Tag Archives: bunga

[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-VI, Juli – Agustus 2012

@Cover VI Agustus 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-VI, Juli – Agustus 2012

Periode: 29 Juli – 05 Agustus 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-V, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-V, Juli 2012

Periode: 23 – 29 Juli 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

E-Book Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-IV, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mengunduh

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-IV, Juli 2012

Periode: 16 – 22 Juli 2012


[E-Book] Bunga Rampai Cerpen Minggu Ke-III, Juli 2012

Klik gambar untuk melihat dan mendonwload

E-Book Bunga Rampai Cerpen Mingguan

Minggu ke-III, Juli 2012

Periode: 09 – 15 Juli 2012


Enam Benam Dalam Benak

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Pohon Randu

Bunga randu memeluk tangkai

angin meliuk lihai.

Rindu lapuk sehelai demi sehelai.

 

(2) Kafe Kopi

Pekat tandas ke dasar gelas.

Bibir rekat rakaat deras

bubar debar, disambar selebar ruas.

 

(3) Buku

Buka buku kemarau.

Dedaun kaku, rasa risau

berayun kangen Ibuku.

 

(4) Kursi

Sabar diukur kursi.

Debar akur, detak jam melandai.

Dada dilanda lindu puisi.

 

(5) Daun Talas

Lamat-lamat bibir hujan lumat tubuh perempuan.

Beri aku daun talas, Tuan.

Amat ikhlas ulas elus Jumat Tuhan.

 

(6) Apel

Ulat menggeliat di liat kulit.

Kau rindu, lahap sedikit.

Tersedu dan sakit.

 

[]

Khartoum, Sudan, 2010.


Beberapa Benda Kamar Tidur

Oleh Syaiful Alim

 

(1) Ranjang

Tidurlah, Sayang

di ranjang yang kubangun di dadaku.

Kubisikkan dongeng sangkuriang yang berahi

pada ibunya sendiri.

Sengaja kumatikan lampu

supaya kaumampu membedakan nyala lilin

dan paha angin yang bergetar di ubin kamar.

Tidurlah, Sayang

berenanglah di sungai mimpi

akan kautemui ikan-ikan yang

memasang iklan di sepanjang jalan kota: kami kian renta

sedangkan air entah ke mana. Ambil kami, taruh di akuarium kecil saja.

Tidurlah, Sayang!

aku mau bermain layang-layang

bersama bayang-bayang burung yang terbang.

Tidurlah, Sayang!

 

(2) Sprai

“Kau lebih memilih darah atau gairah?”

“Kau darah dan gairah”

“Hah?”

“Ah”

“Lihatlah gairah merajah merah di kain sprai”

“Jangan kau cuci sprai itu. Biar kian api berahi sepi”

“Okelah kalau begitu. Bantu aku tutup pintu, menepilah di pipi”

 

(3) Piyama

Puas sebatas umpama

Puasa daku peluk mama

Puasi puisi di sebalik piyama

Pisau risau di bilik tak bernama.

 

(4) Bantal

Adakah paling bantal jika kantuk mengental?

Aku dan kau batal memintal kutuk

Eh, ada dada tertusuk duri busuk

Bolehlah kawan besok membesuk.

Adakah paling bantal ketika kata terpental?

 

(5) Selimut

Kenapa tubuh butuh selimut

Supaya selamat dari lumat lumut.

Gigil gagal sebut malam

Selamat tinggal masa silam.

Selama salam tercabut

Kelam menyambut kabut.

 

(6) Parfum

Kau memohon wangi bunga,

pohon teduh penyeduh aduh.

Dusta disita Sinta,

Rama pengadu tuduh.

[]

 

Khartoum, Sudan, 2010.


Selamat Pagi, Cinta

Oleh Hera Naimahh

 

sepagi ini kudapati namamu di genangan hazelnut coffeeku

sepagi ini kudapati wajahmu di sela tuna sandwich sarapanku

dan buru-buru kupindahkan ke dalam buku membaur dengan

deretan huruf-huruf yang kubaca di sana

tatapan matamu memancarkan isyarat cinta tak tertawar dan

menyeruap ke dalam benakku membuat kata demi kata

memburam tak terbaca

kalimat demi kalimat pun terlontar

berganti gambar bunga-bunga penuh warna

kuulang dan kuulang membaca sampai tak terhitung lagi

tapi tak juga kudapati cerita utuh di buku itu

karena wajahmu senyummu dan bunga-bunga itu

memenuhi seluruh halaman bukuku

 

***

5/10/10


Tiga Indera Kau Salah Kata (Lupa) ?

Oleh Afrilia Utami

/1/

Ada yang retak di kakimu

Di ujung kuku-kuku melulu malu

Termutasi. Ilusi mat(i) mengepala sakau

Di ekor bayang mu?

/2/

Dengarlah bisu di dua mataku. Tidak

Mempunyai sanak sejak kanak-kanak

Kau lupa beranak. Aku Lupa menanak

Kudus batu. Musaf pelepah perak tinta rangka

Tengkorak.

Jahiliah mu?

/3/

Hilang suara telinganya. Jangan tanya

Tiga wat terawat. Pengomposan UCAP, pembibitan

Tepat KATA. Hijau kaumata kacamata.

Semakin biang dinding gugur bunga rupa. (katanya)

Murah yang murahan, sayang…

Engkau Tangis dan ringis yang terus?

[]

12 September 2010


Kisah Pengemis Anak-Anak di Shenchen

Oleh Very Barus

KALO elo memperhatikan wajah gadis ini tentu gemes dan kayak anak kecil yang ortunya tajir gitu deh…

Tapi harus waspada…  Karena anak ini adalah pengemis dengan kedok menjual bunga tangkai. (kisah ini  gue lihat saat gue sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di SHENCHEN)

Cara ngemisnya sangat memaksa dan nakal…dan targetnya adalah para wanita (ibu-ibu atao wanita kantoran gitu deh..).

Pertama-tama si anak kecil ini ngider-ngider di sekitar pusat perbelanjaan sambil memegang bunga tangkai (lihat beberapa tangkai bunga ditangannya). Setelah menemukan TARGET-nya…kemudian di gadis cilik ini mengikuti dari belakang…

Kemudian menghampiri si target …

Kemudian… dengan spontan diinjaknya sepatu si perempuan (yang jadi targetnya) secara otomatis si perempuan kaget dan berhenti dong.

Kemudian si gadis cilik ini menjatuhkan diri persis di depan si perempuan. Siperempuan semakin panik. Dan berusaha mendirikan si gadis cilik…Tapi si gadis cilik terus menjatuhkan diri.. sambil menjerit-jerit mirip anak kecil yang menangis-nangis minta dibeliin sesuatu pada ibunya.

Si perempuan semakin  panik…..(tentu nanya dong…)

“Kamu kenapa…? pake bahasa sono tentunya.

Si gadis kecil terus menangis…menangis….dan menangis…

Si perempuan makin panik… terus aja berusaha menghindar dari si gadis cilik…

Tapi si gadis cilik terus memegang-megang rok si perempuan sambil bilang begini…

“Beli bungaku… beli bungaku…”

Karena hanya gara-gara beli bunga, si perempuan  pun langsung mengeluarkan dompetnya dan mengambil duit yang layak untuk setangkai bunga, kira-kira dikasih 5 ribu gitu kali ya…

Tapi si gadis kecil ini tidak mau… dia minta lebih….

Dikasih 10 ribu — eh si gadis kecil malah menolak lagi. Dia minta lebih..

Hingga akhirnya si perempuan terpaksa ngasih 20 ribu.

Setelah mendapatkan uang itu, si gadis kecil melepaskan injakkan kakinya pada kaki si  perempuan. Kemudian dia berlari sambil mengambil kembali bunga yg tadi disuruh beli si perempuan….

Aduh….

Ini anak nakal banget…..!!

Ternyata menurut org setempat kejadi seperti itu sudah sering terjadi. Memanfaatkan anak-anak untuk mengemis secara paksa…

Buat elo yang ada rencana jalan-jalan ke Shenchen bisa lebih hati-hati…

Kalo ada nemu gelagat anak kecil sepertt itu ngacir aja… ato langsung teriak sebelum dia keburu duluan teriak..—hahhahahahhaha

[]


Coretan Usang…

Oleh Afrilia Utami

/1/

Menanak duri di antara bulu

Ratusan tampar meraip lembut

:: Paksa!

/2/

Tujuh batu cadas terkukus

Lima Bombay putih mengiris iris

:: Mata !

/3/

Lusa wewarna mengikat iga

Esok hijau lumuti kaukacamata

:: Hapal !

/4/

Putik bunga melamar sepucuk bayang rembulan

Akar gunung ponggah terkelupas lumut kajian

:: Rubah !

/5/

Puing cakrawala menila di gantung jingga

Akar-akar angka purba mengikis lentera masa

Daun kata menari dara di samping ranting ronta

Ronak duri kaktus berjubah sutera berbulu mewah

:: Zaman !

28 Agustus 2010

[]


%d blogger menyukai ini: