

[]

 

Adapun tentang hubungan antara membaca dan menulis, tentu saja sangat erat sekali. Karena untuk bisa menulis, dibutuhkan wawasan tersendiri, dan itu tak bisa diperoleh kecuali dengan membaca. Seperti halnya arahan khol-ku padaku “coba tulis hasil ngajimu”.

 

Oh ya, perlu diingat satu hal, bahwa membaca itu tidak harus dari buku, tetapi juga dari kejadian di sekitar kita, pengalaman kehidupan, masyarakat, dan semesta. Seperti yang kerap aku bilangkan pada sahabat semua.

 

Namun, terkadang juga kita terbentur dengan kata “bakat”, sehingga membuat kita ragu menulis. Tak perlu resah dengan kata “bakat”, itu nasehat mbak Helvy, sebab kita bisa menjadi penulis hebat, asal punya tekad dan terus latihan serta selalu mengembangkan imajinasi untuk mencari inspirasi.

 

Hanya diperlukan 10% bakat (atau tidak sama sekali) dan 90% tekad serta latihan untuk menjadi penulis yang sukses, itu kata Pak Muchtar Loebis.

 

Kalau Kuntowijoyo lain lagi. Kata beliau, ada tiga langkah untuk menjadi penulis. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, juga menulis.

 

Jadi menulislah terus, setidaknya, keberanian, itu yang aku dapat dari pengalaman pertamaku menjadi penulis pemula yang tulisan perdana dalam hidup langsung dimuat.

 

Dan, menempatkan diri sebagai penulis, adalah sama halnya dengan menempatkan namamu dalam keabadian… Immortality .

 

[]


Ayo Kita Protes!!!

Oleh Ade Anita

Pernah nggak sih merasa haknya diinjak-injak oleh orang lain? Atau merasa sesuatu yang semestinya didapat tapi dihalangi berubah menjadi gumpalan yang menyesakkan dada? Ah. Saya pernah merasakannya. Dan rasanya amat sangat menyebalkan!!

Tidak ada cara lain yang harus dilakukan untuk situasi seperti itu adalah melakukan protes. Tapi…Bagaimana jika yang menahan hak kita itu adalah orang yang kedudukannya lebih tinggi dari kita? Bagaimana jika yang menghalangi kita berjumpa dengan hak kita tersebut ternyata seseorang yang kita segani?

Jawabannya ternyata tetep saja sama, kita harus mengajukan protes.

Protes adalah cermin bahwa kita ingin keberadaan kita diakui oleh orang lain dan dihargai. Bahkan para nabi dan Rasul pun pernah mengajukan protes keberatan ketika mendengar perintah dari Tuhan, dari Allah SWT. Jadi, amat wajar jika kita sebagai manusia biasa mengajukan protes.

Yang tidak boleh itu adalah protes yang anarkie, atau menghasilkan kerusuhan, atau menggelindingkan bola salju yang digelontorkan dengan cara menghembuskan fitnah yang sesat dan menyesatkan.

“Jadi, kalau nggak suka, ya sudah, kalian harus protes.”

“Protes itu apa?”

“Protes itu, kasi tahu ke orang yang kita nggak suka karena sesuatu, supaya orang itu mau berubah.”

“Caranya?”

“Bisa ngomong langsung, bisa juga marah tapi cuma negur, bisa juga ngirim surat.”

“Bisa juga demo.” Sebuah suara celetukan keluar ikut urun rembug.

“Iya, demo juga boleh. Asal jangan merusak lingkungan.”

“Seperti di tipi-tipi itu ya?”

“Iya, sayang.”

Lalu aku mengelus pipi halus putri bungsuku yang sedari tadi terus bertanya-tanya. Ada apa gerangan sih? Dia memang baru saja datang mengadu padaku karena diganggu kakak-kakaknya. Biasanya, aku memang tinggal mengeluarkan kata-kata saktiku, “Hei, sudah dong. Jangan ganggu adiknya terus.”

Lalu suasana damai kembali menyambangi rumahku. Tapi, kali ini , aku ingin memberi nasehat baru pada putri bungsuku yang baru berusia hampir lima tahun (26 januari 2011 nanti dia tepat berusia lima tahun). Yaitu, pentingnya untuk protes mempertahankan haknya jika ada yang mengganggu. Dia harus belajar untuk marah, belajar untuk mempertahankan miliknya, belajar untuk merebut sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Bukankah umur manusia tidak dapat diduga? Kemana dia akan mengadu jika nanti aku sudah tiada?

Lalu, beberapa hari kemudian setelah aku mengajarkan dia pentingnya protes jika ada yang mengganggunya, terjadi kembali sebuah keributan di rumahku. Kali ini gara-garanya adalah, kakaknya merebut boneka Pooh yang sedang dia mainkan. Hmm.. sebenarnya, bukan merebut, tapi ingin bermain bersama tapi porsi pembagian pemilikannya tidak seimbang (hehehehe, ini bahasa pejabat nih, yang suka memperhalus sebuah situasi. Ada bakat jadi pejabat ya aku sepertinya? ^_^ )

JEDAR!

JEDUR!

Pintu dibanting mendadak setelah baru saja mereka saling sahut-sahutan. Lalu tiba-tiba senyap. Begitu senyap sampai aku sendiri bingung, “Hei, indahnya perdamaian. Cepat sekali mereka akur kembali. Alhamdulillah.” Lalu, sambil masih memegang centong (karena memang aku sedang memasak), aku mengintip keduanya.

Olala…ternyata, sang kakak sudah asyik dengan televisi. Sedangkan sang adik, sedang asyik membuat sesuatu. Cepat aku ambil kamera dan diam-diam mengabadikan gambarnya. Sambil tidak lupa wawancara tanpa setahu objek yang aku abadikan gambarnya.

Gambar satu dan dua di bawah ini ; Hawna sedang bekerja.

“Sedang apa?”

”Aku lagi nulis buat mbak Arna.”

“Nulis apa?” (Hawna belum bisa menulis dan membaca).

“Nulis, Mbak Arna nggak boleh masuk kamar kalau boneka Pooh madunya nggak dikembaliin ke aku. Kalau mau masuk kamar, boneka Pooh madunya harus dikembaliin dulu ke aku. Pokoknya aku marah sama mbak Arna dan aku mau bonekaku kembali.”

“Wahh…begitu panjang protesnya.”

“Iya, panjang, biar mbak Arna denger yang mau aku omongin.” (pasti maksudnya tahu, bukan dengar…hehehe, namanya juga anak kecil)

“Tapi, kenapa kertas protesnya ada dua?”

“Iya, yang satunya lagi, tulisannya awas hati-hati nanti boneka Pooh-nya kotor karena Pooh-nya suka makan madu dan madunya itu kalau tumpah lengket jadi bisa datengin semut.”

“Puanjang buanget sih nak isi protesnya. Coba ibu baca…boleh kan?”

“Boleh…tapi aku mau mbak Arna sih yang baca.”

Lalu, tok..tok..tok…pintu dipukul-pukulnya dengan kepalan tangan mungilnya agar lem di kertas itu menempel dengan kuat di daun pintu. Setelah selesai, di depan pintu terlihat dua buah kertas. Ini isinya (tulisan pesannya sudah dibaca kan di atas?).

Perhatikan perbedaan kedua gambarnya. Gambar yang hanya ada satu sosok itu, adalah peringatan untuk boneka Pooh agar madunya tidak kecret kemana-mana. Sedangkan gambar yang ada dua sosok itu adalah protes untuk mbak Arna.

[]

Catatan kaki penulis:

Maaf ya notesnya nggak penting, cuma pingin berbagi cerita saja kok. ^_^


Sebuah Klarifikasi

Oleh Ade Anita

 

APA yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh manusia? Jujur, semula saya merasa bahwa tidak ada yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia. Berpikir adalah sebuah keharusan; karena dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itulah maka seseorang bisa mengembangkan sebuah pemahaman baru akan sebuah sesuatu. Dari proses berpikir yang dilakukannya, maka seseorang bisa memperoleh peningkatan kemampuan menguasai sesuatu; dia juga bisa menjauhkan sebuah kesalah pahaman; bisa mengenyahkan sebuah prasangka dan yang lebih penting lagi adalah, bisa memjauhkan dirinya dari sebuah perbuatan yang merugikan diri sendiri dan diri orang lain yang ada di sekitarnya.

Jadi, apakah seluruh proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itu pasti membawanya kepada sebuah kebenaran? Jawabnya, belum tentu. Jika seseorang mengembangkan sebuah cara berpikir melalui sebuah sudut pandang yang salah, maka bisa jadi dia justru akan terseret ke arah kesalahan yang lebih besar lagi.

Darimana sebuah kesalahan bisa terjadi dan menimpa seseorang yang sedang melakukan proses berpikir? Jawabnya ada di buku-buku yang bisa dibeli dan dibaca oleh banyak orang. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tapi sebuah tulisan yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga biasa. Benar-benar seorang ibu rumah tangga yang bahkan sudah terlalu lama sekali tidak pernah lagi membuka buku-buku pelajaran sekolah kecuali ketika dia membantu anak-anaknya belajar di rumah.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu anak perempuan ibu rumah tangga tersebut (baca: ade anita, yaitu saya sendiri) yang baru berusia empat (4) tahun, sedang bersenandung dengan lucunya. Dia menyanyikan lagu Naik Delman.

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka. Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja.

Lagu berhenti sampai di situ. Lalu, putri bungsu saya itu datang ke pangkuan saya dengan wajah serius dan kening berkerut. Dia bertanya dengan polosnya:

“Ibu, kenapa aku harus duduk di muka? Duduk di muka itu kan nggak sopan ya bu?”

Mendengar pertanyaan polosnya ini, saya hampir saja tertawa terbahak-bahak tapi wajah polos dan super duper serius yang diperlihatkan oleh putri bungsu saya itu mengurungkan niat saya. Saya tahu, dia melontarkan pertanyaan tersebut karena dalam kepalanya, dia melakukan sebuah proses berpikir seiring dengan lantunan syair lagu yang dia nyanyikan. Akhirnya, saya pun menghabiskan sore dengan melakukan perbincangan ringan dengan putri bungsu saya tersebut. Bahwa dalam bahasa Indonesia, ada bentuk sinonim yang memililki arti beberapa kata yang berbeda memiliki arti yang sama. Sebuah proses belajar pasti akan menemukan kesalahan di awal-awal pemahamannya. Karena itu saya bisa memahami ketidak mengertian putri bungsu saya itu.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari; sebuah kesalahan serupa sering kali terjadi pada diri kita. Kurangnya pemahaman akan sesuatu, hanya mengetahui sebagian saja dari sebuah informasi yang skalanya luas, keengganan untuk bertanya mencari kebenaran, rasa malas untuk bertanya pada narasumber yang asli, keinginan untuk mencari popularitas dengan mengangkat sisi yang kontroversial dari sesuatu adalah sebagian alasan dari terjadinya sebuah kesalahan dalam proses berpikir seseorang. Termasuk sebuah peristiwa yang menimpa saya baru-baru ini. Sehari setelah saya menuliskan sebuah status di facebook yang terkait dengan niat saya untuk mengucapkan terima kasih pada teman-teman.

Peristiwanya bermula beberapa waktu yang lalu. Beberapa teman yang sama-sama memiliki hobi menulis, bertanya pada saya apa yang saya lakukan untuk mencari ide ketika tiba-tiba merasa kehilangan kemampuan untuk menulis. Satu persatu pada mereka saya berikan jawaban disertai contoh. Tapi, karena beberapa orang kemudian menanyakan hal yang sama berulang kali; maka saya pun ingin menuliskannya dalam sebuah tulisan saja. Niatnya untuk berbagi cara menikmati tulisan sambil terus mengasah kemampuan untuk memahami sesuatu. Karena saya amat percaya, sebuah ide muncul karena saratnya pemahaman yang kita peroleh dari proses berpikir yang kita lakukan. Itulah sebabnya saya pun mulai menuliskan sebuah rangkaian tulisan berseri.

Seri pertama sudah keluar di notes : Begini cara saya menikmati sebuah tulisan (1)

Ada beberapa serial lanjutan yang ingin saya share (bagi) dengan teman-teman. Beberapa masih belum bisa dishare dan dipublish karena masih menunggu ijin dari notes yang ingin saya copy paste untuk dijadikan contoh tulisan yang bisa dijadikan contoh belajar menggali ide dan belajar menulis yang baik (saya bahkan meminta izin pada seorang teman saya, karena akan meng-copas puisinya dan akan meletakkannya sebagai sebuah contoh puisi yang tidak terlalu bagus dan meminta maaf karena pasti saya akan melontarkan sebuah kritik pedas pada puisinya. Alhamdulillah teman saya itu bersedia dikritik dan tidak keberatan puisinya dijadikan contoh). Saya senang dengan sikap besar yang ditunjukkan oleh teman-teman saya itu. Saya juga senang karena banyak teman-teman yang bersedia membagi tulisannya untuk niat copas belajar nulis saya tersebut. Sayapun bersemangat. Begitu bersemangatnya saya untuk berbagi, maka sayapun mengucapkan rasa terima kasih pada teman-teman melalui status facebook yang berbunyi.

“Ternyata.. notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku.. gpp ya… biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri.”

Sayangnya, hal ini ternyata dipahami salah oleh seorang teman saya. Sedih memang. Terlebih karena teman saya tersebut tidak menanyakan terlebih dahulu pada saya, apa maksud status facebook saya tersebut. Tapi sudahlah. Dengan ini saya melakukan klarifikasi dan semoga kesalah pahaman tersebut bisa segera selesai. Saya minta maaf. Tulus hati saya mengajukan permintaan maaf pada siapa saja yang salah sangka dengan apa yang saya lakukan.

Saya tidak peduli apakah kalian akan memaafkan saya atau tidak tapi saya sudah memaafkan kalian semua.

Tuduhan kalian amat kejam sebenarnya. Saya tidak pernah mengaku-aku karya orang lain sebagai karya saya. Bahkan; untuk ilustrasi dari sebuah tulisan saya sendiripun, saya tidak pernah mengambil hasil gambar atau hasil foto milik orang lain tanpa izin mereka. Itu sebabnya saya selalu berusaha untuk menggambar sendiri semua ilustrasi yang saya butuhkan untuk mendukung notes saya (meski itu artinya notes saya tampil begitu sederhana; tapi itu semua hasil karya saya sendiri). Saya tidak pernah menjadi seorang plagiat, pencuri ide, korupsi karya, penjahat sastra, konglomerat hitam di dunia penulisan atau apapun bukan karena suami saya seorang terdidik, pendidik yang harus memberi contoh pada didikannya; tapi karena saya seorang muslimah yang saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga dari tiga orang anak. Ibu dari anak-anak yang kelak akan menjadi generasi yang menegakkan negara ini dari berbagai hantaman dan benturan negara lain yang saling berebut tempat untuk menjadi terhormat di atas dunia. Ibu dari anak-anak yang insya Allah akan menjadi salah satu pemegang panji kebesaran agama Islam (agama saya). Ibu dari anak-anak yang amat sangat saya harapkan bisa menjadi pemimpin masa depan yang adil, jujur dan mengayomi orang lain.

Jakarta, 5 Mei 2010

[]

berikut notes dari mas tetet yang menurut saya muncul karena salah pengertian.

TAK HABIS PIKIR

[Today at 06:00]

Ade Anita menulis begini:

“Ternyata . . . notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku . . gpp ya . . . biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri”.

Saya geleng kepala, mengelus dada, memijit kening; tak habis pikir, ini etika apa?

Di Tepi Tali Kutang

Salam Hormat

TETET SRIE WD

JANTUK; Bagian akhir dari Topeng Betawi disebut Jantuk. Adegan ini merupakan intisari ceritera berupa renungan, nasehat, instrospeksi, agar manusia menyadari batas2 kemampuannya. Dari kesenian rakyat kita bisa belajar banyak etika.
Foto; Tetet Srie WD.

Rian Garyati Etika

.. Entah……… Hemmmm……..

Budhi Setyawan

mas tetet, perlu ditanyakan ke ade anita itu, dalam meng-copas tulisan2 itu, dengan mencantumkan nama penulis/pengarangnya nggak? koq jadi inget ttg geguritan saya yang telah menyebar ke banyak web & blog itu. banyak yang tanpa nama saya, & dan ada yg dengan nama orang lain. …. tumut prihatin mas….

Asrul Irfanto

senada dengan pak Budhi, seharusnya mencantumkan nama penulis/pengarang sebuah karya yang dicopas, entah itu untuk konsumsi pribadi ataupun publik.
salam hormat

M Djoko Yuwono

guritan dan puisi2 saya juga dicopas di blog2 entah milik siapa gak disebutin penciptanya… bikin males ngeposting karya2 kreatif di dunia maya..

Qur’anul Hidayat

Ah, jadi ngeri dengernya mas Teted. .
Smga bisa lbh hati-hati

Elis Kurniasih

Boten ngertos ah, teu langkung wae

Tetet Srie Wd

@Rian Garyati; Yes, hmmmm . . serem kan? Thanks. @Budhi Setyawan; Yes, di salah satu blog saya baca karya anda, RON GARING, nama penulisnya adalah Narto. Mungkinkah itu nama samaran mas? @Asrul Irfanto; Yes, saya juga setuju Pak Asrul, salam hormat. @M. Djoko Yuwono; Yes, waahh . . rupanya sampeyan mengalami juga mas? Duh duh duh . . salam. @Qur’anul Hidayat; Yes, memang ngeri, apalagi jika itu dilakukan orang berpendidikan mas. Ngeri dan serem!

Dinda Natasya DrCinta Pertama

Ikut Sharing Mas, hehe kok ada ya orang yang malah bangga seolah itu karyanya padahal penulis aslinya berdiri tepat didepannya.
Hehehe, ironis.
Status saya sering muncul ditempat lain beberapa saat setelah diposting.
Kadang2 kata2 yang saya sampaikan diudara, bsk sudah muncul distatus orang. … See more

Susi Maelasari

koq bs sampe gt yah,semuakan ada kode etiknya,mbok ya di jelasin aja secara gamblang,jd gak ngambang…sukses terus mas Tetet 🙂

Putri Suryandari

Itulah dunia cyber, dunia tanpa batas ruang dan waktu, sehingga etikapun dianggap tak ada. Memang perlu di buat peraturan penulisan dan pengcopyan dari internet, biar gak mudah melakukan pembajakan tanpa merasa bersalah.

Sandra Palupi

Tulisan diatas itu kelihatan bahwa Ade Anita mengerti bahwa apa yang dilakukannya ngawur, tapi diteruskan saja dengan enteng dan egois, seolah itu bukan masalah besar bagi pembuat karya.

Kang Arief

tak mengurangi kehormatan andaikata mau menulis:
terinspirasi dari, dikutip dari, diambil dari, kolaborasi dengan dsb,mungkin benar mbak sandra tak merasa itu “bukan masalah besar bagi pembuat karya”

Uhuy Bogel

Euy … nyata depan mata terbaca, inilah dunia semoga diri menyadari, … sukses selalu Mas Tetet…

… salam hormat …

Tetet Srie Wd

@Dinda Natasya DrCinta Pertama; Yes, kebanggaan, termasuk bagaimana proses dan caranya, memang milik dan menjadi hak setiap orang. Saya sagat suka jiwa besarmu; anggap saja menyemai benih, walau bukan kita yang panen jeng.@Susi Maelasari; Yes, kode etiknya ada tapi etikanya yang bisa jadi gak ada mBak. @Putri Suryandari; Yes, etika memang sering dianggap tidak ada mBak. Hikss.

Tetet Srie Wd

@Sandra Palupi; Yes, di situlah bedanya antara pencipta dengan tukang copas. Yang satu punya tanggung jawab, yang lain bermain di antara tanggung jawab. Salam hormat. @Kang Arief; Yes, terima kasih berkenan memberikan pencerahan. Salam hormat. @Uhuy Bogel Euy; Yes, dunia bulat dan berputar . . . he he he. Terima kasih atensi dan komennya, salam hormat.

Djuwarsih Mukhlisin

Saya juga tak habis pikir pak Tetet, dapatkah bila “hanya” dinikmati sendiri dipertanggungjawabkan siapa yg punya karya ? Sedangkan dalam membuat karya, kita selalu tak bertemu dengan yg namanya ilham, dan ilham itulah hak istimewa pada isi otak dan hati manusia yg mahal harganya…makanya bila kita menemukan plagiat..yg terasa adalah hati kita tersakiti…

Awan Hitam

ya mas tetet….semoga yang bersangkutan di beri pencerahan untuknya…semoga dirimu selalu berkarya dan kreatif selalu…
Salam hangat untukmu ..
Hormatku

Mas Bowiebraggi 把然

klau jaman sekrng, itu namanya ‘etika bajul’… dan bnyak bajul di mana mana’… waspadai’…

Ade Anita

saya ade anita. Saya sudah menulis sejak lama sekali. Bisa mas tetet sebutkan, sebuah saja karya tulisan saya yang merupakan hasil membajak karya orang lain? Bisa mas tetet sebutkan satus aja karya tulisan saya yang merupakan hasil meng-aku-aku tulisan orang lain?

Demi Allah, DEMI ALLAH, saya tidak seperti saya semua orang di komentar ini tuduhkan. Saya tidak pernah menjadikan menulis sebagai ladang untuk mencari rizki. Saya menulis karena saya senang menulis dan ingin menjadikan hobi saya ini sebagai lahan untuk berdakwah (itu sebabnya saya sering protes pada mas tetet yang sering menggunakan kata seperti kelamin, kutang, dll karena menurut saya itu tidak sopan). Apakah mungkin saya yang bercita-cita untuk menjadikan kegiatan menulis ini sebagai bagian dari ibadah menghiasinya dengan sesuatu yang kotor dan tidak senonoh dan bahkan bertentangan dengan agama Islam yang saya yakin kebenaranya?

kenapa sih mas tetet tidak bertanya pada saya terlebih dahulu?
Semua orang di komentar ini sudah saya maafkan.

[]


Tentang Hebat Menurut Versi saya (1): Lelaki Hebat

Oleh Ade Anita

 

 

SAYA suka nulis. Jadi kalau ada sesuatu yang bersemayam dalam kepala saya lebih dari satu kali dua puluh empat jam, sudah pasti sesuatu itu akan saya tuang dalam sebuah tulisan. Ah, jangankan sehari semalam seperti itu, kadang sesuatu yang berkelebat di benak sayapun sering saya tulis. Mungkin ini yang disebut inspirasi ya. Nah, karena seringnya ingin menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan, maka lembar untuk menulis dan alat tulis adalah sebuah keharusan yang harus tersedia di dekat-dekat saya. Saya pernah menulis di atas tissue dengan lipstik sebagai alat tulisnya saking kebelet pingin nulis banget karena melihat sesuatu.

Suatu hari, kejadiannya di rumah. Tiba-tiba pingin nulis banget dan komputer lagi dipakai oleh anak saya. Langsung saja saya ambil selembar kertas dan mulai menulis. Lalu atmosfir keasyikan mulai merasuki dan selembar kertas hvs itu ternyata tidak cukup menampung gagasan yang membeludak dari kepala saya. Jadi, saya ambil lagi lembar berikutnya hingga tidak terasa telah memakai tiga lembar. Setelah terpuaskan, lalu saya pamerkan pada seseorang tulisan tersebut. Belum jadi sih tulisannya, tapi setidaknya draft jalan cerita ide tulisan sudah terlihat rapi.

“Bagus nggak?”
“Hmm, sebentar. Ini pake kertas yang mana?” Kening saya langsung berkerut. Kok, nanya kertasnya sih?
“Yang itu.” Ragu saya menunjuk tumpukan kertas di atas meja tulis.

“Bagus nggak tulisanku?” kembali saya bertanya sambil senyum malu-malu mengharapkan pujian, muncul di wajah saya.
“Kenapa pake kertas itu de?” Loh? Hallooo….lagi ada yang minta dikomentari nih. Sumpah.
“Emang kenapa?” Meski sudah mulai kesal, tetap saja saya bertanya, nggak mungkin jujur bilang minta dipuji kan?
“Jangan pake kertas itu. Itu bukan milik kita.” hah!!! Kesal. Apa pentingnya sih kertas, kenapa sih nggak lihat isi tulisannya ketimbang kertasnya?

“Cuma tiga lembar kok.”

“TETEP. Jangan meremehkan hal sepele yang bikin kamu menyesal nanti. Biar cuma secuil, jika bukan milik kita kalau bisa jangan diambil De. Korupsi itu terjadi karena merasa nyaman ngambil yang kecil lalu mulai memperbesar porsi yang diambil sedikit demi sedikit. Kita harus mengembalikan kertas itu segera.” Kali ini saya benar-benar sudah kesal. Huh. Ini kan masalah sepele. Beli saja di warung, habis perkara. Kalau perlu beli satu rim sekalian. Itu draft tulisan saya gimana nasibnya? Baguskah? Jelekkah? Akhirnya alih-alih minta tanggapan saya memilih untuk ngambek. Sebel banget. Kesal. Lalu kemana-mana sepanjang sore itu saya menggotong bibir manyun di atas pangkuan.

Malamnya, dengan penuh kelembutan barulah saya dijelaskan pelan-pelan tentang inti teguran sore tadi. Dalam suasana tenang, kemarahan yang sudah reda, saya bisa mencerna nasehat dengan penuh kesadaran. Ya. Sering kita meremehkan hal-hal kecil dalam kehidupan kita. Padahal, dari hal-hal kecil inilah sebuah masalah besar akhirnya membelit erat dan kadang meremukkan seluruh tulang dan memecahkan urat nadi. Bertoleransi pada sebuah kekhilafan kecil akan memupuk rasa tidak melakukan kesalahan lalu tanpa terasa membangun menara kesombongan bahwa diri telah menjadi super. Lupa bahwa kaki sedang menginjak orang susah. Tak merasa bahwa ada pihak yang terpaksa harus berkorban demi kejayaan yang kita raih. Apa pentingnya sebuah kemenangan jika diraih dengan cara yang tidak jujur dan tidak adil? Apakah masih terasa nikmat kejayaan yang disertai sumpah serapah pihak yang teraniaya?

“By the way, tulisan kamu bagus.” Akhirnya komentar yang ditunggu keluar juga. Tapi hati ini sudah terlanjur malu. Malu pada kelakuan saya yang terlalu manja dan hampir menjerumuskan orang lain, keluarga saya, ke dalam arus perilaku koruptor. Malu pada dua malaikat pencatat kelakuan baik dan buruk yang mengintip dari belakang pundak.

“Maafin ade ya.” Ternyata, tidak selalu sebuah pujian membuat hati merekah dengan bunga-bunga.
“Udah.” Sudah? oh, seharusnya saya sudah menduganya.

Mmmmm…..ngg…. Saya jadi bingung mau ngapain lagi. Salah tingkah mulai merasuk.

“Kenapa lagi?” Akhirnya saya ditanya. Laki-laki ini memang selalu tahu jika ada sesuatu yang menggayut dalam kepala saya.
“Boleh minta sesuatu?” Akhirnya malu-malu saya bertanya padanya.
“Apa?”
“Besok-besok, biarpun aku merengek minta sesuatu yang bikin kamu harus usaha keras memenuhinya, jangan sampai hal itu bikin kamu bertoleransi untuk terjerumus jadi koruptor ya. Persis seperti kamu ngingetin aku dengan tiga lembar kertas tadi sore. Aku perempuan manja yang banyak maunya. Jadi, tetaplah jadi lelaki berpendirian.” Lalu lelaki di depan saya mengangguk setelah mengucapkan kata insya Allah. Dialah lelaki hebatku. Dialah, suamiku.

[]

Maaf, gambar ayam yang sering saya jadikan ilustrasi tulisan notes saya, bukan karena saya suka ayam.. hanya saja, pelajaran menggambar saya baru sampai binatang ayam. Masih belum sempurna, tapi setidaknya karya sendiri.


Sepucuk Surat Kepada Cinta

Oleh Hera Naimahh

aku mengenalnya lewat lembar-lembar catatan yang memuat tentang riwayat cinta abadi sepasang kekasih yang membuat penglihatanku terpaku di kedalaman setiap kalimatnya

aku menjumpainya di penghujung senja saat kenangan dan kenyataan berbaur dan mengabur dari penglihatan

Aku memahaminya lewat percakapan demi percakapan yang membuat langit jiwaku berpendar-pendar oleh cahaya jingga hingga aku mengira dialah kekasih jiwa yang akan menemaniku menjemput malam

(Aku mohon maaf padamu untuk semua hal yang tak kumengerti, untuk semua kebimbangan dan ketidakpastian, dan untuk keterasingan yang membentang di antara kita)

mampukah aku berlari meninggalkannya demi ketenteraman lain yang tak sepenuhnya kupahami? haruskah kuingkari panggilan jiwa dan lari menuju lorong tanpa cahaya menuju negeri tak bermusim?

wahai cinta peluklah aku dan berikan kesejukan pada setiap tarikan nafasku yang tak henti meneriakkan asmaMu

wahai jiwa yang dikepung rindu tak berkesudahan. kupasrahkan segenap hasrat menjelma kesejatian dan tunduk patuh pada kehendakMu

sungguh, Tuhanlah yang berkuasa memberi keajaiban kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan memberi cinta kepada orang-orang yang tak henti menjumpaiNya

aku akan di sini. setia menanti hujan datang menghalau kemarau dan membasahi hati dengan kehangatan tak terduga, lalu kita bersama-sama lagi menulis dan membaca puisi, merenda hari dengan rangkaian huruf demi huruf, kemudian melengkapinya menjadi sebait simfoni dan kita nyanyikan berdua hingga akhir usia

***

hera
19 Ramadan 1431 H
29 Agustus 2010


Kau Dengarkah Kata-Kataku

aku mengagumi kemegahan kejujuran.
aku bukan penyair. aku suka berjalan.
aku suka melihat. aku suka merenungkan.
aku ingin menulis.
aku bukan siapa-siapa.

Depok
25 Juli 2010
: 16.08

[]


Diproteksi: Sebunyi Sunyi Sembunyi Sepi [15]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:


Tiga Puisi Kecil # 2

Oleh Adhy Rical

Menulis Tubuh

dengan canda kita di sini
menulis tubuh yang tak selesai
lima detik bibirmu lenguh
pecahkan gelas yang kita pakai
minum bersama dalam selimut

Kendari, 2010

[]

Penyetia

hanya malam gigil memanggil
dan dinding gua berbasahan
kaukah yang bertenang itu, penyetia?

Konawe, 2009

[]

Wasiat

jemput aku di pulau ini
dengan kertas dan pena
tujuh senapan membidik tubuhku
besok

Kendari, 2008

[]


%d blogger menyukai ini: