Tag Archives: kasih

Mau Ngucapin Makasih Ke…..

Oleh Very Barus

 

 

SEJAK tanggal 30 Oktober kemaren, gue sudah berada di BALI. Dengan segala kemudahan, fasilitas dan juga perhatian dari orang-orang terdekat gue.

Rasanya nggak afdol banget kalo gue nggak SAY THANKS to all my beloved friends selama gue di Bali….jujur saja, gue sempat speechless dengan segala apa yang gue terima selama di Bali. Kedatangan gue ke “rumah kedua” gue itu sebenarnya tanpa ada harapan muluk2 selain hanya pengen ‘menepi’ dan menikmati pergantian usia. Tidak berhayal nginap di villa mewah…difasilitasi transportasi yang ready 24 hours.. nggak..!!!

Tapi ternyata realita berbicara lain…

Tanggal 30 Oktober gue berangkat ke Bali with best friend Eddy Bogel and wife…

Tanggal 31 Oktober, teman gue lainnya Glen dan Liza nyusul ke Bali…

Kehadiaran mereka saja sudah membuat gue bahagia..campur aduk. Karena sepanjang pertemanan dengan mereka yang kadang UP and DOWN, tapi jujur tetap membuat gue kangen sama mereka. Dan terbukti… di hari istimewa gue, mereka hadir dan kami merayakannya bersama2 dengan sangat sederhana…duduk2 di tepi pantai (depan tempat clubbing Dejavu Seminyak). Hanya sekedar minum2, ngemil2, ketawa2 dan juga seru2an…plus sahabat yang tinggal di Bali, Juni, Maria and Martin..Damn..!!! I’m so happy at the moment…

1 November 2010.

Hari Ultah gue, Mbak Irma sengaja mengajak makan di Restoran Italia… bikin kejutan yang lagi2 gue speechless…Thank u Mbak…

Kemudian, sore harinya…

Gue, Bogel, Nova dan Glen (minus Liza karena sudah pulang), dapat surprise nginap di Villa Nusa dua (http://www.nusaduaretreat.com). Yang sejujurnya nggak kepikiran bisa nginap di Villa yang rate permalamnya hanya 450-800 US Dollar. Dengan fasilitas yang sangat memanjakan kami berempat. Kolam renang dideket tempat tidur, makanan yang nendang, juga fasilitas2 lainnya. intinya bener2 nggak nyangka deh…!!!

 

2 November.

Berbarengan dengan Ultah NOVA, lagi2 gue dan Nova dikasih kejutan oleh Ayu dan Jhony (pacar Finlandia-nya). Diundang makan malam di ‘warung’-nya…eh, ternyata di penghujung makan malam ada Birthday Cake yang lagi2 bikin termehek2 (dalam hati). Karena gue memiliki sahabat2 yang tulus, baik dan BERTEMAN TANPA PAMRIH…

Sampai pada hari2 berikutnya di Bali, gue masih  terus bersyukur dengan apa yang gue terima di usia baru gue ini…semoga berkat yang diberikan kepada gue bisa menjadi berkat buat teman2 lainnya…

SO, FROM MY DEEPEST MY HEART…I JUST WANNA SAY…

Makasih buat Eddy Bogel, Nova, Glen dan Liza… yang bener2 sudah meluangkan waktu ‘sibuk’ kalian di Jakarta, tapi masih sempat menyisihkan waktu untuk kumpul bersama2 merayakan Ultah gue… u’r so great friends… jujur, gue sempat kehilangan kalian..and now we are together again…!!!! Love u guys…

Makasih buat Mbak Irma dan Mas Anto, yang telah menjadi ‘tuan rumah’ yang sangat baik. Telah memberikan tempat buah gue dan teman2 mencicipi tempat tidur empuk dan sejuk. Makanan yang lezat, minuman yang nikmat…dengan ketulusan hati kalian menerima dan melayani kami selama di Bali membuat kami merasa memiliki keluarga… untuk mengungkapkan isi hati ini rasanya butuh berlembar2 deh…

Makasih buat Ayu dan Jhony….again and again.. thanks Alot Ayu, Jhony atas birthday cake-nya yang bener2 bikin terkejut. Juga lanjutan celebrate-nya ke EIKON danMBARGO (Sampe membuat Glen mabok berat dan latah berat….mampus aja ngakak mendengar celotehan Glen sambil membacakan PANCASILA ala orang GAGU…mampus ngakakkkk abis..!!!  AYU and Jhony..thank u so much… love u …

Terimakasih to Villa Nusadua Retreat yang telah memfasilitasi hidup kami bak anak2 borju.. it’s so great moment…!!!

Thanks to Juni atas VODKA dan Minuman lainnya…!!!!

Yang jelas…. Hari2 gue bener2 penuh warna…menjelang pergantian usia dan memasuki usia baru…

And untuk semua kebahagian itu, gue nggak pernah lupa berterimakasih ke my LORD…ALMIGHTY…atas karunia dan panjang umur…juga kesehatan… thanks LORD…

Oiya..buat Nova dan Bogel..thanks kalung Salib-nya ya….!!!!

[]

Iklan

Terima Kasih

Oleh Ade Anita

 

 

Terima kasih kompor, karena selama bulan Ramadhan nggak pernah rewel, kehabisan gas di waktu yang tidak tepat dan semua kegiatan masak memasak lancarrrr…serta nggak bikin panik, bahkan setelah acara besar lebaran hari pertama (masak besar untuk bantu halal bihalal keluarga).

 

Ehem…dispenser…contoh kompor gas. Ramadhan tahun ini kamu sempat bikin ulah ya. Masa habis tepat jam setengah empat pagi…kasihan tuh anak-anakku cuman minum dua gelas pas sahur. Kamu tahu sendiri kan, semua warung nggak mau bukain pintu untuk ngejual air minum botolannya, apalagi jual air minum galon yang mesti diantar ke rumah. Pokoknya, tahun depan jangan sampai terulang lagi ya.

 

Terima kasih Alarm yang selalu bangunin tiap malam tanpa kenal lelah. Maaf di awal bulan Ramadhan kemarin sempat meragukan suara teriakanmu yanga terdengar kurang menyebalkan alias terdengar terlalu kemayu dan lembut untuk sosok alarm pembangun sahur. Tapi…ternyata suaramu perkasa juga ya. Good job alarm. Teruskan usahamu.

 

Terima kasih Air Tanah, karena tidak kering mendadak. Terus mengalir lancar. Jadi semua ibadah jadi lancar dan semua kegiatan sehari-hari tidak ada yang terganggu.

 

Terima kasih Tukang Sayur, karena tidak memaksa untuk membeli sayur seperti biasanya. Cukup dengan kode alis terangkat, sudah mengerti bahwa aku sedang tidak ingin belanja.

 

Terima kasih Matahari, karena tidak bersinar terlalu terik dan bikin cepat haus dan lelah.

 

Terima kasih Hujan, karena rajin turun berselang-seling dengan panas. Dengan begitu persediaan air tanah terus tersedia, udara jadi sejuk jadi kami bisa menjalankan puasa dengan  tenang dan sejuk…mau tidur, tinggal merem, nggak usah ngipas-ngipas dulu.

 

Terima kasih Tanaman, karena bisa mandiri nyari makan dan minum sendiri lewat matahari dan hujan. Jadi, aku nggak usah cape-cape nyiram tiap hari.

 

Terima kasih Tetangga-tetanggaku karena pengertian nggak ngajakin ngerumpi yang nggak-nggak.

 

Dan special terima kasih untuk Anak-anakku. Yang tidak menyusahkan dan senantiasa manis dan baik hati selama Ramadhan ini. Terima kasih karena langsung membantu begitu dengar suruhan suara pertama (jadi ibu bisa hemat tenaga nggak usah berkali-kali nyuruhnya). Terima kasih karena nggak bikin emosi selama ramadhan ini (dengan begitu ibu bisa khatam Al Quran dengan lancar).

 

Lalu amat special untuk Suamiku. Terima kasih untuk semuanya. Untuk pengertiannya kalau tiba-tiba nasi habis di saat mau sahur karena aku lupa masak nasi (sibuk nyiapin lauk tapi lupa ngintip nasi masih ada apa nggak). Terima kasih karena mau disuruh lari ke warung tegal terdekat buat beli nasi. Terima kasih juga karena mau bantu berbagai macam pekerjaan, demi agar aku bisa meng-khatamkan Al Quran-ku (“kamu benar mas, khatam Al Quran itu kelezatannya tiada tara dan bikiin kecanduan”).

 

Dan terima kasih terbesar…terima kasih Allah. Karena sudah memberikan kesempatan melalui Ramadhan kali ini dengan semua kemudahan yang Engkau hamparkan padaku (semoga ini bukan ujian kenikmatan darimu. Karena sungguh aku tidak ingin lalai atau gagal dalam berbagai ujian dari-Mu).

 

Alhamdulillahirrabbil’Alamin.

Subhanallah Wa alhamdulillah walailahailallah Allahu Akbar.

 

Allah, sampaikanlah umurku dan seluruh keluargaku agar dapat melalui Ramadhan tahun depan. Amin.

 

[]

 


Cerpen : With Mith (Kami Berbicara Tentang Mengasiani Diri)

Oleh Afrilia Utami

Pagi hari yang masih buta, matahari belum penuh berwibawa di angkasa. Aku bergegas pergi di temani Pak Her, menuju rumah Mith. Sengaja kumatikan cellphoneku selama di perjalanan sampai tiba pulang, “biarlah mereka menunggu,” kataku dalam hati. “Hari ini jadwalku bersama Mith,” kataku lagi. Seperti biasa, aku lupa untuk mempersiapkan kata. Lupa membungkus tanya. Lupa menahan rasa, hanya kangenku yang menjadi modal utama dan beberapa makanan bungkus kesukaan Mith untuk mengunjunginya. Dan permintaan yang selalu inginkan hadirku bersama dengan waktunya. Terkadang, aku berpikir sendiri, mengapa sulit membedakan antara senyum dan murungku setiba di depan rumahmu? ragu memijit bel pagar tinggi itu. Aku tersenyum karena kutemukan sahabat sekaligus Guru jiwaku di sini, dan lupa aku murung karena beberapa pikirku menyatakan sudah tak lama lagi waktu bisa setiba, bersamanya.

Dalam situasi seperti ini, kunjunganku ke rumah Mith terasa seperti menikmati embun sejuk di tengah kemarau berkepanjangan. Kami banyak berbicara tentang hidup, tentang keluarga, tentang cinta, dan yang paling di sukai oleh Mith, “Semangat Kasih” dan mengapa masyarakat kita sampai kekurangan nilai ini.

“Apa kau bosan? Mendengarkan keluh luluhku ini, Afril?” kata Mith, dengan suara yang semakin kayuh semakin kuyuh.

“Aku tak pernah bosan mendengarkan, semua kata-kata lisanmu. Semua ucapmu adalah gizi untuk pembelajaranku, Mith .. “ aku menarik nafas. “yang buatku bosan menunggu, kapan aku bisa melihatmu kembali berdiri kokoh, berlari siapa cepat siapa dapat. Sedang kulakukan bosanku untuk sebuah harapan.”  Jawabku, kami semakin saling tatap empat mata.

Ia tersenyum. “Cepat atau lambat bosanmu itu akan menjadi kebiasaan di waktu kita, lalu sesudahnya kebiasaan itu akan pergi, hilang, dan punah…”

“Dan pasti aku akan mencarinya, aku akan merindukannya, aku akan …. “ Potongku.

“Dan kau akan melanjutkan hidupmu.” Ujarnya kembali memotong lisanku.

Sementara itu aku mencermati tanda-tanda perkembangan penyakit yang di deritanya. Jemarinya masih berkerja baik untuk mengangkat gelas minum, dan pensil tuk menulis. Tetapi ia tak bisa mengangkat siku-sikunya lebih tinggi dari dada. Ia selalu menghabiskan waktunya di ruang kerja. Di dalamnya terletak kursi santai besar, dengan bantal dan selimut, pula karet yang terbentuk untuk menyangga pahanya yang semakin melemah. Di samping kursi terletak sebuah lonceng, untuk menandakan permintaan bantuan.

Terkadang ia sulit untuk sekedar menggoyangkannya, sedangkan bel itu berbunyi jika di goyangkan. Ada Jimmy anak bungsunya, dan Carron suster yang di tugaskan untuk menjaga sekaligus merawat Mith.

Aku bertanya kepada Mith, apakah ia menangisi dirinya sendiri?

“Kadang-kadang pada pagi hari” katanya. “Pagi hari adalah saatnya untuk berkabung. Setiap awal kuterbangun aku merasakan tubuhku. Aku menggerakan –apa saja yang masih dapat kugerakan- dan aku berkabung setiap kumenemukan ada bagian atau kemampuanku yang hilang. Aku bersedih karena lambat dan menyaksikan proses kematianku. Akan tetapi setelah itu aku berhenti menangisi diri. Dan kau Afril, apa yang kaulakukan dan rasakan pada posisiku ini?”

“Ya, aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku. Kepada orang-orang yang datang menjengukku. Kepada kisah-kisah yang akan kudengar setiap harinya. Terkhusus setiap salah satu tanggal ganjil sekali dalam dua minggu. Karena kita manusia bilangan ganjil.”

Ia tertawa. Manusia bilangan Ganjil.

“Fril, aku tidak membiarkan diriku terlalu hanyut lebih sumut tapi tidak sekecil semut dalam rasa kasihan berlebihan kepada diriku sendiri. Setiap pagi kubiarkan diriku menagis sedikit, tapi hanya itu.” Ucap Mith, mencoba lebih dalam membelai belahan kasihku.

Aku teringat semua orang yang kukenal, yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk menangisi diri sendiri. Alangkah baiknya bila orang dapat menahan diri untuk tidak menangisi diri berkepanjangan. –namun terkadang, itu sulit tuk di lakukan. Karena perasaan kita lebih jujur jika dalam sendiri menghening. Di lakukan sembari senyap mengingat sakit dan luka-luka yang purba atau baru beragam rupa- .cukup beberapa tetes air mata setiap pagi, kemudian menghadapi hari dengan tegar. Jika Mith sanggup melakukannya, padahal ia menderita penyakit yang sangat melilit merajam dan mengerikan…

“Mengerikanlah bila kau memandangnya dengan cara begitu” komentar Mith. “Memang ngeri nyeri menyaksikan bagaimana tubuhku perlahan-lahan kehilangan fungsinya. Tapi aku cukup bersyukur atas kesempatan yang cukup luang bagiku untuk mengucapkan salam perpisahan. “

Ia tersenyum. “Tak semua orang seberuntung aku.”

Aku mengamati sosok tua teronggok dalam kursi yang sedang berhadapan kurang seinci mill. Tak bisa berdiri, tak bisa mandi, bahkan tak bisa membetulkan celana sendiri, atau sekedar menyuapkan nasi. Beruntung? Sungguhkah ia merasa beruntung?

“Afril .. “ panggilnya.

“Ya?”

“Boleh aku meminta sesuatu darimu?”

Tentu, jika aku bisa.

“Aku ingin” ia menarik nafas. “merasakan .. “ di lanjutkan dengan batuk yang berdurasi panjang. Sekali batuk, ia sulit untuk berhenti. Dan pasti batuk itu akan semakin membuatnya lelah, semakin lemah.

“Minumlah dulu..  “ ucapku sambil membawakan segelas airputih.

Sesudah ia habiskan airminumnya. “Aku ingin merasakan … hatimu ada mengalung dekat lalu erat dan kuat di hatiku.dan hangat tubuhmu menghangatkan mayatku.. “

Aku mayat juga. Jika kau mayat. Kita mayat? Siapa yang akan menghangatkan kita. Apa belum, kau rasakan itu semua, Mith?

“Aku ingin mendekapmu, memelukmu dan itu tak menjanjikan untuk waktu lama.”

Aku tersenyum. Baiklah …

Dan mulai dari sanalah aku semakin menyayanginya. Aku semakin tandus akan rindu hangatnya yang arus dan aku selalu haus akan hadir, kata, ucapnya hijau menghumus. Mith, hari ini aku terlalu sulit menceritakannya. Aku tak ahli berkata, aku terlalu patung tuk berhitung, aku terlalu gagap tuk banyak berbicara rangkap. Bercerita akan kisah kita, kisah yang ada dan di adakan. Mungkin hanya lewat coretan sederharna ini, kotretan singkat kebersamaan kita ada dalam hidup cerita.

“Bersyukurlah … Tak semua orang seberuntung aku.”

___________________________________________________

Mith,

Tubuhku masih surut

Separuh napasku makin kerut

Langkah mungkin tak berturut.

Semangat Kasih ini satu miliki raut

Sendiri. Berbagi. Tak pernah saling meribut

Kau turut menjadi kilau di gulitaku

Aku menjadi jantung di jiwa beragamu

Kauaku turut menghidupi waktu suka,luka, haru.

Menjadi satu.

S

A

T

U

Debu.

[]

17 September 2010


Percintaan Absurd

Oleh Hera Naimahh

ada benderang membawa kabar

yang harus kubaca dengan sabar

hingga segenap kata dan titik koma di sana

tak salah baca

tak salah makna

air mata pun menetes di hari ke sembilan puluh lima perjalanan kisah kasih kita

malam itu

hatiku membiru

hatiku cemburu

air mata itu

atas nama sedih

atas nama pedih

atas nama cinta

atas nama asmara kita

aku terus berpikir. aku terus berzikir. aku pun menyerah pada takdir dan kubiarkan segenap doa terus mengalir

kekasih purnamaku

akan kubaca sekali lagi

masih perlukah aku di sini

masih mampukah aku berdiri

melanjutkan kisah ini

atau, kusudahi saja percintaan rumit ini

hidup memang senantiasa menyimpan kebahagiaan dan kesedihan  tak terduga

***

hera

23 Agustus 2010

[]


With Mith (Kami Berbicara tentang Kematian)

Oleh Afrilia Utami

SELASA berikutnya, aku datang lagi dengan beberapa kantung penuh berisi makanan-pasta dengan jagung, Salad, kentang, kueh Apel, ya, sekantong makanan Favorit-nya dan sesuatu yang lain: sebuah tape recorder Sony.

Aku ingin mengingat apapun yang kita perbincangkan, kataku kepada Mith. Aku ingin mendengar suara Anda sehingga aku dapat mendengarnya lagi… Nanti

“Setelah aku mati.”

Jangan bilang begitu.

Ia tertawa. “Fril, aku akan mati. Dan itu tak lama lagi, bukan nanti.”

Ia memperhatikan mesin baru itu. “Kecil sekali,“ katanya.

Aku merasa berlebihan, seperti kebanyakan wartawan, maka aku mulai berpikir bahwa sebuah alat perekam di antara dua orang yang saling bersahabat merupakan sebuah benda asing, seperti orang ketiga. Seperti kebanyakan orang yang dikejar-kejar waktu, mungkin aku menyimpang terlalu jauh dari tujuan pertemuan tiap selasa ini,

Dengar, kataku, sambil mengambil alat perekam itu. Kita tak usah memakainya. Bila Anda tidak merasa nyaman. Ia menghentikan aku, menggoyang-goyangkan jari telunjuknya, kemudian melepas kacamata dari hidungnya, membiarkannya bergantung pada tali yang digantungkan pada lehernya.

Ia menatap langsung kemataku. “Letakkan kembali.” Katanya dengan tegas.

Aku meletakkan alat perekam itu kembali.

“Fril,“ lanjutnya, kini dengan lembut. ”Kau tidak mengerti. Aku ingin bercerita kepadamu tentang hidupku. Aku ingin bercerita kepadamu sebelum aku tak mampu bercerita lagi.”

Suaranya semakin lirih, seperti berbisik. “Aku ingin menjadi mencari seseorang yang kan mendengarkan ceritaku. Mau, kan?

Aku mengangguk.

Kami diam selama beberapa saat.
“Nah,” katanya, “sudah dinyalakan?”

Sekarang sesungguhnyalah, pita perekam itu lebih dari sekedar nostalgia. Aku akan kehilangan Mith, kami semua akan kehilangan Mith-keluarganya, teman-temannya, para mantan Mahasiswa, sesama staf pengajar, teman-temannya dalam kelompok diskusi politik yang sangat disukainya. Dan tampak pita perekam, seperti photo dan rekaman video, merupakan upaya terakhir untuk mengambil sedikit dari peti jenazah.

Akan tetapi menjadi jelas juga bagiku, melalui keberaniannya, selera humornya, kesabaran, dan keterbukaannya, Mith memandang hidup dari suatu keterbukaan yang sangat berbeda. Dari kebanyakan orang lain yang aku kenal. Sebuah tempat yang lebih sehat. Tempat yang membuat orang lebih peka. Meski pada akhirnya ia harus menderita penyakit yang sangat Ganas. Padahal ajalnya sudah dekat sekali.

Kalaupun pikiran seorang entah bagaimana menjadi terang ketika maut telah di depan mata, aku tahu bahwa Mith ingin berbagi denganku dalam hal ini. Dan aku mengingat semua pemikirannya selama ini mungkin.

Pertama kali aku melihat Mith, pada acara perkumpulan Organisasi Sosial. Aku ingin tahu penyesalan apa yang dirasakannya begitu tahu kematiannya sudah di ambang pintu. Apakah ia berduka karena kehilangan teman-teman? Apa saja yang ingin diperbaikinya? Dari sudut pemikiranku sendiri, aku ingin tahu apa yang ingin ku rasakan andaikata aku berada dalam posisinya, apakah aku akan terhanyut dalam kekecewaan, karena semua yang telah terlewatkan? Apakah aku akan menyesal karena telah menyimpan banyak Rahasia?

Ketika semua ini kuungkap kepada Mith, ia mengangguk, “memang itulah yang dicemaskan oleh setiap orang bukan? Bagaimana andaikata hari ini adalah hari terakhirku di muka bumi?” Ia mencermati wajahku, dan tampak ia melihat ambivalensi dan pikiranku. Aku pernah membayangkan bahwa suatu hari aku tiba-tiba aku terkulai di meja kerjaku, ketika sedang menulis sebuah artikel, dan ternyata editor mengambil naskah mentah bahkan sebelum Rumah Sakit mengurus jasadku.

“Fril?” Sapa Mith.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tanpa berbicara. Namun Mith dapat merasakan keraguanku.

“Fril,” katanya, “budaya kita tak mendorong kita memikirkan hal-hal semacam ini sampai kematian menjemput kita. Kita begitu terbelit dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan sendiri, karir, keluarga, uang cukup banyak, melunasi hipotek, membeli mobil baru, kita terlalu sibuk dengan triliunan perkara kecil dalam rangka mempertahankan keberlangsungan semua itu. Maka kita tidak terbiasa berdiam diri sejenak untuk merenungkan hidup kita dan berkata, “Hanya inikah? Hanya inikah yang ku inginkan? Adakah suatu yang hilang?”

Ia beristirahat sejenak.

“Kita membutuhkan seseorang untuk mendorong kita ke arah itu. Kejadian tidak akan otomatis.”

Aku tahu yang ia katakan. Kita semua memerlukan guru dalam hidup kita. Dan guruku adalah orang yang saat ini di hadapanku.

Baiklah, kataku dalam hati. Jika harus menjadi murid, berarti aku harus menjadi murid terbaik.

Dalam perjalanan pulang dengan pesawat pada hari itu. Aku membuat sebuah catatan kecil berupa daftar permasalahan dan pertanyaan-pertanyaan. Yang dihadapi semua orang, dari kebahagian hingga mencapai usia lanjut, dari mempunyai anak hingga menghadapi maut.

Akan tetapi jawaban yang jelas masih sulit dicari. Apakah yang kita pedulikan, orang lain atau “anak kecil dalam diri sendiri?” Apakah kita akan kembali ke nilai-nilai tradisonal atau menolak tradisi sebagai suatu yang sia-sia? Apakah yang kita cari, sukses ataukah kesederhanaan? Cukup mengatakan Tidak dan Kerjakan Saja?

Yang ku tahu hanyalah: Mith, Profesor tuaku, tidak ada hubungannya dalam bisnis panduan mandiri. Ia seperti sedang berdiri di atas rel, mendengar lokomotif sang Maut melengkingkan Peluitnya, dan ia tahu dengan pasti perihal yang penting dalam hidup ini.

Aku ingin memiliki kejelasan yang telah tampak olehnya. Siapapun yang bingung atau jiwanya tersiksa memerlukan kejelasan itu.

“Tanyakan kepadaku saja,” begitu selalu kata Mith.

Maka aku menulis daftar berikut:

Kematian
Ketakutan
Usia Lanjut
Kerakusan
Perkawinan
Keluarga
Masyarakat
Maaf
Terimakasih
Belajar
Hidup yang bermakna

Daftar ini ada di dalam tasku. Ketika aku kembali. Dan semua orang kesal sibuk berkipas-kipas wajah yang ku lihat tampak seperti siap membunuh siapa saja.

[]


Segera Lahir Novel Kidung Cinta Pohon Kurma

Oleh Syaiful Alim

Pohon Kurma

Bermula dari pohon kurma
terungkap segala karma.

“Cinta itu seperti apa, sayang?”

Sebuah tanya meluncur seperti air yang yang terpeleset dari reranting, jatuh di pucuk daun, singgah sejenak, beranjak menuju kolam pinggir pohon. Suara denting hening dari kecipak air kolam itu memecah kesunyian. Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak dari aktivitas membaca roman Romeo and Juliet. Aku lihat Tamara masih membolak-balik lembar majalah “FEMINA” dengan kaki bersila di atas ranjang. Kemudian ia menutup majalah wanita berbahasa Indonesia itu dan menghampiriku, merebah di dadaku. Ia bertanya lagi:

“Cinta itu seperti apa, sayang?”

Aku menutup buku. Aku letakkan buku dan kacamata minusku di meja sebelah dekat ranjang. Aku cium ubun-ubun kepala Tamara dan kubelai urai rambutnya yang hitam mengombak ikal panjang.

“Sayangku, cinta itu tak merupa. Ia tak mewujud sesuatu apa. Tiada yang menyerupainya sesuatu apapun. Namun kita bisa menariknya pada ranah nilai filosifi benda. Bisa saja cinta itu serupa embun. Bisa juga serupa racun.”

“Sayangku, jawab dong pertanyaan Tamara. Kenapa harus ribet dan berbelit-belit. Kayak filsuf saja. He he.”

“Manisku, menjawab pertanyaanmu, Syahrul harus menjelma filsuf, karena jika tidak, jawab akan lembab oleh leleh lelah tanpa sebab.”

“Sudah ah, kalau begini arahnya, biar Tamara keluar, menemai Ibu di kamar.”

“He he. Istriku kalau ngambek makin cantik. Senyum dong.

“Jawab dulu, baru Tamara senyum.”

“Iya, sayangku. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhan telah membuat perumpamaan untaian kata yang indah, seperti pohon yang baik, akarnya tegak teguh dan cabangnya menjulang ke langit? Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya, Tuhan membuat perumpamaan- perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka senantiasa tidak lupa,” aku mulai membangun wacana dengan menyitir metafora ayat suci.

“Pohon apakah itu?” aku mengajukan tanya. Dalam sela waktu menunggu jawabannya, aku lingkarkan tangan di tubuhnya dan mengunduh pipi ranumnya.

“Pohon kurma…”

“Istriku memang pintar. Benar pohon kurma!”

“Terus apa yang akan kita diskusikan dari pohon kurma itu?” daya debatnya mulai terlihat.

“Lihat pohon kurma di luar jendela kamar. Amati dari pangkal sampai puncak. Jangan ada yang terlepas dari pengamatanmu: batang, daun, bunga, pelepah, buah…”

Matahari sore mendamaikan hati hari ini. Jendela kaca kamar kami yang terbuka memudahkan kami memandang alam sekitar luar kamar. Sepertinya matahari berdamai dengan bumi. Sinarnya bersembunyi di rerimbun pepohonan yang berjajar di luar kamar.

“Saya sudah siap berdiskusi. Mari pangeran, apa yang akan kau sampaikan?”

Pertama,

Kau tahukah bahwa buah kurma itu memiliki banyak nama? Buah kurma yang belum matang disebut Balah. Kurma ranum disebut Ruthab. Kurma matang disebut Tamr. Begitu juga dengan cinta. Buah cinta memiliki banyak nama. Buah cinta yang masih hijau disebut gelisah. Buah cinta yang ranum meraja disebut rindu. Buah cinta yang telah dewasa dan matang disebut fana’. Penyatuan dua jiwa.

“Engkau suka dan memilih yang mana, Tamara?”

“Aku suka dan memilih buah kurma yang ada dalam dirimu, Syahrul?”

“Aku suka dan memilih Tamara yang di dalamnya ada balah, ruthab dan tamr, sayang.’

Kedua,

Kau tahukah bahwa pohon kurma berbeda nama bila berbeda lidah? Orang Arab melafadzkannya Nahlah. Orang Prancis menyebutnya Daltier. Orang Jerman memanggilnya Dattel. Orang Italia melisankannya Datteri, Dattero. Orang Belanda menamainya Dadel. Orang Portugis mendzikirkannya Tamara. Namamu. Begitu juga cinta. Saya sebagai orang Jawa menyebutnya Tresno, Gandrung, Larung. Orang Inggris menamakannya Love. Orang Arab melafadzkannya Hubb-Mahabbah. Rupa-rupa penyebutan kurma dan cinta menandakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Keanekaragaman itu harus dijadikan pemersatu bukan untuk pemicu api permusuhan. Bukankah perbedaan adalah sebuah anugrah dan rahmah Tuhan untuk umat manusia? Bukankah manusia diciptakan berbeda suku, agama dan bangsa supaya saling kenal-mengenal, mencinta, dan menebar kasih-sayang? Perbedaan dan keanekaragaman menjadikan ummat manusia berlomba-lomba dalam kebaikan dan kemanusiaan. Apa yang terjadi jika sebuah perbedaan disalahartikan? Penghujatan dan pertumpahan darah. Sejarah telah membuktikan; peradaban islam luluh lantah tinggal abu dan puing kenistaan. Tersebab oleh kebodohan atas pemaknaan perbedaan. Aliran Sunni menganggap aliran Syiah telah berpisah dari aqidah. Organisasi Muhammadiyah menuduh organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah pembibitan bid’ah. Sekte Wahhaby mengharamkan surga semua manusia yang tidak sefaham dengan aqidahnya. Kita harus mengakhiri kepicikan dan kekerdilan pemikiran ini. Ummat manusia harus menerima “yang lain” dengan sepenuh jiwa dan berdialog menuju titik temu, titik kesamaan. Tanpa kedua hal itu, ummat manusia akan terus-menerus dilanda perpecahan, pertikaiaan dan peperangan. Kenapa Palestina dan ummat Islam dikalahkan dan dipermalukan oleh Israel? Karena Palestina tidak mau bersatu. Kelompok HAMAS selalu berpanas-panas dengan pemerintah yang syah, karena ummat Islam berpecah belah, diributkan oleh masalah remeh temeh; saling berebut kebenaran pemaknaan ayat, saling tikam-menikam hanya karena beda warna baju penghambaan. Cinta itu menyatukan perbedaan-perbedaan. Dan ingat! Cinta itu melintasi bahasa, agama, ras, suku, budaya. Tidak boleh ada yang memisahkan cinta kecuali cinta. Bagi sang pecinta semua mahkluk beserta yang mengitarinya adalah sama. Di hadapan cinta, semuanya memiliki kedudukan sederajat; malaikat, tuhan, rasul, nabi, iblis, syetan, jin, manusia, dedemit. Di antara mereka tidak ada yang lebih hebat, lebih kuat dan lebih berkuasa. Yang berkuasa adalah cinta. Semuanya tunduk kepada cinta. Semuanya dalam naungan kerajaan cinta.

Ketiga,

Pohon kurma hanya tumbuh di tanah berpasir padat, liat. Hanya hidup di sahara tropis. Begitu juga cinta. Cinta hanya tumbuh di jiwa yang lembut, halus, dan damai. Cinta tidak tumbuh di sembarang tempat. Tetapi cinta dapat menempati ruang dan waktu; di bui, di buangan, di pengasingan, di hutan rimba. Justru di tempat seperti itu cinta semakin kuat, lebih kuat dari kekuatan apa saja, kekuatan tuhanpun akan terkalahkan. Ia akan melakukan pemberontakan terhadap kemelaratan, kepicikan, penindasan, ketimpangan, ketidakadilan. Sang pecinta adalah pemberontak. Ia akan melakukan pemberontakan dan pemberontakan tanpa henti. Demi tegaknya kehidupan yang beratapkan kedamain, beralaskan kasih sayang. Cinta sejati adalah kesediaan untuk mencintai, memberi dan berbagi dengan yang lain dengan mengabaikan sekat-sekat perbedaan ras, suku, bangsa dan agama. Cinta sejati adalah kesediaan untuk mengobarkan semangat perlawanan terhadap penindasan atas nama agama dan bangsa. Sang pecinta harus melakukan pemberontakan terhadap dogma-dogma agama yang menyuburkan kebencian, yang mengembangbiakkan bibit-bibit kekerasan. Sang pecinta harus mengobarkan semangat perlawanan terhadap penindasan dan penjajahan Negara-negara adikuasa kepada Negara-negara yang merangkak-berbenah.

“Apakah jiwaku cocok untuk bercocok tanam pohon cintamu?”
“Cocok. Buktinya pohon itu sudah tumbuh dan mengakar menghujam dalam jiwaku, batangnya kuat, daunnya lebat, rantingnya sehat, cabang-cabangnya erat dan buahnya teramat lezat.”

Keempat,

Pohon kurma itu tumbuh dengan sedikit meminta. Berkembang dengan banyak memberi. Ia hanya membutuhkan sedikit air dari penanamnya, tetapi mempersembahkan yang terbaik dari buah limpah berkahnya. Begitu juga cinta. Sebenar-benar cinta adalah memberi. Cinta sejati berada dalam pengorbanan. Cinta adalah kesediaan memberi tanpa menuntut apa-apa dari cinta. Pokoknya cinta dan cinta. Jika kau mendapatkan upah atau kenikmatan, itu hanya sebagai peneguh jalan dalam pendakian cinta yang penuh bebatuan terjal. Cinta itu memiliki derajat dan pangkat yang berbeda. Semakin tinggi derajat cinta yang kita miliki, semakin tinggi pula ketenangan dan kedamaian yang kita nikmati. Ada yang mencintai tersebab oleh pemberian. Cinta dalam derajat ini diukur seberapa besar yang ia peroleh dari sang kekasih. Kualitas cinta akan menurun dan terkikis habis jika kuantitas pemberian menurun dan rendah. Inilah cinta matrealistik. Cinta jenis ini telah menyebar dan mengakar di otak manusia zaman edan ini. Ada uang, engkau kusayang, tidak ada uang, engkau kutentang-kutendang. Ada yang mencintai tersebab oleh banyaknya aura kelebihan yang dimiliki oleh seseorang. Mencintai karena kecantikan, ketampanan, kekayaan, kepandaian. Jika telah lenyap aura kelebihan itu, maka lenyap pula cintanya. Cinta model ini juga telah merajalela di mana mana, di kota maupaun di desa. Ada yang mencintai karena cinta. Pokoknya cinta. Tidak tahu kenapa ia bisa mencintainya. Cinta tanpa sebab. Cinta tak bersyarat. Ketika ditanya kenapa kamu mencintai gadis itu? Laki-laki itu hanya menjawab: saya tidak tahu kenapa saya mencintainya, hanya cinta.

Kenapa aku mencintaimu
Apakah perlu ditanya kenapa
Kapal pesiar berlayar di atas air
Dan air mengalirkannya?

Kenapa aku mencintaimu
Apakah perlu ditanya kenapa
Duri menghiasi mawar
Dan mawar mengharumi diri duri itu?

Kenapa aku mencintaimu
Apakah perlu ditanya kenapa
Embun hinggap di dedaun
Dan dedaun ikhlas melepas embun
Ketika matahari menjemputnya dengan santun?

Kenapa aku mencintaimu
Apakah perlu ditanya kenapa
Ada api dalam nyala
Dan keduanya saling tindih
Membikin air mendidih?

Kenapa aku mencintaimu
Aku tidak ada pilihan
Dan kau tak layak menolak
Perempuan pemilik wangi semerbak.

Kenapa aku mencintaimu
Tak ada jawab, tak ada sebab
Cukup rasakan getar hadirku, getir pergiku
Debar sentuhku, desir jatuhku
Kekar dekapku, kasar laparku.

Jangan tanya lagi kenapa aku mencintaimu
Perkenankan aku mencintaimu
Seperti bulan bintang mencintai malam:
Ada waktu untuk dipeluk erat karam
ada waktu ditinggal untuk rindu yang dalam.

“Wahai Tamara kekasihku, cinta yang mana yang telah meraja dan bertahta dalam jiwamu?”

“Cinta, cinta dan cinta.’

Kelima,

Tahukah engkau wahai kekasihku, bahwa pohon kurma mulai berbuah setelah umur enam sampai enam belas tahun, kemudian berbuah hingga ratusan tahun? Pohon kurma berproses lama dalam berbuah. Begitu juga halnya dengan cinta. Cinta tidak tumbuh dan berbuah dengan cepat. Cinta butuh waktu. Cinta butuh proses tanpa henti. Jangan percaya dengan pandangan pertama. Pandangan pertama itu berbisa. Pandangan pertama itu bisa menipu.

“Tetapi aku jatuh cinta semenjak pertama memandangmu, Syahrul. Apakah itu tipuan atau jebakan yang sengaja kau buat untukku?”

Tamara, jawabannya ada dalam jiwamu. Yang perlu engkau fahami bahwa banyak cara untuk (bisa) jatuh cinta. Bisa jadi kita jatuh cinta sejak pertama berpandangan mata dengan-nya. Kita membayangkan di jauh relung matanya ada mataair yang selalu mengalir dan menghilangkan rasa dahaga. Bisa jadi kita jatuh cinta setelah sering berjumpa, menyapa, bertanya. Meskipun pada awalnya tidak sedesirpun ada rasa suka di jiwa. Namun setelah perjumpaan, kemudian mengendap dalam ingatan dan impian, akhirnya membuah deburan-deburan gelisah dan serbuan pertanyaan: Apakah saya jatuh cinta dengannya? Bisa jadi kita jatuh cinta setelah dikenalkan oleh seorang teman, kemudian ada pertautan perasaan yang tidak bisa ditahan, ditolak, dihadang, dibendung. Bisa jadi kita jatuh cinta karena memang sudah takdir. Sudah jodoh. Tanpa diundang, ia datang. Berselayang pandang. Lalu terbang ke awan. Pelaminan.

Keenam,

Kau tahukah bahwa akar pohon kurma menembus lapisan tanah terdalam, menghujam? Akar itu begitu kokoh tak terobohkan. Hempasan, terpaan bahkan badai angin dan hujan tak akan menumbangkan. Semakin kuat mendekap. Begitu juga dengan cinta. Jika landasannya kokoh mengakar menghujam jiwa, ia tidak akan goyah dengan segala cobaan, siksaan, marabahaya. Semakin banyak dan besar cobaan, maka semakin besar nan kokoh cinta. Tak terpisahkan. Tahukah engkau kekasih, apa landasan dan pondasi cinta? (yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya). Tiada lain adalah penerimaan. Penerimaan sepenuhnya. Menerima cinta apa adanya. Cinta itu bagai akar yang menghujam ke dalam jantung bumi, sementara dahan-dahan, ranting-ranting, dan buah-buah yang dihasilkan adalah merefleksikan sehat tidaknya akar itu. Akar cinta itu adalah penerimaan. Kesalahan terbesar manusia dalam bercinta adalah terlalu berharap yang lebih dari sang kekasih. Ketahuilah wahai Tamara kekasihku: di dunia ini tak ada yang sempurna kecuali cinta itu sendiri. Jangan berharap yang lebih dari sang kekasih. Cinta dan mencintai secara sederhana dan istimewa.

“Apakah engkau sudah menerimaku sepenuhnya? Apakah engkau tidak tersiksa dengan kekurangan dan kelemahanku?”

“Tidak wahai cintaku, kekurangan dan kelemahanmu justru membuat cinta kita berlebih dan melebihi apa saja.”

Ketujuh,

Wahai Tamara, perhatikan tubuh pohon kurma itu, niscaya engkau dapatkan seperti terpintal dari benang-benang yang memanjang dan yang lain melintang, selayak pintalan tangan. Apakah engkau tahu kekasih makna dibalik misteri tekstur itu?

Ia merekatkan pelukannya ke tubuhku.

“Seperti yang aku lakukan, sayang.”

“Istriku cantik, cerdas lagi.”

(aw, ia mencubit pinggang dan pahaku).

Benar, supaya keras dan erat terhadap bawaan berat, kuat menahan terjangan badai angin. Tahan lama di segala tempat dan kondisi. Begitu juga cinta kita. Kita berharap tak akan mati meski kita telah dijemput kematian. Cintaku bukan seperi cinta artis selebritis; nikah-pisah-pisah-nikah-pisah-pisah-nikah-nikah. Mereka menganggap bahwa cinta itu seperti mengenakan pakaian. Jika sudah bosan atau terlihat koyak, mereka melemparkan ke tong sampah, ganti yang baru. Atau diobral, dijual, dan berkata dengan bangga: ini bekasku, ini mantanku, ini barang rongsokanku, ambil saja kalau mau.

Kedelapan,

Sayang, lihatlah sayang, mayang-mayang lembut bersusun-susun. Keindahan itu mewakili dirimu kekasih. Mayangmu adalah pandangan menyejukkan, tutur katamu mendamaikan, aliran jalanmu menemukan debar debur ombak di lautan, kerlingan matamu memunculkan gairah yang terpendam, canda ramahmu mengusir jenuhku…engkau memang dihadirkan tuhan buatku. Engkau adalah penampakan wujud tuhan. Yang harus aku agungkan. Yang harus aku kuduskan. Yang harus aku manjakan…

Kesembilan,

Sayang, terbangkan pandangan ke arah buah kurma itu. Buah kurma yang menjuntai berurai-urai, menguning, segar, menyegarkan, menggairahkan.

Aku ingin memanjat tubuhmu dan meraih buah dadamu yang ranum harum itu.

Aku ingin menggoyang pangkal pahamu dan menemukan tongkat musamu.

Telah kupanjat tubuhmu. Ah, buah dadamu mengeras dan meliat. Telah kualamatkan ujung lidah basahku. Telah kuasah pisau-pisau remasku. Persiapkan cemasmu, aku ingin mengupas pedasmu.

Telah aku goyang pangkal pinggulmu, uh, tongkatmu menjadi ular, memaksa masuk ke gua hiraku yang ditumbuhi belukar rumput liar dan selingkar mawar.

Aku ingin menuruni tubuh terjalmu, mencari danau humus, aku haus.

Lekaslah minum aku, kuras aku, peras aku, puaskan aku, buat aku mendesah dengus.

Ah, aku basah.

Uh, aku sakit, aku nikmat, jangan lepas, aku belum puas.

Aku juga, nafasku nafasmu…

Cubit aku, gigit aku.

Tidak, kau nanti sakit.

Sakit itu nikmat.

Nikmat itu jerit.

Jerit itu jerat.

Jerat itu erat.

Eratkan jeratmu, jerat eratku.

Erat mesti renggang, mari kita muntahkan erang.

Memang, kaulah yang tersayang.

Kesepuluh,

Buahnya mudah dijangkau. Orang tidak perlu memanjat pohon kurma yang pendek. Pohon kurma yang tinggi mudah dipanjat dibanding memanjat pohon-pohon tinggi yang lain. Lihatlah sayang, pohon itu telah tersedia tangga-tangga untuk mendaki ke atas. Daki aku wahai kekasih. Cinta sejati juga seperti itu. Manusia mudah mereguk kenikmatan dari cinta. Cinta tak perlu paksaan. La ikroha fil hubbi. Tidak ada paksaan dalam (ber) cinta. Jangan kau rampas cinta dengan tipu muslihat dan cara yang keji. Pura pura baik. Pura pura mencintai. Ada udang dibalik bantu. Ada maunya dibalik berbuat baik. Menyusun taktik, menabur ranjau intrik untuk menjebak dan mengusai kekayaan si kekasih, balas dendam, misalnya. Sang pecinta itu selalu mempersembahkan yang maha kepada kekasihnya. Bukankah karya-karya monumental itu tersebab oleh rasa cinta yang menggila, cinta mendalam, cinta meluap-luap? Sang pecinta selalu memanfaatkan ketidakpastian dan kepastian hidup menjadi pendobrak kreatifitas yang tak terbatas. Sang pecinta itu selalu tegar dan optimis menjalani hidup dan kehidupan. Sang Pecinta akan selalu merenda kemungkinan-kemungkinan menjadi anyaman-anyaman kenyamanan.

Kesebelas,

Seluruh bagian pohon kurma bermanfaat. Batang, buah, pelepah, daun, serabut. Seperti itu juga cinta, kekasih, seluruh tubuh cinta mengandung cahaya kemanfaatan. Cinta bagai gandum yang mengenyangkan perut lapar. Cinta seperti air yang menghauskan dahaga musafir. Cinta bagaikan angin sepoi yang mendansakan rerumputan dan dedaunan. Cinta serupa matahari yang menyingkap kegelapan. Cinta selayak rembulan purnama yang mengusir kesepian. Cinta adalah dirimu yang berada dalam diriku. Yang menggerakkan roda roda kehidupanku. Yang mengalirkan darah energi. Yang mendetakkan jantungku. Yang menghentak semangatku ketika aku patah arang. Yang membuatku tersenyum ketika aku menangis. Yang membuatku menangis ketika aku tersenyum. Yang merekatkan kembali harapan-harapanku yang retak. Yang membuat aku lebih hidup, walau matahari meredup, hari hari menyusut, keadilan tuhan telingsut, air kehidupan semakin surut.

“Seberapa manfaatkah diriku untukmu?”

“Jika kuandaikan kau adalah lautan, telah kuminum airmu, namun aku selalu haus,
kerongkonganku selalu tandus.”

Keduabelas,

Tahukah engkau kekasih bahwa pohon kurma memiliki senjata sebentuk duri? Duri untuk melindungi dirinya dari pencuri. Begitu juga cinta. Cinta punya senjata. Senjata itu tidak melukai. Senjata itu melindungi cinta dari huru-hara kebencian, peperangan. Walau peperangan menyerang cinta. Cinta tak pernah mati. Cinta tak akan mati meski dilukai, ditusuk, dimamah, dicacah, dibelah. Cinta tetap akan hidup walau kehidupan telah merebah di tanah. Cinta akan berkata: aku lebih hidup jutaan lagi.

Ketigabelas,

Buah kurma berasa manis, lezat, nikmat. Seperti itulah cinta. Cinta itu manis dalam ucapan dan tindakan. Main hakim sendiri, menuduh sesat, mengecap kafir, menyetempel bid’ah, tindak kekerasan. Kesemuanya itu adalah musuh cinta yang paling nyata. Bersiap siagalah, jangan lengah. Dan persiapkanlah untuk menghadapi musuh cinta dengan kekuatan apa saja yang engkau genggam dan kuda-kuda yang kau latih untuk berperang, menggetarkan dan menggeleparkan tubuh musuh cinta, musuhmu juga, musuh yang kerap menggurita kala malam tiba. Apa saja yang engkau persembahkan untuk cinta, tangan ghaib Cinta akan merengkuhmu hangat dalam dekapan yang tak terlupakan. Jika engkau sudah menyatu dalam diri cinta, niscaya engkau akan ditakjubkan dengan kekuatan yang maha, dialah tentara cinta yang tak dapat kau lihat kasat mata, tetapi dapat dirasakan kehadirannya, bersamanya melawan musuh Cinta. jika engkau gugur dalam menaklukkan musuh cinta, niscaya engkau akan dikubur bersama seribu bidadari. Pada hakikatnya engkau tidak mati, engkau tetap hidup abadi, engkau selalu diguyur rizki damai dari cahaya cinta. Cahaya cinta bagai pelita, bagai kaca, bagai mutiara, yang dikelilingi matahari, bintang gumintang, rembulan, seluruh cahaya menyatu untuk menyinari langit bumi, cahaya maha cahaya, cahaya cinta akan menuntun para pecinta perdamaian ke pelaminan cahaya.

“Sekarang banyak orang yang berusaha memadamkan cahaya cinta dengan menebar ranjau benci, dendam dan permusuhan. Apakah cahaya cinta bisa padam?”

“Tidak akan pernah padam. Mereka akan tenggelam oleh ombak kilau cahaya cinta.”

Keempatbelas,

Kurma adalah pohon paling tabah dan tahan terhadap serangan, terjangan, hempasan angin dan cuaca ganas. Begitulah cinta dan pecinta sejati tak akan pernah lapuk oleh dingin panas cuaca kehidupan; kemiskinan, kemalangan, kecemburuan. Tidak ada kapal yang tak digoyang badai. Pecinta sejati selalu tabah, sabar dan berihktiar mengakhiri penderitaan. Ia tak pernah berpangku tangan. Tangannya ia pergunakan untuk menggali bumi paling dasar meraup fosil-fosil daun, reranting, mayat kalajengking yang menjadi minyak bumi, menyelami laut paling dalam memagut mutiara, memungut dahan ranting kering untuk dijual ke pasar, mengeyam dedaunan menjadikannya atap rumah sederhana, merangkai kata tuk dijadikan sejuta sajak cinta, mengadon kata tuk dijelmakan menjadi cerita, menjumput tanah tuk dijadikan tembikar penawar sesak ruang kamar, mengupas kulit hewan tuk dijadikan hiasan, menguras genangan air semak belukar tuk dijadikan lahan padi dan tanam buah segar, menguliti batu tuk dijadikan tugu, menyayat kayu tuk dijadikan patung adiluhung, memetik setitik cahaya rembulan tuk dijadikan lilin, menyadap getah matahari menyulapnya menjadi energi pengganti, mengais kaleng-kaleng bekas di tong-tong sampah mendesainnya menjadi vas-vas bunga berkelas, mengayak-ngayak biji-biji pasir menemu sebutir demi sebutir intan emas permata, merajut senar menjadi jala menjaring ikan-ikan, menyulam benang menjadi kerajinan tangan warna-warni, menebang padang ilalang ladang terbentang menabur benih-benih kehidupan, menggauli tanah-tanah tandus menghembuskan nafas hidup menciduk bergentong-gentong air di sungai pinggir, menjinjing keranjang menuju hutan rindang memetik buah-buah dan pucuk-pucuk daun obat, merabuk kotoran-kotoran hewan dijadikan pupuk, memahat kayu jadi perahu berlayar mengarungi laut samudra menemu benua baru, memerah aren kelapa diolah jadi gula merah, berburu jejak arkeologis dikupaslah lembar-lembar sejarah digali timbun-timbun tanah, mendaur ulang koran-koran bekas menjadi kertas menuangkan ide dan resah menyebarkannya ke segala arah penjuru menyebrangi sungai laut samudra dan benua.

Ingatkah kau kisah Nabi besar Muhammad SAW yang semenjak kecil telah yatim piatu. Tak berbapak ibu. Tetapi Beliau tidak berpangku tangan dan mengemis belas kasihan kepada manusia. Dia menggembala domba di padang sahara. Dan ketika dewasa ia berkelana menjadi pedagang. Dengan bekerjalah Muhammad menjadi tuntunan ummat. Dia ingin mengajarkan kepada ummatnya bahwa harga dan nilai seseorang diukur dengan seberapa besar saham yang diberikan kepada kihidupan dan kemanusiaan. Atau seperti nabi Zakariyya, sang penjual kayu bakar ke pasar. Setiap hari pergi ke hutan. Mematahkan reranting kering. Membelah kayu. Mengikatnya menjadi satu. Kemudian dipikulnya di punggung. Berjalan selangkah demi selangkah. Tak mempedulikan keringat bersimbah. Ditukarnya dengan dirham, dinar atau segar buah. Mereka berdua tak mau dikalahkan dengan nasib. Mereka berdua tak mau berjalan di jalan-jalan seraya menengadahkan tangan. Mereka berdua tak mau berdoa saja, mengharap berkah dari langit, meratapi jerit pahit. Mereka berdua tak mau pasrah pada nasib, tak mau bersandar pada bantuan. Mereka berdua memeras keringat begitu deras, membanting tulang belulang begitu keras. Tuhan tidak akan pernah merubah keadaan jika manusia tidak ada keinginan untuk merubahnya. Tinta takdir tuhan tidak akan pernah menggores kertas jika tidak ada sentuhan nafas manusia.

Kelimabelas,

Makin tambah usianya, makin banyak buah dan manfaatnya. Begitu juga cinta, cinta semakin lama memberikan kehidupan dan penghidupan insan sepanjang zaman. Berbahagialah bagi yang bertambah usia cintanya, bertambah damai tentramnya. Cinta tak mengenal usia senja. Tidak mengenal kematian. Semuanya akan musnah kecuali cinta. Cintalah yang akan mengadili manusia: apa yang telah kau berikan untuk kehidupan? Kenapa engkau mengangkat pedang menabuh genderang perang? Kenapa kau biarkan rakyatmu lapar terkapar? Apa yang telah kau usahakan demi tegaknya perdamaian? Kita semua akan diinterograsi oleh cinta. Barang siapa yang sanggup menjawab tanpa gugup, ia akan berleha-leha ke surga, barang siapa yang gugup gemetaran, bersiaplah kita dilempar ke neraka, tempat bersarangnya kalajengking dan ular berbisa, dan barang siapa yang setengah gugup setengah sanggup, dipersilahkan mendiami gua antara surga dan neraka (baina manzilataini). Keselamatan ada pada bening cinta. Kedamaian tersimpan dalam cahaya cinta.

Keenambelas,

Jantung pohon kurma paling baik dan manis. Ini adalah keistimewaan khusus pohon kurma, tak dipunyai pohon pohon lain. Dan hati cinta selamanya berdetak, berdegup nafas kasih sayang dan perdamaian. Tidak ada yang mengalahkan manisnya cinta. Harta dan tahta tak mampu menandinginya. Walau kenikmatan seisi bumi dan langit disatukan, tak akan pernah menandingi kenikmatan cinta.

Ketujuhbelas,

Manfaatnya tak pernah berhenti meski kondisi tak merestui. Begitu juga cinta. Berkah cinta tetap merekah berbuah melimpah, walau cinta telah ditinggal sang empunya. Berkah cinta selamanya mengalir jernih di sungai, laut, samudra kehidupan. Air cinta tak akan pernah habis walau kemarau selalu menghijau dan bersemi sepanjang musim. Berkah cinta tak pernah terkuras meski sepanjang waktu diperas. Berkah cinta tak pernah punah walau sepanjang abad dilumat dimamah. Cinta akan terus mengalir seperti air, memberi kehidupan tetumbuhan, hewan-hewan dan membangun peradaban. Tidakkah engkau menyaksikan bagaimana sungai Nil menyalakan tungku kehidupan sepanjang abad. Ia tak pernah lelah mengabdikan hidupnya untuk kehidupan alam semesta. Ia tak pernah mengeluh dengan ulah tangan-tangan yang berusaha mencegah atau mematahkan langkah pengorbanannya. Ia tetap tegar dan kekar meski kering menjalari setiap musim. Ia tak akan pernah berhenti berbagi, karena bagi dia: berhenti berarti mati.

Ketujuhbelas,

Ketika manusia melemparinya dengan batu keras buas, ia justru meluruhkan buahnya yang segar memuas. Begitu juga dengan cinta. Ketika cinta disakiti-dilukai, ia menyajikan sepotong senyum terkulum seraya merapalkan doa-doa keselamatan buat manusia yang menyakitinya. Bila perlu tubuhnya diberikan untuk dicacah belah. Cinta itu seperti Yesus Kristus yang rela disalib demi kebahagiaan semua manusia. Cinta itu bagai Muhammad yang tabah dilempari batu dan kotoran. Cinta itu selayak Sidartha Gautama yang ihklas menyerahkan tubuhnya dilahap singa. Cinta itu seperti Mahatma Ghandi yang rela dicela dijajah, namun kata bijaknya mengepal ahimsa…ahimsa…ahimsa. Cinta itu seperti Ibu yang sabar mengandung-melahirkan-mendidik. Dan rela disakiti-didurhakai anaknya. Cinta tak mengenal balas dendam. Cinta tidak mengenal adu domba. Cinta tak mengenal silat lidah. Cinta tak mengenal sumpah serapah.

Kedelapanbelas,

Buahnya adalah seberkah-berkah buah di jagad raya mayapada. Kajian dan penelitihan kesehatan menyatakan bahwa dalam diri buah kurma mengandung berbagai macam vitamin dan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh manusia, seperti vitamin A, vitamin B kompleks, tiamin, riboflavin, niasin, zat besi, asam nikotinat, magnesium, potasium, kalsium.

Khasiat dan manfaat daging buah kurma:

  1. Kandungan karbohidrat (gula) nya menyumbangkan tenaga dalam tubuh manusia. Kandungan seratnya mempercepat rasa kenyang dan memperlambat rasa lapar.
  2. Unsur zat besi dan kalsiumnya adalah unsur yang terpenting bagi ibu dalam memproduksi air susu.
  3. Tamr (kurma kering) dengan kandungan kalsium dan zat besinya berfungsi untuk menguatkan sel-sel usus, membantu melancarkan saluran kencing karena mengandung serabut-serabut yang bertugas mengontrol laju gerak usus dan menguatkan rahim ketika melahirkan.
  4. Ruthab (kurma basah) dengan kandungan gula dan vitamin B1-nya sangat membantu untuk mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistolennya. Kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi.
  5. Mencegah terjadinya pendarahan bagi perempuan ketika melahirkan, mempercepat proses pengembalian posisi rahim seperti sedia kala sebelum waktu hamil berikutnya. Hal ini karena dalam kurma segar terkandung hormon yang menyerupai hormone oxytocine.
  6. Buah kurma memudahkan persalinan, membantu keselamatan sang Ibu dan Bayinya.
  7. Buah kurma kering atau basah dapat menenangkan sel-sel saraf melalui pengaruhnya terhadap kelenjar gondok.
  8. Buah kurma yang direbus dapat memperlancar saluran kencing.
  9. Buah kurma jenis ajwah dapat digunakan sebagai alat ruqyah dan mencegah dari gangguan jin.
  10. Buah kurma dapat mencegah stroke.
  11. Buah kurma kaya zat garam mineral yang menetralisasi asam.
  12. Dengan kandungan vitamin A-nya dapat memelihara kelembaban kejelian mata, penguat penglihatan, pertumbuhan tulang, metabolisme lemak, kekebalam terhadap infeksi, kesehatan kulit, menenangkan sel saraf.
  13. Zat alkanitas yang dikandung buah kurma menetralisir asam pada darah yang sering menyebabkan diabetes, rematik, ginjal, darah tinggi dan wasir.
  14. Daging kurma yang digiling dan diolah menjadi pudding, roti, kue bolu, biscuit atau diolah menjadi selai, gula, madu, cuka, alcohol, campuran untuk coklat batang dan jus.
  15. Jus kurma diminum sebagai pengganti sampanye versi non alkohol.
  16. Kandungan zat tanin-nya bermanfaat untuk mengobati penyakit usus, tenggorokan, flu, radang selaput lendir, dan obat sakit gigi.
  17. Buah kurma sebagai sumber nutrisi. Jumlah kalori yang terkandung dalam buah kurma jauh lebih tinggi dari buah pisang dan buah jeruk.
  18. Dalam bidang kecantikan, minyak kurma digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sabun dan produk kosmetik.
  19. Diet yang ditambah dengan mengomsusi buah kurma dapat cepat membakar kalori berlebihan. Setiap sebiji buah kurma mengurangi 3,470 kalori.

“Dan khasiat yang terpenting dari itu semua adalah…”

“Ayo untuk apa?”

“Untuk…?”

Ah, ayo jawab, kalau tidak…?”

“Kalau tidak kenapa?”

“Ayo pokoknya jawab…jawab…jawab…!” (ia memukuli dadaku).

“Jangan ngambek dan marah gitu dong, tapi kalau marah, tambah cantik aza, ayo marah lagi…”

Ah, pokoknya jawab…jawab…jawab…!”

“Bener deh, kalau marah, tambah cantik.”

“Dari dulu, tahu!”

Enggak tu, baru tahu tu.”

Aaa, ya sudah.”

“Untuk kesuburan, obat kuat, obat lemah syahwat…”

Aaaa, gitu saja pakai lama-lama segala, jahat…jahat…jahat…”(ia memukul-mukul dadaku, dan merebah).

“Caranya sebelum dimakan, lebih dahulu kurma yang dipetik langsung dari pohonnya, harus digerus sampai halus, kemudian ditelan dengan air putih yang telah direbus.”

“Lalu apa buah dari pohon cinta?”

“Buah cinta adalah kedamaian dan perasaan saling memiliki. Hari ini, kedamaian sulit ditemui. Sampai detik ini pertikaian dan peperangan tak pernah berhenti. Airmata, darah dan dendam selalu menyertai dan menghantui. Lembar-lembar perjanjian damai hanya sekedar basa-basi diplomasi. Sajak-sajak perdamaian yang diteriakkan para penyair hanya menjadi kata-kata yang berbusa mimpi dan ilusi. Dialog dan kerjasama antar sesama hanya menjadi kedok kebencian yang ditopengi-toleransi setengah hati. Semua bencana dan kemunafikan itu terlahir karena tiadanya rasa saling memiliki. Seandaianya manusia ketika menyakiti atau berbuat kerusakan di bumi berfikir sejenak saja: “O, ya, gereja itu juga milikku juga, aku tidak akan membakarnya”, “O, ya, masjid itu juga milikku juga, aku tidak akan merusaknya”, “O, ya, kefe-kafe di pantai itu juga milikku, aku tidak akan mengebomnya, aku juga ingin minum kopi atau nyantai di situ”, “O, ya, nyawa manusia itu juga nyawaku juga, aku tidak akan merenggutnya, aku akan menjaganya”. Perasaan saling memiliki itu menjauhkan manusia dari sikap membenci dan menyakiti, karena pada dasarnya yang dibenci dan disakiti adalah dirinya sendiri. Maka mulai sekarang kita harus berikrar dan berjanji pada diri: “Aku cinta kamu. Aku dan kamu adalah satu. Maka aku tidak akan membenci dan menyakitimu.”

“Berarti kita semua adalah bagai satu tubuh. Jika ada salah satu anggota tubuh yang sakit, anggota tubuh yang lainnya juga ikut merasakan derita yang menghimpit?”

“Benar, Tamara.”

Kesembilanbelas,

Nikah bunga. Kau tahukah bahwa buah kurma itu dihasilkan dari sebuah proses yang bernama “Perkawinan”? Bunga jantan dan bunga betina tidak akan pernah menghasilkan buah yang melimpah dan berkah tanpa proses perkawinan dan pembuahan. Tuhan menciptakan mahkluk berbeda-beda dan berpasang-pasang. Siang dan malam. Perempuan dan laki-laki. Jantan dan betina. Bahagia dan derita. Min dan plus. Lihatlah pohon kurma itu! Bandingkan kedua kurma itu! Pasti engkau akan mendapatkan perbedaan yang membedakan antar keduanya. Pohon kurma jantan memiliki tubuh lebih tinggi, berdaun keras dan menjulang ke langit, bunganya memiliki debu-debu halus untuk membuahi. Pohon kurma betina mempunyai ciri tubuh lebih rendah, berdaun lembut dan meliuk ke bawah, bunganya tidak memiliki debu-debu halus, tetapi ia punya rahim pengolah debu bunga dari si jantan. Siapakah yang menjadi penghulu untuk mengawinkan bunga jantan dan bunga betina? Adalah tangan manusia. Bukan hewan atau angin. Manusialah penghulu dan wali prosesi perkawinan bunga kurma. Setelah akad nikah dan ijab-qabul selesai, mereka boleh saling sentuh, cium, cumbu, berbulan madu. Madupun tumpah. Tersimpan dalam rahim. Air mani (debu bunga jantan) menjadi segumpal darah. Segumpal darah menjadi segumpal daging. Segumpal daging menjadi tulang-belulang. Tulang-belulang dibungkus dengan daging. Kemudian terbentuklah mahluk yang bernama buah kurma. Buah kurma berbentuk lonjong dengan ukuran 2-7,5 cm dengan warna yang bervariasi; coklat, coklat gelap, merah, setengah merah, kuning muda, kuning matang dan berbiji.

“Dan manusia juga seperti pohon kurma. Yang membutuhkan ikatan pernikahan untuk melahirkan keturunan. Yang bertujuan untuk menjaga eksistesi manusia supaya tidak terancam kepunahan. Seperti kita berdua. Bukankah begitu, sayang?”

“Benar, sayangku.”

“Tapi, tidak semua manusia di dunia menginginkan hal itu…”

“Maksudmu?”

“Banyak dari kita yang enggan menikah sampai mati atau menikah sesama jenis, perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki…”

“Homo atau lesbi?”

“Betul sekali…”

“Terus apa yang hendak engkau pijak dari fenomena ini?”

“Apakah itu bukan penyakit atau kelainan?”

Manisku, pernikahan adalah sebuah pilihan. Bukan sebuah paksaan atau kewajiban. Setiap manusia memiliki banyak alasan kenapa memilih jalan itu. Manusia mengerti apa yang terbaik buat hidupnya. Dan pernikahan antar sesama jenis juga sebuah pilihan. Itu bukan kelainan. Kesalahan terbesar manusia adalah terlalu ikut campur dalam kehidupan manusia yang lain. Merasa menjadi tuhan dan hakim; menyalahkan yang tidak sesuai dengannya, melecehkan dan mengisolasi manusia yang dianggap menyimpang dari kebiasaan. Bukankah di dunia ini banyak pengecualian-pengecualian? Tidak selamanya tertawa bermakna bahagia. Tidak selamanya tangis bermakna sedih. Tidak selamanya luka itu derita. Tidak selamanya hitam itu hitam. Tidak selamanya putih itu putih. Tidak selamanya homo atau lesbi itu mengingkari kodrat ilahi. Bisa jadi itu adalah berkah dari Tuhan yang diturunkan sebagai penyeimbang bumi. Bagaiamana jadinya dunia kalau dipenuhi dua jenis manusia saja; perempuan dan laki-laki. Mereka semua ingin menikah dengan yang berbeda jenis. Berapa anak yang berlahiran menyesak bumi. Kehadiran mereka yang homo atau lesbi bisa menjadi solusi. Solusi mengurangi kenaikan jumlah penduduk yang membludak tak terkendali. Dan mereka juga bisa menjadi penyelamat dan penyantun anak-anak lahir yang tidak diharapkan kehadirannya atau memungut anak-anak jalanan yang terlantar, diadopsi. Perlu ditegaskan bahwa menurut pandangan psiko-medis, homoseksual (homo atau lesbi) tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan atau penyakit jiwa ataupun sebagai suatu penyimpangan (deviasi) seksual. Karena homoseksualitas merupakan suatu fenomena manifestasi seksual manusia, seperti juga heteroseksualitas (hubungan seks antar jenis kelamin yang berbeda) atau biseksualitas (hubungan seks dengan sesama dan antar jenis kelamin berbeda). Dilihat dari jenis-jenis homoseksual atau lesbian berdasarkan penyebabnya ada tiga; yaitu, yang pertama, biogenik yaitu homoseksual yang disebabkan oleh kelainan di otak atau kelainan genetik. Gen ini sudah melekat dengan eksistensi hidupnya. Mereka sejak lahir sudah membawa kecendrungan untuk menyukai orang lain yang sejenis, sehingga benar-benar ini di luar kontrol dan keinginan sadar mereka. Kedua, psikogenetik yaitu homoseksual atau lesbian yang disebabkan oleh kesalahan dalam pola asuh atau mereka mengalami pengalaman dalam hidupnya yang mempengaruhi orientsi seksualnya di kemudian hari. kesalahan asuh adalah ketidaktegasan dalam mengorientasikan sejak dini kecendrungan perilaku berdasarkan jenis kelamin. Dalam hal ini misalnya anak laki-laki tetapi diperlakukan seperti anak perempuan atau sebaliknya. Pengalaman yang dapat membentuk perilaku homo atau lesbi diantaranya adalah pengalaman pernah disodomi atau waktu kecil anak itu melakukan coba-coba melakukan hubungan seks dengan temannya yang sejenis. Ketiga, sosiogenetik yaitu orientasi seksual yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kultur dan sosial budaya. Kaum Nabi Luth yang homo adalah contoh dalam sejarah umat manusia bagaiamana faktor sosial-budaya homoseksul oriented mempengaruhi orang yang ada dalam lingkungan tersebut untuk berperilaku yang sama. Kita sebagai sesama manusia tidak boleh membeda-bedakan dalam bergaul atau menjalin hubungan kemanusian untuk memakmurkan bumi dengan menebarkan cinta, kasih sayang dan perdamaian. Tuhan tidak melihat manusia dari jenis kelamin atau orientasi seksnya. Tuhan hanya melihat aksi kebajikan yang kita persembahkan untuk kehidupan dan peradaban. Apakah mereka tidak sebaiknya kita ajak kembali meniti tali ilahi?

Tamara, sudah aku katakan bahwa itu adalah sebuah pilihan. Mereka sadar dengan konsekuensi yang akan didapatkan. Apakah mereka hadir di dunia untuk berbuat kerusakan di muka bumi? Tidak!!! Mereka hanya beda dari segi orientasi seksnya, sedangkan sisi yang lainnya seperti manusia biasa yang punya perasaan; ingin dihargai, ingin dicintai dan mencintai. Ada dua jenis pelaku homoseksual atau lesbian; yaitu, yang pertama egosintonik yaitu para pelaku homoseksual atau lesbian yang tidak merasa ada penyimpangan dan mereka menjalaninya dengan wajar-wajar saja. Mereka adalah yang sudah merasa cocok dengan orientasi seksualnya. Yang kedua ego distonik yaitu pelaku homoseksual atau lesbian yang merasa tindakannya adalah sebuah penyimpangan dan mereka berusaha untuk meninggalkannya. Mungkin jenis yang kedua ini kita bisa mengajaknya kembali ke kehidupan yang normal, dengan jalan memberikan pengarahan dan pendampingan (advokasi) secara berkesinambungan, membentuk pusat-pusat rehabilitasi kaum homoseksual atau lesbian atau juga melakukan pencegahan terhadap upaya-upaya kaum homoseksual atau lesbian membentuk kelompok atau organisasi. Tapi kesemua langkah-langkah itu bukan pemaksaan. Itu adalah sebuah penawaran, yang bisa ditolak atau diterima. Kita tetap harus menghormati dan mencintai mereka. Mereka juga manusia!!!

Keduapuluh,

Setiap menelaah pohon kurma atau memakan buahnya, secara tidak sadar kita dituntun untuk memasuki sebuah lorong sejarah perempuan suci yang melahirkan seorang putra tanpa bapa. Siapakah dia? Tidak lain adalah Bunda Maria dan anaknya Isa atau Yesus Kristus. Tuhan telah mengabadikan jejak tapak sejarah mereka berdua dalam kitab suci Al-Quran dan Injil. Sungguh betapa agung dan mulya mereka berdua. Tuhan telah menurunkan pohon kurma dari langit sebagai bukti kecintaan Tuhan terhadapnya.

Injil mengabadikan kisah hidup Maria cukup indah, penuh misteri dan di bawah cahaya ilahi di kitab perjanjian lama dan kitab perjanjian baru. Dialah bunda Alloh yang melahirkan Yesus, sang penebus.

Kedudukan Maria dalam keyakinan gereja Roma Katolik adalah jauh di atas malaikat dan manusia. Ia luput dari dosa perorangan. Dalam kehidupannya pun ia tetap suci dan tetap perawan. Santo Perawan Maria diperingati setiap tanggal 8 Desember sebagai bunda Tuhan yang tidak bernoda, setiap 25 Maret karena ia menerima kabar gembira mengandungkan Yesus Sang Penebus, dan pada setiap 25 Desember bersamaan dengan peringatan hari Natal.

Ajaran bahwa Maria dikandung tanpa dosa dan tetap perawan ketika mengandung memberi pengertian bahwa keinginan untuk berhubungan intim merupakan inti dosa. Maria tidak punya keinginan demikian, sehingga sesudah Yesus lahir ia tidak pernah mempunyai anak lagi. Begitu pula setelah Ia wafat, ia diangkat ke surga. Maria dianggap sebagai penghubung antara dunia, gereja dan jiwa manusia. Ini semua bermakna bahwa Maria menjadi juru selamat kerena melahirkan Yesus. Menurut ajaran Roma Katolik, Santo Yusuf hanya sebagai Bapa Angkat Yesus, karena Santo perawan Maria mengandung dari Roh Kudus.

Dan Yesus Kristus adalah duta welas asih bagi bumi dan manusia sejagad raya. Dalam khutbah fenomenal dan monumental yang dikenal sebagai ajaran “Khutbah di bukit”, Yesus menghimbau para pendengarnya untuk tunduk kepada cara-cara Alloh. Dalam uraiannya, Yesus mengeluarkan statemen yang luar biasa:

“Kasihinilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiayamu.” (Matius 5: 44)

“Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka kerjakan.” (Lukas 23: 34)

“Darimanakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu.” (Yohanes 4: 1)

“Sabarlah kamu terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain jika yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu. Seharusnya kamu juga berbuat demikian.” (Matius 18: 21-25)

“Dan marilah kita saling memperhatikan, supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik.” (Ibrani 10: 24)

“Barang siapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain.” (Lukas 6: 29)

“Berbahagialah orang yang mendapat hikmah. Ia menjadi pohon kehidupan bagi yang memegangnya.” (Amsal 3: 13, 18)

“Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah. Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka.” (Mazmur 41: 2)

“Alloh adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, maka ia tetap berada dalam Alloh dan Alloh di dalam dia.” (Yohanes 4: 16)

“Janganlah engkau membenci saudaramu, melainkan sayangilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” (Imamat 19:17)

“Kasihanilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37-38 )

“Sungguh alangkah baik dan indahnya apabila saudara-saudara diam dan hidup bersama dengan rukun.” (Mazmur 133:1)

Ayat-ayat Injil di atas adalah solusi terbaik untuk mengatasi berbagai masalah dan konflik yang melanda dunia abad ini; kebencian, permusuhan dan peperangan.

“Ternyata ajaran Yesus Kristus itu sangat bagus, sungguh indah dan mengajarkan perdamaian, sayang.”

Itulah kenyataannya. Semua agama mengajarkan sikap anti kekerasan dan menganjurkan perdamaian. Dalam Al-Quran sendiri banyak ayat-ayat yang mengajak manusia untuk lebih condong pada kemaafan dan perdamaian, tetapi ayat-ayat itu tenggelam oleh ayat-ayat jihad yang disalah-artikan. Akibat dari pemahaman ayat jihad yang tidak akurat itu, maka Islam berwajah muram, kusam, kejam dan bengis. Kita harus menyeruakan jihad yang lebih manis. Jihad adalah meniupkan ruh kehidupan. Jihad adalah memenggal kepala kemiskinan dan kebodohan. Jihad adalah merawat orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan dan pengobatan. Jihad adalah memberikan ketenangan dan perlindungan orang-orang yang diserang ketakutan. Jihad adalah memberantas wabah korupsi. Jihad adalah menjinakkan kata untuk dijadikan puisi perdamaian. Jihad adalah “I Love You” bukan “I Hate You and I Will Kill You”.

“Tamara ingin berjihad mencintaimu. Akan Tamara kerahkan segala daya untuk membahagiakanmu, wahai cintaku.”

“Aku juga. Siapa yang mati di jalan cinta, maka ia masuk surga.”

“Ada yang lebih penting dari itu, Tamara.”

“Apakah itu, apakah boleh Tamara tahu?”

Ya boleh lah. Buah kurma mengajarkan kita untuk ziarah sejarah agama-agama. Setiap pemeluk agama-agama layak mempelajari sejarah agama-agama. Seorang Muslim tidak melulu belajar sejarah agama Islam, tetapi juga wajib mempelajari sejarah agama Kristiani, begitu pula sebaliknya.

“Apakah yang diperoleh dari proses pembelajaran timbal balik itu?”

Buah yang akan kita peroleh adalah: dapat mengetahui kekayaan agama-agama, menerima yang beda yang lain, menumbuhkan rasa hormat terhadap agama-agama lain atau menumbuhkan perasaan santun dengan yang lain, melahirkan kesadaran akan sia-sianya hidup penuh konflik dan polemik di masa silam antara pemeluk agama-agama yang berbeda atau yang intern satu agama, mengikis habis exclusivism dan intolerance, merasakan bahwa semua pemeluk agama adalah satu, menuju Yang Satu. Seperti apa yang disabdakan Bhagavan Das: “Kita semua para penganut agama akan bertemu dalam the road of life yang sama, yang datang dari jauh, yang datang dari dekat, semua kelaparan dan kehausan, semua membutuhkan roti dan air kehidupan, yang hanya bisa didapat melalui kesatuan dengan The Supreme Spirit”.

Semua agama mengajarkan cinta dan perdamaian. Semua agama mengajarkan pengorbanan untuk mendapatkan cinta Tuhan. Semua agama membenci kekerasan. Semua agama mengutuk pertikaian. Semua agama mendambakan manusia hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian. Semua agama menganjurkan pemeluknya: make love, make peace, make poems not bombs.

Keduapuluhsatu,

Inilah pengajaran cintaku yang terakhir. Para mufassir Al-Quran menafsirkan metafora pohon pada Surat Ibarahim: 24-25 adalah pohon kurma, seperti yang kamu tebak juga. Tetapi Sunan Kalijaga, penyebar agama Islam di Jawa, menafsirkan metafora pohon pada Surat Ibarahim: 24-25 itu sebagai pohon belimbing. Bukan pohon kurma.

Wah. Berani sekali sunan Kalijaga itu. Apakah ia tidak takut dengan kecaman mainstream ulama tafsir.”

“Itulah hebatnya Sunan Kalijaga. Mari kita kupas alur pikir tafsir Sunan Kalijaga: “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Tuhan telah membuat perumpamaan untaian kata yang indah (kalimatun thayyibah), seperti pohon yang baik (syajaratun thayyibah), akarnya tegak teguh (asluha stabit) dan cabangnya menjulang ke langit (far’uha fis sama’)? Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim (tu’ti ukulaha kulla hin) dengan seizin Tuhannya, Tuhan membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka senantiasa tidak lupa”

Di ayat itu ada keywords: kalimatun thayyibah (perumpamaan untaian kata yang indah), syajaratun thayyibah (pohon yang baik), asluha stabit (akarnya tegak teguh), far’uha fis sama’ (cabangnya menjulang ke langit), dan tu’ti ukulaha kulla hin (memberikan buahnya pada setiap musim).

Pohon belimbing ternyata memiliki karakteristik-karakteristik yang dimiliki dalam metafora pohon dalam ayat itu. Karena kalau pohon itu diartikan ‘pohon kurma’, maka akan terjadi miss conseption dan miss understanding bagi muslim Jawa. Pohon kurma bagi muslim Jawa adalah pohon imajinatif dan abstrak. Langkah berani Sunan Kalijaga bertujuan untuk membumikan Al-Quran di kalangan non-Arab.

“Berarti sebuah ayat itu multi tafsir. Tidak ada yang memiliki otoritas penuh dalam menafsir. Tetapi di zaman ini banyak ulama yang mengaku-ngaku sebagai ‘juru bicara Tuhan’ yang memaksakan tafsir tungggal, tafsirnyalah yang paling benar, yang lainnya salah, buang saja di kotak sampah.”

“Sebuah kesimpulan yang mendekati kebenaran. Memang sekarang ada gelombang yang menyeragamkan penafsiran. Umat dipaksa memakan mentah-mentah (taken from granted, bi la kaifa) tafsir yang telah disajikan. Gelagat ini sudah dimulai sejak ribuan tahun silam. Kenapa hanya empat mahzab fiqh (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali) saja yang mengudara di keseharian muslim? Kenapa mahzab fiqh yang lainnya tenggelam? Lari ke mana mahzab Ja’fari, As-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Auzai, At-Thobari, dan Ad-Dzhohiri? Kenapa golongan Sunni yang merajai bumi? Kenapa aliran Syiah kekurangan jamaah? Kenapa karya-karya Imam Ghozali mengakar di hati umat Islam? Kenapa karya-karya Ibnu Arabi tenggelam karam?…”

“Apakah yang menyebabkan mahzab atau golongan itu ada yang timbul dan ada yang tenggelam?”

Adalah kekuasaan dan penguasa. Sejarah membuktikan bahwa mahzab atau golongan yang langgeng sampai sekarang tidak lepas dari tangan penguasa. Para penguasa itu memanfaatkan kekuasaannya untuk melegitimasi dan mendawamkan singgasananya dengan menarik atau memberikan kenyamanan dan kelapangan kepada para pemimpin agama dan pengikutnya. Kemudian mereka melakukan ‘kontrak pembagian wilayah kuasa: ‘wilayah raja dan wilayah agama’. Mahzab Hanafi berkembang ketika Abu Yusuf, murid Abu Hanifah, diangkat menjadi qadhi (hakim) dalam pemerintahan tiga khilafah Abbasiyah: al-mahdi, al-hadi, dan ar-rasyid. Mahzab Maliki berkembang di khilafah Timur atas dukungan al-manshur dan di khilafah Barat atas dukungan Yahya bin Yahya ketika diangkat menjadi qadhi oleh para kholifah Andalusia. Di Afrika, al-mu’iz Badis mewajibkan seluruh penduduk untuk mengikuti mahzab Maliki. Mahzab Syafii membesar di Mesir ketika Shalahuddin al-ayyubi merebut negeri itu. Mahzab Hanbali menjadi kuat pada masa pemerintahan al-mutawakkil. Waktu itu al-mutawakkil tidak mengangkat seorang qadhi kecuali dengan persetujuan Imam Ahmad ibn Hanbali.

Aliran Syiah terdepak oleh tingkah polah ulama Sunni yang memborbardir umat bahwa aliran Syiah itu telah terpisah dari aqidah yang syah. Karya-karya Ibnu Arabi tenggelam di lautan pemikiran Muslim karena ulama-ulama yang sejalan dengan pohon pemikiran Imam Ghazali sepakat menganggap pemikiran Ibnu Arabi itu sesat dan menyesatkan.

“Jadi, kuasa dan penguasa itu adalah faktor yang utama dan terpenting dalam penyebaran dan tetap eksisnya sebuah mahzab atau golongan.”

Itulah kenyataan pahit yang harus ditelan. Sampai detik ini banyak penguasa yang ‘main mata’ dengan ulama. Penguasa menawarkan kedudukan dan kenyamanan. Ulama menjajakan firman Tuhan. Firman Tuhan diperjualbelikan, didagangkan, dilelang, siapa yang banyak uang, dialah yang menang.

Sungguh menyedihkan dan memiris hati; ayat Tuhan diperjualbelikan, ayat Tuhan ditunggangi untuk mendapatkan kenikmatan duniawi. Barangkali ayat-ayat Ilahi ini sesuai dengan fenomena yang kau sebutkan tadi:

“Dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayatKU dengan harga rendah, dan hanya kepada AKU lah kamu harus bertaqwa.” Qs. Al-Baqoroh 2: 41

“Lalu dikatakannya : “Ini dari Alloh”, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu, maka kecelakaan besarlah bagi mereka” Qs. Al-Baqoroh 2: 79

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sebenarnya tidak memakan ke dalam perutnya melainkan ke dalam perutnya bara api, dan Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang pedih” Qs. Al-Baqoroh 2:174

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Tuhan dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang murah, mereka itu tidak mendapat pahala di akhirat, dan Alloh tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak pula mensucikan mereka, bagi mereka azab yang pedih” Qs. Ali Imran 3:77

“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab yaitu: “Hendaknya kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang rendah. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima” Qs. Ali Imran 3: 187

“Dan janganlah kamu menukar ayat-ayatKU dengan harga yang murah” Qs. Al-Maidah 6:44

“Mereka menukarkan ayat-ayat Tuhan dengan harga yang rendah, lalu mereka menghalangi manusia dari jalan Tuhan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu” Qs. At-taubah 10:9

“Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Alloh dengan harga yang murah. Sesungguhnya apa yang ada di sisi Alloh, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” Qs. An-Nahl 14: 95.

“Doakan aku supaya tidak termasuk ke dalam orang yang termaktub dalam ayat-ayat Ilahi yang kau bacakan tadi.”

“Doa kebaikan dan keselamatan akan selalu kulantunkan buat orang yang kusayang sepanjang zaman.”

“Terima kasih, sayang. I Love You.”

I love You to. Jadikan aku pohon kurmamu.”

– – –

Syaiful Alim
Novelis, Sarjana Syariah International University of Africa, Khartoum, Sudan.

2009-2010


%d blogger menyukai ini: