Tag Archives: dunia

[Cerpen] Duniaku

Oleh Fanny J. Poyk

 

Duniaku adalah bayang semu yang tercipta dalam wujud imajinasi dan harapan. Aku berharap ada sebait puisi indah muncul dari sesosok mahluk yang bisa mencintaiku tanpa menoleh ke belakang, tanpa meneliti dengan cermat segala hal dalam lekuk tubuhku, dalam benak akal sehatku, dalam hati dan perasaanku.

… Aku adalah aku, mahluk Tuhan yang patut dicintai dan mencintai. Aku tetaplah aku meski semua fatamorgana telah tercipta untukku. Aku akan selalu menghapus air mata yang mengambang lemah di kedua pipiku. Aku akan selalu berkata, oh derita…pergi…pergilah kau dari sisiku.

Itulah aku. Dan aku tetap seperti aku apa adanya. Aku menerima cibiran dan pandang sinis dengan senyum getir. Karena sesungguhnya aku adalah sosok yang terus berjalan dalam kegetiran itu sendiri. Aku menerima semuanya dengan pasrah, sepasrah wujudku yang dirongrong beragam virus ganas yang perlahan-lahan melemahkan seluruh sendi dan sel-sel di tubuhku. Aku sadar sakratul maut berjalan perlahan mengikis hari-hari yang setia menemaniku. Aku sadar, aku mengutuk dan menyesali diriku, mengapa…mengapa semua ini menimpaku. Virus-virus itu kini entah telah menyebar kemana, karena sebelum aku tahu dia bersemayam di tubuhku, aku telah mengencani banyak lelaki.

Aku tahu dosaku terus menumpuk dan menumpuk. Akan tetapi…aku tak kuasa untuk merintanginya. Dan ketika lelaki bernama Pram itu datang dengan cintanya yang tulus, aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuatnya menderita. Dia adalah lelaki terkasih yang membuatku berharga sebagai perempuan, sebagai manusia, sebagai mahluk Tuhan yang ingin mencintai dan dicintai. Pram…mengenang nama itu, air mata membasahi pipiku. Dia datang dengan setumpuk cinta untukku.

“Aku tidak peduli siapa dirimu, cinta telah menggiringku kepadamu…” katanya jujur sekaligus naif.

Aku meradang. Ingin kutolak semua keindahan yang telah ia berikan. Namun aku tak kuasa. Tatkala ia melamar dan memintaku untuk menemui orangtuanya, batinku menangis.

“Apa yang membuatmu yakin sehingga kau begitu ingin menjadikanku isterimu, Pram?” tanyaku.

“Kamu cantik, kamu mencintaiku, dan…kamu baik,” katanya tulus.

Aku terdiam. Kucari makna di balik kalimat pujiannya. Apakah lelaki ini bodoh? Pikirku. Matanya yang polos tidak menyiratkan beragam dusta, cibiran atau jebakan. Aku mulai menyukai apa yang ada pada dirinya. Aku merasa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang benar-benar manusiawi. Dia berbeda dengan puluhan laki-laki yang pernah kukencani.

“Aku sungguh mencintaimu. Kita akan hidup bahagia,” katanya meyakinkan.

Aku tertawa getir. Pram… Aku tidak berani berjanji. Aku hanya berani menikmati saat-saat indah yang kauberikan, meski hanya untuk sesaat saja. Aku tahu kau meradang tatkala kutolak lamaranmu, kau berlalu bagai singa yang terluka. Kenyataan itu memang membuatku merintih pilu.

Di kamarku, aku merenungi takdirku. Kulihat diriku di depan kaca. Inikah aku? Dalam wajah cantikku tersembul sosok asing yang selalu kubenci. Aku selalu berusaha memusnahkan sosok tersebut dalam bentuk apapun. Namun, beratus bahkan beribu kali kulakukan, dia tetap kembali dan kembali lagi.

Aku adalah aku, wajahku cantik. Hidungku bangir. Bibirku seksi. Mataku indah, rambutku hitam, lebat dan panjang bergelombang. Lekuk tubuhku sempurna. Semuanya indah, seindah sosok wanita yang bersemayam di jiwa dan imajinasiku. Aku adalah aku, aku tak pernah minta dilahirkan seperti adanya aku saat ini. Aku tak ingin memanipulasi raga seperti yang kulakukan saat ini.

***

Malam ini, aku kembali melanglangbuana. Melenggang di antara remangnya Jakarta. Kupamerkan lekuk indah moleknya tubuhku pada mobil-mobil mewah yang lewat. Aku tertawa, aku melirik genit menunggu lelaki hidung belang turun dari mobilnya dan membawaku pergi. Kucari mangsa baru dalam hiruk-pikuk dan pekatnya udara malam Jakarta. Kubasuh dukaku untuk sejenak membaur dalam hingar bingarnya euforia sesaat yang kini kurasa.

“Selamat malam, sayang. Siapa namamu?” tanya seorang lelaki dari balik kaca mobil mewahnya.

“Namaku Mona.”

“Ayo masuk!”

Kubuka pintu mobil sedan mewah itu dengan elegan. Perjalanan panjang seperti yang sudah pernah kulakukan kembali kulalui.

“Benar namamu, Mona?” tanya lelaki itu.

“Tergantung!”

“Besok namamu apa?”

“Belum bisa kukatakan sekarang.”

Tangan lelaki itu mulai bergentayangan. Kutepis perlahan jemarinya yang kasar. Namun, semakin aku menolak, ia semakin beringas.

“Sudahlah, jangan sok suci. Kamu sama seperti yang lainnya.” Katanya sambil menarik bahuku kasar.

Aku diam, kubiarkan ia berbuat sesukanya. Malam jahanam seperti malam-malam yang telah berlalu kembali kujalani. Kini aku menjadi Mona, esok entah aku akan menjadi siapa lagi aku tak tahu, karena aku belum merancangnya. Di kamarku yang kumuh, kubuka kembali diaryku. Kutulis dengan jelas apa yang kurasakan. Aku kembali menangis. Di sana, di balik kata-kata indah aku sadar, aku bukanlah aku.

Kujalani hari-hariku dengan beragam kejadian, dengan predikat baru yang mengukuhkan diriku menjadi seperti yang kuinginkan. Remangnya malam adalah kehidupanku. Saat seorang pria kaya bersedia memeliharaku dengan imbalan gajih bulanan, aku menerimanya dengan senang hati. Saat virus penyakit mematikan itu datang menghampiriku, aku kembali berteriak dan bertanya pada siapa saja yang mendengarkan, mengapa…mengapa ini menimpaku?

Hidupku terus bergulir mengikuti berlalunya waktu. Kadang aku ingin mengubah anomali itu, menjadi manusia normal, bekerja dengan aman di sebuah perusahaan yang biasa-biasa saja, menikah dan memiliki anak, memiliki cucu yang bisa kuajak berkeliling kota, namun semuanya hanya mengendap dalam keinginan sesaat. Aku kembali berhadapan dengan jeritan jiwa yang terus meletup-letup dan terus meradang mempertanyakan, mengapa… mengapa… aku seperti ini?

Tuhan, aku berdiri menatapMu di antara linangan air mataku. Seandainya saja aku bisa meminta, aku ingin merubah waktu, aku ingin dilahirkan seperti manusia pada umumnya. Itu adalah keinginanku yang terdalam. Tapi aku tetaplah aku, aku selalu meronta dan mempertanyakan ketidakadilan ini.

Kadang aku bernyanyi dari satu bis kota ke bisa kota yang lain. Kadang, aku terjerembab dalam pelukan lelaki ke lelaki lain. Meski hampa, semua kujalani dengan ihklas. Aku tahu ini salah, tapi aku tetap manusia, manusia yang butuh cinta. Aku kerap menertawai diriku. Pada cermin aku bertanya, mengapa…mengapa pada raga ini tersimpan status yang berbeda?

“Terimalah dirimu seperti kau apa adanya,” seolah cermin itu menjawab kegundahanku.

“Harusnya bukan aku yang berada di dalam raga ini!” bentakku kesal.

“Kalau begitu, lakukanlah apa yang hendak kau lakukan!”

“Percuma. Aku telah melakukan semuanya. Tapi semua orang menganggapku aneh!”

Aku yang berada di dalam cermin, menatap wajahku sendiri dengan bingung.

Kucoba untuk kembali ke wujud asal sebagaimana aku dilahirkan. Aku bertekad untuk memusnahkan semua kenangan masa kecilku. Di dalam nama itu aku telah menjalani hari-hari kelamku yang tak pernah berwarna putih cerah. Di dalam nama itu hidupku abu-abu.

Di dalam nama itu sosok wanita tersembul bagai dewi malam yang selalu menebar pesona, mencari mangsa dalam remangnya Jakarta. Di dalam nama itu aku berusaha mengejawantah menjadi wanita jelita yang berhak memperoleh cinta. Di dalam itu pula terletak alasan mengapa aku menolak pinangan beberapa lelaki yang mabuk kepayang padaku. Di dalam nama itu kini bersemayam penyakit HIV yang kuperoleh dari beragam lelaki yang mengencaniku. Di dalam nama itu aku telah berbuat banyak kesalahan. Dengan nama itu pula kelak aku dimakamkan.

Inilah aku. Di balik jeruji besi ini kuterima takdirku dengan diam. Aku tak mau membela atau dibela. Aku tetaplah aku, manusia yang terus meradang, yang penuh dosa, yang selalu menangis dan memohon perlindungan pada siapa saja yang mau sejenak diam tak mencela atau menertawakan, pada siapa saja yang mau mendengarkan kisahku. Di dalam nama asliku, di sanalah bersemayam jiwa kewanitaanku, di dalam nama itu telah kukuburkan beberapa lelaki yang pernah menjadi pacar-pacarku. Maka sebelum nyawaku melayang menuju awan gemawan, perkenalkan, namaku Ryantono! ***

Depok, Maret 2009

Iklan

Assalamu’alaikum Ibu

Oleh Ade Anita

1.

Setiap kali melintas di jalan Casablanca, ada sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan di dalam kendaraan. Yaitu menengok sejenak ke arah pekuburan dan mengirimkan sebuah salam untuk ibuku. Ya. Itu rumah ibuku sekarang sejak tahun 2003, tepatnya 18 April 2003. Beliau meninggal dengan tenang setelah terkena serangan jantung.

“Assalamu’alaikum Ya Ahli Kubur, Assalamu’alaikum Ibu. Semoga ibu selalu mendapat rahmat dari Allah yang memang tiada pernah habis dimana pun kita berada.”

2.

Ibuku seorang perempuan yang unik. Teman-temanku banyak yang menyukai beliau karena beliau senang bergurau, senang memasak dan menjamu orang, serta selalu punya seribu satu cerita. Entah itu cerita tentang masa lalunya yang seru atau cerita tentang teman-temannya yang bermacam-macam karakternya. (Hmm…mungkin aku belajar dari beliau dan semua cerita-ceritanya dan mencoba untuk mengumpulkannya satu persatu dalam tulisan). Tidak heran hal pertama yang sering ditanyakan oleh teman-temanku jika bertemu denganku adalah, “Gimana kabar nyokap lo?”

3.

Almarhumah ibuku memang selalu ceria dan senang bercanda. Tapi bukan berarti dia tidak pernah menangis atau bersedih. Bersedih, tentu saja ibuku pernah bersedih (atau mungkin sering hanya saja aku tidak tahu? Entahlah). Air mata sering aku lihat meluncur di keduabelah pipinya. Tapi, khusus untuk kasus air mata ini, tidak bisa dikatakan bahwa air mata ini meluncur karena beliau sedang bersedih. Karena, jika sedang terlalu bergembira pun, ibuku sering meneteskan air mata. Termasuk ketika sedang terharu.

Setidaknya ada tiga peristiwa dimana ibu meneteskan air matanya, khusus untukku (ya, air mata ini spesial hanya untukku, tidak untuk yang lain).

Peristiwa itu adalah, ketika aku sedang tertidur di kamar pembantuku. Tiba-tiba saja, ada setetes air yang menetes tepat menimpa wajahku. Bukan hanya setetes atau dua tetes, tapi banyak. Mengganggu tidur siangku, dan membuatku terjaga bangun, tapi lalu mengerang.

Aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar ketika ibu pergi dengan teman-temannya untuk ikut kegiatan PKK di Kecamatan. Ibu memang seorang aktifis pemberdayaan keluarga dan masyarakat di Kelurahan tempatku tinggal. Dia sering bepergian untuk membantu keluarga tidak mampu, anak-anak dhuafa dengan teman-teman PKK-nya yang bekerja sama dengan Kementrian Sosial kala itu (era tahun 70-an). Siang ketika ibu sedang ikut kegiatan sosial tersebut, aku dan adikku bermain pimpong di halaman garasi rumah kami. Aku dan adikku tidak bisa main pimpong tapi seperti halnya kanak-kanak yang lain, kami tetap memainkan permainan pimpong tersebut dengan cara kami sendiri. Kebetulan, aku berkali-kali menang dan tentu saja kebalikannya, adikku berkali-kali kalah. Kondisi yang menyebalkan dan menyesakkan itu adalah kondisi kalah. Dan setelah mengalami kekalahan berkali-kali, kemarahan adikku pun mulai muncul. Terlebih mungkin setelah melihat kepongahanku karena kembali meraih kemenangan. Akhirnya, karena kesal, adikku melempar raket pimpongnya ke arahku. Mungkin dia tidak sengaja karena sudah terlalu kesal, dan melemparnya dengan main-main. Tapi, takdir rupanya berbicara lain. Raket itu terlempar begitu saja dan langsung ujung kayu bulatnya menimpuk kepalaku.

ZING…

Aku langsung menghentikan tawa kemenanganku dan langsung memelototi adikku. “Kenapa sih? Sakit tahu.” Sementara adikku hanya menatapku dengan bengong dan terkejut. Tidak berkedip.

“Kenapa?”

Adikku masih terdiam menatapku dengan terpana. Spontan aku meraba ujung pelipisku. Ujung jemariku terasa basah. Lalu aku bawa ujung jemari itu ke depan wajahku hingga aku bisa melihat ternyata ujung jemariku sudah dipenuhi oleh lumuran darah. Panik, aku melihat ke arah jendela kaca dan langsung melihat bahwa saat itu, ternyata wajahku sudah dilumuri oleh darah. Barulah aku menangis kencang hingga semua orang datang dengan panik dan memberi pertolongan. Setelah lukaku kering, aku yang masih marah pada adikku, menolak untuk bertemu dengannya dan lebih memilih untuk tidur di kamar pembantu. Ketika sedang terlelap dalam tidurku itulah ibuku datang dan langsung mengelus pelipisku yang terluka bocor tersebut sambil meneteskan air matanya. “Maafin ibu ya nak, ibu sedang pergi ketika kepalamu bocor.” Sejak itu, ibu mengurangi semua kegiatan sosialnya dan lebih banyak berdiam di rumah saja.

Peristiwa kedua ibu meneteskan air matanya khusus untukku adalah, ketika suatu pagi ibu dan ayah memanggil-manggil namaku dengan suara yang penuh gegap gempita. “Adeeeeeeeeeee…adeeeeeeeeeee.”

Aku sedang tertidur. Pagi-pagi kedua orang tua kalian memanggil kalian, apa yang langsung terlintas di kepala kalian? Ya. Benar. Aku langsung merasa bahwa mereka memanggilku untuk menyuruhku melakukan sebuah pekerjaan. Padahal, aku sedang bergelung dengan selimutku menikmati sisa pagi yang dingin. Selimut aku tinggikan, menutupi seluruh tubuh dan kepala, berharap tidak terdengar lagi panggilan itu.

“ADEEEE…”

Duh. Apa sih nih? Nggak bisa melihat orang senang sebentar. Ini kan hari minggu!

Akhirnya dengan merenggut kesal, aku melempar selimutku dan turun ke bawah (rumahku memang bertingkat). Di lantai bawah, kulihat ayah dan ibu sedang duduk berdampingan sambil tersenyum-senyum ke arahku. Koran bergelimpangan di depan mereka, lembar per lembar.

“Ade, kamu diterima di UI.”

Kantukku langsung menguap hilang tanpa bekas.

Lalu dimulailah hari pendaftaran dimulai. Setelah selesai mendaftar, ayah dan ibu mengajakku berkeliling kampus. Jika saja mungkin, pasti mereka ingin naik ke atas kap mobil dan berteriak pada semua orang “Hei, lihat, anak saya akan bersekolah disini.”… aku tahu itu akan terjadi jika saja kami naik mobil dengan sun roof di atasnya. Untungnya mobil kami adalah mobil kijang biasa.

Setelah puas berkeliling kampus, kami makan di tempat jajan mahasiswa. “Wah, berarti nanti kamu bakalan makan di sini ya De?” Aku mesem-mesem salah tingkah. Di sekelilingku ada banyak mahasiswa dan mereka menatap kami sambil tersenyum (karena kami datang dengan anggota keluarga yang lengkap!!!).

Lalu, ketika aku izin ke kamar mandi seorang diri, ibu tiba-tiba menawarkan diri untuk ikut menemani. Di kamar mandi itulah, ibu tiba-tiba memelukku erat dan air matanya aku rasa menempel di leherku. Basah.

“Ade, terima kasih ya karena kamu sudah berusaha keras untuk bisa masuk di UI. Ibu bangga banget sama kamu. Ibu tahu pasti, kamu usaha keras banget untuk prestasi ini. Pasti berat apa yang sudah kamu lakukan selama ini. Ibu inget, guru-guru SD kamu dulu, yang pernah bilang bahwa kamu adalah anak yang bodoh dan tidak sepantasnya bersekolah tinggi-tinggi. Tapi, ternyata kamu hebat. Kamu bisa menepis semua cemooh orang itu. Terima kasih ya nak.”

Aku langsung ikut menangis juga.

Aku memang punya kelainan sejak kecil. Yaitu, orientasi kiri kananku kacau balau (juga ditambah dengan sakit asma yang parah, hingga setiap tahun pasti ada waktu dua sampai tiga kali harus opname). Tapi terutama orientasi kiri kananku itu yang terasa mengganggu. Karena, itu menyebabkan aku mengalami kesulitan untuk membaca, menulis dan otomatis juga mengenal angka. Aku tidak bisa membedakan huruf b – d, p – g, h – 4, s – z, a – e, bahkan juga u – n. Lebih parah lagi, aku sering sulit terbalik-balik menulis akhiran ng, ny (selalu ditulis gn, yn). Kepandaianku hanyalah berhitung sampai dengan 10. Lebih dari sepuluh, selalu terbalik-balik dan itu berakibat parah. Mau nulis 12 malah menulis 21…dan seterusnya.

Raportku terbakar. Seluruh nilainya merah yang parah. Yang tersisa biru hanya ada dua pelajaran, yaitu pelajaran kesenian (karena memang tidak ada teori, yang ada hanyalah menyanyi dan menggambar saja), serta pelajaran agama Islam. Tapi inipun setelah guru agamamu memanggil ibuku secara khusus hanya untuk memberi nasehat, “Bu, anak ibu parah banget. Sepertinya dia bukan duduk di sekolah ini dan bercampur dengan anak-anak yang lain. Seharusnya, nilai agamanya merah, tapi, peraturan pemerintah tidak membolehkan seorang anak mendapat merah di pelajaran agamanya kecuali kalau keluarga ibu memang seorang keluarga komunis.”

Sejak itu, ibu langsung memanggil seorang guru les khusus. Guru les inilah yang mengajari aku membaca, menulis dan berhitung. Cara mengajarnya amat kreatif. Namanya Tante Pop, seorang guru dari suku Ambon yang punya anjing besar bernama Leksi (hehehe, jujur, aku sebenarnya takut anjing, tapi karena tidak ada pilihan, terpaksa aku les di rumahnya dengan kedua kaki terlipat di atas kursi belajar).

“Ingat ya Ade. Huruf ‘b’ itu, perutnya sedang hamil; sedangkah huruf ‘d’ adalah huruf dengan pantat yang besarrrrrrrrr.” Hahahah…kreatif kan? Tante Pop ini juga yang memberi saran padaku untuk meletakkan sesuatu di tangan kananku agar aku tahu, bahwa inilah tangan kananku dan inilah sebelah kanan. Itulah sebabnya, hingga sekarang, aku selalu mengenakan jam tangan di sebelah kanan dan selalu ada sebuah cincin yang melingkar di jemari tangan kananku. Cincin ini tidak pernah lepas. Ketika cincin ini kekecilan, suamiku membelikanku cincin baru yang muat. Cincin di jemari tangan kananku itu sebuah keharusan untukku.

Itu sebabnya ibu langsung memeluk dan menangis penuh haru di kamar mandi FISIP UI. Dan aku, juga ikut menangis karenanya.

Lalu, yang terakhir, ibu menangis ketika aku akhirnya wisuda sarjana. Hanya ada satu perkataannnya yang aku ingat seumur hidupku, “Terima kasih ya De. Kamu sudah berhasil jadi sarjana. Setidaknya, ibu tidak terlalu malu pada keluarga kesar kita, karena ternyata meski anak ibu kebanyakan perempuan semua, tapi bukan berarti tidak bisa bercahaya seperti keluarga yang lain.”

(Oh, bunda. Aku tahu betapa berat tekanan dari sebuah keluarga dengan patron Patrilineal yang kental yang melingkupimu. Memiliki anak laki-laki itu adalah sebuah keharusan. Kalau perlu, seorang suami boleh menikah lagi demi mendapatkan seorang anak laki-laki. Alhamdulilah, anak ke empat ibuku seorang laki-laki dan hanya dialah anak laki-laki satu-satunya di keluargaku).

4.

Hidup memang keras dan tidak bisa diprediksi kemauannya. Tapi, ibuku selalu mengajarkannya untuk mensiasati hidup dengan cara yang cerdik. Hidup sering kejam dan kadang terasa tiada ampun. Tapi, ibuku selalu mengajarkan sebuah semangat untuk senantiasa bangkit ketika aku terjatuh. Hidup itu tidak selamanya buruk, ada bagian yang indahnya. Dan ibuku mengajarkan aku untuk selalu gembira dan ceria menghadapinya dengan canda dan tawa.

“Ibu…sedang apa ibu di sini?”

Akhirnya, setelah tiga tahun ibuku meninggal, aku dapat bertemu dengan ibuku kembali. Tapi, itu hanya dalam mimpi. Dalam mimpi tersebut, aku sedang mengenakan ihram dan sedang mengerjakan ibadah haji. Ibu aku temui di samping Ka’bah, juga sedang mengenakan pakaian ihram. Duduk bersimpuh sambil menyenderkan punggungnya yang gemuk di dinding Ka’bah.

“Ibu menunggumu, nak.”

Perempuan itu langsung aku peluk erat. Rindu ini sudah memuncak.

“Ade kangen sama ibu. Ade lupa bilang terima kasih dulu.” Sebuah rombongan orang-orang berpakaian ihram datang berbondong-bondong. Mengacaukan pelukanku dan lalu menyeret ibuku pergi. Aku terpisah. Tapi aku masih sempat melihat ibuku tersenyum dengan langkah tenangnya yang mengeililingi Ka’bah. Dan aku pun terbangun.

5.

Ya Allah, aku rindu kedua orang tuaku. Titip salamku untuk mereka ya. Jaga mereka, sayangi mereka, seperti mereka menjaga dan menyayangi aku ketika uku masih kecil.”

Itu doaku kini karena kedua orang tuaku memang telah tiada.

Itu sebabnya, setiap kali melewati pekuburan Menteng Pulo, aku selalu menoleh ke pekuburan dan menatap sebuah titik nisan di sana, sekedar untuk mengucapkan, “Assalamu’alaikum Ibu.”

[]

Catatan kaki penulis:

Dalam kerinduan dan harapan semoga ibu dan ayahku selalu disayang Allah. Selamat hari ibu untuk semua ibu di seluruh dunia.


Euforia Masa Lalu

Oleh Enny Asrinawati

Air itu mengalir perlahan, seperti gerimis
Seperti waktu yang membawaku sampai di sini
Hingga aku tak sanggup menoleh lagi ke belakang
Melihat jejakku yang samar

Mungkin sakit dalam otakku
Menjadikanku bebal berkepanjangan
Mengabaikan suara-suara bising yang menuntun jalanku
Oh…, Aku hanya mendengar suaraMu Tuhan
Yang Kau bisikkan dalam naluriku
Kata hati, orang bilang
Tapi salahkah

Aku tenggelam dalam ego,
Mendengarku bicara sendiri saja
Menulikan diriku dari kata-kata orang yang sok tahu
Yang benar seharusnya
Yang membukakan jalanku seharusnya
Aku tenggelam dalam ego
Mendengarkanku bicara sendiri saja
Menyakiti mereka yang mencintaiku
Mengabaikan waktu

Aku hanya tidak ingin pergi dari mimpi mimpi
Mimpi-mimpi masa kecil ku
Mimpi yang kubangun dengan teman sepermainanku
Mimpi yang usang dimakan usiaku
Aku hanya ingin kembali
Bermimpi mengharap uang jatuh dari langit
Dari pesawat terbang yang melintas di atas kepala-kepala kami yang lugu
Mimpi menjadi pemain film dengan penuh bedak dan eyeshadaw yang tebal
Mimpi menjadi guru dalam permainan guru dan murid
Bahkan mimpi menjadi ibu seperti permainan ibu-ibuan
Yang seharusnya saat ini sudah tanpa bermimpi lagi aku pun menjadi ibu
Tapi mimpi itu yang aku rindu

Aku tak ingin kehilangan mimpi-mimpi
Tak ingin berhenti bermimpi meski mati pun
Namun dunia sudah tak mau tau itu
Waktu pun tak lagi berpihak pada usiaku

Tuhan, haruskah memang begitu
Usiaku tlah memakan mimpi-mimpi masa kecilku …

Surabaya, 020910

[]


Kenangan Itu Masih Bernama Masa Lalu

Oleh Dwi Klik Santosa

jangan, jangan kau pandangi aku seperti itu

nanti aku terbakar

jangan, jangan kau bacakan syair itu

nanti aku lapar

* *

kau tidak boleh tertawa seperti itu

nanti hilang riangmu

kau tidak boleh menangis seperti itu

nanti hilang tampanmu

* *

manis, ya, manis, begitu

engkau memang tidak mirip abimanyu

tapi kamu lucu

* *

separuh waktu aku mencari

candamu, tawamu, keluhmu, tangismu

kutemukan di depan jongkokku

engkau mengendap sebagai abu

* * *

* * *

* * *

naomi vivian ning almarhumah

supel, renyah, cerdas dan baik

“ceritakan kepadaku soal dunia sophi”

begitu, masih kuingat betul kata-katanya

pada saat kami bertemu di boulevard kampus biru

pada suatu gerimis, sepulang kegiatan

naomi memang pernah membelikanku sebuah buku

“dunia sophi” judulnya

satu hal, yang patut kukenangkan

dari banyak kenangan yang pernah ada

sebab itu hadiah kado ultahku

sejak sebulan ia mengenalku, dan aku mengenalnya

bahkan, satu-satunya kado ultah yang pernah kuterima

selama aku terlahir hidup sebagai anak manusia

“dunia sophi, seperti duniaku sendiri”

begitu ceritaku

lalu bola mata itu mengerjap

hanya saja waktu itu aku belum berani menatapnya lama-lama

dan selalu terlambat

selalu terlambat … untuk ukuran hendak mengungkapkan sesuatu

sebab Tuhan keburu memanggilnya

membawanya pergi

jauh … jauh .. jauh dari tempat

dan jarak yang tidak pernah kumengerti angka dan nilainya

naomi, jika nanti kita dapat berjumpa lagi

masih maukah kaudengar ceritaku soal dunia sophi?

[]


Tasbihku Menari Dipelantara Waktumu

Oleh Afrilia Utami

1/

Kerdam Jam demi jam taklah diam

Diri hari-hari yang tiada henti berlari

Baju minggu-minggu seperti tak mau menunggu

Kepalan Bulan-bulan berjalan tiada pelan-pelan

Tahun tahun menuntun kita bersyahdu

Menuju kapan kita kembali pikun

Lalu rabun culun

Meramu waktu yang bisu

Namun bersama buku-buku umur

Catatan tentang gumpalan batu-batu rindu

Rinduku, rindumu, rindu kita tuk bertemu

Dengan Allah Yang Maha Satu!

2/

Di bulan Ramadhan ini,

Bukankah telah hamba sembelih

Binatang cabang kebodohan

Tenggelam terpejam dalam

memaknai kekal cintaMu!?

Hingga hamba

Rindukan CintaMu yang bermakna?

3/

Duhai pencipta dan pemilik rasa..!

Lepaskanlah hamba dari ‘raksasa rasa’ labirin ingin

Memperkosa dunia yang merandum perihal panas yang dingin

Bukankah hamba telah mencoba tanggalkan

Busana srigala

tentang angkara murka?

Mengantongi jeritan ilahi

Melafalkan ayat-ayat pedoman diri

Sebelum lari dari mati jiwa menimbun hati

Rasa inginku menemuiMu mengejar

Tertinggal gagalnya diri

[]

11 Agutus 2010



Sketsa: Bangga Garuda Mengibarkan Indonesia

Oleh Iwan Piliang

Pada 7 Juli 2010, Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di detik.com, akan peristiwa tak nyamannya naik Garuda. Ia dari Menado transit di Makassar, lalu oleh seorang pramugari meminta kursinya diserahkan ke isteri seorang pilot, sementara ia harus menunggu 50 menit lagi, benarkah demikian ceritanya? Mengapa Garuda berusaha mandiri di tengah gempuran bisnis penerbangan murah lokal maupun dunia tak menjadi kebanggaan, termasuk oleh pemimpin negara? Kini negara sibuk mengurus pembelian pesawat kenegaraan. Bukankah dengan dipakai Presiden, memberi nilai tambah citra bagi Garuda Indonesia? Mungkin Presiden kudu belajar dulu ke David Ogilvie, bangga memakai produk kliennya sendiri selain membuatkan iklannya.

PEMBACA rutin Sketsa saya tentu masih ingat, ihwal kasus Garuda tak mendapat pasokan Avtur di Bandara Timika, awal tahun ini, karena tidak membawa direksi PT Freeport Indonesia, yang jadwal penerbangannya, memang di jam berikutnya, sementara Garuda yang meningggalkan sang direksi yang mulia PT Freeport Indonesia, sudah kedodoran terlambat dari jadwal.

Premis saya kala itu, keangkuhan laku direksi PT Freeport Indonesia, sebagai bentuk kesewenangan, sok kuasa. Permintaannya tersebut diuji dengan ketentuan berlaku di ranah dunia penerbangan mana pun, tetap keliru, apalagi melanggar norma, terlebih adab hidup bermasyarakat.

Karena ulah direksi PT Freeport Indonesia ketika itu, Menteri Perhubungan sampai harus turun tangan, memanggil kedua belah pihak. Energi menjadi terkuras hanya untuk berapat urusan norak. Diakui atau tidak. Lema saya: waktu terbuang hanya karena urusan ego. Bagi saya, kasus itu sebuah catatan yang tak akan pernah raib, sebagai kumpulan perilaku para pejabat, khususnya cara bertutur para pemangku kuasa yang terus saya himpun di negeri ini. Di dalam kasus ini, khusus ihwal oknum direksi sebuah perusahaan besar terpandang.

Karenanya ketika Jeremias Tandaju menulis surat pembaca di detik.com, saya mengkonfirmasi kepada yang bersangkutan melalui SMS ke nomor mobile phone-nya. Aplagi yang terjadi dengan Garuda?

”Apa yang saya tulis benar. Pramugari bertanya, apakah ada penumpang yang terbang sendiri tanpa keluarga?”

”Saya tunjuk tangan. Lalu pramugari meminta saya turun di saat transit di Makassar itu, untuk menunggu 50 menit lagi ke penerbangan berikutnya.”

”Alasan sang pramugari ada isteri pilot harus berangkat bersama pernerbangan itu, kalau tidak, pesawat tak akan berangkat!”

Di media sosial facebook, perihal ini segera menyebar. Setidaknya Linda Djalil, mantan wartawan Tempo yang kini aktif sebagai blogger, mencoba menghubungi Emirsyah Satar, Dirut Garuda, namun yang bersangkutan tidak aktif hand phone-nya.

Saya mencoba menghubungi Pujobroto, Humas garuda via SMS. Karena kesibukannya yang padat, baru malam ia memberi jawaban. Kamis pagi, 8 Juni, di saat hendak take off ke Kuala Lumpur, ia mengirim kabar, bahwa sudah men-cek kasus ini, dan ternyata penumpang itu, bukan isteri pilot. Ia penumpang Garuda yang memohon karena urusan sangat mendesak, minta didahulukan berangkat.

Pertanyaan bagi saya, mengapa sang pramugari harus menggertak bahwa sang penumpang isteri pilot? Apakah sebagai jalan pintas? Bukankah hal itu sebuah kebohongan, sekaligus merusak reputasi sang pilot?

Sebelum Pujobroto memberikan keterangan lagi, saya menduga, bahwa jika benar kelakuan sang pilot Garuda, seperti yang dituturkan sang pramugari, bagi saya ia tak ubahnya bak supir Kopaja 66, jurusan Manggarai-Blok M, Jakarta. Untungnya ini bukan laku sang pilot, tetapi urusan cara berdiplomasi.

Bila supir Kopaja, Metro Mini, seenaknya berhenti, bahkan menurunkan penumpang untuk pindah ke bis berikutnya, karena ia mau balik haluan. Sudahlah di dalam bis itu serasa di atas kaleng rombeng; komprang-kompreng suara kaca jendela, segenap suspensi mati pula, sehingga bis menginjak lubang kecil saja membuat seluruh jok bergetar-getar, lalu daun kuping Anda pasti turut bergoyang.

Belum lagi aroma oli terbakar di saluran pembuangan panas ada di belakang bangku supir. Anda yang tak biasa, saya pastikan membuat hidung sakit. Nasib berkendaran umum demikian bukan sepuluh tahun lalu, tapi saat ini, hari ini, dan mana mungkin dijajal Gubernur DKI dan jajaran?

Belum pula jika hujan mendera, kaca bis tak bisa ditutup, penumpang kuyup. Azab jadi masyarakat kecil pengguna kendaraan umum di Jakarta begitu. Nah jika salah satu azab itu, menurunkan penumpang sekenanya, mendera penumpang Garuda, bagi saya absurd kali?

Untunglah komunikasi cepat Pujobroto, kendati pun belum menuntaskan jawaban pertanyaan saya, setidaknya, ia telah menyampaikan bahwa ada seseorang penumpang yang hendak ditolong, tetapi saya duga eksekusinya keliru.

Sembari menunggu progres kasus ini, saya menuliskan sketsa ini.

JIKA Anda cermati, urusan langgam berkomunikasi di ranah pejabat publik, kian hari memang kian pah-poh saja. Inti soal, langgam begawan sebagai pejabat cenderung mengedepankan ego. Sehingga bertutur tidak lagi dengan berkerendahan hati, apalagi bernurani hati?

Dalam kerangka inilah, saya memberi porsi perhatian kepada Garuda.

Jika Anda menyimak bisnis penerbangan kini, persaingan amat ketat. Bahkan Ryan Air di Inggris sudah akan melayani pernerbangan penumpang berdiri untuk jarak pendek.

Di dalam negeri kue Garuda sudah digerogoti banyak pemain. Mereka adalah swata nasional yang memang juga harus ditumbuhkan. Namun berkaca ke belahan jagad manapun, banyak negara di dunia mendukung dengan segenap cara bahwa penerbangan nasional negaranya tumbuh pesat.

Secara signifikan kita dapat menyimak Singapore Airline, selain dukungan negara yang kuat, pelayanan prima memang menjadi kunci utama suksesnya usaha jasa penerbangan. Saya pernah menaiki Etihad milik Uni Emirat Arab (UAE), smester pertama tahun ini. Laku subsidi bagi sang penerbangan oleh pemerintahnya bukan basa-basi. Bahkan sosok penerbangan negara sama, bertajuk Emirat, yang di kejuaraan World Cup, sepak bola dunia 2010, dapat Anda simak beriklan board di lapangan pertandingan di Afrika Selatan. Sponsor mereka bayarkan konon lebih dari US $ 100 juta, sebagai bentuk subsidi UAE, negara. Demi citra: Fly Emirat!

Kini jika bertanya ke lubuk hati, apakah kita bangga ber-garuda? Saya sebagai pribadi, masih memiliki kebanggan itu. Setidaknya di saat-saat transit di bandara internasional dunia, begitu ada, melirik Garuda, bangga hati di sana, apalagi bertuliskan Garuda Indonesia. Ada Indonesia-nya!

Maka ketika negara memutuskan membeli pesawat kepresidenan sendiri dengan harga mahal, perawatan mahal, ongkos perjalanan lebih mahal, bagi saya sebuah langkah salah. Sama gegabahnya dengan membangun gedung baru DPR berbiaya Rp 1,6 triliun dengan menyebut alasan gedung lama miring. Boleh saja menyebut sebagai citra juga, bahwa negara punya pesawat kenegaraan. Tetapi bermartabat mana bangga dengan Guruda mengibarkan kata Indonesia di badannya?: Garuda Indonesia!

Dan menyangkut citra, sudah saatnya Garuda Indonesia mulai melirik media sosial. Ingat kini, teknologi telah membuat sosok Jeremias misalnya, dengan cepat memuat surat pembaca ke media online, cukup, agaknya dari email di Black berry-nya. Lalu kabar menyebar ke setidaknya 30 juta komunitas online. Hari berikutnya berkelipatan dua, 60 juta pembaca. Dalam kerangka inilah, komunikasi publik kini tak bisa lagi dihadapi dengan cara-cara konvensional. Aapalagi dengan terus-terusan berlagak begawan.

Sebagai dukungan bagi Garuda yang ada Indonesia di badannya, saya sebagai praktisi media sosial aktif (blogger) menuliskan ini, for free. Saya bangga Garuda, Mengibarkan Indonesia!

[]

Iwan Piliang, blog-presstalk.com


Cinta Masih Puitis

Oleh Naimah Herawati Hizboel

Di tengah suasana “panas” oleh hebohnya pemberitaan video percintaan Luna Maya, undangan dari Mizan Productions untuk menghadiri preview film berjudul “3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta,” bagai oase yang mendinginkan. Membangkitkan kembali semangat dan gairah tak terkira.

Film 3 Hati_Dua Dunia Satu Cinta

Baru membaca judulnya yang bagus saja sudah membuat optimismeku (mengenai cinta) kembali berdetak. Sehingga, aku pun bertekad untuk menghadiri undangan itu. Maka, jadilah hari Selasa pagi (8/6) itu aku dengan sadar menyerahkan diri menjadi bagian dari kemacetan tak terkira sepanjang Cibubur-Antasari-Gunawarman-Senopati, hingga sampai di Blitz Megaplex di kawasan SCBD. Waktu yang kuperkirakan satu setengah jam bisa mencapai Pacific Place, ternyata meleset. Hampir dua jam aku baru bisa sampai di lokasi. Itu pun setelah aku nekad menyerobot mengikuti barisan mobil mewah yang dikawal oleh polisi mulai dari jalan Gunawarman hingga SCBD. Untungnya, semua ketegangan pagi itu kemudian terbayar lunas oleh film manis berdurasi seratus enam menit itu.

Film 3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta

Akhir-akhir ini, konsep hubungan percintaan anak-anak muda kian jauh bergeser dari kaidah dan nilai-nilai cinta yang semestinya (nilai-nilai budaya dan agama). Hal itu membuatku “capek” melihat hubungan cinta yang ada di sekelilingku. Aku pun nyaris “putus asa” dan kehilangan harapan bahwa cinta masih romantis. Namun, semua keresahan itu kemudian berakhir setelah menonton film ini.

Film 3 Hati: Dua Dunia Satu Cinta, bercerita tentang hubungan cinta antara Rosid (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang pemuda Muslim idealis yang terobsesi menjadi seniman besar seperti WS. Rendra, dengan Delia (dimainkan oleh Laura Basuki), seorang gadis Katolik berwajah manis. Tentu saja hubungan mereka ditentang habis-habisan oleh Mansur, ayah Rosid yang keturunan Arab, dan orang tua Delia yang orang Manado.

Di luar konflik hubungan cinta Rosid-Delia, ada juga persoalan menarik lain yang juga dimunculkan dalam film ini, yakni gaya seniman Rosid dengan rambut kribonya yang selalu membuat sang ayah gusar karena anaknya tidak pernah bisa memakai peci. Padahal, bagi sang ayah, peci merupakan lambang kesalehan dan kesetiaan pada tradisi dan agama. Sementara, bagi Rosid keengganannya memakai peci tak sekedar karena rambut kribonya melainkan karena ia tak ingin kepatuhannya menjalankan syariat (agama) dicampurbaurkan dengan tradisi leluhur yang disakralkan.

Latar belakang yang cukup ekstrem antara Rosid dan Delia (kerap dilafalkan Delilah oleh Muzna, ibunda Rosid), tentu saja menjadi konflik utama dari awal hingga akhir film. Rosid terlahir dari keturunan Arab-Muslim yang sangat taat memegang tradisi agama dan leluhur, sedangkan Delia terlahir dari keluarga Manado-Katolik, yang juga sangat taat beribadah.

Menariknya, Rosid dan Delia adalah dua anak muda yang rasional dalam menghadapi persoalan yang melanda kehidupan cinta mereka. Sehingga, mereka tak hanya sibuk bergelut dengan perasaan cinta yang bergulung-gulung, tapi mereka juga memikirkan perasaan orang-orang di sekitar. Di satu sisi mereka kukuh menggenggam perasaan cintanya, tapi di sisi lain mereka sangat peduli pada kepanikan yang melanda ayah dan ibunya. Berbagai cara yang dilakukan oleh orang tua mereka, seperti Delia yang akan dikirim sekolah ke Amerika, dan Rosid yang hendak dijodohkan dengan Nabila (diperankan oleh Arumi Bachsin), gadis cantik berjilbab yang ternyata juga mengidolakan Rosid, dihadapi dengan sabar tanpa kehilangan style mereka sebagai anak muda. Berhasilkah Rosid dan Delia bersatu dalam ikatan pernikahan? Jawabannya harus disaksikan sendiri di film ini.

Film ke lima produksi Mizan Productions ini menghadirkan pemain-pemain muda berbakat seperti Reza Rahardian, peraih piala citra sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2009. Kemampuan akting Reza diadu dengan kehadiran dua gadis cantik Laura Basuki (Delia) dan Arumi Bachsin (Nabila). Laura Basuki bermain sangat cantik. Ia mampu membawakan perannya sebagai Delia yang terombang-ambing perasaannya, antara cintanya pada Rosid, kekasihnya, dan cintanya kepada kedua orang tuanya dengan sangat baik. Semua pergulatan hatinya terbaca lewat bahasa tubuh dan ekspresi wajahnya. Nama terkenal lain yang juga terlibat di film ini adalah Ira Wibowo dan Robby Tumewu yang dipasangkan menjadi orang tua Delia, dan ada Henidar Amroe yang menjadi ibunda Rosid.

Akhirnya, lewat film yang manis dan romantis garapan sutradara Benni Setiawan dan diproduseri oleh Haidar Bagir ini, penonton seolah disadarkan, bahwa cinta masih indah, dan cinta masih puitis. []

16 Juni 2010


%d blogger menyukai ini: