Tag Archives: bahasa

Download Gratis Kamus Besar Bahasa Indonesia & Tesaurus Bahasa Indonesia

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) terbit pertama kali pada 28 Oktober 1988 saat Pembukaan Kongres V Bahasa Indonesia. Sejak saat itu KKBI telah menjadi sumber rujukan penting di kalangan pecinta bahasa Indonesia di dalam maupun di luar negeri. Tatkala ada permasalahan dalam bahasa Indonesia, terjemahan dan padanan kata, KBBI selalu dianggap jalan keluar penyelesaiannya. Selain muatan isi, KBBI memang disusun tidak sekadar sebagai sumber rujukan, tetapi menjadi sumber penggalian ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, serta peradaban Indonesia. Walaupun upaya penyempurnaan isi tidak selamanya mengimbangi perkembangan kosakata bahasa Indonesia, namun KKBI akan selalu diperbaharui dari waktu ke waktu.

KBBI Daring ini merupakan upaya penyediaan kemudahan akses terhadap Kamus Besar Bahasa Indonesia di mana pun, kapan pun, dan siapa pun selama mampu memanfaatkan dan dalam jaringan teknologi informasi dan komunikasi.

Database KBBI Daring ini diambil dari KBBI Edisi III. Pemutakhiran dan penyempurnaan isi KBBI sedang dan terus dilakukan. KKBI Edisi IV akan diluncurkan tahun 2011 ini. Tampilan antarmuka KBBI Daring (Online dan Offline) sengaja didesain dalam bentuk sederhana agar pengguna tidak menemukan kesulitan dalam penggunaan kamus ini.

Software (freeware) Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi 1.1 ini merupakan versi offline dari KBBI Daring (Edisi III) yang ada di Pusat Bahasa (versi online).

Dibanding KKBI versi Online, maka KKBI versi offline (freeware) mempunyai beberapa keunggulan dan bebas disebarluaskan dengan syarat tidak mengubah software. Kedua versi KKBI ini saling melengkapi. Versi offline dapat digunakan bagi pengguna PC, sedang versi online untuk pengguna bergerak (mobile).

Sebagai pelengkap, IFW juga menyertakan sebuah e-book Kamus Tesaurus Bahasa Indonesia versi PDF.

Download freeware Kamus Besar Bahasa Indonesia versi 1.1 <– Klik Di Sini (Free Software)

Pranala Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online <– Klik Di Sini

Kamus Besar Tesaurus Bahasa Indonesia <– Klik Di Sini (Free E-Book format PDF)

Iklan

Mereka Juga Layak Punya Cita-Cita (Anak-Anak Kurang Mampu)

Oleh Very Barus

(mereka ada diantara kita)

SABTU pagi, sekitar pukul 08:00 WIB, bertempatan ‘warung kopi’  berskala dunia Starbuck BNI 46 Bilangan Sudirman (sebelah hotel Shangri La),  gue janjian dengan sahabat-sahabat gue (Deddy Irman dan Sari juga bebebrapa sahabat dari karyawan Starbuck).  Pagi itu rencanannya kami akan bertemu langsung, bertawa-canda, berbagi kasih dan kisah, juga berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang mampu yang berasal dari kawasan Semper ato kawasan Tanjung Priok sono deh.

Jauh sebelum acara  ‘berbagi kasih dengan anak kurang mampu’ di gelar, gue sudah di bbm sama sobat gue. Apakah gue tertarik untuk bergabung? Dengan semangat 45 gue mengiyakan ajakan tersebut. Bukan sok hero sih kalo gue mengiyakan dan ikut berpartisipan untuk acara-acara berbau social. Apalagi berhubungan langsung dengan anak-anak yang kurang mampu. Anak2 Autis atau keterbelakangan mental. Gue suka berhadapan dengan mereka….

Sekitar jam 8.30 pagi…

Setelah gue dan teman2  dari Starbuck ngumpul, Rombongan anak-anak berseragam merah-putih turun dari bus yang khusus mengantar mereka ke warung kopi itu. Wajah mereka penuh keceriaan. Meski baju yang mereka pakai sebenarnya sudah tidak layak untuk dipakai (warna putih menjadi warna keabu2an atau coklat muda gitu deh). Celana atau rok yang mereka pakai pun banyak yang sudah kena tambal sulam. Sepatu dan kaos kaki juga banyak bolongnya.

Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan membuat gue sangat miris. Suka membayangkan seandainya gue berada pada posisi mereka, apakah gue masih sanggup menerima kenyataan hidup?

Tapi itu lah realita…..

Dibimbing dua orang wali kelas, dengan rasa sungkan sekitar 40 murid sekolah dasar itu masuk ke gerai Starbuck dan disambut dengan sangat ramah oleh karyawan Starbuck. Mereka pun menyalami kami satu persatu.

I love this part..!!

(gue bersama mereka)

Sambil memilih tempat duduk sesuai selera mereka, gue mulai melakukan pendekatan dengan anak-anak tersebut. Mereka pun berkisah tentang siapa orangtua mereka, apa pekerjaan orangtuanya dan apa cita-cita mereka. Rata-rata mereka memiliki orangtua yang bekerja sebagai SUPIR bus, truk dan pekerja buruh yang sering keluar kota.

“Bapak sekarang berada di Riau-PakanBaru..nyupir bus, om..” ucap seorang murid laki-laki dengan malu-malu.

Sementara temannya yang lain juga  ‘curhat’ tentang orangtuanya yang sebagai buruh kasar. Pokoknya berbagai pekerjaan berat menjadi profesi orangtua mereka.  Diposisi lain, teman gue sibuk mengajarkan bahasa Inggris pada anak-anak perempuan. Ada juga yang mengajarkan matematika hingga mata pelajaran yang mereka sukai yaitu BERNYANYI….

Sementara teman-teman dari Starbuck sibuk menyuguhkan susu coklat dingin di dalam wadahnya lalu dibagi-bagikan pada anak-anak tersebut. Tidak ketinggalan roti donat khas Starbuck menjadi suguhan pendamping susu coklat tadi. Hmmm…. Wajah mereka langsung berubah cukup ceria menikmati suguhan tersebut.

“Kami jarang makan enak om…apalagi minum susu coklat seperti ini..”ujar seorang murid dengan polosnya langsung meneguk habis satu tubler sus coklat dingin. Gue hanya tersenyum haru.

Kemudian, kami pun kembali sibuk dengan acara temu canda-curhat-sharing dan apalah itu namanya. Yang jelas, murid-murid SD tersebut sudah tidak sungkan-sungkan untuk curhat pada gue. Bahkan ketika gue menanyakan cita-cita mereka, sambil mengacungin telunjuk mereka berebut menjawab..

“Saya pengen jadi Tentara…saya jadi dokter…saya jadi penyanyi…saya jadi pilot..saya pengen jadi guru dan saya pengen jadi polwan..”

Hmm… cita-cita yang wajar bukan? Dan meski pun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, mereka juga LAYAK PUNYA CITA-CITA. Jangan pupuskan cita-cita mereka…

Bahkan yang mengagumkan dari murid-murid SD tadi, banyak diantara mereka yang berada di rangkin paling atas di kelasnya. Juara kelas dengan prestasi yang tidak kalah ‘agung’ dari murid-murid SD yang punya label ‘SD internasional’.

(sari mengajarkan bahasa Inggris)

Ada curhatan yang nggak kalah seru ketika seorang dari mereka membisikkan ke telinga gue seperti ini, ”Om, si anu (nama temannya), waktu kelas 2 SD ketahuan merokok, om.”

Dengan lagak sok jadi guru, gue langsung bertanya pada murid-murid laki-laki yang sedang duduk-duduk bersama gue, ”Siapa diantara kalian yang pernah merokok, ayo tunjuk tangan..?”

Sambil malu-malu, dua orang dari mereka angkat tangan dan mengakui kalo mereka pernah merokok. Itu juga dikarenakan ikut-ikutan sama kakak kelas mereka. “Tapi sekarang saya tidak merokok lagi om…” jawabnya polos. Kemudian, gue pun memberikan penyuluhan pada mereka kalau MEROKOK ITU TIDAK ADA GUNANYA…(kebetulan gue tidak merokok)

Kejadian yang nggak kalah seru adalah ketika ada beberapa murid yang berdarah BATAK mulai melantunkan lagu-lagu Batak. Dengan PD selangit mereka menyanyikan beberapa lagu Batak.

“Kamu tau nggak arti lagu yang kamu nyanyikan..?”

“Tidak om…”

“Kenapa kamu nyanyikan..?”

“Soalnya dirumah bapak sering memutar lagu Batak. Jadi saya jadi hafal om. Tapi nggak tau artinya..” (gue hanya tersenyum saja)

Hari terus berlanjut, acara semakin seru. Mereka semakin akrab sama gue dan teman-teman. Beberapa cemilan pun disuguhkan lagi. Mereka juga bebas mau menambah minuman susu coklat tadi. Mereka juga curhat kalau mereka mengidolakan JUSTIN BIEBER dan Charlie ST12. Dan satu lagi…. Ada yang curhat kalau dia sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya  si juara kelas…

Oalahhhhhhh…… serunya berada ditengah-tengah mereka… dan gue berharap semoga mereka bisa menggapai apa yang mereka cita-citakan…

(mereka layak mencicipi kebahagaian)

[]


Tourist yang Tersesat yang Menyenangkan

Oleh Afrilia Utami

Sore, (12/09) di kagetkan dengan kedatangan bule asing, bersama dengan Teten Rustendi (om saya) yang saat itu membawanya ke tempat kediaman kami. Bagaimana tidak kaget, tiba-tiba tanpa kabar ada seorang yang tampan rupawan, hahaha.

Hanya berpakai celana Jeans Pendek, kaos, topi, dan sebuah ransel besar, beserta kacamata hitam pekat yang tepat di gantungkan di kerah bajunya.

Owh, hello… My name Brian Davidson. I’m from Texas (America)” dengan senyum yang sumringah.

Hai.. I’am Afrilia, Ok. Sit down over there, please…” jawabku dengan sedikit gugup.

Thank you, Nice to meet you.. A..ff..rilial…

No…no. My name Afrilia. But, you can called me A-F-R-I-L.”

“Afril… OK, your name’s difficult.. haha..

Berbincang dengannya sangat menyenangkan. Terlebih ia sudah berada di Indonesia kuranglebih selama dua bulan. Sebelum menuju Tasikmalaya, ia mengunjungi Sumatra, Jakarta, Padang, Yogyakarta, dll untuk mempelajari alat musik tradisional ‘Gamelan’.

Pertemuannya dengan Teten Tustendi, di awali dengan ketidak sengajaan. Ketika itu Om Teten sedang makan di luar. Tiba-tiba melihat seorang bule yang ternyata benar dalam keadaan tersesat, setelah di tanya tujuannya ialah menuju pantai Pangandaran. Tetapi tersasar sampai di Tasikmalaya. Bukan tanpa sebab ternyata dibalik itu semua iapun tidak begitu menguasai bahasa Indonesia. Mr. Brain dalam usianya 23 tahun sudah berkeliling hampir seluruh negara bagian bawah katulistiwa. Hampir semua negara pernah ia kunjungi, ya beliau seorang adventurer. Berpetualang sendiri. Dan memang sungguh berani, belum mental di uji.

Pemilik nama Lengkap Brian Davidson ini, selain ramah dan mengasikkan. Ia pandai memainkan catur, kartu, terutama Jugle. Ya, kami bersenang-senang seharian penuh dengannya. Hahaha, seperti ada mainan baru. Seorang Atheis yang tiba-tiba menggemparkan kami. Ia ingin belajar Islam lebih dalam, Mr. Brain selalu membawa catatan kecil di saku kanannya, dan sebuah kamus kecil English-Indonesia di saku kiri celananya. Dalam catatan kecilnya, ia selalu menulis apa yang ia temukan. Ternyata ia telah merangkum banyak pertanyaan tentang Islam, yang semakin mengagetkan ia mempunyai sebuah Al-Qur’an tiga bahasa.

Menurutnya “I love Islam more than Christianity. Though I knew little about Christianity. Democracy in the religion of my family (Islam lebih saya sukai, daripada Kristiani. Meski saya tahu sedikit tentang Kristiani. Keluarga saya Demokrasi dalam agama.)” jawabnya saat di tanya.

Why would you want to learn Islam (mengapa anda ingin mempelajari islam?).”

Dalam diskusi membahas tentang agama, tentu sangatlah menarik dan asik. Banyak pertanyaan-pertanyaan beliau yang terkadang mengapa sulit ya…di jawab dengan rumusan dalam bahasa English. “Why I should fear God?“. “What God tells us to fight the apostates and infidels?“. “What is an apostate and infidel?

(Mengapa saya harus takut kepada Allah?”. “Apa Allah menyuruh kita untuk berperang kepada orang murtad dan kafir?”.”Apa yang dimaksud dengan murtad dan kafir?)” dan tentu masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan.

Esok pagi, om saya mengajak Mr. Brain untuk berkeliling kota naik sepeda. Dengan riangnya Mr. Brain langsung siap dan sangat bersemangat. Sesudah berkeliling sekitar 45 menit. Mr. Brain ingin mencoba makanan nasi T.O, ia melihat di internet tentang Nasi T.O dan ingin mencoba.

Hahaha, tidak salah saja ada bule di suruh makan nasi T.O dengan tangan telanjang tanpa sendok dan garpu yang setiap harinya hampir tidak alpa di atas piring berdampingan juga dengan serbet sarung. Melihat cara makannya, cukup membuat kami tersenyum sembunyikan tawa. Lama sekali, berulang kali ia sulit mengumpulkan nasi untuk menyuapkannya ke dalam mulut. “Waw, that’s Good. Hmm… “ ujarnya berkali-kali.

Kecerdasan dan ketangkasaan beliau cepat tanggap dalam melahap ilmu. Ia menguasai beberapa bahasa Spains, Korea (pernah menjadi guru bahasa English di Soul, Korea Selatan), Japan, dan mungkin sekarang bertambah bahasa Indonesia.

What you think about Indonesian society?

Yeah, saya senang with Indonesian’s People. They’re open hmm… terbuka.. dan I Love it, in here. Sa..yaa.. menyukai alat tra..disional music Indonesian and Indonesia’s culture. Before datang saya ke Indonesia. Saya ke Malaysia. Malaysia’s People tertutup.. tertutup, do you know tertutup?” jawabnya dengan bahasa yang gado-gado (campur English-Indo).

Hari-hari bersamanya adalah hari yang sangatlah menyenangkan. Banyak tawa jenaka yang lahir bersamanya. Senyum Mr. Brain itu yang kerap terpatung dalam mimik rautnya.

I hope you will never forget me..” ucap saya yang pelan membisik padanya.

Yeah .. Of Course. And I expect the same.. I glad to see you..

.. Begitulah muasal persahabatan dengan tourist tersasar itu.

14 September 2010

[]


Mencari Puisi yang Hilang dari “Buton, Ibu dan Sekantong Luka” Karya Irianto Ibrahim

Catatan Sederhana Kawan Baik

Oleh Adhy Rical

1

Apa yang akan kuceritakan lebih dulu padamu, penyair? Tentang angka lahir yang nyaris sama barangkali? Atau kisah colo-colo di sebuah pulau kecil yang berulang kali memanggil petani ubi dalam celah karang: Lakudo.

Kisah masih terbayang, seperti ikan seperahu yang kita bakar sore itu.Lalu sebuah buku datang dari tanganmu di Kedai Arus. Malam itu, sepuluh tahun terasa lebih dekat. Aku yakin, buku itulah yang pertama kau berikan pada seseorang di Kendari: padaku.

Sangat membahagiakan bukan? Apalagi kau memintaku membicarakan buku itu.Nah, melalui catatan sederhana ini, aku akan menulis dari hati saja. Menulis sebelum puisi-puisi dalam bukumu lahir. Ketika kita masih satu meja di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unhalu. Bukankah yang lain telah banyak menulis tentangmu sewaktu bedah buku di tiga kota: Yogakarta, Tasikmalaya, dan Jakarta?

Aku akan memelukmu sambil membisikkan sebuah tabloid Podium Pers Mahasiswa Unhalu tentang “Darah Itu Merah Jenderal”. Di sinilah puisi dalam bukumu bermula meskipun aku lebih memilih, bukumu lebih dominan tentang ibu. Bukankah puisi pembuka “Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa” adalah puisi pertama meskipun tak tercantum sebagai halaman pembuka puisi? Lalu lihatlah tahun-tahun setelahnya, ibu begitu bertenaga di sana. “Kelak Kau akan Mengerti” meskipun rumah dan kenangan sama-sama telah usang, tapi aku masih ingat “Sajak Botol” tahun 1996. Kukira, ini puisi yang luput setelah Nanga-Nanga malam itu, kita bermain api di bawah terpal.

2

Ada 53 puisi dalam antologi “Buton, Ibu dan Sekantong Luka”. Ditulis dalam rentang tahun 2000-2010 (meralat pernyataan Sarabunis Mubarok sebelumnya,2007-2010). Kurun sebelas tahun itu, terdapat satu puisi yang terbit pada tahun 2000 (Bunda, Kirimkan Nanda Doa-doa) dan 2001 (Pantai Katembe). Puisi terbanyak ditulis tahun 2007 (22 puisi) lalu menyusul tiga tahun berikutnya.

Bicara tentang Anto, sebenarnya kita tidak saja diajak membaca sejarah Butuni 1969 tetapi bagaimana mencintai ibu dan seseorang yang kelak menjadi ibu untuk anak-anakmu (Suatu Ketika di Kamar Kontrakan). Tentu saja pembacaan lain dari konteks puisi yang telah ia paparkan sebelumnya akan lebih terang (Sebuah Cerita dari Dua Gelas Kopi, Peminang Sepi, Pada Sebuah Pesta, Sungai Sajak, Hawa Semedi, Perahu Kanak-kanak). Keenam puisi tersebut disuguhkan kepada kawan-kawan yang mencintainya. Anto begitu paham, pada siapa puisi itu ditujukan sebelum ia benar-benar menulisnya. Kelak kau akan mengerti, begitulah.

Ada satu hal yang tak bisa lepas dari kepenyairan Anto selain potret sosial yang dekat dari dirinya dan sangat kuat dalam buku antologi puisi ini, yakni romantisme kebebasan. Anto tetap satu arah memotret keseharian: ada doa ibu yang tak pernah lepas. Ibulah yang membuat sosok penyair ini begitu kuat dalam metafor maupun proses penulisan lainnya.

3

Irianto Ibrahim telah berhasil membukukan karya puisinya. Kita patut bangga sebab ini yang pertama sebuah buku antologi puisi terbit di Kendari. Realitas sosial begitu bertenaga. Kita bisa membaca sejarah berdarah tahun 1969 itu melalui buku kecil ini. Dan, Anto memang tak main-main, sejarah itu memang kelam tapi laras memang tak perlu datang untuk sekadar mencatat buku kecil Saleh Hanan, “Buton, Basis PKI” dengan buku puisi. Maka, buku ini memang wajib dibaca.

Mungkin buku berikut akan kita temukan puisi Anto yang hilang itu. Bukankah tahun 2002-2006 tak satu pun puisinya hadir di sini?

[]

Kendari, 2010 

Buku: “Buton, Ibu dan Sekantong Luka”, Irianto Ibrahim, Frame Publishing, Yogyakarta, 2010.


Tiga Hari

Oleh Adhy Rical

tiga hari lalu,
kau bersumpah akan menemani seekor buaya
menaiki punggung dan menghitung gigi depannya
mungkin lorong air selanjutnya, kau mengajak petugas hutan
menunggu timbangan yang entah berapa

tiga hari sebelumnya,
kita nyaris berdekap
menyusuri sungai
bau tubuhmu tiba-tiba meluap
rasanya lucu melihat keringatku jatuh di mulutmu
membayangkan kematian dengan tubuh telanjang
lebih jenjang sebab gairah tak bisa usang

kemarin,
aku selalu membayangkan maut
mengapa ia tak menjemput?
mungkin biaya kontrakan tak perlu kuributkan
sekadar belajar korup pada keadaan
bukankah pekarangan hatimu lebih berbunga
ketika tak bisa membisikkan kata-kata indah?

baiklah,
kau boleh mencopot kemunafikanku
sebab mengejar reptil itu lebih penting
daripada mengejar rindumu
atau kau boleh bermain dengan sepi
yang diam-diam mencubit pakaian dalammu:
aku bugil berkata-kata

hari ini,
aku masih terbata-bata
tak ada bahasa ucap yang masuk akal
hanya menyusun rencana sederhana
mungkin kita tak bisa bertemu
sebab tiga hari masih menganga

Walalindu, 2010

[]


Bahasa – Kasus Puisi Penyair Adhy Rical dan Fitrah Anugerah

Oleh Hudan Hidayat

Kutang Pancara

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

Laosu, 2010
Adhy Rical, 04, 02

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

***

Pada Celana Dalamku

Aku telah mendarat pada dermaga yang menyimpan celana dalammu. Aku melihat pada celana dalam itu sekumpulan ikan kecil tersangkut di ruas benangnya. Kupungut satu persatu. Kumasukkan pada tas kerja. Menjemur pada jalanan kota.

Aku pergi melaut setelah matahari menelannya. Inilah awalku merindukan bulan. Sebab bulan meminta sejumlah ikan kecil yang ditelan matahari. Aku akan memakai celana dalam dari mu di hadapan bulan. Lalu kugoyang-goyangkan perahu dengan tarian ombak.

Aku menjerit pada ganas tarian ombak. Aku menjebur. Tenggelam. Mengapung kaku menuju dermaga kembali. Pagi ini. Kau akan melihat di kaku tubuhku. Pada celana dalamku terkumpul ikan-ikan kecilmu kembali.

Bekasi, 02122009
Fitrah Anugerah

1

Oleh satu kenyataan bahwa kesadaran yang tak terlihat oleh indera itu, tanpa tubuh sebagai wadahnya, bahasa selalu tampil dengan unik yang misterius. Kita menyadari perasaan kita sendiri dan pikiran kita sendiri, tapi tanpa bahasa, bagaimana kita hendak menyebutkan pikiran dan kesadaran kita itu? Orang merasa hampa atau bahagia dengan hidupnya. Mungkin tergambar dalam pantulan fisiknya: ia tersenyum puas akan tingkat yang telah ia capai. Atau muram karena hanya semata hitam dalam pandangan. Tapi dikotomik itu tak bernama. Kita tahu pikiran dan perasaan itu, tapi tak ada namanya. Apakah namanya perasaan hati dan pilunya diri? Adalah entah. Maka entah itu adalah suatu eksistensi yang menutup pada dirinya sendiri, tak membuka keluar. Seperti batu keadaannya yang kita tak tahu: adakah ia gembira atau sedang sedih dalam diamnya.

Suatu hidup bernama dalam negara, yang warganya tak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya, adalah suatu batu besar yang ada tapi tak hadir sebagai sebuah eksistensi. Ia hanya esensi. Pikiran dan perasaannya ia pendam sendiri. Dan hanya ia yang tahu apa gelora dan sedihnya dalam diamnya itu. Kita tak tahu. Kita dari penguasa negara yang kini bertanya tanya: hendak apakah orang banyak ini? Kalau aku tak tahu hendak apa, lalu apa yang menjadi dasar aku membawanya sebagai sang kuasa yang dititipi dalam rendezvous bersama ini?

Aku yang entah hendak ke mana dari satu negara, maka aku-wakil-orang-ramai yang tak tahu lagi ujung pangkalnya. Di sana telah terjadi chaos makna yang datang dari arah arah ke mana kaki hendak melangkah. Aku yang harus ditempatkan ke dalam bingkai aku-orang-ramai-dari-negara-lain. Akan dengan cepat menjadi aku bulan bulanan orang ramai dari negara lain. Bom waktu itu telah ditanam. Tapi tak ada negara yang mau menanam bom waktu pada dirinya sendiri: selalu, selalu aku di sana menggeliat mencari cari salurannya. Agar sang aku-batu tadi terdengar kicau suaranya.

Maka sebuah mekanisme tempat saluran hati, adalah niscaya dan adalah hendaknya terbuka dan mebuka terus. Mungkin arah motif sama, mungkin arah motif tak sama. Tapi suatu pepatah lama bisa diajukan: bukan soal rambut sama hitam tapi hati siapa yang tahu. Tapi adalah soal pemenuhan hajat kebutuhan orang ramai. Saat hajat terpenuhi maka motif boleh menjadi hiasan yang diberi pigura sendiri. Boleh dibawa ke tepi kenangan. Bahwa di sana: ada angan angan yang tersembunyikan. Bahwa di sana. Ada kenyataan individual yang tak diberi ruang tampil (karena itu ia dikurung dalam pigura itu).

Ideal semacam itu meniscayakan meja besar di mana orang bisa duduk bersama, dengan nyaman, untuk saling memperdengarkan bahasa masing-masing. Kalau meja besar tempat duduk bersama itu ditarik dari tempatnya, maka pada saat itu pula telah terjadi suatu bahasa yang bercakap sendiri. Di sana hati dan angan angan digelar sendiri, tanpa pendengar. Monolog bukan dialog.

Bahasa satu arah yang dengan cepat membawa warganya meluncur ke telinganya masing-masing. Di mana orang mulai bercakap sendiri sendiri di muka cermin. Lalu bahasa menghilang dari kosa kata orang ramai. Lalu orang ramai mulai mengambil praktis dari nilai bahasanya yang dia bayangkan. Negara memudar. Hidup bersama kini dipandu oleh “manasuka” dengan hasil “sesuka sukamulah”. Toh telinga kami ini bukan untuk kalian, seperti mulut kalian itu bukan untuk telinga kami ini.

Tapi dalam puisi rupa rupanya telinga dan mulut yang berucap itu tidaklah harus sama. Orang boleh punya telinganya sendiri atau mulutnya sendiri. Bahkan harus. Tak ada aras yang sama dari penampang bahasa sebagai medium. Unik lalu sama punya hak untuk tampil di sana. Tapi kepada telinga siapakah mulut sang penyair kalau dia sepenuhnya masuk ke dalam suaranya sendiri. Sedalam dalam ia mencari kata di kedalaman mulutnya, tapi lalu telinga siapakah yang kelak akan mendengarnya? Adakah mulut itu meniscayakan telinga untuk mendengar? Atau kita balik: benarkah telinga itu meniscayakan ada mulut yang membawa kata ke dalam lubangnya?

Maka kita sampai kepada hal yang klasik itu: bahasa objektif dalam puisi dan bahasa subjektif dalam puisi. Menciptakan dinamik dari ruang dan rentang. Realitas dibaca dan diolah di sana. Tapi realitas dibaca dan dimanipulir di sana. Sehingga bukan lagi realitas yang kita kenal secara objektif. Tapi realitas yang telah menjadi samar samar: seolah saya kenal ucapan penyair ini. Tapi tentang apa ya? Mulut saya seakan pernah mengucapkannya, tapi telinga saya serasa rasa asing mendengarnya.

Mungkin telinga kita asing mendengar, atau mulut kita belum mengenal dengan baik, apa yang telah dipelintir itu. Semua terbuka kemungkinan dalam bahasa. Tapi rasa asing itu, bukan sama sekali tak kita kenali. Ia hanya seakan jiwa purba kita yang begitu dalam terpendam, tak bernama (dan karena itu terasa asing). Saat sampai kepada kita, bahasa “aneh” itu memberikan sensasi dan kita mulai menimbang nimbang suatu struktur, suatu konvensi, akan sensasi itu.

Mulailah dimainkan kutub objektif dalam bahasa. Dan akhirnya kembali kepada kutub motif dalam diri manusia. Dia yang terbuka dan membuka diri akan menerima aneh dalam bahasa sebagai suatu kegembiraan. Sebagai satu rangsang dari tiap kemungkinan pengucapan. Tapi dia yang tertutup dan menutup diri, akan mengenakan pelabelan bahwa bahasa aneh ini adalah melawan realitas (yang ia kenali), dan karena itu janggal, atas mana ia lalu menolak satu bahasa kesenian dalam konteks yang baru.

Tak sebenarnya baru, atau lebih tepat: bahasa purba yang terpendam dalam dirinya sebagai pikiran dan perasaan yang melekat sebagai gen – karena tak diolah, tak disentuh, terus mengeram sebagai gen dalam bahasa yang tidur, nyaman dalam buaian ketidaktahuannya. Tenggelam di sana sebagai kemungkinan produktif manusia yang gagal sampai kepada mulut dan telinga manusia manapun.

Kita ingin membangkitkan daya daya bahasa yang paling jauh. Kita ingin membangunkan daya daya bahasa yang terpendam semacam itu. Menyambarkannya kepada mulut dan telinga manusia biasa. Mulut dan telinga sang penguasa. Agar rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam diri, rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam alam ini, menjadi rahasia rahasia yang telah terkuak misterinya. Dan karena itu menjadi kehadiran yang produktif untuk kemanusiaan. []


Bahasa Lain

Oleh Sulaiman Sitanggang

: Untuk Adhy Rical

***

Trisula Bahasa: Membaca Menulis Melaku
Rantai Trisula: Saling
Keindahan Trisula: Antik Unik Mantik

Ijinkan saya menyimpulkan dan menilai ada kemungkinan bahasa lain pada puisi. Tentu saja diawalannya kita tentukan bersama sebuah kesepakatan bahwa terdapat dimensi dimensi lain yang tentu saja memiliki dunia dan cara cara tertentu yang berlaku di dalamnya. Kesepakatan yang bukan kompromi juga bukan konspirasi. Dimensi lain itu apa dan mana. Di lain tempat kita duduk bersama bincangkan. Dan beberapa pengelana dan pejiarah dimensi apa dan mana baik secara kebetulan ataupun tidak sepertinya bisa saja tembus dan menembus antar dimensi dan dimensi dengan bahasa lain itu.

Menggunakan apakah para pengelana dan pejiarah itu menembus dimensi dimensi lain. Alam lain dengan bahasa lain itu. Wah, absurd ya. Seabsurd saya yang masuk ke dalam bahasa. Bahasa menarik saya masuk di pusarannya. Puisi Adhy Rical menarik saya dengan kuat masuk menyatu menarikan tarian indah di dalamnya. Bahasa absurditas. Mari jangan terlalu melebar. Batasi saja absurditas yang tak terbatas itu. Batasi di dalam tubuh puisi. Puisi adalah medium bahasa absurditas. Yang merapatkan setiap elemen elemennya dengan halus dengan indah dengan padat seperti pada puisi Tinangkiu ini.

Bahasa O bahasa, para penyair dan pendendang bahasa sampaikanlah syair dan dendang pesan pesan berwasiat. Menjadi khasiat untuk kehidupan. Raga, hati, jiwa, dan pikiran semuanya menjadi sehat dan bahagia dan damai. Bahasa bisa juga sebagai obat yang manjur. Mengobati pikiran yang seolah sakit kalang dan kabut. Mental yang seolah hancur dan lebur. Jiwa yang seolah sesat tersesat. Dengan bahasa keseolahan menjadi sunyi hening dan bening. Terbukalah mata.

Dengan bahasa kata persoalan demi persoalan pikiran kita pun menuju terang dan tepat. Rayakanlah sastra. Berbahasa yang menuju ketinggian kehidupan terang dan tepat juga berbahasa yang menuruni kehidupan sehari hari yang terang dan tepat. Tinggi setinggi langit, rendah serendah bumi. Bahasa manusia, bahasa ibu kita. Aku rindu ibu, bisikanmu yang membelai lelap pulas tidurku. Bahasa mu ibu. Yang kukenal sejak aku menjeritkan tangis di pintu rahimmu ibu.

Bahasa lain pada puisi ini menampilkan cuplikan imaji misteri. Dan barangkali tubuh misteri saja tak cukup. Bahasa lain itu juga mendekap tubuh inspirasi, berpendar cahayanya menggetarkan mata inspirasi yang menatapnya secara sembunyi sembunyi. Misterius, inspiratif, keduanya sembunyi mencubit ‘ingin tahu’ tentang bahasa lain itu. ‘Ingin tahu’ yang dibahasakan sebagai kuriositas itu.

Lantas kuriositas hadir menggunakan bahasa ini, bahasa kita, bahasa indonesia. Mencoba menerjemahkan, menikmati, sekaligus mendalami tentang pesan pesan berwasiat pada puisi yang menutup rapat dan padat keindahannya. Menunggu para pencopet pendongkel kuriositas dengan lihai menemukan celah celah kecil pendar cahaya puisi yang menyeruak menarik perhatian.

Dan kebaruan kuriositas kerap menjadi pertimbangan utama yang menjadi percik percik cahaya yang menawan mata inspirasi para pembacanya. Manusia membaca alam dan semesta, manusia mengaryakan hasil bacaannya dengan medium aksara gambar suara wewangi rerasa. Manusia yang berkarya. Manusia yang belajar. Manusia yang bekerja. Manusia yang semangat. Manusia O manusia pembaharu.

Terkhususnya sastra. Yang menggunakan medium bahasa aksara yang perlu pena, kertas, juga dengan komputer dengan internet aplikasi fesbuk. Cukupkah dengan membaca dan menulis saja? Yang konon dua makhluk jawara belajar dan terpelajar. Makhluk ketiga tergetar inspirasinya setelah makhluk membaca dan makhluk menulis bergiat bekerja dengan semangat siang dan malam. Makhluk ketiga tampil dalam rupa laku. Ya, dialah makhluk melaku.

Trisula Bahasa: Membaca Menulis Melaku. Inilah bahasa manusia. Membaca Menulis Melaku. Pun setiap makhluk ini tampil dengan keistimewaan dan keeleganannya masing masing, dengan terjemahannya masing masing, dengan bahasanya masing masing. Yang seperti terlihat berbeda namun bertujuan sama. Bertujuan menuju antik unik mantik. Mengaum AUM. Trisula AUM.

Kesemuanya menyatu bersatu padu menuju tujuan masing masing dimensi keberadaan itu. Dimana kita berada, dimensi ketiga. Trisula Bahasa dengan Trisula AUM yang mencoba menerjemahkan keindahan yang tak terbandingkan yang tak terbahasakan. Ada batasan menetapkan diri melalui bahasa tetapan. Antara bahasa dan keterbatasan. Antara absurditas dan keyakinan.

Sang trisula tetap berdiri di garis batas. Memegang erat sebuah rantai tak terputuskan tak tergantikan. Rantai SALING. Keelokan keindahan akan mewarna merona mempesona ketika rantai saling menjadi semangat yang melandasi setiap langkah memasuki dimensi dan menerjemahkan dimensi yang dimasuki.

Di buku buku bersemayam keindahan. Di kitab kitab bersembunyi terjemahan keindahan yang tak terbandingkan, yang tak terbahasakan, yang Tuhan itu, sekedar mengutip pengungkapan guru kita Hudan Hidayat. Dan sementara trisula yang tak terasah akan menghasilkan percik cahaya yang melempem meredup dan lalu gelap. Di lain sisi trisula yang terasah sekeras permata akan berkilau bersinar menyinari dimensi antar dimensi dan lalu terang.

Bahasa lain pada puisi memetaforakan intuisi yang ada pada diri nya Adhy Rical serupa kelelawar malam bergelantungan di dahan-dahan gelap dan goa goa malam. Inikah puisi hasil bahasa lain yang menggunakan bahasa radar sonar kelelawar itu sahabatku Adhy Rical? Sonar frekuensi tinggi bolak balik yang menjadi alat penglihatan kelelawar terbang meliuk liuk memecah sunyi malam. Kelelawar yang mengembangkan kedua kaki depannya menjadi sayap sayap terbang dan kedua kaki belakang menjadi pencengkeram ranting ranting pohon dengan kuat. Adhy Rical masuk ke dalam kelelawar. Absurd ya. Supaya lebih asik, bahasa Adhy Rical masuk ke bahasa kelelawar. Kemampuan bahasa yang menembus antar dimensi itu. Antara dimensi manusia dengan dimensi kelelawar. Dan beginilah Adhy Rical melihat Tinangkiu, seekor kerbau betina yang di DOR!

Tiiing…seketika sonar radar bahasa kelelawar pada bahasa Adhy Rical bergetar. Menangkap penglihatan imaji. Yang menggetarkan. Lalu Adhy menggunakan bahasa Indonesia, bahasa kita sebagai terjemahan penglihatan mata inspirasi itu.

Dan
Dor!
Aku berutang nyawa kepadamu.

Larik terakhir yang menerjemahkan bahasa nyawa!!

“Tinangkiu,
kutimang sejak belibis menghitung rawa
menyapih biji bakau yang jatuh ke muara
di tepi pematang, dekat rumpun teratai
air mataku jatuh berantai”

Adalah bahasa simbol, hasil simpulan bahasa radar sonar kelelawar tentang melayangnya nyawa di ujung peluru. Nyawa kerbau pun nyawa harimau pun nyawa kelelawar pun nyawa manusia, ya nyawa itu. Nyawa nyawa itu, senyawa itu. Tinangkiu yang bernyawa. Hilangnya menyisakan utang. Utang nyawa. Dibayar dengan apa ini jenis utang? Dengan nyawa juga? Hanya nyawa lah yang tahu.

Nyawanya telah ditimang dibesarkan sejak belajar menginjak bermain keciprak air di rawa. Mengejar biji biji bakau yang berjatuhan membelai muara. Disebelahnya terdapat rerumpunan bunga teratai. Nyawa itu bermain main dengan jelada telaga, bermain main dengan rumpun wewangi teratai. Kenangan demi kenangan pada nyawa ini seketika menitikkan bebutir air mata yang jatuh saling kejar kejaran serupa buku buku rantai yang saling mengikat. Air mata kerinduan akan sebuah masa.

“Aku mengayuh perahu
karena tak punya buku
untuk membaca dosa-dosaku
dan tak menguasai ilmu keris
hanya dapur mengepul dalam gamis
maka kau, kubeli setelah menang kiu-kiu:
ada aduh di kepalaku
mengadu, berputar seperti dadu”

Bahasa sonar radar kelelawar frekuensi tinggi itu masih berlanjut. Setingginya bait puisi Adhy Rical dengan simbolnya ini. Nyawa menjelmakan dirinya sebagai Aku. Aku mengayuh perahu. Aku nya Adhy Rical tetap berjalan melanjutkan perjalanan kehidupan yang serupa perahu yang dimetaforakan dengan perahu yang bergerak perlahan diatas danau. Danau yang kadang badai kadang lembayu. Apa yang bisa dilakukan aku nya yang tak memiliki buku catatan dosa dosa. Pun aku nya tak menguasai ilmu keadilan di ujung bilah keris untuk menikam menujah dosa dosa si aku.

Bagaimana aku yang berdosa mengadili aku yang berdosa. Siapa aku. Aku hanya serupa dapur mengepul dalam gamis. Aku hanya gamis. Ini gamisku. Semoga berbau aroma harum di hadapan mu.

Dan kau, aduh aku tak tahu kau ini apa. Aku tak tahu. Aku berspekulasi hendak memenangkan kau dalam sebuah permainan kiu kiu. Oh kiu-kiu asiknya bertaruh bertaruh. Dan aduh.. Aku kalah bertaruh. Aduh aduh mengisi ruang kepalaku. Mengaduh pusing dan pening berputar putar seperti dadu. Aku tak tahan berputar dan berputar meliuk dan meliuk. Perutku muntah, tulang tulangku keropos. Kehabisan kompos tubuhku. Dan kau itu tak juga aku tahu. Kucari wajah mu di putaran dadu. Tak juga kutemukan. Aku tersesat. Tinggal aku sesunggukan teradu mengadu. Kau dimana kah kau kini. Sepenuh rindu aku setia menantimu. Segenap cinta akan kupenuhkan memenuhimu. Ya kau itu. Nyawa si aku yang tak juga mengerti siapa sih si kau itu. Nyawa juga kah kau itu? Ah bukan ah bukan. Tinangkiu, teman masa kecil aku kembali menghardik bahasa sonar radar kelelawar Adhy Rical.

Tinangkiu!
kampung dikepung moncong belatung
jejak pematang ditakar janji segantang
cukup cap jari dan centang
segala tak bisa kau tentang

Kali ini tinangkiu menjadi seorang sahabat, tempat pengungkapan perasaan. Sesuatu perasaan yang tak kunjung terselesaikan dengan baik. Hingga yang tersisa curahan dan curhatan hati. Yang menjelma dalam bait ini. Kepada sahabat aku Tinangkiu, lihatlah kampung kita kini dipenuhi cicit cucut moncong belatung belatung. Belatung yang hidupnya dari bangkai dan mayat. Dan di pematang tempat kita bermain dengan teratai pada tempo hari sudah usai. Pematang itu kini tinggal jejak. Diganti oleh janji janji yang menggantang tak lantang. Janji yang datangnya dari coblosan coblosan. Ah, dunia politik, bahasa politik, bukan bahasa nya sonar radar kelelawar. Kelelawar malam tak bisa menentang. Pengalaman yang tersembunyi yang barangkali sebuah ingatan akan cita cita dan idealisme anak negeri akan negeri yang adil sejahtera dan bahagia. Dan semua itu kini tinggal mimpi. Dan mimpi itu dicatatkan di bait bait puisi.

dor!
aku berutang nyawa padamu

Bahasa Nyawa. Adhy Rical membawaku terbang tinggi hingga ke tangga bahasa nyawa. Dan apalah yang bisa kukatakan kepadamu sahabat ku,

DOR!
kau sarangkan nyawa di tulang belulang kerangka
kan kujaga dan kurawat nyawa ini!

Semoga bermanfaat dan semoga menginspirasi bagi semuanya.

Puisi Selengkapnya.

Tinangkiu
: kerbau yang ditembak sore tadi

Tinangkiu,
kutimang sejak belibis menghitung rawa
menyapih biji bakau yang jatuh ke muara
di tepi pematang, dekat rumpun teratai
air mataku jatuh berantai

Aku mengayuh perahu
karena tak punya buku
untuk membaca dosa-dosaku
dan tak menguasai ilmu keris
hanya dapur mengepul dalam gamis
maka kau, kubeli setelah menang kiu-kiu:
ada aduh di kepalaku
mengadu, berputar seperti dadu

Tinangkiu!
kampung dikepung moncong belatung
jejak pematang ditakar janji segantang
cukup cap jari dan centang
segala tak bisa kau tentang

dor!
aku berutang nyawa padamu

Konawe, 2010
Adhy Rical

[]
Toba,11 Januari2010


Untuk Adhy Rical : Aku Padamu!

Oleh Sulaiman Sitanggang

cahaya lekuk lesung menangkap mata
kedapkedip pendar menggetarkan tatap
menggenanglah air mata
tumpah membasahi kata
meliuk menuju samudera
tanpa batas tanpa alas

di saat getar rindu bertemu nada cinta
dari semua oleh semua untuk semua
disanalah semua kata
mengukir lesung demi lesung

O lesung demi lesung
semua lesung memeluk semua gunung

Inilah dia, salah satu ukiran lesung indah dan bergoyang dari Adhy Rical…

Lesung

tanganmu yang jenaka
menyimpan lesung di pipi ibumu
nyala damar wajahmu
mewangi dupa melesat ke kelambu

keringat menetes di matamu:
dusun rimbun tak butuh topi besi
salvo, volvo, dasi, dan peci
lalu ditepuktangani pita-pita
seperti berkafan sepinggan melata

aku terbenam kail
lesung telah berganti jirat
yang dapat kau lihat kuil
hingga alismu busuk memberat

tanganmu yang jenaka
menjadi lesung di selangkangan
demi ibu yang tak bertangan

Konawe, 2010
Adhy Rical

***

Saya coba semampunya dengan bahasa dan kata yang terbata bata ya sahabatku. Pun kita dan kita saling melengkapi saling menginspirasi, pertama-tama lewat dunia bahasa. Iya kita mencintai bahasa. Semua bahasa. Bahasa Indonesia juga sebagai bahasa persatuan ragam suku budaya memudahkan penularan vitamin kesegaran untuk kesehatan hidup, kebahagiaan hidup semestinya. Semua berbahasa bukan! Semua hendak berpesan bukan! Dunia bahasa, Dunia pesan, Dunia wasiat. Berkhasiat untuk kehidupan. Minumlah bahasa, makanlah bahasa, selang seling dengan teh botol Sosro juga kopi Sidikalang, teh dari kebun teh kita, kopi dari kebun kopi kita. Dari kita untuk Dunia.

Dunia bahasa, disanalah Empu Hudan Hidayat lahir dan lalu hadir menghamparkan diri, membagikan waktu, bersama lelah dan peluh, seorang survivor muncul selalu, di awal di tengah dan di akhir. Ia mengarahkan juga kaca pembesar pada tengah senapan laras panjang miliknya. Serupa penembak jitu menembak di kala malam, dan Dor! Sebutir peluru bersarang di kepala! Kebenaran mana yang kau tembak mati? Aduh gantengnya imaji sang Imhon Tohari, juga berbakat si penembak jitu. Tertembaklah sang mati. Peluru tunduk di bidiknya, sang empu huhi yang terbuat dari nyala api pengasuhan itu. Istimewa asuhnya, sebab ia tak membawa luka bakar, hanya sekedar cubit dan colek kayu api menyalakan lilin-lilin hati menerangi semangat, cukuplah menghadirkan tawa.

Dunia bahasa melahirkan anaknya yang bening. Puisi. Puisi menghadirkan kedirian, identitas, dan pemaknaan. Serupa cermin bening. Wajah kotor tentulah terpantul muka jorok. Di cermin itu. Wajah cantik tentulah memantul wajah cantik nan indah juga ganteng, di cermin itu. Di Puisi, salah satu cermin semesta. Asiknya masuk di rumah cermin… Segala sudut persepektif bermain main memantulkan segala bentuk dan warna. Pun di di lensa dan optik fisika, pantulan benda pada cermin hinggadan tak hingga. Lagi-lagi hanya soalan persepektif. Paradigma kata filsuf. Cakrawala pemikiran kata jurnalis.

Mari tengoklah Puisi LESUNG hasil bidikan peluru kata dari senapan Adhy Rical yang meninggalkan lubang dan lesung di sana sini. Lewatlah gajah menembus lubang, sekecil jarum ini. Disanalah kerajaan yang menebar benih bahasa sebagai kepahaman yang hakiki yang abadi yang sahaja nan sejati. Menarik bukan, perumpaan itu, pada kitab itu dan orang itu dan aha penyair tulisan kitab itu. Mari kita tengok lesung orang ini dulu saja, sahabat kita dengan lesung pipit mempesona.

Bait I

“tanganmu yang jenaka
menyimpan lesung di pipi ibumu
nyala damar wajahmu
mewangi dupa melesat ke kelambu”

Hanya yang jenaka, menggurat senyum yang menghasilkan lesung di pipi ibu. Ibu jangan menangis, aku bermain untukmu yah! Ibu suka anakmu kan, kucolek pipimu yah ibu, aduh romantisnya…

Jenaka sebagai kata kunci kehidupan, seorang anak atau kanak. Sifat kanak dan anak tentu saja ada pada setiap insan. Saat berhadapan dengan sang ibu dimanakah jenaka, kini yang kerap menghilang dari insan? Yang ada akan ada kembali. Yang jenaka akan jenaka kembali. Anak akan berpeluk mesra dengan ibu kembali. Insan akan insan kembali.

Dimana jenaka hadir mewarnai hari? Di tangan. Di kerja tangan-tangan insan. Kerja Jenaka mewarnai hari, hati riang dan gembira. Menyalalah damar yang dian yang pelita sang wajah. Wajah yang tersembunyi, tersimpan di kutub sepi nan dingin nan sunyi. Bening dan hening. Denting bergeming jelas menyentuh getar. Getar yang satu menyentuh getar yang lain… Bergetar kita bersuara kita bernyanyi kita berteriak kita, hanya persoalan cara dan metode. Suara kita bergetar sama.

Getar getar yang beranjak serupa asap dupa terbakar melayang terbang memeluk ruang. Langsung ke langit? Di kelambu dululah. Kelambu di rumah-rumah kita. Getarkan rumah rumah kita terlebih dulu. Kelak yah, semua rumah bergetar, langit pun goyah. Semua rumah Indonesia bergetar, bersuara dan langit pun rebah dan luluh. Suara rakyat suara Tuhan, Vox populi Vox Dei, asiknya getar bahasa ini, getar satu titik menemukan titik lainnya. Tar…tar…tar... Getarin kita-kita dong kang Adhy Rical… Getarmu melecutkan lesung di pipi… Hehehe ini lesung pipi, aku ingin menciummu, sekali saja.

“keringat menetes di matamu:
dusun rimbun tak butuh topi besi
salvo, volvo, dasi, dan peci
lalu ditepuktangani pita-pita
seperti berkafan sepinggan melata”

Aduh, Adhy Rical, jenaka tak datang sendiri. Ia berpasangan sedih. Bait ini sedih. Lesung ini tak hanya mencerukkan senyum di pipi. Lesung ini juga bisa melibas curam robek di hati. Jurang gelap di jantung. Jantung-jantung dusun yang tak lagi rimbun yang miskin ditimpa kemiskinan dan kebodohan dan ketidakadilan. Musuh bebuyutan sejak kakek buyut terhanyut di laut. Kemiskinan hasil buah tangan si topi besi berkuda salvo dan volvo, disertanya dasi dan peci melambai-lambai membentuk pita-pita berwarna warni. Menghardik memaksa sikap patuh dan tunduk bertekuk lutut pada kuasa pengendara yang berkuasa.

Tepuk tangan riuh di ujung moncong bedil menancap lesung di punggung anak dan nenek. Air mata kering dan mengeringlah mata air. Keringat mengambil alih menjadi dalih tak terbantahkan. Membasahi mata, pedih perih sekujur rasa. Kedip-kedip mata menggeliat serupa kematian berbungkus putih kafan.

Senapan Adhy Rical menembak mati kematian. Dengan peluru kata.

“aku terbenam kail
lesung telah berganti jirat
yang dapat kau lihat kuil
hingga alismu busuk memberat”

Dan lihatlah aku, pengecut! Busuk! Aku terpancing mata kail. Umpan yang melenakan. Barangkali bunyi perut keroncongan sudah menjadi pembunuh berdarah dingin memutus jalinan usus. Pancing berumpan bangkai dan mayat membusuk pun kulahap dan kulahap lagi dan lagi, dengan sadar…Arghh… Betapa tak berdayanya aku. Aku ingin mati.

Ah…lesung ku kemaren, berganti kubur berhantu, gentayangan. Aku terduduk menatap liang tanah menganga, kuambil ujung helai kain kafan, putihnya kugunakan membungkus diri. Terjerembab aku jatuh di dasar liang kubur. Duhai imam-imam pembaca kitab-kitab, tancapkan batu nisan tepat di kepalaku. Tujahkan saja kayu salib menembus jantungku. Dimana kau mati, aku bosan hidup. Di ujung sana hanya terlihat kuil, bau apek dan lapuk. Rambut alisku pupus dan berkerut dimakan busuk. Berat, hidup ini berat. Barangkali mati adalah jalan paling ringan. Dimana kau ringan, terbangkan aku ke langit ke tujuh, menyambangi bidadari-bidadari bermandi mandi di anak anak sungai. Ingin kuraba ranum-ranum molek kecantikanmu O bidadari, berselendang mentari berbusana rembulan. Mabukkan aku O sang ringan, seringan kapas mengelak dengan genit dari hembusan angin.

“tanganmu yang jenaka
menjadi lesung di selangkangan
demi ibu yang tak bertangan”

Kubur terbelah, di dalamnya kepala pecah, isi kepala bertebaran menjadi bercak bercak mengering yang mengotori dinding perut bumi. Hati membusuk meleleh, aroma busuk tak mampu merayu menggoda gagak hitam. Malah mengusir kicau maut sang gagak. Kepak sayapnya terkekeh menolak sebongkah bangkai menggeletak.

Dan tanganmu…
tangan siapa ini…
menggelitik pinggangku,
membelai genit di daun telingaku,
mengusap dengan halus jenjang leherku,
ah dengan sangat romantis dan manis,
lentik jemarimu menyusur dadaku
dengan menjejakkan kelembutan tiada terkira,
betapa jenaka nya engkau sang pemilik tangan.
Kubur kini serupa surga baru bagiku.

Duhai engkau si pemilik tangan jenaka
dengan jenaka mencipta lesung di selangkangan
lesung yang menyempurnakan segala lekuk
selangkangan yang melambangkan simbol percintaan
cinta penyatuan dua insani menyatukan jemari pikiran hati dan jiwa

Aha..sisa persetubuhan abadi yang kemaren,
kupersembahkan sepenuh abdi
kepada ibu yang tak bertangan..
ibu, aku padamu!

[]
Balige, 09 Januari 2010


%d blogger menyukai ini: