Mereka Juga Layak Punya Cita-Cita (Anak-Anak Kurang Mampu)

Oleh Very Barus

(mereka ada diantara kita)

SABTU pagi, sekitar pukul 08:00 WIB, bertempatan ‘warung kopi’  berskala dunia Starbuck BNI 46 Bilangan Sudirman (sebelah hotel Shangri La),  gue janjian dengan sahabat-sahabat gue (Deddy Irman dan Sari juga bebebrapa sahabat dari karyawan Starbuck).  Pagi itu rencanannya kami akan bertemu langsung, bertawa-canda, berbagi kasih dan kisah, juga berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang kurang mampu yang berasal dari kawasan Semper ato kawasan Tanjung Priok sono deh.

Jauh sebelum acara  ‘berbagi kasih dengan anak kurang mampu’ di gelar, gue sudah di bbm sama sobat gue. Apakah gue tertarik untuk bergabung? Dengan semangat 45 gue mengiyakan ajakan tersebut. Bukan sok hero sih kalo gue mengiyakan dan ikut berpartisipan untuk acara-acara berbau social. Apalagi berhubungan langsung dengan anak-anak yang kurang mampu. Anak2 Autis atau keterbelakangan mental. Gue suka berhadapan dengan mereka….

Sekitar jam 8.30 pagi…

Setelah gue dan teman2  dari Starbuck ngumpul, Rombongan anak-anak berseragam merah-putih turun dari bus yang khusus mengantar mereka ke warung kopi itu. Wajah mereka penuh keceriaan. Meski baju yang mereka pakai sebenarnya sudah tidak layak untuk dipakai (warna putih menjadi warna keabu2an atau coklat muda gitu deh). Celana atau rok yang mereka pakai pun banyak yang sudah kena tambal sulam. Sepatu dan kaos kaki juga banyak bolongnya.

Melihat kondisi mereka yang memprihatinkan membuat gue sangat miris. Suka membayangkan seandainya gue berada pada posisi mereka, apakah gue masih sanggup menerima kenyataan hidup?

Tapi itu lah realita…..

Dibimbing dua orang wali kelas, dengan rasa sungkan sekitar 40 murid sekolah dasar itu masuk ke gerai Starbuck dan disambut dengan sangat ramah oleh karyawan Starbuck. Mereka pun menyalami kami satu persatu.

I love this part..!!

(gue bersama mereka)

Sambil memilih tempat duduk sesuai selera mereka, gue mulai melakukan pendekatan dengan anak-anak tersebut. Mereka pun berkisah tentang siapa orangtua mereka, apa pekerjaan orangtuanya dan apa cita-cita mereka. Rata-rata mereka memiliki orangtua yang bekerja sebagai SUPIR bus, truk dan pekerja buruh yang sering keluar kota.

“Bapak sekarang berada di Riau-PakanBaru..nyupir bus, om..” ucap seorang murid laki-laki dengan malu-malu.

Sementara temannya yang lain juga  ‘curhat’ tentang orangtuanya yang sebagai buruh kasar. Pokoknya berbagai pekerjaan berat menjadi profesi orangtua mereka.  Diposisi lain, teman gue sibuk mengajarkan bahasa Inggris pada anak-anak perempuan. Ada juga yang mengajarkan matematika hingga mata pelajaran yang mereka sukai yaitu BERNYANYI….

Sementara teman-teman dari Starbuck sibuk menyuguhkan susu coklat dingin di dalam wadahnya lalu dibagi-bagikan pada anak-anak tersebut. Tidak ketinggalan roti donat khas Starbuck menjadi suguhan pendamping susu coklat tadi. Hmmm…. Wajah mereka langsung berubah cukup ceria menikmati suguhan tersebut.

“Kami jarang makan enak om…apalagi minum susu coklat seperti ini..”ujar seorang murid dengan polosnya langsung meneguk habis satu tubler sus coklat dingin. Gue hanya tersenyum haru.

Kemudian, kami pun kembali sibuk dengan acara temu canda-curhat-sharing dan apalah itu namanya. Yang jelas, murid-murid SD tersebut sudah tidak sungkan-sungkan untuk curhat pada gue. Bahkan ketika gue menanyakan cita-cita mereka, sambil mengacungin telunjuk mereka berebut menjawab..

“Saya pengen jadi Tentara…saya jadi dokter…saya jadi penyanyi…saya jadi pilot..saya pengen jadi guru dan saya pengen jadi polwan..”

Hmm… cita-cita yang wajar bukan? Dan meski pun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu, mereka juga LAYAK PUNYA CITA-CITA. Jangan pupuskan cita-cita mereka…

Bahkan yang mengagumkan dari murid-murid SD tadi, banyak diantara mereka yang berada di rangkin paling atas di kelasnya. Juara kelas dengan prestasi yang tidak kalah ‘agung’ dari murid-murid SD yang punya label ‘SD internasional’.

(sari mengajarkan bahasa Inggris)

Ada curhatan yang nggak kalah seru ketika seorang dari mereka membisikkan ke telinga gue seperti ini, ”Om, si anu (nama temannya), waktu kelas 2 SD ketahuan merokok, om.”

Dengan lagak sok jadi guru, gue langsung bertanya pada murid-murid laki-laki yang sedang duduk-duduk bersama gue, ”Siapa diantara kalian yang pernah merokok, ayo tunjuk tangan..?”

Sambil malu-malu, dua orang dari mereka angkat tangan dan mengakui kalo mereka pernah merokok. Itu juga dikarenakan ikut-ikutan sama kakak kelas mereka. “Tapi sekarang saya tidak merokok lagi om…” jawabnya polos. Kemudian, gue pun memberikan penyuluhan pada mereka kalau MEROKOK ITU TIDAK ADA GUNANYA…(kebetulan gue tidak merokok)

Kejadian yang nggak kalah seru adalah ketika ada beberapa murid yang berdarah BATAK mulai melantunkan lagu-lagu Batak. Dengan PD selangit mereka menyanyikan beberapa lagu Batak.

“Kamu tau nggak arti lagu yang kamu nyanyikan..?”

“Tidak om…”

“Kenapa kamu nyanyikan..?”

“Soalnya dirumah bapak sering memutar lagu Batak. Jadi saya jadi hafal om. Tapi nggak tau artinya..” (gue hanya tersenyum saja)

Hari terus berlanjut, acara semakin seru. Mereka semakin akrab sama gue dan teman-teman. Beberapa cemilan pun disuguhkan lagi. Mereka juga bebas mau menambah minuman susu coklat tadi. Mereka juga curhat kalau mereka mengidolakan JUSTIN BIEBER dan Charlie ST12. Dan satu lagi…. Ada yang curhat kalau dia sedang jatuh cinta dengan teman sekelasnya  si juara kelas…

Oalahhhhhhh…… serunya berada ditengah-tengah mereka… dan gue berharap semoga mereka bisa menggapai apa yang mereka cita-citakan…

(mereka layak mencicipi kebahagaian)

[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: