Sebuah Klarifikasi

Oleh Ade Anita

 

APA yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh manusia? Jujur, semula saya merasa bahwa tidak ada yang salah dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia. Berpikir adalah sebuah keharusan; karena dari sebuah proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itulah maka seseorang bisa mengembangkan sebuah pemahaman baru akan sebuah sesuatu. Dari proses berpikir yang dilakukannya, maka seseorang bisa memperoleh peningkatan kemampuan menguasai sesuatu; dia juga bisa menjauhkan sebuah kesalah pahaman; bisa mengenyahkan sebuah prasangka dan yang lebih penting lagi adalah, bisa memjauhkan dirinya dari sebuah perbuatan yang merugikan diri sendiri dan diri orang lain yang ada di sekitarnya.

Jadi, apakah seluruh proses berpikir yang dilakukan oleh seorang manusia itu pasti membawanya kepada sebuah kebenaran? Jawabnya, belum tentu. Jika seseorang mengembangkan sebuah cara berpikir melalui sebuah sudut pandang yang salah, maka bisa jadi dia justru akan terseret ke arah kesalahan yang lebih besar lagi.

Darimana sebuah kesalahan bisa terjadi dan menimpa seseorang yang sedang melakukan proses berpikir? Jawabnya ada di buku-buku yang bisa dibeli dan dibaca oleh banyak orang. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Tapi sebuah tulisan yang dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga biasa. Benar-benar seorang ibu rumah tangga yang bahkan sudah terlalu lama sekali tidak pernah lagi membuka buku-buku pelajaran sekolah kecuali ketika dia membantu anak-anaknya belajar di rumah.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu anak perempuan ibu rumah tangga tersebut (baca: ade anita, yaitu saya sendiri) yang baru berusia empat (4) tahun, sedang bersenandung dengan lucunya. Dia menyanyikan lagu Naik Delman.

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota. Naik delman istimewa kududuk di muka. Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja.

Lagu berhenti sampai di situ. Lalu, putri bungsu saya itu datang ke pangkuan saya dengan wajah serius dan kening berkerut. Dia bertanya dengan polosnya:

“Ibu, kenapa aku harus duduk di muka? Duduk di muka itu kan nggak sopan ya bu?”

Mendengar pertanyaan polosnya ini, saya hampir saja tertawa terbahak-bahak tapi wajah polos dan super duper serius yang diperlihatkan oleh putri bungsu saya itu mengurungkan niat saya. Saya tahu, dia melontarkan pertanyaan tersebut karena dalam kepalanya, dia melakukan sebuah proses berpikir seiring dengan lantunan syair lagu yang dia nyanyikan. Akhirnya, saya pun menghabiskan sore dengan melakukan perbincangan ringan dengan putri bungsu saya tersebut. Bahwa dalam bahasa Indonesia, ada bentuk sinonim yang memililki arti beberapa kata yang berbeda memiliki arti yang sama. Sebuah proses belajar pasti akan menemukan kesalahan di awal-awal pemahamannya. Karena itu saya bisa memahami ketidak mengertian putri bungsu saya itu.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari; sebuah kesalahan serupa sering kali terjadi pada diri kita. Kurangnya pemahaman akan sesuatu, hanya mengetahui sebagian saja dari sebuah informasi yang skalanya luas, keengganan untuk bertanya mencari kebenaran, rasa malas untuk bertanya pada narasumber yang asli, keinginan untuk mencari popularitas dengan mengangkat sisi yang kontroversial dari sesuatu adalah sebagian alasan dari terjadinya sebuah kesalahan dalam proses berpikir seseorang. Termasuk sebuah peristiwa yang menimpa saya baru-baru ini. Sehari setelah saya menuliskan sebuah status di facebook yang terkait dengan niat saya untuk mengucapkan terima kasih pada teman-teman.

Peristiwanya bermula beberapa waktu yang lalu. Beberapa teman yang sama-sama memiliki hobi menulis, bertanya pada saya apa yang saya lakukan untuk mencari ide ketika tiba-tiba merasa kehilangan kemampuan untuk menulis. Satu persatu pada mereka saya berikan jawaban disertai contoh. Tapi, karena beberapa orang kemudian menanyakan hal yang sama berulang kali; maka saya pun ingin menuliskannya dalam sebuah tulisan saja. Niatnya untuk berbagi cara menikmati tulisan sambil terus mengasah kemampuan untuk memahami sesuatu. Karena saya amat percaya, sebuah ide muncul karena saratnya pemahaman yang kita peroleh dari proses berpikir yang kita lakukan. Itulah sebabnya saya pun mulai menuliskan sebuah rangkaian tulisan berseri.

Seri pertama sudah keluar di notes : Begini cara saya menikmati sebuah tulisan (1)

Ada beberapa serial lanjutan yang ingin saya share (bagi) dengan teman-teman. Beberapa masih belum bisa dishare dan dipublish karena masih menunggu ijin dari notes yang ingin saya copy paste untuk dijadikan contoh tulisan yang bisa dijadikan contoh belajar menggali ide dan belajar menulis yang baik (saya bahkan meminta izin pada seorang teman saya, karena akan meng-copas puisinya dan akan meletakkannya sebagai sebuah contoh puisi yang tidak terlalu bagus dan meminta maaf karena pasti saya akan melontarkan sebuah kritik pedas pada puisinya. Alhamdulillah teman saya itu bersedia dikritik dan tidak keberatan puisinya dijadikan contoh). Saya senang dengan sikap besar yang ditunjukkan oleh teman-teman saya itu. Saya juga senang karena banyak teman-teman yang bersedia membagi tulisannya untuk niat copas belajar nulis saya tersebut. Sayapun bersemangat. Begitu bersemangatnya saya untuk berbagi, maka sayapun mengucapkan rasa terima kasih pada teman-teman melalui status facebook yang berbunyi.

“Ternyata.. notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku.. gpp ya… biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri.”

Sayangnya, hal ini ternyata dipahami salah oleh seorang teman saya. Sedih memang. Terlebih karena teman saya tersebut tidak menanyakan terlebih dahulu pada saya, apa maksud status facebook saya tersebut. Tapi sudahlah. Dengan ini saya melakukan klarifikasi dan semoga kesalah pahaman tersebut bisa segera selesai. Saya minta maaf. Tulus hati saya mengajukan permintaan maaf pada siapa saja yang salah sangka dengan apa yang saya lakukan.

Saya tidak peduli apakah kalian akan memaafkan saya atau tidak tapi saya sudah memaafkan kalian semua.

Tuduhan kalian amat kejam sebenarnya. Saya tidak pernah mengaku-aku karya orang lain sebagai karya saya. Bahkan; untuk ilustrasi dari sebuah tulisan saya sendiripun, saya tidak pernah mengambil hasil gambar atau hasil foto milik orang lain tanpa izin mereka. Itu sebabnya saya selalu berusaha untuk menggambar sendiri semua ilustrasi yang saya butuhkan untuk mendukung notes saya (meski itu artinya notes saya tampil begitu sederhana; tapi itu semua hasil karya saya sendiri). Saya tidak pernah menjadi seorang plagiat, pencuri ide, korupsi karya, penjahat sastra, konglomerat hitam di dunia penulisan atau apapun bukan karena suami saya seorang terdidik, pendidik yang harus memberi contoh pada didikannya; tapi karena saya seorang muslimah yang saat ini menjadi seorang ibu rumah tangga dari tiga orang anak. Ibu dari anak-anak yang kelak akan menjadi generasi yang menegakkan negara ini dari berbagai hantaman dan benturan negara lain yang saling berebut tempat untuk menjadi terhormat di atas dunia. Ibu dari anak-anak yang insya Allah akan menjadi salah satu pemegang panji kebesaran agama Islam (agama saya). Ibu dari anak-anak yang amat sangat saya harapkan bisa menjadi pemimpin masa depan yang adil, jujur dan mengayomi orang lain.

Jakarta, 5 Mei 2010

[]

berikut notes dari mas tetet yang menurut saya muncul karena salah pengertian.

TAK HABIS PIKIR

[Today at 06:00]

Ade Anita menulis begini:

“Ternyata . . . notes itu bisa menjadi sebuah buku besar yang menyenangkan. Terima kasih ya teman2 yang sudah bersedia membagi isi notesnya padaku. Beberapa aku copas untuk aku buatkan klipping di notesku . . gpp ya . . . biar aku bisa menikmatinya dengan caraku sendiri”.

Saya geleng kepala, mengelus dada, memijit kening; tak habis pikir, ini etika apa?

Di Tepi Tali Kutang

Salam Hormat

TETET SRIE WD

JANTUK; Bagian akhir dari Topeng Betawi disebut Jantuk. Adegan ini merupakan intisari ceritera berupa renungan, nasehat, instrospeksi, agar manusia menyadari batas2 kemampuannya. Dari kesenian rakyat kita bisa belajar banyak etika.
Foto; Tetet Srie WD.

Rian Garyati Etika

.. Entah……… Hemmmm……..

Budhi Setyawan

mas tetet, perlu ditanyakan ke ade anita itu, dalam meng-copas tulisan2 itu, dengan mencantumkan nama penulis/pengarangnya nggak? koq jadi inget ttg geguritan saya yang telah menyebar ke banyak web & blog itu. banyak yang tanpa nama saya, & dan ada yg dengan nama orang lain. …. tumut prihatin mas….

Asrul Irfanto

senada dengan pak Budhi, seharusnya mencantumkan nama penulis/pengarang sebuah karya yang dicopas, entah itu untuk konsumsi pribadi ataupun publik.
salam hormat

M Djoko Yuwono

guritan dan puisi2 saya juga dicopas di blog2 entah milik siapa gak disebutin penciptanya… bikin males ngeposting karya2 kreatif di dunia maya..

Qur’anul Hidayat

Ah, jadi ngeri dengernya mas Teted. .
Smga bisa lbh hati-hati

Elis Kurniasih

Boten ngertos ah, teu langkung wae

Tetet Srie Wd

@Rian Garyati; Yes, hmmmm . . serem kan? Thanks. @Budhi Setyawan; Yes, di salah satu blog saya baca karya anda, RON GARING, nama penulisnya adalah Narto. Mungkinkah itu nama samaran mas? @Asrul Irfanto; Yes, saya juga setuju Pak Asrul, salam hormat. @M. Djoko Yuwono; Yes, waahh . . rupanya sampeyan mengalami juga mas? Duh duh duh . . salam. @Qur’anul Hidayat; Yes, memang ngeri, apalagi jika itu dilakukan orang berpendidikan mas. Ngeri dan serem!

Dinda Natasya DrCinta Pertama

Ikut Sharing Mas, hehe kok ada ya orang yang malah bangga seolah itu karyanya padahal penulis aslinya berdiri tepat didepannya.
Hehehe, ironis.
Status saya sering muncul ditempat lain beberapa saat setelah diposting.
Kadang2 kata2 yang saya sampaikan diudara, bsk sudah muncul distatus orang. … See more

Susi Maelasari

koq bs sampe gt yah,semuakan ada kode etiknya,mbok ya di jelasin aja secara gamblang,jd gak ngambang…sukses terus mas Tetet 🙂

Putri Suryandari

Itulah dunia cyber, dunia tanpa batas ruang dan waktu, sehingga etikapun dianggap tak ada. Memang perlu di buat peraturan penulisan dan pengcopyan dari internet, biar gak mudah melakukan pembajakan tanpa merasa bersalah.

Sandra Palupi

Tulisan diatas itu kelihatan bahwa Ade Anita mengerti bahwa apa yang dilakukannya ngawur, tapi diteruskan saja dengan enteng dan egois, seolah itu bukan masalah besar bagi pembuat karya.

Kang Arief

tak mengurangi kehormatan andaikata mau menulis:
terinspirasi dari, dikutip dari, diambil dari, kolaborasi dengan dsb,mungkin benar mbak sandra tak merasa itu “bukan masalah besar bagi pembuat karya”

Uhuy Bogel

Euy … nyata depan mata terbaca, inilah dunia semoga diri menyadari, … sukses selalu Mas Tetet…

… salam hormat …

Tetet Srie Wd

@Dinda Natasya DrCinta Pertama; Yes, kebanggaan, termasuk bagaimana proses dan caranya, memang milik dan menjadi hak setiap orang. Saya sagat suka jiwa besarmu; anggap saja menyemai benih, walau bukan kita yang panen jeng.@Susi Maelasari; Yes, kode etiknya ada tapi etikanya yang bisa jadi gak ada mBak. @Putri Suryandari; Yes, etika memang sering dianggap tidak ada mBak. Hikss.

Tetet Srie Wd

@Sandra Palupi; Yes, di situlah bedanya antara pencipta dengan tukang copas. Yang satu punya tanggung jawab, yang lain bermain di antara tanggung jawab. Salam hormat. @Kang Arief; Yes, terima kasih berkenan memberikan pencerahan. Salam hormat. @Uhuy Bogel Euy; Yes, dunia bulat dan berputar . . . he he he. Terima kasih atensi dan komennya, salam hormat.

Djuwarsih Mukhlisin

Saya juga tak habis pikir pak Tetet, dapatkah bila “hanya” dinikmati sendiri dipertanggungjawabkan siapa yg punya karya ? Sedangkan dalam membuat karya, kita selalu tak bertemu dengan yg namanya ilham, dan ilham itulah hak istimewa pada isi otak dan hati manusia yg mahal harganya…makanya bila kita menemukan plagiat..yg terasa adalah hati kita tersakiti…

Awan Hitam

ya mas tetet….semoga yang bersangkutan di beri pencerahan untuknya…semoga dirimu selalu berkarya dan kreatif selalu…
Salam hangat untukmu ..
Hormatku

Mas Bowiebraggi 把然

klau jaman sekrng, itu namanya ‘etika bajul’… dan bnyak bajul di mana mana’… waspadai’…

Ade Anita

saya ade anita. Saya sudah menulis sejak lama sekali. Bisa mas tetet sebutkan, sebuah saja karya tulisan saya yang merupakan hasil membajak karya orang lain? Bisa mas tetet sebutkan satus aja karya tulisan saya yang merupakan hasil meng-aku-aku tulisan orang lain?

Demi Allah, DEMI ALLAH, saya tidak seperti saya semua orang di komentar ini tuduhkan. Saya tidak pernah menjadikan menulis sebagai ladang untuk mencari rizki. Saya menulis karena saya senang menulis dan ingin menjadikan hobi saya ini sebagai lahan untuk berdakwah (itu sebabnya saya sering protes pada mas tetet yang sering menggunakan kata seperti kelamin, kutang, dll karena menurut saya itu tidak sopan). Apakah mungkin saya yang bercita-cita untuk menjadikan kegiatan menulis ini sebagai bagian dari ibadah menghiasinya dengan sesuatu yang kotor dan tidak senonoh dan bahkan bertentangan dengan agama Islam yang saya yakin kebenaranya?

kenapa sih mas tetet tidak bertanya pada saya terlebih dahulu?
Semua orang di komentar ini sudah saya maafkan.

[]

Iklan

One response to “Sebuah Klarifikasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: